Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
Episode 229


__ADS_3

Andrean mengajak Vano pergi ke halaman samping, sekalipun


putranya sudah mengetahui apa yang terjadi dengan Al dan Queen juga Nayla


akhir-akhir ini, mereka masih berlagak seolah-olah Vano tidak tahu apa-apa.


“Pah, kalau memang Al sudah benar-benar tak lagi suka dengan


Nayla, kenapa masih harus dipertahankan? Apakah ia masih menunggu mamanya


sadar?” tanya Vano, tanpa melihat ke arah papanya yang berada di belakangnya.


“Itu, artinya memang sengaja ada yang bisa dimanfaatkan dari


Nayla, Van. Kau seperti tidak kenal dia saja. Sekalipun darahnya bukan darah


kita. Tapi, sejak kecil dia sudah hidup dalam ruang lingkup kita, ia cerdas dan


selalu mengamati apapun dengan teliti. Jadi… Tak perlu papa jelaskan. Lagipula


bagaimana sikap dia tadi pada Shinta?”


Vano tersenyum tipis. Kemudian ia menjawab sesuai asumsinya.


“Queen saat ini masih belum bisa menerimanya. Kelak, jika sudah tumbuh rasa


cinta di hatinya untuk Al, sebagai patokannya adalah, bagaimana sikap dia


terhadap Nayla. Terlebih jika Al perhatian pada istri pertamanya. Dimana ada


dua istri yang sama-sama mencintai suaminya mau akur?”


“Hahahaha.” Andrean tertawa begitu mendengar penjelasan


Vano. “Nak, apa yang kau rasakan sekarang?” tanya Andrean.


“Tidak ada, Pa. Sepertinya Vano juga sudah mampu berjalan.”


“Jangan terlalu lelah, kau tetap harus banyak istirahat,”


jawab papa Andrean.


“Lalu, kapan Vano bisa kembali ke kantor?”


“Apakah kau sangat menginginkan posisi dan jabatanmu


kembali, Van?”


“Bukan begitu, Pa. Kasian anak-anak, Queen biar dia bisa fokus


dengan karirnya, ia pasti sangat kelelahan, apalagi, Al.”


“Kau benar. Tapi, kau harus benar-benar sehat dulu, baru


papa izinkan.”


Jika Andrean berada di halaman samping rmah, Queen dan


Shinta berada di dalam kamar milik Queen dulu, di mana kamar itu dulu adalah


kamar mamanya semasa masih gadis.


“Maafin aku, ya? Tanpa sengaja aku tadi mendengar


pertengkaranmu dengan pria itu,” ucap Shinta pelan, karena ia takut


menyinggung. Terlebih kini Queen juga tengah menangis.


Selama bertahun-tahun tidak bertemu dengan Queen, Sginta


merasa ada banyak hal yang telah berubah. Ia menilai Queen jadi mudah menangis,


padahal dulu, ia bukan tipe orang yang akan dengan mudah menjatuh kan air


matanya, seolah-olah air mata itu lebuh berharga dari permata. Tapi, jika mengetahui


kabar tentang papanya, dan Alex yang kembali direbut Helena saat mereka sudah


menjadi pasangan suami istri juga pasti ada banyak hal yang dihadapinya sendiri


tanpanya.


Shinta menunduk, gadis itu merasa sangat bersalah. Dalam


hati ia mengutuk, di mana dirinya selama ini? Benar-benar pergi dan taka da


sekalipun untuk Queen ketika terluka.


“Tidak apa-apa, Shin. Kak Al itu adalah kakak angkatku, aku


baru tahu kenyataan itu juga saat aku masih SMA kelas tiga akhir, ketika


terjadi kesalah pahaman antara dia dan keluarga calon istrinya yang gagal.


Tapi… “ Queen tak mampu lagi meneruskan kalimatnya, ia kembali menangis


tersedu-sedu.


Tak mau berdiam saja, Shinta pun meraih tubuh Queen dan


memberikan pelukan persahabatan seperti yang Queen dulu lakukan ketika mereka


masih SMA jika dia atau Bela sedang sedih, atau dalam masalah.


“Maafkan aku yang selama ini tidak ada untuk dirimu, mulai


sekarang, di sela-sela kesibukannku, aku akan berusaha menjadi sahabat terbaik


yang selalu ada untuk dirimu, Queen. Aku tidak akan menanyakan di mana Queen


yang dulu, aku tahu, ceriamu tertutupi oleh nestapa yang kau pikul sendiri. Aku


janji, aku akan mengembalikan keceriaanmu yang dulu hilang. Sekarang, kau Tarik


napas. Keluarkan perlahan, rilex, ya? Jika perasaanmu sudah membaik, kau bisa


ceritakan semuanya, aku akan mendengarkanmu.


Queen tidak langsung bercerita pada Shinta. Ia masih diam


menikmati sisa-sisa rasa sakitnya meninggalkann orang yang ia cintai, dan masih


mencintai dirinya. Ia baru sadar, berpisah karena dikhianati itu tak seberapa


sakit, jika dibandingkan dengan perpisahan kerena dua pihak yang saling mencintai


oleh pihak lain yang sama-sama menginginkannya. Seperti dirnya dan Diaz.


