
“Bilqis, sarapan kamu ada di atas meja makan. Mama sudah
persiapkan. Jangan lupa susunya, juga kamu minum jangan sampai ada yang
tersisa.” Sepagi ini, Nayla sudah terlihat sangat sibuk sekali. Mondar mandir
ke sana ke mari banyak yang ia persiapkan.
Sementara Bilqis, putri semata wayangnya masih baru terjaga.
Dengan handuk yang diletakkan di atas Pundak kanannya, ia berjalan menuju kamar
mandi sambil mengucek mata.
Tapi, ketia ia melihat apa yang ada di meja makan, bukannya
malah buru-buru mandi, ia berbelok dan mengambil satu dari jamur krispi pada piring kecil yang
ada di atas meja makan, hendak melahapnya.
“BIlqis! Jorok sekalai kamu. Kau ini anak gadis yang bersih
dikit napa. Muka masih belekan juga malah mau maen makan? Awas tuhm nanti jatoh
ngenai makanan. Mandilah dulu, baru sarapan. Hari ini mama sedikit sibuk,”
teriak Nayla.
“Ih, Mama ngomong apa, sih? Jorok banget,” tukas gadis itu,
kemudian dia ngeloyong menuju ke kamar mandi.
Entah sejak kapan, wanita itu tiba-tiba saja menjadi super
cerewet. Entah, faktor U yang membuat tingkat level keemak-emakannya naik, atau
kian hari Bilqis kian berulah saja. Mungkin juga dua-duanya, dan sepertinya
betul.
Gadis itu cengar cengir saja. Kemudian, gadis belia itu
langsung berlari menuju kamar mandi. Selang beberpa menit, Bilqis sudah keluar
dan telah mengenakan seragam sekolahnya. Nayla memang selalu menyiapkan seragam
Bilqis di ruang ganti yang terletak tepat di depan kamar mandi dan masih satu
pintu, antara ruang ganti dengan kamar mandi hanya berbatas kelambu plastik
saja.
“Mama jadi hari ini, ya membuka cabangnya di Jakarta utara?
Kejauhan gak sih, Ma?” tanya Bilqis sambil mulai menikmati sarapannya.
“Kan yang perbatas dengan Jakarta pusat, Bilqis. Kalaupun
sedikit jauh, juga tidak masalah, bukan? Kan mama cuma sesekali saja datang
untuk ngecek,” jawab Nayla sambil mengembalikan box sepatu pada tempatnya lagi
setelah isinya ia ambil untuk dipakai.
“Iya juga, sih, Ma. Nanti aku hasbis pulang sekolah ke rumah
sakit, ya Ma?”
“Ngapain? Kamu kangen sama mama Queen, ya? Sampai harus
menyusulnya saat ia bekerja? Jangan merepotkan dia. Dia itu memiliki tanggung
jawab besar di rumah sakit. Dia di sana bekerja.”
“Bukan. Aku mau jenguk Adriel. Dia mengalami kecelakaan dua
hari yang lalu,” jawab Bilqis.
“Hah, sudah dua hari? Bagaimana mama bisa tidak tahu?” tanya
Nayla terkejut. “kamu juga, kok baru ngomong, sih? Bukannya beberapa hari ini
mama free, di rumah terus?” imbuhnya.
“Aku juga baru saja tahu semalam. Kak Axel selalu memprivasi
setory wa dia dariku.
“Memang kamu tahu dari mana?” tanya Nayla penasaran.
“Gak sengaja liat postingan om Alex di ig,’ jawab gadis itu
sambil memakan sarapannya. Setelah ia menghabiskan makanan dan juga susu yang
disiapkan oleh mamanya, gadis itu langsung bersiap mengenakan atribut sekolah
dan merapihkan rambutnya. Setelah semua rapi, Bilqis berpamitan pada mamanya
untuk berangkat.
