Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION 2 PART 51


__ADS_3

Tanpa memperdulikan Nayla Al menyiapkan sendiri keperluannya yang akan dia bawa ke Jogja bersama papanya Vano. Bahkan, ketika mendapati kemejanya kusut, ia menyetrikanya sendiri tanpa melibatkan Nayla yang sedari tadi mengekor terus di belakangnya mencari kesempatan untuk berbicara dengan Al.


"Mas, Al. Kok nyetrika sendiri? Sini, biar Lyli yang menyetrikakan, Bapak sudah menunggu anda di bawah," ucap Lyli sambil merebut setrikaan dari tangan Al di depan Nayla.


"Mas, apa lagi yang kau butuhkan? Biar aku bantu siapkan," ucap Nayla ragu-ragu.


"Trimakasih. Tidak usah aku bisa sendiri," jawab Al sambil melewati Nayla dan kembali ke kamar.


Bersamaan Al keluar kemejanya sudah siap, pakai dan sudah tidak panas lagi, karena Lylu menyalakan kipas angin ketika menggantungnya.


"Kak, terimakasih ya, dah bantu aku nyetrika bajuku," teriak Al yang melihat Lyli menyapu.


"Beres, Mas."


Al pun segera pergi saat hampir membuka gagang pintu ruang tamu, Lyli menyadari kalau dasi Al ketinggalan di tempat setrikaan. Dengen segera ia mengambio dan berlari sambil menerikai Al, "Mas Al, dasinya ketinggalan."


Mendengar tetiakan Lyli, Al berhenti dan menoleh kebelakang. Dilihatnya pula Nayla, yang hanya mematung sedih karena dicuekin sedari pagi saat sarapan.


Dengan mata tajam, Al memandang ke arah Nayla. Awalnya dia ingin menerima dasi itu dengan tangan kanannya tapi urung,  pria itu enggan meletakan bawaan dikedua tangannya, dia malah pilih menundukan kepalanya meminta agar Lyli menhalungkan asal dasi itu di depan istrinya.


"Kak, maaf taruh leher saja, bisa masang dasi, tidak?" Goda Al sambil sedikit tertawa.


"Tidak bisa, Mas. Beginu saja ya, Mas Al pasang sendiri," ucap Lyli sambil mengalungkan pada leher Al.


"Mas, apa maksutmu lakukan ini di depan, ku?" Teriak Nayla sudah tak tahan dengan apa yang dia lihat sejak di meja makan.


"Apa, sih Nay? Aku cuma minta kak Lyli naruh dasi di leher saja, apakah itu masalah?" jawab Al dengan suara lembut dan pelan. Seolah ia tidak melakukan kesalahan.


"Apakah pantas seperti itu di depan istrimu sendiri?" tanya Nayla sambil menangis.


"Nay, kau ini berlebihan. Dia hanya meletakan di leherku saja. Tapi kau bertetiak seperti dia memeluk dan menciumku saja, kau baik-baik saja di rumah, ya? Aku berangkat dulu. Lyli. Titip Nayla, ya?" ucap Al lalu pergi.


Begitu sudah berada di luar pintu, Al mendengus kesal. Dia benar-benar jengkel dengan Nayla yang terlalu posesif.


Dengan malas seolah tak bertenanga, Al membuka pintu mobil depan di sebelah kemudi dan menghempaskan tubuhnya pada kursi di sebelah papanya.


Vano mengamati wajah Al yang nampak lelah serta kusut. Dia tersenyum tipis melihat putranya.


"Ada masalah lagi?" ucap Vano, mulai menyalakan mesin mobil.


Al mengeluarkan napas panjang setelah menghirupnya dalam-dalam, "Tiap hari harus bermasalah dengan hal-hal yang sama saja, Pah. Lagian, kenapa pula Nayla itu harus jeles sama Quen. Kan salah, kalau sama Lyli dan Hanifah wajar saja."

__ADS_1


"Kamu ajak bicara dia baik-baik. Tanyakan padanya apa yang membuatnya cemburu dengan Quen sementara dia juga sudah menikah. Tidakkah Nayla lihat kalau Quen begitu bahagia dengan Alex?"