Setelah di rasa cukup, menenangkan hati dan pikirannya,


barulah Queen mau bicara pada Shinta, menceritakan pokok dan inti


permasalahannya dari “A” sampai “Z”.


Shinta terdiam tak bisa berkata-kata, ia memandang Queen,


kemudian ikut meningis dan memeluk Queen.


“Kalau memang kau tidak menyukai kak Al, dan juga Diaz mau


memprjuangkan kembali hubungan kalian, kenapa kau menolaknya, Queen? Di sini


bukan hanya kau dan Daiz yang terluka, Tapi, Al dan jjuga Hanifah merasakan


sakit.”


“Kak Al tidak semudah itu, Shin. Kau belum tahu siapa dia.


Akan sulit jika sampai berurusan dengannya.” Queen mengusap air mata di kedua


pipinya.


“Lalu, apa solusinya? Jadi, kamu akan terus menjalani semua


ini dalam luka?”


“Demi Diaz, tidak masalah, bukankah cinta itu tak harus


memiliki?”


“Tapi, kak Al tidak tahu tentang itu, Queen.  Dia terus memaksakan kehendaknya. Apa yang ia


mau harus di dapatkan.”


“Dia itu tidak waras. Biarkan saja!”


“Tapi, aku melihat kak Al itu benar-benar tulus mencintaimu,


Queen. Aku baru bisa ambul kesimpulan kalau dia tadi berkata seperti itu Cuma


buat manas-manasin kamu. Jika kau cemburu, artinya kau sudah mulai tumbuh rasa


cinta padanya. Tapi, sepertinya ia salah, hatimu masih hambar untuknya, justri


malah istri tua yang muncul dan marah-marah, kemudian dia berantem, hahaha.”


Mendengar ucapan Shinta, Queen jadi tersenyum dalam


tangisnya, lalu kemudian, ia tidak tahan dan tertawa bersama.


“itulah, Queen kalau salah sasaran jadinya begitu berabe


sendiri, hahaha.” Shinta pun kian terpingkal tertawa seperti orang kesurupan


saja. Kemudian ia kembali memeluk Queen dan membisikan sesuatu kepada


sahabatnya, “Aku salut sama kamu, meski apa yang telah kau lalaui di masa lalu,


kau masih bisa berdiri tegfar di sini. Kau kuat dan tidak mudah rapuh dan


dipatahkan. Semoga kelak, kebahagiaan akan datang menjemput mu ya?”


“Terimakasih, Shin.”


“Kau tahu obat, kan Queen? Apakah ada obat yang rasanya


enak, manis, semanis madu? Tidak bukan, Obat itu pahit. Tapi, jika kita tetap


menelannya, kita akan sembuh dari sakit, kuharap begitu pula dengam


kehidupanmu. Pilihanmu tepat untuk tetap menjalani hidup sebagai istri kak Al


meski kau sama sekali tidak mencintainya. Tapi, cinta dan benci itu beda


tipis.”


Queen menatap tajam kea rah Shinta. Apupula maksut gadis itu


berkata demikian?


“ya sudah, kau baik-baik saja terus, hubungi aku jika kau


dalam masalah. Aku cuti selama satu minggu ini. Jadi, kalau ada apa-apa jangan


ragu-ragu untuk menghubungiku.”


“Baiklah,” ucap Queen lalu kemudian mengantarkan Shinta


keluar sekaliaan berpamitan dengan orang rumah. Di ruang tamu hanya ada papa


dan kakeknya yang sama-sama diam. Sedamgkan yang lain entah kemana Queen juga


tidak tahu. Ia melihat jam sudah jam dua siang, kemungkinan Al juga sudah  berada di kantor kali ini.


“Kau tidak kembali ke kantor, Queen?” tanya Vano pada


putrinya.


“Tidak, Pa. Queen menemani papa saja di rumah. Nanti, untuk


makan malam biar Queen memasakkan sesuatu untukmu.”


“Ya sudah, lebih baik kau beristirahat saja sekarang, papa


juga sepertinya mulai ngantuk efek minum obat tadi.”


“Queen antar papa ke kamar, ya?”


Andrean hanya mengamati anak dan cucunya dari jauh dengan


senyuman, sebentar lagi, aku akan punya cicit. Semoga kau bahagia, Nak. Di alam


sana, pasti nenek dan kakek Andreasmu senang melihat kalian bahagia.


Setelah keluar dari kamar papanya, kakek Andrean


memanggilnya dan mengajaknya berbicara berdua saja di taman belakang. Rupanya


pria tua itu memang sengaja, dan mencari kesempatan hanya bersama cucunya


seorang.


“Ada apa kek?” tanya Queen begitu mereka sudah duduk di


taman belakang.


“Pertama kakek minta maaf sama kamu, mungkin kali ini kau


marah dan benci dengan kakek karena membantu Al untuk bisa menikahimu. Tapi,


kakek rasa memang Al lah yang terbaik untukmu, dia yang bisa melindungimu


dengan baik, da yang paling tulus mencintaimu juga dia.”


“Apa maksut kakek Diaz tidak tulus mencintaiku?”


“Dia itu cintanya berawal dari rasa kagum terhadapmu, Queen.


