Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION 2 PART 64


__ADS_3

"Wah, pinter ya, Bos Vano memilih Mantu, udah dokter, wajah dan body berparas model atletis pula," ucap salah satu relasi Vano.


Vano hanya tersenyum. Ingin menjelaskan yang sebenarnya, takut jadi malasah bertele-tele bahkan melebar. Biarkan waktu yang menjelaskan saja.


Sedangkan Gea, Sinta, Bella dan teman-teman sekolah Quen saat bersalaman di atas pelaminan semua heran dan menanyakan hal yang serupa.


"Loh, Quen? Bagaimana bisa kau menikah dengan mantanmu, Alex? Dan. Pak Aditya malah datang sebagai tamu undangan?" tanya Gea tak kalah heran dengan situasi ini.


Quen menghirup napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan kasa.


"Panjang ceritanya, kau bisa hadir dalam pesta aja sudah merupakan sesuatu yang tak ternilai," ucap Quen.


Sementara Alex hanya diam dengan senyumnya yang tertahan melihat kenarah Quen dan teman-temannya.


Di sisi lain Clara bersama teman se gangnya tengah asik mengobrol menanti kedatangan Lusi beserta suami dan anaknya. Sengaja dia tidak berangkat bersama Selly, sebab, mendadak diberitahukan oleh disen Alenta, putrinya kuliah sore. Jadi, mereka akan sedikit terlambat untuk datang.


"Win, lu mau sampe kapan doyan terong mulu? Kita dah punya anak, Clara dah mantu, lu jomblo aja ngumpulin terong," kelakar Eren pada


teman bencong di masa SMA nya.


"Aku tidak tau, cewek tu habis rempong banget, susah di hadapi, kaya kalian-kalian ini," ucap Erwin dengan logat kasnya sambil menunjuk pada Eren Selly dan Clara.


"Dih, dia bilang cewek rempong, kau aja pengen jadi cewek, kan?" jawab Selly.


Hans yang tidak tahan dengan tingkah Erwin, dia memberi isyarat mata untuk meninggalkan mereka, mesti tidak bersama Vano dulu, setidaknya dia menjauh dari makhluk terkutuk seperti Erwin.


"Bagaimana ceritanya istri kita bisa sedekat itu dengan Erwin?" ucap Hengki saat sudah berada di tempat yang sedikit jauh dengan kerumunan istri-istrinya.


"Entahlah, yang jelas, jika para istri nongkrongnya dengan makhluk terkutuk macam dia, tak ada yang perlu kita khawatirkan, bukan?" ucap Hans, lalu keduanya sama-sama tertawa.


Di tempat lain, Novita dan suaminya mengamati adik dan iparnya duduk di pelaminan, keduanya sama-sama diam, meski sesekali berbicara dan tertawa, tapi, dari raut wajah, dan sinar matanya menunjukan kalau keduanya sama-sama bahagia.


"Dit, tidakkah kau merasa kalau Alex dan Quen saling mencintai satu sama lain?"


"Ya, terlihat dari sinat mata dan bibirnya yang membentuk senyum simpul di keduanya."


Sesaat Aditya diam dan berfikir, saat Alex juga masih mendekatinya dulu, Quen menolak lamarannya, tapi, saat ia meminta Alex mundur dengan alasan semi Axel, hingga tiga tahun lamanya, barulah Quen mau menerima kembali lamarannya.


Mungkin, saat itu Quen berfikir kalau Alex sudah tak lagi menginginkannya lagi, dan karena hanya Aditya lah satu-satunya pria yang dekat denngannya, maka ia pun tak ada alasan untuk menolak.


Tak lama kemudian terdengar suara jeritan melengking yang sukses mencuri perhatian para tamu, semua menoleh ke arah di mana Clara dan kawan se gank nya di masa SMA dulu berkumpul.


"Aaaaaauuuuwww....! Aduh pangeranku datang, cintaku sayangku my first love. Makin ganteng aja Reza...!"


