
Andrean mengajak Vano pergi ke halaman samping, sekalipun
putranya sudah mengetahui apa yang terjadi dengan Al dan Queen juga Nayla
akhir-akhir ini, mereka masih berlagak seolah-olah Vano tidak tahu apa-apa.
“Pah, kalau memang Al sudah benar-benar tak lagi suka dengan
Nayla, kenapa masih harus dipertahankan? Apakah ia masih menunggu mamanya
sadar?” tanya Vano, tanpa melihat ke arah papanya yang berada di belakangnya.
“Itu, artinya memang sengaja ada yang bisa dimanfaatkan dari
Nayla, Van. Kau seperti tidak kenal dia saja. Sekalipun darahnya bukan darah
kita. Tapi, sejak kecil dia sudah hidup dalam ruang lingkup kita, ia cerdas dan
selalu mengamati apapun dengan teliti. Jadi… Tak perlu papa jelaskan. Lagipula
bagaimana sikap dia tadi pada Shinta?”
Vano tersenyum tipis. Kemudian ia menjawab sesuai asumsinya.
“Queen saat ini masih belum bisa menerimanya. Kelak, jika sudah tumbuh rasa
cinta di hatinya untuk Al, sebagai patokannya adalah, bagaimana sikap dia
terhadap Nayla. Terlebih jika Al perhatian pada istri pertamanya. Dimana ada
dua istri yang sama-sama mencintai suaminya mau akur?”
“Hahahaha.” Andrean tertawa begitu mendengar penjelasan
Vano. “Nak, apa yang kau rasakan sekarang?” tanya Andrean.
“Tidak ada, Pa. Sepertinya Vano juga sudah mampu berjalan.”
“Jangan terlalu lelah, kau tetap harus banyak istirahat,”
jawab papa Andrean.
“Lalu, kapan Vano bisa kembali ke kantor?”
“Apakah kau sangat menginginkan posisi dan jabatanmu
kembali, Van?”
“Bukan begitu, Pa. Kasian anak-anak, Queen biar dia bisa fokus
dengan karirnya, ia pasti sangat kelelahan, apalagi, Al.”
“Kau benar. Tapi, kau harus benar-benar sehat dulu, baru
papa izinkan.”
Jika Andrean berada di halaman samping rmah, Queen dan
Shinta berada di dalam kamar milik Queen dulu, di mana kamar itu dulu adalah
kamar mamanya semasa masih gadis.
“Maafin aku, ya? Tanpa sengaja aku tadi mendengar
pertengkaranmu dengan pria itu,” ucap Shinta pelan, karena ia takut
menyinggung. Terlebih kini Queen juga tengah menangis.
Selama bertahun-tahun tidak bertemu dengan Queen, Sginta
merasa ada banyak hal yang telah berubah. Ia menilai Queen jadi mudah menangis,
padahal dulu, ia bukan tipe orang yang akan dengan mudah menjatuh kan air
matanya, seolah-olah air mata itu lebuh berharga dari permata. Tapi, jika mengetahui
kabar tentang papanya, dan Alex yang kembali direbut Helena saat mereka sudah
menjadi pasangan suami istri juga pasti ada banyak hal yang dihadapinya sendiri
tanpanya.
Shinta menunduk, gadis itu merasa sangat bersalah. Dalam
hati ia mengutuk, di mana dirinya selama ini? Benar-benar pergi dan taka da
sekalipun untuk Queen ketika terluka.
“Tidak apa-apa, Shin. Kak Al itu adalah kakak angkatku, aku
baru tahu kenyataan itu juga saat aku masih SMA kelas tiga akhir, ketika
terjadi kesalah pahaman antara dia dan keluarga calon istrinya yang gagal.
Tapi… “ Queen tak mampu lagi meneruskan kalimatnya, ia kembali menangis
tersedu-sedu.
Tak mau berdiam saja, Shinta pun meraih tubuh Queen dan
memberikan pelukan persahabatan seperti yang Queen dulu lakukan ketika mereka
masih SMA jika dia atau Bela sedang sedih, atau dalam masalah.
“Maafkan aku yang selama ini tidak ada untuk dirimu, mulai
sekarang, di sela-sela kesibukannku, aku akan berusaha menjadi sahabat terbaik
yang selalu ada untuk dirimu, Queen. Aku tidak akan menanyakan di mana Queen
yang dulu, aku tahu, ceriamu tertutupi oleh nestapa yang kau pikul sendiri. Aku
janji, aku akan mengembalikan keceriaanmu yang dulu hilang. Sekarang, kau Tarik
napas. Keluarkan perlahan, rilex, ya? Jika perasaanmu sudah membaik, kau bisa
ceritakan semuanya, aku akan mendengarkanmu.
Queen tidak langsung bercerita pada Shinta. Ia masih diam
menikmati sisa-sisa rasa sakitnya meninggalkann orang yang ia cintai, dan masih
mencintai dirinya. Ia baru sadar, berpisah karena dikhianati itu tak seberapa
sakit, jika dibandingkan dengan perpisahan kerena dua pihak yang saling mencintai
oleh pihak lain yang sama-sama menginginkannya. Seperti dirnya dan Diaz.
