Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
Episode 77


__ADS_3

“Novi!” seru mama Dian saat mendapati menantunya tengah


duduk melamun di halaman belakang.


“Eh, Mama.” Seketika Novita terkejut saat tiba-tiba mama


mertuanya membuyarkan lamunannya.


“Kenapa kok bengong? Mikirin apa?” tanya mama Dian sambil berjalan


menghampiri menantunya.


“Tidak apa-apa, Ma. Mama sudah kembali? Sejak kapan?” tanya


Novita berusaha mengalihkan topik pembicaraan.


“Baru saja. Kamu kenapa? Jenuh? Bagaimana kalau kita


jalan-jalan, saja?” tawar mama Dian, Ketika mendapati menantunya terlihat


gusar.


“Em… tidak, Ma. Novi pengen di rumah saja sambil menunggu


Adriel pulang sekolah,” tolak Novita dengan halus.


“Ya sudah. Santai dulu di sini, yuk!” ajak mama Dian.


Tanpa menjawab, melainkan hanya menunjukkan senyumannya


saja, Novi berjalan mengikuti mertuanya dan ikut duduk di kursi yang tersedia


di halaman belakang tersebut. Sedari tadi ia sudah berusaha keras bersikap


santai dan menutupi kegusarannya. Ta[I, sepertinya itu tidak membuahkan hasil,


alias sia-sia saja.


“Kamu kenapa? Ini kamu makan. Mama bawakan kamu coklat.


Coklat ini baik dikonsumsi oleh ibu hamil, Nov. karena coklat bisa membuat kita


bahagia. Selain itu, ini juga mampu menghasilkan energi yang bisa digunakan dalam jangka lama. Pokoknya dianjurkan lah buat bumil. Asal, tidak banyak-banyak makannya. Kamu dari tadi keknya ada yang kamu pikirkan, apa?”


“Tidak ada, Ma. Tidak tahu kenapa, Novi juga merasa aneh


sejak kemarin. Baru bisa merasa tenag dan nyaman saat ada Candra bersamaku,” jawab novita dengan jujur. Lagi pula, jujur juga tidak harus mengatakan segalanya, bukan?


“Kamu mengkhawatirkan dia? Doakan saja dia, semoga tidak


terjadi hal buruk padanya,” ujar mama Dian. Tapi, dalam hati, ia bergumam dalam hati, 'putraku tidak akan kenapa-napa. Dia baik-baik saja dan akan begitu selamanya.'


“Oh, iya. Katanya hari ini Adriel, ada kegiatan extra kulikuler. Jam berapa dia akan pulang?” tanya mama Dian sambil melihat jam


tangan yang melingkar di pergelangan kanannya.


“Dia akan pulang jam sebelas lewat duapuluh menut, Ma. Dan


akan pulang diantar oleh angkutan dari sekolah,” jawab Novita sambil tanganya


membuka bungkus coklat yang mama mertuanya berikan padanya.


“Tumben sekali? Kenapa tidak minta jemput supir saja?” tanya


mama Dian yang sedikit heran.


“Tidak tahu, Ma. Mungkin ada teman dekat dia yang setiap


harinya ikut naik angkutan dari sekolahan. Jadi, dia tertarik untuk


mencobanya.”


“Bisa jadi itu, Nov. kan supirnya mengantarkan ke depan


rumah masing-masing siswa. Jadi, dia bisa sekalian jalan-jalan, Dong!” ujar


mama Dian.


“Iya, Ma.”


“Karena ini baru pukul sembilan, kamu mau ikut mama, tidak?


Mama ingin tunjukkan tempat pribadi keluarga ini padamu,” ujar mama Dian sambil tersenyum lembut seperti biasanya.


“Apa? Tempat pribadi, Ma?” tanya Novita karena jujur ia


merasa bingung. Bukannya rumah pun juga termasuk tempat pribadi, ya? lalu? Mau mengajak ke mana sebenarnya mertunya, ini? Batin Novita.


“Iya, ayok!” dengan lembut mama Dian menggandeng tangan


Novita dengan pelan.


Novita pikir ini mau ke mana saja? Tidak tahunya, ia masuk


ke dalam sebuah kamar yang pintunya selalu ditutup rapat. Ya, kamar itu adalah kamar mendiang adiknya Chandra. Leivy.


