Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
part 30


__ADS_3


[Kapan kamu akan kembali ke Indonesia, Hans?] ucap gadis itu duduk santau di depan jendela kamar sambil menempelkan benda pipih di telinga kanannya.



[Tidak lama lagi. Kamu uda kangen ya, sama Aku?]



[Yeee, cuma nanya keles, dibilang kangen, emang kamu mau aku kangenin?]



[Memang ada pria yang menolak dikangenin cewek secantik kamu, Ren ?]



[Tuh, mulai... Kamu gombal, deh.] Dengan nada manja gadis itu berkata lalu berlari kecil membaringkan tubuh di atas ranjang.



[Ya sudah, ini aku sudah ada di Malaysia, mungkin 6 hari lagi aku berlabuh.]



[Di mana?]



[Di hatimu, boleh?]



Eren tersipu malu, wajahnya memerah.



[Ya sudah, kamu jaga diri baik-baik ya, Hans. Byeeee,]ucapnya lalu mematikan telfon.



Dipeluknya dipandanginya layar sentuhnya yang terdspat foto pria yang baru saja di telfonnya berpakaian seragam nahkoda lengkap dengan atributnya.



Eren tersenyum simpul, dengan malu-malu diciumnya foto Hans dan mendekapnya dalam pelukannya.




Emmm. Mereka serasi, sih. Eren cantik, Hans ganteng. 11 12 lah sama Vano. Cuma Hans berdarah Indo Pakistan seperti Clara. Sedangkan Vano, dia berbau Indo, Ingris dan Chaineses.



Clara tersenyum, ketika melihat Vano berdiri menungguinya di depan kampus.



Vano mengulurkan tanganya untuk dicium Clara, dengan singkat dia menciun kening Clara dan meraih pingangnya.


Mereka berjalan beriringan menuju mobil.



"Wah, romantis sekali ya cowoknya," ucap salah satu mahasiswi yang melihat mereka.



"Iya, jadi itu ya, cowoknya Clara? Sumpah, ganteng banget!"



"Itu kalau ga salah Vano, dia anak pengusaha kaya, loh," jawab yang lainnya.



"Waw, bakal jadi Nia Ramadani 2 dong, Clara, dapat laki tajir."



"Iya, malah beruntungan Clara, loh! Ardi Bakri ga seganteng Vano, kan?"



"Clara sendiri emang cantik, serasi, lah."



"Asik, tuh deket-deket Clara, bisa kecipratan!"



"Kalau aku, sih. Mending ambil Vanonya saja, gak tertarik sama apanya lah maksut kalian," ucap ketua genk tersebut, dandannaya sangat sexy dan menor.



Rupanya obrolan 4 gadis itu di dengan oleh Eren dan Sely yang kebetulan berada tidak jauh dari mereka.



"Hayoooo menggosip!" ucap Eren, mengagetkan mereka.



"Eh, kalian! Jangan mimpi dapetin Vano, dia itu laki orang," ucap Selly.



Melihat raut muka kaget pada mereka berempat Eren menjelaskan, kalau Clara sudah menikah dengan Vano. Tak lupa dia menunjukan foto akad nikah dan resepsinya agar jelas.



"Wanita cantik itu, ga doyan sama laki orang! Daaa permisi," ucap Eren, lalu pergi bersama Sely.





"Sayang."



"Iya, Van. Ada apa?"



"Kamu kenapa, sih. Akhir-akhir ini banyak melamun?"



"Ah, tidak!"



"Kamu sedih, ya kita belum malam pertama tapi besok aku harus urus proyek di Jogja?"



"Ah, gak, kok. Uda, kamu ga usah mikir macem-macem," ucap Clara sambil memeluk lengan Vano yang nyetir mobil.



"Apa kamu mau ikut, saja?"



"Lalu, kuliahku?"



Vano tidak menjawab dia meraih pundak Clara dan mengeratkan pelukan dengan sebelah lengannya.



