
"Siapkan air force land untuk penerbangan ke prancis. Teliti semua sebelum berangkat pastikan semua baik," ucap Al menelfon anak buahnya.
"Ya, digunakan besok lusa jam sembilan pagi." pria itu pun mematikan panggilannya dan kembali masuk ke dalam menemui kedua orang tuanya yang mulai mempersiapkan segalanya.
"Rencana berapa hari di sana, Pa?" tanya Al sambil dudul di sebelah Vabo yabg tengah asik dengan kertas-kertas di hadapannya.
"Papa dan mama maunya dua minggu. Tapi tidak tahu bagaimana dengan kakek nenekmu, mau apa tidak. Kau tahu sendiri bagaimana kedua kakekmu itu, kan?"
"Ya, tidak bisa lama-lama jauh dari empang," jawab Al dan keduanya sama-sama terkekeh.
"Van, tolong ambilkan satu koper lagi di gudang, donk!"
Terdengar teriakan Clara dari dalam. Mendapati papanya sedang sibuk, Al segera beranjak mengambilkan.
"Papa lanjutin aja dulu, biar Al yang mengambilkan koper mama untuk Papa," ucap pria itu, dan Vano pun menyetujuinya.
Tiba di gudang ada dua buah koper berukuran besar dan sedang. Tapi, Al tidak tahu mana yang diinginkan mamanya. Jadi, pria itu mengambil dua-duanya.
Di seretnya dua koper itu dan membawanya ke kamar Clara. Dari ambang pintu yang terbuka lebar ia melihat mamanya tengah sibuk menyiapkan ini itu. Jiwa kejantanannya ingin sekali memeluknya dari belakang dan berbisik, "Jangan terlalu lelah, masih ada waktu besok. Perlu ku bantu?"
Tapi, itu hanya ada dalam khayalan Al. Jika dia nekat... Sudah jelas Clara akan marah dan kecewa padanya, dan Vano? Entahlah, bisa-bisa dia dicincang dan digoreng pada saat itu juga.
"Mah, ini yang mana?" Hanya itu yang terucap dari bibir Al setelah tigapuluh detik mengamati wanita itu dari belakang.
"Oh, kau yang mengambilkannya sayang? Coba semuanya bawa sini biar mama lihat!" serunya.
Al berjalan menuruti permintaan Clara. Diberikannya kedua koper itu lalu, dia pun duduk di tepi ranjang. Matanya lekat memandangi wanita yang ada di hadapannya nyaris tak berkedip.
Usai menyiapkan semuanya, Clara sadar kalau putranya mengamatinya sedari tadi. Ia pun memandang balik sambil tersenyum. Terlebih, Al tidak menghindari tatapan mata mama angkatnya itu.
"Hay, kenapa Vano junior memandang mama dengan tatapan melas kaya bocah terlantar gitu?" ucap Clara sambil menyeka kringat di dahinya dengan punggung tangan kanannya.
"Tidak, Al sayang banget sama mama. Melebihi ibu kandung. Kadang ingin peluk mama, tapi ... " Al diam tidak melanjutkan kalimatnya.
"Tapi kenapa? Malu karena sudah besar? Sini mama peluk!" Clara membuka tangannya lebar-lebar. Dengan sedikit ragu Al beranjak memeluk wanita itu. Perasaan hangat menjalar ke seluruh tubuh Al saat keduanya saling mengeratkan pelukannya.
"Kau tahu, Al? Bagi orang tua terlebiu seorang ibu, putra dan putri mereka itu tetaplah anak-anak yang perlu disayang dan dimanja sekalipun sudah dewasa," bisik Clara. Membuat Al memejamkan mata dan semakin menikmatinya.
"Hey, sadar Al. Kendalikan emosi mu. Dia ibumu jangan main api," kata hati Al mengingatkan. Dengan cepat Al melepaskan pelulannya dari Clara.
Clara tersenyum sambil memegangi kedua pipi putranya itu. "Lihatlah dirimu! Rasanya baru kemarin mama menggandengmu mengajak kemanapun mama pergi sambil menggendong Quen, sekarang kau sudah tumbuh jadi pria dewasa dan tampan. Bahkan, tinggimu melebihi mama, loh." Clara berjinjit mencium pipi Al agak lama.
Hal itu membuat Al tersipu malu dan sedikit nervous, tak ingin salah tingkah di depan mama sendiri, Al menepuk jidatnya sendiri berlagak baru saja melupakan sesuatu.
"Aduh, Ma. Al lupa kalau ada janji sama Martin. Al pergi dulu, ya? Bye Mama." Bahkan Al menyempatkan mencium balik pipi mamanya dan segera pergi berhambur keluar.
Begitu masuk ke mobil dia memacukan kendaraannya buru-buru sebelum ada seseorang yang menghentikannya. Ia hanya butuh sendiri dulu untuk menikmati sisa-sisa kebahagiaannya yang barusan dan susah di ungkapkan itu.