Jika suatu saat ia kecewa dengan kekurangan yang belum ia ketahui sebelumnya,


apa kau pikir dia tidak bisa kecewa dan memuat rasa cintanya padamu itu


hilang?”


Queen diam sejenak, mencoba mencerna apa yang baru saja


kakek Andrean katakan. Sebelum ia membenarkan apa yang diucapkan sang kakek ia


kembali teringat dengan kejadian semasa SMA dulu. Memang hal itu tidak dia


sendiri yang mengalaminya. Tapi, dua sahabatnya. Shinta dan juga Bella. Mereka


pernah menyukai kakak kelas yang memang termasuk siswa tampan dan pintar, banyak


para gadis yang berlomba-lomba untuk mendapatkan perhatiannya. Namun, begitu


dia sudah kenal dengan Bella, dan memiliki rasa terhadap sahabatnya, Sosok pria


yang cool itu jadi berubah dalam sekejap di mata Bella. Dia tak lain pria biasa


yabg lebai dan terlalu posesif terhadap pacarnya. Akhirnya, tak menungu lama


hubungan mereka juga kandas.


Queen tersenyum pada kakek Andrean, dan kembali perkataan


Diaz terngiang di telinganya saat ia merasa sedih kehilangan Alex. ‘Adakalanya


kau membenci sesuatu, tapi, itu adalah yang terbaik untukmu, Tuhan itu maha


tahu, sementara manusia tidak,’


“Baik, kakek, Queen mengerti.” Ucap wanita itu dengan datar


dan senyuman tipis di bibirnya.


“Ya sudah, Cuma itu yang perlu kakek sampaikan, sekarang kau


istirahatlah!”


“Iya, Kek.” Queen pun pergi meninggalkan kakeknya seorang


diri. Ia kembali masuk ke dalam kamar yang sudah lama dia tinggalkan karena ia


tak lagi tinggal di rumah ini.


Di dalamnya, ia seperti berada dalam masa lalu. Di mana ia


pertama menempati kamar ini saat ia masih duduk di bangku SD. Ia tidak begitu


paham apa lasan kedua orang tuanya pindah kemari, padahal, mereka juga memiliki


rumah sendiri. Seingat Queen mereka pindah setelah satu tahunan Al pergi ke


Jepang bersama kakek Andreas.


Mata Queen melihat ke sebuah salah satu foto berukuran kecil


yang menempel di lampu warna pada dinding kamarnya, ia melihat foto dirinya


bersama Al memegang harum manis di sebuah pasam malam. Foto itu diambil ketika


dirinya masih SMA, dan kakaknya baru pulang dari Jepamg.


Tanpa sadar, Queen meraih kertas itu dan mengamatinya, dan


tersenyum, serta dalam hati bergumam, ‘Lihat, ini sudah lama sekali. Saat


semuanya masih indah, ketika rahasa para orang dewasa yang sebenarnya sudah kau


ketahui, namun aku belum tahu. Papa, mama, kedua kakek dan nenekku juga bahkan


menyangimu menyamai sayangnya pada diriku, mana mungkin aku bisa berfikir jika


kau hanya anak yang diaposi merek? Dan, lagi, wajahmu sangat mirip sekali


dengan papa.’


Queen tersenyum dan meletakkan kembalai foto itu pada tempatnya.


“Papa benar-benar setia pada mama saja, kan? Tapi, kak Al


kan empat lima tahun lebih tua dariku, jangan-jangan… Terus kronologi


ketemunyaa sama kak Al gimana, dong?”


Selama berada di dalam kamar Queen terus berputar-putar di


kamarnya memikirkan sesuatu yang benar-benar ingin dia ketahui. Katanya kala


itu aku masih bayi ketika mengadopsi kak Al, harunya dia tahu, kan bagai mana


asal muasalnya, selisih usiaku dan dia juga enam tahu, kan?


Tanpa sadar waktu sudah menunjukkan pul empat sore, Queen tidak

__ADS_1


bisa tidur meski hanya sebentar. Akhirnya ia pun mandi dan pergi ke dapur untuk


menepati janjinya pada sang papa.


Selama di dapur ia hanya ditemani oleh bik Yul saja, ia jadi


penasaran. Memang Nayla yang tak pernah ikut ke dapur lagi, atau karena ada


masalah dengan suaminya sehingga dia tidak lagi ke dapur. Ingin sekali Queen


bertanya pada bibi. Tapi,  ia enggan


membahas wanita itu.


Usai menyiapkan makan malam, Vano keluar dari kamarnya tanpa


menggunakan kursi roda, kemudian duduk di salah satu kursi di sana, dan menyapa


Queen.


“Pa, kok papa jalan kaki aja?” tanya Queen, ada sedikit


kekhawatiran yang tersirst di wajahnya.


“Papa ini tidak lumpuh, sayang. Jadi tidak masalah.”


“Tapi, itu menguras tenaga, jangan sering-sering jalan, dulu


ya, Pa.”


