Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
PART 12


__ADS_3

LIMA TAHUN KEMUDIAN.


“Ma… ma… Lyn… “ Sambil terbata-bata seorang gadis kecil


berusia lima tahun mengucapkan kata mama sambil mengisyaratkan maksutnya dengan


Bahasa tubuh juga menggerakkan kedua tangannya.


Sementara Queen, menunduk dan memperhatikan dengan seksama.


Ya, dia lima tahun silam memang melahirkan bayi kembar. Satu dari mereka diasuh


oleh ibu kandung Al di Singapura. Dia di beri nama Clarissa Putri Al Fatih.


Kini kabarnya, Clarissa tumbuh jadi gadis kecil yang cantik dan cerdas, ia


bahkan juga ikut percepatan jenjang Pendidikan. Jadi, di usianya yang baru lima tahun, ia sudah kelas tiga SD di salah satu sekolah ternama yang ada di


Singapura.


Sementara Berlyana, atau Berlyn, ia juga cantik. Tapi, dia terlahir istimewa, ia memiliki kekurangan. Bahkan, sekolah pun juga di sekolah luar


biasa. Karena tidak bisa bicara atau bisu. Namun, bagi Al, Queen dan juga kedua


orang tuanya, Berlyn tetap saja anak yang dititipkan Tuhan untuk mereka semua, dia adalah amanah dan anugrah yang indah. Tak ada sedikitpun penyesalan di hati


mereka karena telah membiarkan Clarissa yang ikut bersama maminya.


“Oh, Brlyn tadi main sama kakak Bilqis di taman dan


menangkap kupu-kupu? Lalu, di mana kak Bilqis, Sayang?” ucap Queen dengan nada sedikit lantang. Karena, orang bisu itu, pendengarannya juga tidaklah normal, dan cenderung sedikit tuli.


Berlyn menunjuk ke suatu arah. Dari arah yang ditunjuknya,


seorang gadis berusia duabelas tahunan, berlari membawa rangkayan bunga yang


dibentuk seperti bandana sambil tertawa girang.


“Berlyn, kau di sini rupanya? Ini kakak Bilqis buatkan kamu


bandana, coba pakai, pasti cantik,” ujar gadis yang sudah beranjak remaja itu


sambil memasangkan bandana buatannya di kepala Bilqis.


“Waah cantik sekali.”


“Berlyn bilang apa sama kakak Bilqis? Terimakasih kakak,


gimana?” ucap Queen dengan sabar.


Tapi, gadis kecil itu hanya mengatakan semuanya hanya dengan bahasa isyarat saja. Dan mereka berdua bisa memahami arti gadis kecil itu.


“Sama-sama, Berlyn.” Bilqis memeluk dan mencium pipi tembem


bocah itu penuh dengan kasih sayang.


“Bilqis pasti belum makan siang, bukan? Ayo makan dulu, tadi


mama Queen sama bibi masak omelet keju kesukaan kalian.”


“Oh, ya? Ma? Asiik! Ayo Berlyn kita makan bareng,” ajak bocah itu


ceria.


Saat menemani dua anak itu makan, sebuah chat dari Nayla


masuk. Rupanya wanita itu menanyakan kabar putrinya.


Dengan senang hati, Queen memfoto Bilqis yang sedang


menikmati makan sianganya bersama puri kecilnya.


“Dia sedang makan kak Nay. Aku suka jika Bilqis menemani


Berlyn makan, dengan begitu, dia juga mau makan sayur seperti yang dilakukan


kakaknya,” tulis Queen dalam pesannya setelah mengirimkan foto tersebut.


“Maaf, ya Queen jika aku banyak merepotkan,” balas Nayla.


“Tidak, kok Kak. Berlyn menyukai Bilqis, dan begitu pun


sebaliknya.


Hubungan antara Queen dan Nayla kini juga sudah membaik. Tak


ada permusuhan di antara keduanya. Bahkan kini Nayla juga telah memiliki toko roti dan aneka kue sendiri dan memiliki dua karyawan tetap.


