
Sekitar pukul tiga lewat tiga puluh menit sore
hari. Quee sudah terjaga. Nyawanya belum
sepenuhnya terkumpul. Jadi, ia hanya memandangi apa yang ada di depannya.
Kebetulan, ia sedang dalam keadaan posisi miring berhadapan dengan Al.
‘Kok aku baringan, ya?’ pikir Queen. Wanita itu pun
mengerakan tubuhnya perlahan dan sedikit merenggangkan dirinya dengan pria yang
memeluknya.
“Kamu sudah bangun, Sayang?” tanya Al. Rupanya dia tidak
tidur. Tapi, diam saja.
“Bukannya aku tadi duduk?”
“Ya, dan kau terus memegangi tanganku. Kenapa? Merasa
bersalah, ya?” ledek Al. Setengah menggoda, sambil terkekeh.
Awalnya Queen ingin marah dan menunjukkan sisi dirinya yang
biasanya. Tapi, mengingat bagaimana ekspresi Al yang benar-benar terlihat
kecewa dan marah kemarin, ia pun menurunkan egonya dan bersikap sedikit lembut
dan merendah.
“Iya. Aku ngaku memang aku salah. Maafin aku ya? Sejak saat
itu, aku sudah tidak lagi mengkonsumsunya. Aku juga tidak pakai alat
kontrasepsi lain, kok.” Queen pun duduk dan bersandar di sandaran spring bad.
Diikuti oleh Al dan kemb ali merangkul wanita itu ia
berkata. “Kenapa kamu lakukan itu? Apakah kau takut jika nanti kau sudah
benar-benar mencintaiku dan memiliki anak dengan ku aku akan mencampakkanmu?”
lirih Al.
Queen tidak menjawab. Ia hanya diam. Sedikitpun, ia tidak
pernah berfikir tentang hal itu. Tapi, jika Al sampai tahu alasan yang
sebenarnya, yang ada akan membuatnya kian marah dan hilang percaya lagi dengan
dirinya.
“Kamu jangan takut. Apapun yang terjadi, selama kau masih mencintaiku,
dan masih ingin tetap bersamaku, aku tak akan menghianatimu. Apalagi
menduakanmu.”
“Kau dulu juga janji begitu pada Nayla. Kenapa kau duakan
dia, dan menikah secara diam-diam dengan ku?”
Al tersenyum miring dan mencium ujung kepala Queen dan berkata,
“Aku hanya janji tidak akan meninggalkannya. Makanya, aku bertahan. Yang
penting, sekarang hanya kau yang aku cintai, kan?”
Queen merasa jengkel dan benci mendengarkan jawaban Al
langsung bangun dan pergi ninggalin Al. Sementara Al sendiri yang menyadari
kalau istri mudanya cemburu ia hanya terkekeh saja seorang diri.
Al setengah berlari mengejar Queen yang sudah berada di
tengah-tengah tangga. Tapi, wanita itu sedikitpun tidak peduli meskipun
berkali-kali di panggil.
“Sayang, aku bercanda. Kamu gak harus marah gitu, donk!”
seru Al.
Queen yang mulanya hendak berhenti dan berbicara pada
suaminya, ia urungkan saat melihat Nayla berada di depan pintu kamarnya
sendiri. Queen memiliki ide. Ia akan pura-pura marah agar Al terus mengejar dan
merayunya di hadapan Nayla. Agar wanita itu naik darah.
“Sayang, dengarkan aku. Sayang… “
“Jangan mendekat! Bersamalah istri tuamu!” cetus Queen.
Saat Al hendak masuk ke kamar itu. Tapi, Queen menutup
dengan cepat pintu kamarnya hingga dahi suaminya terbentur pada pintu, lumayan
keras.
“Mas, kau sudah sadar?” ucap Nayla sambil mendekati
suaminya.
“Jika aku masih pingsan, mana mungkin aku bisa berjalan,
Nay?” sahut Al, kesal. Namun, terdengar jenaka. Kemudian melewati Nayla dan
masuk ke kamarnya untuk mandi. Entah, sejak kapan dia tidak mandi. Selama di
Vila sepertinya ia cuma merokok dan minum saja. Badannya sampai-sampai rasanya
lengket semua.
