Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SEASON 2 PART 204


__ADS_3

“Perlu kakak bantu, Sayang?”


Queen menatap tajam ke arah Al  yang masih berdiri di ambang pintu mengamati


dirinya yang tengah mengemasi baju serta barang-barang pribadinya. Pria  itu dengan santainya bersandar pada kusen


pintu kamarnya tanpa merasa bersalah sedikitpunj.


“Berani sekali kau, menyebut dirimu sendiri sebagai kakakku?


Pergilah, semua ini karena kau, Al. Kau yang membuatkan aku masalah, dan kau


juga yang membuat Diaz tunangan dengan Hanifah.”


Al berdiri tegak melangkah mendekat ke arah Queen, sementara


wanita itu tidak sadar kalau pria yang baru saja diomelinya sudah berada tepat


di belakangnya karena  ia terlalu sibuk


dengan barang-barang yang akan dibawanya pergi.


Dengan perlahan Al mendekati Queen dari belakang, dan


berbisik, “Baiklah, kau sendiri yang berkata kalau aku bukan lagi kakakmu,


kalau begitu aku adalah calon seamimu, ayo kita segera menikah saja, Sayang.”


“Lepaskan aku, makin hari kau makin gila saja, siapa yang


sudi menikah denganmu? Tidak akan!” Queen memberontak keras untuk melepasakan


diri, lalu berpindah mengemasi ke tempat lain, menjauh dari Al.


“Hehehe, Sayang, kau jangan egois begitu, dong. Bagaimana


jika kau benar-benar Hamil? Setidakknya pikirkan anak kita dong,” ucap Al


sambil terkekeh. Sedikitpun tak ada raut wajah marah sekalipun pada benak pria


itu. Meskipun sudah disinggung dan disakiti berkali-kali oleh Queen.


“Aku tidak akan pernah mengandung anakmu apalagi


melahirkannya, jika itupun sampai terjadi, aku juga tak akan mengatakan kalau


adalah ayahnya.”


“Lalu apa yang akan kau katakana? Apakah kau akan berkata


kalau ayahnya diambil oleh wanita lain? Tidakkah kau berfikir bagaimana


perasaan dia memiliki ayah yang tak setia dan menelantarkan di dan ibunya?”


“Aku akan katakana kalau ayah nya mati tertabrak kereta


sampai badannya hancur.” Queen menutup resleting kopernya dengan kasar, lalu


menyeretnya, dan mengabaikan Al.


Namun pria itu masih saja tidak menyerah walaaupun sudah


dicuekin sama Queen. Dia tetap bersikeras mengikuti kemana pun wanita itu


pergi. Bahkan saat ada di depan tangga dia melihat kalau Queen melakukan hal


yang sangat ekstrime yang tak pernah sedikitpun Al bayangkan sebelumnya.


Bagaimana tidak? Wanita itu bukannya menyeret kopernya secara perlahan sambil


menuruni anak tangga. Tapi, justru malah mendorongnya keras menuruni tangga dan


sesampainya di bawah menabrab lemari kaca tempat di mana hiasan dan juga piala


dan medali yang di dapatkan Al dan Queen dulu di simpan sehingga menimbulkan


suara berisik yang mengangetkan siapapun.


Hanifah, kakek beserta Eren dan Hans pun tergopoh masuk ke


dalam memastikan kalau suara benda jatuh dari tangga dan menabrak entah apa itu


bukanlah manusia melainkan barang, baru saja mereka tiba di dalam, koper Queen


selanjutnya juga dia dorong dari tangga dan lagi-lagi menabrak barang  yang ada dibawahnya dan memporak porandakan


semuanya.


Andrean hanya melihat ulah cucu satu-satunya itu. Pria tua


itu tahu bagaimana kecewanya Queen saat ini, dia juga mengerti seberapa besar


luka dan sakitnya hati Queen saat ini karena gagal bertunangan dengan pria yang


dicintainya, justru pria itu malah bertunangan dengan saudari nya sendiri.


Lebih parahnya lagi, orang terdekat yng paling  dihormatinya lah yang telah menghancurkan semua angan dan harapannya.


