Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION 2 PART 21


__ADS_3

"Nyah, mas Al nanti mau ajak saya keluar," ucap Lyli saat menyiapkan sarapan bersama Clara.


"Kalian mau ke mana?" Dengan santai Clara bertanya balik.


Lyli nampak bingung karena dia memang tidak tahu akan ke mana dia diajak. Dia ***-remas kain celemeknya dan membuat lilitan lilitan di jarinya dengan ujung celemek putih itu.


"Mas Al belum bilang mau ke mana, tapi bilangnya pagi, Nyah. Apa sebaiknya saya beres-beres rumah saja dulu sekalian jemur baju biar cepat selesai?"


Clara menoleh untuk melihat ekspresi Lyli. Dia tersenyum penuh isyarat. Beberapa detik dia mengamati Lyli yang tengah mrmberanikan diri untuk izin.


"Jika kau mau pergi, ya pergi saja. Buruan mandi, dari pada Al menunggumu lama."


"Tapi, bagaimana dengan pekerjaan rumah, Nyah?"


"Biar aku dan Quen yang ngerjain. Kamu mandi dan nanti ikut sarapan bareng," ucap Clara dengan sabar.


Tanpa Clara duga, Lyli menghampiri dan memeneluknya sambil berucap banyak-banyak terimakasih. Lyli pun sebenarnya juga tanpa sadar melakukan hal itu, dia hilang kendali begitu saja mendengar pernyataan Clara tanpa harus bernegoisasi.


Diam-diam gadis itu sangat mengidolakan Clara. Dari cara berpakaian, sikap prilakunya semuanya dia ingin mencontohnya.


"Hahaha, berapa tahun kau bersamaku tak pernah sekalipun kau memeluku, Lyli. Apa karna aku ini calon mertuamu?" ucap Clara sambil tertawa.


"Aduh, Nyah... Maaf saya tidak sengaja, semua ini saya lakukan secara reflek," ucap Lyli. Tiba-tiba saja wajahnya memucat karena malu atau apalah. Susah di jelaskan.


🌸 🌸 🌸 🌸


Quen berjalan akan menuruni tangga. Sambil bersiul, dia mengikat rambut panjangnya dengan asal. Ia menghentikan langkahnya tiba-tiba begitu melihat ke dalam kamar Al yang terbuka sedikit.


Ia berputar dan masuk ke kamar Al.


Dilihatnya sang kakak yang tengah sibuk menyisir rambutnya. Kakak laki-laki satu-satunya. Terlihat sangat tampan dan memikat dengan rambut basahnya serta setelan kaus hitam dan celana jeans panjang berwarna biru gelap. Memamerkan kaki jenjangnya yang membuat dia semakin menjadi idola setiap wanita.


"Tumben sepagi ini sudah mandi, Kak," sapa Quen begitu masuk ke dalam kamarnya.


"Dari dulu kakak juga begit bangun kangsung mandi, Quen. Emangnya kamu? Keluar aja kadang cuma cuci muka," Ledek Al sambil menyemprotkan parfum ke tubuhnya.


"Baiklah. Tumben sudah rapi, mau ke mana?"


"Mau ajak calon kakak iparmu jalan-jalan. Kau mau ikut?"


Quen mengeleng sambil tersenyum. Sementara tangannya masih di lipat di depan dadanya.


Al memperhatikan adiknya yang masih kucel dengan muka gadis khas bangun tidur. Diam-diam dia merasa gemas dengan penampilan Quen pagi ini.


Kecantikannya lebih natural. Bahkan menurut Al, adiknya lebih cantik seperti ini dari pada berdandan.


"Quen, kau tahu? Kau itu lebih cantik seperti itu dari pada berdandan seperti apapun," ucap Al sambil memasang jaketnya.


"Lalu, maksutmu aku kuliah dan pergi ke mana pun gak usah mandi atau sisiran, begini saja gitu?" protea Quen merasa konyol.


"Ya tidak, tapi terlihat lebih natural, kakak suka aja melihatnya."


"Hentikan omong kosongmu, aku lapar mau makan," ucapnya sambil pergi meninggalkan kakaknya.


"Selamat pagi, Papa," sapa Quen saat melihat Vano duduk di ruang tengah dengan laptop di hadapannya.


"My Quen sudah bangun kau sayang? Kemarilah!" ucap Vano sambil meraih putrinya untuk duduk di sebelahnya.


