
Di sebuah ruangan, Al meluruskan kakinya sambil bersandar pada kursi yang ia duduki.
Tangan kanan pria itu memegang ponsel, sementara tangan lainnya melonggarkan dasi yang melekat di lehernya.
"Halo, Jun. Ada kabar apa sekarang? Awasi terusΒ gerak-gerik Aditya. Dan penjagaan tersembunyi untuk Quen jangan sampai lemah."
"Kak, ada berita lagi, setelah kedok mereka terbongkar, Alex membuka terang-terangan di depan keluarganya."
"Maksut kamu?"
"Setelah menemui Queen dia kerumah orangtuanya, meminta pendapat. Dan di rumah ia juga nampak mendiamkan Helena. Lalu malamnya Alex mengundang orang tua, Novita juga Adit lalu membongkar semuanya serta mengusir Helena."
"Lakukan sesuatu untuk memberi pelajaran wanita itu, dia yang membuat adikku menderita selama ini," perintah Al dengan nada datar.
"Helena sudah mati, Kak."
"Apa? Mati? Bagaimana bisa?"
"Di malam yang sama Aditya menguntitnya, keduanya sempat bentrok di jalanan yang sepi. Lalu, Helena berlari dan Aditya mengejar dengan mobil, menabrak dengan sengaja hingga wanita itu terpelanting jauh dan mati di tempat saat itu juga."
Jiwa Al yang sudah dipenuhi kebencian kepada Helena, dan ingin membuatnya menderita seperti Lyli dulu, mendadak sirna begitu mendengar kalau justru di tangan Aditya ia mati dengan sangat mengenaskan. Ia hanya mengangguk paham.
"Ya sudah, awasi terus pria itu. Dan perketat penjagaan untuk adikku. Jagan sampai hal buruk menimpanya."
"Iya kak. Malam ini dia juga pergi ke rumah sakit bersama Nayla. kami terus mengawasinya. Lalu, kita apakan Aditya Kak? Apakah kita laporkan ke polisi saja atas kasus pembuahan terhadap Helena?"
"Biarkan saja. Melaporkan dirinya paling lama sepuluh tahun penjara, jika dia mampu menebus juga hanya beberapa tahun. Tahu kita yang melapor apa kau pikir dia tidak akan dendam? Setelah bebas ia akan membalas dan aku khawatir ia menyakiti Quen nantinya. Dia itu benar-benar Psycopath. Cukup awasi saja dan beri laporan padaku," ujar Al lalu mematikan teleponnya.
Al masih dalam posisinya sambil memainkan ponsel di tangannya. Ingin kembali menghubungi Juna tapi takut ditertawakan olehnya. Apalagi Vico. Akan lebih parah membullynya habis-habisan nanti.
Akhirnya ia pun menghubungi tangan kanan Vico.
"Halo, bos. Ada yang perlu saya kerjakan sekarang?" jawab seorang pria dari sebrang.
"Kamu bagaimana awasi Quen? Apakah dia sering bertemu dengan dr.Diaz?" tanya Al dengan cemas.
"Maaf, bos. Tidak pernah. Tapi, bukannya anda baru sehari meninggalkan Indonesia, ya? Bagaimana mungkin mereka akan sering bertemu di hari biasa? Mereka bekerja dan beda kota."
"Ok. Kabari aku jika keduanya saling bertemu," jawab Al, lalu dengan cepat mematikan ponselnya.
Setelah di rasa cukup, diam justru bahkan membuatnya merasa stres pria itu pun keluar dan mengatur jadwal rapat dan pertemuan dengan beberapa pihak agar dipercepat. Agar bisa secepatnya kembali ke Indonesia.
ππππ
Tiba di rumah sakit Queen buru-buru menemui Gea untuk mencari informasi terkait Helena.
Bahkan Gea juga mengajak Quen dan Nayla ke kamar jenazah.
Quen sedikit memalingkan muka dan menutup mulut juga hidung begitu melihat kondisi Helena yang mengenaskan.
"Kenapa darah tidak dibersihkan?"
"Sudah, pihak perawat sudah memberikan tapi dari jalan lahir, kepala serta hidung dan telinganya terus saja mengalir dan merembes, Quen," jawab Gea.
Queen pun diam lalu keluar menemui Nayla yang ada di luar kamar jenazah. Ia tidak berani masuk apalagi melihat korban mati akibat kecelakaan.
