Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
Episode 72


__ADS_3

Tiba di rumah lama dengan mendiang Aditya, mama Dian begitu


perhatian sekali dengan Novita. Turun dari mobil saja, menantunya dituntun dengan


sangat berhati-hati seperti lansia sampai ke kamar. Axel yang merasa aneh


dengan tingkah nenek tirinya lantas bertanya pada mamanya.


Mereka tiba di rumah ini malam karena tadi mampir ke rumah


Axel dulu. Makan malam di sana, karena Zahara bilang bibi pengurus rumah yang


bekerja di rumah suaminya sudah terlanjur masak banyak untuk mereka. Jadi,


terpaksa mampir dan Novi juga sempat rebahan sbeentar di sana. Karena, dia


tidak kuat jika terlalu lama berdiri atau duduk. Pasti kepalanya akan pusing. Mungkin


memang bawaan bayi dan kebetulan bayinya pas manja. Setiap orang hamil


kondisnya berbeda-beda. Jika tidak dengan Kesehatan, pasti juga moodnya.


“Mama sebenarnya sakit apa? Apakah seserius itu?” sepertinya


pria yang sudah beranjak remaja dan bisa dikata dewasa itu juga mengerti. Sudah


umum setiap pasangan yang baru menikah itu pasti yang dinantikan momongan.


“Mama tidak apa-apa, Sayang. Cuma sedikit kelelahan saja,”


jawab Novita sambil tersenyum lembut pada putra sulungnya.


“kecapekan, apa hamil?” tanyanya to the point.


“Apa? Mama hamil? Artinya Adriel akan punya adik bayi, dong?”


ucap Adriel dengan girang sambil naik ke atas ranjang, begitu mendengar apa


yang kakanya ucapkan barusaja.


“Kau suka adik bayi, Adriel? Kamu mau adik cewek apa cowok?”


tanya mama Dian pada cucu sambungnya yang kecil.


“Aku mau cowok saja. Biar aku ajak dia main bola,” timpal


Adriel secara antusias.


Sementara Axel yang merasa terabaikan karena adiknya yang


begitu antusias, ia langsung berpindah tempat. Ia duduk di sofa ruang tengah


sambil bermain game tak pedulikan mereka yang berbahagia dengan akan adanya


calon anggota baru dalam keluarganya.


 Canrda yang melihat


Axel hanya diam dengan raut wajah tidak suka langsung menghampirinya.


“Xel, lagi apa?”


“Game,’’ jawab remaja itu dengan datar dan dingin tanpa mengalihkan


pandangannya pada layar sentuh dalam genggamannya.


“Lagi badmood? Ada apa?” tanya Candra dengan pelan.


“Tidak ada.”


Candra menghela napas panjang dan meneputk bahu putranya.


Kemudian ia berkata layaknya seorang ayah pada putranya yang sudah beranjak


dewasa. “Sini, kau sudah tahu kalau mama kamu hamil? Jangan pernah takut dan berfikir


kami tidak akan sayang lagi sama kamu setelah anak itu lahir. Kamu, adalah yang


pertama, dan akan tetap begitu. Kau tetap anak papa, papa janji,” ucap Candra,


sambil merangkul Pundak Axel.


Axel tertawa miring dan berkata pada Candra. “Terimakasih


kau sudah peduli dengan perasaanku. Tapi, kali ini kau salah, Pa.”


Lantas Candra mengertukan keningnya saat mendengar pernyataa


Axel. “Salah? Lalu, apa?” tanyanya.


“Aku bukan takut kau tak lagi peduli denganku. Aku ini sudah


dewasa. Dan tidak lama lagi, aku juga mungkin akan menemukan seorang pasangan


untuk mengisi hidupku.”


“Lalu apa yang kau takutkan?” tanya Candra. Suasana yang

__ADS_1


tadi beku, kini kian mencair saja.


“Coba tebak,” ucap Axel sambil tertawa tertahan.


Candra diam sejenak. Terlihat sekali kalau ia sangat


berfikir keras menemukan jawaban dari apa yang dipikirkan si sulung.  Kemudian ia terbesit lagi sebuah jawaban saat


ia mendengar gelak tawa Adriel dari kamar Novita. “Apakah kau takut, papa akan


berkurang sayangnya pada Adriel sampai-sampai mengabaikannya? Itu tidak akan


terjadi, Axel.”


“Salah.”


“Papa menyerah.”


