Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION#2 12


__ADS_3

Tanpa terasa, Quen sudah melalui empat hari ujian smesternya, dan ini, adalah hari Jum'at. Hari terakhir dan kebetulan mata pelajarannya adalah bahasa Ingrus dan Matematika.


Bahasa Ingris bukanlah suatu yang sulit bagi gadis dari pasangan mama berdarah Indonesia-Pakistan dan papa Indonesia-Australia itu, terlebih sang kakak yang tinggal di Jepang. Membuatnya semakin penasaran dengan berbagai bahasa asing.


Soal matematika? Dia anaknya Vano, jelas sangat mahir.


Masih ingat di sesion satu, Vano selalu ajarin Clara buat ngerjain PR matematika, tapi selalu ditinggal tidur.


Bersamaan dengan hari terakhir Quen ujian smester, hari itu pula, Al balik dari bandung.


Menang sangat molor, bilangnya cuma tidmga hari nyatanya satu pekan.


"Quen, bagaimana ulanganmu tadi?" tanya Sinta saat melihat sahabat ter smartnya keluar paling akhir.


"Hmmm gak tau, aku uda mengerjakannya dengan hati-hati, sih." Dia menarik napas dalam dan mengeluarkannya dengan kasar.


"Karena besok bebas, jalan-jalan, yuk!" ajak Sinta lagi.


"Jalan-jalan ke mana?" tanya Quen, bersamaan dengan Bela.


"Ke mall kek, kita makan-makan lalu ke time zone."


"Ok, ayuk!" Seru Quen. Dan ketiganya pun melangkah.


Tapi, begitu keluar dari gerbang sebuah pesan dari mamanya masuk.


"Quen, kakak mengalami kecelakaan. Ini Mama dan nenek ada di rumah sakit Bina Sehat."


Begitu membaca isi pesan itu, dengan buru-buru Quen berlari ke arah jalan raya mencari taxi,


"Maaf, aku gak bisa main, kakakku kecelakaan."


"Kakak siapa, Quen?" tanya Sinta dan Bela bersamaan dan juga heran.


Melihat Quen begitu saja pergi tanpa menjawab pertanyaan mereka, mereka hanya beradu pandang. Karena, yang mereka tahu yang biasa dipanggil kakak adalah pembantu di rumahnya. Lyli.


"Apa perlu sekawatir itu pada seorang pembantu, ya?" gerutu Bela.


Sementara sinta menaikan kedua pundaknya dengan wajah kecut, "Gak tahu."


*****

__ADS_1


Tiba di rumah sakit, dengan cepat Quen langsung menuju ruang rawat yang sudah diberitahukan oleh mamanya tadi.


"Kak, Al." Teriak Quen dengan wajah pucat serta buliran keringat di wajahnya begitu membuka pintu.


Di dalam hanya ada Al dan Clara saja, sementara Vivian, tidak terlihat lagi.


"Kak, bagaimana bisa sampai begini?" ucap Quen saat sudah berdiri di samping kakaknya.


"Tidak apa-apa, cuma tergelincir dari sepeda motor saja," jawab Al dengan tenang sambil tersenyum tipis.


"Bohong!" Seru Quen, sambil menahan air matanya begitu mendapati lengan kiri kakaknya digiv.


Menyadari apa yang di pandang adiknya, Al berusaha untuk duduk. Karena ia terlihat susah payah, Clara membantunya perlahan bersandar.


"Ini tidak apa-apa, cuma sedikit retak, saja." Sementara tangan Al yang kanan meraih pundak Quen dan memeluknya, sambil ujung jempolnya menghapus air mata sang adik.


"Kakak janji cepat sembuh, ya?" ucap Quen sambil bersandar di pundapk kakaknya.


"Quen, apakah tidak sebaiknya kau pulang dulu?" ucap Clara.


"Mama mau nemanin kakak saja, Ma."


"Tidakkah kau ingin ganti pakaianmu?"


"Baiklah, Mama akan hampiri nenek di ruang administrasi, lalu akan kembali ke rumah," ucap Clara lalu pergi meninggalkan kedua anakknga untuk pulang.


Sebenarnya Clara dan Vivian tadi tengah berbelanja kebutuhan rumah, hanya saja karna mendengar Al masuk rumah sakit dan tidak jauh dari dia berbrlanja, mereka buru-buru pergi meski banyak barang yang belum terbeli.


