
"Apa? Kau mau membatalkan sebagai penerusku?" Mata Andreas membelalak tidak percaya dengan pendengarannya sendiri.
"Maafkan Al, Kek." Pria muda itu terdunduk dengan penuh rasa bersalah.
"Kumasukan mau dalam kamp pelatihan setahun penuh, dan mengujimu dengan berbagai hal selama empat tahun di Jepang agar kau jadi penerusku yang layak. Tapi,kau malah kembali lembek karena seorang wanita. Siapa wanita itu?" tanya Andreas geram.
Al hanya diam tidak menjawab. Selama ini dia merahasiakan wanita yang dicintai selain kepada Vico. Itupun dia mengatur jarak agar tidak terlihat dekat oleh siapapun agar tidak menimbulkan masalah pada.sahabatnya.
"Jawab!" bersamaan dengan kata itu Andreas menampar keras pipi Al.
Dan lagi, Al hanya diam tanpa perlawanan. Dia hanya menyeka darah yang keluar dari ujung bibirnya dengan ibu jari kanannya. Lalu menunduk lagi.
"Kek, tidak ada gunanya kau selalu mengawasiku. Dia tidak pernah bertemu denganku," jawab Al memberanikan diri.
"Apa maksutmu, Al?" Geram Andreas.
"Al tahu selama ini kakek mengawasiku entah di sini atau di Jepang."
"Kakak, kapan kau pulang?"
Dua pria itu menoleh ke pintu ruang baca. Dilihatnya Quen di sana sepertinya dia baru saja pulang kuliah.
Gadis itu berjelan ke arah kakaknya, sementara sang kakek pergi meninggalkan mereka di sana.
"Kau kenapa, Kak?" tanya Quen panil melihat pipi Al yang lebam dan mulai membengkak.
"Aduh! Jangan sentuh," ucap Al meringis menahan sakit.
"Ayo ke kamar, aku kompres dengan air es."
Dengan Cepat Quen bergegas ke dapur mengambil baskom berisi air dan es batu.
Di dalam kamarnya, ia membawa Al duduk di ranjang dan mengompres pipi kakaknya dengan sangat hati-hati.
"Kakak kapan tiba? Bukankah kemarin janji harus aku yang jemput ke Bandara?"
"Kan kamu kuliah," jawab Al mencari cela.
"Tapi, jika kau mengatakan lebih awal aku bisa mengatur jadwalku. Dan kau pasti tidak akan dipukul kakek Andreas," ucap Quen sedih.
"Sudahlah, cukma tamparan kecil. Ini tidak akan membahayakan nyawaku." Al tertawa melihat ekspresi adiknya.
"Coba buka mulutmu lebar-lebar, ada hekas darah tadi di ujung bibir Kakak. Tapi bibirnya tidak pecah. Pasti kau terluka!" Seru Quen memerintah.
"Sudahlah, tidak apa-apa, Quen."
Al memalingkan wajah dari hadapan adiknya karena tidak tega melihat adiknya mengkhawatirkannya.
Ini tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kamp pelatihan yang ku jalani selama lima tahun lalu. Setahun penuh aku di latih keras, pukulan, tendangan juga cambukan acap kali jadi makanan sehari-hari, Quen. Umpat Al dalam hati.
"Ya sudah kalau tidak mau, sekarang kembalilah ke kamarmu, dan segeralah mandi," ucap Quen. Lalu bangkit mengembalikan baskom ke dapur.
Dengan muka murung Quen ke dapur, di sana hanya ada Lyli. Gadis itu sepertinya juga penasaran apa kiranya yang membuat tuan Andreas marah besar kepada Al. Ingin bertanya kepada Quen tidak berani.
Gadis itu sudah berasumsi kalau ini hal pribadi dan tak ingin orang luar tahu termasuk Lyli. Karena saat marah, Andreas menggunakan bahasa Jepang.
"Mama ke mana, Kak?" tanya Quen membuka pembicaraan.
"Ada di kamarnya tadi, Non. Katanya Nyonya lagi tidak enak badan."
"Aku ke sana dulu." Quen berjalan menuju kamar Clara.
Tiba di depan pintu gadis itu nampak ragu-ragu membukanya. Lalu, secara perlahan dia mengetuk pelan pintunya.
Begitu mendengar jawaban dari dalam, Quen membuka dan masuk ke dalam.
