Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
Episode 67


__ADS_3

Setiba di rumah sakit jiwa, Queen cukup iba juga melihak kondisi Lyli.


Tapi, rasa iba itu hilang Ketika dirinya teringat perbuatan Lyli yang membuat


dirinya hampir saja kehilangan putrinya untuk selama-lamanya. Belum lagi, kecelakaan maut yang menewaskan kakek dan neneknya, membuat kakek Andrean lumpuh dalam kurun wanktu yang lama, membuat papa dan mamanya koma sampai dua tahun lebih, dan terakhir, ia malah benar-benar membunuh mereka.


“Al, sudah. Aku mau pulang saja. Aku mau dia tetap di kurung


di sini. Tak usah diobati biarkan seumur hidup di sini dan mati begini,” ucap Queen lalu mengajak suaminya pergi.


Setelah Al dan Queen pergi, kembali Lyli diperlakukan dengan


buruk. Oleh anak buah pak Darto tentunya tanpa sepengetahuan pihak rumah sakit. Sebab, di rumah sakit jiwa mana pun, perawat atau dokter sekalipun tidak bisa


berbuat seenaknya sendiri pada pasien apalagi melecehkannya beramai-ramai.


Lily tidak menyangka kalau ini akan terulang lagi pada


dirinya. Kurang lebih duapuluh orang melecehkan dirinya. Dia digauli oleh


berbagai lelaki dan senjata berbagai ukuran sampai sangat lama sekali tanpa jeda. Tanpa belas kasihan. Tak ada satupun yang menolongnya. Karena, di dalam


ruang isolasi tersebut, ruangannya kedap suara. Jadi, ia hanya bisa menangis dan meratapi nasibnya. Rasa pedih dan sakit pada kewanitaannya sungguh


membuatnya tersiksa. Sekitar pukul tiga dini hari, mereka semua bubar dan meninggalkan dirinya seorang diri di dalam ruangan itu tanpa penerqng apapun.


Jadi, siapapun yang melakukan pelecehan padanya tadi, Lyli tidak bisa mengenali


wajahnya.


Lyli meratap menangis seorang diri. kali ini dia benar-benar


trauma dan takut. Bahkan efek yang dia rasakan sama halnya dengan yang dia


alami tujuh tahun silam. Sekalipun sudah berbeda dan sempat jadi simpanan.


Selang beberapa menit, terdengar suara seseorang membuka


kunci pintu. Tidak lama kemudian pintu terbuka dan seberkas cahaya dari luar masuk ke dalam menerangi ruangan tersebut membuat Lyli menjadi silau.


Seorang wanita masuk dan membuka kunci pasung Lyli dan


berkata dengan lirih pada wanita yang duduk diatas lantai sambil kedua tangannya disilangkan di depan dadanya, “Apakah kau ingin kabur dari, sini?”


Tak ada jawaban dari Lily. Wanita itu hanya diam seribu


Bahasa dan menatap lekat pada wanita yang memakai pakaian serba putih di depannya yang di duga adalah seorang perawat.


“Aku tidak memiliki banyak waktu. Ini sudah jam tiga lebih.


Kau mau kabur atau tidak. Jika iya, pegang kunci ini dan lari. Kau bisa lompat pagar belakang dan bebas dari sini. Karena rumah sakit ini sebenarnya adalah membuat orang waras sepertimu menjadi gila,’' ucap wanita itu.


Tanpa pikir panjang, Lyli mengambil kunci itu dari tangan


wanita bertubuh mungil tersebut. Yang kira-kira tingginya hanya 155 dengan


berat badan 47kg itu.


“Terimakasih,” ucap Lyli lirih setengah berbisik dan segera


berjalan setengah berlari dengan terseok seok karena sakit di sekujur tubuhnya.


Wanita itu masih berjongkok di tempatnya. Kemudian tersenyum


sinis kala melihat Lyli dengan segera berlari keluar untuk kabur.


“setelah apa yang terjadi, ternyata wanita itu hebat juga.


tak ada kata putus asa, dia masihingin tetap bertahan hidup. Salut aku,” gumam wanita tersebut.


****


Pagi itu, Queen mendapati bi Yul sangat serius melihat


berita pagi yang terisar di salah satu stasiun tv swata yang berada di ruang


tengah. Memang, wanita itu tidak duduk dan menikmatinya. Tapi, caranya yang


tidak biasa, cukup menarik perhatian Queen yang baru saja keluar dari kamar dan


hendak menyiapakan sarapan untuk anak dan juga suaminya.


“Lihatin berita apa sih, Bi?” tanya wanita itu karena penasaran.


“Itu, Non. Ada pasien rumah sakit jiwa yang berusaha kabur


dengan menaiki pagar rumah sakit. Tapi, malah mati karena pada pagar tersebutbterdapat aliran listriknya,’' jawab bi Yul sampai tak mengalihkan pandangannya dari layar tekevisi.


Queen langsung memandang dengan cermat pada televisi


tersebut sayang sekali. Dia tidak bisa mengetahui siapa inisial nama korban,


usia, kronologi dan juga tempat kejadian di rumah sakit mana. Karena saat ia datang, berita sudah akan


berakhir. akhirnya, untuk memuaskan rasa penasarannya, wanita itu membuka berita dari internet.