Mengetahui kalau Adriel mengalami kecelakaan, Nayla
menghubungi salah satu karyawannya yang sudah menemani dia dari sejak ia
memulai usaha roti ini dari awal, dan juga menjadi orang kepercayaannya untuk
memulai acaranya jika ia nanti missal belum datang. Ia mengatakan kalau dirinya
akan tetap datang meskipun terlambat. Karena ia ada keperluan mendadak yang tak
bisa ditinggal.
Setelah semua siap, ia memasukkan segela yang ia butuhkan ke
dalam mobil lalu menuju ke rumah sakit terlebih dahulu guna menjenguk Adriel.
Setelah itu, barulah ia pergi menuju lokasi di mana ia akan membuka cabang baru
untuk toko roti dan cakenya.
****
Suasana mendekati ujian nasional untuk para kakak kelas
memang sangat beda. Banyak murit-murid yang biasanya nongkrong di sana sini
hanya sekedar ngobrol, membentuk lingkaran menyanyi dan salah satu diantara
mereka memainkan gitar. Tapi, kali ini berbeda. Semua siswa membawa buku dan
saling tebak-tebak soal dan jawaban tentang pelajan. Meskipun masih ada juga
Sebagian murid yang bawa buku. Tapi, Cuma dipegang doang. Yang diobrolin malah
hal yang gak ada kaitannya dengan pelajaran. Apalagi soal ujian nasional. Film horror
misalnya, film romantic, bahkan drakor :D
“Bilqis!”
Gadis belia itu menoleh ke belakang saat ada seseorang yang
memanggilnya dari belakang.
“Tiara. Ada apa?”
“nanti pulang sekolah ikut aku, yuk!” Gadis itu sedikit
membungkuk mengatur napasnya yang kini tengah terengah-engah setelab berlari
mengejarnya.
“Ke mana? Keknya aku tidak bisa deh. Aku ada urusan
keluarga,” ucap gadis itu. sengaja ia tidak mau mengatakan apa urusannya. Karena,
ia tak ingin Tiara tahu dan ikut serta ke rumah sakit.
Walaupun berulangkali Tiara mengatakan padanya kalau dia
hanya menyukai om-om. Dia yakin, kalau dia juga memiliki rasa pada kak Axel,
bahkan pria remaja seumurannya. Bagaimanapaun, usia dia juga masih belia. Dia
hanya memaksakan diri menyukai om-om demi uang saja.
Sejak Tiara putus dengan pacar dokternya itu, sekarang dia
menjadi wanita panggilan kelas VIP. Masih muda tapi bayaran dia mahal. Tempo
hari, dia ada bercerita padanya kalau pernah bertemu pelanggan yang kebetulan dia
adalah seorang pengusaha. Semalam saja dia sudah mendaptkan lima juta. Gila
memang. Jatah jajan dia dari mamanya saja tidak sampai segitu.
“Hah, urusan apa? Aku mau ajak kamu nonton, loh padahal,”
ucap gadis itu. menujukkan raut wajah kecewa.
“Duh, maaf banget, ya? aku benar-benar tidak bisa. Ada
urusan keluarga soalnya. Lain kali saja, ya?” ucap Bilqis. Tak mau berlama-lama
ngobrol dengan Tiara yang nanti ujung-ujungnya bahas pengalaman dia bersama
para pelanggannya, ia pun segera menuju dalam kelasnya. Tapi, rupanya Tiara
malah mengikutinya.
“Bilqis ke kantin, yuk!”
“Aku kenyang. Tadi mamaku nyiapin aku sarapan nasi. Jadi
awet. Hahaha,” jawab gadis berambut panjang itu sambil tertawa.
“Yah… aku tidak sarapan. Laper ini. Gimana, dong?”
“Ya sarapan, Ra. Gitu aja kok repot.”
“Temenin, nah. Aku pengen nraktir kamu. Semenjak belajar
__ADS_1
bareng sama kamu, nilaiku jadi naik. Tidak jarang lo aku bisa jawab soal-soal
yang guru berikan.”
“Asal serius aja kita, Ra pasti bisa. Jangan bawaurusan di
rumah saat di sekolah. Kalau di sekolah fokuskan semua kosentrasi kamu sama
materi yang guru berikan. Jangan bawa-bawa soal kerjaan.”