“Kalian sudah selesai makannya? Cuci tangan dan kaki, lalu


tidur, ya?’ ucap Queen lalu membereskan sisa makan siang mereka. Sementara


BIlqis menuntun Berlyn perlahan ke kamar mandi untuk mencuci tangan dan kaki


sebelum akhirnya mereka berdua tidur siang.


Setelah memastikan mereka semua masuk kamar, ia menelfon


mamanya yang kini tinggal di rumah di mana ia dibesarkan dulu. Sementara Queen


dan Al tinggal di rumah kakek Andrean. Sengaja tidak mau misah agar si kakek


tidak kesepian saat ia bekerja masih ada Berlyn dan juga Bilqis yang sering


main ke rumah.


“Halo, Queen. Kau sudah pulang bekerja?” jawab wanita paruh


baya itu dari seberang.


“iya, Ma. Mama sama papa apa kabar?”


“Kami baik-baik saja di sini, bagaimana keadaan cucu mama,


Sayang? Apakah dia sehat-sehat saja?” tanya Clara dengan nada ceria yang tak


bisa di sembunyikan lagi.


“Dia baik-baik saja, Ma. Sekarang dia dan Bilqis sedang


tidur siang. Habis makan omelet dan tumis sayur brokoli, bakcoy dan kembang kol


tadi,” tukas Queen, menceritakan kejadian yang baru saja terjadi.


“Sudah mau makan sayur anak itu, Queen?”


“Ya, karena ada Bilqis, Ma. Coba saja kalau tidak. Mana mungkin dia mau?” Terdengar dari dalam telfon genggam Clara, kalau Queen tengah


menghela napas Panjang.


“Sudahlah, perlahan-lahan dia juga akan mau nanti. Ini kan


musim libur, apakah kau tak ada rencana pergi ke Singapura mempertemukan Berlyn


dan Clarissa secara langsung? Kan biasanya mereka hanya video call, kan? Pasti


bahagia kalau bisa bertemu secara langsung.”


“Aku nunggu cutiku di acc dulu sama atasan, Ma. Kan

__ADS_1


bagaimana pun aku juga belum buka praktik sendiri. Jadi, ya gak bisa asal dan sembarangan,” keluh Queen, kala itu.


Wanita itu menghempaskan tubuhnya sendiri di atas ayunan


taman belakang. Ia merasa sedikit lelah belakangan ini. Bahkan hubungannya


dengan Al juga sedikit renggang. Tak jarang Al pulang larut malam dan berangkat pagi-pagi sekali. Alasannya, sekalian ngantar Berlyn pergi ke sekolah. Bagaimana pun, ia tidak akan mepercayakan siapapun, untuk mengantar jemput


putri kecilnya itu. Sekalipun itu supirnya sendiri.


“Beruntung kau hanya dokter umum. Jika saja dokter spesialis


seperti Diaz, pasti itu akan sangat sulit, Sayang.”


“Iya, Mama benar.”


Clara diam, ia merasa kalau putrinya kali ini bicaranya


terdengar lemas dan tak bergairah sama sekali. ‘Ada apa dia? Apakah dia sedang


dalam masalah?’ batinnya.


“Kamu kenapa Queen? Kok tidak seperti biasanya?” tanya Clara


memberanikan diri.


“Tidak apa-apa, Ma. Queen Cuma sedikit merasa lelah saja.


Tadi di rumah sakit pasien banyak banget.”


“Ya sudah. Bagaimana keadaan Al? apakah dia baik-baik saja?


Sepertinya dia sering lembur, apakah pekerjaan sangat banyak?”


“Iya, Ma. Dia memang sering lembur akhir-akhir ini. Tapi,


kami tidak dalam masalah, kok.” Ucap Queen. Tapi, tanpa sadar itu hanya akan membuat mamanya berfikir kalau dugaannya benar saja.