Di dalam mobil Al tersenyum seorang diri menikmati sisa hangatnya ciuman dan pelukan Clara. Jika Clara mengartikan sebagai ungkapan kasih sayang seorang ibu pada anaknya, maka Al mengartikannya beda. Walau Al sudah berusaha keras membuang rasa cinta melebihi anak dan ibu, tapi, tetap saja dia tidak bisa.
"Beda ya, dipeluk wanita yang benar-benar dicintai sama yang tidak itu? Sekalipun dia menganggapku bocah, tak masalah," gumam Al seorang diri.
Bahkan sebelah tangannya ia buat meraba dadanya. Lalu pipi dan lagi-lagi dia tersenyum seroang diri seperti orang gila.
Ketika ia mengacukan kendaraannya hendak ke cafenya Martin. Tiba-tiba papanya memberi pesan suara singkat yang meminta agar dia menandatangani proyek di kantor.
__ADS_1
Al pun membatalkan niatnya, dengan segera ia ke kantor dan menemui Jevin meminta berkas-berkas yang perlu ditandatangani.
Tiba di area parkir Nayla menelfonnya. Sambil berjalan, pria itu menerima panggilan.
"Halo, Nay, ada apa?" jawabnya denhan lembut.
"Kau di mana, Mas? Aku masakin sup iga bakar kesukaanmu, loh," jawah wanita itu, dari nadanya sudah bisa di tebak kalau dia sangat senang.
"Aku ada di kantor, baru saja tiba."
"Perlu aku antarkan ke sana sekarang, Mas?"
"Boleh, silahkan aja. Aku tunggu." Al pun mematikan panggilannya dan segera masuk ke ruang di mana biasa ia dan papanya bekerja.
Cukup lama Al menunggu kedatangan Jevin tak kunjung juga datang. Ia pun akhirnya membuka laptop meneliti kembali hasil kerjaan para karyawannya.
Lima menit kemudian tersengat suara ketukan pintu. Tanpa menoleh Al memintanya masuk.
"Selamat siang, Pak." seorang pria berbadan sedsng dengan kulit sawo matang rambut cepak rapi masuk membawa map berisi beberapa berkas.
"Jevin, ayo masuk sini! Kamu duduk. Bagai mana sudah kamu cek belum surat kontraknya?" tanya Al.
Jelas hal itu membuat Jevin juga bertanya-tanya apa kiranya yang metasukimu pak Al. Tumben ramah? Bahkan dia ragu kalau yang di depannya ini adalah putra pak Vano.
"Sudah saya cek, Pak. Tapi, anda teliti lagi, ada salah satu kontrak yang nampaknya sedikit ambigu, kalau gak jeli-jeli kita, hanya akan mengutungkan pihak sana dan kita yang hanya akan dapat capek dengan sedikit keuntungan.
"Coba sini yang mana?"
Al meneliti kembali surat itu dan benar saja. "Ok. Kau boleh pergi dulu, biar ini saya yang atur," ucap Al.
Entah dia yang terlalu bingung dan gak fokus atau apalah, tau-tau dia bertabrakan dengan seseorang. Beruntung keduanya berjalan santai, jadi, tidak meninmbulkan benturan dramastis seperti pada novel dan drakor yang membuat semua barang bawaan jatuh berserakan di atas lantai.
"Sory, sory. Maaf," ucap Wanita itu menunduk.
Jevin mengamati wanita itu, sepertinya familiar mereka pernah bertemu sebelumnya, tapi di mana?
Sesaat kemudian ia tersenyum. Rupanya dia mengingat sesuatu.
"Mbak, kamu tuh emang ceroboh, ya? Beberapa minggu lalu masuk mobil saya anda kira saya taxi online. Dan sekarang nabrak saya. Anda ceroboh atau kita jodoh?" pria itu pun terkekeh.
Dengan memberanikan diri Nayla mendongak ke arah pria itu. Dan... Ternyata benar dia pernah salah masuk ke dalam mobilnya, "Heh, awas kamu, ya?" Nayla tak meneruskan kata-katanya. Ia pun buru-buru masuk ke dalam ruangan Al.
Sepintas Jevin melihat kemana Nayla pergi. Tapi, ia masih belum yakin kalau dia masuk me dalam ruangan bosnya. Pak Al.
Nayla mengetuk pintu perlahan. Ia pun masuk begitu mendengar sahutan dari dalam.
"Mas," panggil wanita itu.
"Oh, kamu Nay. Sini duduk. Bentar ya lima menit lagi. Habis itu kita makam bareng." Bahkan mata pria itu tidak sedikitpun berpaling dari lembaran-lembaran kontrak dalam genggamannya.
Nayla hanya tersenyum. Hal seperti ini adalah wajar baginya. Malah mungkin ini yang terbaik. Sebab, Al mau dikirim makanan, dua Al sedikit banyak bicara padanya.
Hanya saja sayang, dia tidak tahu siapa wanita yang membuat mood suaminya sebagus ini.
🍁 🍁 🍁 🍁
__ADS_1
Hari ini Quen tidak ada jadwal praktik. Ia hanya bersantai di rumah saka bersama Alex. Sementara Alex tugas mengajarnya juga masih nanti jam sembilan pagi.