Setelah di rasa cukup, menenangkan hati dan pikirannya,
barulah Queen mau bicara pada Shinta, menceritakan pokok dan inti
permasalahannya dari “A” sampai “Z”.
Shinta terdiam tak bisa berkata-kata, ia memandang Queen,
kemudian ikut meningis dan memeluk Queen.
“Kalau memang kau tidak menyukai kak Al, dan juga Diaz mau
memprjuangkan kembali hubungan kalian, kenapa kau menolaknya, Queen? Di sini
bukan hanya kau dan Daiz yang terluka, Tapi, Al dan jjuga Hanifah merasakan
sakit.”
“Kak Al tidak semudah itu, Shin. Kau belum tahu siapa dia.
Akan sulit jika sampai berurusan dengannya.” Queen mengusap air mata di kedua
pipinya.
“Lalu, apa solusinya? Jadi, kamu akan terus menjalani semua
ini dalam luka?”
“Demi Diaz, tidak masalah, bukankah cinta itu tak harus
memiliki?”
“Tapi, kak Al tidak tahu tentang itu, Queen. Dia terus memaksakan kehendaknya. Apa yang ia
mau harus di dapatkan.”
“Dia itu tidak waras. Biarkan saja!”
“Tapi, aku melihat kak Al itu benar-benar tulus mencintaimu,
Queen. Aku baru bisa ambul kesimpulan kalau dia tadi berkata seperti itu Cuma
buat manas-manasin kamu. Jika kau cemburu, artinya kau sudah mulai tumbuh rasa
cinta padanya. Tapi, sepertinya ia salah, hatimu masih hambar untuknya, justri
malah istri tua yang muncul dan marah-marah, kemudian dia berantem, hahaha.”
Mendengar ucapan Shinta, Queen jadi tersenyum dalam
tangisnya, lalu kemudian, ia tidak tahan dan tertawa bersama.
“itulah, Queen kalau salah sasaran jadinya begitu berabe
sendiri, hahaha.” Shinta pun kian terpingkal tertawa seperti orang kesurupan
saja. Kemudian ia kembali memeluk Queen dan membisikan sesuatu kepada
sahabatnya, “Aku salut sama kamu, meski apa yang telah kau lalaui di masa lalu,
kau masih bisa berdiri tegfar di sini. Kau kuat dan tidak mudah rapuh dan
dipatahkan. Semoga kelak, kebahagiaan akan datang menjemput mu ya?”
“Terimakasih, Shin.”
“Kau tahu obat, kan Queen? Apakah ada obat yang rasanya
enak, manis, semanis madu? Tidak bukan, Obat itu pahit. Tapi, jika kita tetap
menelannya, kita akan sembuh dari sakit, kuharap begitu pula dengam
kehidupanmu. Pilihanmu tepat untuk tetap menjalani hidup sebagai istri kak Al
meski kau sama sekali tidak mencintainya. Tapi, cinta dan benci itu beda
tipis.”
Queen menatap tajam kea rah Shinta. Apupula maksut gadis itu
berkata demikian?
“ya sudah, kau baik-baik saja terus, hubungi aku jika kau
dalam masalah. Aku cuti selama satu minggu ini. Jadi, kalau ada apa-apa jangan
ragu-ragu untuk menghubungiku.”
“Baiklah,” ucap Queen lalu kemudian mengantarkan Shinta
keluar sekaliaan berpamitan dengan orang rumah. Di ruang tamu hanya ada papa
dan kakeknya yang sama-sama diam. Sedamgkan yang lain entah kemana Queen juga
tidak tahu. Ia melihat jam sudah jam dua siang, kemungkinan Al juga sudah berada di kantor kali ini.
“Kau tidak kembali ke kantor, Queen?” tanya Vano pada
putrinya.
“Tidak, Pa. Queen menemani papa saja di rumah. Nanti, untuk
makan malam biar Queen memasakkan sesuatu untukmu.”
“Ya sudah, lebih baik kau beristirahat saja sekarang, papa
juga sepertinya mulai ngantuk efek minum obat tadi.”
“Queen antar papa ke kamar, ya?”
Andrean hanya mengamati anak dan cucunya dari jauh dengan
senyuman, sebentar lagi, aku akan punya cicit. Semoga kau bahagia, Nak. Di alam
sana, pasti nenek dan kakek Andreasmu senang melihat kalian bahagia.
Setelah keluar dari kamar papanya, kakek Andrean
memanggilnya dan mengajaknya berbicara berdua saja di taman belakang. Rupanya
pria tua itu memang sengaja, dan mencari kesempatan hanya bersama cucunya
seorang.
“Ada apa kek?” tanya Queen begitu mereka sudah duduk di
taman belakang.
“Pertama kakek minta maaf sama kamu, mungkin kali ini kau
marah dan benci dengan kakek karena membantu Al untuk bisa menikahimu. Tapi,
kakek rasa memang Al lah yang terbaik untukmu, dia yang bisa melindungimu
dengan baik, da yang paling tulus mencintaimu juga dia.”
“Apa maksut kakek Diaz tidak tulus mencintaiku?”
“Dia itu cintanya berawal dari rasa kagum terhadapmu, Queen.
