
Candra menggenggam erat kedua tangan Novita dan berkata
lirih. “Aku tulus mencintaimu. Tak peduli kau anggap aku apa, Candra sebagai orang lain yang memiliki cintanya sendiri untukmu. Atau pria yang menjadi bayangan mendiang suamimu. Selama aku bisa di sampingmu, dan selama kau bahagia
bersamaku, aku akan selalu bahagia untuk itu.”
“Kau tidak keberatan sama sekali?” tanya Novita sambil menyeka air matanya.
“Tentu saja tidak. Mungkin Tuhan sengaja mengirimkanku untuk hapus
lukamu. Jika aku boleh tahu, apa yang membuatmu bercerai darinya? Padahal selama ini kalian saling mencintai satu sama lain, kan?”
“ini semua salahku. Jika aku tidak mengedepankan egoku, ini
tidak akan terjadi.”
“Boleh aku tahu? Aku berjanji, tidak akan menyalahkanmu.
Karena semua ini sudah suratan takdir darinya. Sama halnya aku yang memiliki wajah persis sepertinya.”
“Dulu saat Axel masih kecil, aku pernah meninggalkannya demi
pria yang ternyata seorang fake boy. Sampai dua tahun lamanya Aditya tetap sendiri tidak mau membuka hatinya pada wanita manapun. Alasannya mudah saja.
Dia menungguku kembali dalam keadaan seperti apapun demi memberi Axel keluarga
yang utuh. Hal itu ia katakana pula pada salah satu wanita yang dekat
dengannya. Wanita itu adalah muridnya. Selain dokter spesialis, dia juga seorang dosen di salah satu universitas terkemuka di sini.”
Candra nampak menyimak. Memperhatikan Novita bercerita
dengan seksama.
“Kemudian, ia membawa wanita itu pulang. Axel memberi respon
bagus pada wanita itu. Dan dia wanita pertama yang Axel sukai. Sehingga, dia melamar wanita itu. Saat mereka akan menikah. Aku kembali, dan meminta agar
Aditya meninggalkan wanita itu. Bahkan saking egoisnya aku, aku pun juga mendatangi wanita itu. Dengan suka rela, wanita itu membatalkan pernikahannya di hari Hnya. Membuat aku menikah bersama Aditya di kediamannya.”
“Hebat sekali wanita itu. Lantas, apa yang terjadi setelahnya?” tanya Candra, penasaran.
“Di hari itu juga, wanita itu menikah dengan mantan
pacarnya. Cinta pertama di masa SMA. Pacar yang sebelumnya ia cintai, tapi, putus karena penghianatan. Entah salah siapa, dia jatuh cinta pertama pada fake boy.”
“Lalu, apakah sekarang dia bahagia?”
“Ya, dia bahagia. Dan memiliki putri yang cantik bak malaikat. Tapi, tidak dengan cinta pertamanya.”
Candra mengerutkan keningnya, lalu kembali bertanya untuk
sekian kalinya. “Dengan siapa?”
“Dengan bossmu.”
Candra benar-benar terkejut di buatnya. Boss? Apakah pak Al
yang dia maksut? Lalu, wanita hebat itu adalah bu Queen?
“Jadi, mendiang suamimu juga pernah memiliki hubungan dengan
istri pak Al?”
“He'emb. Begitulah. Konyol bukan? Sekarang Queen sudah
bagahia. Dia pantas mendapatkan itu, setelah melewati banyak penderitaan.”
“Pasti dia wanitanyang luar biasa. Bahkan sampai detik ini
dia juga masih berhubungan baik dengan keluarga kalian, bukan?”
“Iya, sangat baik. Dari dulu sampai sekarang, aku tak pernah
merasa kalau dia adalah iparku. Melainkan adik perempuanku.”
“Ya sudah. Sekarang, karena kau sudah memberiku lampu hijau,
aku punya hak untuk membujuk Axel, dong agar menerimaku?”
“Tentu saja. Dia juga putraku. Aku tidak akan memnnikahi
seorang pria yang tidak ia sukai.”
“Lalu?”
“Pikirkan cara, bagaimana agar dia bisa menerimamu. Jangan
hanya bertanya padaku, saja.”