"Quen uda bangun dari tadi lah, Pa." protes gadis itu sambil melihat apa yang tengah dipelajari papanya.


"Ya, Papa tahu, tapi habis subuh kau selalu tidur lagi. Iya, kan?"


"Habis ngantuk Pa tidak ada kegiatan."


"Bagaimana kalau mulai besok kita joging saja setelah subuh, kita balik saat jam sarapan," usul Vano.


"Boleh, Pa. Papa memang yang terbaik." Gadis itu memeluk papanya dengan rasa bangga.


Usai sarapan, Al dan Lyli benar-benar pergi, sementara Quen. Yang kebetulan tidak ada acara hari ini, di diminta mamanya untuk menyapu dan mengepel seluruh ruangan lantai atas dan bawah. Dan juga termasuk merapihkan sisa-sisa sarapan.


Sementara Clara. Dia bagian mencuci semua baju orang rumah, mecuali milik Lyli. Gadis itu memiliki kebiasaan saat mandi sekalian mencuci pakaian kotonya.


Quen sudah menyelasaikan tugasnya, tinggal mengepel ruang tamu saja yang belum dia kerjakan.


Ketika mengepel baru dapat setengahnya. Datang seorang tamu tak lain adalah Gea.


"Quen... Wow rajin sekali kau?" ucapnya saat melihat temannya penuh dengan peluh mengepel dengan penampilan yang dapat di kata kucel. Rambutnya terikat asal hingga banyak anak rambut yang berantakan mengenai wajahnya.


"Kenapa kau kemari tidak menelfonku dulu?" tanya Quen balik.


"Ponselmu tidak bisa dihubungi, aku tidak sendiri lo, Quen."

__ADS_1


"Terus, kamu sama siapa?"


"Siapa cobak? Aku mengajak Alex," ucap Gea lalu duduk di kursi tamu.


Benar saja, tak lama kemudian muncul seorang pria berbadan tinggi. Dari balik pintu.


Harusnya Quen tidak akan kenapa-napa. Tapi, lama tidak bertemu, tepatnya sekitar empat bulan lalu pria itu banyak berubah dari segi penampilan. Quen nampak terkcekat dari tempatnya dengan kedua tangan masih memegang gagang pel-pelan.


"Siapa yang datang, Quen?" ucap Vivian dari dalam.


Quen mengerkapkan matanya lalu tersadar, betapa konyolnya dia. Mirip drama dalam komik saja begitu datang tokoh pria yang merupakan mantan dari tokoh cewek, si cewek terpaku.


"Hati-hati, Nenek! Di situ masih basah nanti kau terpeleset," teriak Quen.


"Ya sudah. Tinggalkan saja pekerjaanmu, kau mandilah lalu temani tamu mu. Biar nenek yang mengambilkan minum!" Seru Vivian lalu berjalan ke dapur.


Quen tidak menjawab sepatah kata pun. Dia langsung saja melanjutkan mengepel yang tinggal sedikit.


Sementara mata Alex tidak pernah berpaling dari gerakan lincah gadis di depannya yang tengah mengepel dengan pekaiannya yang sexy. Hot pats dan kaus oblong yang dilipat bagian lengannya jadi lebih pendek.


Meaki pun kaus itu nampak kedodoran di badan Quen. Body sexynya tetap saja tertonjol membuat Alex seolah lupa berkedip.


Vivian pun ke ruang tamu dengan dua gelas minuman rasa melon dan satu toples kecil berisi kacang mede.


"Kalian temannya Quen kuliah, ya?" sapa Vivian ramah.


"Iya, Nek. Kalau saya teman sajak SMA dulu," jawab Alex.


Vivian pun duduk menemani mereka ngobrol sambil menunggu Quen datang.


"Teman satu angkatan? Nenek yang lupa, apa memang tidak pernah ke sini, ya?" tanya Vivian sambil menatap wajah Alex.


"Tidak pernah ke sini, Nek. Baru kali ini." Alex menunduk malu-malu.


"Ya sudah ayo di minum, dan di makan itu kue nya. Nenek akan panggil Quen agar dia cepat sedikit." Vivian pun berlalu meninggalkan mereka berdua di ruang tamu.


Tiga puluh menit kemudian Quen turun dengan jelana jeans panjang sobek-sobek dan kemeja panjang yang di lipat kengannya sampai siku.


