
“Perlu kakak bantu, Sayang?”
Queen menatap tajam ke arah Al yang masih berdiri di ambang pintu mengamati
dirinya yang tengah mengemasi baju serta barang-barang pribadinya. Pria itu dengan santainya bersandar pada kusen
pintu kamarnya tanpa merasa bersalah sedikitpunj.
“Berani sekali kau, menyebut dirimu sendiri sebagai kakakku?
Pergilah, semua ini karena kau, Al. Kau yang membuatkan aku masalah, dan kau
juga yang membuat Diaz tunangan dengan Hanifah.”
Al berdiri tegak melangkah mendekat ke arah Queen, sementara
wanita itu tidak sadar kalau pria yang baru saja diomelinya sudah berada tepat
di belakangnya karena ia terlalu sibuk
dengan barang-barang yang akan dibawanya pergi.
Dengan perlahan Al mendekati Queen dari belakang, dan
berbisik, “Baiklah, kau sendiri yang berkata kalau aku bukan lagi kakakmu,
kalau begitu aku adalah calon seamimu, ayo kita segera menikah saja, Sayang.”
“Lepaskan aku, makin hari kau makin gila saja, siapa yang
sudi menikah denganmu? Tidak akan!” Queen memberontak keras untuk melepasakan
diri, lalu berpindah mengemasi ke tempat lain, menjauh dari Al.
“Hehehe, Sayang, kau jangan egois begitu, dong. Bagaimana
jika kau benar-benar Hamil? Setidakknya pikirkan anak kita dong,” ucap Al
sambil terkekeh. Sedikitpun tak ada raut wajah marah sekalipun pada benak pria
itu. Meskipun sudah disinggung dan disakiti berkali-kali oleh Queen.
“Aku tidak akan pernah mengandung anakmu apalagi
melahirkannya, jika itupun sampai terjadi, aku juga tak akan mengatakan kalau
adalah ayahnya.”
“Lalu apa yang akan kau katakana? Apakah kau akan berkata
kalau ayahnya diambil oleh wanita lain? Tidakkah kau berfikir bagaimana
perasaan dia memiliki ayah yang tak setia dan menelantarkan di dan ibunya?”
“Aku akan katakana kalau ayah nya mati tertabrak kereta
sampai badannya hancur.” Queen menutup resleting kopernya dengan kasar, lalu
menyeretnya, dan mengabaikan Al.
Namun pria itu masih saja tidak menyerah walaaupun sudah
dicuekin sama Queen. Dia tetap bersikeras mengikuti kemana pun wanita itu
pergi. Bahkan saat ada di depan tangga dia melihat kalau Queen melakukan hal
yang sangat ekstrime yang tak pernah sedikitpun Al bayangkan sebelumnya.
Bagaimana tidak? Wanita itu bukannya menyeret kopernya secara perlahan sambil
menuruni anak tangga. Tapi, justru malah mendorongnya keras menuruni tangga dan
sesampainya di bawah menabrab lemari kaca tempat di mana hiasan dan juga piala
dan medali yang di dapatkan Al dan Queen dulu di simpan sehingga menimbulkan
suara berisik yang mengangetkan siapapun.
Hanifah, kakek beserta Eren dan Hans pun tergopoh masuk ke
dalam memastikan kalau suara benda jatuh dari tangga dan menabrak entah apa itu
bukanlah manusia melainkan barang, baru saja mereka tiba di dalam, koper Queen
selanjutnya juga dia dorong dari tangga dan lagi-lagi menabrak barang yang ada dibawahnya dan memporak porandakan
semuanya.
Andrean hanya melihat ulah cucu satu-satunya itu. Pria tua
itu tahu bagaimana kecewanya Queen saat ini, dia juga mengerti seberapa besar
luka dan sakitnya hati Queen saat ini karena gagal bertunangan dengan pria yang
dicintainya, justru pria itu malah bertunangan dengan saudari nya sendiri.
Lebih parahnya lagi, orang terdekat yng paling dihormatinya lah yang telah menghancurkan semua angan dan harapannya.
“Queen, apa yang kau lakukan, sayang?” tanya Eren saat
melihat sesuatu yang Clara banggakan dulu telah berserakkan bahkan ada pula
yang patah.