“Ke kamarnya Leivy, Ma?” tanya Novi. Tiba-tiba saja bulu kuduknya meremang. Ia merinding dan takut. Entah apa yang ia takutkan, saat ia


masuk ke dalam kamar tersebut, rasa tak nyaman tiba-tiba saja kembali muncul, dan kali ini terasa lebih kuat. Ingin rasanya ia berlari dan segera keluar dari dalam kamar tersebut. Tapi, ia tidak mampu. Kakinya terasa kelu dan hanya mampu


berjalan, atau begerak melakukan apa yang diperintahkan oleh mama mertuanya saja.


Kali ini mama mertuanya meminta agar Novita dengan patuh


mengikutinya ke mana dia pergi, wanita itu juga diam dan seolah dia tidak terpengaruh oleh apapun. Tiba di dalam kamar tersebut, mama Dian membuka sebuah


lemari pakaian besar dan satu-satunya yang ada di dalam kamar tersebut.


Novita hanya mengerutkan keningnya melihat apa yang


dilakukan oleh mertuanya. Ia jadi berfikir, wajar jika ini adalah tempat


rahasia. Selama ini tidak ada satu pun pembantu yang diizinkan masuk ke dalam kamar ini. Dua hari sekali mertuanya masuk ke sini untuk membersihkan kamar.


Lalu, di tutup kembali. Sudah berapa lama juga dia menjadi menantu rumah ini dan tinggal di sini. Ini juga yang kedua dia masuk, dan pertama kali melihat barang-barang milik mendiang Leivy.


“Di dalam sini tersimpan foto Leivy. Selama ini kau belum


pernah melihat dia, bukan?” ucap mama Dian. Kemudian mengeluarkan sebuah foto


dengan pigura warna emas berukuran besar. Foto segitu bagusnya jika di pajang di dinding. Tapi, kenapa ini berada di dalam lemari? Benar, seperti apa wajahnya Leivy dia juga tidak pernah tahu. Karena, memang tidak ada fotonya yang dipajang di sana.


Novita terkejut sampai matanya lemebar saat melihat wajah


pada foto tersebut. Tidak hanya wajah saja. Bahkan postur tubuh wanita itu,


sangat persis dirinya saat dia masih muda, Ketika berusia duapuluh lima


tahuanan. Bagaimana bisa? Batinnya.


“Dia Leivy adiknya Chandra, Ma?” tanya Novita. Tak bisa menyembunyikan


kalau dirinya terkejut.


“Iya. Dia mirip denganmu, bukan? Tapi sayang. Walau kalian


mirip dan memiliki ciri fisik yang tidak jauh berbeda nasib kalian berbeda,


walau sedikit sama,” jawab mama Dian sambil mengusap kaca pada bingkai foto

__ADS_1


putrinya tersebut.


“Beda, tapi sedikit sama? Maksutnya apa, Ma?”


“Kau masih selamat sedangkan dia tidak. Dia juga pernah


terliat hubungan asmara dengan seorang yang sama denganmu. Tapi, dia sial. Dia


kehilangan hidupnya dari pria itu,” jawab mama Dian membuat Novita kian bingung


dan mulai berfikir yang bukan-bukan.


“Selama hidup saya, saya hanya pernah memiliki hubungan


asmara dengan dua pria saja, Ma. Chandra dan mendiang suami saya,” jawab Novita dengan tubuh bergetar.


“Ya. aku tahu itu. Leivy dulu adalah salah satu korban dari


mendiang mantan suamimu. Ayah dari kedua putramu. Aku tahu, dia mati di tangan Al, bukan? Tanpa sengaja Al menembak tepat mengenai kepalanya. Itu bukan salah


Al. tapi, salah suamimu sendiri yang dengan lancang dan berani menyentuh


wanitanya,” ucap mama Dian sambil menyeringai.


Novita terkejut. Bagaimana bisa mertuanya tahu mengenai hal


ini secara detil. Siapa dia sebenarnya. Dia sendiri bahkan tidak tahu


masalahnya serinci itu, karena ia berada di Australia kala itu bersama Axel. Tapi, bagaimana bisam mertuanya yang orang laind dan berasal dari luar daerah


bisa tahu? Tidak mungkin dari berita, kan?


“Mama kok tahu?” tanya Novita lirih dengan ragu-ragu dan


sedikit tergagap.


“Tentu. Karena anakku adalah korban. Dia salah satu wanita


yang jadi korban kegilaan Aditya. Sekarang logikanya begini saja. Aku adalah ibu yang kehilangan anaknya. Apakah kau pikir akan diam saja setelah mengetahui anakku dibunuh seseorang dengan keji? Apa kau pikir aku akan melepaskan begitu saja?”