Jika suatu saat ia kecewa dengan kekurangan yang belum ia ketahui sebelumnya,
apa kau pikir dia tidak bisa kecewa dan memuat rasa cintanya padamu itu
hilang?”
Queen diam sejenak, mencoba mencerna apa yang baru saja
kakek Andrean katakan. Sebelum ia membenarkan apa yang diucapkan sang kakek ia
kembali teringat dengan kejadian semasa SMA dulu. Memang hal itu tidak dia
sendiri yang mengalaminya. Tapi, dua sahabatnya. Shinta dan juga Bella. Mereka
pernah menyukai kakak kelas yang memang termasuk siswa tampan dan pintar, banyak
para gadis yang berlomba-lomba untuk mendapatkan perhatiannya. Namun, begitu
dia sudah kenal dengan Bella, dan memiliki rasa terhadap sahabatnya, Sosok pria
yang cool itu jadi berubah dalam sekejap di mata Bella. Dia tak lain pria biasa
yabg lebai dan terlalu posesif terhadap pacarnya. Akhirnya, tak menungu lama
hubungan mereka juga kandas.
Queen tersenyum pada kakek Andrean, dan kembali perkataan
Diaz terngiang di telinganya saat ia merasa sedih kehilangan Alex. ‘Adakalanya
kau membenci sesuatu, tapi, itu adalah yang terbaik untukmu, Tuhan itu maha
tahu, sementara manusia tidak,’
“Baik, kakek, Queen mengerti.” Ucap wanita itu dengan datar
dan senyuman tipis di bibirnya.
“Ya sudah, Cuma itu yang perlu kakek sampaikan, sekarang kau
istirahatlah!”
“Iya, Kek.” Queen pun pergi meninggalkan kakeknya seorang
diri. Ia kembali masuk ke dalam kamar yang sudah lama dia tinggalkan karena ia
tak lagi tinggal di rumah ini.
Di dalamnya, ia seperti berada dalam masa lalu. Di mana ia
pertama menempati kamar ini saat ia masih duduk di bangku SD. Ia tidak begitu
paham apa lasan kedua orang tuanya pindah kemari, padahal, mereka juga memiliki
rumah sendiri. Seingat Queen mereka pindah setelah satu tahunan Al pergi ke
Jepang bersama kakek Andreas.
Mata Queen melihat ke sebuah salah satu foto berukuran kecil
yang menempel di lampu warna pada dinding kamarnya, ia melihat foto dirinya
bersama Al memegang harum manis di sebuah pasam malam. Foto itu diambil ketika
dirinya masih SMA, dan kakaknya baru pulang dari Jepamg.
Tanpa sadar, Queen meraih kertas itu dan mengamatinya, dan
tersenyum, serta dalam hati bergumam, ‘Lihat, ini sudah lama sekali. Saat
semuanya masih indah, ketika rahasa para orang dewasa yang sebenarnya sudah kau
ketahui, namun aku belum tahu. Papa, mama, kedua kakek dan nenekku juga bahkan
menyangimu menyamai sayangnya pada diriku, mana mungkin aku bisa berfikir jika
kau hanya anak yang diaposi merek? Dan, lagi, wajahmu sangat mirip sekali
dengan papa.’
Queen tersenyum dan meletakkan kembalai foto itu pada tempatnya.
“Papa benar-benar setia pada mama saja, kan? Tapi, kak Al
kan empat lima tahun lebih tua dariku, jangan-jangan… Terus kronologi
ketemunyaa sama kak Al gimana, dong?”
Selama berada di dalam kamar Queen terus berputar-putar di
kamarnya memikirkan sesuatu yang benar-benar ingin dia ketahui. Katanya kala
itu aku masih bayi ketika mengadopsi kak Al, harunya dia tahu, kan bagai mana
asal muasalnya, selisih usiaku dan dia juga enam tahu, kan?
Tanpa sadar waktu sudah menunjukkan pul empat sore, Queen tidak
__ADS_1
bisa tidur meski hanya sebentar. Akhirnya ia pun mandi dan pergi ke dapur untuk
menepati janjinya pada sang papa.
Selama di dapur ia hanya ditemani oleh bik Yul saja, ia jadi
penasaran. Memang Nayla yang tak pernah ikut ke dapur lagi, atau karena ada
masalah dengan suaminya sehingga dia tidak lagi ke dapur. Ingin sekali Queen
bertanya pada bibi. Tapi, ia enggan
membahas wanita itu.
Usai menyiapkan makan malam, Vano keluar dari kamarnya tanpa
menggunakan kursi roda, kemudian duduk di salah satu kursi di sana, dan menyapa
Queen.
“Pa, kok papa jalan kaki aja?” tanya Queen, ada sedikit
kekhawatiran yang tersirst di wajahnya.
“Papa ini tidak lumpuh, sayang. Jadi tidak masalah.”
“Tapi, itu menguras tenaga, jangan sering-sering jalan, dulu
ya, Pa.”
Setelah semua siap, Nayla bahkan juga masih belum keluar
dari kamarnya. Queen jadi sedikit penasaran, dia masih tidur, apa memang masih
marah? Tapi, ia Cuma bermasalah dengan Al, kan bukan dengan dia? Dan untuk apa
menghindari Nayla, toh dia masih belum tahu kebenarannya kalau ia telah menjadi
madunya.