“Queen, apa yang kau lakukan, sayang?” tanya Eren saat


melihat sesuatu yang Clara banggakan dulu telah berserakkan bahkan ada pula


yang patah.


Queen tidak menjawab, orang-orang yang ada disana dia anggap


batu mungkin. Saat ia memegang salah satu pegangan koper untuk diseretnya Al


memegang tangannya dan berkata, “Biarkan aku mengantarkanmu, tak peduli


meskipun aku sudah tak kau akui sebagai kakak lagi, aku akan tetap menjagamu.”


Quuen diam, bibir dan tangannya bergetar ia tak bisa berkata


apa-apa, segala amarah dan emosi seolah berkupul jadi satu sampai dadanya


terasa sesak lalu ia bertrikak sambil memukuli Al.


“Pergi kau menjauh dariku, aku tidak mau melihat bastard


sepertimu, aku benci kau!”


Al hanya diam menerima saja kalau ia dipukuli Queen di depan


semua orang, termasuk bik Yul dan juga Nayla. Sampai wanita itu merasa lelah


dan berhenti memukul.


“Sudah mmemukulnya? Ayp, biarkan aku mengantarmu, kamu ma


uke mana? Ke apartemen?”


Taka da jawaban dari bibir wanita itu, ia diam saja dan


mengekor di belakang Al sambil membawa kopernya yang kecil.


Selama di perjalanan keduanya hanya diam membisu, Al


meletakkan tangannya pada paha Queen, sambil berlagak cuek memandang lurus ke


depan. Tapi dengan cepat Queen menampik tangan Al dan bergeser ke kiri menjauh


dari Al dan menutupi pahanya dengan hand bag yang dibawanya.


“Jangan kurang ajar!”


Al hanya terkikik dan menjawab, “Ayolah, Sayang, jangan


galak-galak begitu, aku hanya memegang paha saja kau sudah semarah itu, apa


perlu kuingatkan semua bagian paling intimpun juga sudah terjamah oleh tangan


ini?”


Queen hanya diam tak mau menjawab sampai akhinya mereka pun


sudah tiba di apartemen.


Sesampainya di sana Al membantu Queen menata barang sampai


lewat tengah hari, keduanyan kelelahan dan berbaring di atas lantai, sementara


Queen, dia sudah lebih dulu tertidur karena kekelahan.


Menyadari Queen sudah pulas tertidur, Al pun menghampiri


wanita itu, cuklup lama ia memandang wajaah Queen, lalu mengelus kening dan


menciumnya.


“Tidurlah sayang. Aku tahu, hari ini pasti sangat melelahkan

__ADS_1


bagimu, kau boleh membencicku. Tapi, aku akan berjanji pada diriku sendiri


kalau kau kelak akan jatuh cinta padaku, seperti papa dan mama, kita akan hidup


bahagia bersama anak-anak kita. Al mengecup lama kening Queen lalu mengangkat


tubuh ramping itu lalu membawanya ke dalam kamar. Al mendekap erat tubuh itu


dalam pelukanya sampai ia pun ikut terlelap bersama.


***123


Di rumah Andrean, Bik yul dibantu dengan Hans, Eren dan juga


Nayla membereskan barang-barang yang pecah akibat Queen, tidak ada satupun yang


bisa menyalahkan Queen dengan tindakannya, ia merasa jengkel dan jelas sakit.


Kalau kecewa, jangan ditanya lagi, itu sudah pasti.


 “Om, maafin kita ya.


Mungkin jika Hanifah tidak tinggal di indo dan sering bermain kemari, pasti hal


seperti ini tidak akan terjadi,” ucap Eren merasa bersalah.


‘’Ini sudah takdir, Ren. Tidak ada yang perlu meminta maaf


dan di maafkan, biarkan saja semuanya mengalir seperti ini. Mungkin sudah


waktunya Al dan Queen bersatu, siapa tahu Vano dan Clara menunuggu mereka


bersama dulu baru sadar.”


“Om, tapikan Al punya istri, apakah itu tidak akan timbul


masalah besar?”


“Eren, sudahlah! Kamu itu terlalu berlebihan memikirkan


sesuatu, bukankah pelangi tak akan hadir tanpa hujan yang kencang? Biarkan saja


ini menjadi awak kebahagiaan Al, Queen, Hanifah dan juga Diaz.”