Setelah semua siap, Nayla bahkan juga masih belum keluar


dari kamarnya. Queen jadi sedikit penasaran, dia masih tidur, apa memang masih


marah? Tapi, ia Cuma bermasalah dengan Al, kan bukan dengan dia? Dan untuk apa


menghindari Nayla, toh dia masih belum tahu kebenarannya kalau ia telah menjadi


madunya.


Karena penasaran dan demi kekeluargaan, Queen pun menapakkia


anak tangga naik ke atas untuk memanggil Nayla dan juga bilqis untuk makan


malam.


“Lihat lah dirimu, Queen. Kau menggantikan posisi bibi saat


kau menghadapi ujian, bibi selalu memanggilmu untuk makan,” gumamnya seorang


diri.


Begitu ia mulai mengetuk pintu, bahkan belum memanggil


Nayla, wanita itu sudah keluar dengan putrinya, keduanya menatap dirinya dengan


tatapan sinis dan penuh kebencian. Hal itu memang tidak memberi dampak apapun


pada Queen, jika seandainya sepasang ibu dan anak itu benar-benar marah dan


membencinya. Hanya saja, kenapa? Apa dia marah karena ia mengajak Shinta? Kan


Shinta datang untuk bertemu papa,bukan kakaknya.


“Ayo, kak kita makan malam bareng,” ucap Queen menghilangkan


kecanggunggan di antara mereka berdua.


“Iya, ini kita mau turun. Ayo Bilqis!” seru Nayla sambil


menggandengan tangan bocah usia lima tahun itu dan mengabaikan dirinya.


‘Ck… Bahkan anak balita pun sudah diajarin sewot pada orang


yang lebih tua? Mau jadi apa dia nanti jika emaknya saja kek begitu?’


Queen pun tak mau ambil pusing, ia masuk ke dalam kamarnya


dulu untuk mandi kilaat dan mengganti pakaiannya. Sebelum makan malam. Toh saat


ia melihat dari lantai atas, kakeknya juga masih belum ada di sana. Papanya


sibuk dengan benda pipih yang ada di tangannya. Ia yakin, itu pasti teman-teman


dan coleganya, Queen bisa menjamin kalau dalam waktun dekat, mungkin kalau gak


malam ini ya besok, akan banyak orang yang berdatangan untuk menjengkuk


papanya.


Usai mandi dan keramas, Queen terkejut begitu ia membuka


pintu kamar mandinya didekap dari depan oleh Al. Walau bekum sempat melihat


wajahnya, seharusnya benar, itu Al. Sebab, ia hafal dengan aroma tubuhnya yang


khas dan sedikit ada bau mint-mintnya. Terlebih, siapa lagi yang berani berbuat


demikian padanya selain Al.


“Bagaimana perasaanmu? Apakah kau baik-baik saja?”


“Harusnya, kau bertanya seperti itu pada Nayla, bukan


padaku,” jawab Queen sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan Al.


“Aku tahu, apa yang terjadi di halaman belakng, Diazz


menyusulmu, kan? Dan apa yang ia katakana padamu aku juga tahu.”


“Tidak ada masalah, kan? Kalau begitu, biarkan saja dia. Kau


jangan mengusiknya.”


“Baik, Sayang. Karena kau tadi bilang cinta sama aku, dan


akan tetap menjalani hidup denganku, aku tidak akan membuat masalah untuknya.”


Al memegang kedua pipi Queen dan kemudian mengecup bibirnya dengan lembut.


Setelahnya, Queen berpaling dan mengusap birbirnya bekas


ciuman Al dengan menggunakan punggung tangan kanannya. Melihat itu, tidak ada


yang bisa Al lakukan selain tertawa. Mau berbuat lebih juga banyak orang.


“Baiklah, kau tunggu aku di meja makan sayang. Nanti, ikut


aku setelahnya,” ucap Al.


“Kemana?” tanya Queen penasaran.


“Kan kau sudah menerima aku sebagai suami, kita bulan madu,”


‘Cih, apaan? Seperti yang belum pernah saja. Padahal, selama


ini dia selalu melakukan padaku dengan paksa.’


“Kenapa diam? Atu, sesuatu akan menimpa mantan pacarmu itu?”


Queen menghirup napas Panjang dan mengeluarkannya dengan


kasar. Kemudian, ia menjawab dengan rsut wajah kesal, “Baiklah.”


Lagi-lagi Al hanya bisa tertawa saja, dan masuk ke dalam


kamar mandi yang ada di dalam kamar Queen untuk membersihkan diri, sebelum ia


turun untk makan malam.


 Tiba di meja makan, Queen menyapa semua dengan senyuman.


Namun begitu ia duduk di dekat papanya, dia dibikin dengan ucapan bocah lima


tahun hingga senyumannya memudar.


“Mama, tadi ketika papa tiba kenapa, tidak menciumu? Tapi,


jika melihat tante Queen, dia selalu mencium kedua pipi tante. Padahal, kakek


Vano dan kakek buyut dulu setiap habis dari mana saja, selalu mencium nek dan


buyut.”


‘Dih, bocah ini, bahaya juga,’ batin Queen.


Queen mengamati mimic dan gestur tubuh Nayla. Ia belagak


bingung dan berbisik pada Bilqis untuk tidak boleh  berkata demikian. Namun, pancaran wajahnya


sangat nyat mencolok kalau hatinya tengah bersorak. Dia merasa senang.