Keduanya pun tertawa, dan pukul tiga sore, Novi mengajak
Candra untuk menjemput Adriel di rumah adiknya. Jelas, bocah enam tahun itu sangat menyukainya. Bahkan langsung melompat dalam gendongan Candra saat melihat kalau pria itu ikut menjemputnya.
***
Tanpa terasa, lima hari sudah Queen, Al dan Berlyn berada di
Singapura. Kali ini kedua putrinya tengah ikut amanya pergi mensurvey tempat kerja. Mengecek Gudang penyimpanan seafood.
Yang ada di rumah, atau flat hanya
Al dan Queen saja. Titin tengah pergi berbelanja di pasar.
“Sayang, apa yang kau lakukan?” tanya Al saat mendapati
istrinya tebgah sibuk melakukan sesuatu di dapur.
“Aku membuat pudding untuk anak-anak nanti. Kemarilah! Coba lihat! Catik, bukan?”
Al menghampiri Queen dan menempelka tubuhnya di belakang
wanita itu.
“Tidak. Pudding-puding itu masih kalah cantik denganmu,”
jawab Al di belakang telinga Queen
Wanita itu membalikkan badannya, lalu pandangannya menunduk
ke bawah.
“Kau, jika mau makan saja. Tidak masalah aku membuat banyak.”
“Lalu, tidakkah kau melihat kalau pertuku kian buncit saja?
Belum ada satu minggu tinggal di sini, dan aku hanya makan tanpa melakukan olah raga,” keluh Al sambil mengusapi perutnyayang mulai tidak rata lagi.
Queen tertawa kecil, menyingkap kaus yang dikenakan
suaminya, lalu mengusap pertunya dan berkata, “Kenapa kau begitu peduli akan penampilan seperti seorang wanita? Aku dulu menikahi dirimu, bukan karena perut sixpack
mu.”
“Ya, aku khawatir saja, kau jenuh denganku dan cari hiburan
memandangi tubuh pria lain yang lebih bagus.”
“Kelakuan cowok itu, mah biasanya. Saat jenuh dengan bodi
istri yang sudah melar gitu,” timpal Queen, tidak terima.
Saking asiknya mereka berdua bercanda, sampai tak menyadari
kalau Titin sudah kembali dari pasar dan membeli banyak barang.
“Al, bantuin dia, dong! Kasian banget, tuh. Pasti itu sangat
berat sekali,” tukas Queen.
Setelahnya, Al pergi ke kamar. Sedangkan Queen membantu
gadis itu membereskan barang-barang itu.
“Nona sama tuan so sweet banget, ya?” ucap Titin sambil
tersenyum mengingat bagaimana dua insan yang sudah tidak muda itu bercanda seperti seorang remaja.
“Hah, so sweet?”
“Iya, walau sudah lama menikah hubungan kalian masih seperti
kisah cinta yang ada pada novel-novel saja.”
“semoga kelak, kau bisa menemukan pria baik seprtinya,” ucap
Queen.
__ADS_1
Titn tersenyum dan menjawab, "Sudah jadi idaman setiap wanita
memiliki suami tampan, baik dan romantic seperti tuan Al, ya non."
Queen hanya tersenyum saja. Karena hari sudah mulai siang,
dan sebentar lagi juga anak-anak dan maminya akan segera kembali, mereka berdua pun mulai memasak untuk makan siang.
Sedangkan Al duduk di meja makan, menemani istrinya memasak,
sekaligus asik dengan istri keduanya.
Selama satu jam mereka berdua uprek di dapur mereka pun
telah menyelesaikan semuanya. Kari ayam, okra, kentang dan kol, tumis udang dan sup yang entah apa Namanya Queen tidak tahu, yang jelas ini aneh, karena di dalamnya ada gojiberi, tak menggunakan bawang merah dan pitih sedikitpun, dan merebusnya juga sangat berbeda dengan yang di Indonesia.
Jika di Indonesia mungkin tidak sampai lima menit sudah selesai, ini sampai satu jam lewat, dan hanya diambil kuahnya saja, ampasnya tidak.
“Kamu masak sup aneh lagi, Sayang?” tanya Al saat hidungnya
mencium aroma khas sejak ia berada di sini.