Karena penasaran dan demi kekeluargaan, Queen pun menapakkia
anak tangga naik ke atas untuk memanggil Nayla dan juga bilqis untuk makan
malam.
“Lihat lah dirimu, Queen. Kau menggantikan posisi bibi saat
kau menghadapi ujian, bibi selalu memanggilmu untuk makan,” gumamnya seorang
diri.
Begitu ia mulai mengetuk pintu, bahkan belum memanggil
Nayla, wanita itu sudah keluar dengan putrinya, keduanya menatap dirinya dengan
tatapan sinis dan penuh kebencian. Hal itu memang tidak memberi dampak apapun
pada Queen, jika seandainya sepasang ibu dan anak itu benar-benar marah dan
membencinya. Hanya saja, kenapa? Apa dia marah karena ia mengajak Shinta? Kan
Shinta datang untuk bertemu papa,bukan kakaknya.
“Ayo, kak kita makan malam bareng,” ucap Queen menghilangkan
kecanggunggan di antara mereka berdua.
“Iya, ini kita mau turun. Ayo Bilqis!” seru Nayla sambil
menggandengan tangan bocah usia lima tahun itu dan mengabaikan dirinya.
‘Ck… Bahkan anak balita pun sudah diajarin sewot pada orang
yang lebih tua? Mau jadi apa dia nanti jika emaknya saja kek begitu?’
Queen pun tak mau ambil pusing, ia masuk ke dalam kamarnya
dulu untuk mandi kilaat dan mengganti pakaiannya. Sebelum makan malam. Toh saat
ia melihat dari lantai atas, kakeknya juga masih belum ada di sana. Papanya
sibuk dengan benda pipih yang ada di tangannya. Ia yakin, itu pasti teman-teman
dan coleganya, Queen bisa menjamin kalau dalam waktun dekat, mungkin kalau gak
malam ini ya besok, akan banyak orang yang berdatangan untuk menjengkuk
papanya.
Usai mandi dan keramas, Queen terkejut begitu ia membuka
pintu kamar mandinya didekap dari depan oleh Al. Walau bekum sempat melihat
wajahnya, seharusnya benar, itu Al. Sebab, ia hafal dengan aroma tubuhnya yang
khas dan sedikit ada bau mint-mintnya. Terlebih, siapa lagi yang berani berbuat
demikian padanya selain Al.
“Bagaimana perasaanmu? Apakah kau baik-baik saja?”
“Harusnya, kau bertanya seperti itu pada Nayla, bukan
padaku,” jawab Queen sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan Al.
“Aku tahu, apa yang terjadi di halaman belakng, Diazz
menyusulmu, kan? Dan apa yang ia katakana padamu aku juga tahu.”
“Tidak ada masalah, kan? Kalau begitu, biarkan saja dia. Kau
jangan mengusiknya.”
“Baik, Sayang. Karena kau tadi bilang cinta sama aku, dan
akan tetap menjalani hidup denganku, aku tidak akan membuat masalah untuknya.”
Al memegang kedua pipi Queen dan kemudian mengecup bibirnya dengan lembut.
Setelahnya, Queen berpaling dan mengusap birbirnya bekas
ciuman Al dengan menggunakan punggung tangan kanannya. Melihat itu, tidak ada
yang bisa Al lakukan selain tertawa. Mau berbuat lebih juga banyak orang.
“Baiklah, kau tunggu aku di meja makan sayang. Nanti, ikut
aku setelahnya,” ucap Al.
“Kemana?” tanya Queen penasaran.
“Kan kau sudah menerima aku sebagai suami, kita bulan madu,”
‘Cih, apaan? Seperti yang belum pernah saja. Padahal, selama
ini dia selalu melakukan padaku dengan paksa.’
“Kenapa diam? Atu, sesuatu akan menimpa mantan pacarmu itu?”
Queen menghirup napas Panjang dan mengeluarkannya dengan
kasar. Kemudian, ia menjawab dengan rsut wajah kesal, “Baiklah.”
Lagi-lagi Al hanya bisa tertawa saja, dan masuk ke dalam
kamar mandi yang ada di dalam kamar Queen untuk membersihkan diri, sebelum ia
turun untk makan malam.
Tiba di meja makan, Queen menyapa semua dengan senyuman.
Namun begitu ia duduk di dekat papanya, dia dibikin dengan ucapan bocah lima
tahun hingga senyumannya memudar.
“Mama, tadi ketika papa tiba kenapa, tidak menciumu? Tapi,
jika melihat tante Queen, dia selalu mencium kedua pipi tante. Padahal, kakek
Vano dan kakek buyut dulu setiap habis dari mana saja, selalu mencium nek dan
buyut.”
‘Dih, bocah ini, bahaya juga,’ batin Queen.
Queen mengamati mimic dan gestur tubuh Nayla. Ia belagak
bingung dan berbisik pada Bilqis untuk tidak boleh berkata demikian. Namun, pancaran wajahnya
sangat nyat mencolok kalau hatinya tengah bersorak. Dia merasa senang.