‘Gila ini orang sebagai ibu, dah mengajari anaknya


bersandiwara. Harusnya, inu yang baik itu, jika memang dirinya terlanjur buruk,


tidak akan menularkan keburukan itu terhadap anaknya, la ini bekum-belum sudah


diturunkan ilmu dua rupa.”


“Bilqis, kau kan tahu, kalau tante Queen itu adik dari papa


kamu, jadi wajar, lah.”


“Tapi, kakek Vano ke nenek Clara kok gitu, kenapa papaku


Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, Queen pun menjawab,


“Karena, papamu saat mencium mamamu itu pas keadaan sepi, hanya ada mereka


berdua saja di kamar. Jadi, Bilqis tidak tahu.”


“Benar begitu, Mama? Gitu tadi kamu bilang tidak pernah?


Jika kau ingin dicium papa saat dia pulang dari kantor, biar aku bantu bicara


pada papa, nanti.”


Seketika wajah Nayla berubah merah antara malu dan menahan


marah. Sedangkan Queen hanya tertawa puas melihat adegan drama yang kian hot di


depannya.


Ketika semuanya terdiam, Al terlihat turun dari atas, ia


menapakki anak tangga sambil memasang kancing lengan kemejanya. Rambutnya ia


tata rapi dengan pomet sehingga memberi kesan mengkilat seperti basah, jam


tangan bermerk berwarna hitam keemasan dan gelang manik dari bahan titanium


kian menunjang penampilannya terlihat jauh lebih keren, dan modish saja.Tiba di


meja makan, ia langsung mengambil kursi diantara kakek dan papanya, kemudian


langsung mengambil piring dan mengisinya dengan sedikit nasi dan lauk yang


sudah terhidang rapih di atas meja.


Semua mata pandangannya tertuju pada Al kecuali Queen.


Namun, hanya papa dan kakeknya saja yang bertanya padanya, itu pun hampir


bersamaan. “Tumben rapih banget, ma uke mana, Al?”


“Al ada acara di luar, Pa, Kek. Makanya, makan sedikit saja,


mau gak makan menunya special banget. Masakan tuan putri ini kata bik Yul,”


jawabnya sambil tersenyum tipis, melirik kea rah Queen yang masih saja memasang


wajah tidak peduli.


“Iya, Queen memasakkan kusus untuk papa, ini, jawab Vano.


Al tersenyum penuh arti sambil melihat kea rah Queen. Lebih


tepatnya, senyuman jail yang mengisyaratkan kalau Queen adalah istrinya, dan


tentu saja, itu hanya bisa di baca oleh tiga orang yang ada di sana.


“Queen, nanti ruteku melewati apartemen, sekalian bareng,


ya?”


“Terserah!”


“Kamu gak mau pulang? Ya sudah, tidak apa-apa kalau memang


mau tidur di sini,” ucapnya dengan sorot mata yang buas, seolah-olah memberi


isyarat nanti malam akan kuhabisi kau.


“Iya, deh,” jawab Queen sebal.


“Makan yang cepat, aku gak bisa telat, loh.”


Queen kian geram saja, ia pun berdiri san berkata, “Ya


sudah, ayo kalau kau buru-buru aku tidak usah makan.”


“Ya santai saja, aku Cuma kasih tahu, kok. Kakak mau makan


dulu, enak banget soalnya.” Al mulai menyuapkan nasi ke dalam mulutnya dan


tertawa.


Sedangkan Andrean mencubit Al secara diam-diam sambil


berbisik, “Kau kalau terus menggodanya, yang ada dia akan eneg sama kamu, Al.”


Al hanya sedikit mengeliat saja saat merasakan cubitan keci


yang lumayan sakit di pahanya akibat ulah sang kakek. Ia tidak menjawab, hanya


tertawa sambil terus makan.


“Aku akan mengemasi barangku dulu,” ucap Queen sambil


beranjak, meninggalkan meja makan.


Tak berselang lama, Nayla pun juga ikut beranjak, sepertinya


ia menyusul Queen. Tiba di depan kamar Queen Nayla marah dan memprotes Queen


atas apa yang ia katakana pada Bilqis yang bahkan belum pantas mengetahui apa


yang biasa dilakukan kedua orang dewasa di dalam kamar. Namun, bukan Queen


Namanya jika terlarut dalam esmosi Nayla, memang dia sudah dapat


meprediksikannya. Makanya, dia cari alasan agar Nayla bisa mengeluarkan


uneg-unegnya dari pada tidak keluar, yang ada malah jadi bisul.


“Queen aku mau bicara sama kamu!” seru Nayla dengan suara


tertahan sambil menarik keras pergelangan tangan kirinya.


“Aduh! Pelan dikit kenapa, sih Kak? Mau bicara apa?”


“Maksut kamu itu apa, sih? Apa begitu orang yang


berpendidikan tinggi berbicara kepada balita? Kampungan banget!”


“Apa, kampungan? Emang aku bicara apa?” tanya Queen dengan


tenag, namun nadanya menantang. Sengaja ia melakukan itu untuk memancing emosi


Nayla.


