Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
Episode 241


__ADS_3

  Sekitar pukul tiga lewat tiga puluh menit sore


hari. Quee  sudah terjaga. Nyawanya belum


sepenuhnya terkumpul. Jadi, ia hanya memandangi apa yang ada di depannya.


Kebetulan, ia sedang dalam keadaan posisi miring berhadapan dengan Al.


‘Kok aku baringan, ya?’ pikir Queen. Wanita itu pun


mengerakan tubuhnya perlahan dan sedikit merenggangkan dirinya dengan pria yang


memeluknya.


“Kamu sudah bangun, Sayang?” tanya Al. Rupanya dia tidak


tidur. Tapi, diam saja.


“Bukannya aku tadi duduk?”


“Ya, dan kau terus memegangi tanganku. Kenapa? Merasa


bersalah, ya?” ledek Al. Setengah menggoda, sambil terkekeh.


Awalnya Queen ingin marah dan menunjukkan sisi dirinya yang


biasanya. Tapi, mengingat bagaimana ekspresi Al yang benar-benar terlihat


kecewa dan marah kemarin, ia pun menurunkan egonya dan bersikap sedikit lembut


dan merendah.


“Iya. Aku ngaku memang aku salah. Maafin aku ya? Sejak saat


itu, aku sudah tidak lagi mengkonsumsunya. Aku juga tidak pakai alat


kontrasepsi lain, kok.” Queen pun duduk dan bersandar di sandaran spring bad.


Diikuti oleh Al dan kemb ali merangkul wanita itu ia


berkata. “Kenapa kamu lakukan itu? Apakah kau takut jika nanti kau sudah


benar-benar mencintaiku dan memiliki anak dengan ku aku akan mencampakkanmu?”


lirih Al.


Queen tidak menjawab. Ia hanya diam. Sedikitpun, ia tidak


pernah berfikir tentang hal itu. Tapi, jika Al sampai tahu alasan yang


sebenarnya, yang ada akan membuatnya kian marah dan hilang percaya lagi dengan


dirinya.


“Kamu jangan takut. Apapun yang terjadi, selama kau masih mencintaiku,


dan masih ingin tetap bersamaku, aku tak akan menghianatimu. Apalagi


menduakanmu.”


“Kau dulu juga janji begitu pada Nayla. Kenapa kau duakan


dia, dan menikah secara diam-diam dengan ku?”


Al tersenyum miring dan mencium ujung kepala Queen dan berkata,


“Aku hanya janji tidak akan meninggalkannya. Makanya, aku bertahan. Yang


penting, sekarang hanya kau yang aku cintai, kan?”


Queen merasa jengkel dan benci mendengarkan jawaban Al


langsung bangun dan pergi ninggalin Al. Sementara Al sendiri yang menyadari


kalau istri mudanya cemburu ia hanya terkekeh saja seorang diri.


Al setengah berlari mengejar Queen yang sudah berada di


tengah-tengah tangga. Tapi, wanita itu sedikitpun tidak peduli meskipun


berkali-kali di panggil.


“Sayang, aku bercanda. Kamu gak harus marah gitu, donk!”


seru Al.


Queen yang mulanya hendak berhenti dan berbicara pada


suaminya, ia urungkan saat melihat Nayla berada di depan pintu kamarnya


sendiri. Queen memiliki ide. Ia akan pura-pura marah agar Al terus mengejar dan


merayunya di hadapan Nayla. Agar wanita itu naik darah.


“Sayang, dengarkan aku. Sayang… “


“Jangan mendekat! Bersamalah istri tuamu!” cetus Queen.


Saat Al hendak masuk ke kamar itu. Tapi, Queen menutup


dengan cepat pintu kamarnya hingga dahi suaminya terbentur pada pintu, lumayan


keras.


“Mas, kau sudah sadar?” ucap Nayla sambil mendekati


suaminya.


“Jika aku masih pingsan, mana mungkin aku bisa berjalan,


Nay?” sahut Al, kesal. Namun, terdengar jenaka. Kemudian melewati Nayla dan


masuk ke kamarnya untuk mandi. Entah, sejak kapan dia tidak mandi. Selama di


Vila sepertinya ia cuma merokok dan minum saja. Badannya sampai-sampai rasanya


lengket semua.