------



Clara mengantar Vano sampai gerbang, dipeluknya Vano seperti yang akan berpisah lama saja, padahal hanya beberapa hari.



"Do'akan semoga semua berjalan sesuai harapan, biar aku bisa cepat pulang!"



"Iya, Sayang, kamu jaga diri baik-baik, ya di sana!"



Clara masih terpaku di depan gerbang memndang mobil Vano hingga lenyap dari pandangannya.



"Non, silahkan masuk, Nyonya menunggu," ucap bi Narti yang merasa iba dengan mereka berdua.



"Oh, iya Bi. Makasih, ya." Clara pun melangkah ke dalam rumah.


__ADS_1


Bi narti mengamati Clara vevrapa saat lalu mengelengkan kepalanya dan bergumam seorang diri, "Oalah. Kok kasian banget mereka nikah baru semingguan dah jauh-jauhan. Mana den Vano gak ada cuti sama sekali."




Clara terus berguling-guling di atas ranjangnya, mendadak pikirannya menjadi gusar. Padahal 30 menit yang lalu, Vano sempat menelfonnya mengatakan kalau dirinya sudah tiba di kamar hotel.



Diliriknya jan pada hpnya sudah pukul 23.30. Tapi rasa kantuknya seolah hilang.



Dipandanginya bantal dan kasur di sebelahnya ia berbaring. Seolah memutar ingatan beberapa hari yang lalu pria yang dicintainya tidur di sana bersamanya saling bercanda sampai keduanya terlelap.



Beberapa kali dia membenarkan posisinya, tapi Clara yang sudah kecanduan nyaman tidur dalam dekapan Vano tetap tidak berhasil.



Sesaat kemudian ponsel Clara bergetar, dengan antusias diraihnya dibuka chat masuk berharap Vano lah yang mengirimkan Watshap padanya.



Tapi wajahnya berubah murung, bukan Vano melainkan teror dari Farel.



'Aku tunggu besok pagi di tempat pertama kita jadian, jam 9.00 atau Vano akan celaka!'



"Sialan, dia mengancamku," umpat Clara sambil meremas benda tipis lebar itu.



Dia merasa bingung mencari solusi, berkali-kali dia menghubungi Vano, tapi nomornya tiba-tiba saja tidak aktif.



Rasa paniknya semakin menjadi, banyak pikiran negatif yang hinggap dalam benaknya tapi ia segera menepisnya.



"Jika urusanmu denganku, kenapa harus melibatkan orang lain?" balas Clara dengan geram.



"Memang kenapa? Vano suamimu, bukan?"



Clara akhirnya memilih tidak meladeni chat dari mantannya yang sedikit memiliki jiwa psyco itu. Diremasnya benda pipih di tangannya.



So as long as I live I love you


Will heaven hold you


You look so beautiful in white


And from now to my very last breath


This day I'll cherish


You look so beautiful in white


Tonight



Di tengah-tengah kekhawatirannya semakin memuncak, ponsel Clara berdering, dilihatnya cepat layar LCD, hatinya lega ketika nana sang suami yang muncul.



[Halo, kamu lagi apa, Van barusan kol nomornya tidak aktif?] jawab Clara senang.



[Aku kehabisan batre, sehabis nelfon kamu hp ku mati, q cas dan kutinggal mandi sama cari makan malam di luar. Kamu kok belum tidur, Sayang?]



[Belum ngantuk.]



[Gak bisa tidur karena kangen aku, ya?] Canda Vano sambil tertawa dari seberang.



[Idih, gr kamu, ya.] Clara pun juga ikut tertawa.




"Iya, kamu juga tidur deh. Bye.... "



Usai menerima panggilan kedua dari Vano, Clara pun merasa ngantuk. Tak lama kemudian dia telah terlelap.



Begitupun dengan Vano, dia juga merasa capek dan segera tidursetelah melakukan perjalanan jauh.



[Aku sudah sejam lebih menunggumu. Kamu mau datang, atau tidak?]