‘Gila ini orang sebagai ibu, dah mengajari anaknya
bersandiwara. Harusnya, inu yang baik itu, jika memang dirinya terlanjur buruk,
tidak akan menularkan keburukan itu terhadap anaknya, la ini bekum-belum sudah
diturunkan ilmu dua rupa.”
“Bilqis, kau kan tahu, kalau tante Queen itu adik dari papa
kamu, jadi wajar, lah.”
“Tapi, kakek Vano ke nenek Clara kok gitu, kenapa papaku
Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, Queen pun menjawab,
“Karena, papamu saat mencium mamamu itu pas keadaan sepi, hanya ada mereka
berdua saja di kamar. Jadi, Bilqis tidak tahu.”
“Benar begitu, Mama? Gitu tadi kamu bilang tidak pernah?
Jika kau ingin dicium papa saat dia pulang dari kantor, biar aku bantu bicara
pada papa, nanti.”
Seketika wajah Nayla berubah merah antara malu dan menahan
marah. Sedangkan Queen hanya tertawa puas melihat adegan drama yang kian hot di
depannya.
Ketika semuanya terdiam, Al terlihat turun dari atas, ia
menapakki anak tangga sambil memasang kancing lengan kemejanya. Rambutnya ia
tata rapi dengan pomet sehingga memberi kesan mengkilat seperti basah, jam
tangan bermerk berwarna hitam keemasan dan gelang manik dari bahan titanium
kian menunjang penampilannya terlihat jauh lebih keren, dan modish saja.Tiba di
meja makan, ia langsung mengambil kursi diantara kakek dan papanya, kemudian
langsung mengambil piring dan mengisinya dengan sedikit nasi dan lauk yang
sudah terhidang rapih di atas meja.
Semua mata pandangannya tertuju pada Al kecuali Queen.
Namun, hanya papa dan kakeknya saja yang bertanya padanya, itu pun hampir
bersamaan. “Tumben rapih banget, ma uke mana, Al?”
“Al ada acara di luar, Pa, Kek. Makanya, makan sedikit saja,
mau gak makan menunya special banget. Masakan tuan putri ini kata bik Yul,”
jawabnya sambil tersenyum tipis, melirik kea rah Queen yang masih saja memasang
wajah tidak peduli.
“Iya, Queen memasakkan kusus untuk papa, ini, jawab Vano.
Al tersenyum penuh arti sambil melihat kea rah Queen. Lebih
tepatnya, senyuman jail yang mengisyaratkan kalau Queen adalah istrinya, dan
tentu saja, itu hanya bisa di baca oleh tiga orang yang ada di sana.
“Queen, nanti ruteku melewati apartemen, sekalian bareng,
ya?”
“Terserah!”
“Kamu gak mau pulang? Ya sudah, tidak apa-apa kalau memang
mau tidur di sini,” ucapnya dengan sorot mata yang buas, seolah-olah memberi
isyarat nanti malam akan kuhabisi kau.
“Iya, deh,” jawab Queen sebal.
“Makan yang cepat, aku gak bisa telat, loh.”
Queen kian geram saja, ia pun berdiri san berkata, “Ya
sudah, ayo kalau kau buru-buru aku tidak usah makan.”
“Ya santai saja, aku Cuma kasih tahu, kok. Kakak mau makan
dulu, enak banget soalnya.” Al mulai menyuapkan nasi ke dalam mulutnya dan
tertawa.
Sedangkan Andrean mencubit Al secara diam-diam sambil
berbisik, “Kau kalau terus menggodanya, yang ada dia akan eneg sama kamu, Al.”
Al hanya sedikit mengeliat saja saat merasakan cubitan keci
yang lumayan sakit di pahanya akibat ulah sang kakek. Ia tidak menjawab, hanya
tertawa sambil terus makan.
“Aku akan mengemasi barangku dulu,” ucap Queen sambil
beranjak, meninggalkan meja makan.
Tak berselang lama, Nayla pun juga ikut beranjak, sepertinya
ia menyusul Queen. Tiba di depan kamar Queen Nayla marah dan memprotes Queen
atas apa yang ia katakana pada Bilqis yang bahkan belum pantas mengetahui apa
yang biasa dilakukan kedua orang dewasa di dalam kamar. Namun, bukan Queen
Namanya jika terlarut dalam esmosi Nayla, memang dia sudah dapat
meprediksikannya. Makanya, dia cari alasan agar Nayla bisa mengeluarkan
uneg-unegnya dari pada tidak keluar, yang ada malah jadi bisul.
“Queen aku mau bicara sama kamu!” seru Nayla dengan suara
tertahan sambil menarik keras pergelangan tangan kirinya.
“Aduh! Pelan dikit kenapa, sih Kak? Mau bicara apa?”
“Maksut kamu itu apa, sih? Apa begitu orang yang
berpendidikan tinggi berbicara kepada balita? Kampungan banget!”
“Apa, kampungan? Emang aku bicara apa?” tanya Queen dengan
tenag, namun nadanya menantang. Sengaja ia melakukan itu untuk memancing emosi
Nayla.