“Ya sudah. Lebih baik kau istirahat saja.”


Nada telfon pun di matikan. Queen beranjak masuk ke dalam


dan menuju ke dalam kamarnya. Ia berbaring dan berusaha untuk memejamkan


matanya. Tapi, ia hanya berguling-guling saja tak bisa tidur sama sekali sampai


pukul tiga lewat sepuluh menit sore. Barulah dia keluar kamar dan menyiapkan


makan malam. Sedangkan Bi Yul, ia memandikan membersihkan rumah. Dan Belyn dan


Bilqis, ia tengah menonton acara karton sore hari di salah satu chanel


televisi.


Sekitar jam empat sore, terdengar teriakan Bilqis dengan


girang menyebut kata papa. Sepertinya Al sudah tiba. ‘Tumben dia pulang lebih awal,’ batin Queen.


Kebetulan dia memasak juga sudah hampir selesai. Tinggal mencuci


bekas perabot kotor yang baru ia gunakan saja. Ia hendak keluar menyambut suaminya pulang sambil membawa beberapa hidangan makan malam ke meja makan.


“Al, kau sudah pulang, Sayang?” Sapa wanita itu sambil menghampiri


dan mengambil alih tas kerja yang ada di tangan kiri suaminya. Sementara tangan kanannya, ia gunakan untuk menggendong Berlyn.


“Al hanya cuek saja. Tak ada jawaban dari bibirnya selain


hanya memandang ke arah Queen sekilas saja. Lalu kemudian, ia kembali bercengkrama bersama putri kecilnya yang istimewa itu.


Queen hanya memandang Al pilu. Apakah segitu marahnya dia?


Tidakkah dia bisa mengerti posisinya saat ini? Wanita itu tersenyum seorang


kamar untuk meletakkan tas kerja suaminya tersebut. Dan setelahnya ia kembali


ke dapur dengan maksut menyelesaikan tugasnya yang belum selesai.


Tapi, ternyata sampai sana semuanya sudah rapi. Ternyata bibi


yang membereskan semuanya.


Karena masih sore, Queen segera ke kamar untuk mandi sebelum


makan malam bersama. Apalagi suaminya juga sudah pulang.


Setiba di kamarnya, ternyata Al sudah berada di sana, ia


bahkan sudah mandi. ‘Cepat sekali dia? Batin Quuen.’


“Aku sudah mengajukan cuti. Tinggal menunggu acc saja,


setelah itu kita bisa segera ke Singapura untuk melihat keadaan mami dan juga Clarissa,”


ucap Queen, ia berusaha mencairkan suasana yang kian membeku.


“Oh, kukira kau tak peduli,” jawab Al, biasa rendah, namun


kalimatnya sangat menusuk.


“Apa maksut kamu bicara seperti itu, Al?” tanya Queen. Masih


dengan nada yang rendah dan lemah.


“Coba sekali lagi kau pikirkan! Jika kau mendengarkan kata-kataku dan resign, cukup di rumah saja tidak usah bekerja, untuk ke


Singapura saja juga tidak akan seribet ini, Queen. Sudah lima tahun bahkan aku


belum bertemu dengan putriku yang lain. Sebagai ayah aku juga ingin bertemu


dengan mereka berdua, tidak mau terpisah seperti ini,’ tukas Al dengan nada


kian tinggi.


“Lalu, apa gunanaya aku selama empat tahun menempuh Pendidikan


di fakultas kedokteran dan hampir dua tahun menjadi koas, jika akhirnyan aku


harus meninggalkan profesiku? Bagaimana dengan nasib para pasienku yang lebih


mengharapkan aku dari pada dokter umum yang lain?”


“Oh, jadi kau lebih mementingkan pasien yang sebenarnya adalah


orang lain? Lihat anakmu! Dia lebih membutuhkan dirimu, bukan siapa-siapa!” cetus


Al, dengan suara kian tinggi.