“Korban?” sekita terlintas sebuah ingatan di mana mertuanya


yang dulu, ibu dari mendiang mantan suaminya itu berkata, kalau Aditya


diam-diam membunuh banyak wanita yang mirip dengan dirinya setelah mengencani wanita itu. Kejadian itu terbongkar saat Aditya berusaha menculik Queen. Ada yang sempat kabur, tapi, tertangkap juga. Novita menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ia hampir tak


percaya ini. Tapi, ini adalah kenyataannya.


“Kenapa, Novita? Dari lagakmu, sepertinya kau tahu sesuatu,”


ucap mama Dian.


“Tidak, Ma.”


“Baik, ini adalah baju, tas sepatu, serta aksesoris koleksi


putriku. Dia biasa dipanggil Citra. Saat ia lulus kuliah, ia jatuh cinta pada


seorang pria yang tampan dan baik. Dia sopan, juga sudah dewasa. Aku sebagai


ibu yang hanya menginginkan kebahagiaan putrinya, mengizinkan dia memilih pria


manapun terlebih dia juga sudah mapan. Dia adalah seorang dokter, sekaligus


dosen di salah satu fakultas kedokteran ternama di Jakarta. Enam bulan keduanya


menjalin hubungan, bahkan putriku telah di lamar. Aku tidak curiga sama sekali dengan pria itu. Aku juga tidak mengorek informasi mengenainya karena terlalu bodoh mempercayai apa yang nampak di depan mata. Dia baik dan sayang pada Citra. Tapi, dari kelengahanku aku justru kehilangan dia untuk selama-lamanya. Kau tahu, apa yang dia lakukan pada putriku?” tanya mama Dian sambil menatap lurus ke arah Novita.


Novita hanya diam. Pikirannya kacau ke mana-mana. Mulai menebak


dan meraba-raba. Tapi, ia tak berani menjawab pertanyaan mama Dian. Bukan ia takut salah. Tapi, ia takut kalau saja tebakannya benar.


yang akan membenci dan dendam pada wanita yang memiliki ciri-ciri sama dengan


wanita yang dia cintai. Dia mencintai wanita dengan sepenuh hati tapi, wanita itu justru pergi meninggalkan dia dan seorang putranya demi seorang pilot. Dia sakit


hati. Mungkin saja dendam ingin melukai wanita itu. tapi, ia tidak mampu karena


bersamanya ia sudah memiliki anak mereka. Jadi, ia melampiaskan pada wanita


lain yang mirip dengannya. Kurasa kau tahu, siapa pria dan wanita itu, bukan? Wanita itu adalah kau, dan pria itu adalah Aditya. Gara-gara kau yang tak tahu diri membuat banyak ibu kehilangan putrinya. Sekarang, kau harus memiliki nasib yang


sama seperti putriku. Jangan kau anggap aku ini benar-benar menyukaimu, ya? Aku


selama ini hanya berpura-pura saja baik padamu. Sebenarnya aku masih ingin membiarkan


kau hidup lebih lama tapi, aku tak mau bayi dalam perutmu itu. Aku tidak sudi


memiliki keturunan dari wanita kotor sepertimu,” ucap mama Dian dengan tatapan wajah penuh emosi.


“Ma, maafkan aku, Ma. Aku tidak tahu apa-apa tentang apa


yang Aditya lakukan. Bagaimana bisa kau melakukan dendam ini padaku yang tak tahu apa-apa?” tanya Novita memohon dan menangis.


“Apa? Karena ulahmu dia bisa seperti itu. dan menjadikan banyak


perempuan tak berdosa kehilangan nyawa dengan tragis. Mantan suamimu tidak


hanya membunuh. Tapi memutilasi dan mengoleksi organ tubuh mereka, juga organ tubuh putriku. Dia ditemukan jasadnya sudah tak utuh dan membusuk. Posisikan dirimu


ini adalah aku, bagaimana rasanya kamu?” bentak mama Dian.


Novita hanya duduk bersimpuh menangis dan meratapi nasibnya.


Ia tidak tahu, kalau pada akhirnya pernikahannya pada Candra justru


mengantarkan dirinya pada gerbang kematian yang amat tragis. Lalu, jika dia mati, bagaimana Adriel dan Axel? Akan dengan siapa dia?