Sebuah pesan masuk, dengan malas Clara membalasnya. Dia tekan nomor itu lalu menelfonnya.



"Halo,"



" .... "



"Aku hari ini kuliah pagi, jadi tidak bisa menemuimu sekarang!"



" .... "



"Terserah kamu, aku akan menemuimu tapi tidak sekarang!"


Clara langsung menatikan panggilannya dengan Farel, lalu melempar asal gawainya ke sebalah, dia hanya fokus dengan jalanan yang padat nyaris macet.


*******



"Hah, benar-benar tidak waras, dia! Dia kabur dari lapas hanya karena gak terima dengan pernikahan, kamu?" ucap Sely berkecak pinggan.



"Tau lah, bener-bener saiko deh tu anak." Geram Eren



"Hah, ga taulah, aku akan menemuinya sekarang, atau .... "



"Atau apa, Ra? Dia mengancammu?" tanya Reza panik.



Rupanya Lusi menangkap kepanikan kekasih pada gadis yang pernah dikaguminya.



"Mending kalau aku yang dia lukai tak apa, Za. Tapi, Vano," ucap Clara lemas. " aku akan menemuinya di bukit."



"Lus, kamu di sini saja sama Eren dan Sely, aku akan ikuti Clara, terlalu bahaya jika dia sendiri atau kalian ikut," ucap Reza, buru-buru mengejar Clara.



"Akhirnya kamu datang juga, Clara," ucap pria dengan rambut berantakan seperti prustasi.



"Apa mau kamu?"



"Aku hanya mau kamu, Ra ga ada yang lain, kamu benar-benar membuat aku gila!"



"Rel, pergilah dari sini, kamu ini buronan, menyerahlah!"

__ADS_1



"Kamu khawatir sesuatu yang buruk terjadi padaku, Ra?"



"Terserah kau anggap apa! Tapi ingat aku sudah bersuami, dan aku sangat mencintainya."



'Dooooorrrr!'



Suara pistol di angkasa mengaketkan Clara, dia sampai terperanjat wajahnya pucat, dilihatnya Farel tersenyum mengerikan dengan sebuah pistol pada genggamannya.



"Apa yang kau lakukan, Rel?" Mata Clara terbelalak. Ia merasa takut dsn sedikit demi sedikit melangkah mundur.



"Apa?" ucap Farel melangkah mendekati Clara. "kamu tahu?  Aku tidak bisa seperti ini terus,  Ra.  Aku ga bisa menghabisimu karena aku teramat sayang padamu, aku juga tak mau membunuh Vano,  karena aku ga bisa melihatmu sedih, aku gila, Ra!  Gila!" bentak Farel semakin terpuruk



"Angkat tangan!" seru seseorang.



Lima orang polisi dengan sigap membidik Farel dengan pistol.



Dengan cekatan pula Farel membekap Clara dan mengarahkan Pistol pada kepala Clara.



"Jangan ada yang mendekat! Atau akan kuhabisi dia!" ancamnya.



"Ooo, rupanya kamu. Hah,  dasar banci. Beraninya bawa polisi." ucap Farel mencemooh Reza.



"Lepaskan dia!" teriak Reza.



"Apa? Melepaskannya?  Iya aku akan melepaskan, tapi jangan berani mendekat! " ancamnya. Dengan pistol tetap mengarah di pelipis Clara.



Clara merasakan dinginnya ujung pistol yang menempel di pelipisnya merasa sangat ngeri, dia hanya memejamkan mata sedari tadi.



"Kalian semua menjauhlah!" Seru Farel pada kelima polisi yang dibawa Reza.



Farel tersenyum puas kini hanya ada dia dan Clara, berbicarapun tidak akan terdengar oleh mereka.



"Apa kau benar-mencintainya?" tanya Farel tanpa mengalihkan ujubg pistolnya di pelipis Clara.



"Jika tidak, aku tidak akan peduli dengannya dan datang menemuimu."