“Kita harus hargai mami dong, Al. jangan gitu. Besok kalau
di rumah, kamu mau makan apa, aku janji akan memasakkannya sendiri untukmu, tidak pesan online, dan juga tidak minta bantuan pada bibi,” jawab Queen sambil tersenyum genit.
Sementara Al Cuma mengelus perutnya. Lalu berkata, “Apakah
kau akan membuat pertuku seperti wanita hamil Sembilan bulan, Sayang?”
“Tidak masalah, kamu bisa fitness, kan?”
“Ya, baiklah, nyonya. Kau memang selalu benar.” Al melipat
laptopnya, kemudian pergi ke dalam untuk menyimpannya. Karena Queen sudah mulai menata hidangan di meja makan.
Bersamaan dengan itu, anak-anak dan juga maminya sudah tiba.
Tapi, mereka datang berempat, dengan wanita berkebangsaan india, meskipun ia tidak mengenakan sari seperti wanita yang ada di film-film. Dari wajah juga bisa di kenali.
“Halo, Sayang. Apakah kau memasak untuk kami? Ini perkenalkan sahabat mami. Dia adalah tante Zuya. Sudah lama sekali mami bersahabat dengannya,” ucap Jeslyn pada Al dan juga Queen.
Queen tersenyum, tak langsung berbicara. Ia tidak yakin dia
bisa berbahasa indo seperti maminya.
“Helo. My name is Zuya. Nice to meet you.”
(Hay, aku Zuya. Senang bertemu kalian.)
“I am Queen, Auntie. Come and sit down. What do you want to
drink?” sapa Queen dengan ramah dan menarik salah satu kursi dan mempersilahkan
tamu maminya untuk duduk.
(Saya Queen tante. Silahkan duduk. Anda ingin minum apa?”)
Sementara anak-anak pada ke kamar mandi untuk mencuci tangan
dan juga kaki mereka setelah keluar dari kamar mandi.
Sementara Al lebih banya diam saja. Bukan dia tidak bisa
berbahasa ingris. Tapi, bingung akan membahas apa.
“It’s just rightyour granddaughter is very beautiful, Jes.
Her dad is handsome. Especially her mom, so beautiful. Like a princeess. The name Queen fits her,” puji Zuya setelah memandang kea rah Al dan juga Queen.
(Pantas saja cucumu sangat cantik, Jes. Papanya saja sangat
ganteng. Apalagi mamanya, seperti tuan putri. Nama Queen sangat cocok untuknya.)
Al masih datar saja dikata begitu. Tapi, lain halnya dengan
Queen. Wajahnya bersemu merah karena malu.
“Aunty just make me gr.” Lalu tertawa terbahak.
(Tante, kau hanya membuatku GR saja.)
Tanpa terasa, satu minggu sudah berlalu. Queen mulai
mempacking barang-barangnya untuk kembali ke Indonesia besok pagi. Begitu semua beres, Queen langsung pergi mandi karena badannya gerah. Sepintas ia melihat Clarissa dan Beryln masih bersama di ruang tamu. Clarissa nampak tengah menggambar, sedangkan Berlyn ia menulis sesuatu. Mungkin sepucuk surat, quotes,
Setelah mandi, Queen mengeringkan rambutnya dengan hair
drayer yang tergantung di atas westafel depan kamar mandi. Al yang kebetulan hendak mbuang air melihat ke arah Queen. Karena keadaan sepi, ia melemparkan pertanyaannya.
“Uda selesai, ya?”
“uda, dong. Kalau belum, mana mungkin aku keluar,” jawab
Queen, cuek.
“Selesai apaan?”
“Mandi. Kamu nanya aku sudah selesai mandi, kan?”
Al bukannya menjawab. Ia justru malah tertawa sambil
memandangi setiap inci tubuh istrinya yang mengenakan baju tidur model lingeri berbahan satin itu.
“Eh, apaan sih kok kamu malah ngetawain aku?”
“Sudah sana cepatlah tidur. Kita jam tujuh sudah harus
berangkat dari sini.” Al pun menutup pintu toilet, sementara Queen langsung menuju ke kamarnya. Untuk istirahat cepat. Padahal ini juga baru setengah delapan. Kedua putrinya juga sudah berada di kamar bersamanya amanya.