Al mengankat sebelah tangannya ke atas dan mengendus
ketiaknya sendiri, lalu dia tertawa seorang diri. Sebau ini, bahkan Queen masih
bisa anteng dan nyenyak tidurnya saat kupeluk tadi? Benar-benar kangen apa efek
tidur, jadi aromanya tak tercium? Batin Al sambil terkekeh.
Usai mandi, dan hanya mengenakan celana boxer, Nayla sudah
duduk di depan meja rias. Sepertinya ada yang ingin dia bicarakan pada Al.
Tapi, apa? Pria itu tidak peduli.
“Mas. Aku mau bicara sama kamu.”
“Mau bicara ya ngomong saja, aku pasti dengerin kok.” Al
membuka lemari pakaian, mengambil kaus pendek berwarna putih, dan celana pendek
sebatas lutut berwarna hijau tosca.
“Mas, sudah lama sekali aku merasa terabaikan olehmu, dan
sekarang, bahkan diam-diam kau menikahi adik angkatmu. Apa maksutmu, Mas?”
protesn Nayla dengan air mata berlinangan.
“bukannya untuk laki-laki, nikah lebih dari satu itu boleh?
Yang penting aku adil.”
“Tapi, kau tidak meminta izinku, Mas. Bukannya salah satu
saratnya adalah meminta syarat dari istri pertama?”
“Lalu, apakah kau ada izin saat keluar sendirian di saat aku
tidak di rumah dan menemui siapa, apakah aku tahu? Coba, kulihat chatmu! Dengan
siapa saja kau berkomunikasi?” Al masih saja tenang, sambil merapikan rambutnya
dan juga memakai parfum.
“Apa kau sudah tidak mencintaiku lagi, Mas? Jika memang
sudah bosan, kenapa kau tidak menceraikanku saja?” ucap Nayla dengan kedua
pundak yang bergetar karena isakan tangisnya.
“Oh, jika kau mau bercerai, aku juga tidak keberatan. Apa
masih kurang selama ini aku memberimu materi dan uang? Berapapun yang kau
habiskan, aku juga tidak pernah tanya kau gunakan untuk apa, kan. Tapi… “
“Tapi, apa Mas? Tidakkah kau sadar jika seperti ini lebih
menyakitkan daripada diceraikan dengan alasan yang jelas?”
Al tertawa miring melihat Nayla kemudian ia pergi
meninggalkan kamar tersebut dan membatin. ‘Ini setara dengan apa yang kau
lakukan Nay. Kau hianatiku, dan jadi wanita pezina, menguras isi ATM ku untuk
kau berikan pada pria banci seperti Jevin.’
Di meja makan, ia sudah melihat anak tiri, istri muda dan
juga papa dan kakek mertuanya di bawah. Sepertinya mereka telah menunggunya.
“Papa, kau dari mana saja? Kok sekarang jadi jarang pulang?”
tanya Belqis begitu melihat Al.
“Papa ada urusan bisnis di luar kota. Bagaimana dengan
sekolahmu? Apakah semuanya berjalan baik-baik saja?”
“Iya, Pah. Semua lancar, dan sebentar lagi adalah kelulusan sekolah
ku. Apakah papa mau menemani mama untuk wali murid?”
“Oh, tentu saja. Kenapa harus dengan mama juga kalau sudah ada
papa?”
“Karena teman-teman semuanya begitu. Sedangkan aku, Cuma
mama saja yang selalu hadir,” jawab bocah itu dengan polos.
“Oke, papa janji akan ikut ke sana, oke?”
Queen yang sedari tadi hanya menahan saja mendengar obrolan
Al dan anak tirinya kian tidak tahan saja. Terlebih saat keduanya masih asik
bercanda dan bergurau. Wanita itu pun beranjak meninggalkan meja makan.
“Kalian makan saja. Aku tidak lapar,” cetus Queen.
Sementara Al hanya tertawa seorang diri dan berkata,
“Cemburu dia sama ank kecil.”
“Al, kau selalu saja menggodanya. Tidak pernah kapok kamu,
ya?”
“Kalau tidak begitu Kek. Dia tidak akan pernah punya anak sendiri
nanti, hehehe.”
__ADS_1
“Pergi bujuk dia!”
