Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION 2 PART 166


__ADS_3

Selama di jalan menuju rumah sakit, Al terus meledek dan menertawai adiknya yang masih saja cemberut.


Queen sangat jengah dengan hal ini. Ia tidak mau melihat kakaknya, dan membuang muka ke arah jendela, tidak mempedulikan apapun yang dibicarakan oleh Al.


"Masa sih, marah terus?" goda Al sambil terkekeh.


Queen masih diam tidak mau berbicara.


"Maaf, semalam kakak gak sengaja ketiduran," ucap Al lagi.


"Bilang aja kalau mau tidur, biar aku bisa langsung mengerjakan tugasnya, tidak menunggu kakak yang malah molor di kamar, tau molor apa lembur sendiri," jawab Queen dengan sewot.


Memang Al kembali agak malam katanya lembur, dan bilang kalau ada beberapa hal yang harus dikerjakan untuk esok pagi, dia baru tiba di rumah sekitar pukul sembilan, dan memberikan beberapa lebaran yang cukup tebal pada adiknya untuk di kerjakan berdua.


Tapi, Al pamit akan mandi dulu, Quen dilarang mengerjakan sebelum dia kembali. Namun, sudah dua jam menunggu Al tidak kunjung kembali, ingin memastikan ke kamarnya, henaing tidak ada suara apapun. Chatting pun juga tidak dibaca.


akhirnya sekitar jam setengah duabelas malam Quen mengerjakan tugas itu sendiri demi kakaknya agar besok tidak keteteran, bahkan pukul dua dini hari ia baru kelar mengerjakannya.


Jelas, saja hal itu membuat Quen marah dan tidak mau bicara sama kakaknya.


Dan pagi ini, di dalam mobil baru saja adiknya mulai luluh memaafkan dirinya, Al malah kembali berulah. Hal itu sukses membuat Quen jadi makin ngambeg saja


"Habis gimana sih, tergoda sama yang ada di kamar. Masa kamu nggak ngerti? Atau lupa? Makannya jangan menjanda terus," ucap Al sambil terkekeh.


Bersamaan dengan itu, kebetulan saat macet dan juga lampu merah. Jadi, mobil Al berhenti cukup lama.


Karena saking jengkel nya, Quen membuka pintu mobil, lalu keluar dan berjalan melewati trotoar tanpa memperdulikan kakaknya yang terus saja menertawai dirinya sampai seperti orang kesurupan.


"Queen! Eh, aduh... dia benar-benar ngambeg, ya?" Gerutu Al. Ingin rasanya dia turun dan mengejarnya. Tapi, lampu hijau sudah menyala. bahkan kendaraan yang ada di belakangnya pun mulai membunyikan Clakson.


Bebrapa menit kemudian, dia sudah melewati Quen, tapi, wanita itu tidak peduli saat ia berkali-kali memanggilnya dan meminta agar masuk ke dalam mobil.


mendadak ia teringat dengan beberapa orang yang diam-diam terus mengawasi adiknya, jadi, Al meminta salah satu dari mereka mengemudikan mobilnya, sementara dia menemani Queen berjalan, kebetulan jarak dari rumah sakit sudah tidak jauh lagi, sekitar tigaratus meteran.


Tidak menunggu lama, orang suruhan Al pun tiba dan menggantikan dirinya mengemudikan mobilnya, dengan cepat Al keluar dan berlari mengejar adiknya, menemani berjalan sampai di rumah sakit tempat Quen bekerja.


Saat tiba di depan rumah sakit Al seperti tidak bisa mengontrol diri, ia menarik lengan Queen dan memeluknya sambil berbisik, "Maafkan aku, aku semalam benar-benar tidak ada niat untuk menjahili mu. Semalam aku benar-benar lelah dan ketiduran aku tidak melakukan apapun sama Nayla, aku bahkan tidak sempat mandi, rebahan sebentar di single sofa kamar malah ketiduran sampai jam setengah empat, kulihat kau sudah tidak ada di ruang baca, dan pekerjaan itu sudah kau selesaikan.