“Aku hanya khawatir, saat aku ingin mengajak adikku jalan


nanti banyak yang mengira dia adalah ankku.”


“Pfff… kenapa?” tanya Candra tertawa tertahan.


“Coba saja, tampangku yang boros terlihat tua dan bongsor


banyak yang mengira aku sudah berusia dua puluh lima, bukan? Padahal aslinya


usia juga baru sembilan belas”


“Ya, karena kau mewarisi wajah mamamu yang bule, serta


tinggi badan seperti kakek Nicolas. Itu wajar.”


“Sekarang aku baru berusia sembilan belas saja sudah seperti


ini. Adikku akan lahir diusiaku yang keduapuluh. Tiga tahun setelahnya jika aku


bersamanya, pasti banyak yang mengira aku adalah hot dady.”


Seketika dua pria itu tertawa.


Sementara di dalam kamar, mama Dian meminta Novi untuk


banyak beristtirahat, dan mama dian sendiri yang menunda kembali ke Jogja malam


ini. Mereka akan kembali besok sore. Jadi, Adriel libur dulu. Sekalian


memulihkan tenaga Novita.


tertawa. Mungkinkah?”


“Pasti, Ma. Aku tahu, Candra bisa meluluhkan hati putra


sulungku yang dingin seperti gunung es itu,” timpal Novita dengan lembut.


‘’Ma, katanya pulang besok sore. Kenapa aku tidak diantar ke


rumah Berlyn?” tanya Adriel.


“Ke rumah Berlyn? Apakah kau tak ingin menemani adikmu?”


timpal Novita.


“Kan dia masih di dalam perut. Bagaimana bisa aku


mengajaknya bermain? Aku mau main sama dia saja.”


"Axel, Sayang cucunya nenek.... Sini nenek bilangin. Berlyn pasti dia lelah karena sudah seharian bermain bersamamu dan juga kak Bilqis. Jadi, dia pasti sudah tidur. Kau juga tidur ya?" bujuk mam Dian.


"Kenapa? Aku saja belum tidur. Coba telpon tante Queen atau om Al. Aku mau lihat," rengek Adriel.


"Sayang. Besok itu Berlyn sekolah. Kalaupun dia sekarang masih belum tidur, pasti mamanya juga akan memintanya agar segera tidur. Kan besok hari Senin."


"Hmb... Ya sudah. Kalau begitu, aku akan akan kak Axel ke sana besok setelah dia pualng sekolah."


"Tanya pada kakak. Kalau dia bersedia, silahkan. Sebab, kakak juga punya kesibukan sendiri sekarang. Kak Axel sudah kuliah. Pasti akan sangat sibuk."


"Iya, Mama. Aku tidak akan memaksa kalau memang kak Axel tidak bisa. Kan besok Papa tidak bekerja."


"Ya sudah apa kata besok saja. Sekarang kau cepatlah tidur," ucap Novi pada putrinya.


"Baik. Selamat malam mama. Selamat malam nenek." Bocah itu pun beranjak pergi meninggalkan kamar mamanya.


Novi dan mama Dian hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya sedikit. Kemudian keduanya saling tatap.


"Kamu mau makan sesuatu, Nov? Buah mungkin biar mama ambilkan," tawarnya.


"Tidak, Ma. Novi masih kenyang."


"Oh, ya sudah. Oh, iya Nov. Anaknya Al dan Queen itu bukannya Berlyn saja, ya? Lalu, Bilqis itu siapa?" tanya mama Dian. Sepertinya wanita itu penasaran.


"Iya, Ma. Cuma satu. Berlyn saja."


"Lalu Bilqis? Sempat bingung sih kok manggil mereka dengan panggilan papa dan mama."


"Dulu itu Al menikah dengan janda anak satu. Jadi, Bilqis itu dulunya adalah anak tiri Al. Terus entah ada masalah apa. Istrinya itu posesif dan benci banget sama Queen dan menuduh mereka yang bukan-bukan. Mama tahu tidak, kalau Al dan Queen dulu adalah kakak adik?"

__ADS_1


"Hah, kakak adik?" Mama Dian terlihat sekali kalau sangat shock.


"Duh, jadi bingung mau mulai cerita dari mana. Ceritanya panjang banget, sih."


"Gimana-gimana? Pelan saja, coba dari awal. Gimana ceritanya kakak menikahi adiknya?" Mama Dian membenarkan posisi duduknya, dan menyimak.


