
Tanpa terasa sudah satu minggu saja Berlyn berada di rumah
kakek dan neneknya. Tentu saja, ini menjadi hal yang menyenangkan bagi Al. Karena semua akan kembali normal.
Satu minggu sudah dia tidak mendapatkan hakknya dengan dalih karena mereka berpacaran.
Namun, pengeluarannya meningkat
drastis. Sebab, sebagai pacar Queen tergolong sangat matre. Tak masalah
diporoti istri sendiri. Yang jadi masalah dia tidak mendaptkan jatah samasekali. Mencium juga hanya sebatas pipi dan kening, tangan juga tidak boleh meraba-raba sembarangan.
Al melihat waktu sudah sore. Hari ini Queen tidak ada
praktik karena sudah mulai cuti. Waktu sehari ia pergunakan untuk menyiapkan
segala keperluannya, Al dan juga Berlyn untuk terbang ke Singa pura besok.
Karena pagi tadi dia ke kantor diantar oleh Queen, kali ini
pun Queen juga menjemputnya, dan sekalian pergi ke rumah kedua orangtuanya. Mereka ke bandara berangkat dari rumah orang tuanya.
“Selamat sore, Bu…”
“selamat sore Bu Queen.”
“Iya selamat sore.”
Queen terus tersenyum setiap kali berpapasan denga staf kantor suaminya, terlebih pada mereka
yang mengucapkan salam padanya. Ia terus tersenyum sepanjang jalan mualai dari
pintu masuk sampai di depan ruangan suaminya sampai giginya kering.
Tanpa mengetuk pintu, wanita itu langsung membuka pintu
ruangan tersebut kemudian masuk ke dalam.
“Selamat sore, Sayang!” serunya sambil menunjukkan senyuman
terbaiknya pada pria yang tengah serius memandang layar monitornya.
“Hay, Sayang. Kau sudah datang? Kemarilah!” serunya, seraya
meninggalkan semua pekerjaanya.
Queen berjalan mendekati suaminya. Lalu beridri di sebelahnya. Sementara Al yang tengah duduk di kursi putar, langsung menghadap ke arah istrinya. Sepasang tangan
kekarnya langsung meraih pinggang wanita itu dan memeluknya.
“Biar kutanya sekali lagi. Kau masih pacarku, apa sudah kembali
menjadi istriku?” Al mendongak ke atas memandang Queen yang ada dalam pelukannya.
“Terserah. Aku juga tidak keberatan jika kau masih tetap
ingin jadi pacarku selamanya. Kan, aku bahagia,” jawab wanita itu.
“Tidak, aku suamimu. Bagaimana kalau kau direbut orang
nanti?” Al menarik lengan Queen hingga terjatuh dalam pelukkannya dan mulai menciumi wanita itu.
Kebiasaan Queen yang selalu teledor tentang pintu. Lagi-lagi
salah satu staf Al yang hendak keruangannya jadi melihat apa yang mereka lakukan.
“Permisi!” ucap seorang wanita dengan wajah yang memerah
__ADS_1
karena malu sendiri dengan adegan di depannya.
“Ya. Apakah kau akan memberikan laporan yang kupinta?
Letakan saja diatas meja.” Bahkan sedikitpun Al tidak melepaskan Queen.
Jadi, wanita itu segera keluar dari ruangan bosnya dengan tergesa-gesa dan wajah yang sangat
merah.
“Hay, Nur. Kenapa wajahmu memerah begitu?” sahut staf lain
yang kebetulan berpapasan dengan wanita tersebut.
“Tidak. Aku tanpa sengaja melihat pak Al dengan istrinya lagi bercumbu,” jawabnya dengan lirih dan setengah berbisik.
“Hah? Bagaimana bisa? Kamu sembarangan masuk tanpa ketuk
pintu?” tanyanya terkejut.
“Mana berani aku seperti itu? Sepertinya bu Queen tadi saat masuk lupa menutup pintu.
Kan dia selalu begitu.” Jawab Nuri.
“Hehehe, iya. Dan walaupun mereka sudah lama menikah masih
saja seperti orang yang masuiyh pacarana saja.”
“Iya, benar. Kita tak menyangka sedikitpun, di balik pribadi pak Al yang super duper dingin dan kaku sangat hot sebagai suami, ya?”
“itu pria idaman, Nur. Jarang ada lelaki seperti itu. Kebanyakan ya tampang pas-pasan, modal ngepres, tapi mata keranjang.”
“Hahaha bener. Pak Al sudah memiliki segalanya. Tapi, tetap
saja setia dengan satu istri.”