“Nanti saja, kalau sudah tenang. Kasih dia waktu umtuk
meluapkan amarah dan meredamnya sendiri, setelahnya juga ia akan bisa berfikir
kenapa dan harus bagaimana, kek.” Jawab Al enteng.
“Dia lebih tahu sifat ex adiknya, Pa. Biarkan saja mereka.
Kita Cuma penonton,” timpal Vanao. Dan ketiganya pun tertawa.
Usai makan malam Al berusaha membujuk Queen sekaligus
merayunya.
Hampir setengah jam lamanya ia di abaykan oleh Queen yang
sepertinya tengah sibuk dengan komputernya. Entah apa yang tengah ia kerjakan.
Urusan kantor yang sekarang dipegang papanya, Atau yang akan dikelola Al dan
dirinya?
Sayang, apakah kau tidak lelah mengabaikanku?” ucap Al, yang
mulai merasa lelah dan ngantuk.
“Masih ada banyak hal yang harus aku kerjakan,” jawab Queen
singkat.
“Sejak kapan kau lebih mengutamakan pekerjaan dari pada
suamimu?”
“Kenapa? Kau tidak terima? Bukankah istrimu tidak hanya aku?
Lusa kau juga akan pergi ke sekolahan anakmu bersama istri tuamu itu, kan?”
jawab Queen dengan ketus. Tanpa mengalihkan pandangannya dari layar monitor.
Al yang sudah dari tadi gemas dengan Queen yang mulai
menunjukkan rasa cemburunya, tak tahan lagi jika harus berdiam. Ia pun
menghampiri dan memeluknya dari belakang.
“Kau ini kenapa, Sayang? Apakah kau cemburu? Kau tidak suka
aku meperhatikan Bilqis? Kamu kan tahu, aku suka anak-anak. Makanya, kamu kasih
aku dong! Atau, kau izinkan aku menikah lagi dengan wanita yang mau memberiku
banyak anak?” goda Al lagi.
Dalam suasana PMS begini, dan Queen yang hawanya cuma emosi
saja, terlalu gengsi untuk mengatakan tidak atau jangan. Akhirnya, apa yang
mulutnya ucapkan dan hatinya pun saling bertentangan, “Cari saja semaumu yang
banyak, bawa pulang, kenalkan aku pada mereka!”
“Oh, kau memang istri yang baik, terimakasih Sayang.” Al
mengecup kening Queen dan pergi keluar dari kamar Queen.
Begitu Al sudah pergi, Queen malah merasa jengkel sendiri.
Ia membanting apapun yang ada di hadapannyaa, termasuk keyboard komputernya
sendiri. Wanita itu memandang pintu kamar yang sudah tertutup dan bergumam
dalam hati, ‘Aku berkata iya, tapi hatiku berteriak jangan, Al. Aku
mencintaimu, dan aku ingin hanya aku yang kau jadikan prioritas, bukan yang
lain.’
Padahal Al tidak
pergi kemana-mana selain ke bawah dan mengambil bantal dari kamarnya.
Sementara Nayla, di kamarnya jengkelnya kian berlipat.
Urusan dengan Queen sudah membuatnya prustasi dan harapan bisa membuatnya
bercerai dengan suaminya juga kecil. Kini malah Jevin kembali menelfon dan meminta
uang sebanyak sepuluh juta, dan harus ditransef sekarang juga. Sehingga hal itu
sukses membuat Nayla terus uring-uringan.
Merasa tak bisa fokus dengan pekerjaanya, Queen pun mencuci
muka dan bersiap untuk tidur, itu pun tanpa makan malam. Saking emosi dan
jengkelnya, ia bahkan melupakan rasa lapar pada perutnya.
Usai dari kamar mandi, saat ia masih mengelap wajah dengan
handuk. Pintu kamarnya terbuka, dia kira siapa, ternyata Al masuk dengan sebuah
bantal di tangannya, dan tersenyum padanya.
“Kenapa bawa bantal kemari?”
“Ya mau tidur, emang mau ngapain? Bikin anak? Kamu kan
menolak.”
“Bukankah kau bilang akan mencari wanita untuk kau jadikan
istri ketiga?”
“Tidak. Aku masih lelah, sekarang aku mau istirahat dulu, saat kelalahan, gak
pun langsung meletkkan bantal di atas kasur dan merebahkan tubuhnya.