“Iya, Bilqis. Aku juga sudah mulai begitu. Toh sekarang aku
gak perlu cari pelanggan. Tapi, mereka yang mencariku. Higclass, sih. Hahaha.”
“Hust! Banyak anak, kalau mereka tahu bagai mana? Gila kamu,
ya?” ucap Bilqis lirih sambil melotot. Mati-matian dia berusaha menutupi profesi
sahabatnya saat banyak yang kepo padanya agar dia tidak dibenci atau
kemungkinan terburuk tidak dikeluarkan oleh pihak sekolahan, ini malah asal
nyrocos aja mode bebas tanpa sensor.
“Ups, keceplosan.” Tiara menutup mulutnya dengan kedua
tangannya. Tapi, tetap saja, ia mlah cengar-cengir walau udah dimarahi oleh
Bilqis sedemikian rupa. “ya sudah, kalau gitu kamu minum aja buat knemanin aku.
Gak,masalah, kan?” ucap Tiara kembali ke topik pembicaraan.
“Baiklah, ya sudah ayo kalau gitu. Masih ada waktu duapuluh
lima menit ini. Harusnya cukupkan waktu segitu?”
“Tentu saja.”
Sesampai di kantin Bilqis memandang Tiara yang makan mie
goreng dengan sangat lahapnya seperti orang yang sudah dua tahun tidak makan?
Eh, ralat. Jangankan dua tahun. Dua bulan saja, gak makan kemungkinan juga
sudah mati. Dua hari gak makan mungkin.
“Kapan kamu terakhir makan?” tanya Bilqis. Memandang heran
Tiara.
“Kemarin pagi. Siang sampai malam aku gak sempat makan. Aku
mabuk berat kemarin tuh. Hahaha,” ucapnya lirih.
“Pantesan. Makan sampe gak bernapas begitu.”
“Kamu ada urusan apa sih sebenarnya nanti itu? masak gak
bisa nemanin aku nonton?” tanya Tiara lagi. Seolah tidak puas dengan jawaban
yang Bilqis berikan tadi. Beruntung Bilqis tidak terbiasa jujur dengan Tiara.
Jadi, sekalipun dalam keadaan kek gini dia tidak sampai keceplosan.
“Aku? Aku mau ke rumah nenek dan kakekku. Aku kangen sama
adikku. Karena adikku tinggal di sana,” jawab Bilqis bohong.
“Oh. Aku salut sama kamu,” ucapnya. Lalu kembali memakan mie
gorengnya hingga habis dan berlanjut ke segelas teh hangat dan menyeruputnya hingga
tersisa setengahnya.
“Salut sama, aku? Kenapa?” Bilqis menatap heran pada Tiara.
Sementara tangannya masih sibuk mengaduk-aduh teh hangat yang ada di depannya.
“Ya, bukannya dia hanya keluarga dari papa tiri kmu? Bahkan kau
masih bisa berhubungan baik dengan mereka di saat papa tirimu sudah bercerai
dengan mamamu. Anak papa tirmu dengan wanita lain kau anggap, adik. Lain halnya
jika dia adalah papa kandung kamu. Memang begitu semestinya.”
Bilqis diam tidak menjawab. Ia tidak tahu harus menjawab
apa. Dan mungkin pemahaman Tiara juga akan lain dari maksudnya. Meskipun dia
sudah berusaha keras menjelaskan sejelas-jelasnya. Dalam hatinya itu, yang
bermasalah adalah mamanya dan papa tirinya. Kala itu dia anak kecil dan tak semestinya
ikut campur. Selama keluarga itu baik dan mau menerimanya dengan tangan
terbuka, kenapa harus memutus tali kekeluargaan? Toh nyatanya dia juga
benar-benar menyayangi Berlyn dan menganggap dia seperti adiknya sendiri.