"Itulah pah, kenapa aku juga heran. Semalam malah pas berantem om Erwin lihat dan ikut-ikutan marahin Nayla, aku gak belain siap-siapa. Om Erwin ada benarnyanya sih."


"Ya, dia cerita pada papa semalam, sekarang terserah kamu gimana menyikapi Nayla, masih bisa diperbaiki apa tidak, tadi kau bicara begitu pada Lyli dan Hanifah siapa yang kau goda? Istri apa adikmu?" tanya Vano penasaran.


"Semuanya Pah, biar Nayla tahu, kalau Quen hanya sayang terhadap Al tak lebih dari seorang saudara saja." jawan Al kesal.


"Kau masih mencintainya?"


"Tidak tahu, Pa." jawab Al singkat.


"Tanyakan hatimu, bagaimana jika jauh dengannya. Jika memang kau mencintainya, berusahalah merubah sikap dan takhlukkan dia." ucap Vano.


Lagi-lahi Al nenghela napas panjang dan mengusap wajahnya berulangkali dengan telapak tangan kanannya.


"Al, apa tidak berlebihan kau bercanda seperti itu? Kau ingat, kan kalau Lyli pernah ada rasa denganmu dan kalian berdua sempat... Dan juga Hanifah," ucap Vano sengaja tidak mengatakan dengan jelas.


"Kenapa, Pah? Kalau Hanifah jelas saja dia tahu kalau Al cuma bercanda, Pah."


"Lalu, Lyli?"


"Kalau dia baper ya Al nikahin aja dia, laki-laki kan boleh menikah lebih dari satu," jawab Al. Ekspresinya sudah mulai santai bahkan ia bisa tertawa.


"Hahaha. Tidak, Pah. Al serius bercanda. Lyli dalam waktu dekat juga akan izin dalam kurun waktu agak lama, kok," kata Al dengan percaya diri.


Sedangkan Vano hanya mengerutkan alisnya, bingung dengan maksut Al barusan.


"Kenapa?"


"Dia mau menikah, Pa. Dan setelah itu aku juga tidak yakin dia akan kembali bekerja di sini lagi atau tidak,"


"Hah, bagaimana kau bisa tahu semuanya?" Vano benar-benar terkejut dengan apa yang Al katakan.


"Ya tau, lah, Nikah sama Vico,hahaha."


"Kita doakan saja yang terbaik buat dia," ucap Vano sambil terus fokus dengan kemudinya.


🍁 🍁 🍁


Nayla benar-benar emosi dengan tingkah Lyli hari ini, ia tak bisa tahan lagi, dengan kemarahan yang meluap-luar, ia menhampiri gadis itu yanv tengah sibuk di dapur menyiapkan hidangan makan siang.

__ADS_1


"Kak Lyli, apakah kau berniat merebut suamiku terang-terangan di depanku?" tanya Nayla dengan tatapan sakit serta beruraian air mata.


Mendengar ucapan itu, Lyli menyudahi pekerjaannya, ia meletakan semua alat-alat yang dipegang dan memutarkan badan menghadap ke arah Nayla.


"Mbak, tak kasih tahu, ya? Mas Al suamimu itu bukanlah barang atau boneka yang bisa diperebutkan, dia manusia bernyawa yang punya hati dan pikiran. Kalau niatnya cukup satu denganmu saja, tak ingin dengan yang lain sekeras apapun saya berusaha merayu, membuatnya tertarik, hal itu tak akan terjadi. Tapi tadi pagi, tidakkah mbak Nay dengar dia yang meminta saya dan Nona Hanifah untuk jadi istri mudanya, saya menolak karna cukup tahu diri saya tak pantas bersanding dengannya, lalu, di mana saya merebutnya Mbak?"


"Lalu, kenapa kau menyetrikakan bajunya? Dan mengalungkan dasi itu pada lehernya? Kau berani lakukan itu di depanku, Kak."