Baru saja Queen duduk di tepi ranjang, ponsel Al berbunyi
seperti suara pesan SMS masuk. Queen yang biasanya cuek dengan isi ponsel suaminya,
ia pun jadi ingin tahu, mungkin di benaknya itu adalah pesan dari wanita yang
dihubungi Al.
“Al, ada pesan, tuh!” ucap Queen.
“Biarin saja.”
“Kamu buka gak?”
“Kenapa sih, Sayang?
“Kamu buka, gak? Aku mau kamu bukak sekarang. Itu pesan dari
siapa?”
“Kalau kamu mau tahu, buka saja, Sayang! Kata sandinya
tanggal lahir kamu,” jawab Al dengan mata terpejam.
Tanpa basa basi pun Queen meraih benda pipih milik suaminya
itu dan membukanya. Ternyata pesan mutase dari bank. Memberitahukan kalau
transfer ke no rek: xxxxxxxx sebesar sepuluh juta telah berhasil.
“Kamu tranfer uang pada siapa ini, Al selarut ini?” tanya
Queen dengan mata terbelalak.
Al pun membuka matanya dengan paksa dan mengankat kepalanya.
“Apa sayang? Aku tidak tranfer pada siapapun.”
“Ini buktinya, sepuluh juta, apaan?”
Al yang sudah sangat ngantuk berat pun akhirnya menarik
kedua lengan Queen dan membawanya tidur bersamanya dan berkata, “Ini sudah
malam. Besok kita harus bekerja. Tidur saja, biar besok aku kasih tahu kamu.”
Pagi itu Queen bangun lebih awal. Begitu bangun, ia langsung
mandi dan bersiap untuk menmani suaminya pergi ke kantor.
Al mengeliat Panjang dan mengucek kedua matanya yang masih
terasa lengket.
“Selamat pagi, Sayang, kau sudah cantik saja jam segini?”
sapa Al.
Queen tidak menjawab, ia beranjak mengambilkan Al handuk dan
memberikan pada pria yang masih ingin bermalas-malasan di atas ranjang
tersebut.
“Ini hari pertama kau akan berfokus di bidang interior. Ayo
sayang yang semangat,” ucap Queen sambil tersenyum lembut dan menarik kedua
tangan suaminya agar duduk, dan memintanya segera mandi.
Al awalnya menolak, ia masih ingin bermanja-manja pada
Queen. Tapi, wanita itu menolaknya.
“Mandi dulu, kalau udah, nanti aku cium,” jawab Queen.
Membuat Al menjadi menurut, seperti baalita tiga tahun yang menolak di suruh
mandi dan baru mau jika udah akan diberi coklat dan lollipop.
Usai mandi, Al menagih janji yang Queen berikan. Dari
belakang, Al merangkul Queen dan hendak mencium pipinya. Tapi, Queen menolaknya
lagi. “Pakai pakaianmu dulu!”
“Argh!” erang pria itu, prustasi. Tapi, tak ada pilihan
selain menuruti permintaan Queen.
Ketika Al mulai mengancingkan kemejanya, Queen kembali
memberi pertanyaan yang sama, yang semalam tidak dijawab olehnya.
“Kamu semalam habis transfer pada siapa, Al?”
“Aku tidak mentranfernya sayang. Rekening yang itu, Nayla
yang pegang. Aku juga tidak tahu, dia gak bilang apa-apa sama aku,” jawab Al
sambil menyisir rambutnya.
Queen pun diam. Ia berfikir untuk apa uang sebanyak itu dan
pada siapa ia mentransfernya? Kemudia ia
memiliki akal, “Di mana buku tabunganmu tersebut?”
“Ada di kamarnya Nayla.”
“Ambil sekarang!”
__ADS_1
“Untuk apa, Sayang? Jika kau mau, aku masih punya beberapa
rekening, kenapa gak atmnya saja. Jika kau ambil bukunya, saja, kau tidak bisa
mengambil uangnya, kan?’’
“Aku punya rekeningnsendiri, dan aku cuma mau buku tabungan mu
yang ATM-nya dibawa Nayla,” jawab Queen sambil memanyunkan bibirnya.
Al hanya tersenyum, ia yakin, apa yang sudah lama ia
rencanakan selama ini, pengorbanan waktu an apapun, akan berhasil.