"Coba lihat, adikku sangat jelek saat menangis," goda Al sambil tertawa geli.


"Diam, lah." Dengan wajah cemberut Quen menimpali kakaknya.


Al mencubit pipi Quen dengan gemmas, kembali ia tarik wajahnya dan mencium pipi adiknya, karena tidak ada respon ia mengulangnya lagi, lagi dan lagi. Sambil sengaja menempelkan kumis tipisnya yabg samar-samar tumbuh.


"Geli, Kak." ucap Quen, sambil menahan tawa.


Melihat adiknya sudah bisa kembali tersenyum Al pun senang. Keduanya pun mengobrol ringan sampai akhirnya pintu kamar inap Al diketuk dari luar.


Tidak lama kemudian muncul Lyli dengan tas kresek hitam di tangannya.


"Maaf, Non, terlamabat. Ini pakaian Nona, Quen. Nyonya tadi juga membawakan makanan buat kalian," ucap Quen meletakan satu kresek yang leih besar di atas meja sofa dan satu kresek kecil berisi pakaian kepasa Quen.

__ADS_1


"Baiklah, jaga Abangku ya, Kak. Aku mandi dulu." Dengan cepat Quen menuju ke kamar mandi yang ada di dalam kamar itu.


Sementara dalam ruangan itu hanya ada Al dan Lyli saja. Terluhag raut wajah grogi daei wajah Lyli. Dia bingung mau apa, meski sekedar menawari Al makan buah aja sepertinya lidahnya kelu.


"Siapa yang membawakan itu," tanya Al sambil melihat ke arah tas kresek.


"Nyonya Muda, Tuan."


"Oh, mama, ya? Coba lihat isinya apa?" tanya Al, penasaran.


Dengan segera Lyli mengelharkan tiga box yang masing-masing berisi buah kiwi, semangka, dan apel. Box hijaj berisi tumis kangkung dan ditutup dengan omelet. Lalu. Box satunya lagi sudah dapat dipastikan isinya nasi.


Al diam-diam tertawa kecil, ia teringat saat masih sekolah dasar sanpai bagku SMP, setiap kali Clara menjembut entah bersama Vano atau pak Makmur sekalipun ia selalu membawakan bekal nasi dan menyuapinnya di dalam mobil bersama adiknya.


"Apakah Tuan mau makan?" tanya Lyli lagi.


"Iya, tapi tunggu Quen dulu. Dia pasti lapar," jawab Al, singkat.


Tak lama kemudian Quen keluar dengan setelan celana jeans panjang dan kaus oblong hambis sepanjang siku di bagian lengannya. Meskipun tidak pres body, tetap saja kaus itu tidak dapat menutupi bentuk tubuhnya yang mirip gitar Spanyol.


Al menatap Quen yang tengah membalut rambutnya dengan handuk cukup lama, tanpa sadar Al berucap, "Gitu kan enak, pakaian jangan yang mini-mini dan ketat."


"Kaus ini bukan punyaku. Ini punya mama," protes Quen.


"Ya sudah, pakai punya mama saja, cocok di badan kamu," jawan Al singkat.


"Kak Lyli, pengertian banget bawain aku makanan," ucap Quen lalu berjalan mendekati meja.


"Kak, Al mau?"


"Makan saja, nanti sisanya biar kakak yang makan," jawab Al sambil tersenyum memandang adiknya.


Sementara Lyli bingung mau berkata apa, dia hanya melihat ke arah dua bersaudara itu secara bergantian.


"Tuan Al begitu menyayangi adiknya, beruntung sekali nona, Quen," batinnya.


"Kita makan barengan saja, Kak. Kak Lyli mau makan sekalian?" tawar Quen sambil menatap ke arah Lyli yang duduk di sofa.


"Saya sudah makan, Non." Gadis itu menolak dengan halus sambil tersenyum.


Ia mematung memandangi pemandangan yang baginya sangat indah. Tidak pernah ia melihay sebelumnya sepasang kakak dan adik yang akur begini.

__ADS_1


Usai makan Quen duduk di sebelah Lyli. Dari wajahnya dia nampak sangat kelelahan sampai akhirnya ia pun terlelapm kini, apa-apa Al hanya bisa minta bantuan kepada Lyli saja selama Quen tidur.


Meskipun ia merasa tidak enak karena belum pernah dekat dengan wanita lain selain nenek, mama dan adiknya. Yah, katakanlah dia terpaksa.


__ADS_2