"Haduh, Mbak Nay, aku tuh heran sama kamu, otakmu itu isinya apa, sih? Saya di sini bekerja jadi pembantu, wajar, kan kalau membantu kerjaan majikan saya? Dia menyetrika bajunya sendiri, sedangkan tuan Vano menunggunya di luar. Kalau tidak ingin saya bantu dia, kenapa tidak mbak Nay ambil alih saja? Itu masalah sepele jangan deh dibesar-besarin. Dan soal dasi, apa mbak Nay gak lihat kedua tangan mas Al membawa banyak barang? Wajar dia menunduk karena dia tinggi dan saya pndek, kalau mau bertengakar, anda salah tempat. Di keluarga ini selalu adem-adem saja. Kalau pun jadi panas mbak Nay kompornya."


Dengan ketus Lyli menjawab dan membalikan badan lalu, berputar kembali menghadap ke arah Nayla.


" Dan, satu lagi! Anda tidak layak mencemburui nona Quen. Sekalipun mas Al hanya anak angkat seperti yang kau tahu, Mereka sudah hidup sejak bayi. Nona Quen anggap mas Al sebagai kakak kandung. Dia juga tidak suka orang berusaha mengambil alih posisinya. Bagi dia adik mas Al hanya dia seorang. Sekalipun dia tahu dari Nyonya Jeslyn memiliki adik laki-laki, Nona Quen tak pernah izinkan mas Al menemuinya. Mas Al hanyalah kakak dia seorang. Pikirkan saja, bagaimana mungkin jika dia menyukai mas Al apakah diizinkan dia menikahi wanira lain selain dirinya? Pikirkan! Kau sebagai wanita pilihan mas Al, maka tunjukan sikap baikmu sebagai kakak ipar pada nona Quen jangan malah diam-diam menikam dari belakang!"


Lyli pun mematikan kompor lalu pergi begitu mendengar suata dari mesin cuci yang menandakan pakaian di dalamnya sudah siap dikeluarkan.


Nayla diam membeku di tempatnya. Rupanya kata-kata Lyli barusan benar-benar menusk hatinya.


Ya tidak salah yang dikatakan Lyli, hanya Nayla saja bisa mencerna kata-kata Lyli apa tidak.


Sejak saat itu Nayla jadi pribadi yang banyak diam dan murung di dalam kamarnya, saat makan bersama pun, dia juga sering kali di tegur Quen karna banyak diam.


🍁 🍁 🍁 🍁


Satu minggu berlalu, semua menjalani kehidapan sehari-harinya dengan normal, Jeslyn Eren dan keluarganya sudah kembali ke negara asal.


Tapi, Al. Sepertinya masih betah tinggal di tanah air, terlebih ia sering terlibat dengan masalah perusahaan dari kakek Andrean yang kini di jalankan Vano. Harusnya Quen. Tapi anak itu lebih memilih menjadi dokter saja.


"Bagaimana rencanamu kedepannya, Al?" tanya Andreas saat semuanya berkumpul di teras belakang menikmati kebersamaan di sore hari.


"Mungkin Al akan menetap di Indo saja, Kek. Ke Jepang beberapa minggu sekali atau pas ada kepentingan saja, kan semua juga sudah tertata rapi, biar Al juga bisa bantu-bantu papa."


Andreas mengangguk-angguk paham dengan maksut cucunya. Al memang berbakat dalam duania bisnis dia sangat cerdas jadi, wajar saja kalau dia bisa merangkap dua pekerjaan sekaligus dengan mudah.


"Lalu Alex dan Quen kapan berangkat ke New York? Apakah kaliar berangkat bersama Aditya dan Novita juga?" tanya Clara yang tengah berdiri di belakang Vivian sambil memijati kedua pundak mamanya.


"Minggu depan, Ma. Ya, Kami akan berangkat berlima, dan memberi kejutan pada mama mertua yang belum tahu kalau ia punya mantu," jawab Quen ceria.


Bayangan Author untuk cast Hanifah yang rada-rada genit tapi susah serius kek begini ini nih


__ADS_1


cocok kan kalau jadi cewek suka dugem?😂😂😂


__ADS_2