Queen tidak menjawab, orang-orang yang ada disana dia anggap
batu mungkin. Saat ia memegang salah satu pegangan koper untuk diseretnya Al
memegang tangannya dan berkata, “Biarkan aku mengantarkanmu, tak peduli
meskipun aku sudah tak kau akui sebagai kakak lagi, aku akan tetap menjagamu.”
Quuen diam, bibir dan tangannya bergetar ia tak bisa berkata
apa-apa, segala amarah dan emosi seolah berkupul jadi satu sampai dadanya
terasa sesak lalu ia bertrikak sambil memukuli Al.
“Pergi kau menjauh dariku, aku tidak mau melihat bastard
sepertimu, aku benci kau!”
Al hanya diam menerima saja kalau ia dipukuli Queen di depan
semua orang, termasuk bik Yul dan juga Nayla. Sampai wanita itu merasa lelah
dan berhenti memukul.
“Sudah mmemukulnya? Ayp, biarkan aku mengantarmu, kamu ma
uke mana? Ke apartemen?”
Taka da jawaban dari bibir wanita itu, ia diam saja dan
mengekor di belakang Al sambil membawa kopernya yang kecil.
Selama di perjalanan keduanya hanya diam membisu, Al
meletakkan tangannya pada paha Queen, sambil berlagak cuek memandang lurus ke
depan. Tapi dengan cepat Queen menampik tangan Al dan bergeser ke kiri menjauh
dari Al dan menutupi pahanya dengan hand bag yang dibawanya.
“Jangan kurang ajar!”
Al hanya terkikik dan menjawab, “Ayolah, Sayang, jangan
galak-galak begitu, aku hanya memegang paha saja kau sudah semarah itu, apa
perlu kuingatkan semua bagian paling intimpun juga sudah terjamah oleh tangan
ini?”
Queen hanya diam tak mau menjawab sampai akhinya mereka pun
sudah tiba di apartemen.
Sesampainya di sana Al membantu Queen menata barang sampai
lewat tengah hari, keduanyan kelelahan dan berbaring di atas lantai, sementara
Queen, dia sudah lebih dulu tertidur karena kekelahan.
Menyadari Queen sudah pulas tertidur, Al pun menghampiri
wanita itu, cuklup lama ia memandang wajaah Queen, lalu mengelus kening dan
menciumnya.
“Tidurlah sayang. Aku tahu, hari ini pasti sangat melelahkan
__ADS_1
bagimu, kau boleh membencicku. Tapi, aku akan berjanji pada diriku sendiri
kalau kau kelak akan jatuh cinta padaku, seperti papa dan mama, kita akan hidup
bahagia bersama anak-anak kita. Al mengecup lama kening Queen lalu mengangkat
tubuh ramping itu lalu membawanya ke dalam kamar. Al mendekap erat tubuh itu
dalam pelukanya sampai ia pun ikut terlelap bersama.
***123
Di rumah Andrean, Bik yul dibantu dengan Hans, Eren dan juga
Nayla membereskan barang-barang yang pecah akibat Queen, tidak ada satupun yang
bisa menyalahkan Queen dengan tindakannya, ia merasa jengkel dan jelas sakit.
Kalau kecewa, jangan ditanya lagi, itu sudah pasti.
“Om, maafin kita ya.
Mungkin jika Hanifah tidak tinggal di indo dan sering bermain kemari, pasti hal
seperti ini tidak akan terjadi,” ucap Eren merasa bersalah.
‘’Ini sudah takdir, Ren. Tidak ada yang perlu meminta maaf
dan di maafkan, biarkan saja semuanya mengalir seperti ini. Mungkin sudah
waktunya Al dan Queen bersatu, siapa tahu Vano dan Clara menunuggu mereka
bersama dulu baru sadar.”
“Om, tapikan Al punya istri, apakah itu tidak akan timbul
masalah besar?”
“Eren, sudahlah! Kamu itu terlalu berlebihan memikirkan
sesuatu, bukankah pelangi tak akan hadir tanpa hujan yang kencang? Biarkan saja
ini menjadi awak kebahagiaan Al, Queen, Hanifah dan juga Diaz.”