Queen segera berlari menutup pintu kamar yang sedikit


terbuka dan menguncinya. Ia khawatir kalau Bilqis dan Berlyn tahu, ini tidak


akan baik untuk mereka.


“Al, di sini ada anak-anak. Kau pelankan suaramu. Tidak baik


jika mereka mengetahui kedua orsngtuanya bertengkar. Terlebih jika itu Berlyn.”


“Hehm, kau tidak perlu peduli dengan mengatakan itu. Kutegaskan

__ADS_1


sekali lagi, Berlyn itu membutuhkan dirimu, bukan siapapun. Apa sih yang kau cari dalam pekerjaanmu itu? Uang? Aku akan membayarmu dua kali lipat sebulannya


selama kau mau resign, jika kau keberatan mengasuh anak yang bisu, kubayar juga kau.”


Mendengar kata-kata Al yang ini, Queen tak bisa tahan untuk


tidak menangis. Ia tidak menyangka Al bisa berubah sedrastis ini. Ada apa


sebenarnya? Toh selama jam luang, ia juga masih sempat memvideo call putrinya. Saat


di rumah, seluruh waktunya juga ia habiskan bersama putrinya, kecuali saat Bilqis hendak berkunjung. Dia Masi bisa sedikit bersantai, walau masih tetap mengawasi.


“Kamu tega mengatakan itu padaku, Al?” bibir queen sampai


bergetar karena menahan emosi dan juga kecewa. Sebisa mungkin ia terus berusaha


mengalah dan tak mau membuat suasana kian keruh. Tapi, ia merasa kalau ini


tidak lagi bisa diterima, sudah lama ia bertahan dalam kesabaran tapi, Al tetap saja tak mau ada pengertian.


“memang faktanya begitu, kan? Aku minta nambah satu anak lagi


kau menolak dengan alasan kwalahan karena ia masih bekerja dan harus mengurus Berlyn. Sudah dua bulan aku mita pengajuan cuti satu minggu saja, kita ke Singapura


jika kau tak mau resign, juga masih banyak alasan. Di mana janjimu dulu ingin memiliki anak banyak bersamaku? Kau hamil ini jugua pasti terpaksa, kan?”


“Iya, aku akui memang terpaksa demi mempertahankanmu agar


kau tak menduakan aku dengan Nayla, makanya akum au memberimu keturunan. Tapi,


ternnyata aku sangat bodoh mempertahankan orang yang salah. Kau jika mau pergi,


pergi saja! Cari wanita yang mau memberimu banyak keturunan. Tidakkah kau


merasa kenapa salah satu putri kita bisa bisu itu juga karena ulah kejahatanmu


di masa lalu?” teriak Queen. Karena ia sudah merasa tak sanggup lagi bersabar.


Dihapusnya air mata yang mengalir di pipinya dengan kasar. Ia


menurunkan koper dari atas lemari baju dan mulai mengemasi pakaiannya. Ia tahu,


Al pasti akan pergi keluar. Karena setelah ia mandi, ia juga telah memakai pakaian resmi dan mengenakan parfum. Sungguh tidak seperti ketika ia bersantai di rumah.


Beberapa pekan terakhir dia jarang pulang. Dan sekali pulang lebih awal hanya untuk membersihkan diri dan berpakaian rapi, untuk kembali pergi. Mau tidak mau, Queen memiliki pikrian buruk mengenai suaminya. Dia takut, kalau Al memiliki wanita lain di luar seperti yang pernah ia katakan dulu. Jika dia tak mau memiliki keturunan, ia akan pergi cari wanita yang mau memberinya banyak anak.


Al menjambak rambutnya sendiri dengan kasar, lalu berbalik


arah memeluk tubuh Queen dari belakang dengan erat.


“Sayang, apa yang akan kau lakukan? Kenapa kau mengemasi


pakaianmu?”