“Kau bicara pada Bilqis seperti yang kau ucapkan di meja


makan tadi, apa kau pikir pantas anak balita mengetahui hal itu, hah?”


Queenmemandang Nayla dengan cermat seperti ekspresi murit


yang memperhatikan gurunya menerangkan mata pelajaran di depan kelas. “Oh, ya?


Apakah Bilqis nanti begitu itu karena aku? Bukannya dia yang mengawali bertanya


padamu? Yang meberi pengaruh besar terhadap anak itu ibunya, bukan orang lain.


Anak akan baik jika ibunya baik, tapi, jika ibunya gak keruan… Ngatur diri


sendiri agar lebih baik saja tidak bisa, gimana ke anak?’’


“Kau menghinaku?”


“Di mana ada kalimatku yang menghinamu? Aku Cuma bicara


sesuai fakta tentang ibu di dunia.”


“Terus kenapa bawa-bawa nama Bilqis? Apa kau membencinya,


karena tidak ada hubungan darah dengan keluarga ini?”


“Kak Nay, kau ini gila, ya? Di mana ada sikapku yang


menunjukkan benci padanya. Dan kenapa tiba-tiba dia bertanya di depan keluarga


besar pertanyaan yang tidak pantas jika memang bukan kau yang mengajari dan


menyuruhnya. Anak kecil itu hanya terbuka dengan ibunya saja, karena pada


ibunya ia merasa dekat dan nyaman. Kalau memang pertanyaan itu mucul dari hati


dia, kenapa bertanyanya tidak saat kalian hanya berdua saja? Sekarang aku


tanya, siapa yang sebenarnya kampungan?”


“Queen! Cepetan, sayang!”


“Suamimu sudah menungguku!” Queen pun menutup pintu kamarnya


dan membiarkan Nayla tetap berdiri di luarmya.


‘Huh, untung aja ni lidah tergelincir bicaranya, jika tida,


aku sudah akan bilang suamiku,’ ucap Queen dalam hati.


Tidak mau yterlihat nyolok, Queen hanya mengambil tas dan


sepatunya saja, selebihnya, ia tidak merubah penampilannya.  Setelah berpamitan pada papa dan kakeknya

__ADS_1


Queen pun masuk ke dalam mobil Al.


“Kita mau ke mana?’’  tanyan Queen sambil memandang kea rah Al yang


tengah serius mengemudi.


“Ke vila pinggir pantai, gimana?”


Queen tersenyum dan bertanya,  “Kalau Cuma ke sana, kenapa dandan seganteng


itu?”


“Emang aku ganteng?”


“Iya.”


“Masa, sih?”


“Dari dulu, kamu kan selalu ganteng, gak pernah jelek. Ini


lagi malah pakai baju seformal ini,” ucap Queen.


“Kan jalan sama istri, ya dandan, donk. Di belakang ada jas


juga, kok untuk dipakai.”


“kenapa pakai jas?”


“Kita hadiri dulu acara ulang tahun istri salah satu


golegaku, di belakang ada tas, itu untuk kamu.


“Apaan?”


“Gaun sama heels, kamu pakai untuk acara nanti, kita ke


apartemen dulu, aku tunggu kamu ganti. Dandan yang cantik, ya?”


“Baiklah.” Queen mengecup pipi Al dan kembali duduk seperti


posisinya yang semula.


Al membalas tatapan mata Queen dan ikut tersenyum. Sekilas


memang terlihat Queen sudah bisa menerimanya sebagai suami. Tapi, Al paham


betul Queen itu tipe cewek seperti apa, dia tidak gampangan, pasti ada sesuatu


yang terselubung.


Sementara dipikiran Queen, ia merasa sangat kesal dengan


Nayla, cara dia bersikap di meja makan pada saat makan siang dan makan malam


tadi, benar-benar tidak sopan. Ya, kalau tidak ada papa. Masalahnya papanya


baru beberapa hari sadar dan masih beberapa jam di rumah, ia malah bikin rebut.


Kedua, dia yang berulah, tapi malah main nyalahin dirinya. Dengan begitu, sama


halnya dengan dia menabuh gendering perang bersamanya.


‘Lagian, dari dulu dia juga selalu cemburu padaku, takut aku


menggoda kakak angkatku. Ya sudah, tidak dosa, kan bagi istri yang menggoda


suaminya sendiri? Maafkan aku, Al jika menggunakan dirimu untuk menghancurkan


seseorang dari dala,’ batin Queen.


Al mencoba meraih pundak Queen, kemudian meletakkan pada


dada bidangnya, ia memeluk sambil mengemudi. Bahkan Queen pun juga tidak


menolak. ‘Ada apa dengannya? Bukannya tadi sempat jengkel dan sedikit dongkol


padanya? Cepat sekali moodnya berubah, lebih cepat dari bentuk awan putih yang


ada di langit.’


“Di sana ada masalah sama madu kamu?”


“Bukankah dia selalu begitu? Kalau pulang kerja tuh, peluk


dia, dan kamu cium tuh pipi kiri dan kanan biar gak marah-marah terus kek nenek


lampir,” jawab Queen.


“Aku tidak bisa melakukan itu lagi. Makanya, aku hambar dan


ga ada gairah saat sama dia, bed ajika dengan kamu.”