“Ma, akum au pergi dulu,” ucap Hanifah sudah bersiap dengan
out fit celana jeans Panjang berwarna putih dan atasan bluse lengan Panjang
berwarna coklat susu.
Taka da jawaban dari wanita berusia empat puluh tahun lebih
itu, ia hanya diam dan mengamati pakaian putrinya yang banyak perubahan setelah
hampir setahun dalam awasan omnya.
“Kakek, aku pamit dulu, ya?” ucap Hanifah lirih.
“Apakah kau akan menemuinya?” jawab Andrean dengan lembut.
Hanifah hanya mengangguk, gadis itu memang selalau patuh dan
tak pernah menentang atas apa yang telah disarankan kakek Andrean, sesakit
apapun itu, tapi ujungnya juga akan membawa kebahagiaan tersendiri. Dan ini terjadi tidak hanya satu
dua kali saja. Melainkan sudah berkali-lkali.
“Mintalah makan malam pada bibi untuk dibawa padanya, kau
tahu bukan apa yang harus kau lakukan? Berjuanglah untuk cintamu, cucuku!”
Andrean tersenyum lebut samabil mengusap ubung-ubun Hanifah, lalu gadis itu pun
beranjak pergi ke dapur sebelumnya pergi ke tempat Diaz.
Ia tahu kalau hari ini Diaz izin tidak masuk kerja dari
Fatimah. Jelas saja pria itu juga psti merasakan rasa sakit dan kecewa seperti
yang dirasakan oleh Queen.
Usai mempersiapkan semua makan siang untuk Diaz, gadis itu
pun pergi dengan menggunakan jasa taxi online. Dia sengaja tdak menyupir
sendiri berharap Diaz mau mengantarnya pulang jika andai nanti dia kemalaman.
Semua sudah Hanifah atur, selama Umik dan adiknya Diaz menerimanya, sesulit
bisa, terlebih dengan status tunangannya kemarin.
Sesampainya di rumah Diaz, Hanifah sedikit ragu untuk
membuka pagar besi itu. Tapi, ragu dan takut bukannya untuk dinikmati?
Melainkan untuk dihadapi, itu yang sering ia dengar dari Queen.
Akhirnya ia pun membuka gerbang dan menuju pintu utama,
memencet bel sambil menunggu seseorang membukakan pintu untuknya.
“Hanifah, dengan siapa kau kemari, Nak? Ayo masuk!” seru
Umik halimah. Wanita paruh baya itu tidak pernah membenci Hanifah ataupun
Queen, siapapun yang akan menjadi jodoh putranya, ia yakin itulah yang pasti
Allah pilihkan yang terbaik untuknya. Namun, jauh di dalam hatinya ia juga
sangat kasian dengan Queen.
Hanifah tersenyum dan bersalaman sambil mencium tangan
wanita itu. “Diaz ada Umik?”
“Ada, masuk lah, tunggu di sini ya, biar umik panggilkan
Diaz dulu.”
Hanifah pun duduk di kursi ruang tamu sambil melirik
foto-foto yang terpajang di dinding rumah kontrakan itu, di sana terpajang
beberapa foto tokoh ulama, keluarga besar Diaz, dan juga foto-foto saat Diaz
masih menjadi koas bersama Queen juga. Bahkan di sana juga terpajang foto
mereka berdua duduk di bukit dengan rerumoutan yang hijau dengan beground
bunga-bunga, mereka memamerkan kekompakkannya, sama-sama memakai jas doktyer
dan bertelanjang kaki sambil menyatukan sebelah tangan mereka membentuk lambing
love.
Melihat foto itu Hanifah tersenyum getir, rasa cemburu belum
bisa bebas merajai hatinya, sebab dia paham kalau ia telah merebut dan
mengambil posisi saudarinya tanpa sepengatahian saudarinya.
“Itu Hanifah sudah datang kemari, kamu temui, ya? Umik mau
sholat Dzuhur dulu,” ucap umik Halimah sambil mendorong tubuh putranya sedikit
memaksa untuk menemuinya.
