
Helena berlari tak pedulikan sekujur badannya yang terasa sakit dan perih seperti disayat-sayat.
Beruntung dia membawa mobil sendiri, jadi tak perlu kawatir meskipun ini sudah lewat tengah malam ia tidak begitu kawatir.
Setelah beberapa kilometer mobil yang dikemudikan Helena meninggal area hotel barulah dia menelfon rumah.
Si bibi rupanya masih terjaga. Ia uang mengankat panggilannya.
"Hallo selamat malam, siapa?"
"Bi, ini aku Helena. Di rumah ada orang?"
"Tidak non. Hanya saya saja, tuan sejak tugag di Jogja jarang pulang terlebih nyonya juga ada di luar negeri."
"Ok, lima belas menit lagi bukakan pintu pagar Bi. Saya mau pualang," ucap Helen. Lalu mematikan panggilannya.
Helena pun mengacaukan mobilnya lebih cepat agar segera tiba dan mendapatkan perawatan. Terlebih luka di pahanya, sepertinya lumayan lebar dan masih mengucurkan banyak darah segar.
"Tiiiiiin.... Tiiiiiin...."
Bibi yang bekerja di rumah Helena segera berlari saat mendengar suara klakson mobil.
Ia membuka pintu pagar dan menguncinya kembali setelah mobil Helena masuk halaman.
"Tolong saya, Biiii!" seru Helena yang sudah tak mampu laki berjalan. Ia jatuh begitu turun dari mobil.
"Ya ampuuun, non.... Kenpa bisa sampai kaya begini?" ucap si bibi, histeris tatkala mendapati tubuh Helena penuh darah, membengkak dibagikan paha kanan yang terluka, serta wajah yang memar membiru sana-sini. Belum lagi baju dan kemeja laki-laki yang membalut tubuhnya koyak penuh darah.
Dengan bersusah payah si bibi berusaha memapah Helena membawanya masuk. Membersihkan luka dan darah yang mulai mengering di sekujur tubuhnya.
"Saya ambilkan baju ganti dulu ya, non?"
"Iya, Bi. Ambilkan baby doll saja biar adem dan longgar," ujar Helena sambil meringis kesakitan.
Si bibi sudah kembali dengan baju yang Helena minta. Kembali ia berteriak lebih histeris lagi saat mendapati punggung anak majikannya penuh dengan luka cambukan.
"Ya ampun, Non. Ini kenapa? Siapa yang melakukan ini? Apakah den Alex?"
"Tidak, Bi. Bukan dia."
"Lalu siapa? Ini tidak bisa dibiarkan. Harus dilaporkan kepada pihak berwajib, Non. Ini sudah termasuk penganiayaan," ucap si bibi tak terima, bahkan ia juga menangis karena tidak tega.
"Sudah tidak apa-apa, Bi. Besok antarkan saya ke rumah sakit saja, ya? Sekarang saya cuma mau minuman hangat, tolong buatkan teh lemon saja, ya Bi," ucap Helena dengan suara kian melemah.
πππ
Usai makan malam bersama Quen di apartemen Al menghubungi Juna secara diam-diam, tentunya saat tidak sedang dengan Quen. Ketika adiknya mencuci piring Al memanfaatkan untuk mencari sedikit informasi mengenai istri dan bawahannya.
"Halo, Jun. Tadi mereka ada cek in ke hotel tidak?" tanya Al begitu panggilan dijawab oleh empunya nomor.
"Tidak, Kak. Hanya ke pusat perbelanjaan saja."
"Pergi nonton gitu juga gak?"
"Tidak. Orangku sudah ambil bukti Akurat. Tidak ada yang nyeleneh sejauh ini masih normal-normal saja sekedar jalan. Apa kakak ingin saat mereka cek in orangku menggerebeknya?"
"Tidak, ya sudah. Aku cuma minta sama kamu, kirim orang terbaik untuk awasi Queen. Baru saja dia hampir diperkosa Aditya. Untung aku segera datang," ucap Al.
__ADS_1
"Tadi ada orangku yang bilang kalau dia masuk ke dalam hotel langganannya dalam keadaan terluka lumayan parah di bagian wajah. Tidak lama kemudian Helana masuk ke kamarnya. Dan keluar tiga jam setelahnya dalam keadaan luka-luka."
"Apa? Apa sebenarnya hubungan antara Aditya dan Helen itu? Ada yang pasang kamera di dalam kamar itu tidak aku mau lihat," ucap Al penasaran.
"Tenang kak. Dia sudah memboking kamar itu selama enam bulan kedepan. Aku sudah membayar orang dalam untuk mengatur semuanya."
"Ok, kerja bagus, thanks Jun." Al pun mematikan telponnya lalu kembali menemui adiknya di dalam.