Queen cukup terkejut dan sempat lemas dibuatnya saat ia

__ADS_1


membaca di rumah sakit yang ia kunjungi tersebut. Bahkan inisial kroban L


berusia kira-kira tiga puluh lima tahun, mengacu pada Lyli. Dugaan itu lebih kuat, ketika ia membaca kronologi kejadian.


Di sana tertuliskan, korban dengan tubuh penuh luka karena dugaan


di hajar sehari sebelum kejadian dia ditemukan tengah mencekik seorang anak berusia enam tahun sampai anak tersebut hampir meninggal.


Dugaan sementara, korban berniat kabur karena tak ingin terkurung


di dalam rumah sakit jiwa. Sebab, menunut beberapa perawat dan dokter yang berada di rumah sakit tersebut, Korban dikurung di ruang isolasi karena terus-terusan


mengamuk, tidak terima dirinya dikurung dan dipasung.


“Ya Allah. Apakah benar ini Lyli?” gumam Queen sambil salah


satu tangannya menutup mulutnya. Dengan cepat ia berlari menuju kamar dan memangunkan suaminya.


“Al, kamu bangun deh. Coba lihat berita ini kamu baca. Benar Lyli


apa tidak, sih?” ucapnya dengan tubuh bergetar karena kaget.


“Em? Apa, Sayang?” tanya Al dengan suara serak khas pria bangun tidur.


“Kamu baca coba. Tolong deh kamu cari informasi ini,” ucap


Queen sambil memberikan ponselnya pada suaminya.


Al menerima benda pipih tersebut dari tangan istrinya setelah mengeluarkan tubuhnya. Kemudian mulai membaca isinya. Ia yakin kalau korban dalam berita itu adalah Lyli. Siapa lagi?


“Coba tolong ambilkan ponselku, biar aku tanya pak Darto. Kan


dia ada kunjungan di sana selama sampai dua hari ke depan. Mungkin saja juga dia tahu,” ucap Al. sebab, ia pun juga ragu, kalau yang meninggal itu adalah Lyli walau semua mengacu pada ciri-ciri wanita tersebut.


“Halo, di berita itu siapa pasien rumah sakit jiwa yang mati


tersengat listrik karena berusaha kabur dari rumah sakit?” tanya Al to the point.


“Dia Lyli, Pak.”


“Baik, ya sudah. Terimakasih.” Al langsung mematikan


panggilannya dan mengamati istrinya masih terlihat sok dan tidak percaya.


“Sudah, tidak apa-apa. Kamu tenangin pikiranmu, dan jangan


merasa bersalah begitu, oke?” ucap Al, berusaha menenangkan hati dan pikiran istrinya.


“Iya, aku tidak merasa bersalah. Mungkin dia suah memetik


hasil yang ia tuai selama ini,” jawab Queen sambil memalingkan wajahnya dari Al.


harus berangkat pagi banget,” ucap Al pada Queen. Kemudian pria itu beranjak, mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi.


Baru saja Queen hendak keluar kamar untuk menyiapkan sarapan


yang sempat tertunda, ponselnya berdering. Ternyata panggilan dari Bella yang masuk.


“Hallo, Bell. Ada apa?” tanya Queen dengan suara yang masih


terdengar lemas.


“Kau sudah lihat berita di televisi belum?” ucap Bella dari


seberang sana.


“Iya, sudah. Dan korban itu adalah Lyli, Bell.”


“Kesabaranmu sudah terbayarkan. Baru kemarin aku nyaranin


agar kau memenjarakan dia. Kau bilang biarkan dia menemukan karmanya sendiri, dan


tidak menunggu lama…. Haaah,” Bella hanya menghembuskan napas panjang saja tanpa meneruskan kalimatnya yang mengambang.


“Ya, kau benar. Kalaupun di bawa ke penjara juga aku tidak


memiliki banyak waktu juga, kan?” jawab Queen.


“Ya, kau benar. Ya sudah, ini terlalu pagi untuk berbincang.


Aku harus bersiap untuk bekerja. Ini hari pertama aku bekerja dan aku tidak mau telat,” jawab wanita itu dari seberang sana.


“Oke. Have a nice day,’' ucap Queen lalu mematikan


panggiannya.


Sementara di dalam kamar Berlyn. Gadis kecil itu masuk ke


dalam toilet kamar dan menelfon amanya di Singapura. Mengabarkan apa yang telah


terjadi di sini. Sengaja dia menelfon di kamar mandi agar papa dan mamanya


tidak bisa mendengar suaranya.


“Halo, ada apa sayang? Apakah kau sudah lelah menjadi


pura-pura bisu?” jawan Jeslyn dengan nada sedikit kesal.

__ADS_1


“Ama, tidakkah kau rindu padaku setelah hampir sebulan tidak


bersama aku?”


“Tidak. Ama merasa tenang bersama Berlyn di sini. Dia kalem,


anggun dan penurut,” jawab wanita tua itu sengaja memancing emossi Clarissa. Sementara


Berlyn yang mendengar apa yang amanya katakana hanya senyum-senyum sendiri


sambil menutup mulutnya dengan tangan.