Hanifah berdiri dan melempar senyuman terbaiknya untuk pria
yang baru saja tadi malam menjadi tunangannya. Tapi entah, pria itu mau
mengakui dirinya sebagai tunangannya atau tidak juga dia bodo amat. Yang dia
tahu hanyalah berusaha memenangkan hatinya saja.
Setelah umik Halimah pergi meninggalkan mereka berdua di
ruang tamu, Hanifah memberanikan diri menyapa Diaz. Dalam situasi seperti ini,
ia juga perlu sisi dia yang lainnya. Namun tetap kalem karena masih ada Umik
dan juga Fatimah di sini, dikata bermuka dua dia tidak peduli selama itu tidak
jahat untuk merugikan orang juga tak masalah, kalau hanya Diaz yang merasa rugi
karena didesak agar menerimanya, ya bodo amat, memang itu tujuan utama Hanifah.
“Diaz, aku membawakan makan siang untukmu, kata Fatimah kau
dari semalam tidak mau makan apapun. Aku bawakan pepes ikan emas, kata Queen
__ADS_1
kau sangat menyukai ini, loh.”
Mendengar nama wanita yang dicintainya disebutkan Hanifah
Diaz langsung naik darah dan berkata dengan kasar meskipun tak sekasar Al.
Tapi, cukup menyeramkan juga untk pria kalem dan lemah lembut seperti dirinya
itu.
“Berani sekali kau menyebut Namanya setelah apa yang kau
lakukan padanya.”
Hanifah menggantungkan senyumnya, jujur hatinya sakit
mendengar ucapan itu. Tapi, ia harus menguatkan hatinya, sebelum dia kemari
juga sudah menyiapkan bekal mental yang kuat, karena dengan merenima saran
kakek Andrean, ia juga harus siap membayar dengan kesakitan terlebih dahulu.
“Maafkan aku, aku tahu aku salah, tapi kau juga salah, Di…
Jika kau semalam berkata tidak, ini tidak akan terjadi juga bukan?”
“Aku tidak mau mengecewakan keluargaku, hanya itu tiak
lebih, jika saja aku mengedepankan egoku, lebih baik aku gagal tunangan tidak
masalah. Kau bisa saja menolaknya, agar aku tidak dikata tidak bertanggung
jawab.”
Hanifah mulai menangis, ia berkata sambil terisak, “Aku
tidak menyangka kalau kau begitu egois, Diaz. Kau hanya mementingkan dirimu
sendiri, posisikan jika aku ada di posisimu bagaimana? Aku sudah lama
mencintaimu, ambil kesempatan itu tidak? Malam itu aku juga sangat sadar apa
resiko yang akan aku dapatkan, tidak hanya Queen yang membenciku. Tapi juga
kamu, tapi karena aku mencintaimu, aku akan tetap berusaha memenangkan hatimu.
Dan jika kau jadi aku, apakah kau bisa melihat orang yang kau cintai merasa
dipermalukan dan dinilai telah mempermainkan keluarga besarnya? Kaiu pikir akum
au hanya atas keegoisan pribadiku saja? Aku sedikitpun tidak menyangka kalau
kau segitu rendahnya menilaiku, Diaz. Terimakasih atas semuanya.”
Gadis itu pun berlari keluar sambil meraih tas nya.
Awalnya Diaz hanya diam membiarkan Hanifah pergi, toh dia
juga tidak peduli dengan gadis itu, jika dia pergi juga baik, akan lebuh bagus
lagi jika gadis manja itu membatalkan pertunangannya dengannya.
Bersamaan dengan Hanifah keluar dari pintu, Umik Halimah
keluar dengan membawa nampan berisi dua gelas the hangat untuk mereka berdua.
“Diaz, Hanifah kenapa dia pergi sambil menangis?”
‘duh, pake ketahuan, lagi,’ umpat Diaz dalam hati. Padahal
ia sengaja tidak mengejar dan mengatakan pada umiknya kalau Hanifah sekedar
ingin mengantarkan pepes ikan emas saja untuknya lalu dia pergi karena harus kuliah.
Taou, sepertinya tuhan tak izinkan dia berbohong pada umiknya. Diaz menjambak
rambutnya seorang diri dan mendesah kesal.