Bersamaan dengan Quen dan Gea yang keluar dari kamar, kedua orang tua Helena pun datang.
Mamanya Helena pun langsung menghampiri Quen dan memeluknya.
"Nak, Quen. Maafkan semua kesalahan yang pernah Helena lakukan, ya? Doakan agar dosa-dosa dia diampuni," ucap wanita itu dengan menangis tersedu-sedu.
"Aku sudah memaafkannya, Tante. Tante yang sabar, ya? Helena wanita baik, pasti dosanya di ampuni tuhan," ucap Quen yang tiba-tiba ikut menangis ketika melihat mamanya Helena menangis.
"Bahkan kau masih mengatakan dia anak baik setelah apa yang.... "
"Sudahlah, Tante. Jangan ungkit itu. Kasian dia. Kita doakan saja dia dan jangan lagi bicarakan keburukannya, kasian. Itu hanya akan membuat dia semakin sakit di alam sana. Semoga saja dia tenang di alamnya ya, Tante."
__ADS_1
Malam ini, Queen memutuskan untuk ikut ke rumah duka bersama kedua orangtua Helena. Di sana. Sedangkan Nayla, ia pulang bersama Gea, dan meminta Gea yang mengemukakan mobilnya.
Queen mengikuti laju mobil ambulance dari belakang. Kedua orang tua Helen berada di sana di samping jenazah putri satu-satunya. Sedangkan dia di belakang mengemudikan mobil yang mereka gunakan tadi untuk menuju ke rumah sakit.
Di jalan, ia berusaha menghubungi Alex, menanyakan prihal Helena, mereka sudah tahu apa belum. Sebab, ia merasa janggal. Bagaimana dia sebagai suami, ya katakanlah begitu. Kok tidak muncul di rumah sakit.
"Halo, Lex. Kamu lagi apa?"
"Aku di rumah. Ada apa, Quen?" jawab pria itu dengan santai.
"Kau tidak datang ke rumah Helena, Lex?"
"Kenapa? Oh, dia sudah tiba di rumahnya dan bahkan dengan tidak tahu malunya menghubungimu? Apa saja yang dia katakan padamu?"
Queen diam sesaat. Jelas dari nada bicara Alex mereka baru saja bertengkar dan lagi, sepertinya ia tidak tahu kalau Helena mengalami kecelakaan dan sampai merenggut nyawanya.
"Ke, ke sampingkan dulu amarah mu. Maafkan dia. Helena sudah meninggal," ucap Quen pelan.
Tdak ada jawaban dari seberang sana. Alex membisu dalam waktu yang lama. Mungkin pria itu pun merasa shock dan kaget. Baru dua jam lalu mengusirnya dari rumah, dan sekarang mendengar kabar kalau ia sudah meninggal dunia. Apakah dia frustasi dan bunuh diri?
" halo halo tes kamu dengar suaraku, kan?" ucap Queen.
"Iya, halo Quen, iya. Aku denger suara kamu, ini kamu posisi di mana sekarang?"
"Aku di perjalanan menuju rumah Helena. Jenazah nya sudah dibawa ambulance di depanku."
"Ya sudah, aku bilang sama orang tuaku. Kebetulan mereka ada di sini, juga dengan kakakku. Kami akan kesana bersama setelah ini. Terima kasih ya, sudah mengabari," ucap Alex lalu mengakhiri teleponnya dan memandang ke arah orang tua dan juga kakaknya.
"Siapa yang baru saja menelpon mu, Lex? Kenapa mau kamu tegang begitu?" Tanya mama rita yang masih mengelus kepala novita di pangkuan nya.
"Queen, Mah. Dia ngasih kabar katanya Helena meninggal. Dan ini katanya jenazahnya perjalanan dari rumah sakit ke rumah duka."
Mama Rita menutup mulutnya dengan kedua tangan. Wanita itu nampaknya benar-benar terkejut. Bagaimana ini bisa terjadi? Apakah wanita itu sengaja bunuh diri untuk mengakhiri hidupnya karena merasa frustasi? Apakah begitu berartinya putranya bagi dia sampai-sampai rela kehilangan nyawa saat putranya mengusir dan menceraikannya?
"Apakah dia bunuh diri, Lex?" tanya mama Rita khawatir.