“Ma, akum au pergi dulu,” ucap Hanifah sudah bersiap dengan


out fit celana jeans Panjang berwarna putih dan atasan bluse lengan Panjang


berwarna coklat susu.


Taka da jawaban dari wanita berusia empat puluh tahun lebih


itu, ia hanya diam dan mengamati pakaian putrinya yang banyak perubahan setelah


hampir setahun dalam awasan omnya.


“Kakek, aku pamit dulu, ya?” ucap Hanifah lirih.


“Apakah kau akan menemuinya?” jawab Andrean dengan lembut.


Hanifah hanya mengangguk, gadis itu memang selalau patuh dan


tak pernah menentang atas apa yang telah disarankan kakek Andrean, sesakit


apapun itu, tapi ujungnya juga akan membawa kebahagiaan  tersendiri. Dan ini terjadi tidak hanya satu


dua kali saja. Melainkan sudah berkali-lkali.


“Mintalah makan malam pada bibi untuk dibawa padanya, kau


tahu bukan apa yang harus kau lakukan? Berjuanglah untuk cintamu, cucuku!”


Andrean tersenyum lebut samabil mengusap ubung-ubun Hanifah, lalu gadis itu pun


beranjak pergi ke dapur sebelumnya pergi ke tempat Diaz.


Ia tahu kalau hari ini Diaz izin tidak masuk kerja dari


Fatimah. Jelas saja pria itu juga psti merasakan rasa sakit dan kecewa seperti


yang dirasakan oleh Queen.


Usai mempersiapkan semua makan siang untuk Diaz, gadis itu


pun pergi dengan menggunakan jasa taxi online. Dia sengaja tdak menyupir


sendiri berharap Diaz mau mengantarnya pulang jika andai nanti dia kemalaman.


Semua sudah Hanifah atur, selama Umik dan adiknya Diaz menerimanya, sesulit


bisa, terlebih dengan status tunangannya kemarin.


Sesampainya di rumah Diaz, Hanifah sedikit ragu untuk


membuka pagar besi itu. Tapi, ragu dan takut bukannya untuk dinikmati?


Melainkan untuk dihadapi, itu yang sering ia dengar dari Queen.


Akhirnya ia pun membuka gerbang dan menuju pintu utama,


memencet bel sambil menunggu seseorang membukakan pintu untuknya.


“Hanifah, dengan siapa kau kemari, Nak? Ayo masuk!” seru


Umik halimah. Wanita paruh baya itu tidak pernah membenci Hanifah ataupun


Queen, siapapun yang akan menjadi jodoh putranya, ia yakin itulah yang pasti


Allah pilihkan yang terbaik untuknya. Namun, jauh di dalam hatinya ia juga


sangat kasian dengan Queen.


Hanifah tersenyum dan bersalaman sambil mencium tangan


wanita itu. “Diaz ada Umik?”


“Ada, masuk lah, tunggu di sini ya, biar umik panggilkan


Diaz dulu.”


Hanifah pun duduk di kursi ruang tamu sambil melirik


foto-foto yang terpajang di dinding rumah kontrakan itu, di sana terpajang


beberapa foto tokoh ulama, keluarga besar Diaz, dan juga foto-foto saat Diaz


masih menjadi koas bersama Queen juga. Bahkan di sana juga terpajang foto


mereka berdua duduk di bukit dengan rerumoutan yang hijau dengan beground


bunga-bunga, mereka memamerkan kekompakkannya, sama-sama memakai jas doktyer


dan bertelanjang kaki sambil menyatukan sebelah tangan mereka membentuk lambing


love.


Melihat foto itu Hanifah tersenyum getir, rasa cemburu belum


bisa bebas merajai hatinya, sebab dia paham kalau ia telah merebut dan


mengambil posisi saudarinya tanpa sepengatahian saudarinya.


“Itu Hanifah sudah datang kemari, kamu temui, ya? Umik mau


sholat Dzuhur dulu,” ucap umik Halimah sambil mendorong tubuh putranya sedikit


memaksa untuk menemuinya.