“Kau bicara pada Bilqis seperti yang kau ucapkan di meja
makan tadi, apa kau pikir pantas anak balita mengetahui hal itu, hah?”
Queenmemandang Nayla dengan cermat seperti ekspresi murit
yang memperhatikan gurunya menerangkan mata pelajaran di depan kelas. “Oh, ya?
Apakah Bilqis nanti begitu itu karena aku? Bukannya dia yang mengawali bertanya
padamu? Yang meberi pengaruh besar terhadap anak itu ibunya, bukan orang lain.
Anak akan baik jika ibunya baik, tapi, jika ibunya gak keruan… Ngatur diri
sendiri agar lebih baik saja tidak bisa, gimana ke anak?’’
“Kau menghinaku?”
“Di mana ada kalimatku yang menghinamu? Aku Cuma bicara
sesuai fakta tentang ibu di dunia.”
“Terus kenapa bawa-bawa nama Bilqis? Apa kau membencinya,
karena tidak ada hubungan darah dengan keluarga ini?”
“Kak Nay, kau ini gila, ya? Di mana ada sikapku yang
menunjukkan benci padanya. Dan kenapa tiba-tiba dia bertanya di depan keluarga
besar pertanyaan yang tidak pantas jika memang bukan kau yang mengajari dan
menyuruhnya. Anak kecil itu hanya terbuka dengan ibunya saja, karena pada
ibunya ia merasa dekat dan nyaman. Kalau memang pertanyaan itu mucul dari hati
dia, kenapa bertanyanya tidak saat kalian hanya berdua saja? Sekarang aku
tanya, siapa yang sebenarnya kampungan?”
“Queen! Cepetan, sayang!”
“Suamimu sudah menungguku!” Queen pun menutup pintu kamarnya
dan membiarkan Nayla tetap berdiri di luarmya.
‘Huh, untung aja ni lidah tergelincir bicaranya, jika tida,
aku sudah akan bilang suamiku,’ ucap Queen dalam hati.
Tidak mau yterlihat nyolok, Queen hanya mengambil tas dan
sepatunya saja, selebihnya, ia tidak merubah penampilannya. Setelah berpamitan pada papa dan kakeknya
__ADS_1
Queen pun masuk ke dalam mobil Al.
“Kita mau ke mana?’’ tanyan Queen sambil memandang kea rah Al yang
tengah serius mengemudi.
“Ke vila pinggir pantai, gimana?”
Queen tersenyum dan bertanya, “Kalau Cuma ke sana, kenapa dandan seganteng
itu?”
“Emang aku ganteng?”
“Iya.”
“Masa, sih?”
“Dari dulu, kamu kan selalu ganteng, gak pernah jelek. Ini
lagi malah pakai baju seformal ini,” ucap Queen.
“Kan jalan sama istri, ya dandan, donk. Di belakang ada jas
juga, kok untuk dipakai.”
“kenapa pakai jas?”
“Kita hadiri dulu acara ulang tahun istri salah satu
golegaku, di belakang ada tas, itu untuk kamu.
“Apaan?”
“Gaun sama heels, kamu pakai untuk acara nanti, kita ke
apartemen dulu, aku tunggu kamu ganti. Dandan yang cantik, ya?”
“Baiklah.” Queen mengecup pipi Al dan kembali duduk seperti
posisinya yang semula.
Al membalas tatapan mata Queen dan ikut tersenyum. Sekilas
memang terlihat Queen sudah bisa menerimanya sebagai suami. Tapi, Al paham
betul Queen itu tipe cewek seperti apa, dia tidak gampangan, pasti ada sesuatu
yang terselubung.
Sementara dipikiran Queen, ia merasa sangat kesal dengan
Nayla, cara dia bersikap di meja makan pada saat makan siang dan makan malam
tadi, benar-benar tidak sopan. Ya, kalau tidak ada papa. Masalahnya papanya
baru beberapa hari sadar dan masih beberapa jam di rumah, ia malah bikin rebut.
Kedua, dia yang berulah, tapi malah main nyalahin dirinya. Dengan begitu, sama
halnya dengan dia menabuh gendering perang bersamanya.
‘Lagian, dari dulu dia juga selalu cemburu padaku, takut aku
menggoda kakak angkatku. Ya sudah, tidak dosa, kan bagi istri yang menggoda
suaminya sendiri? Maafkan aku, Al jika menggunakan dirimu untuk menghancurkan
seseorang dari dala,’ batin Queen.
Al mencoba meraih pundak Queen, kemudian meletakkan pada
dada bidangnya, ia memeluk sambil mengemudi. Bahkan Queen pun juga tidak
menolak. ‘Ada apa dengannya? Bukannya tadi sempat jengkel dan sedikit dongkol
padanya? Cepat sekali moodnya berubah, lebih cepat dari bentuk awan putih yang
ada di langit.’
“Di sana ada masalah sama madu kamu?”
“Bukankah dia selalu begitu? Kalau pulang kerja tuh, peluk
dia, dan kamu cium tuh pipi kiri dan kanan biar gak marah-marah terus kek nenek
lampir,” jawab Queen.
“Aku tidak bisa melakukan itu lagi. Makanya, aku hambar dan
ga ada gairah saat sama dia, bed ajika dengan kamu.”