Mama Dian melangkah dan berjongkok tepat di depan Novita. Dipegangnya dagu wanita yang tertunduk di hadapannya lalu diarahkan ke wajahnya. “Kau tahu,


kenapa dari sekian banyaknya wanita yang diinginkan Candra selalu kutolak dan hanya kau yang kuizinkan dan kupaksa dia mengejarmu? Agar kau masuk perangkap. Agar


mudah aku balaskan dendam putriku. Karena Aditya pelaku utama juga sudah mati, bukan? Hehehe."


“Ampuni aku, Ma… aku memang pernah salah menghianati Aditya.


Tapi, aku bisa berjanji kalau aku tidak akan melakukan itu pada Chandra. Janjiku bisa kau pegang,” ucap


Novita memohon sambil terpejam. Tak berani menatap wanita di depannya yang kini


menjelma sebagai monster.


“Hahaha! Kau ini terlalu naif, Novita. Aku ini seorang ibu,


apa yang aku perintahkan pada putraku, dia harus menurutinya. Karena dia membangkang,


aku bayar wanita yang hampir dia nikahi itu untuk meninggalkan Chandra. Karena tidak


mau dan tetap memilih Chandra, aku ancam dia akan kubunuh seluruh keluarganya. Akhirnya


apa? Wanita itu bersedia menurutiku meninggalkan Chandra dengan kesan buruk. Sehingga


kedepannya dia menjadi patuh dan penurut seperti itu. makanya, dia tetap


bertahan dan terus berusaha mengejarmu selama lima tahun. Kau jangan GR.”


Tak mau membuang waktu, mama dian langsung mengikat kedua


tangan Novita. Setelahnya, ia mengambil sebilah pisau tajam dari dalam lemari

__ADS_1


Citra dan menodongkan ke depannya membuat ia seolah untuk bernapas saja taku,


dan tertahan. Pisau itu sangat persis dengan yang dia lihat dalam mimpinya.


***


Usai mengadakan rapat kilat, Candra bermaksut berangkat ke Magelang untuk mengadakan survey tempat


yang akan didirikan industry baru. Tapi, entah mengapa, tiba-tiba perasaannya


tidak enak. Ia terbayang terus dengan istrinya yang berada di rumah.


‘Maafkan aku, Ndra. Kalau boleh jujur aku ingin kau hari ini saja tetaplah di rumah, aku merasa tidak nyaman.’


Tiba-tiba saja eskpresi dan kata-kata yang diucapkan Novita


tadi pagi terngiang terus di telinganya. Jujur saja, Chandra merasa tidak


tenang dengan ini. Tapi, ia tetap harus melakukan tanggung jawabnya sebagai satu-satunya


pewaris perusahaan keluarganya. Jadi, ia harus tetap professional.


Begitu tiba di dalam mobil, Chandra menelfon istrinya dulu,


memastikan kalau ia tidak kenapa-napa. Tapi, panggilannya tidak diangkat sampai tiga kali. Membuat


ia kian gusar saja.


“Sher, kita ke rumahku dulu. Aku mau lihat istriku dulu,”


ucap Chandra pada asisten pribadinya.


“Baik, Pak,” jawab wanita itu sambil menahan tawa, dan memalingkan


wajahnya kea rah jendela mobil. Agar bosnya tidak melihat.


“Ketawa apa, kamu?” tanya Chandra. Rupanya upaya wanita itu


untuk menutupi tawanya gagal.


“Tidak kenapa-napa. Romantis saja kalau lihat bapak sama


istri di rumah, hehe.”


“Makanya, kamu buruan nikah!” timpal Chandra sambil


menyalakan mesin mobil.


“Cariin calon lah, Pak. Tahu saya jomblo malah diajaki


pulang ke rumah nemuin istrinya terus,” jawab gadis itu dengan berlagak melas.


“Hahaha. Lagian siapa yang suruh kamu tetap jomblo? Betah


banget, sih? Kamu lihat mantan kamu dah ganti pacar berapa kali?” ledek Chandra yang sebenarnya ia adalah keponakannya. Anak dari sepupu mamanya. Dia juga baru saja lulus kuliah dan bekerja di perusahaannya. Jadi, ia tahu betul seperti apa kisah asmara Sherly. Karena,


saat pacarana juga diam-diam Chandra dulu selalu mengawasinya dari jauh. Takut kalau keponakannya sampai kebablasan.


“Sudah, sudah. Jangan bahas dia lagi,” ucap Sherly dengan


suara tertahan. Dengan cepat dihapusnya air matanya.