"Hus! Win, sadar ini tempat umum, lihat semua lihatin kamu, tuh." Dengan sedikit keras Eren sengaja menginjak kaki Erwin.


"Aduh... Sakit Ren, kau ini maen injak-ijak, sendalku tuh limited edition, loh. Mehong tau," ucap Erwin sambil mengibaskan sendalnya.


Lusi tersenyum mendekat ke arah Clara bersama suaminya.


Dia sedikit banyak sudah tau mengenai Erwin yang dulu pernah digosipkan menyukai sesama jenis, dan parahnya, suaminya.


"Za... Apa akabar?" tanya Erwin dengan genit. Dan lagi-lagi Dokter Lusi hanya tersenyum saat suaminya di sapa oleh penggemarnya dari sejak jaman SMA.


"Sayang, kau jangan CLBK ma mantanmu, ya? Aku tak akan sanggup menerimanya jika itu terjadi," ucap Lusi pada Reza.


"Win, kau harus hati-hati, istri Reza adalah dokter, dia bisa dengan mudah memberimu sintik mati yang matinya baru terjad setelah satu bulan di lakukan. Kau mayi dia aman," ucap Selly menakuti.


"Hah, masa iya, sih? Aku takut sekali." Erwin berlari ke belakang Clara mencari perlindungan.


"Lala, lindungi aku, ya?" ucap Erwin penuh permohonan.

__ADS_1


Mimik wajahnya saat ini persis sekali seperti anak balit yang ketakutan dan bersembunyi di balik tubuh mamanya. Dan ekspresi itu sangat natural tanpa di buat-buat.


Vano menoleh ke arah istrinya, dan keduanya saling tersenyum saat tatapan mata mereka saling bertemu.


Dengan melelihat sekilas ekspresi wajah Clara, Vano dapat menangkapnya. Ia meninggalkan sebentat teman kantornya menghampiri Reza, lalau Hans dan Hengki yang sudah sedari tadi keduanya menjauh dari Erwin.


Pesta berjalan sangat lancar.


Semua senang dan bahagia, meski banyak meninggalkan pertanyaan bagi yang tahu siapa Alex dan Aditya, dan yang tidak, mereka menyangkan Alex adalah dokter Aditya.


Quen berjalan perlahan turun dari pelaminan di gandeng oleh kakaknya, Al. Sampai di bawah Al menawarinya makan, sebab, sejak tadi sore adiknya beluk sempat makan apapun.


"Kau mau makan sesuatu?" tanya Al.


"iya," jawab Quwn singkat sambil dudul di salah satu kursi yang di sediakan untuk para tamu.


Al berjalan ke tempat makanan, memang acaranya prasmanan. Di ambilnya sedikit nasi dan sop iga untuk mengisi perut adiknya.


Tak lama kemudian dia kembali dan menyuapkan sesendok kepada Quen.


Quen tertawa mendapati perlakuan kakaknya yang berbeda, dari sorot mata itu ada kebehagiaan dan juga rasa kehilangan. Persis dengan yang dia rasakan dulu. Nyatanya Al semenjak menikah memang jarang sekali memghubunginya.


Sementara di tempat lain Vano tengah berbicara dengan menantunya Alex.


"Alex, terimakasih sudah mau menyelamatkan reputasi danasa depan Quen. Papa titip dia, tolong jaga dia dengan baik, ya?" ucap Vano sambil menepuk-nepukΒ  bahu Alex.


"Iya, Pa. Alex akan jaga dia dengan baik," jawab Alex dengan mantap dan pasti.


🍁 🍁 🍁


"Helena,Β  kau tahu bagaimana bisa yang jadi pengantin lelaki temanmu itu Alex?" tanya mamanya Helena, mama Intan.


"Aku tidak tahu, Ma. Makanya aku tadi syock sampai harus jatuh pingsan segala. Niatnya ke pelaminan untuk berfoto bersama pengantin, tapi, pengantinnya malah memberiku kejutan yang sama sekali aku tak pernah berfikif sebelumnya," ucap Helena sambil memegangi kepalanya dan memijatnya perlahan.