“Oh, iya, katanya mau datang ke acara ulang tahun, sudah
bawa hadiahnya belum?” tanya Queen mengalihkan topik pembicaraan.
“Sudah, dong.”
“Kasih hadiah apa?” tanya Queen mulai kepo.
“Paket liburan satu minggu di Bali.”
“Oh.”
“Kenapa, kamu pengen ke sana juga? Apa besok dari vila kita
langsung out ke Bali?”
“Tidak, tidak perlu, aku lagi ingin ke tempat yang tenag
saja,” jawab Queen.
Kembali Al memperhatikan rauat wajah Queen yang sudah
berubah. Ia kian yakin, kalau perhatian dan kemesrasaan yang baru saja
diberikannya hanyalah sandiwara. Tapi, Al tidak peduli itu. Biarkan saja dia
menjalani kebersamaan ini secara terpaksa. Nanti lama-lama juga terbiasa, jika
sudah biasa, baru cinta akan hadir di hatinya.
Al memegang punggung tangan wanita di sebelahnya, sebelah
tangannya lagi memegang setir mobil, dan matanya masih lurus menatap jalan
raya.
Queen melihat tangan itu, namun ia hanya diam saja,
sebenarnya ia merasa risih dan ingin sekali menampiknya. Hanya saja, dia masih
tak ingin rebut.
“Aku selalu menikmati setiap detik kebersamaanku denganmu.
Walau, kau anggap apapun aku di hatimu, aku tidak peduli.” Tanpa menolah ke
arah Queen, Al melakukan hal itu dan mencium tangan wanitanya beberapa kali.
Queen merasakan sesuatu yang aneh, ia tak bisa menahan
gejolak yang ada di hatinya. Bahkan, di pikirannya saat ini benar-benar kosong,
kejadian itu tidak membuat ia teringat pada siapapun, termasuk Diaz, ataupun
Alex. Secara reflek, Queen pun menarik tanganya, ia merasa canggung, sampai-sampai
menghadap ke jendela.
***123
Usai makan malam,
Nayla menenmani putrinya mengerjakan pr. Api, ruoanya pikirannya sedang
bercabang, karena dia sama sekali tidak bisa fokus. Baru ketika berusaha
meperhatikan kembali gambar-gambar bangun datar yang diwarnai Bilqis, sebuah
panggilan masuk ke dalam ponselnya.
Awalnya ia berusaha mengabaikannya. Tapi, karena penasaran,
terlebih yang tertera pada kontak tersebut adalah nama kekasih gelapnya, tanpa
pikir Panjang lagi ia langsung menyambarnya.
“Sebentar ya, Sayang,” ucap Nayla pada Bilqis, ia mencari
tempat yang sedikit jauh dari anaknya. Di depan jendela, ia mengangkat
panggilan itu.
“Halo, Jev. Ada apa?”
“Nay, plis. Aku butih bantuan kamu banget, nih. Kamu bisa,
kan tranfer ke nomer rekeningku, sekarang?”
“Apa? Uang lagi? Bua tapa, Jev? Bukannya baru kemarin aku
transfer kamu sebesar lima juta? Masa masih kurang?”
“Iya, aku tahu, lagian selama setahun ini, menjalin hubungan
dengan kamu, apa pernah aku minta sesuatu padamu sekalipun? Ini situasinya
sangat mendesak, jika kau tidak bisa, ya sudah. Jagan cari aku lagi, kita lebih
baik putus,’ ancam Jevin dari seberang sana.
“Oh, iya, Jev. Baik-baik. Aku akan mentransfernya sekarang
juga, kamu butuh berapa?” tanya Nayla merasa takut. Ia juga bingung dengan
perasaannya sekarang. Di sisi lain dia masih sangat mencintai Al dan berharap
semuanya bisa kembali normal seprti dulu. Namun, di sisi lain, ia juga merasa
ketergantungan pada Jevin. Dia tidak bisa seharipun tanpa berkomunikasi dengan
pria itu.
“Aku butuh cepat, saat ini juga. Kamu tranfer sepuluh juta,
ya? Uang itu aku gunakan untuk kemo trapi mamaku, dan biaya kuliah adikku.”
“Hah, banyak banget, Jev?”
“Kamu mau, apa tidak? Kan aku sudah bilang kalau uangnya
untuk kemo therapi mama dan biaya kuliah adikku.”
“Baik, iya. Aku akan mentranfernya sekarang juga.” Walau
sedikit keberatan dan takut menimbulkan masalah baru, namun rasa cinta dan
takut kehilangan membuat Nayla buta dan mau melakukan apa saja untuk pria dua
tahun yang usianya lebih muda darinya itu. Pria yang dulu begitu tergila-gila
padanya, yang rela melakukan apa saja, sampai-sampai berani mencelakai ipar dan
suaminya sendiri.
Awalnya Nayla sedikit keberatan mentransfer uang sebayaj
itu. Namun, ia taka da pilihan lain. Dengan berat hati pun ia melakukan itu.
Tak menunggu berapa lama, pesan mutase pemberitahuan dari Bank masuk ke dalam layar
sentuhnya. Dalam pesan itu tertulis, kalau tranfer sebesar Sepuluh juta ke no
rekening tujuan sudah terkirim.