“Baiklah langsung ke inti. Aku juga tidak bisa meninggalkan


sekolahku terlalu lama, bukan? Sekolah via online dari negara lain tidak begitu


mengasikkan bagiku. Jadi, aku beritahukan kalau tugasku di sini sudah selesai. Pelaku


yang membunuh kakek Vano dan nenek Clara sudah mati,” jawab bocah itu. nada bicaranya


sangt dewasa. Tidak menunjukkan kalau dia itu berusia baru enam tahun.


“Apa? Bagaimana bisa, Sa? Apakah kau membunuhnya?” tanya


Jeslyn terkejut.


“Tidak. Kemarin aku membuat drama seolah aku dicekik olehnya,


dan aku membajak akun misterius milik atasan pak tua yang memelihara Lyli agar memasukkan dia ke ruang isolasi rumah sakit jiwa. Setelah mengahajar dengan


cara mafia, aku minta dia menyuruh seseorang seolah-olah dia kasian pada Lyli dan


memberi peluang kabur dengan membuka pintu kamar isolasi dan pasungannya. Lalu,


dia manjat pagar yang ada listriknya dan mati, hahaha.”


“Ya ampun, Clarissa. Ama di sini tidak pernah mengajarimu seperti


itu, bagaimana kau bisa tahu, kalau yang kau hack itu adalah akun atasan orang yang memelihara Lyli?” tanya Jeslyn heran sambil memegangi kepalanya yang dibuat pening dengan ulah cucunya itu.


“Hahaha, hari gini tegnologi udah canggih, dong,” jawab


Clarissa dengan teertawa renyah. Sebenarnya dia tahu, Mr.Akhira itu adalah papanya. Itu adalah nama samara yang mendiang kakek Andreas berikan, sekalipun


dia belum sempat bertemu dengan beliau, tapi, ia bisa tahu seglalanya berkat


kecerdasan dan keberanian dalam melakukan berbagai hal baru dalam hidupnya terkait tekhnologi.Tapi,


ia tidak mau mengungkap jati diri papanya pada amanya. Sekalipun ia tahu, kalau


dia adalah ibu kandung dari papanya. Yang dia tahu, sejak dirinya belum lahir, kemungkinan masih berada di dalam perut mamanya, papanya sudah berhenti dari dunia


kotor itu. entah mengapa, gadis kecil itu merasa senang dan sangat menyukai permainan


itu. dia merasa kalau dirinya adalah seorang misterius yang bisa mengendalikan


geng terbesar di negara matahari terbit tersebut. Dan cita-citanya adalah, dia akan jadi penerus papanya. Queen of mafia.


“Ama, karena tugasku sebagai Berlyn di sini sudah selesai,


kapan aku di jemput?” tanya Clarissa.


“Ama tidak tahu. Mana berani ama datang begitu saja dan menukarkan


kalian dari sana? Biarkan saja papa dan mama kamu ke sini, menukarkan kalian jika kau masih ingin di sini,” jawab Jeslyn pasrah.


“Baik. Perlu Ama ingat, ini hanyalah rahasia kita berlima. Jangan


sampai bocor,” ungkap Clarissa dengan nada suara khasnya yang jail.


“Berlima? Siapa saja?” tanya Jeslyn terkejut. Awalnya ia


menduga Queen dan Al dua di antara lima orang itu.


“Iya, berlima, Ama.”


“Siapa saja?”


“Aku, Ama, Berlyn, Tuhan dan Malaikat.” Seketika terdengan


suara gadis kecil itu terkiki seperti suara orang kesurupan saja.


“Dasar bocah gemblung. Terserah kau saja,” jawab Jeslyn yang


sudah dibikin kesal dan sport jantung terus-terusan oleh cucu supernya itu.


kemudian ia mematikan panggilannya dan melihat ke arah Berlyn yang masih duduk dengan anteng dan tenang. Benar-benar anggun sekali, membuat siapapun yang melihatnya


pasti akan suka dan jatuh cinta pada wajah ayunya yang kalem.


“Berlyn, kita pagi ini sarapan lopster saja, ya? “


Gadis itu tersenyum dan mengangguk lembut sebagai jawaban


yang diberikan pada Amanya. Terasa sekali, perbedaan yang Jeslyn rasakan antara mengasuh Berlyn dan Clarissa. Walau kembar dan memiliki rupa yang sama. Tapi, aura dan kepribadian yang mereka miliki sangatlah berbeda dan bertolak belakang. Setidaknya dengan begini, dia bisa beristirahat dari berteriak dan marah-marah


setiap waktu. Dugaannya benar, bersama Berlyn dia benar-benar merasa nyaman dan

__ADS_1


tenang, tapi, meskipun begitu, itu tidak membuat dirinya berkurang rasa sayangnya pada cucu yang sudah sedari bayi dia asuh seorang diri. antara Berlyn dan


Clarissa sebenarnya tidak ada yang bisa dia pilih. Keduanya sama-sama dia sayang dan dia cintai.


__ADS_2