"Sayang, bagaimana kalau habis sarapan kita olahraga bareng?" tawar Alex saat di meja makan.
"olah raga apa?"
"Senam untuk bumil, aku pandu, biar saat lahiran nanti mudah. Jangan sampai oprasi secar, ya?"
"Iya, mau. Di mana?" jawab Quen antusias.
"Di halaman depan saja sejuk, bagaimana?"
"Ok, boleh deh," dengan cepat Quen menghabiskan sarapannya yang baru saja mereka beli di depan kompleks perumahan. Karena si debay dalam.perut tiap pagi kalau gak nasi uduk pasti nasi pecel yang diminta.
Usai menghabiskan makanannya Alex dan Quen menuju halaman belakang. Langakah awal yang Alex ambil adalah gerakan yoga, seban, selain ringan, yoga mampu merilexkan pikiran serta melancarkan aliran darah agar tubuh lebih fresh dan bugar. Meskit tidak semua gerakan yoga mudah untuk dilakukan. Kali ini Alex sengaja memilihkan yang mudah untuk istrinya.
Baru duapuluh lima menit keduanya berolah raga, bibi memberitahukan kalau ada tamu. Ternyata Novita, Adit dan Axel.
"Hay, sepagi ini kalian berdua sudah berkeringay aja?" ucap Novita.
"Alex, kak ngajak yoga, biar debaynya rilex dan mudah saat lahiran nanti," jawab Quen sambil tersenyum.
Novita berjalan menghampiri Quen. Ia mengelus perut iparnya yang sedikit membuncit karena memakai pakaian yang agak ketat.
"Sehat terus, ya keponakan tante... Paling cantik apa ganteng, ini?"
"Paling cantik," sahut Alex, cepat.
"Ye, yang ngandung Quen yang tiba-tiba riques cewek kok kamu, sih?" ledek Novi pada adik semata wayangnya.
"Memangnya kenapa? Kan aku ayahnya. Tanpa aku Quen juga gak bakal hamil, kok. Iya kan sayang?" jawab Alex sambil cengar-cengir gajelas.
Mendengar perkataan Alex, Quen benar-benar malu, wajahnya tersipu malu, jadi, ia hanya mendengus kesal dan menjawab, "Hmmmb, gak tahu."
Bahkan, Novi pun tampak kikuk dibuatnya. Memang yang dikatakan Alex benar, tapi, di sini ada anak di bawah umur, apakah harus diungkapkan begitu? Bagaimana kalai dia bertanya aneh-aneh?
"Benarkah, tante Quen bisa hamil di dalam perut ada adik bayinya karna om Alex, Ma? Emang bagaimana caranya memasukan adik bayi ke dalam perut, Ma? Kalau udah jadi bayi, ngapain repot-repot dimasukan kalau mengeluarkannya saja susah?"
Dan benar saja, apa yang dikhawatirkan Novita benar benar terjadi. Wanita itu pun melotot sambik menyebut nama Alex penuy dengan amarah tertahan. Tapi, bukannya seram atau menakutkan malah sebaliknyan ekspresi mukanya tampak jenaka.
"Aleeeeex! Ini gara-gara kamu, ya?" geramnya sambul mengepalkan kedua tangannya.
Sedangkan Alex lagi-lagi cuma nyengir dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Quen pun duduk berjongkok di depan Axel dan bertutur dengan lembut, "Axel mau tau bagaimana ada debay di dalam perut?"
"Iya, Tante, katanya Axel dulu juga jadi bayi dulu," ucap bocah itu dengan polos.
"Begini, pasangan yang sudah menikah karna saling sayang, akan dianugerahi keturunan berupa bayi yang dikandung istri oleh tuhan. Jadi, bukan bayi dimasukan dan terlahir lagi. Kita tidak pernah tahu kapan bayi itu akan ada pada perut seorang wanita yang sudah menikah. Karena bayi itu adalah amanah dari tuhan yang harus di jaga. Jika seorng segera memiliki anak, artinya tuhan percaya dia akan bisa menjaga titipannya. Tapi, jika sudah lama menikah istri tak kunjung hamil, artinya tuhan masih belum kasih kita kepercayaan. Sampai di sini Axel mengerti?" tanya Quen lagi.
"Iya, mengerti Tante. Benar kan, Ma. Tanpa om Alex tante tak akan bisa hamil? Selain mereka sudah menikah dan saling sayang, tuhan sudah percaya!" Seru bocah itu. Membuat Novi dan Alex tertegun kagum. Sementata Aditya, dia paham bagaimana Quen. Karna selama tiga tahun kenal, kemana pun mereka pergi jarang jika hanya berdua saja. Pasti Axel juga akan turut serta.
"Ok, Axel sudah paham, bukan? Ayo kita sarapan. Kakak bawakan kalian puding sutra," ajak Novita bersemangat.
"Kami baru saja sarapan, sih Kak," jawab Alex dengan nada tidak enak.
__ADS_1
"Kan tadi, tiga puluh menit yang lalu dan kita baru saja senam, aku sudah lapa lagi, ayo makan. Aku mau," jawab Quen. Dan akhirnya Alex pun menurut juga ikut makan bersama.