Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION2 #17


__ADS_3

"Apakah kau bermaksut memberiku kejutan?" ucap Quen manja sambil menempelkan pipi kanannya di lengan atas kiri Al.


"Jika, ia. Apakah aku berhasil?"


"Tentu saja. Kau bawakan apa aku dari Jepang?"


"Aku cuma membawakan diriku saja selamat. Cukup, kan?" goda Al.


"temannya kok dibiarin saja?" imbuh Al ketika melihat Bela masih berdiri di tempatnya.


"Bela, kemarilah! Ini kakakku, Kak Al. Dan ini mama papaku lalu mereka kedua kakkekku, dengan nenenk sudah kenal, kan?" ucap Quen tanpa mau beranjak dari tempatnya.


"Bela, kemarilah, Nak. Kau pasti belum pernah ketemu abangnya Quen, kan?" ucap Vivian dengan senyumannya yang hangat.


'Jangankan ketemu, denger aja tidak,' gumam Bela dalam hati.


"Bela, Kakek. Saya Bela. Om, Tante... Aku Bela, Kak."


Bela sedikit memalingkan muka dari pandangan orang-orang usai bersalaman dengan Al.


"Kakaknya Quen pria yang sangat tampan, seperti papanya. Idola semua wanita. Apa karna itu Quen tidak pernah bercerita? Ah, tidak dia memang selalu tertutup soal keluarganya. Bahkan papa mamanua saja seperti kakak Kak Al dan Quen." batin Bela.


"Quen, Bela. Kalian sudah sarapan belum?" tanya Clara dengan penuh perhatian.


"Suda, Ma. Tadi sarapan lumpur," cetu Quen sekenanya.


Sementara yang lain Syock dengan ucapan Gadis itu.


"Kue lumpur, Quen. Ngomong yang jelas!" ucap Bela, dan semuanya tertawa.


🌸🌸🌸🌸


Suatu malam saat Quen melihat gemerlap suasana Jakarta.


"Kenapa masih belum tidur?"


"Kakak? Kemarilah!"


Al berjalan mendekati adiknya habg tengah berdiri di depan dinding kaca.


"Kau, kenapa?"


Bisik Al di dekat telinga Quen.


"Harusnya aku tidak kenapa-napa. Tapi, aku merasa kok kaya ada keganjalan di hati, ya?"


Quen diam sesaat. Melihat lampu-lampu malam bag bintang berserakan di bumi. Hatinya seolah merindukan entah apa.


"Kau rindu sama kakak, ya? Tiga bulan di Jepang hanya dua kali menelfonmu?" ucap Al lirih di belakang Quen nyaris tak terdengar.


Quen membalikan badannya, dan keduanya berhadapan sangat dekat. Quen ragu-ragu melakukan apa yang ada pada kepalanya saat ini. Dia hanya mematung di tempatnya saja.


Satu langkah kecil Al melangkah berdiri hampir sejajar. Sampai keduanya saling merasakan napasnya yang terrukar.

__ADS_1


Al meraih pinggang adiknya dan memeluknya erat. Sementara Quen langsung saja gadis itu menangis dalam pelukan kakaknya.


"Apa yang kau sembunyikan dariku? Apa? Jangan diam saja!"


"Tidak ada, Quen. Kakak hanya mengurus pekerjaan."


"Kau kali ini tidak seperti biasanya."


Al bingung mencari alasan yang tepat untuk Quen. Jika ia beralasan mengetes penerbangan pesawat apakah tiga bulan full dia di udara kan. Tidak mungkin? Kecuali jika dia pergi di Bulan


"Sudahlah jangan nangis lagi, bagaimana kalau kita jalan-jalan dan makan malam di luar?" tawar Al sambil menyeka air mata adiknya.


Quen tida4j menjawab, ia semakin menenggelamkan wajahnya di dada Al. Ia tahu kalau matanya saat ini membengkak.


"Quen mau di rumah saja. Kakak tidurlah," jawab gadis itu lalu berjalan ke tempat tidurnya yang berjakar sekitar dua meter dari tempatnya.


Al menutup gorden lalu mematikan lampu dan keluar dari kamar adiknya. Ia diam beberapa detik di depan pintu kamar Quen.


Sekelibat ia melihat bayangan Lyli. Ingin dia mendekatinya tapi pikirannya sedang tidak kosentrasi.


Tapi, akhirnya pria itu tetap berjalan turun dan duduk di ruang tengah.


Berjajar dengan Lyli. Namun, enggan menyapa.


"Tuan mau minum sesuatu?"


"Buatkan saya wedang jahe ya kak," jawab Al singkat.


Sepuluh menit pertama keduanya masih kaku, lalu sepuluh menik kedua suasana menjadi cair saat Al dan Lyli bermaksut memulai pembicaraan dan ternyata bersamaan.


"Kau dulu."


Lagi-lagi bersamaan dan tertawa.


"Kau biasa tidur jam berapa kok masih bisa bangun pagi?" tanya Al


"Biasanya jam sebelas lewat masih terjaga, Tuan. Tapi, malam ini saya ingin nonton film yang malam ini tayang," jawab Lyli.


"Nardnia?"


"Iya," jawab gadis itu malu-malu.


Akhirnya Al dan Lyli menghabiskan waktu hampir semalaman nonton berdua dengan Lyli di ruang tengah sampai dia tersitur di sofa sementara Lyli, dia kembali ke kamarnya. Kemudian kembali dengan slimut di tangannya untuk menyelimuti Al.


Lyli berjongkok memperhatikan wajah Al yang tengah pulas tertidur. Gadis itu memandangnya jarak sekat hingga dapat mendengar napas halusnya yang teratur.