“Kok diem? Itu trik kamu biar bisa dekat dengan kak Axel,
‘Tuh, kan benar? Dia memang hidup dalam kelaurga broken
home. Orang-orang terdekatnya menganggap dia sampah, dulu. Tapi, Ketika ia
sudah bergelimangan harta, walau dengan cara salah, orang lain pun
mengaku-ngaku sebagai keluarga. Jadi, wajar kalau ia masih belum memahami arti
ketulusan,’ batin Bilqis. Ia merasa iba dengan sahabatnya ini. Ia berharap
kelak suatu saat ia bisa bertemu dengan pria yang bisa membawanya pada
kehidupan yang lebih baik, tak menyalahi norma, dan menerima dia apa adanya.
Bukan, karena ada apanya.
“Teeeet… teeeet…. Teeeet!”
“Bel sudah berbunyi, tuh. Ayo buruan ke kelas,” jawab
Bilqis. Dia bersukur tak harus menjawab pertanyaan-pertanyaan Tiara. Ia
terselamatkan oleh suara bel tersebut.
“Jangan harap kau bisa mengelak, ya? masih ada jam istirahat
pertama dan kedua,” teriak Tiara. Sementara Bilqis hanya tertawa saja tak mau
menggubris. Memang, Tiara kalau sudah kumat keponya melebihi seorang wartawan
saja kalau tanya. Jika dijawab, malah melebar ke mana-amana.
Jam sekolah pun berakhir. dengan tergesa-gesa, Bilqis
meninggalkan sekolahan. Ia berharap Tiara tidak melihatnya. Karena, jika itu
sampai terjadi, pasti bocah itu akan membuntuti. Karena, di jam istirahat
pertama dan kedua ia tidak memberikan jawaban yang membuat sahabatnya itu puas.
Setibanya di jalan
raya, Bilqis juga langsung naik angkutan umum. Sengaja cari yang sudah banyak
penumpangnya. Karena, abang sopir angkotnya ak an pergi meninggalkan tempat
tersebut setelah penumpangnya penuh. Memang, angkot ini tidak melewati jalan
depan rumah sakit tempat Adriel di rawat. Tapi, setidaknya ini membantu, ia
cukup berjalan beberapa meter saja untuk menuju ke sana. Dari pada menunggu
ojek online. Sambil nunggu keburu Tiara tahu, yang ada.
Di kelas Tiara, guru sedang memeberikan beberapa soal untuk
muridnya. Kebetulan, pelajarannya adalah matematika. Para siswa dan siswi boleh
meninggalkan kelas untuk pulang setelah berhasil menyelesaikan semua jawaban.
Dengan sedikit gelisah, Tiara buru-buru mengerjakan
soal-soal yang baginya sulit. Sebab, ia sangat tidak suka berhitung. Jangankan
berhitung. Melihat angka-angka berjajar saja kepalanya sudah pusing duluan.
Sudah gitu, mual lagi.
Dilihatnya seluruh penjuru kelas. Teman-temannya tinggal
setengah saja. Takut Bilqis sudah pulang
duluan, akhirnya ia pun mengerjakakan lima dari limabelas soal dengan ngawur.
“Hah, yang penting dijawab. Daripada gak,” gumamnya seorang diri.
Dengan cepat ia mengumpulkan buku di meja guru. Lalu kembali
ke mejanya untuk memngemasi alat-alat sekolah lalu keluar dan menuju ke kelas
Bilqis dengan cepat. Tapi, sayang sekali. Kelas sahabatnya sudah kosong
melompong. Tak ada satupun anak di sana.
“Hemb… dia minggalin aku rupanya. Apa jangan-jangansudah
menungguku lama, dan berfikir aku sudah pulang? Biasanya kan datang ke kelasku.
Ini kok tidak? Apakah di rumah kakek dan neneknya benar-benar keperluan yang
mendesak, ya selain kangen sama adiknya? Hmb… mungkin saja, begitu. Karena dari
tadi setiap kutanya juga gak mau jawab,” gumamnya seorang diri. akhirnya, Tiara
pun terpaksa pulang. Ia batalkan acara nontonnya. Mana dah beli tiket, lagi.