“Oh, iya, katanya mau datang ke acara ulang tahun, sudah


bawa hadiahnya belum?” tanya Queen mengalihkan topik pembicaraan.


“Sudah, dong.”


“Kasih hadiah apa?” tanya Queen mulai kepo.


“Paket liburan satu minggu di Bali.”


“Oh.”


“Kenapa, kamu pengen ke sana juga? Apa besok dari vila kita


langsung out ke Bali?”


“Tidak, tidak perlu, aku lagi ingin ke tempat yang tenag


saja,” jawab Queen.


Kembali Al memperhatikan rauat wajah Queen yang sudah


berubah. Ia kian yakin, kalau perhatian dan kemesrasaan yang baru saja


diberikannya hanyalah sandiwara. Tapi, Al tidak peduli itu. Biarkan saja dia


menjalani kebersamaan ini secara terpaksa. Nanti lama-lama juga terbiasa, jika


sudah biasa, baru cinta akan hadir di hatinya.


Al memegang punggung tangan wanita di sebelahnya, sebelah


tangannya lagi memegang setir mobil, dan matanya masih lurus menatap jalan


raya.


Queen melihat tangan itu, namun ia hanya diam saja,


sebenarnya ia merasa risih dan ingin sekali menampiknya. Hanya saja, dia masih


tak ingin rebut.


“Aku selalu menikmati setiap detik kebersamaanku denganmu.


Walau, kau anggap apapun aku di hatimu, aku tidak peduli.” Tanpa menolah ke


arah Queen, Al melakukan hal itu dan mencium tangan wanitanya beberapa kali.


Queen merasakan sesuatu yang aneh, ia tak bisa menahan


gejolak yang ada di hatinya. Bahkan, di pikirannya saat ini benar-benar kosong,


kejadian itu tidak membuat ia teringat pada siapapun, termasuk Diaz, ataupun


Alex. Secara reflek, Queen pun menarik tanganya, ia merasa canggung, sampai-sampai


menghadap ke jendela.


***123


 Usai makan malam,


Nayla menenmani putrinya mengerjakan pr. Api, ruoanya pikirannya sedang


bercabang, karena dia sama sekali tidak bisa fokus. Baru ketika berusaha


meperhatikan kembali gambar-gambar bangun datar yang diwarnai Bilqis, sebuah


panggilan masuk ke dalam ponselnya.


Awalnya ia berusaha mengabaikannya. Tapi, karena penasaran,


terlebih yang tertera pada kontak tersebut adalah nama kekasih gelapnya, tanpa


pikir Panjang lagi ia langsung menyambarnya.


“Sebentar ya, Sayang,” ucap Nayla pada Bilqis, ia mencari


tempat yang sedikit jauh dari anaknya. Di depan jendela, ia mengangkat


panggilan itu.


“Halo, Jev. Ada apa?”


“Nay, plis. Aku butih bantuan kamu banget, nih. Kamu bisa,


kan tranfer ke nomer rekeningku, sekarang?”


“Apa? Uang lagi? Bua tapa, Jev? Bukannya baru kemarin aku


transfer kamu sebesar lima juta? Masa masih kurang?”


“Iya, aku tahu, lagian selama setahun ini, menjalin hubungan


dengan kamu, apa pernah aku minta sesuatu padamu sekalipun? Ini situasinya


sangat mendesak, jika kau tidak bisa, ya sudah. Jagan cari aku lagi, kita lebih


baik putus,’ ancam Jevin dari seberang sana.


“Oh, iya, Jev. Baik-baik. Aku akan mentransfernya sekarang


juga, kamu butuh berapa?” tanya Nayla merasa takut. Ia juga bingung dengan


perasaannya sekarang. Di sisi lain dia masih sangat mencintai Al dan berharap


semuanya bisa kembali normal seprti dulu. Namun, di sisi lain, ia juga merasa


ketergantungan pada Jevin. Dia tidak bisa seharipun tanpa berkomunikasi dengan


pria itu.


“Aku butuh cepat, saat ini juga. Kamu tranfer sepuluh juta,


ya? Uang itu aku gunakan untuk kemo trapi mamaku, dan biaya kuliah adikku.”


“Hah, banyak banget, Jev?”


“Kamu mau, apa tidak? Kan aku sudah bilang kalau uangnya


untuk kemo therapi mama dan biaya kuliah adikku.”


“Baik, iya. Aku akan mentranfernya sekarang juga.” Walau


sedikit keberatan dan takut menimbulkan masalah baru, namun rasa cinta dan


takut kehilangan membuat Nayla buta dan mau melakukan apa saja untuk pria dua


tahun yang usianya lebih muda darinya itu. Pria yang dulu begitu tergila-gila


padanya, yang rela melakukan apa saja, sampai-sampai berani mencelakai ipar dan


suaminya sendiri.


Awalnya Nayla sedikit keberatan mentransfer uang sebayaj


itu. Namun, ia taka da pilihan lain. Dengan berat hati pun ia melakukan itu.


Tak menunggu berapa lama, pesan mutase pemberitahuan dari Bank masuk ke dalam layar


sentuhnya. Dalam pesan itu tertulis, kalau tranfer sebesar Sepuluh juta ke no


rekening tujuan sudah terkirim.