“Aku lelah jika terus-terusan kau tuduh dengan apa yang berada


di benakmu, Al. aku pergi saja lebih baik. Kau anggap aku tidak bisa mengerti


dirimu dan meminta aku meninggalkan profesiku, maksutmu apa?” ucap Queen sambil


menangis kencang, dan menghentikan kegiatannya.


“Kau yang mengerti aku, dong. Aku cuma butuh kau ada waktu


lebih banyak di rumah untuk Berlyn juga aku,” lirih Al tanpa melapaskan


pelukannya.


“Kau memang egois, Al. lalu, di mana kau dulu saat aku masih


repot-repotnya mengurus anak yang masih bayi seorang diri? kau bahkan lebih


sering tidur di kantor dan jarang pulang. Selama itu aku juga tidak pernah


protes, dan sekarang, kau menyalahkan pekerjaanku. Padahal, aku selama ini juga


merasa tidak kurang-kaurang kasih perhatian pada putri kita. Aku menolak


memiliki anak lagi juga sudah jelas, kana pa alasanku?”


“Maaf. Maafkan aku, Sayang. Malam ini Vico mengadakan pesta


ulang tahun putranya yang ke enam. Ku kira kau capek, jadi aku tidak mengajakmu.”


Memang Al dan Queen menikah lebih dulu. Tapi, Shinta dan Vico sebelum menikah sudah memiliki calon anak yang memang akan segera lahir untuk beberapa bulan. Hanya saja tidak ketahuan. Dan baru ketahuan saat si janin berusia lima bulan. Baru bisa menikah duabulan setelah setelah pendaftaran.


“Oh, ya? Kenapa aku tidak tahu?” ucap Queen, tanpa mengubah


posisinya.


“Iya, Shinta katanya sudah beberapa kali mengirimimu pesan. Tapi,


kau tidak membukanya. Takut kau sibuk, jadi, melalui Vico saja, ia menyampaikan padaku.”


“Aku akan minta maaf padanya. Lalu, bagaimana dengan makan


malam yang sudah kusiapkan?”


“Kita makan dulu saja, kebetulan aku juga sudah sangat lapar


mencium aroma masakanmu,’’ ucap Al.


“Uh, gombal!” Queen tertawa kecil sambil menghapus sisa air


matanya.


“Beneran, sudah dua minggu ini aku jarang pulang, kan? Dan dua


minggu pula aku tidak makan masakanmu. Ayo kita makan bareng. Tapi, bereskan


dulu itu,” pinta Al sambil mengarah pada koper dan baju-baju yang berserakan di atas lantai.


“Aku melakukan ini gara-gara kamu. Kamu saja yang bereskan. Aku


juga belum mandi.”


“Begini juga sudah cantik,” rayu Al. menggombal.


“Kalau datang ke pesta bersamamu aku seperti ini, yang ada


aku di kira pembantumu, atau baby siter Berlyn dong sama orang-orang.


“Aku akan mengatakan pada mereka kalau kau adalah istriku.”


“Jika kau sempat! Jika keduluan wanita cantik dan lebih muda


dariku, mendekati mu karena menganggapmu, duda bagaimana?”


“Ah, kau ini nakal sayang. Baiklah, biar ini bibi saja yang


membereskan. Aku akan ke bawah menemui Berlyn, kau mandi saja sekalian


bersiap-siap, gimana?” Al mencium pipi istrinya dari belakang, tanpa melepaskan.


“Lepaskan pelukan tanganmu, jika terus begini, bagaimana aku


bnia mandi?”


Oh, iya. Lupa sayang.

__ADS_1


Usai berdandan, Queen menyusul Al yang tengah menunggunya sambil bercengkrama bersama Berlyn dan juga Bilqis di ruang keluarga.


Begitu melihat Queen datang, barulah mereka ke meja makan dan makan bersama. Begitu selesai, mereka pergi ke tempat Vico, sekalian mengantarkan Bilqis pulang.


__ADS_2