Ia melihat Queen tengah duduk bersantai di single sofa. Pria itu pun duduk di sebelah wanita itu yang tengah menyalakan televisi. Lalu memeluknya dan berpamitan, "Kakak pulang dulu ya, sayang. Kamu jaga diri baik-baik di sini. Jangan lupa mengunci pintu setelah kakak keluar."
"Iya kak, hati-hati ya! Aku kira kamu akan menginap baiklah kalo akan pulang salam buat kakek dan kak Nayla," ucap Queen sambil membalas pelukan kakaknya.
Sebelum pergi Al menyempatkan mengecup kening dan kedua pipi Queen, lalu wanita itu mengantarkan kakaknya sampai luar pintu apartemen.
Queen melambaikan tangan saat lip hendak tertutup lalu kembali menutup pintu dan mengunci nya.
Wanita itu kembali rebahan dinatas single sofa ruang tamu, bahkan ia mulai merasa bosan. Dinyalahkan ponselnya ia terkejut saat mendapati banyak pemberitahuan pesan chat dan panggilan tak terjawab dari Diaz.
Queen tersenyum lalu menghubungi pria itu.
Masih dengan ekspresi datar agar pria itu menyangka dirinya marah dia melakukan panggilan video.
"Hey apa kabar?' ucap Diaz saat melihat wajah wanita yang dicintainyaΒ nampak cemberut.
"Aku baik," jawab Queen singkat.
Diaz berusaha mencairkan suasana ia meminta maaf dan bertanya kapan Queen libur apakah hari Minggu ada waktu. ia ingin mengajaknya jalan.
"Hari Minggu jalan, yuk. Aku jemput kamu," ucap Diaz sambil terus tersenyum merayu Queen agar tidak marah lagi padanya.
Kebetulan hari minggu ia tidak ada janji. Dan hari Senin adalah sidang paripurna perceraian nya dengan Alex. Dia bisa memanfaatkan waktu dengan baik merefresh otaknya yang jenuh dari berbagai masalah yang akhir-akhir ini baru ia hadapi.
Diaz tertawa dan berkata, "Kan mereka melirik sendiri, apakah aku harus melarangnya? Yang ada, nanti aku dikata aneh malahan."
"Memang mau ajak jalan aku ke mana sih, kamu?" tanya Queen penasaran.
"Kamu maunya ke mana? Aku nurut tuan putri saja, deh," ujar Diaz dengan santai dan nampaknya pria itu tengah rebahan.
"Aku gak mau kalau ke mall. Uda bosen. Maunya ke gunung aja sama kamu."
"Ke bukit Lembang gimana?" usul Diaz.
"Itu, kan Bandung Diaz? Apa aku saja yang ke sana, biar kamu gak capek?" ucap Quen, karena tidak tega kalau Diaz harus dua kali PP dalam sehari.
"Sabtu aku sudah libur, Tuan putri. Tidak apa-apa. Aku juga kangen sama kakek, kok."
Quen tersenyum sambil wajahnya bersemu merah.
"Ya sudah, kamu langsung ke apartemen saja ya? Kan aku Sabtu masih piket di rumah sakit," ucap wanita itu.
"Diaz hanya mengangguk dan terus menatap wajah Queen yang baginya kian hari kian bertambah cantik.
Diaz pun mematikan panggilannya dan terpampang wallpaper foto Quen saat mengenakan hijab, ia terlihat sangat kalem dan anggun dengan pakaian itu.
Berkali-kali Diaz, menciumi benda pipih itu sambil tersenyum seorang diri.
"Di mana dirimu yang dulu Diaz? Imanmu runtuh oleh bidadari dunia yang masih milik orang. Dimana dirimu yang menjaga bersentuhan kulit dengan lawan jenis selain ibubdan saudara kandungmu itu? Pada wanita ini kau berani memeluk dan menciumnya, padahal sudah jelas dia masih istri orang," umpat Diaz dalam hati. Ia sedih karena tidak bisa mengemban pesan terakhir abahnya.
__ADS_1
ππππ
Dengan wajah yang sedikit pucat Al pulang ke rumah. Ia mendapati rumah yang untuk sudah sangat sepi padahal masih 09.00. 'kemana perginya orang-orang?' batin Al lalu naik ke atas tangga memasuki kamarnya ia mendapati Bilqis sudah tidur pulas. s
Sementara Nayla masih terjaga memainkan ponselnya Al hanya menyeringai kecil dan mengumpat dalam hati, 'hehmb pasti dia sedang menghubungi Jevin. Siapa lagi, kalau bukan dia?'
Dengan segera Nayla mematikan ponselnya dan melemparkan asal saat melihat suaminya sudah tiba.
"Mas kau sudah pulang," ucap wanita itu dengan wajah ceria. Lalu beranjak memeluk pria itu.
"Ya, aku sudah pulang sebagaimana hari-harimu tadi?"