Al mengankat sebelah tangannya ke atas dan mengendus


ketiaknya sendiri, lalu dia tertawa seorang diri. Sebau ini, bahkan Queen masih


bisa anteng dan nyenyak tidurnya saat kupeluk tadi? Benar-benar kangen apa efek


tidur, jadi aromanya tak tercium? Batin Al sambil terkekeh.


Usai mandi, dan hanya mengenakan celana boxer, Nayla sudah


duduk di depan meja rias. Sepertinya ada yang ingin dia bicarakan pada Al.


Tapi, apa? Pria itu tidak peduli.


“Mas. Aku mau bicara sama kamu.”


“Mau bicara ya ngomong saja, aku pasti dengerin kok.” Al


membuka lemari pakaian, mengambil kaus pendek berwarna putih, dan celana pendek


sebatas lutut berwarna hijau tosca.


“Mas, sudah lama sekali aku merasa terabaikan olehmu, dan


sekarang, bahkan diam-diam kau menikahi adik angkatmu. Apa maksutmu, Mas?”


protesn Nayla dengan air mata berlinangan.


“bukannya untuk laki-laki, nikah lebih dari satu itu boleh?


Yang penting aku adil.”


“Tapi, kau tidak meminta izinku, Mas. Bukannya salah satu


saratnya adalah meminta syarat dari istri pertama?”


“Lalu, apakah kau ada izin saat keluar sendirian di saat aku


tidak di rumah dan menemui siapa, apakah aku tahu? Coba, kulihat chatmu! Dengan


siapa saja kau berkomunikasi?” Al masih saja tenang, sambil merapikan rambutnya


dan juga memakai parfum.


“Apa kau sudah tidak mencintaiku lagi, Mas? Jika memang


sudah bosan, kenapa kau tidak menceraikanku saja?” ucap Nayla dengan kedua


pundak yang bergetar karena isakan tangisnya.


“Oh, jika kau mau bercerai, aku juga tidak keberatan. Apa


masih kurang selama ini aku memberimu materi dan uang? Berapapun yang kau


habiskan, aku juga tidak pernah tanya kau gunakan untuk apa, kan. Tapi… “


“Tapi, apa Mas? Tidakkah kau sadar jika seperti ini lebih


menyakitkan daripada diceraikan dengan alasan yang jelas?”


Al tertawa miring melihat Nayla kemudian ia pergi


meninggalkan kamar tersebut dan membatin. ‘Ini setara dengan apa yang kau


lakukan Nay. Kau hianatiku, dan jadi wanita pezina, menguras isi ATM ku untuk


kau berikan pada pria banci seperti Jevin.’


Di meja makan, ia sudah melihat anak tiri, istri muda dan


juga papa dan kakek mertuanya di bawah. Sepertinya mereka telah menunggunya.


“Papa, kau dari mana saja? Kok sekarang jadi jarang pulang?”


tanya Belqis begitu melihat Al.


“Papa ada urusan bisnis di luar kota. Bagaimana dengan


sekolahmu? Apakah semuanya berjalan baik-baik saja?”


“Iya, Pah. Semua lancar, dan sebentar lagi adalah kelulusan sekolah


ku. Apakah papa mau menemani mama untuk wali murid?”


“Oh, tentu saja. Kenapa harus dengan mama juga kalau sudah ada


papa?”


“Karena teman-teman semuanya begitu. Sedangkan aku, Cuma


mama saja yang selalu hadir,” jawab bocah itu dengan polos.


“Oke, papa janji akan ikut ke sana, oke?”


Queen yang sedari tadi hanya menahan saja mendengar obrolan


Al dan anak tirinya kian tidak tahan saja. Terlebih saat keduanya masih asik


bercanda dan bergurau. Wanita itu pun beranjak meninggalkan meja makan.


“Kalian makan saja. Aku tidak lapar,” cetus Queen.


Sementara Al hanya tertawa seorang diri dan berkata,


“Cemburu dia sama ank kecil.”


“Al, kau selalu saja menggodanya. Tidak pernah kapok kamu,


ya?”


“Kalau tidak begitu Kek. Dia tidak akan pernah punya anak sendiri


nanti, hehehe.”

__ADS_1


“Pergi bujuk dia!”


“Nanti saja, kalau sudah tenang. Kasih dia waktu umtuk


meluapkan amarah dan meredamnya sendiri, setelahnya juga ia akan bisa berfikir


kenapa dan harus bagaimana, kek.” Jawab Al enteng.