Queen merebah sebentar, padahal Cuma dua jam perjalanan
udara saja. Tidak akan melelahkan. Ia beranjak keluar, berniat menunggu putinya tidur semua dan ia akan ngobrol dulu bersama maminya.
Ketika ia membuka pintu untuk keluar, ternyata bersamaan dengan Al yang hendak masuk ke kamar.
“Mau ke mana kok keluar?” tanya pria itu.
“Nunggu mami. Tanpa terasa kita sudah satu minggu saja di
sini ya, Al. padahal rasanya juga baru kemarin,” ucap Queen.
“Kau merasa cepat. Tapi, aku tidak, Sayang.” Al langsung
memeluk Queen dan mendorong tubuh ramping itu dan menindihnya di atas ranjang.
“Al, apa yang kau lakukan?”
“Kurasa kau tahu. Kenapa harus bertanya?” Al menatap tajam
ke arah mata Queen. Tangan kekarnya meraba paha Queen, dan mulai menyingkap dress satin yang dikenakannya.
“Kreeek!”
“Papa, apa yang kau lakukan pada mama? Dia bisa mati karena
tidak bisa bernapas!” teriak Clarissa histeris
“Awas, ada Clarissa!” Queen mendorong keras tubuh Al yang
berada di atasnya. Sedangkan Al sendiri terpelanting ke samping. Beruntung ia tidak sampai jatuh ke lantai seperti dua minggu yang lalu.
“Clarissa, apakah kau mau tidur dengan papa dan mama, malam ini? Kemarilah, Nak,” ucap Queen berlagak tenang saat mendapati salah satu putri kembarnya datang, berdiri di ambang pintu membawa bantal dan boneka kesayangannya.
Bukannya menjawab pertanyaan mamanya, bocah berusia lima
tahun itu malah berlari dan berteriak, “Amaaaa! Papa sama mama habis berantem! Mama sampai dinaikin seperti orang tengah adu gulat!"
“Astaga!” Queen dan Al hanya tepuk jidat saja melihat kejadian
ini. Kenapa Al tiba-tiba saja berubah jadi ceroboh kek gitu? Dan apa saja kira-kira yang sudah dilihat bocah itu.
“Kamu kok ga ngunci puntu, sih Al?” ucap Queen dengan suara
tertahan. Mukanya merah karena malu. Jelas, malu pada anak, mertua dan juga Titin.
“Aku kira, kan mereka sudah tidur. Maaf. Harusnya kau
ngertilah, sudah dua minggu ini. Apalagi, tahu kamu habis keramas.”
Queen membuang muka dari Al. ia terlalu malu dan tak memiliki
mental cukup untuk keluar mengejar putrinya yang sudah bersama mama mertuanya.
Al mendekati Queen, dan mengajukan beberapa pertanyaan. “Memangnya,
jika aku tidak lupa mengunci pintu, kau mau? Aku juga takut ditolak lagi.”
__ADS_1
Queen diam, ia baru ngeh kalau pertanyaan Al tadi saat ia mengeringkan rambut sudah itu ini maksutnya. Bukan sudah selesai dari mandinya.
“Kok diam saja? Mau, tidak?”
“Ya mau saja. Tapi, sepertinya kita tunda saja. Besok saja
saat kita sudah pulang ke rumah, gimana?”
“Baiklah!”
“Ayok!” Al berdiri dan mengulurkan tangannya.
“Mau ke mana?” tanya Queen.
“Ya keluar, lah. Kita
susul mereka. Pakai itu!” seru Al dan menunjuk ke sebuah kimono berbahan tipis Milik Queen. Setelahnya mereka pun segera keluar. Ternyata benar. Clarissa sudah
mengadukan pada amanya. Mana Titin juga berada di sana lagi, menyetrika
pakaian.
Melihat Al dan Queen datang, Jeslyn meminta kedua cucu
kembarnya untuk bermain di luar dulu.
“Clarissa, Berlyn main ke luar dulu, ya? Biar ama nasehatin
papa dan mama kalian, kalau berantem itu tidak baik,” bujuk wanita itu dengan lembut dan penuh kesabaran.
“Baik, Ama. Ayo, Berlyn, kita main lagi di luar!” Clarissa menggandeng tangan saudarinya dan keluar.