"Gak tau, Ma. Mungkin besok atau kapan aku perlu penjelasan dari Alex," ucap Helena sambil membuang wajahny Ke luar jendela mobil.


"Helen, kau seharusnya tidak perlu tau tentang ini, biarlah ini jadi urusan keluarga mereka. Kita ini orang luar, sayang." ucap papanya Helana. Mengingatkan.


"Pah, tapi Alex, itu..." Helena membiarkan kalimatnya menggantung tak di lankutkan.


Sedangkan papanya hanya tersenyum melihat putrinya dari kaca yang terganrung di atas mobil.


"Karena dia mantanmu? Kan cuma mantan?Β  Tapi, jika kau memaksa ya terserah, tapi, jangan sebarkan berita miring tetang mereka, karena kita tidak tahu apa yang sebenarnya dan jika pun tahu, itu hanya sedikit saja, tidak akan keseluruhannya. Dan kau tahu kan kita tidak boleh asal menyimpulkan dari satu sudut pandang saja?"


"Iya, Pa." jawab Helena singkat.


🍁 🍁 🍁


Quen tertawa kencang saat pintu lip apartemennya terbuka, "Aku aja kaget, lo Lex. Memang awalnya aku kira om Erwin gu normal dan Manly banget, eh ternyata gak taunya bencong.


Dan kau tahu, apa? Dulu saat SMA kata Nenek dia itu musuh bebuyutannya mama karena mama deket dengan Om reza,Β  Erwin ceritanya cemburu, tapi, saat melihat papa menikah dia malah godain papa," ucap Quen hampir tak bernapas.


"Tadi, om Erwin menawariku untuk jadi model di boutiquenya. Tapi, aku tidak langsung memberikan keputusan iya atau tidaknya. Aku hanya diam saja. Tak lama kemudian kak Al masuk, mencariku, jadi perhatiannya teralihlan pada kak Al."


"Apakah kau tertarik untuk jadi model?" tanya Quen dengan penuh selidik.


Alex mengankat kedua bahunya, "Mungkin saat ini aku masih akan tetus menekuni dunia olah raga dulu, tapi, kelak jika pikiranku bercabang ke dunia model, aku tidak tahu," jawab Alex, apa adanya.


Saat itu juga dalam pikiran Quen terlintas, seorang model harus peofosional dan serba bisa dalam tema apapun. Dan tak jarang bagi mereka untuk perpose mesra dengan sesama model yang lawan jenis untuk endrose merk pakaian tertentu, jika itu pakaian olah raga, renang dan lebih parahnya lagi pakaian dalam, oh, tidak Quen tidak akan mampu melihat suaminya seperti itu.


"Alex, kau tahu bagaimana dunia modeling, kan? Apakah kau rela mengorbankan karirmu demi menolak berfoto dengan model wanita yang sex-" kata-kata Quen terputus ketika ia membuka pintu apartemennya. Ia mencium aroma lembut yang khas dan wangi di lantai ia di sambut oleh riubuan kelopak mawar merah dan bunga melati.

__ADS_1


"Wow, so sweet, apakah ini darimu, Alex?" mata gadis itu berbinar mendongak menatap dalam pada mata suaminya.


Namun, dengan berat hati laki-laki itu mengelengkan kepalanya.


Quen agaknya sedikit kecewa, ia berjalan ke dalam. Kaki jenjangnya yang indah memijaki ribuan kelopal mawar merah dan melati putih di bagian tengah. Ia mendekati meja dan meraih secarik kertas yang ada di sana, membuka lipatannya dan mambaca isinya.


Β Β Β  'Selamat malam, my wife'


Quen menoleh kesal ke arah Alex dan dibalas dengan senyukan canggung oleh pria itu.


"Aku tidak tahu bunga apa yang kamu sukai. Tapi, aku tahu, arti mawar merah adalah ketulusan cinta yang suci." Alex mepepaskan lengan sebelah teksudonya, lalu barhenti karena Quen melangkah dan sudah berdiri di depannya.