Terpaksa dibiarkan hangus begitu saja, karena ia tidak memiliki teman untuk pergi.
Tiara itu, sebenarnya bukan tipe orang yang susah untuk
__ADS_1
berkawan. Tapi, karena penampilanyya yang menunjukkan identitasnya, ia jadi
dibenci oleh teman-teman satu sekolahan. Hanya Bilqis lah yang mau menerima dia
apa adanya tanpa menghujat, sekalipun dia sudah tahu sendiri apa profesi Tiara.
Sementara yang lain, hanya menebak-nebak saja, dah segitu bencinya. Apalagi
jika dia tahu sendiri seperti Bilqis?
Setiba di rumah sakit, Bilqis bertanya pada seorang perawat
yang kebetulan berpapasan di Lorong. Ia menanyakan letak kamar dahlia nomor
tiga. Berbekal petunjuk arah dari perawat tersebut, akhirnya gadis itu
menemukan kamar di mana Adriel dirawat. Dengan sedikit ragu karena takut salah
kamar, ia mengetuk pintu perlahan.
Tak lama kemudian pintu terbuka. Ia lumayan terkejut juga,
sih. Karena yang membukakan pintu kamar itu adalah mama Queen.
“Mama Queen, kau ada di sini?” tanya gadis belia itu dengan
mata berbinar.
“Hey, Bilqis baru pulang sekolah, ya? masih pakai seragam
begitu? Ayo masuk!”
Di sana Bilqis menyapa Novita lalu memberikan oleh-oleh
berupa roti, biscuit, buah dan makanan ringan untuk Adriel. Di sana hanya ada
dua wanita dewasa itu. lalu, di mana Axel? Hanya ada dalam hati saja ia
bertanya. Untuk bertanya langsung pada tante Novi dia tidak ada keberanian.
Semakin lama, ia semakin memiliki rasa malu saja. Gak begitu ngejar Axel. Dulu
mah belum tahu istilah jaim. Beda dengan sekarang.
“Kapan Adriel diizinkan pulang, Tante? Saya tahu kalau dia
kecelakaan baru semalam dari postingan ignya om Alex.”
“Insyallah hari ini. Nunggu dokter dulu, Bilqis. Tadi mama
kamu juga sudah ke sini,” jawab Novita.
“Loh, iya kah? Mama bilang mau keluar kota soalnya.”
“Iya, dia mampir ke sini dulu sebentar. Katanya juga baru
tahu dari kamu.”
“Iya, sih. Tadi pagi sebelum berangkat sekolah memang izin
sama mama bakal pulang terlambat untuk ke sini.”
“Habis ini kamu ada rencana mau ke mana, Bilqis?’’ tanya
Queen pada anak tiri suaminya.
“Ya pulang, Ma. Tidak ada acara ke mana-mana.”
Queen mengangguk pelan. Dia sudah berencana untuk liburan ke
tempat wisata besok bersama Al dan juga Berlyn. Mungkin ide bagus jika mengajak
serta Bilqis. “Kalau besok kamu ada acara tidak?”
“Belum tahu, Ma. Jika rencana sih belum ada. Tapi, jika ada
yang ajak jalan, ya tidak nolak.”
“Bagaimana kalau sekarang ikut mama Queen ke tempat kakek
dan nenek. Kamu nginep di sana. Kalau kau setuju, biar mama Queen yang
mengizinkan kamu ke mama kamu.”
“Boleh, Ma. Mau banget,” jawab anak itu dengan girang.
Setengah jam kemudian, dokter yang menangani Adriel masuk ke
dalam ruangan tersebut. Tidak di sangka, beliau adalah dokter yang dulu di
tugaskan di rumah sakit Medica milik tante Lusi. Tempat di mana Queen praktik
dulu, Ketika ia menjadi koas.
“Queen, ya? itu siapa kamu?” sapa pria paruh baya tersebut.
Mungkin dia usia sekitar 50-60an. Sepantaran lah dengan papanya.