Hanifah berdiri dan melempar senyuman terbaiknya untuk pria


yang baru saja tadi malam menjadi tunangannya. Tapi entah, pria itu mau


mengakui dirinya sebagai tunangannya atau tidak juga dia bodo amat. Yang dia


tahu hanyalah berusaha memenangkan hatinya saja.


Setelah umik Halimah pergi meninggalkan mereka berdua di


ruang tamu, Hanifah memberanikan diri menyapa Diaz. Dalam situasi seperti ini,


ia juga perlu sisi dia yang lainnya. Namun tetap kalem karena masih ada Umik


dan juga Fatimah di sini, dikata bermuka dua dia tidak peduli selama itu tidak


jahat untuk merugikan orang juga tak masalah, kalau hanya Diaz yang merasa rugi


karena didesak agar menerimanya, ya bodo amat, memang itu tujuan utama Hanifah.


“Diaz, aku membawakan makan siang untukmu, kata Fatimah kau


dari semalam tidak mau makan apapun. Aku bawakan pepes ikan emas, kata Queen

__ADS_1


kau sangat menyukai ini, loh.”


Mendengar nama wanita yang dicintainya disebutkan Hanifah


Diaz langsung naik darah dan berkata dengan kasar meskipun tak sekasar Al.


Tapi, cukup menyeramkan juga untk pria kalem dan lemah lembut seperti dirinya


itu.


“Berani sekali kau menyebut Namanya setelah apa yang kau


lakukan padanya.”


Hanifah menggantungkan senyumnya, jujur hatinya sakit


mendengar ucapan itu. Tapi, ia harus menguatkan hatinya, sebelum dia kemari


juga sudah menyiapkan bekal mental yang kuat, karena dengan merenima saran


kakek Andrean, ia juga harus siap membayar dengan kesakitan terlebih dahulu.


“Maafkan aku, aku tahu aku salah, tapi kau juga salah, Di…


Jika kau semalam berkata tidak, ini tidak akan terjadi juga bukan?”


“Aku tidak mau mengecewakan keluargaku, hanya itu tiak


lebih, jika saja aku mengedepankan egoku, lebih baik aku gagal tunangan tidak


masalah. Kau bisa saja menolaknya, agar aku tidak dikata tidak bertanggung


jawab.”


Hanifah mulai menangis, ia berkata sambil terisak, “Aku


tidak menyangka kalau kau begitu egois, Diaz. Kau hanya mementingkan dirimu


sendiri, posisikan jika aku ada di posisimu bagaimana? Aku sudah lama


mencintaimu, ambil kesempatan itu tidak? Malam itu aku juga sangat sadar apa


resiko yang akan aku dapatkan, tidak hanya Queen yang membenciku. Tapi juga


kamu, tapi karena aku mencintaimu, aku akan tetap berusaha memenangkan hatimu.


Dan jika kau jadi aku, apakah kau bisa melihat orang yang kau cintai merasa


dipermalukan dan dinilai telah mempermainkan keluarga besarnya? Kaiu pikir akum


au hanya atas keegoisan pribadiku saja? Aku sedikitpun tidak menyangka kalau


kau segitu rendahnya menilaiku, Diaz. Terimakasih atas semuanya.”


Gadis itu pun berlari keluar sambil meraih tas nya.


Awalnya Diaz hanya diam membiarkan Hanifah pergi, toh dia


juga tidak peduli dengan gadis itu, jika dia pergi juga baik, akan lebuh bagus


lagi jika gadis manja itu membatalkan pertunangannya dengannya.


Bersamaan dengan Hanifah keluar dari pintu, Umik Halimah


keluar dengan membawa nampan berisi dua gelas the hangat untuk mereka berdua.


“Diaz, Hanifah kenapa dia pergi sambil menangis?”


‘duh, pake ketahuan, lagi,’ umpat Diaz dalam hati. Padahal


ia sengaja tidak mengejar dan mengatakan pada umiknya kalau Hanifah sekedar


ingin mengantarkan pepes ikan emas saja untuknya lalu dia pergi karena harus kuliah.


Taou, sepertinya tuhan tak izinkan dia berbohong pada umiknya. Diaz menjambak


rambutnya seorang diri dan mendesah kesal.