Setelah memasang dasinya, Al memeluk dan mencium Queen yang
masih saja cemberut dan berkata, “Akan kuambilkan, Sayang.” Al pun keluar dari
kamar Queen dan tak lama kemudian ia kembali dengan buku tabungan berwarna biru
di tangannya dan memberikannya kepada Queen.
Queen hanya beberapa jam saja di kantor kurang lebih hanya
dua jam. Sebenarnya dia cukup merasa nyaman di sini. Sebagian besar karyawanya
adalah laki-laki. Jadi, tak begitu banyak gossip yang beredar. Terlebih Al di
sini juga jarang, dan sebagian besar dari mereka tentu saja tidak tahu siapa
istri Al. Karena Nayla tidak pernah datang ke sini.
Tak lama kemudian Queen kembali ke kantor. Tanpa mengetuk
pintu, Wanita itu kembali dan menujukan pada Al hasil prin buku tabungannya.
“Al, imi apa-apaan? Digunakan utu kapa Nayla uang sebanyak
ini? Cuma dalam waktu dua bulan dia sudah menhabiskan uang sebanyak tujuh ratus
juta,” ucap Queen dengan marah.
Al masih berusaha tenang, memancing rasa cemburu dan
kebenciannya terhadap dirinya, juga Nayla. Ia yakin, dengan begitu, wanita itu
akan melakukan penyelidikan, untuk apa uang itu sebanranya. Dan Al cukup diam
saja melihat, seberapa besar usahanya untuk menyingkirkan Nayla.
“Mana aku tahu, Sayang. Kan tadi pagi sudah kujawab, aku
tidak tahu karena Nayla tidak pernah bilang.”
“Kenapa tidak kamu tabnyakan itu uang buat apa? Uang segitu
tidak sedikit, Al.”
“Jika kau mau, kau juga boleh ambil uangku segitu, atau
lebih juga gak masalah. Kalian berdua adalah istriku. Jadi, aku harus adil,
dong,” jawab Al sambil menggoda Queen mencubit dagunya. “lagi pula, dia kan
punya anak. Siapa tahu untuk kebutuhan Bilqis, kan?” imbuh Al.
“Bilqis itu masih TK. Tidak mungkin menghsbiskan uang sampai
ratusan juta!”
“Bagaimana kau tahu, kau saja tidak punya anak. Makanya,
kamu cepatah hamil agar kau tahu, ya?” ucap Al sambil merayu Queen, memepetkan
tubuhnya di pojokan dinding dan mendekatkan wajahnya.
‘’Baik, karena kau tidak mau kasih tahu, aku akan cari tahu
sendiri.” Queen mendorong tubuh suaminyam dan pergi meninggalkan tempat itu.
Al terkekeh seorang diri, setelah yakin istri mudanya
benar-benar pergi, ia mengambil gawainya dan menelfon seseorang.
“Halo, Vic. Permainan akan segera dimulai. Apakah kau masih
di luar negeri?”
“Ya, aku baru akan melamar Shinta nanti siang,” sahut suara
pria itu.
“Baik, kalau begitu, atur anak buahmu untuk mempermudah
Queen melakukan penyelidikan. Taruh sesuatu pada minuman mereka saat bertemu
dan buat Queen menangkap basah keduanya.”
“Oke beres. Hehehe, jadi ini ya Al alasanmu kenapa tidak
dari dulu saja menceraikan Nayla?” tanya Vico sambil cengiran dari seberang
sana.
“Hah, tidak hanya pria, wanita juga harus berjuang.”
“Dasar, kau memang benar-benar ********, Al. Bisanya kau
memanfaatkan Nayla,” cetus Vico.
“Ini tidak seberapa dibandingkan dengan dia berselingkuh dan
menguras uangku untuk diberikan ******* pria itu. Lagipula, jika aku tidak
memanfaatkan Nayla, apa kau pikir akan sadar dengan perasaannya? Akan dia bisa
merasa cemburu dan tersaingi?”
“Ok, good Bro! Kau mau secepatnya adengan sedikit usaha,
atau biar semestinya saja, agar istri mudamu berjuang sedikit keras?” tanya
Vico sebelum mengakhiri panggilannya.