“Pak Adi, anda sekarang di sini? Itu keponakan saya, Pak,”
ucap Queen dengan santun.
“Oh, iya iya. Haha bagaiman kabar papa dan mama kamu?
Sehat?”
“Alhamdulillah, Pak. Mereka sehat. Bapak sendiri bagaimana?”
tanya Queen balik.
“Seperti yang kau lihat. Bapak sehat wal afiat.” Pria itu
tertawa renyah. Raut wajahnya menunjukkan rasa suka citanya.
Dokter tersebut pun mulai mengecek Kesehatan Adriel, mulai
dari suhu badan dan ditanya keluhan keluhan yang bocah berusia enam tahun
tersebut rasakan apa saja. Begitu semua baik, dokter tersebut mengatakan, kalau
Adriel bisa pulang setelah infus yang tinggal sedikit itu sudah habis.
Setelahnya, ia kembali mengobrol lagi dengan Queen.
“Queen ambil jurusan spesialis apa tidak ini?”
“Tidak, Pak. Cukup jadi dokter umum saja,” jawab wanita itu.
“Tidak apa-apa. Jadi dokter itu yang penting ikhlas saja
dalam menjalani pekerjaan. Pasien itu beda-beda, harus banyak sabar kalau menemukan
pasien yang unik,” ucap dokter Adi lagi.
Queen langsung tertawa, ia teringat bagaiman Ketika ia
pernah dimarah-marahi dan direndahkan oleh pasien wanita Ketika ia menjadi koas
dulu. Dan ajaibnya lagi, ternyata wanita itu adalah ibunda dari Jevin.
“Anaknya sudah berapa, Queen? Umur berapa dia sekarang?”
“Usia lima tahun, Pak. Baru satu, hehehe.”
“Uda saatnya itu.”
“Saatnya apa, Pak?” tanya Queen serius.
“Sudah saatnya dia punya adek.”
Tawa pun meledak dari mereka berdua. Queen tidak menimpali
ucapan dokter tersebut. Meskipun kalau dipikir-pikir ada benarnya juga.
terlebih Al, suaminya juga sudah lama ingin memiliki anak lagi.
“Mumpung masih muda Queen, ntar kalau tua dikit enak ga
repot ngurus anak kecil lagi. ya sudah, ya bapak lanjut ke bangsal lain,” pamit
pria itu.
“Hey, Boy. Kau beruntung memiliki tante yang juga seorang
dokter. Sepertinya kalau ada apa-apa tidak perlu control ke sini lagi, minta
pantau tantenya saja,” ucap dokter tersebut.
“Hore, akhirnya dirawat tante Quuen,” ucap bocah itu dengan
girang.
Selang beberapa menit setelah cairan infus itu habis, Queen
memanggil perawat untuk melepaskan jarum infus tersebut dan membantu Novita
mempacking barang miliknya untuk di bawa pulang. Memang niat Queen sebenarnya
datang ke sini juga untuk bantu Novita berkemas. Sebab, Alex sedang sibuk
menjaga Zahara. Dan Candra, jelas dia sedang bekerja di jam-jam seperti ini.
Setelah mengantarkan Novita dan Adriel, Queen mengajak
Bilqis pulang ke rumah mama dan papanya. Di jalan, ia juga menyempatkan
menelfon Nayla terlebih dahulu. Jika Bilqis tidak dizinkan untuk menginap, maka
nanti sore ia akan mengantarkannya pulang sekalian ke kantor Al. tapi, ternyata
Nayla tidak keberatan akan hal itu. meskipun sebenarnya dia sendiri merasa
tidak nyaman kalau Bilqis tidak berada di rumah.
Ia terbiasa melihat putrinya tidur Ketika tengah malam,
sekedar membetulkan slimut.hadset kalau masih belum lepas dari telinga karena
ketiduran, serta laptop yang kadang lupa tidak dimatikan. Tapi, demi kesenangan
anaknya, kenapa tidak? Apalagi Queen sendiri yang mengizinkan.
__ADS_1