“Dia lebih tahu sifat ex adiknya, Pa. Biarkan saja mereka.


Kita Cuma penonton,” timpal Vanao. Dan ketiganya pun tertawa.


Usai makan malam Al berusaha membujuk Queen sekaligus


merayunya.


Hampir setengah jam lamanya ia di abaykan oleh Queen yang


sepertinya tengah sibuk dengan komputernya. Entah apa yang tengah ia kerjakan.


Urusan kantor yang sekarang dipegang papanya, Atau yang akan dikelola Al dan


dirinya?


Sayang, apakah kau tidak lelah mengabaikanku?” ucap Al, yang


mulai merasa lelah dan ngantuk.


“Masih ada banyak hal yang harus aku kerjakan,” jawab Queen


singkat.


“Sejak kapan kau lebih mengutamakan pekerjaan dari pada


suamimu?”


“Kenapa? Kau tidak terima? Bukankah istrimu tidak hanya aku?


Lusa kau juga akan pergi ke sekolahan anakmu bersama istri tuamu itu, kan?”


jawab Queen dengan ketus. Tanpa mengalihkan pandangannya dari layar monitor.


Al yang sudah dari tadi gemas dengan Queen yang mulai


menunjukkan rasa cemburunya, tak tahan lagi jika harus berdiam. Ia pun


menghampiri dan memeluknya dari belakang.


“Kau ini kenapa, Sayang? Apakah kau cemburu? Kau tidak suka


aku meperhatikan Bilqis? Kamu kan tahu, aku suka anak-anak. Makanya, kamu kasih


aku dong! Atau, kau izinkan aku menikah lagi dengan wanita yang mau memberiku


banyak anak?” goda Al lagi.


Dalam suasana PMS begini, dan Queen yang hawanya cuma emosi


saja, terlalu gengsi untuk mengatakan tidak atau jangan. Akhirnya, apa yang


mulutnya ucapkan dan hatinya pun saling bertentangan, “Cari saja semaumu yang


banyak, bawa pulang, kenalkan aku pada mereka!”


“Oh, kau memang istri yang baik, terimakasih Sayang.” Al


mengecup kening Queen dan pergi keluar dari kamar Queen.


Begitu Al sudah pergi, Queen malah merasa jengkel sendiri.


Ia membanting apapun yang ada di hadapannyaa, termasuk keyboard komputernya


sendiri. Wanita itu memandang pintu kamar yang sudah tertutup dan bergumam


dalam hati, ‘Aku berkata iya, tapi hatiku berteriak jangan, Al. Aku


mencintaimu, dan aku ingin hanya aku yang kau jadikan prioritas, bukan yang


lain.’


 Padahal Al tidak


pergi kemana-mana selain ke bawah dan mengambil bantal dari kamarnya.


Sementara Nayla, di kamarnya jengkelnya kian berlipat.


Urusan dengan Queen sudah membuatnya prustasi dan harapan bisa membuatnya


bercerai dengan suaminya juga kecil. Kini malah Jevin kembali menelfon dan meminta


uang sebanyak sepuluh juta, dan harus ditransef sekarang juga. Sehingga hal itu


sukses membuat Nayla terus uring-uringan.


Merasa tak bisa fokus dengan pekerjaanya, Queen pun mencuci


muka dan bersiap untuk tidur, itu pun tanpa makan malam. Saking emosi dan


jengkelnya, ia bahkan melupakan rasa lapar pada perutnya.


Usai dari kamar mandi, saat ia masih mengelap wajah dengan


handuk. Pintu kamarnya terbuka, dia kira siapa, ternyata Al masuk dengan sebuah


bantal di tangannya, dan tersenyum padanya.


“Kenapa bawa bantal kemari?”


“Ya mau tidur, emang mau ngapain? Bikin anak? Kamu kan


menolak.”


“Bukankah kau bilang akan mencari wanita untuk kau jadikan


istri ketiga?”


“Tidak. Aku masih lelah, sekarang  aku mau istirahat dulu, saat kelalahan, gak


pun langsung meletkkan bantal di atas kasur dan merebahkan tubuhnya.