“Al, kau kerja sana dulu, gih. Yang serius. Tahu gitu aku
ogah, lah jemput kamu lebih awal,” ucap Queen, dengan nada manja.
“Kenapa? Pintunya juga sudah tertutup. Tidak akan ada yang
berani membuka pintu. Tidak ada juna dan Vico di sini.” Al terus gencar merayu istrinya.
“Al, aku… “
“Aku tidak mau dengar alasanmu lagi. Diam," ucap pria itu sambil meletakkan telunjuknya di depan bibir Queen.
Al menoleh ke arah pintu yang hanya tertutup namun tidak
terkunci. Ia berfikir kalau Queen merasa tidak aman karena pintu ruangannya tidak terknci.
Ia beranjak menuju pintu untuk menguncinya. Setelahnya ia
berjalan menuju ke arah Queen yang sudah berpindah duduk di atas sofa
ruangannya sambil melonggarkan dasi serta melepas kedua kancing kemeja teratasnya.
“Al…. “
“Aku sudah mengunci pintunya, kamu jangan khawatir. Di sini
tidak ada cctv maupun kamera tersembunyi,” bisik Al.
Akhrinya Queen punmenyerah. Sejak dia datang, ia bahkan tidak
diberi kesempatan untuk bicara sama sekali. Apalagi menjelaskan.
__ADS_1
“Kenapa tebal begini? Kamu pakai pembalut, ya?” tanya Al
kecewa. Padahal, nafsunya sudah mulai terbakar.
Sementara Queen kali ini tidak mampu menjelaskan karena
tertawa terpingkal saat mendapati ekspresi wajah suaminya yang kecewa berat.
“Kenapa kamu gak mau ngomong dari awal?” Al meningalkan
Queen dan kembali duduk di kursinya.
“Apakah kau memberiku kesempatan?" jawab Queen.
Al hanya diam tidak membalas. Pria itu tidak mau berbicara
sama sekali bahkan sampai tiba di kediaman kedua orang tuanya.
Saat malam hari saja, dia juga masih mendiamkan Quee. Ketika keduanya sudah di kamar untuk beristirahat, barulah Al mau berbicara.
“Kau biasanya sampai berapa hari kalau menstruasi?” tanyamya
tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangannya pada layar laptopnya.
Queen hanya diam, tetap berbaring dan menarik selimut.
“Aku nanya ke kamu, kenapa tidak mau jawab?” ulangnya, sedikit kesal
“Mana ku tahu? Kukira kau sedang berbicara dengan istri keduamu. Habis pandanganmu tidak bisa berpaling darinya.” Queen malah balik sewot.
Untuk menyebut pekerjaan, Queen sering menggunakan istilah
istri kedua. Karena suaminya yang gila kerja itu, sering mengabaikan dirinya
jika sudah mulai serius. Apalagi, jika pekerjaannya menumpuk.
Al menghentikan jemarinya bekerja di atas keyboard dan memandang ke arah Queen yang juga tengah memandang dirinya. “Biasanya kau
berapa hari lamanya, Sayang?”
“Tujuh hari,” singkat Queen.
Al masih tenang. Kemudian mengajukan satu pertanyaan lagi,
dan mngkin jadi penutup malam ini.
“Kapan kau mulai datang bulan?”
“Tadi siang, setelah telfon kamu.”
“Jadi, aku harus nunggu sampai tujuh hari lagi? Setelah dari Singapura, dong?” ucap Al, sambil menjambak rambutnya sendiri.
“Sabar, ya Sayang?” Queen memeluk pundak Al dari belakang.
Al yang sudah satu minggu tidak ngapa-ngapain pun meminta agar Queen tidak menyentuhnya. Sentuhan Queen seperti aliran listrik saja bagi Al yang sudah ngebet.
“Sudahlah, kamu cepetan tidur. Aku harus lembur malam ini,” ujar Al dan beranjak membawa leptopnya. Ia duduk di kursi yang sudah ada mejanya yang ada di dalam kamar tersebut.
Pukul satu dini hari, saat Queen sudah terlelap pun Al juga memilih tidur di atas lantai. Tidak mau
satu ranjang dengan Queen.
“Hmmm… apes kok keterusan begini, sih?” umpatnya seorang
diri lalu, mulai memejamkan matanya secara paksa.
Sedangkan Queen yang meraba sebelahnya tak mendapati suaminya menyangka kalau suaminya masih lembut. Ternyata dia malah tidur di atas lantai. Mana tak memakai selimut lagi. Akhirnya, ia menggunakan slimut yang ia pakai untuk diselimutkan pada tubuh suaminya. Ia juga mengecup pipi pria itu, dan kembali ke kasurnya.
__ADS_1