Ini dari yang Novi tahu, ya Ma. Tidak tahu sendiri. Katanya, Al duli diadopsi om Vano dan tante Clara karena melihat Al itu mirip sama om Vano. Walau awalnya mengira kalau dia adalah anak om Vano dengan wanita lain. Tapi, setelah diselidiki dan berkali-kali dites DNA ternyata bukan. Hanya saja, mereka tetap mempertahankan Al seperti anak sendiri dan kesayangan papanya om Vano dia itu.


Nah, setelah dewasa Al menikah dengan Nayla. Janda anak satu. Hanya saja gak tahu kenapa Nayla terlihat benci pada Queen, menuduh yang bukan-bukan. Padahal Queen juga susah menikah, dan bahagia dengan suaminya."


"Menikah? Jadi, sebelum menikah dengan Al yang ternyata kakak angkatnya itu dia sudah pernah menikah ya?" sela mama Dian.


"Iya, Ma. Dia mantan istrinya Alex. Mangkanya manggil aku kakak," jawab Novi sambil tertawa.


"Aduh... Menarik sekali. Gimana ini mama kepo. Gak apa-apa, kan? Kapan lagi? Takut ga ada waktu bercerita seperti ini," timpal mama Dian.


"Iya, Ma. Mereka dulu suami istri. Queen bahkan sempat hamil tapi keguguran. Padahal kandungan sudah delapan bulan. Bayinya tidak bergerak dan tidak ada detak jantungnya. Selang beberapa bulan, salah satu mantannya Alex merusak hubungan mereka. Sempat dimadu sih Queen. Sampai ia tidak tahan. Status istri tp tak dianggap. Cuma suruh liat dia dan Helen mesra-mesraan saja. Akhirnya bercerai. Dan Queen ngisi waktu luangnya. Bantu kakaknya ngurus kantor."


"Lalu karena sering dituduh dan dicurigai akhirnya benar-benar cinta mereka?" Tebak mama Dian.


"Iya, mungkin Ma. Tapi, Al yang mencintai Queen. Sebab, Queen sudah memiliki kekasih dan akan tunangan. Nah, puncaknya Queen pas tunangan Al menggila. Membawa kabur adiknya dari pertunangannya sendiri dan baru kembali tiga hari setelahnya. Dan apa yang terjadi? Tunangan Queen malah bertunangan dengan saudarinya. Sepupu atau apa entah lah."


"Astaga! Lalu, bagaimana?" tanya mama Dian kian kepo.


"Al menikahinya dengan paksa. Tapi, namanya cinta bisa tumbuh begitu saja saat dua insan berkumpul bersama. Dan saat mereka saling mencintai, Queen membongkar perselingkuhan Nayla dan Al menceraikannya saat itu juga."


"Apakah Nayla selingkuh karena Al seperti itu?"


"Tidak. Alex dan Juna sudah tahu semua. Sebelum Al memiliki rasa cinta pada adiknya, Nayla yang selingkuh duluan dengan salah satu staff suaminya. Karena dia tahu kalau istrinya masuk hotel, dia ga pernah lagi nyentuh Nayla. Tapi, dibiarkan saja sampai dua tahun. Benar-benar kuat si Al itu."


"Gemes ya kitanya pengen buru-buru Al nyeraikan malah Al nya cuek-cuek aja."


"Ya, tapi ada hal besar di balik itu semua, loh Ma."


"Apa itu?"


"Al menjadikan Nayla alat untuk memas-manasi Queen. Pada akhirnya tiba ia merasa cemburu saat tiba-tiba Al yang biasanya hanya perhatian padanya saja juga perhatian pada Nayla dengan dalih dia juga istrinya. Dari situlah dua wanita itu berperang siapa yang paling bisa menarik perhatian suaminya. Pada akhirnya Queen mendapati Nayla berselingkuh itu. Padahal, kata Alex itu memang sudah Al atur."


"Benar-benar luar biasa ya dia? Muda ganteng genius dan wah. Loh, iya Alex kok tahu terkait hal ini?"


"Kan dari awal mereka best friend, Ma?" ucap Novita. Sambil membatin, 'justru itu dia bisa menikah dengan Queen saat dia menggagalkan pernikahannya sendiri dengan Aditya. Hm... Axel tahu segalanya tentang ini. Candra juga.'


"Ya sudah, karena ini sudah malam. Kau cepatlah istirahat. Biar mama minta Candra segera kemari," ucap mama Dian sambil meninggalkan menantunya sambil tersenyum. Tapi, kenapa senyuman itu sinis? Atau, memang seperti itu dia kalau tidak asa yang lihat?