Sedangkan Al dan Queen bingung harus ngapain.
“Kalian ngapain saja tadi?” tanya Jeslyn dengan tatapan dingin.
“Gak ngapa-ngapain, Mi,” jawab Al.
“Terus kenapa, Clarissa lari dan berteriak kek gitu? Kalian yang
hati-hati dong. Anak segitu belum waktunya menyaksikan adegan kek gitu. Kalau mau
aktifitas di dalam kamar itu, pastikan pintu kamar kalian terkunci dengan baik. Terus, bagaimana dengan Berlyn saat serumah dengan kalian?”
“Ya tidak pernah lihat, Mi. tadi itu aku Cuma nindih Queen
aja dikit. Kami gak ngapa-ngapain,” jawab Al ketakutan, seperti anak kecil
yang dimarahi ibunya saja. Padahal, dianya sudah berusia mendekaati kepala empat.
Sementara Titin yang mendengar argument majikannya hanya
tertawa tertahan saja sambil menyetrika. Ia memang sudah terbiasa menyetrika di
kamar Jeslyn. Selain kamar ini yang paling luas, ia memang menyimpan meja setrikanya di sini.
Queen mencubit kecil lengan Al sambil berbisik, “Hal kek gitu
juga kamu omongin, mana pantes?”
“La, daripada kita dikira fitness, kan?”
Al duduk di dekat Jeslyn. Pria itu berusaha merayu ibunya
agar tidak marah dengan memijat pundaknya.
“Mama, sudahlah. Tadi aku itu tidak sengaja, kita Cuma bercanda
saja, kan Sayang?” ucap Al melibatkan istrinya yang jelas merasa sangat malu tiada tara.
“Kamu saja yang menjelaskan, karena kamu yang lebih ngerti,
kan? Aku temani anak-anak dulu.” Wanita itu pun keluar. Ia lebih memilih
menghindar dari pada ikut menjelaskan pada mami Jeslyn.
“Mi, jangan marah lah. Dua minggu aku tidak makan. Pantes
aja tadi sedikit ceroboh karena lapar,” bisik Al dengan suara memelas.
“Hah, kenapa?” tanya Jeslyn terkejut.
“Minggu pertama Queen marah sama aku karena telah menitipkan
Berlyn ke tempat mama dan papa. Padahal, itu kemauan dari mereka bertiga.”
“Jadi, Queen sebenarnya tidak mengizinkan, gitu?”
“Iya. Dan aku membujukknya. Saat ia setuju, ia bertanya padaku,
kita mo ngapain kalau tidak ada anak di rumah? Kujawab, ya pacaran lagi. Tau sendiri, kalau sudah punya anak itu repot. Kalau anak tidur dia juga lelah ikut
tertidur. Selebihnya kita sama-sama kerja. Jarang ada waktu untuk berdua. Aku berfikir dengan begitu kita akan memiliki banyak waktu bersama. Gak Taunya… “ Al menggantungkan
kalimatnya, ia tidak meneruskan kata-katanya.
“Taunya apa?” tanya Jeslyn, penasaran.
“Dia Cuma morotin aku, Ma. Minta ditemani spa, pijat
refleksi, shoping makan di luar tapi, gak mau kasih itu. Jawabannya pacarana, tidak boleh melakukan hubungan suami istri.”
Jeslyn tertawa terpingkal tak tertahan sampai memegangi perutnya.
Jika soal Queen datang bulan, ia sudah tahu sejak pertama datang. Sebab, setelah makan siang melihat kalau ada darah yang bocor mengenai celana Queen. Dan selama di sini, juga baru tadi Queen keramas, yang artinya dia baru saja selesai datang bulan.
Tidak hanya maminya, Titin pun juga ikut tertawa tertahan
mendengar cerita Al. gadis itu merasa lucu, dan hubungan rumah tangga mereka sangat menyenangkan. Jika pun tidak banyak uang, harta dan tahta, jika seperti itu, pun juga akan bahagia. Karena rumah tangga tidak melulu soak harta saja. Tapi,
juga pengertian, dan kepecayaan. Sama-sama mau menurunkan ego masing-masih agar tidak terjadi pertengkaran.