Queen mengerutkan keningnya, ia merasa aneh dengan kalimat yang diucapkan kakaknya kepada dirinya. Ya, terasa ambigu. Seolah-olah dia bukanlah adiknya, melainkan simpanan nya.


Dengan keras wanita itu mendorong tubuh Al dari pelukannya dan berkata cz "Mau ngapain aja kau sama dia, itu bukan urusanku. ngapain harus menjelaskan itu padaku? Dia kan istrimu. Kamu melakukan atau tidak, aku juga tidak tahu. Kan kalian ada di kamar cuma berdua."


Queen pun melangkah cepat memasuki pagar rumah sakit. Sementara Al masih membeku di tempatnya sambil memandangi adiknya. Dalam hati.ia merasa kasian juga dan sedikit menyesal,


Kenapa aku jadi kelewatan gini, ya sama dia? Dan barusan? ah, dasar bodoh kau Al. kenapa menjelaskan hal itu padanya? Jelas aja dia tidak peduli. Yang dia tahu, kau tidak tepati janji. apapun yang terjadi di dalam kamarmu, sedikitpun dia ga mau tahu, dasar bodoh. umpat Al seorang diri.


Bukan hanya Al yang menyesali atas apa yang baru saja dilakukan dan dikatakan kepada adiknya di depan rumah sakit. Tapi, Queen juga memikirkan tentang hal itu apa maksud kakaknya bicara kayak gitu? Lagi pula ngapain pake acara ngomong ke aku tidak ngapa-ngapain sama kak Nay selamam. Kan bukan urusanku? Toh, mereka juga sepasang suami istri.


Queen berusaha tidak peduli tapi tetap saja hal itu memenuhi isi kepalanya, sehingga dia bekerja pun menjadi tidak bisa maksimal karena kurang fokus. Dia masih saja penasaran apa maksut kakaknya tadi pagi, kenapa dia begitu berusaha menjelaskan semuanya. padhal cukup berkata kelelahan, dan ketiduran saja cukup. dan ledekan dia di mobil mengatai aku janda, ngapain, coba?


Ah, bodo amat, biarkan saja dia mau apa terserah, Pikir Queen lalu mulai bekerja dan kembali memanggil pasien selanjutnya untuk diperiksa.


***


Saat jam makan siang, Queen langsung membuka ponselnya. Ia tersenyum saat mendapati sebuah Chat dari Diaz kalau ia sudah menunggu di depan rumah sakit.

__ADS_1


Dengan segera Quen memasukkan ponselnya ke dalam tas, lalu bergegas keluar dari ruangan itu, dan berpesan kepada teman seprofesinya agar makan siang untuknya tidak perlu diantar. Dia akan makan siang di luar bersama temannya.


Meskipun sempat jadi bulan-bulanan teman-temannya, Quen hanya tersenyum saja dan segera pergi, sebena, Diaz pasti sudah menunggu lama.


"Cieee yang mau luncha sama do'i...."


"Tadi pagi berangkat jalan kaki bareng, ya? So sweet tau, pake dipeluk-peluk segala," ucap salah satu teman Quen yang seangkatan dengannya. tapi, usianya lebih tua sekitar dua tahunan.


"Hah, mereka berpelukan?" tanya salah satu dari mereka.


"Cowoknya, keknya Quen tadi pagi ngambek sama dia."


Tapi, sayang. Queen sudah tidak ada di sana dan jelas saja tidak tahu, apa yang sudah mereka katakan tentang dirinya.


di depan pagar rumah sakit, seorang pria tengah duduk di atas speda motor ninja berwarna biru. Queen berlari menghampirinya dan berkata, "Maaf, ya udah membuatmu menunggu lama."


"Tidak sampai sepuluh menit, kok." Diaz pun memasangkan helm kepada Quen lalu memintanya naik dan mereka pun mulai berjalan.


Queen tidak tahu, kalau Al pun sebenarnya juga ingin memberinya kejutan dengan datang ke rumah sakit tanpa memberi tahu dirinya terlebih dahulu. Tapi, dia datang kalau cepat dengan Diaz. saat Al baru saja menghentikan mobilnya di depan rumah sakit, saat itu juga, motor Diaz sudah melaju meninggalkan tempat itu.


