
Dengan muka kusut dan mata yang masih terasa lengket Al memaksakan keluar kamar, ia berjalan sedikit terhuyung ke ruang keluarga melihat ada siapa saja di sana kok berisik sekali.
"Selamat pagi, semuanya... Kakek," sapa Al pada kakeknya yang kebetulan berkumpul bersama anak istri adik dan juga Diaz.
"Ini sudah siang, Kak. Bahkan kau masih terlihat sangat lelah. Apakah semalam kalian lembur?" sindir Queen sambil terkikik saat tanpa sengaja ia melihat tanda merah di leher Nayla.
"Kau tiba jam berapa semalam, Al? Pulang dengan siapa?" tanya Andrean begitu melihat cucu laki-lakinya yang baru saja bangun tidur.
"Jam satu kalau tidak salah kek, Queen yang jemput. Jam berapa kemarin, sayang?" tanya Al sambil duduk menengahi Quen dan Diaz.
Melihat ekspresi Quen sepertinya ia tidak menyadari apapun selain mengiyrs kakaknya baru bangun tidur dan kesadarannya masih belum penuh. Tapi beda dengan ekspresi wajah Diaz yang nampak merasa tak nyaman dengan keberadaan Al. Ia merasa kalau Al tidak suka jika adiknya bersamanya.
"Aku dari tadi diam saja kukira Kakek sudah tahu kalau kak Al semalam sudah pulang," ucap Quen.
"Hahaha, tidak. Nayla juga diam saja dari tadi," jawab Andrean.
"Lalu, kalau bukan kak Al yang membuat banyak cupangan di leher kak Nay siapa lagi, Kek?" ucap Quen sambil tertawa.
Diaz dan kakek juga ikut tersenyum dan kakek Andrean menimpali, "Hahaha, kakek tidak sejeli kamu, Quen."
Sementara Al tidak memasang ekspresi apapun. Hanya Nayla yang nampak sedikit gagu dan salah tingkah.
"Gak ada makanan, Nih? Queen. Ambilin apa kek di dapur," ucap Al mengalihkan pembicaraan.
"Loh, kok aku, sih?" protes Queen sambil memandang ke arah Al.
"Iya kamu aja, kakak uda laper banget ini."
"Diaz, kamu mungkin mau sesuatu? Aku ambilin makan kakakku dulu, ya?" ucap Quen dengan lembut, seolah-olah Diaz sudah suaminya saja.
Melihat hal itu, Al merasa jengah sampai ia ingin rasanya memalingkan muka saja. Tapi, ke mana? Dia duduk di antara mereka berdua.
Queen pun pergi ke dapur untuk membuat kan sesuatu untuknya. Entah apa, Al juga tidak tahu, sebenarnya ia pun ingin iku melihat ke dapur melihat sendiri apa yang akan di masak oleh adiknya tapi, sang kakek lebih dulu mengajaknya mengobrol.
"Apa yang membuatmu tiba-tiba pulang Al? Kok mendadak banget. Bahkan kamu tidak menghubungi kakek sebelumnya?"
"Kerjaan sudah kelar, kek. Mau ngecek perusahaan yang ada di sini. Tapi, kayaknya nanti aja ya sekalian. Habis istirahat kantor saja. Bangun kesiangan sih," ucap Al nampak males.
"Kau pasti lelah sekali, kenapa tidak besok saja?"
"Gak apa-apa kek, takutnya mereka pada meremehkan kalau cum ada Juna dan Jevin saja."
Saat Al menyebut nama Jevin, ia melirik ke arah Nayla. Wanita itu pun seketika seperti tersentak seolah ada sedikit aliran listrik yang menyambar tubuhnya. Sjelas saja itu karena antara mereka berdua sudah terjalin sesuatu. Jika saja tidak, tidak mungkin juga, kan?
"Kek, aku bantuin Queen di dapur dulu, ya?" Pamit Nayla lali segera bergegas ke dapur.
Al hanya terseny kecil melihat istrinya yang baru saja melotas di depannya. Dia cuma mencari alasan untuk menghindar saja. Bukan benar-benar membntuk adiknya.
Sementara itu, Al, Diaz dan kakek ketiganya pun mengobrol membahas sesuatu yang ringan saja. Tidak membahas soal pekerjaan dan soal hubungan antara Diaz dan Quen bsudsj sejauh mana.
Sementara Quen dan Nayla di dapur lebih banyak diam saja dari pada berbicara. Bahkan Nayla juga tidak tahu apa yang disiapkan iparnya untuk Al.
