
Queen tersenyum ketika melihat sebuah mobil brio merah
dengan nopol yang familiar baginya.
“Akhirnya, dia nurut juga, dasar,” umpatnya seorang diri. Ia pun turun dari
mobilnya dan menghampiri pria itu.
“Kita masuk dan melapor sekarang?” tanya Vico saat wanita itu
sudah berdiri di hadapannya.
“Tidak usah, tunggu saja besok, atau taun depan juga boleh,”
jawab Queen sewot. Lalu Vico mengekor mengikuti wanita itu di belakangnya.
“Selamat malam, Pak.”
“Iya, selamat malam, silahkan duduk ada keperluan apa?” tanya
seorang polisi dengan nada tegas dan galak. Beruntung aja Queen lagi dalam mood
serius. Sebab, jika tidak, pasti dia uda dikerjain aja, walau pun dia bukan
tipe cewe ganjen dan centil, kalau isengnya kumat, bisa lebih over dari
Hanifah.
“Terkait kasus pembunuhan Aditya, saya mau tahu, siapa yang
melapor?”
“Ada salah satu kerabatnya, anda kalau tidak salah keluarga
tersangka, ya?”
“Boleh saya tahu, identitas pelapor?”
“Maaf, kami tidak bisa mengekposenya, karena pelapor tidak
ingin kita menunjukaannya sebelum siding terselesaikan.”
“Baik, kalau begitu saya tidak akan memaksa. Tapi, mohon
kerja samanya, saat ini juga saya minta anda atau anak buah anda datang ke
kediaman almarhum korban, dan mengecek CCTV yang ada, karena di sana pasti ada
rekaman di mana dia akan mencelakai saya dan melukai teman saya.”
“Apa, teman?”
“Iya, Pak. Dia kemarin datang untuk menyelamatkan saya, tapi
ia malah terluka akibat perbuatan korban.’’
Tidak ada jawaban dari polisisi dengan pangkat sersan yang
duduk di hadapan Queen, Pria itu hanya diam seperti keberatan dengan permintaan
wanita yang ada di hadapannya itu.
Begitupun Queen merasa ada yang tidak beres, dan tak mau
mengulur waktu lebih banyak lagi, ia pun segera beranjak meraih tas tangannya
yang dia letakan di kursi sebelahnya sambil berkata, “Baik, Pak. Terimakasih
atas waktunya, mohon maaf jika saya menganggu, mungkin saya perlu lapor ke KPK
saja langsung biar urusan kakak saya segera beres, agar dia cepat terbukti
kalau tidak salah, dan jika memang di sini ada penyuapan, juga komandan kalian
akan kena, kok.”
Baru beberapa langkah saja Queen meninggalkan kursinya,
polisi berbody agak berisi dan tak terlalu tinggi itu pun segera memanggilnya.
“Tunggu dulu, Bu. Anda di sini dulu, akan saya buatkan surat perintah dan saya
sendiri yang akan ke rumah korban”
Queen pun tersenyum dan duduk di tempatnya tadi.
Cukup lama Queen menunggu, surat perintah yang harusnya bisa
jadi paling lama sepuluh menit saja sampai setengah jam lebih. Entah apa saja
yang ia kerjakan di dalam, namun Queen tetap tenang, sebab, dengan adanya bukti
itu, terlebih jika wanita yang di skap oleh Adit masih hidup, akan sangat
memudahkan dirinya untuk membebaskan dan membuktikan kalau kakaknya tidak
bersalah.
Entah dia Lelah atau juga efek obat, sampai sangat
mengantuk, Queen sempat ketiduran, ia terbangun ketika Vico membangunkannya.
“Queen, tim penyelidik sudah siaap, ayo berangkat sekarang.
Naik ke mobil ku saja kamu, bahaya kalau nyetir.’’
“Iya nih kak, mata rasanya lengket banget, uda berapa hari
aku gak bisa tidur,” Ujar Queen sambil menyandarkan kepalanya dikursi samping
kemudi.
🍀🍀🍀🍀
Al yang baru saja masuk di penjara, ia telah menjadi pusat
perhatian tahanan lain, sebenarnya ia rada rishi sih, tapi harus tetap
bersikap tenang,
“Baru, ya? Dan belum sidang? Kasus apa kok sampai bisa di
sini? Korupsi, atau merkosa anak gadis orang?” tanya seorang nara pidana yang
badannya penuh dengan tato.
Al diam tak menjawab,
ia hanya membatin, ‘apakah tampangku seperti ********? Jika korupsi mungkin
masih lumayan.’