Al kian tidak mengerti dengan dirinya sendiri, dia merasa kesal dan ingin marah, bukan lagi ingin. lebih tepatnya dia sudah melampiaskan kemarahannya dengan membanting setir.


Sesaat kemudian, ia berfikir untuk mengikuti mereka, dan ingin tahu mereka akan makan siang di mana.


"Kamu mau makan apa?" tanya Diaz sambil mengemudikan sepeda motornya.


"Apa?" tanya Queen, sambil mendekatkan kepalanya ke arah depan agar dapat mendengar apa yang Diaz katakan dengan jelas.


"Mau makan apa?" teriak pria itu.


Sementara Al yang terus mengawasi mereka berdua sangat kesal, melihat keduanya nampak asik bercanda di atas motor. Terlebih ketika melihat kedua lengan Quen dilingkarkan pada pinggang Diaz. ia semakin emosi tanpa sebab, karena tidak terima.


Bahkan dia juga ikut membelokan mobilnya ke sebuah cafe di mana Diaz membawa Quen. Tidak hanya itu. dengan tidak tahu malu Al pun dengan tiba-tiba ikut duduk bersama Diaz dan Quen di satu meja gazebo. kebetulan mereka berdua memilih tempat lesehan dari pada di kursi.


Jelas hal itu membuat Quen dan juga Diaz terkejut, dan bertanya-tanya, bagaimana bisa kakak tiba-tiba muncul di depan kami?


Diaz dan Queen saling pandang, mereka sama-sama tidak mengerti bahkan Queen sendiri juga tidak merasa mengajak kakaknya kemari. Lalu bagaimana dia bisa tahu apakah dia mengutit? pikirnya.


Tanpa menyapa dan memiliki rasa sungkan kepada Diaz, Al melambaikan tangannya kepada pelayan cafe dan mulai menulis menu yang akan ia pesan. Setelah itu, barulah dia memberikan kepada Diaz dan Queen. Seolah mereka bertiga memang sengaja datang bersama.


"Kakak kok bisa ada di sini, sih?" tanya Quen, heran. Harusnya dia masih marah pada kakaknya. tapi, dia tidak mau menunjukan kekesalannya kepada orang lain, sekalipun itu adalah Diaz.


"Tadi aku berencana mengajakmu makan siang juga. Tapi, begitu aku sampai, kau sudah pergi bersama Diaz. Ya sudah, aku mengikuti kalian aja, lagi pula jika pun aku menelpon mungkin juga tidak akan kau jawab karena tidak dengar," jawab Al dengan santai tanpa rasa bersalah sedikitpun.


Diaz tersenyum kepada Al dan berkata, "Oh, iya kak. Tidak apa-apa, lagian kapan lagi kita ada kesempatan makan siang bertiga?" ucap Diaz. Tapi, di dalam hatinya ia merasa risih dan tidak nyaman juga jika kakak dari kekasihnya selalu mengawasi dan mengikuti kemanapun mereka pergi.


Rasa tidak nyaman jelas ada, karena privasi antara keduanya jadi terganggu. Diaz mengajak Quen ke tempat seperti ini bukan berarti akan melakukan hal-hal yang tidak pantas, ia pun sebagai pria juga mengerti batasan. Tapi, antara pada gan kekasih yang sudah sama-sama serius pasti ada, kan sesuatu yang perlu dibicarakan hanya berdua saja?


"Queen, nanti pulang kerja kakak akan jemput kamu, jangan pulang sendiri atau, naik ojek online," cetus Al.


Entah kenapa, tiba-tiba, Diaz merasa tersindir oleh kata-kata Al. Dia memang sengaja memilih naik motor agar terhindar dari macet. dan lagi, itu pun karena Quen pernah bilang padanya, kalau dirinya lebih suka naik motor daripada mobil.


Queen tidak menjawab, ia hanya diam dan menundduk saja. matanya sekilas melihat ke arah Diaz yang duduk di depannya.