“Bukankah semakin usaha seseorang untuk mendapatkan sesuatu
akan semakin ia menjaganya seoanjang hidupnya?”
“Ok. Aku mengerti. Kau tinggal tunggu beres saja kalau
begitu.”
Al pun tertawa puas dengan apa yang ia dapakan hari ini.
Untuk merayakan ini, Al menggratiskan makan siang di kantin perusahaan untuk
makan siang hari ini. Anggap saja, ia tengah mentraktir karena moodnya tengah
baik.
***123
“Jev, aku suntuk banget nih hari ini. Bisa ketemu, gak?” Wanita
itu menggapit ponselnya diantara leher dengan bahunya. Sementara kedua
tangannya tengah sibuk memotong sayur dan ikan untuk menu makan siang putrinya
yang baru saja pulang dari sekolah.
“Maafin aku, Nay. Hari ini kayaknya gak bisa. Kerjaan di
kantor banyak banget. Apalagi sekarang papa mertua kamu yang menjabat jadi CEO.
Dia lebih ketat dan tegas pada staf jika ada kesalahan. Lain halnya dengan
suamimu.”
“Yach… Terus kapan dong kamu bisa ajak aku ketemu?” jawab
Nayla, kecewa.
“Gimana, dong? Bagaimana kalau malam? Tapi, apakah kamu
bisa?”
“Mungkin bisa. Lihat situasi dulu, ya? Kayaknya Mas Al
sekarang juga akan lebih peduli dengan istri barunya ketimbang aku.”
“Apa kamu merasa kelak suamimu akan menceraikanmu, Nay?”
“Mungkin tidak. Tapi, Queen tidak akan membiarkan mas Al
tetap bersamaku, dia bilang ingin jadi istri satu-satunya yang dimiliki mas Al.
Wanita itu sangat licik, Jev.”
“Terus kira-kira, kamuy akin tidak, bisa tetap
mempertahankan posisimu?”
“Aku tidak yakin. Karena aku tidak memiliki anak darinya.
Salahku yang diam-diam tengah melakukan steril.”
“Hah, la kenapa? Bukannya kamu anak Cuma satu Bilqis saja?”
tanya Jevin tak kalah kaget.
“Aku pikir, dengan tidak memiliki anak lagi dengan mas Al
dia akan tetap sayang sama Bilqis dan anggap dia sebagai putrinya. Aku takut,
jika kelak kami memiliki anak lagi, Bilqis akan tersisih, Jev. Ternyata itu
semua salah.”
Jevin diam sesaat. Sebenarnya ia tak peduli itu. Tapi, jika
sesuatu masih bisa di manfaatkan, kenapa harus disia-siakan?
“Nay. Jika memang kau yakin Al suatu saat akan meningglakanmu. Kenapa kau tidak mepertgunakan
uangnya saja untuk membeli rumah. Jadi, saat kau keluar dari sana nanti, kau
tidak bingung harus bagaimana? Biar tidak mencolok. Kamu gunakan saja, nama
surat pada sertifikat atas namaku agar tidak curiga.”
“Itu gampang Jev. Tapi, aku sudah menghabiskan banyak uang
selama dua bulan ini, sekitar tujuhratus jutaan. Aku taku ,as Al akan curiga
dan bertanya padaku, nanti.”
“aku Cuma kasih kamu saran. Tapi, jika meman kamu menolak
gakapa-apa, jika kau mau jadi gembel lagi kaya dulu,” cetus Jevin.
“Jev, kamu kok jadi gitu, sih? Katanya kamu mau nikahin aku
jika mas Al benar-benar menceraikan aku. Apakah kamu bohong?” tanya Nayla,
sambil meletakkan pisau dan sayur dari tangannya. Ia fokus memegang ponsel dan mencoba memahami apa yang baru saja Jevin katakan.
"Mana mungkin aku bohong, Nay. Tentu saja tidak. maksutku itu... "
"Apa? kau tidak akan menikahi ku jika aku tidak punya apa-apa? aku ga nyangka kau bakal kaya gitu, Jev. tega kamu."
"Nay, dengerin aku dulu, Nay. Maksut aku ga gitu..."
__ADS_1
Karena jengkel Nayla pun mematikan panggilannya. dan meneruskan memasak, karena pasti Bilqis putrinya sudah menunggunya sejak tadi.