Ia berusaha berfikir agar merka tidak mengerumuninnya dan
terus terusan kepo dengan masalah kriminal yang menjeratnya. Al pun tersenyum
miring begitu mendapatkan Ide saat hampir seluruh pengghuni lapasnya
mengerumininya seperti sebutir gula yang jadi rebutan ribuan semut.
“Masalahku? Aku ketangkap basah memperkosa suami orang,” ucap Al dengan rasa mulas di
perut karena ia sendiri juga menahan tawa.
Sedangkan mereka yang sedari bergerombol di sekiling Al
seketika langsung buyar menjauh, membuat Al memalingkan wajahnya dan tertawa
tertahan.
“Maksut kamu, kamu memperkosa laki-laki?” tanya salah satu
dari mereka meyakinkan pendengarannya.
“Tentu saja, apakah jika kalian menikah statusnya adalah
istri? Pasti suami, kan?”
“Jadi, kamu itu gay?”
“Memang kenapa? Apakah ada salah satu di antara kalian yang
__ADS_1
juga penyuka sesama jenis?” tanya Al
sambil tersenyum kecil dan mengusab bawah bibirnya dengan ibu jarinya kanannya.
Semua orang terlihat ngeri dengan Al, sungguh disayangkan,
pria tampan dan tampak cerdas begitu harus mengalami sakit mental.
“Saudara Al, ada yang ingin bertemu dengan anda,” ucap salah
satu polisi muda sambil membuka gembok sel.
Tanpa menjawab, Al pun keluar mengikuti polisi itu, di
sebuah ruang tunggu ternyata kakek Andrean yang menemuinya. Padahal, ia
berharapnya adalah Queen.
“Kakek,” sapa Al sambil mencium tangan kanan pria tua itu.
“Bagaimana kondisimu? Apakah lukamu baik-baik saja?” tanya
Andrean dengan cemas.
“Tidak apa-apa, Kek. Queen di mana? Apakah dia tidur karena
efek obat?” tanya Al, tapi dari sorot matanya ia berharap adiknya ikut dan kini
tengah bersembunyi saja agar spriese.
“Tidak. Dia bersama Vico mengumpulkan bukti kalau kamu
tidak bersalah, tadi dia menelfon kakek, bukti sudah ada, sepertinya kau juga
akan bebas,” jawab Andrean.
Al diam tidak menjawab, di benaknya hanya terbayang adiknya
yang masih sakit akibat luka-lukanya.
“Laporan mengenai dirimu sangat cepat, kira-kira kau tahu
siapa yang melaporkanmu?” tanya kakek Andrean.
“Siapa lagi kalau bukan pihak keluarga Aditya, Kek.”
Jawab Al dengan tatapan mata kosong.
“Kamu memikirkan apa? Kamu tenang saja, kakek akan menyewa pengacara terbaik untuk
membebaskanmu.”
“Tidak, bukan itu Kek. Harusnya Queen
beristirahat di rumah. Tapi, kenapa dia malah malam-malam begini sangat nekat,
bukankah masih ada besok?”
Andrean tertawa kecil dan melempar pertanyaan yang sekalipun
tak pernah dibayangkan oleh Al sebelumnya.
“Kenapa? Kau mencemaskannya sebagai kakak, atau kekasih?
Kakek rasa kalian berdua sangat cocok. Lihat saja, jika pun selamanya Clara dan
Vano akan begitu, kalian lah yang akan mempu mengobati rindu kakek
pada mereka berdua.”
“Kakek ngomong apa, sih? Lagian di mana ada seorang kakak
yang akan tega jika adiknya seperti itu? Terlebih jika itu adik kandung. Al kan
sudah janji sama papa dan mama kalau Al akan terus melindungi Queen selama
akhir hayat Al.”
“Yakin? Oh iya, kamu sepertinya sangat dingin dengan Nayla.
Kenapa kalau memang sudah tak cinta dan sudah tak ada lagi kecocokan masih
Al diam tidak menjawab, ia teringat bagaimana pertama kali
dia bertemu Nayla, dan saat ia mulai mencintainya, mendekati dan perlahan-lahan
mulai membawa wanita itu dalam hidupnya. Memang terlalu indah untuk dilupakan,
karena bagaimana pun itu kali pertama dia mendekaati wanita, meskipun cinta
pertamanya adalah mama angkatnya sendiri. Tapi, jika mengingat perubahan Nayla yang
seperti itu, ia pun juga muak.