Tak lama kemudian Quen sudah menyiapkan satu wadah nasi penuh nasi goreng seafood dan wortel. Rupanya dia tidak hanya membuatkan sang kakak. Tapi, juga untuk siapapun yang ada di rumah karena sangat banyak.
"Kak Al. Sudah Mateng, nih. Yuk makan! sini ambil sendiri jangan manja," ucap Quen sambil menata piring dan sendok untuk makan.
Lucu juga hampir waktu makan siang menunya nasi goreng. Tapi, tak masalah juga bagi Al. Karena ini menu kesukaannya apalagi Quen yang memasak.
__ADS_1
Al pun berjalan dengan malas ke arah meja makan karena ada Nayla di sana. Sementara Quen, ia kembali ke ruang keluarga mengajak kakek, Bilqis dan juga Diaz. Karena dia memang masak banyak.
"Diaz, makan yuk! Kita nemenin kak Al," ajak Quen, sambil memegangi lengan kanan Diaz.
"Aku kenyang, sayang," jawab Diaz sambil memandang ke arah Quen.
"Makan apaan? Gak apa-apa, ayolah, kapan lagi kamu mau makan masakan ku?" ucap Quen memaksa sambil terus menarik lengan pria itu.
"Nanti, kalau kita sudah nikah." Diaz tersenyum sambil mempertahankan posisinya duduk di tempatnya. Sementara kakek Andrean dan juga Bilqis sudah berada di meja makan.
"Kan gak apa-apa sekarang, kalau misal kurang enak aku ada waktu belajar untuk memperbaiki masakan ku, agar nanti saat kita menikah kau tidak banyak protes."
Mendengar jawaban Quen yang demikian, Diaz hanya bisa tersenyum lalu bangkit dari duduknya dan menuruti permintaan Quen.
Al yang mungkin dengar obrolan antara Diaz dan Quen di ruang tengah. Ia diam dan memasang ekspresi masa bodo, tapi, jauh dalam hatinya jelas ia merasa kelas dan tidak suka jika adiknya mesra dan akrab dengan pria manapun.
"Kenapa manjanya jadi sama Diaz? Bukannya yang kakaknya itu aku? Yang selalu ada dan mengungkap kebusukan Helena dan Aditya aku? Harusnya dia berprilaku seperti itu nb padaku untuk menunjukan terimakasihnya," umpat Al dalam hati.
"Diaz, coba ini, coba ini!" seru Queen sambil menyodorkan udang di dekat mulut Diaz sambil tersenyum.
Diaz memandang ke arah udang, lalu wajah Quen. Ia nampak ragu-ragu, melihat ke sekitar, terutama ke arah kakek dan juga Al. Lalu, ia pun membuka mulutnya Karen Queen terus mendesak.
Melihat adegan itu di depannya, Al teringat kejadian yang mungkin belum lama juga terjadi, saat Quen masih aktif di kantor, hal itu sering ia lakukan padanya. Sesuatu yang Al suka, dan Quen tidak begitu menyukainya. Jika ia juga menyukai, dai menggigitnya lebih dulu, lalu diberikan kepadanya.
Al tersenyum saat mengingat masa-masa itu. Tapi, wajahnya kembali masam saat ingat pada kenyataan Quen seperti itu pada orang lain, wajahnya kembali masam. Bahkan, tidak tahan melihat canda tawa Diaz dan Quen. Ingin pergi sayang dengan nasi goreng yang ada di piring. Menunggu, rasanya tak sabar. Akhirnya, Al pun memakan nasinya dengan cepat bahkan hampir tersedak.
"Hati-hati, Kak. Buru-buru, amat?" ucap Quen saat mendengar Al terbatuk, ia bangkit mengusap punggung kakaknya setelah menyodorkan segelas air putih.
"Kenapa kau tiba-tiba peduli sama aku?" ucap Al dengan nada kesal. Bahkan menatap sinis pula ke arah Diaz.
"Kau kerasukan setan apa sih dari Jepang? Biasanya kau baik-baik saja, Kak?" jawab Quen sambil memukul pundak sang kakak.
Queen merasa bingung dengan sifat kakaknya, sementara Diaz merasa tidak enak pula dengan Al. Tapi, apa alasan dia seperti itu? Apakah dia lebih menyukai Alex ketimbang dirinya untuk menjaga adik semata wayangnya ini?
Diaz pun menyudahi memakannya dan hendak pamit pergi. Tapi, Queen segera mencegahnya.