Ternyata Clara tidak sendiri, di sana ada Vivian juga tengah menenagkan dia yang sendang menangis.
"Mama kenapa?" tanya Quen begitu berada di dekat Clara.
"Tidak apa-apa, Sayang. Apakah kau baru pulang?"
"Mama kenapa meangis? Kakak sudah pulang."
"Iya, mama sudah tahu. Sekitar tiga puluh menit yang laku dia baru saja tiba."
"Mama sakit apa? Kangen papa, ya?" goda Quen berusaha mencairkan suasana.
"Dasar kamu ini," ucap Clara tertawa sambil menghapus air matanya.
"Sekarang kakakmu di mana, Quen?" tanya Vivian.
"Ada di kamar, mungkin sedang mandi, Nek," ucap Quen lalu duduk di sebelah Clara.
"Quen, temani mamamu dulu, ya? Nenek mau bantu siapin makan malam dulu." Vivian pun bergegas pergi meninggalkan kamar Clara.
__ADS_1
Setelah memastikan Vivian tidak ada, Quen memberanikan diri bertanya kepada Clara prihal kakek Andreas yang marah kepada Al bahkan berani sampai memukulnya.
"Mama yakin sakit? Bukannya siang tadi pas Quen berangkat ke kampus baik-baik saja, ya?" tanya Quen memancing.
"Emang penyakit kan datangnya tiba-tiba, Quen." Clara memalingkan pandangan dari mata putrinya yang ada bakat seperti peramala, menurutnya, sih.
"Bohong! Pasti Mama menangis untuk kak Al, kan?" tanya Quen penuh selidik.
"Hey, gadis kecil. Mama seneng banget kakakmu sudah kembali, kapan mama suka ketika dia pergi,?"
"Karena kak Al pulang bawa masalah sampai kakek marah, mama ga ada kekuatan membela jadi cuma bisa nangis saja, kan?" tanya Quen kepada Clara.
"Sudahlah, kau jangan ikut campur ya Quen," ucap Clara.
"Ya, tapi karena dia kakakku satu-satunya, aku harus bantu jaga dia, nanti malam aku akan tidur dengannya buat antisipasi kalai kakek masuk kamar dan melanjutkan marahnya," ucap Quen sambil tertawa lalu pergi keluar dari kamar mamanya.
Saat di meja makan, Andreas masih tampak marah kepada Al, meski pun sudah berusaha menutupinya, tetap saja Quen menangkap gelagat tidak beres itu.
"Al, apakah kau serius dengan Lyli?" tanya Andreas memancing, tepat saat Lyli menarik kursi dan duduk untuk makan malam.
"Tentu saja, Kakek tidak perlu kawatir, aku tidak akan mempermainkan wanita."
"Kapan kau akan melamarnya?"
"Secepatnya, tunggu papa kembali dari Jogja saja, bagaimana, Ma?"
"Ide bagus, aku akan menelfon papamu nanti dan memberitahukan ini, kau Lyli, kabari orang tuamu, ya?" ucap Clara sambil tersenyum.
Quen tidak ikut berbicara, dia lebih sibuk mengawasi kakeknya, bagaimanapun juga, gadis itu tudak terima kakaknya diperlakukan seperti itu.
"Baiklah, aku sudah selesai, kalian teruskan saja makan malamnya," ucap Andrean lalu pergi meninggalkan meja makan.
"Kak, minumlah ini, agar luka di dalam mulutmu tidak menjadi sariawan yang serius." Quen menyodorkan tiga kapler obat kepa Al.
"Apa ini, Quen?" tanya Al sambil mengamati tiga lembar obat berbungkus alumunium berlapis plastik di tangannya.
"Itu penghilang rasa nyeri, antibotik dan vitamin C. Minum saja jangan takut, resep itu kudapat dari dokter yang juga mengajar di kelasku." Quen tersenyum meyakinkan kakakny.
"Ok, terinakasih," jawab Al.
Sementara Lyli hanya diam memperhatikan dua saudara yang nampak saling menyangi, selama Andreas murka tidak ada yang berani melerinya, apalagi dia. Tapi, dengan percaya diri Quen masuk ke dalam ruang baca membuat Andreas keluar, dan sekarang, dia menggunakan keahliannya sebagai maha siswi kedokteran untuk member perhatian kepada Al.
Adik kakak yang sempurna, gumam Lyli dalam hati.