“Al sudah janji pada mendian Nenek, Kek. Pria sejati tidak
akan mebuang begitu saja wanitanya. Terlebih, dulu Al lah yang lebih dulu
mendekati dan dapat dikatakan Al mengejarnya. Nayla tidak mengenalku sebagai
putra papa dan mama, melainkan pegawai di café om Reza.”
Andrean tersenyum melihat cucu angkatnya yang masih saja
memegang apa yang pernah ia dan semua keluarga besarnya ajarkan. Memang dia
adalah pria idaman, tampan, cerdas dan setia. Vno saja masih ada sisi
playboynya. Tpi, di balik ke play boy-an Vano juga bisa mempertemukan keluarganya
dengan Al dan akan jadi cucu mantu yang pas untuk cucu satu-satunya itu.
“Ini sudah hampir jam Sembilan, waktu besuk sudah habis,
kelak jika kau sudah bebas, kakek akan menunjukan sesuatu padamu.”
“Apa, itu Kek?”
“Tunggu jika kau bebas saja, jika kakek lupa ingatkan,”
jawab Andrean sambil tersenyum lembut dan menepuk pundak Al.
Al hanya melihat
kepergian sang kakek dan kembali ke lapasnya.
🍀🍀🍀🍀
Queen dibangunkan oleh Vico saat meeka sudah tiba di depan
kediaman Aditya. Rupanya ia tidur terlalu nyenyak sampai tak sadar kalau sudah
tiba.
“Loh, cepet banget, Kak? “ Queen melihat ke arah luar mobil
sambil mengucek-ngucek matanya.
“Nih, kamu minum dulu, udah hangat kok.” Vico menyodorkan
satu cup kopi susu untuk Queen agar tidak mengantuk.
“Eh, kok ada kopi? Dari mana?” tanya Queen heran sambil
menerima cup dari tangan Vico.
“Ya beli, lah. Kamu molor terus di jalan, jadi tidak tahu,
ujar Vico, keduanya pun tertawa. Krena kopi yang diberikan Vico sudah agak
dingin, jadi, dengan ceoat hanya bebrapa kali teguk saja cup itu sudah kosong
dan mereka sama-sama ikut masuk ke dalam rumah itu.
“Selamat malam, kami dari kepolisian, ini surat perintah
kami, kami diperintahkan untuk mengecek rekaman CCTV yang ada di sini,” ucap
salah satu yang tengah bersama Queen.
Semua mata memandang ke luar, terlebih Livia, ibunda Aditya,
__ADS_1
ia memandang Queen dengan tatapan penuh arti.
Merasa malu atau entah apa, Queen pun menunduk demi
menghindari tatapan wanita yang dulu sempat dekat dengannya dan hampir jadi
mertuanya.“Queen,” sapa Livia, dengan mata berkaca-kaca.
Perlahan-lahan wanita itu mengangkat kepalanya, dan
memandang kea rah wanita itu tanpa sepatah kata pun.
Queen terkejut saat tiba-tiba wanita itu, ibunda dari Adit
justru malah memeluknya sambil menangis. “Atas nama Aditya, mama minta maaf, ya
Queen, luka mu ini pasti juga dia yang menyebabkan. Bagaimana kondisi kakakmu?
Mama belum sempat menjenuknya, apakah dia di rumah sakit?”
Queen matanya terbelalak saat mendengar pertanyaan mama
Livia. Bagaimana mungkin dia bisa tidak tahu? Harusnya dengan dia kemari
membawa polisi juga dia ngerti kalau kakaknya ada di penjara.
“Mama kok masih tanya kak Al ada di mana? Bukankah salah
satu dari kalian telah melaporkan kakak atas kasus pembunuhan?” tanya Queen,
perlahan menarik tubuh wanita paruh baya itu danmemndang ekspresinya.
“Apa? Mama tidak melaporkannya, kita semua sudah sepakat
Ikhlas menerimanya, Queen. Tidak ada yang melaporkan kakakkmu.”
“Benar, walaupun ini berat bagi kami, dan aku harus
kehilangan adik satu-satunya, tapi kita sudah tidak mau memperpanjang masalah
ini apalagi membawa-bawa ke jalur hukum,” sahut seorang pria dengan postur
tubuh tegab dan tinggi, dia adalah Doni, kakak Aditya satu-satunya.
Kembali Queen mengamati wajah satu persatu dari mereka,
tidak ada satu pun yang Nampak berbohong padanya. “Lalu siapa yang melaporkan
kakakku? Ini ada yang tidak beres,” ucap Queen.