Dengan percaya diri Quen turun menemui dua orang tamunya. Dan dengan Alex dia masih bisa tenang seolah keduanya tidak ada apa-apa. Mengobrol pun keduanya juga nampak rilex.


🌸 🌸 🌸 🌸


Al mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sudah berapa jam berada dalam mobil.


"Ke Ancol."


"Hah?" Gadis itu nampak bengong. Sedari kecil dia ingin sekali mengunjungi tempat itu, karena ingin memikmati keindahan pantai dan mencoba wahana yang ada di sana. Memang dia tidak pernah masuk ke dalamnya. Tapi, dia tahu hanya dari iklan TV dan teman-temannya yang pernah ke sana lalu bercerita.


"Ke Ancol, Mas?" tanya Lyli sekali lagi.


Gadis itu masih belum percaya atas apa yang di dengarnya.


"Iya, kenapa? Kamu tidak suka?"


"Bu... Bukan begitu, Mas. Aku sangat ingin sekali ke sana. Dan sekarang Mas Al mengajakku," jawab Lyli bahagia dengan matanya yang berkaca-kaca karena terharu.


"Kelak aku janji sama kamu. Akan mengajakmu ke tempat mana pun yang ingin kau kunjungi, termasuk juga luar Negeri," ucap Al.


Setiba di Ancol Al menggandeng tangan Lyli mengajak ke seaword. Lyli merasa bahagia ketika Al membelikannya tiga secop es krim cone dan sebuah boneka dolfi berukuran besar.


Di sana dalam miniatur laut Al menjelaskan sesuatu yang tidak ada keterangan tertempel pada dinding aquarium.


Lyli menatap Al kagum. Dilihatnya oria itu yang tengah berbicara sajabegitu nampak cool.


Keluar dari seaword. Al mengajak Lyli untuk mencoba wahana roller coaster halilintar.


"Mas Al mau ajak aku naik ini?" tanya Lyli ragu


"Ya, kenapa? Kau tidak mau?" Al menangkap kecemasan dari minik gadis di hadapannya. Dia baru tahu kalau Lyli takut ketinggian dan sesuatu yang mengundang adernalin.


"Jika kau tidak mau ya sudah, ayo kita pergi!" Seru Al melangkah dengan ekspresi yang nampak kecewa.


"Tunggu! Baiklah Mas. Ayo kita coba," ucap Lyli memegangi pergelangan tangan Al.


"Bukannya kau takut?"


"Tidak, aku harus mencobanya untuk melawan ketakutanku." Gadis itu tersenyum meyakinkan pasangannya.


Al tersenyum miring. Misi untuk memancing persetujuan Lyli berhasil tanpa dia meminta atau pun memohon.


Lyli pun sebenarnya juga sangat takut. Tapi, demi orang yang disayanginya dia reka melakukannya. Dia tidak ingin Al kecewa.

__ADS_1


"Ini hanya permainan dan berfikirlah sesuatu yang menyenangkan di atas sana. Tidak akan terjadi hal buruk terhadapmu, percayalah!" Seu Al meyakinkan.


Mereka duduk di kursi urutan nomor tiga, dua kali Al memeriksa sabuk pengaman Lyli benar-benar dalam keadaan benar atau tidak.


Wahana mulai bergerak perlahan Lyli menguatkan pegangan tangannya pada sabuk pengaman dengan mata terpejam.


Lyli merasakan adernalinnya mengalir saat roller coaster bergerak cepat. Ia merasa dirinya dilempar dalam jurang yang dalam berkali-kali.


Al melihat ke arah Lyli yang semakin nengratkan pejaman pada matanya.


"Lyli, buka matamu, angakt kedua tanganmunke atas dan berteriaklah sesukamu!"


Lyli membuka mata saat roller coaster tepat pada posisi 380°. Dan benar saja. Dia bertetiak sekencang-kencangnya.


Permainan selesai sekitar dua menitan lebih. Memang begitu singkat, tapi, meninggalkan kesan yang sangat lama. Kedua lutut Lyli  terasa lemas tak bertenaga. Di sisi lain, ia merasa lega seolah ada beban berat yang lolos bersama dengan teriakannya tadi.


"Aku tidak dapat merasakan kakiku," Ujar Lyli, berusaha tertawa.