Sedangkan Chandra malah tertawa terbahak dan terus meledek


gadis di sebelahnya itu.


Tiba di rumah, Chandra mendapati rumahnya sangat sepi. Para pembantu


pun juga tidak ada. Kemana mereka? Pikir Chandra.


Tanpa di minta, Sherly nuga ikut masuk ke dalam rumah besar


bak istana tersebut dan duduk di kursi ruang tamu. Sedangkan Chandra terus


memanggil nama istrinya dan mencarinya.


Sampai tiga puluh menit lebih Chandra belum juga kembali,


Sherly berfikir kalau pamannya mungkin ada yang ingin dituntaskan bersama istrinya. Ia tidak akan menyusl atau sekedar mengirimkan pesan jika ini sudah


jam sepuluh. Tapi, bahkan keduanya juga masih belum berangkat ke lokasi yang akan di tuju. Karena merasa haus, ia pun beranjak ke dapur untuk mengambil


minum di dalam kulkas. Ia merasa aneh, sudah jam segini para pembantu rumah ini


kok tidak ada. Pada ke mana mereka? Bukankah jam segini biasanya sudah mulai memasak? Sebentar lagi Adriel juga pasti sudah kembali dari sekolahan, kan? Gumam


Sherly dalam hati.


“Mama… Ma… aku pulang lebih awal,” teriak seorang bocah laki-laki.


Sherly yakin itu adalah sepupu kecilnnya yang lucu dan menggemaskan itu. ia menoleh


ke belakang, nampak olehnya seorang anak berkulit putih dengan rambut kecoklatan


mengenakan seragam merah putih beridiri di dekat ruang keluarga sambil


mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan.


“Halo, Ganteng,” sapa Sherly dengan ramah.


“Kakak? Kau ada di sini sejak kapan?” sapa Adriel dengan


ramah. Karena, dia adalah kakak sepupu kesayangannya. Karena hanya dia satu-satunya keponakan perempuan Chandra yang paling baik pada Adriel, pada Axel juga tentunya.


“Ya, baru saja datang,”


“Sama siapa? Mama di mana?” tanya bocah itu dan bermaksut


membrontak dari pelukan Sherly hendak berlari mencari papa dan mamanya.


Sherly sendiri juga tidak tahu, kemana saudara sepupunya itu


berada. Ia malah berfikir mereka tengah melakukan hal yang tak patut dilihat atau


diketahui oleh anak di bawah umur. Jadi, ia berusaha mengulur dan menahan


Adriel untuk pergi.


“Ganti baju dulu saja, ya sekalian makan siang? biar nanti mama dan papa terkejut saat melihat kau sudah mengganti pakaian seragammu,” usul Sherly.


“Mama di mana, sih Kak?” tanya Adriel lagi terus merengek


mencari mamanya. Sedangkan Sherly sendiri juga tidak tahu di mana kak Novi dan Chandra. Karena sudah lama banget mereka tidak terdengar suaranya. Mencoba melihat ke dalam kamarnya juga tidak mungkin, kan?


Tiba-tiba saja tubuh gadis itu merinding membayangkan apa


yang terjadi di dalam kamar itu saat ia dan Adriel membuka. Sungguh tidak


patut.


“Kak, Sherly, aku tanya di mana papa dan mama, kenapa wajahmu


malah memerah?” tanya Adriel, membuyarkan lamunannya.


“Tidak. Tidak apa-apa. Kamu makan saja dulu, sampai habis, oke?”


ucap Sherly, dalam hati ia malah mengutuk omnya, ‘Shialan, aku malah dijadikan baby sister sedangkan dia sudah hampir satu jam asik ena-ena.’


Ini sempat author galaukan lama banget. Emang rencana awal Candra adalah kakak salah satu korban dari Aditya. Cuma bingung. Masa iya Chandra jahat. kasian Novi. Lalu berusaha revisi Axel yang akan bunuh Chandra karena mirip mendiang ayahnya. sayang juga kalau ganteng-ganteng Psycopath. walau bisa sembuh oleh wanita yang dia cintai, kasian Al dan Queen dong kalau mantunya bekas Psycopath. makasih buat pembaca setia. sesaon ini mungkin akan segera berakhir dan ganti anak-anak aja. Emmm mungkin di nex season Bilqis juga tidak ada. jadi, cukup para remaja anaknya Al Queen, Novi dam Aditya saja.

__ADS_1


__ADS_2