Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
PART 18


__ADS_3

Tanpa terasa sudah satu minggu saja Berlyn berada di rumah


kakek dan neneknya. Tentu saja, ini menjadi hal yang menyenangkan bagi Al. Karena semua akan kembali normal.


Satu minggu sudah dia tidak mendapatkan hakknya dengan dalih karena mereka berpacaran.


Namun, pengeluarannya meningkat


drastis. Sebab, sebagai pacar Queen tergolong sangat matre. Tak masalah


diporoti istri sendiri. Yang jadi masalah dia tidak mendaptkan jatah samasekali. Mencium juga hanya sebatas pipi dan kening, tangan juga tidak boleh meraba-raba sembarangan.


Al melihat waktu sudah sore. Hari ini Queen tidak ada


praktik karena sudah mulai cuti. Waktu sehari ia pergunakan untuk menyiapkan


segala keperluannya, Al dan juga Berlyn untuk terbang ke Singa pura besok.


Karena pagi tadi dia ke kantor diantar oleh Queen, kali ini


pun Queen juga menjemputnya, dan sekalian pergi ke rumah kedua orangtuanya. Mereka ke bandara berangkat dari rumah orang tuanya.


“Selamat sore, Bu…”


“selamat sore Bu Queen.”


“Iya selamat sore.”


Queen terus tersenyum  setiap kali berpapasan denga staf kantor suaminya, terlebih pada mereka


yang mengucapkan salam padanya. Ia terus tersenyum sepanjang jalan mualai dari


pintu masuk sampai di depan ruangan suaminya sampai giginya kering.


Tanpa mengetuk pintu, wanita itu langsung membuka pintu


ruangan tersebut kemudian masuk ke dalam.


“Selamat sore, Sayang!” serunya sambil menunjukkan senyuman


terbaiknya pada pria yang tengah serius memandang layar monitornya.


“Hay, Sayang. Kau sudah datang? Kemarilah!” serunya, seraya


meninggalkan semua pekerjaanya.


Queen berjalan mendekati suaminya. Lalu beridri di sebelahnya. Sementara Al yang tengah duduk di kursi putar, langsung menghadap ke arah istrinya.  Sepasang tangan


kekarnya langsung meraih pinggang wanita itu dan memeluknya.


“Biar kutanya sekali lagi. Kau masih pacarku, apa sudah kembali


menjadi istriku?” Al mendongak ke atas memandang Queen yang ada dalam pelukannya.


“Terserah. Aku juga tidak keberatan jika kau masih tetap


ingin jadi pacarku selamanya. Kan, aku bahagia,” jawab wanita itu.


“Tidak, aku suamimu. Bagaimana kalau kau direbut orang


nanti?” Al menarik lengan Queen hingga terjatuh dalam pelukkannya dan mulai menciumi wanita itu.


Kebiasaan Queen yang selalu teledor tentang pintu. Lagi-lagi


salah satu staf Al yang hendak keruangannya jadi melihat apa yang mereka lakukan.


“Permisi!” ucap seorang wanita dengan wajah yang memerah

__ADS_1


karena malu sendiri dengan adegan di depannya.


“Ya. Apakah kau akan memberikan laporan yang kupinta?


Letakan saja diatas meja.” Bahkan sedikitpun Al tidak melepaskan Queen.


Jadi, wanita itu segera keluar dari ruangan  bosnya dengan tergesa-gesa dan wajah yang sangat


merah.


“Hay, Nur. Kenapa wajahmu memerah begitu?” sahut staf lain


yang kebetulan berpapasan dengan wanita tersebut.


“Tidak. Aku tanpa sengaja melihat pak Al dengan istrinya lagi bercumbu,” jawabnya dengan lirih dan setengah berbisik.


“Hah? Bagaimana bisa? Kamu sembarangan masuk tanpa ketuk


pintu?” tanyanya terkejut.


“Mana berani aku seperti itu? Sepertinya  bu Queen tadi saat masuk lupa menutup pintu.


Kan dia selalu begitu.” Jawab Nuri.


“Hehehe, iya. Dan walaupun mereka sudah lama menikah masih


saja seperti orang yang masuiyh pacarana saja.”


“Iya, benar. Kita tak menyangka sedikitpun, di balik pribadi pak Al yang super duper dingin dan kaku sangat hot sebagai suami, ya?”


“itu pria idaman, Nur. Jarang ada lelaki seperti itu. Kebanyakan ya tampang  pas-pasan, modal ngepres, tapi mata keranjang.”


“Hahaha bener. Pak Al sudah memiliki segalanya. Tapi, tetap


saja setia dengan satu istri.”