"Dra, kau cepatlah istrinya juga. Temani istrimu di kamar," ucap mama Dian.


"Baik, Ma." Tanpa memandang ke arah mamanya pria itu segera beranjak ke kamar Novi. Ia melihat ja. Dinding, pukul sembilan. Mungkin dia membatin, apa saja yang mama obrolin dengan istriku? Aku kan juga sudah dari tadi nunggu dia keluar. Gak keluar-keluar.


Candra menarik gagang pintu kamar perlahan dan menyapa Novita yang tengah bersandar di atas ranjang sambil tatapan matanya menyambut kedatangannya.


"Sayang. Belum tidur?" sapa Candra. Berbasa-basi.


"Mama baru saja keluar."


"Apa sih yang diobrolin? Keliatannya mama juga jatuh cinta sama kamu. Sampai aku ini bingung. Kau ini istriku, apa istri mamaku?"


Novi hanya tersenyum malu-malu dan berkata, "Kamu kok kaya anak kecil, sih? Bukannya hal seperti ini lumrah?"


"Ya sih. Tapi, mama terlalu lebai. Apa aku yang kangen sama kamu, ya?"


Novita tidak menjawab. Dia tersenyum sambil mencubit lengan Candra.


"Au... Aduh. Kau mencubitnya sakit sekali, Sayang," ucap Candra mengaduh sambil mengusap-usap bekas cubitan istrinya.


"Di mana ada dicubit enak? Ya sakit," jawab Novi dengan cuek.


"Iya kau benar. Yang enak itu kan ciuman, ya?"


"Apaan, sih?" hardik Novita sambil melotot.


Candra tertawa. Dia paling suka menggoda istrinya. Apalagi sampai bisa semarah ini. Entah, saking suka atau napsunya dia dengan Novi yang begini tanpa pikir panjang ia langsung melompat saja ke atas tubuh istrinya dan ******* habis bibir merah itu.


"Ndra!" seru Novita tanpa busa melanjutkan kata-katanya lagi. Karena tersumpal oleh mulut suaminya.


Novi yang mulanya hendak mengingatkan kalau dirinya tengah hamil muda pun urung. Karena napsu terlanjur menguasai pikirannya, ia pun akhirnya juga mengikuti alur permainan Candra. Toh, dulu saat hamilnya Axel dia juga terus seperti ini dengan mendiang suami pertamanya. Karena, dia dan Aditya tidak tahu kalau dirinya tengah hamil. Jadi, untuk bercinta pun bebas seperti orang biasa. Baru ketahuan hamil saat usia kandungan sudah memasukki usia tiga setengah bulan.


Sebelumnya memang Novi sendiri telat datang bulan. Tapi, dia tidak berfikir demikian karena dari jaman gadis ia sudah terbiasa telat datang bulan.


Saat Novi mendesah sedikit kencang karena dorongan dari Candra uang memberikan rasa sedikit sakit di tengah-tengah kenikmatannya, Candra terdiam tanpa mengeluarkan miliknya dari tubuh Novi. Ia terpaku. Sepertinya teringat dengan satu hal.


"Nov. kenapa kau diam saja?" ucap Candra sambil menatap Novi dengan pandangan berkabut karena napsu.


"Kenapa?"


"Ini tidak baik untuknya. Aku lupa kalau kau hamil, Sayang," ucap Candra dengan wajah penuh rasa bersalah. Tapi, tetap mempertahankan posisinya diatas Novi.


"Awalnya aku juga mau bilang. Tapi kau sudah menyumpal mulut ku dulu."


"Kita sudahan ya? Jangan dilanjut lagi, oke?"


"Terserah kau saja. Memangnya kau bisa menyudahi permainan kita? Kalau bisa ya silahkan," ucap Novita sambil tersenyum genit dan sedikit menggerakkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan. membuat seperti kesetanan saja.


"Kamu serius?"


"Aku ini wanita. Hanya nurut kamu saja. Kau yang punya kendali atas diriku."


"Nanggung Sayang. Aku suka jeritan dan desahan mu," ucap Candra kalap. Tapi, kali ini dia melakukannya dengan pelan. tidak seperti sebelumnya yang kasar dan serba cepat. Cari aman. tapi, semuanya juga sama-sama nikmat.

__ADS_1


__ADS_2