Ia tersenyum ingin rasanya membelai wajah tampan sang tuan yang terlihat lebih tirus dari tiga bulan terakhir saat berangkat ke Jepang. Namun niat itu urung karena takut malah membuatnya terbangun.


Gadis itu pun berdiri meninggalkan Al. Beberapa langkah ia berhenti menoleh dan tersenyum. Memang Al terlihat lebih kurusan. Mungkin selama di Jepang dia benar-benar sibuk dan kurang beristirahat hingga tak memperhatikan kesehatannya.


🌸🌸🌸


Tidak seperti biasa, gadis yang hampir tidak mengenal dapur itu sudah berada di sana dan sepertinya tengah sibuk. Memotong menggoreng dan membua sesuatu yang sepertinya sengaja di spesialkan.

__ADS_1


"Masak apa, Non?" sapa Lyli yang ternyata kalah pagi dengan majikannya, terlebih bukan Clara. Tapi, Quen.


"Kau tahu aku membuat apa?" tanya Quen balik sambil tersenyum.


Dengan gerakan anggun dan nanpak lihai ia membalik omelet di teflon dengan tangan kanannya. Sementara tangan kirinya tengah mengaduk-aduk sesuatu.


Lyli tersenyum sambil memasang celemek warna putih dan mulai mencuci tangannya.


"Apakah Non Quen sedang tak ingin memakan masakan saya?"


"Tidak. Aku membuatkannya untuk kakakku. Kau lihat. Dia sangat suka dengan omelet dengan potongan daun bawang yang lebih banyak, sup cream jagung dan susu segar."


Gadis itu menjelaskan sambil tangannya sibuk menuang sup cream pada mangkuk kecil. Terakir ditatanya rapi sup, omelet dan segelas susu segar itu pada nampan dan membawanya ke keluar dapur.


Lyli terdiam, mendadak merasakan sakit di dadanya. Tapi, dengan serta merta segera ditepisnya rasa itu. Ia sadar, sedekap apapun Quen dengan Al merupakan hal yang wajar, malah seharusnya begitu karena mereka saudara. Sedangkan dia? Orang luar yang bisa menikah dengan Al jika keduanya mau.


"Halo!" Seorang gadis masuk ke dalam kamar dengan nampan di tangannya serta masih mengenakan celemek pink. Rambut cokelatnya di ikat asal, hingga menyisakan anak rambut yang menutupi sebagian wajahnya.


Al yang tengah bersandar di atas ranjang menyambutnya dengan senyuman sumrungah.


"Kau ini kenapa?"


Gadis itu meletakan nampan di atas meja dan mengambil piring berisi omelet dan bersiap menyuapi Al.


"Apa yang kau lakukan selama di Jepang? Lihat lingkar matamu! Badanmu juga kurus sekarang," ucap Quen sambil menyupakan sepotong omelet ke mulut Al.


Al tidak menjawab melainkan hanya tersenyum sambil menberikan tatapan menggoda. Karena dia tahu, berdebat dengan adiknya merupakan hal sulit di akhiri jika sampai itu terjadi.


"Semalam kau tidur jam berapa? Begadang dengan kak Lyli, kan? Kalau emang suka yang gentle donk! Kelak jika aku benar mengikuti pertukaran mahasiswa di luar Negeri ada yang menjagamu."


"Quen, kau sadar tidak? Sekarang kau bahkan jauh lebih cerewet dari mama." Al terkekeh melihat raut wajah Quen yang berubah.


Dengan tatapan emosi Quen meletakan piring omelet yang tersiaa setengah itu di tangan Al, dia pergi meninggalkan Al keluar.


"Kau makan saja sendiri habiskan semuanya jangan ada yang tersisa. Aku mandi dulu. Sebelum berangkat kuliah, akan kucek."


Al tersenyum melihat tingkah adiknya yang kini sudah mulai menunjukan kedewasaannya. Namun, senyum itu memudar saat Quen tak lagi nampak punggungnya.


Ia tertunduk memegang kepalanya sambil sedikit *** rambut bagian depannya. Dengan segera Al membuka laci dan mengambil obat untuk meredakan sakit kepalanya.


Al telah menghabiskan semua makanan yang diberikan Quen kecuali susu.


Dengan pakauan out fit berwarna putih yang memperihatkan pundaknya dan celana jens panjang sobek di bagian kedua paha hingga lutut gadis itu kembali ke kamar kakaknya.


Dia melihat wajah lelah kakanya yang


Nampak terpejam. Dalam hati ia mengumpat kok ya sudah tidur saja dia tanpa meminum susunya sedikitpun?


Quen pun membawanya bekas sarapan Al turun ke dapur dan ikut sarapan bersama keluarganya.


"Kau tadi membawa nampan untuk apa Quen?" tanya Vivian.


"Bekas sarapan kakak, sepertinya dia sedang tidak sehat, sekarang dia tidur lagi, mungkin semalaman dia tidak kurang tidur, malah tidak tidur sama sekali," ucap Quen tersenym sambil matanya melirik Lyli yang membawakan kopi untuk papanya.

__ADS_1


"Ya sudah aku mau berangkat dulu, Kak Lyli. Nanti siang buatkan kak Al bubur saja, ya? Antarkan ke kamarnya jangan biarkan dia berkeliaran. Kau temanilah supaya dia tidak bosan," ucap Quen sambil menepuk bahu gadis yang dua tahun lebih tua darinya lalu berpamitan kepada papa mama dan kedua kakek serta neneknya.


Clara terheran melihat tingkah Quen ia beradu pandang dengan Vano, Vivian andreas lalu Andrean dan terakhir semua mata tertuju pada Lyli.


__ADS_2