"Oh, iya. Tadi aku masih ada urusan sama seseorang di rumah sakit. Seperti aku harus pergi juga," ucap Diaz sambil berlagak kelupaan.
"Katanya gak ada urusan macem-macem selain sama aku?"
"Kan di rumah sakit, Quen. Emang macam-macam gimana, sih?"
"Yang bener? Aku ikut!"
Diaz tersenyum dan mengusap kepala Queen dan berkata, "Ya sudah ayo, pamit dulu sama kakek, dan kak Nay!"
"Kek, aku ikut Diaz, dulu ya? Nanti aku akan segera kembali setelah urusan selesai kita akan segera kembali."
Setelah kakek Andrean mengizinkan, mereka pun pergi bersama. Di jalan Diaz lebih banyak diam, ia bingung akan bahas apa. Sebab, ia sendiri masih kepikiran dengan sikap Al yang nampak aneh.
Pria lebih fokus ke ke setir dan jalannya. Meski sesekali juga menoleh ke arah Queen yang tengah memainkan ponselnya. Dan sepertinya dari tadi ia pun juga nampak curi-curi pandang pada Diaz yang tiba-tiba saja mendiamkannya. Hingga akhirnya pandangan mereka saling bertemu.
Kamu kenapa sih kok banyak diamnya hari ini?" tanya Quen, penasaran.
"Tidak apa-apa, kok. Emang kenapa?"
"Gak gimana? Kamu tiba-tiba saja berubah. Tadi juga gak kek gini," protes Queen.
__ADS_1
"Tidak! Sudahlah jangan selalu berfikir negatif gitu lah. Aku tidak apa-apa."
Queen terus memandang wajah Diaz ia memang menangkap gelagat yang berbeda dari kekasihnya itu. Memang kenapa? Apa ada kaitannya dengan kak Al?
"Ada sangkut pautnya sama kak Al, ya?" tanya Quen, ragu-ragu. Sebab saat di meja makan dia juga menunjukan sikap aneh. Tak seperti biasanya.
"Sepertinya kak Al tidak suka sama aku, Quen." Diaz memandang ke arah Quen yang tatapannya lurus ke depan.
"bukan gitu, dia tidak benci sama aku. Cuma sepertinya soal urusan kamu, dia sepertinya tidak percaya kalau aku yang menjagamu. Beda saat kau masih bersama Alex dulu. Mumpung semua belum terjadi, dan Alex juga sepertinya ingin rujuk sama kamu, tidak apa-apa, Quen. Aku yakin kau juga pasti masih cinta sama dia, kan?" ucap Diaz dengan lembut. Benar-benar ciri khas pria itu banget. Yang membuat wanita manapun akan terhanyut oleh kelembutan sikap, maupun tutur katanya.
"Kamu mikir berlebihan, Diaz. Kakak Sepertinya banyak pikiran. Dia juga lagi bertengkar sama kak Nay. Lihat saja, mereka berdua tadi ada gak saling sapa? Tidak, kan?" ucap Quen berusaha mengingatkan kejadian di rumahnya tadi pada Diaz.
Diaz tak mau berdebat dengan Quen. Ia hanya tersenyum dan mengangguk pelan saja lalu kembali fokus pada jalan raya. Tapi, hatinya sibuk dengan peperangan batin tentang hubungannya dengan Quen. Tiba-tiba saja rasa minder dan tak pantas bersanding dengan tuan putri di sebelahnya ini kembali muncul.
🍁🍁🍁🍁
Al melakukan mobilnya dengan kencang dan berhenti di sebuah tempat yang sepi jauh dari jalan raya. berkali-kali ia membanting setir dan berteriak seorang diri.
sesaat kemudian diambilnya benda pipih yang ia simpan di dalam saku celananya. dan menelfon seseorang. lalu memaki-maki orang itu.
"Halo, bos. ada apa?" Sahut seorang pria begitu panggilannya di angkat.
"Kalian selama ini gimana kerjanya? Aku cuma suruh awasin Queen, kan?" teriak Al dengan rasa tidak sabar.
sementara orang yang di telfonnya tidak langsung menjawab, mereka kebingungan dan saling pandang dengan rekannya yang ada di sana.
"Bukannya nona Quen baik-baik saja, ya? Lalu kenapa bos marah-marah?" bisik salah satu dari mereka.
"Apakah Nona Quen ada masalah, Bos? kayaknya baik-baik saja. dan ini dia lagi keluar sama pacarnya itum dokter... dokter siapa?"
"Dokter Diaz," sahut yang ada di sebelah orang yang Al telfon.