Diam-diam Titin kian kagum saja pada putra majikannya. Kelihatannya
saja dia kek galak, pemarah dan angkuh. Tapi, nyatanya di rumah, ia malah dijadikan kalah-kalahan dengan istrinya sendiri. Padahal, dari segi wajah yang dipancarkan Queen tak ada angkuh-angkuhnya. Sedikitpun tidak terlihat kalau wanita itu egois. Memang, yang paling mengenali diri seseorang itu adalah
pasangan yang sudah lama tinggal berasama. Orang tua yang sedari kecil menjaga, mengasuh dan merawatnya puntak menjamin bisa mengerti sifatnya.
Kenapa? Karena, ia memperlakukan orang tua sebagai orang
tua. Jelas lain sikapnya dengan menghadapi pasangan, suaminya atau istrinya.
“Katanya malam ini Clarissa mau tidur denganmu,apakah biar
mami bujuk saja dia, biar sekamar dengan mami?”
“Tidak usah. Biar aku
dan Queen juga ikut tidur di sini saja, kita tidur berempat. Aku yakin, selain
Clarissa ingin bersama kami, ia juga ingin bersama kembarannya. Dan kembarannya juga demikian, dan ingin sama mami,” ucap Al.
Jeslyn hanya tersenyum sambil berlinangan air mata. Karena ia
tidak ikut membesarkan putranya, namun ia masih saja bersikap konyol dan tak canggung sedikitpun padanya. Sungguh, kebahagiaan yang tak dapat ditukar oleh apapun, dan tak akan pernah terlukiskan.
Dalam hati, ia juga memuji Clara dan Vano yang tidak mengajarkan
hal buruk. Mereka tetap meminta Al tetap menghargai dirinya sebagai ibu
kandung, sekalipun tak ikut membesarkan.
***
Di bandara changi, Jeslyn dan Clarissa mengantarkan Queen, Al dan juga Berlyn kembali ke indonesia. rasa sedih dan kehilngan jelas ada, dan sangat nampak terlihat jelas di wajah kedua putrinya.
tapi, namanya pertemuan, juga pasti akan ada perpisahan. siapa pula yang mau memisahkan mereka jika bukan karena keadaan?
"Do't be sad, dear. next time, we will meet again." Queen mencium kening Clarissa.
(jangan sedih Sayang. Nanti, kita akan bertemu lagi.)
"hurry up come mama. I will always miss you," jawab Clarissa. membalas pelukan dan ciuman mamanya. Lalu, bergantian dengan Al dan Berlyn.
"Tentu saja sayang. Kami pasti akan selalu mengunjungi kalian di sini saat mama dan Berlyn libur. Sampai jumpa. Tetap jadi sanak yang baik dan manis, ya Sayang."
Mereka berdua, turut merasa sedih dan perih saja saat dua anak kembar itu berpelukan dan kemudian melambaikan tangan. Seharusnya kembar itu selalu bersama setiap saat, dan di manapun berada. Tapi, kenapa Berlyn dan Clarissa tidak? Apakah ini adil untuknya.
Sampai di privat jet, Berlyn mengatakan dengan bahasa isyarat kalau dirinya ingin beristirahat saja, agar jika di rumah kakek dan neneknya nanti dia memiliki banyak tenaga. Karena, semalam mereka juga begadang.
Queen dan Al mengizinkan putrinya. Sedangkan Queen, masih saja diam dan menatap ke arah jendela pesawat.
Al mengerti apa yang dirasakan oleh anak dan juga istrinya. Kini, ia baru menyadari kesalahannya di masa lalu. Jika saja dia tidak memiliki banyak musuh dan membunuh banyak orang, hal ini tidak akan menimpa putrinya.
Al tak mampu mengendalikan perasaannya. Ia memeluk erat Queen dan beberapa kali meminta maaf.
Queen masih diam dan enggan menjawab. Tapi, wanita itu menikmati sentuhan dan pelukan suaminya. Rasa bersalah yang dirasakannya, ia juga turut merasakannya.
__ADS_1
"Sudahlah, mungkin ini takdir. Kau jangan terlalu memikirkan itu," ucapnya singkat sambil bersandar pada dada bidang pria itu sambil memejamkan mata.