Dia berdiri dengan setelan baby dol putih motif rabit pink lengan panjang dan membiarkan rambut panjannya tergerai bebas.
"Kau belum tidur, Quen?" tanya Al.
"Aku akan tidur di sini." Gadis itu menutup pintu tanpa menguncinya dia berjalan mendekati Al lalu berbaring di sebelahnya.
"Apakah kamarmu bermasalah, Quen?"
"Tidak! Sama sekali tidak! Izinkan aku tidur di sini dengan kakak malam ini," ucapnya Cuek dan nemeluk pinggang Al laku memejamkan mata.
"Dasar gadis ini, tidakah dia berfikir aku ini pria normal?" umpat Al dalam hati.
Dia memperhatikan lengan Quen melingkar kuat di atas pertunya dan tertidur pulas dengan pipi menempel di lengan tasnya.
"Manis sekali kau, Quen. Aku tahu apa tujuanmu tidur di sini. Terimakasih adikku sayang!" Al mengelus kening dan memberikan kecupan hangan di sana lalu keduanya sama-sama memejamkan mata.
Selang beberpa menit kemudian ternyata benar saja, Terdengan suara pintu kamar Al di buka perlahan. Al terus berpura-pura tidur saat tahu siapa yang datang, ternyata benar Andreas. Denhan ekspresi muka kecewa dia kembali keluar kamar saat tahu Quen tidur bersama Al.
Pagi hari Al terbangun Quen sudah tidak berada di tempat, entah sejak kapan adiknya pindah dia tidak menyadari. Al merasa salam tidur terlalu pulas. Mungkin efek minum obat yang diberikan adiknua di meja makan kemarin.
Al berdiri ke kamar mandi untuk mandi lalu turun ke bawah, di sana hanya ada Lyli, mama dan kakek neneknya. Di mana Quen? Sementara kamarnya pun tadi kosong.
Al hanya diam saja, duduk di sebelah Andreas tanpa bertanya mengenai adiknya.
"Ra, aku mau keluar dulu, ada yang harus aku kerjakan di rumah. Nanti sore Andrean dan Vano pulang, kan?"
"Katanya iya, Kak. Mereka akan kembali sore nanti," jawab Vivian.
"Ok baiklah. Kakake pergi dulu," ucap Andreas sambil menepuk bahu Al sebelum akhirnua dia pergi.
Al duduknya mulai gelisah. Tapi, rasanya tidak perlu lagi ditahan. Toh Andreas pun sudah benar-benar pergi.
"Ma, Quen ke mana?"
"Dia sudah berangkat. katanya ada kuliah jam delapan tapi, masih ada keperluan lain di rumah temannya."
Al mengangguk-angguk paham.
"Clara, nanti mama mau konsultasi ke dokter, kamu temani ya? Berangkat habis sarapan saja, sekalian belanja keperluan rumah sepertinya sudah mulai banyak yang habis."
"Iya, Ma. Aku mandi dulu, ya?"
__ADS_1
"Al, kau sarapan saja, kami sudah selesai. Nenek siap-siap dulu ya."
Al tertunduk sambil menopang kening dengan kedua tangannya. Bagaimana bisa dia bangun sampao pukul tujuh pagi?
"Mas, Al. Nona Quen tadi membuatkan anda bubur sum-sum. Apakah ansa mau mencobanya?" tanya Lyli.
"Iya, ambilkan satu mangkok untukku."
Masih dengan posisi yang sama Al meremasi rambutnya sendiri.
Pikirannya benar-benar kalut. Pilihan yang sama-sama sulit baginya until mewujudkan harapan Clara dan Andreas.
"Silahkan, Mas Al." Lyli menyodorkan dua mangkuk kecil di atas nampan berisi kuah gula merah kental dan satu mangkuk agak besar berisi bubur sum-sum.
Al tersenyum melihat hasil karya adiknya, dia paling mengerti apa yang dia inginkan. Semalam dengan tidur memeluk erat dirinya juga karna demi melindungi dia dari kakeknya. Karena, dengan siapa lagi jika tidak dengannya. Dengan Vivian dan Lyli tidak mungkin, kan? Terlebih dengan Clara.
Al kembali ke kamarnya dia masih belum tahu apa yang akan dilakukanannya.
Tiba-tiba dia teringat dengan om Reza. Dia ingin pergi ngopi di Caffenya.