“Al, kau kerja sana dulu, gih. Yang serius. Tahu gitu aku


ogah, lah jemput kamu lebih awal,” ucap Queen, dengan nada manja.


“Kenapa? Pintunya juga sudah tertutup. Tidak akan ada yang


berani membuka pintu. Tidak ada juna dan Vico di sini.” Al terus gencar merayu istrinya.


“Al, aku… “


“Aku tidak mau dengar alasanmu lagi. Diam," ucap pria itu sambil meletakkan telunjuknya di depan bibir Queen.


Al menoleh ke arah pintu yang hanya tertutup namun tidak


terkunci. Ia berfikir kalau Queen merasa tidak aman karena pintu ruangannya tidak terknci.


Ia beranjak menuju pintu untuk menguncinya. Setelahnya ia


berjalan menuju ke arah Queen yang sudah berpindah duduk di atas sofa


ruangannya sambil melonggarkan dasi serta melepas kedua kancing kemeja teratasnya.


“Al…. “


“Aku sudah mengunci pintunya, kamu jangan khawatir. Di sini


tidak ada cctv maupun kamera tersembunyi,” bisik Al.


Akhrinya Queen punmenyerah. Sejak dia datang, ia bahkan tidak


diberi kesempatan untuk bicara sama sekali. Apalagi menjelaskan.

__ADS_1


“Kenapa tebal begini? Kamu pakai pembalut, ya?” tanya Al


kecewa. Padahal, nafsunya sudah mulai terbakar.


Sementara Queen kali ini tidak mampu menjelaskan karena


tertawa terpingkal saat mendapati ekspresi wajah suaminya yang kecewa berat.


“Kenapa kamu gak mau ngomong dari awal?” Al meningalkan


Queen dan kembali duduk di kursinya.


“Apakah kau memberiku kesempatan?" jawab Queen.


Al hanya diam tidak membalas. Pria itu tidak mau berbicara


sama sekali bahkan sampai tiba di kediaman kedua orang tuanya.


Saat malam hari saja, dia juga masih mendiamkan Quee. Ketika keduanya sudah di kamar untuk beristirahat, barulah Al mau berbicara.


“Kau biasanya sampai berapa hari kalau menstruasi?” tanyamya


tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangannya pada layar laptopnya.


Queen hanya diam, tetap berbaring dan menarik selimut.


“Aku nanya ke kamu, kenapa tidak mau jawab?” ulangnya, sedikit kesal


“Mana ku tahu? Kukira kau sedang berbicara dengan istri keduamu. Habis pandanganmu tidak bisa berpaling darinya.” Queen malah balik sewot.


Untuk menyebut pekerjaan, Queen sering menggunakan istilah


istri kedua. Karena suaminya yang gila kerja itu, sering mengabaikan dirinya


jika sudah mulai serius. Apalagi, jika pekerjaannya menumpuk.


Al menghentikan jemarinya bekerja di atas keyboard dan memandang ke arah Queen yang juga tengah memandang dirinya. “Biasanya kau


berapa hari lamanya, Sayang?”


“Tujuh hari,” singkat Queen.


Al masih tenang. Kemudian mengajukan satu pertanyaan lagi,


dan mngkin jadi penutup malam ini.


“Kapan kau mulai datang bulan?”


“Tadi siang, setelah telfon kamu.”


“Jadi, aku harus nunggu sampai tujuh hari lagi? Setelah dari Singapura, dong?” ucap Al, sambil menjambak rambutnya sendiri.


“Sabar, ya Sayang?” Queen memeluk pundak Al dari belakang.


Al yang sudah satu minggu tidak ngapa-ngapain pun meminta agar Queen tidak menyentuhnya. Sentuhan Queen seperti aliran listrik saja bagi Al yang sudah ngebet.


“Sudahlah, kamu cepetan tidur. Aku harus lembur malam ini,” ujar Al dan beranjak membawa leptopnya. Ia duduk di kursi yang sudah ada mejanya yang ada di dalam kamar tersebut.


Pukul satu dini hari, saat Queen sudah terlelap pun Al juga memilih  tidur di atas lantai. Tidak mau


satu ranjang dengan Queen.


“Hmmm… apes kok keterusan begini, sih?” umpatnya seorang


diri lalu, mulai memejamkan matanya secara paksa.


Sedangkan Queen yang meraba sebelahnya tak mendapati suaminya menyangka kalau suaminya masih lembut. Ternyata dia malah tidur di atas lantai. Mana tak memakai selimut lagi. Akhirnya, ia menggunakan slimut yang ia pakai untuk diselimutkan pada tubuh suaminya. Ia juga mengecup pipi pria itu, dan kembali ke kasurnya.

__ADS_1


__ADS_2