"iya, Bos. dokter Diaz," jawab pria itu. dengan suara sedikit gemetar karena ketakutan. Meskipun harusnya dia tidak takut, sebab memang kenyataannya Queen tidak apa-apa.
Al kemudian terdiam. Ia sadar apa yang ia lakukan dan marah-marah pada anak buahnya adalah salah. mereka ia tugaskan untuk mengawasi adiknya agar aman dari Aditya, bukan untuk membuat adiknya berjauhan dengan Diaz dan siapapun yang berusaha mendekatinya.
"Ya sudah. adikku baik-baik saja. Terimakasih atas kerja keras kalian."
Al pun mengakhiri panggilannya. ia meremas gadget nya sebelum dilemparkan ke atas dasboard. Kekesalannya kembali muncul saat ia mendengar kalau Queen saat ini tengah keluar lagi dengan Diaz. sudah berapa kali mereka keluar bersama dan apa saja yang sudah mereka lakukan? tiba-tiba Al berfikir macam-macam tentang adiknya dan Diaz. jika pun mereka mau macam-macam, bukankah mereka adalah pasangan yang akan menikah? Dan itu wajar jika menurut pandangan umum. hanya saja salah jika menurut pandangan agamam ah, Al tidak pernah bahas soal agama lagi. semenjak di Jepang dia benar-benar rusak. jangankan minum, membunuh manusia saja seperti menginjak seekor semut saja.
Al kembali melajukan kendaraanya. ia butuh ketengan, harus ke tempat Martin, minum sampai ia puas dan mengeluarkan apapun yang ingin dia katakan tanpa merasa terbebani? atau ke rumah Vico, mencurahkan isi hatinya lalu ditertawakan teman sendiri karena dianggap suka sama adiknya?
'Ah, punya teman banyak tapi, tidak ada satupun yang bisa mengerti diriku sedikitpun. aku tidak pernah mencintai Quen. rasa sayangku sebatas kakak pada adiknya saja. tapi, kenapa mereka selalu berfikir demikan? Mungkin itu karena mereka tidak punya adik perempuan dan mengalami hal seperti yang Quen alami selama ini. jadi, gitu cuma membuliku saja,' batin Al. dan akhirnya ia pun memilih ke rumah Vico daripada harus mabuk, ia takut mama angkatnya akan kecewa jika sewaktu-waktu nanti dia dan papanya sadaar.
Tiba di rumah Vico, Al mendapati sahabatnya itu tengah bercumbu bersama kekasihnya di sofa ruang tamu. tanpa rasa sungkan, Al langsung nyerobot masuk gitu aja membuat sang gadis merasa malu dan segera mungkin mengambil jarak dari tempat Vico duduk.
"Kak, Al," sapa gadis itu yang merupakan adik kelas Al dan Vico dulu semasa SMA.
Al tidak menjawab selain mengangguk dan sidikit menunjukan senyuman nya. lalu masuk ke dalam untuk mengambil softdrink dari dalam lemari es. dan menguknya sambil menyalakan tv.
ia berusaha tenang, tapi, bayangan-bayangan tentang Quen dan Diaz lakukan tadi di meja makan membuat dirinya kian hilang kesabaran dan ingin marah-marah.
"Yang. Kak Al dari dulu sampai sekarang tetap tidak berubah, ya? cuek dan angkuh. dia normal apa belok, sih, Yank? kok tidak pernah aku lihat dia jalan sama cewek manapun?" tanya gadis itu. dengan ragu-ragu.
"Jangan kencang-kencang kalau bicar. tidak baik kalau dia dengar dan marah nanti. dia itu sudah menikah, dan memang selama ini tidak tertarik pada wanita selain yang dia nikahi itu. ya... tipikal cowo setia, lah."
"apa kamu tidak setia, Yank?" wanita itu menatap tajam penuh selidik pada wajah Vico.
__ADS_1
"Ya gak gitu juga, Yank. aku tuh setia. baru punya pacar lagi setelah putus. kan tidak pernah menjalin hubungan denga dia wanita atau pun lebih pada masanya?"
"iya, aku percaya Ama kamun kayaknya aku harus pulang, Deh, Yank. kamu temani kak Al saja, Deh. keknya dia lagi bete banget," ucap gadis itu lalu pergi meninggalkan rumah Vico. sementara Al, ia segera merapihkan piring berkas kue dan juga gelas bekas minum dia dan kekasihnya setelah mengatakan wanita itu sampai depan pintu. dan kini ia pun menghampiri Al dan mengajaonya mengobrol.