Di lantai bawah Al melihat Lyli tengah mengepel lantai, tapi, pria itu memilih diam mengabaikan lalu pergi begitu saja.
🌸 🌸 🌸
Usai kelas Quen tidak langsung pulang, dia berkumpul dengan teman sekelompoknya untuk mengerjakan tugas di salah satu tempat area halaman kampus. Mereka berempat duduk membentuk lingkaran di atas rerumputan yang menguning gersang karena kemarau panjang.
Hampir satu jam berdiskusi tugas mereka pun selesai. Kebetulan dia satu kelompok dengan Gea pula.
"Quen, apakah kau akan langsung pulang?"
Quen menoleh ke arah suara yang terdengar akrab di telinganya.
"Sepertinya begitu, Pak," jawan Quen sambil tersenyum ramah.
Dia memang dari dulu selalu ramah pada siapapun, tak terkecuali dengan dosennya ini, Aditya. Tapi, siapa sangka dia malah mengartikan lain senyum dan keramahan Quen terhadapnya.
"Mari, ku antar!"
"Apa tidak merepotkan, Pak? Saya bisa nebeng sama Gea kok," ucap Quen tidak enak.
"Ayolah tidak apa-apa," ucap Aditya terdengar otoriter.
Quen pun tanpa rasa canggung menuruti kemauan dosennya. Memang hari ini bukan kelas dia. Dan dia mengajar di kelas lain.
Seperti biasa di dalam mobil Quen diam tidak pernah memulai pembicaraan dulu. Tapi, sudah sepuluh menit lewat keduanya hanya bungkam sehingga membuat gadus blasteran itu berinisiatif untuk memulai topik.
"Tadi bapak mengajar di kelas mana?"
"Apakah kau buru-buru pulang, Quen?"
Keduanya bertanya secara serempak. Dan tertawa bersama.
"Kamu dulu!" Lagi-lagi bersama.
"Baiklah, Anda dulu saja, Pak."
"Ok kalau begitu," ucap Aditya. "Apkah kau buru-buru pulang?" Lekat mata Aditya menatapnke arah Quen.
"Tidak, Pak. Kenapa?"
"Dua kilo meter sebelum ke rumah mubada gang ke tempat anakku, apakah kau bersedia ikut menjenguknya denganku, Quen?"
Quen diam berfikir. Apa mungkin yang dia maksut adalah balita sekitar lima tahun yang berpose dengannya di IG itu?
"Saya tidak keberatan, Pak. Tapi, sudahkan Bapak berfikir saya malah menganggu me time anda dengan keluarga?"
"Tidak. Dia hanya bersama kedua orang tuaku saja." Lirih Aditya terfokus dengan kemudinya.
"Memang ke mana istri Bapak?" Dengan reflek Quen bertanya tanpa memikirkannya lebiu dulu. "maaf," ucapnya merada tidak enak melihat Aditya termenung.
"Tidak apa-apa, ini bukan salahmu. Kau bertanya maka aku akan menjawabnya." Aditya menghirup napas dalam-dalam.
"Dua bulan lalu tepatnya Aku dan mamanya Axel resmi bercerai, selama hampir dua tahun aku memohon agar tetap tinggal demi anak dia tetap bersikukuh untuk pergi."
🌸 🌸 🌸
"Nov, pikirkan anak kita, Axel. Dia hanya butuh kasih sayang kita saja selama ini, aku mohon kita jangan berpisah, ya?" Pria itu berjongkok memeluk kedua kaki istrinya tanpa memikirkan lagi harga dirinya sebagai laki-laki, dokter spesialin dan juga dosen di sebuah fakultas ternama di Jakarta.
"Aku gak bisa, Mas. Kita menikah juga karena kecelakaan, kan? Kau tetap meninginkan anak itu hidup kaku menikahiku, ini saatnya kita harus berpisah. Aku tertekan hidup denganmu selama ini, Mas." kesal Novita sambil menangis.
"Nov, pikirkan sekali lagi, jika kau ingin pergi pergilah, tapi, suatu saat jika kau ingin kembali, aku siap menerimamu kapanpun."
Wanita itu berhenti sejenak menoleh ke belakang dengan angkuh pergi sambil menyeret kopernya.
"Mama!" Teriak bocah berusia tiga tahun menangis berusaha mengejar wanita yang di panggil mama.
__ADS_1