"Aku cuma jalan-jalan saja belanja kebutuhan sehari-hari untuk keperluan dapur dan juga rumah bagaimana kerjamu hari ini Mas apakah semuanya lancar?" Wanita itu mengalungkan kedua lengannya pada leher Al.
"Ya sangat lancar," jawab Al singkat. Ia melonggarkan dasinya dan melipat kemeja hitam yang dikenakannya tadi hingga sebatas siku.
"Kamu lembur Mas tadi kok baru pulang?" tanya Nayla. Sebenarnya ia sudah tahu kalau Al me inggalkam kantor sejak jam tiga sore dari Jevin. Tapi, ia mencoba mengetes kejujuran Al.
"Tidak aku tadi mampir ke tempatnya Queen, sekalian makan malam di sana.
"Bagaimana kabar dia? Menjadi dokter sama bantu kerjaan kantor pasti membuatnya akan sangat kuwalahan.".
Nayla menyembunyikan belangnya di belakang Al dengan bersikap seolah dia istri yang pengertian dan bahkan lebih manja dari biasanya.
Dia mulai merayu memeluk Al dari belakang dan memijat kedua pundaknya saat Al duduk di dan kembali membuka laptopnya.
"Seharian bekerja kau pasti sangat lelah kan, Mas? aku akan memijatmu sampai badanmu terasa lebih enakan, ya?" ucap Nayla setengah berbisik di belakang telinga suaminya.
"Makasih, Nay," jawab al singkat sambil tersenyum entah senyuman menghina, atau memuji sebagai ratu drama baru yang sangat luwes baik dan natural?Β Yang jelas Al sudah tahu semua tentang dia dan Jevin selama ini.
Nayla mencium leher Al dari belakang dengan ciuman yang sensual. Al yang sudah sedari tadi bersusah payah menahan gejolak nafsunya mendapatkan perlakuan seperti ini sungguh membuat ia tak tahan lagi. Terlebih Nayla adalah istrinya sendiri. Diapakan pun juga tak akan jadi masalah. Dan tidak apa-apa, kan dia. Cuma jalan sama pria lain, belum pernah tidur bersama.
Al membalikan kursi putarnya menghadap ke arah Nayla. Dengan tatapan berkabut karena nafsu ia betanya, "Kenapa Bilqis tidur di sini?"
"Dia bilang mau menemani mama sebelum papa pulang, tapi, ia malah ketiduran," jawab Nayla sambil mendekatkan tubuhnya ke arah Al meniadakan jarak di antara keduanya.
Al benar-benar tak mampu menahannya lagi, kepalanya pun terasa seolah mau pecah saja.
Tanpa banyak bicara Al mengangkat tubuh Nayla dan memnawanya ke kamar Quen dan menyetubuhinya dengan kasar tidak seperti biasanya.
Dia memang sedang melakukan dengan Nayla, tapi, kepalanya tiada henti memikirkan Quen. Dan juga tubuh sexi yang dipeluknya tadi masih terbayang jelas di benaknya.
"Mas, ada apa denganmu? Kau tidak biasa seperti ini?" tanya Nayla setelah keduanya mencapai puncak kenikmatan bersama.
"Maaf, apakah kau tidak suka?"
"Aku suka kamu yang seperti ini, meskipun aku sedikit kuwalahan tadi," ucap Nayla sambil mengecup bibir Al.
Al tersenyum lalu menyembunyikan wajahnya pada bantal, lebih tepatnya menghapus bekas ciuman Nayla.
"Mungkin aku terllau stres bekerja, dan lagi, kita lama tidak melakukannya, kan?" jawab Al, meski mengelak tapi, tak sepenuhnya ia cuma cari alasan. Meski ada alasan lain yang jauh lebih kuat sebelumnya.
Nayla mendekatkan dirinya pada Al, menenggelamkan wajahnya pada dada bidang pria itu. Rasa bersalah menyelimuti hatinya karena sudah ingkar meski tidak pernah melakukan sesuatu yang kelewat batas. Tapi, dengan ia tidak jujur dan terbuka, sama saja dengan selingkuh, bukan?
"Maafkan aku Mas. Aku berubah seperti ini karena butuh pria yang pengertian dan bisa memperlakukanku bagaimana layaknya sepasang suami istri. Dulu, saat Queen masih baik-baik saja dengan Alex, bahkan aku sangat iri pada mereka. Tapi, kau bahkan lebih dingin dari gunung es. Jika saja kau sehangat Jevin padaku, aku tak akan mencari pelarian pada pria lain," gumam Nayla dalam hati. Tanpa sadar air matanya pun mengalir. Selain merasa bersalah, Al juga selalu berkata jujur padanya selama ini. Tidak pernah satu kali pun ia berbohong padanya. Tapi, dia semenjak dekat Jevin, berbohong dan terus berbohong pada suaminya.
nih, author kasih foto Queen berhijab, ya? dari kemarin mau kasih lupa terus.π
__ADS_1