Kemudian menyusul, pesan chat dari Jevin yang bertuliskan.
“Terima kasih, Syanga.” Dengan emot love.
Nayla merasa lemas, hanya membaca pesan tiu tanpa
menjawabnya. Sebab, dalam tiga hari saja ia sudah memberikan uang sebayak lima
belas juta kepada Jevin.
“Mama kenapa?” tanya Bilqis ketika melihat perubahan
ekspresi ibunya.
“tidak apa-apa, Bilqis. Yasuha, ini sudah malam, Bilqis
tidur, ya? Ayo bukunya dibereskan, kita gosok kiki, cuci muka, tangan dan kaki
lalu bobok, ya?” ucap Nayla sambil membantu merapihkan buku dan alat tulis
milik putrinya.
Usai menyelimuti Bilqis dan mematikan lampu kamar, hanya
menyisakan lampu tidur saja, Nayla meninggalkan kamar putinya dan naik ke atas,
menuju kamarnya.
Saat ia melintasi kamar Queen. Nayla melihat pintu kamar
tersenut terbuka sedikit lebar. Awalnya ia ingin berlalu begitu saja. Tapi,
entah kenapa, ia tiba-tiba saja penasaran dan ingin melihat ke dalamnya.
Cukup lama Nayla mengamati dalam kamar tersebut, ia melihat
seperti ada yang janggal saja. Tapi, apa? Sejurus kemudian matanya menangkap
tumpukkan pakaian berwana hitam dan maroon pada ranjang Queen. Jelas saja itu
akan terlihat sangat mencolok, karena sehari-hari kamar itu selalu terlihat
bersih dan rapi.
Merasa tidak asing dengan pakaian itu, Nayla pun masuk ke
dalam. Benar, ini adalah baju yang suaminya tadi pakai. Kenapa ada di sini?
Pikiran Nayla kian semrawut. Awalnya dia tenagng-tenang saat melihat Al naik ke
kamar atas. Sebab, biasanya suaminya juga mandi di kamarmandi dalam kamarnya,
walaupun sudah lama misah saat tidur.
‘Bukankah ketika mas Al tadi naik Queen masih ada di atas?
Ada apa ini sebenarnya? Cukup lama mereka berdua, apa saja yang sudah mereka
lakukan di belakangku selama ini?’ Apa benar mas Al tadi benar-benar ada acara
dan memberi tumpangan Queen kembali ke apartemennya?’
Nayla segera mengambil ponselnya, mencoba menghubungi Al.
Panggilannya tersambung. Tapi, dia tidak mengangkatnya. Sudah tiga kali ia
mencobanya. Namun, hasiplnya masih saja sama. Nayla berfikir mungkin suaminya
sudah tiba, dan tengah sibuk bersama teman-temannya. Jadi, ia memastikan untuk
menelfon video Queen melalui wa, sekedar memastikan apa dia benar-benar ada di
apartemen, atau itu Cuma akal-akalan mereka berdua saja.
Tidak menunggu lama setelah panggilan videonya tersambung,
Queen langsung mengankatnya. Nayla langsung melihat pemandangan belakang Queen,
bukan pada wajah wanita yang dipanggilnya.
Sudah mengerti apa maksut Nayla, Queen oun menjauhkan
ponselnya agar ia dapat melihat kalai ia baru saja tiba di apartemennya dan
pura-pura duduk santai di sofa ruang tamu, lalu rebahan. Namun, ia tidak
memperlihatkan Al yang juga ada dalam satu ruangan bersamanya.
“Ada apa Kak, Nay? Aku baru saja tiba. Apakah ada sesuatu
yang terjadi pada papa?” tanya Queen, sebab sedari tadi Nayla hanya diam saja.
“Tidak, Kau baru saja tiba?” tanya Nayla lagi.
“Iya, soalnya aku tadi tidak langsung naik, aku masib beli
makanan ringan di bawah.”
“Mas Al tidak ikut mampir ke sana?”
Queen berlagak bingung dan mengerutkan kedua alisnya dan
bilang, “Kak Al tadi buru-buru, jadi hanya menurunkan aku di jalan saja,
mungkin juga sekarangdia sudah tiba di sana. Kenapa tidak menelfonnya langsung
saja?”
“Oh, ya sudah, makasih.” Nayla pun langsung mematikan
panggilannya.
Begitu panggilan Video sudah terputus, Queen hendak bangkit
untuk berganti pakaian. Tapi, Al malah lebih dulu menerkamnya.
“Al, apa yang kau lakukan?”
“Apa yang aku lakukan? Normal kan, melakukan ini sebagai
suamimu?” ucap Al sambil mencium leher Queen.
“Baiklah, kita begini saja, apa menghadiri pesta ulang tahun
teman kamu?”
Mendengar jawaban itu, Al langsung menenggelamkan wajahnya
pada sofa dan berkata, “Ya sudah, kau siap-siap saja, aku tunggu kamu.”
__ADS_1
Queen tersenyum penuh kemenangan sambil meraih dua tas dari
Al yang diberikan padanya tadi.