“Kalau begitu izinkan kami melihat rekaman CCTV-nya, Bu,”
ucap salah satu polisi itu yang datang bersama Queen.
“Baik pak, Silahkan!” jawab Livia dan menunjukan di mana
letak monitor yang Aditya gunakan.
Tidak menunggu lama, polisi pun sudah dapat melihat di
manadetik-detik Aditya berusaha merayu Queen, sedangkan wanita itu mengalihkan
pandangannya dari arah monitor, ia merasa malu, lalu kemudia Diaz datang dan
dilempari apapun yang ada di meja ke arah pria itu tanpa perlawanan, dan
terakhir, sebuah mangkok sup melayang kea rah kepala Diaz, dari rekan CCTV pun
juga terlihat kalau itu parah, mangkuk sampai pecah sedang tubuh Diaz juga
sampai roboh dan darah pun banyak.
“Apakah teman anda ini terluka parah?” tanya salah satu
polisi.
“Iya, dia sampai mendapatkan banyak jahitan di kepalanya,”
jawab Queen.
Sedangkan polisi masih berlanjut menyelidiku rekaman CCTV
itu sampai pada akhirnya menunjukan dimana adegan Aditya terlihat menantang Al
denga wajah penuh luka sampai di mana Al
menendang tubuh pria itu hingga tersingkap karpet di bawah meja makan, dan
terlihat lubang besar lalu keduanya masuk.
Melihat itu, Queen teringat dngan ucapan Adit saat dirinya
masih disekap kemarin, kalau bangunan di tengah hutan itu terhubung dengan
rumshnya, atau jangan-jangan?
“Pak. Coba kita selidiki di dalam sana, aku merasa lubang di
bawah karpet itu menghubungkan dengan satu tempat dimana dia telah menyekapku,
beberapa hari yang lalu.” Ucap Queen dengan semangat.
“Mama sebaiknya tunggu di sini saja jangan ikut kebawah,”
usul Doni, tapi, wanita itu tetap memaksa untuk ikut akhirnya mereka semua pun
ikut memasuki Lorong Panjang itu, di sana memang tesimpan jenset dan juga pompa
air, dan masih terdapat pintu yang menyerupai dinding. Aditya memang sangat
cerdik menyembunyikan jati dirinya yang sebenarnya. Tapi, semua juga kembali
pada pribahasa, sepandai-pandainya orang menyimpan bangkai pasti juga akan
tercium juga.
Begitu hampir memasuki sebuah ruangan dengan luas kira-kitra
lima kali enam meter, aroma busuk menyeruak indra penciuman mereka, bahkan Queen
sendiri juga mual dan menyembunyikan wajahnya ke dada Vico yang sedari tadi
menggandengnya.
“Siapa di sana? Siapapun itu tolong aku!” teriak seorang
wanita dari dalam ruangan yang ada di tempat itu. Kebetulan di kamar itu kunci
masih menempel di pintu, jadi, memudahkan polisi untuk mengevakuasi wanita
tersebut.
Semua mata terkejut dan terbelalak saat seorang wanita
keluar dengan pawakan dan wajah mirip Novita. Dari situ, semua yang kenal
dengan adit dapat menyimpulkannya. Di sana setelah menemukan mayat wanita tanpa
kepala dan kepala boneka yang memiliki kemiripan dengan Queen polisi
menggeledah semua tempat dan juga lemari, terdapat banyak bukti-bukti yang kuat
kalau Aditya itu adalah psychopath. Tidak ada satu pun yang menyangka akan hal
itu, Livia dan suaminya sangat shock sampai keduanya roboh dan harus segera di
larikan ke rumah sakit.
Satu bukti sudah didapatkan kalau Al murni hanya melindungi
diri. Tapi, Queen masih penasaran siapa yang melaporkan kakaknya. Awalnya
polisi tidak mau mengatakannya Tapi, karena Queen terus memaksa dan satupun dari
pihak keluarga Aditya tak ada yang melapor dan ingin Al terbebas dari hukuman
akhirnya mereka pun memberitahukannya.
Sementara wanita muda yang mirip sekali dengan Novita itu masih akan dibawa ke rumah sakit untuk memulihkan mental dan juga diberi perawatan agar bisa dimintai keterangan.
🏵️🏵️jangan lupa mampir di novel baruku ya Kaka. yang judulnya My gay husband 😘😘
__ADS_1