Tiba di rumah duka, Alex dan keluarganya langsung menghampiri Quen yang juga membantu mengurus tamu. Memang ini sudah malam. Tapi, pihak keluarga bersepakat untuk tetap memakamkan Helena sekarang. Tarlebih, tadi di rumah sakit jenazah juga sudah dimandikan.
"Apa yang terjadi sebenarnya, Quen?" tanya mama Rita mencari jawaban yang dapat memuaskan keingin tahuannya.
"Kata Gea tadi, Ma. Menurut orang yang mengantarnya dia jadi korban tabrak lari," jawab Quen pelan.
"Benarkah, itu? Tabrak lari atau sengaja menabrakan diri?"
"Ini masih dalam penyelidikan polisi, Ma. Kita lihat saja hasilnya. Sepertinya tidak mungkin Helena menabrakan diri. Sebab, dia sangat menyangi anaknya."
Queen menatap canggung pada mama Rita. Ia merasa sedikit bersalah, sebab meski Helena menikah dengan Alex, putranya. Anak yang dikandung adalah benih dari Aditya, menantunya sendiri. Andai Aditya orang lain yang tak ada hubungannya dengan keluarga ini pasti tak akan sesakit ini.
"Iya, iya," jawab mama Rita, lalu ia menemui besannya dan mengucapkan ucapan bela sungkawa."
Ini bukanlah waktu yang tepat untuk menjelaskan semua ini. Saling diam sudah cukup asal ia datang dan ikut melayat sebagai mertua Helena. Sebab, perceraian antara dia dan putranya juga belum resmi secara hukum.
Usai pemakaman, dan para tamu sudah mulai sepi, Alex mendekati Queen dengan ragu-ragu pria itu menawarkan diri untuk mengantarkan Quen pulang.
"Kamu seperty kelelahan, aku antar pulang, Yuk."
"Tidak usah repot-repot, Lex. Aku bisa pulang sendiri, kok," jawab Queen dengan sungkan.
" Ini sudah pukul tiga dini hari. Kamu mau naik apa? Gak apa-apa, aku antar kamu, dan tidurlah di mobil!" Seru Alex penuh penekanan, sehingga Quen tak dapat lagi menolaknya.
Sementara Novita dan mama Rita dari kejauhan senyum-senyum sambil saling menjawil melihat ulah Alex yang berusaha mendekati Queen kembali.
Wajah mereka kembali cerah, masalah yang baru saja menimpa keluarganya seolah sudah sirna begitu saja.
"Lihat, Ma. Mereka memang sangat serasi, lihat saja, bahkan Queen tidak bisa menolak saat Alex mengantarkannya pulang."
"Iya, semoga saja keduanya bisa ruju, ya Nov."
__ADS_1
"Iya, Mah."
Tiba di depan rumah Quen, Alex menghentikan mobilnya. Tapi, wanita itu nampak pulas sekali tidur di sebelahnya. Untuk membangunkan pun ia jadi tidak tega.
Dinyalakannya lampu di dalam mobil itu, Alex memandangi wajah Queen yang kelelahan.
Pria itu pun tersenyum seorang diri dan memberanikan diri mengarahkan tangannya ke pipi wanita itu lalu mengelusnya perlahan.
"Kaku cantik banget, Quen. Meski aku tidak pernah ingat bagaimana masa-masa indah kita dulu, aku yakin pipi dan bibir ini selalu kuciumi setiap hari, setiap waktu saat kita bersama,"
Entah dorongan dari mana, secara perlahan Alex mendekatkan wajahnya ke wajah Quen dan melumat bibir ranum itu dengan sangat lembut. Rasa was-was takut wanita itu bangun kelas ada, tapi, ia tidak bisa menahan hasratnya sendiri.
Beberapa saat kemudian Quen mulai bergerak dan mengeluarkan bedahan, khas orang tidur yang hendak terbangun. Dan benar saja, wanita itu terbangun dari tidurnya dan terkejut mendapati apa yang Alex lakukan.
Sekuat tenaga Quen mendorong tubuh Alex. "Lex, apa yang kau lakukan?" tanyanya sambil terbelalak.
"Maafkan aku, Quen. Aku juga tidak tahu kenapa tiba-tiba saja aku seperti ini."
Queen mengamati suasana sekitar. Masih gelap tapi, ia tahu di mana tempat ini. Ini adalah depan pagar rumahnya.