"Aku masih penasaran, bagaimana bisa kau tiga tahun silam setelah mendekatiku sedemikan rupa tau-tau menghilang begitu saja. Dan serpriesnya lagi, tau-tau kau muncul sebagai tamu undangan yang mengambil alih posisi mempelai pria. Apakah kau jelmaan jailangkung?" Quen menarik teksudo yang masih menempel di lengan satunya.


Tak ada jawaban dari pria yang baru dinikahinya itu, selain tatapan lembut penuh cinta dan berselimutkan nafsu.


Lalu, tangan Quen meraih dasi kupu-kupu yang masih menanggal di leher Alex, dengan dua tarikan saja, dasi itu sudah meninghalkan krah kemeja putih yabg Alex kenakan dan mendarat bebas di atas lantai.


Kedua telapak tangan Quen megang dada bidang Alex, lalu berjinjit untuk menggapai bibir suaminya dan mengecupnya.


Alex membalas kecupan itu sambil mengambil pinggang Quen dan mencengkeramnya dengan kuat.


Jantung Quen Seolah meledak, terakhir kali si jantung berdebar seperti ini adalah saat ia menonton dvd bajakan film the conjuring di dalam rumah saat keadaan kosonh dan malam hari, semua orang pergi dan Lyli kebetulan tengah izin sejak sore hari untuk ambil cuti.


"Jadi, saat ini akan terjadi sesuatu, yang tadi pagi kau nanti-nanti," bisik Quen setelah Alex meninggalkan bibirnya untuk mengecup titik di balik telinganya.


Sementara tangan Quen sibuk melepaskan kacing kemeja Alex satu per satu.


Terkutuklah ia malam ini, karena memakai gaun malam yang tidak tangan-friendly. Jelas, Alex pasti akan kesulitan mencari resleting samping yang ada di sebelah kanan.


Atau mencari cara gampang, yaitu merobeknya.


Breet!


Quen terkehenyak, mendengar suara kain sobek, dan benar saja, Alex menarik paksa resleting itu dan gaun itu pun robek.


"Iam so sorry, aku tidak sengaja" ucap Alex dengan ekspresi bersalahnya.


"Ok, aku maafkan." Lalu, baju bianca merosot dari bahunya dan jatuh ke lantai. Alex menunduk, tatapannya merayap mengamati tubuh di hadapannya itu sebelum naik ke amtanya lagi.


"Suka dengan pemandangannya?" Quen majubdan menarik kemeja dari tubuh Alex, "Sekarang kita imbang."


Lalu, Quen maju dan menempel pada tubuh Alex, "Atau, belum?" bisik Quen sambil menarik lepas ikat pinggan celana Alex dan beserta resletingnya.


"Boleh aku bertanya padamu?" bisik Alex sambil menciumi belakang telinga Quen.


"Apa,? bahkan pertanyaanku tadi saja kau tak mau jawab." protes Quen.


"Kapan tanggal datang bulanmu terakir kali datang?" tanya Alex, setengah berbisik.


"Aku tidak tahu, sudah lupa, kenapa menanyakan itu?"


"Aku tidak memiliki pengaman."


"Siapa yang mau bermain dengan karet?" jawan Quen sekenanya.


"Kita masih terlalu muda, bagaimana jika kau hamil?" jawab Alex di tengah-tengah percumbuan mereka.


"Bagaimana jika aku hamil? ya kamu yang jadi bapak anak ini, lagian kenapa kalau masih muda? kita kan sudah menikah, Alex,"


Mendengar jawaban itu Alex semakin buas dan liarz diangkatnya tubuh ramping di hadapannya itu dan menggendongnya ke dalam kamar tidur.

__ADS_1


Alex menyalakan lampu tidur di sebelah nakas. tak mungkin dia akan menyia-nyiakan pemandangan indah dari istrinya sendiri untuk yang pertama kali.


Sudah, cukup di sini aja ya, adegan lainnya kalian bisa bayangkan sendiri saja...!πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


__ADS_2