“Kenapa masih diam? Cepat kejar dia!” ucap umik Halimah,


panik.


Tanpa menjawab, Diaz pun bergegas mengejar Hanifah. Dia


memang tidak pernah membantah dengan apa yang sudah diperintahkan umiknya


sekalipun itu tidak enak baginya. Namu  jauh di dalam hatinya, dia tidak ada habisnya ngedumel sendiri.


Ya Tuhaaaaan. Bahkan umikku pun turut menghawatirkan dia.


Dia bukan anak kecil lagi yang harus dibimbing berjalan di trotiar dan


menyebrang juga sudah bisa sendiri. Tapi, mau bagaimana lagi, dia memang  sudah taka da pilihan lain.


Sekitar tigaratus meter dari rumahnya dia sudah menemukan


Hnaifah, gadis itu berlarinya tidaklah sekencang Queen, Dia tahu itu sebab


mereka pernah bermain kejar-kejaran saat main di pantai.


“Ayo kembali.”


“Tidak,” jawab Hanifah sambil terus berjalan.


“Ayo, aku mohon padamu.’


“Belum puas kau mencaciku dengan tuduhan gila mu itu?”


“Jika kau masih marah dan tersinggung, kembalilah ke


tempatku demi Umik. Kau tidak mau dia bersedih dan merasa malu pada kakek dan


kedua orang tuamu, kan? Jika kau tetap pergi dan tak mau kembali ke tempatku


artinya kau membiarkan mereka berfikir kalau umik tidak bisa mendidikku.’


Hanifah diam-diam ersenyum, mendengar ucapan Diaz dengan


penuh permohonan sekaligus rasa bersalah.  Dari kejadian ini, ia tahu letak kelemahan Diaz yang mungkin Queen juga


sepertinya belum tahu.


“Bodo amat, emang nyatanya kau yang tak bisa diatur, bukan?”


ucap Hanifah berlagak ngambeg dan berjalan cepat meninggalkan Diaz.


“Aku mohon jangan lakukan itu, Hnaifah. Aku mohon… Aku inta


maaf jika aku telah menyinggungmu, kita akan hadapi masalah ini bersama saat


bertemu dengan Queen, Aku janji tak akan menyalahkanmu lagi, ayolah aku mohon.”


“Tidak mau!” jawab Hanifah, dengan ketus.  “tidakkah kau pernah mendengar kalau hati


wanita itu seperti perselin, halus, berkilai namun mudah retak dan pecah. Kau


baru saja menghancurkan hatiku, kau pikir dengan meminta maaf saja cukup untuk


memperbaiki segalanya?”


Merasa kehabisan akal Dia pun mengangkat Hanifah, sekalipun


dia sedikit lebih berisi dari Queen, tapi, dia tidak memiliki tinggi badan


setinggi Queen, Jadi, kemungkinan masih lebih berat tubuh Queen.


“Heh, Diaz, apa yang kau lakukan? Turunkan akua, di sini


banyak orang aku malu,” ucap Hanifah.


Tapi,Diaz tak menghiraukan Hnaifa, seperti yang ia katakana


semua dihadapi bersama, malu pun juga ditanggung bersama.


Sampai tiba di dekat rumah Diaz, Hanifah memberontak lebh


kuat karena tidak mau hal memalukan ini terlihat oleh umik, padahal, Diaz juga


demikia. Diaz pun menurunkan Hanifah dan berjata dengan wajah datarnya, “Kau


ini suka makan, ya? Badannya saja kecil, tapi berat banget.”


“Masa, sih aku berat? Perasaan juga tidak gemuk-gemuk amat,


dasar kamu saja yang krempeng jadi orang, makan yang banyak, biar sedikit isi


tuh badan,” balas Hanifah sambil berjalan di belakang Diaz. Sedangkan Umki


sudah menunggu mereka di depan teras.


Diaz dan Hanifah sama-sama menghembuskan nafas lega,

__ADS_1


keduanya sama-sama membatin, untung saja adegan memalukan itu tidak dilihat


Umik, untung saja kuturunkan dia jauh sebelum tiba di depan rumah.


__ADS_2