Kemudian menyusul, pesan chat dari Jevin yang bertuliskan.


“Terima kasih, Syanga.” Dengan emot love.


Nayla merasa lemas, hanya membaca pesan tiu tanpa


menjawabnya. Sebab, dalam tiga hari saja ia sudah memberikan uang sebayak lima


belas juta kepada Jevin.


“Mama kenapa?” tanya Bilqis ketika melihat perubahan


ekspresi ibunya.


“tidak apa-apa, Bilqis. Yasuha, ini sudah malam, Bilqis


tidur, ya? Ayo bukunya dibereskan, kita gosok kiki, cuci muka, tangan dan kaki


lalu bobok, ya?” ucap Nayla sambil membantu merapihkan buku dan alat tulis


milik putrinya.


Usai menyelimuti Bilqis dan mematikan lampu kamar, hanya


menyisakan lampu tidur saja, Nayla meninggalkan kamar putinya dan naik ke atas,


menuju kamarnya.


Saat ia melintasi kamar Queen. Nayla melihat pintu kamar


tersenut terbuka sedikit lebar. Awalnya ia ingin berlalu begitu saja. Tapi,


entah kenapa, ia tiba-tiba saja penasaran dan ingin melihat ke dalamnya.


Cukup lama Nayla mengamati dalam kamar tersebut, ia melihat


seperti ada yang janggal saja. Tapi, apa? Sejurus kemudian matanya menangkap


tumpukkan pakaian berwana hitam dan maroon pada ranjang Queen. Jelas saja itu


akan terlihat sangat mencolok, karena sehari-hari kamar itu selalu terlihat


bersih dan rapi.


Merasa tidak asing dengan pakaian itu, Nayla pun masuk ke


dalam. Benar, ini adalah baju yang suaminya tadi pakai. Kenapa ada di sini?


Pikiran Nayla kian semrawut. Awalnya dia tenagng-tenang saat melihat Al naik ke


kamar atas. Sebab, biasanya suaminya juga mandi di kamarmandi dalam kamarnya,


walaupun sudah lama misah saat tidur.


‘Bukankah ketika mas Al tadi naik Queen masih ada di atas?


Ada apa ini sebenarnya? Cukup lama mereka berdua, apa saja yang sudah mereka


lakukan di belakangku selama ini?’ Apa benar mas Al tadi benar-benar ada acara


dan memberi tumpangan Queen kembali ke apartemennya?’


Nayla segera mengambil ponselnya, mencoba menghubungi Al.


Panggilannya tersambung. Tapi, dia tidak mengangkatnya. Sudah tiga kali ia


mencobanya. Namun, hasiplnya masih saja sama. Nayla berfikir mungkin suaminya


sudah tiba, dan tengah sibuk bersama teman-temannya. Jadi, ia memastikan untuk


menelfon video Queen melalui wa, sekedar memastikan apa dia benar-benar ada di


apartemen, atau itu Cuma akal-akalan mereka berdua saja.


Tidak menunggu lama setelah panggilan videonya tersambung,


Queen langsung mengankatnya. Nayla langsung melihat pemandangan belakang Queen,


bukan pada wajah wanita yang dipanggilnya.


Sudah mengerti apa maksut Nayla, Queen oun menjauhkan


ponselnya agar ia dapat melihat kalai ia baru saja tiba di apartemennya dan


pura-pura duduk santai di sofa ruang tamu, lalu rebahan. Namun, ia tidak


memperlihatkan Al yang juga ada dalam satu ruangan bersamanya.


“Ada apa Kak, Nay? Aku baru saja tiba. Apakah ada sesuatu


yang terjadi pada papa?” tanya Queen, sebab sedari tadi Nayla hanya diam saja.


“Tidak, Kau baru saja tiba?” tanya Nayla lagi.


“Iya, soalnya aku tadi tidak langsung naik, aku masib beli


makanan ringan di bawah.”


“Mas Al tidak ikut mampir ke sana?”


Queen berlagak bingung dan mengerutkan kedua alisnya dan


bilang, “Kak Al tadi buru-buru, jadi hanya menurunkan aku di jalan saja,


mungkin juga sekarangdia sudah tiba di sana. Kenapa tidak menelfonnya langsung


saja?”


“Oh, ya sudah, makasih.” Nayla pun langsung mematikan


panggilannya.


Begitu panggilan Video sudah terputus, Queen hendak bangkit


untuk berganti pakaian. Tapi, Al malah lebih dulu menerkamnya.


“Al, apa yang kau lakukan?”


“Apa yang aku lakukan? Normal kan, melakukan ini sebagai


suamimu?” ucap Al sambil mencium leher Queen.


“Baiklah, kita begini saja, apa menghadiri pesta ulang tahun


teman kamu?”


Mendengar jawaban itu, Al langsung menenggelamkan wajahnya


pada sofa dan berkata, “Ya sudah, kau siap-siap saja, aku tunggu kamu.”

__ADS_1


Queen tersenyum penuh kemenangan sambil meraih dua tas dari


Al yang diberikan padanya tadi.


__ADS_2