"Coba kulihat, apa yang bisa kau pertaruhkan demi dia," ucap Farel sambil menyeringai.



Clara masih tidak mengerti dengan maksut Farel.



"Coba lihat, siapa yang datang. Mereka sahabatmu bersama Vano, kan?"



Clara menoleh ke arah yang ditunjuk Farel dengan wajahnya. Ternyata benar di sana ada Vano, tapi tidak ada satupun yang berdaya.



"Ayo, kita lakukan sesuatu yang adernalin buat kenang-kenangan, sekalian lihat siapa yang mampu bertahan."



Belum sempat Clara menangkap maksut Farel dia sudah berteruak histerus saat Farel memeluknya dan membawa bersamanya menjatuhkan diri dalam jurang.



"Apa yang terjadi, pak?" teriak Vano panik.



Polisi berlari menuruni jurang di mana Farel dan Clara menjatuhkan diri.



"Farel, lepaskan aku!" ucap Clara sambil terisak,  banyak luka-luka di bagian tubuhnya. Bahkan kepalanya pun juga mengalirkan darah yang mengucur sampai pipi.



"Aku ga bisa melihatmu terluka, tapi aku melukai hatimu, Ra. Hukuman apa yang pantas untukku Ra? Katakan,  katakan, Ra! "



"Sudah, Rel. Cukup serahkan dirimu pada polisi!" seru Clara melembut sambil menangis.



"Tidak!" dengan sisa tenaganya Farel memengambil pistol yang tergeletak disebelahnya.



"Apa yang kamu lakukan, Rel?"



Farel menoleh kebelakang, para polisi Reza dan Vano berada tidak jauh darinya.



"Izinkan aku mencium dan memelukmu sebentar saja. Plis untuk yang terakhir kalinya."



"Rel, aku sudah bersuami. Kau jangan gila!" Mata Clara terbelalak.



Tapi Farel yang sudah gelap mata tak memperdulikan itu. Bahkan dengan tersenyum licik kepada Vano ia mencium istrinya di depannya lalu memeluknya.



"Aku janji, ini yang terakhir kalinya. Dan kupastikan tak akan pernah terulang terimakasih, Clara."



Bisik Farel di telinga Clara sambil tangan kanannya menyisipkan pistol di antara tubuhnya dan Clara.



'Doooorrrrr!'



Suara pistol itu menggema di angkasa, membuat Vano, Reza dan kelima polisi memandang melotot ke sumber suara, sedangkan darah menodai kemeja putih Clara dan baju Farel.



"Clara!" teriak Vano dan Reza bersamaan, keduanya benar-benar tak percaya dengan apa yang di lihat, andai terjadi sesuatu kepada Clara.



Farel tersenyum lega, "Lebih baik aku pergi dengan tenang, berbahagialah, Clara!"



"Farel, kenapa kamu lakukan, ini?" ucap Clara dengan air mata yang berlinang.



Dengan sisa-sisa tenaganya, Farel menguat-nguatkan untuk berbicara dan tetap berdiri meski tak kokoh lagi, "Kan, sudah aku bilang, aku tak mampu menghabisimu, tapi tak sanggub melihatmu bersedih jika aku habisi Vano, jadi,ja... jadi, biar aku saja yang pergi, aku tak mampu melikat kau dengan yang lain, Ra." ucapnya terbata-bata.



Farel menyentuh kedua pundak Clara dengan telapak penuh darah, dia tersenyum memberi salam perpisahan, bersama dengan robohnya rubuh Farel, berakhir pula hidupnya.



Clara tidak percaya dengan apa yang dia lihat, dia benar-shock, melihat didepan mata seseorang menghabisi dirinya sendiri dengan sebuah pistol menembus dadanya.



Seketika tubuh Clara menjadi lemas, tatapan matanya kosong, pandangannya pun kabur hingga ia terjatuh dan tak sadarkan diri.


__ADS_1



__ADS_2