“Kenapa masih diam? Cepat kejar dia!” ucap umik Halimah,
panik.
Tanpa menjawab, Diaz pun bergegas mengejar Hanifah. Dia
memang tidak pernah membantah dengan apa yang sudah diperintahkan umiknya
sekalipun itu tidak enak baginya. Namu jauh di dalam hatinya, dia tidak ada habisnya ngedumel sendiri.
Ya Tuhaaaaan. Bahkan umikku pun turut menghawatirkan dia.
Dia bukan anak kecil lagi yang harus dibimbing berjalan di trotiar dan
menyebrang juga sudah bisa sendiri. Tapi, mau bagaimana lagi, dia memang sudah taka da pilihan lain.
Sekitar tigaratus meter dari rumahnya dia sudah menemukan
Hnaifah, gadis itu berlarinya tidaklah sekencang Queen, Dia tahu itu sebab
mereka pernah bermain kejar-kejaran saat main di pantai.
“Ayo kembali.”
“Tidak,” jawab Hanifah sambil terus berjalan.
“Ayo, aku mohon padamu.’
“Belum puas kau mencaciku dengan tuduhan gila mu itu?”
“Jika kau masih marah dan tersinggung, kembalilah ke
tempatku demi Umik. Kau tidak mau dia bersedih dan merasa malu pada kakek dan
kedua orang tuamu, kan? Jika kau tetap pergi dan tak mau kembali ke tempatku
artinya kau membiarkan mereka berfikir kalau umik tidak bisa mendidikku.’
Hanifah diam-diam ersenyum, mendengar ucapan Diaz dengan
penuh permohonan sekaligus rasa bersalah. Dari kejadian ini, ia tahu letak kelemahan Diaz yang mungkin Queen juga
sepertinya belum tahu.
“Bodo amat, emang nyatanya kau yang tak bisa diatur, bukan?”
ucap Hanifah berlagak ngambeg dan berjalan cepat meninggalkan Diaz.
“Aku mohon jangan lakukan itu, Hnaifah. Aku mohon… Aku inta
maaf jika aku telah menyinggungmu, kita akan hadapi masalah ini bersama saat
bertemu dengan Queen, Aku janji tak akan menyalahkanmu lagi, ayolah aku mohon.”
“Tidak mau!” jawab Hanifah, dengan ketus. “tidakkah kau pernah mendengar kalau hati
wanita itu seperti perselin, halus, berkilai namun mudah retak dan pecah. Kau
baru saja menghancurkan hatiku, kau pikir dengan meminta maaf saja cukup untuk
memperbaiki segalanya?”
Merasa kehabisan akal Dia pun mengangkat Hanifah, sekalipun
dia sedikit lebih berisi dari Queen, tapi, dia tidak memiliki tinggi badan
setinggi Queen, Jadi, kemungkinan masih lebih berat tubuh Queen.
“Heh, Diaz, apa yang kau lakukan? Turunkan akua, di sini
banyak orang aku malu,” ucap Hanifah.
Tapi,Diaz tak menghiraukan Hnaifa, seperti yang ia katakana
semua dihadapi bersama, malu pun juga ditanggung bersama.
Sampai tiba di dekat rumah Diaz, Hanifah memberontak lebh
kuat karena tidak mau hal memalukan ini terlihat oleh umik, padahal, Diaz juga
demikia. Diaz pun menurunkan Hanifah dan berjata dengan wajah datarnya, “Kau
ini suka makan, ya? Badannya saja kecil, tapi berat banget.”
“Masa, sih aku berat? Perasaan juga tidak gemuk-gemuk amat,
dasar kamu saja yang krempeng jadi orang, makan yang banyak, biar sedikit isi
tuh badan,” balas Hanifah sambil berjalan di belakang Diaz. Sedangkan Umki
sudah menunggu mereka di depan teras.
Diaz dan Hanifah sama-sama menghembuskan nafas lega,
__ADS_1
keduanya sama-sama membatin, untung saja adegan memalukan itu tidak dilihat
Umik, untung saja kuturunkan dia jauh sebelum tiba di depan rumah.