Rupanya, pria itu pun sedari tadi terus memperhatikan dirinya. dan hanya melempar sebuah senyuman saja saat pandangan mereka saling bertemu, lalu mengangguk pelan, seolah memberi isyarat agar Quen menyetujui permintaan kakaknya.

__ADS_1


"Iya" jawab Quen singkat.


Tidak ada obrolan selama makan siang berlangsung, Diaz mau ajak ngomong Quen sungkan dengan Al. Sedangkan untuk mengajak bicara dirinya, raut yang di pasang aja jutek begitu. jadi... ya, semua berlalu begitu saja.


Usai makan, suasananya pun juga kaku dan hening, hanya terdengar suara lantunan musik lembut yang diputar dari cafe ini.


Beberapa memit kemudian, derdengar suara deringan dari dalam saku jas yang Al kenakan. Rupanya telfon dari perusahaan, dan itupun terlihat sangat mendesak.


Dengan buru-buru Al pun segera meninggalkan cafe itu, dan hanya sempat pamit pada mereka berdua dengan singkat pula.


"Diaz, Quen. Kakak harus balik ke kantor sekarang. terimakasih, ya atas makan siang bersamanya."


Batin, Quen, siapa juga yang mengajak kamu.


Beda halnya, dengan Diaz, "Iya kak, sama-sama. Semoga di lain waktu kita bisa makan bersama lagi. Hati-hati, Kak.


Lalu Al pun bergegas menuju tempat parkir dan meninggalkan are Cafe.


Beruntung, dia menerima telfon dan harus segera menuju kantor, atau jika tidak....


"Diaz, maafin aku, ya. makan siang kita jadi berantakan gini," ucap Quen dengan raut wajah penuh dengan rasa bersalah.


"Berantakan bagaimana? Tidak kok. Kamu kenyang, gak?"


"Iya, kenyang lah, tapi, kan... "


Diaz tersenyum dan meletakan telunjuknya di depan bibir Quen sambil berkata, "Tidak ada kata tapi, dia kakakmu. Artinya kakakku pula. sudah tidak apa-apa."


Quen terpaku menatap wajah Diaz yang tengah tersenyum lembut, sabar dan penuh kasih sayang.


perlahan-lahan, bibir merah itu pun melengkung ke atas membentuk sebuah senyuman.


"Terimakasih, Diaz."


Kini tangan Diaz pun merambat menyentuk ke pipi Quen. Bahkan wajahnya, juga mendekat ke arah wajah Quen lalu, mengecup kening wanita itu cukup lama.


Saat Diaz menyudahi ciumannya, ia melihat mata Quen yang terpejam. Jujur, naluri prianya ingin melakukan lagi hal yang lebih dari sekedar mengecup keningnya saja. Tapi, bayangan mendiang abahnya terlindas di benanknya, sehingga, ia tidak lagi melakukan hal lebih lagi dan mengajak Quen untuk kembali.


"Kamu tinggal di mana sekarang?" tanya Quen saat di jalan.


"Tidak jauh dari rumah sakit tempat aku bekerja Sekarang."


"Enak, dong. bisa sering-sering apelin aku."


Diaz hanya tersenyum lembut, Quen dapat melihatnya dari spion motor, dan selama perjalanan menuju rumah sakit, ia hanya menatap ke arah spion itu. tidak ada kata bosan baginya memandang wajah kalem Diaz yang sangat tampan dan mempesona.


"Yang di sana pasti perawat magang dan para koasnya masih muda-muda dan cantik, ya?" ucap Quen tiba-tiba.


"Iya." Tangan kiri Diaz menyentuh punggung tangan Quen yang berada di dapan oertunya dengan erat. "tapi, masih kalah cantik sama kamu," ucapnya.


Queen yang mulanya hampir cemberut karena jawaban singkat pertama Diaz, kini ia pun kembali tersenyum dan menempelkan kepalanya pada punggung Diaz, dan kian erat berpegangan.


"Terimakasih, ya," ucap Quen.


Tanpa terasa, mereka pun sudah tiba di rumah tempat Quen bekerja. Dan Diaz pun kembali ke tempat dia bekerja.

__ADS_1


__ADS_2