Tak mau berbelit-bekit dan menjadi panjang masalah ini, Quen pun memutuskan untuk keluar dari mobil Alex.
"Oh, sudah sampai. Alex, makasih, ya?" ucapnya, berusaha relax seolah tidak terjadi apa-apa barusan. Tapi, begitu Queen sampai kamar, dia merasa aneh dan entah perasaan apa. Semacam ada kesenangan tersendiri jika Alex sudah mulai ingat atau, tumbuh rasa cinta yang baru untuknya.
"Ah, apaan, sih Quen? Jika kau CLBK bagaimaba Diaz, donk!" serunya serang diri lalu, masuk ke toilet dan mandi dengan air hangat, lalu kembali tidur lagi setelah subuh sampai pukul sembilan pagi baru bangun.
ππππ
Usai mengadakan rapat dan memeriksa beberapa laporan, Al mulai merasa jenuh. Ingin menelfon dan mendengar suara Quen. Tapi, ia enggan menelfon duluan, inginnya harus adiknya dulu yang menelfonnya, menanyakan kabar dan kapan ia akan kembali ke tanah air.
Karena jengah dan sangat bosan, pria itu pun menelfon Juna, untuk menanyakan kondisi di sana.
"Halo, Jun. Queen masih tetap dalam pengawasan, kan?"
"Iya masih selalu diawasi lah, Kak. Kenapa memang?"
"Ngapain saja dia kok tidak ada telfon aku, atau minimal mengabari, gitu."
Juna diam sesaat. Ia mencoba mencerna kalimat yang Al katakan.
"Menelfon? Coba aja kakak yang telfon dia dulu, tanyakan. Sebab, semalam dia juga ikut dalam acara pemakaman Helena."
"Sama Nayla, juga?"
"Tidak, dia pulang lebih dulu dari rumah sakit bersama Gea. Dan Quen sendiri baru pulang sekitar jam tigaan."
"Jadi dia jam segitu nyetir sendiri?"
"Gak, mobil dikendarai Gea dan Nayla. Dia pulang di antar Alex," jawab Juna.
"Apa? Bagaimana bisa? Terus kalau sampai Quen kembali jatuh cinta dan balikan sama Alex bagaimana, Juna?"
"Ya urusan Quen, lah. Asal adik kamu bahagia, kenapa kamu repot?" Jawab Juna sambil terkikik lirih seraya menjauhkan ponsel dari wajahnya.
Al diam sesaat tak bisa menjawab apapun. Benar juga apa yang dikatakan Juna. Dari dulu ia inginkan hanyalah kebahagiaan Quen saja. Tapi, seiring berjalannya waktu dan juga seringnya mereka yang selalu bersama, membuat Al berubah. Rasanya hanya dia saja yang boleh membuat Quen tersenyum dan bahagia, sementara yang lain tidak.
"Kak, kamu aneh, apa jangan-jangan kakak suka lagi sama dia? Sikat aja sebelum dia menikah dengan Diaz. Hehehe."
"Heh, kau ini sudah gila, Jun? Mana mungkin aku maen sikat, dia itu adekku."
"Hehehe, cuma adik angkat, Kak. Gak ada hubungan darah, halal aja, buruan dah to the point aja, apa aku bantuin biar cepet dapet?" tanya Juna sambil terkekeh.
"Tidak mungkin. Aku sudah menikah. Lalu bagaimana dengan Nayla? Aku mencintai dia, meski dia selingkuh aku membiarkannya. Sebab, aku tahu dia butuh perhatian, dan aku tidak bisa memberikan, biarkan saja dia mencari perhatian pada pria lain."
Juna kian tertawa terbahak sampai seperti orang gila mendengar penjelasan Al yang kian tak masuk akal. Cara menyikapi dua wanita yang baginya terbalik. Harusnya ia cemburu dan marah saat Nayla ada kencan dengan Jevin. Tapi, dengan santainya ia berkilah ia mencari sesuatu yang tak bisa di dapatkan darinya. Sementara Queen dengan Alex dia seperti tak terima, jangankan Alex. Dengan Diaz saja juga demikian.
"Kak, Kamu ini sakit. Segeralah ke psekeater untuk berkonsultasi. Percalah padaku, sebelum kau menjadi gila," ucap Juna sambil terkekeh lalu mematikan panggilannya.
__ADS_1