"Ayo Lyli keluarlah, atau kau ingin mengikuti putaran selanjutnya?" Seru Al, tertawa melihat ekspresi Lyli.


Seluruh badan Lyli terada bergetar, ia hampir saja merangkak dengan berjalan memegangi kedua lutunt dengan tangannya.


"Gadis ini, benar-benar...." umpat Al dalam hati, masih tertawa.


Tanpa berkata apa-apa, Al mengangkat tubuh Lyli mengendongnya. Tak peduli meski dirinya tengah menjadi pusat perhatian pengungjung Ancol.


"Mas, Al! Apa yang kau lakukan? Cepat, turunkan aku, aku malu, Mas." Lyli meronta-ronta dalam gendongan Al.


Tapi, Al tetap melangkah tanpa menggubris permintaan Lyli.


"Mas, apakah kau tidak malu dilihatin orang-orang?" protes Lyli sekali lagi.


"Dari pada mereka melihatmu merangkat seperti tadi, kira-kira apa yang ada dalam pikiran mereka? Sudahlah! Aku kemari dengan pacarku, tidak dengan seekor kucing."


"Baiklah, turunkan aku sebentar, beri waktu aku, lalu, aku akan baik-baik saja," ucap Lyli.


Kali ini, Al menuruti permintaan wanitanya, dia nenurunkan dan membuarkan gadis itu berjongkok sebentar. Lalu keduanya perginke sebuah restoran pinggir pantai untuk makan siang.


🌸 🌸 🌸


Malam itu Quen bersama Vivian tengah membantu Clara menyiapkan hidangan makan malam.


Masih dengan celana yang sama, Quen mengenakan kais putih sedikit transparan dan bagian pundaknya lebar, hingga dapat memamerkan kedua sisi pundak gadis itu.


"Kami pulang!"


Quen menoleh, dilihatnya Al dan Lyli yang baru saja berlibut sambil menggendong boneka dolfin biru.


"Kalian sudah tiba, ya? Ya sudah mandilah dan ayo makan malam bersama," ucap Quen begitu meletakan hidangan berkuah di atas meja.


Lyli sudah pergi ke kamarnya sementara Al masih sibuk mengamati adiknya.


"Kenapa kakak tidak cepat-cepat mandi dan berganti pakaian?"


Al tidak menjawab selain tetap menatap ke arah Quen.


'Apakah ada yang salah dengan pakaianku?' batin Quen. Karena gadis itu sangat paham betul dengan sifat abangnya.


Ia pun pergi meninggalkan Al yang masih mematung, ketika masuk ke dalam dapur, ia baru menyadari kalau kaus yang dikenakannya terlaku tipis hingga bentuk dan warna bra nya terlihat. Terlebih ia berkeringat, sehingga kaus itu menempel membentuk bodynya.


"Hahahaha!"


"Kenapa kau tertawa sendiri, Quen?" tanya Vivian.


"Tidak apa-apa, Nek. Aku saaaayang Nenek dan juga Mama. Karena semua sudah beres,Quen mandi dulu."


Gadis itu pun berhambur meninggalkan dapur. Sementara Clara dan Vivian hanya saling pandang, serta menggelengkan kepala bersamaan.


"Pasti dia baru saja dikritik Al mengenai pakaiannya, persis sepertimu dan Vano dulu, ya?" ucap Vivian sambil tertawa.


"Ya beda lah, Ma. Clara tidak pernah berpakaian sesexy dia, lah." protes Clara.


"Ya sudah, ayo kita selesaikan, suami dan beserta ayah dan mertuamu pasti sudah sangat kelaparan, itu," ujar Vivian mengehentikan perdebatan.


Quen melintasi depan kamar Al, ia bermaksut untuk mandi karena badannya sudah terasa gerah dan lengket.


Tapi, tepat di depan kamar kakaknya, gadis itu mendengar percakapan sang kakak dengan nada serius lewat sebuah panggilan seluler.


Merasa penasaran Quen berhenti dan mengintip ke dalam.


"Astaga, Kakak," umpat Quen seorang diri mendapati kakaknya hanya mengenakan litam handuk yang nya menutupi pinggang sampai paha.

__ADS_1


Rupanya pria itu baru saja mandi. Merasa tidak enak, Quen pun segera pergi ke kamarnya untuk mandi.


__ADS_2