Baru saja Queen duduk di tepi ranjang, ponsel Al berbunyi


seperti suara pesan SMS masuk. Queen yang biasanya cuek dengan isi ponsel suaminya,


ia pun jadi ingin tahu, mungkin di benaknya itu adalah pesan dari wanita yang


dihubungi Al.


“Al, ada pesan, tuh!” ucap Queen.


“Biarin saja.”


“Kamu buka gak?”


“Kenapa sih, Sayang?


“Kamu buka, gak? Aku mau kamu bukak sekarang. Itu pesan dari


siapa?”


“Kalau kamu mau tahu, buka saja, Sayang! Kata sandinya


tanggal lahir kamu,” jawab Al dengan mata terpejam.


Tanpa basa basi pun Queen meraih benda pipih milik suaminya


itu dan membukanya. Ternyata pesan mutase dari bank. Memberitahukan kalau


transfer ke no rek: xxxxxxxx sebesar sepuluh juta telah berhasil.


“Kamu tranfer uang pada siapa ini, Al selarut ini?” tanya


Queen dengan mata terbelalak.


Al pun membuka matanya dengan paksa dan mengankat kepalanya.


“Apa sayang? Aku tidak tranfer pada siapapun.”


“Ini buktinya, sepuluh juta, apaan?”


Al yang sudah sangat ngantuk berat pun akhirnya menarik


kedua lengan Queen dan membawanya tidur bersamanya dan berkata, “Ini sudah


malam. Besok kita harus bekerja. Tidur saja, biar besok aku kasih tahu kamu.”


Pagi itu Queen bangun lebih awal. Begitu bangun, ia langsung


mandi dan bersiap untuk menmani suaminya pergi ke kantor.


Al mengeliat Panjang dan mengucek kedua matanya yang masih


terasa lengket.


“Selamat pagi, Sayang, kau sudah cantik saja jam segini?”


sapa Al.


Queen tidak menjawab, ia beranjak mengambilkan Al handuk dan


memberikan pada pria yang masih ingin bermalas-malasan di atas ranjang


tersebut.


“Ini hari pertama kau akan berfokus di bidang interior. Ayo


sayang yang semangat,” ucap Queen sambil tersenyum lembut dan menarik kedua


tangan suaminya agar duduk, dan memintanya segera mandi.


Al awalnya menolak, ia masih ingin bermanja-manja pada


Queen. Tapi, wanita itu menolaknya.


“Mandi dulu, kalau udah, nanti aku cium,” jawab Queen.


Membuat Al menjadi menurut, seperti baalita tiga tahun yang menolak di suruh


mandi dan baru mau jika udah akan diberi coklat dan lollipop.


Usai mandi, Al menagih janji yang Queen berikan. Dari


belakang, Al merangkul Queen dan hendak mencium pipinya. Tapi, Queen menolaknya


lagi. “Pakai pakaianmu dulu!”


“Argh!” erang pria itu, prustasi. Tapi, tak ada pilihan


selain menuruti permintaan Queen.


Ketika Al mulai mengancingkan kemejanya, Queen kembali


memberi pertanyaan yang sama, yang semalam tidak dijawab olehnya.


“Kamu semalam habis transfer pada siapa, Al?”


“Aku tidak mentranfernya sayang. Rekening yang itu, Nayla


yang pegang. Aku juga tidak tahu, dia gak bilang apa-apa sama aku,” jawab Al


sambil menyisir rambutnya.


Queen pun diam. Ia berfikir untuk apa uang sebanyak itu dan


pada siapa ia mentransfernya? Kemudia  ia


memiliki akal, “Di mana buku tabunganmu tersebut?”


“Ada di kamarnya Nayla.”


“Ambil sekarang!”

__ADS_1


“Untuk apa, Sayang? Jika kau mau, aku masih punya beberapa


rekening, kenapa gak atmnya saja. Jika kau ambil bukunya, saja, kau tidak bisa


mengambil uangnya, kan?’’


“Aku punya rekeningnsendiri, dan aku cuma mau buku tabungan mu


yang ATM-nya dibawa Nayla,” jawab Queen sambil memanyunkan bibirnya.


Al hanya tersenyum, ia yakin, apa yang sudah lama ia


rencanakan selama ini, pengorbanan waktu an apapun, akan berhasil.


Setelah memasang dasinya, Al memeluk dan mencium Queen yang


masih saja cemberut dan berkata, “Akan kuambilkan, Sayang.” Al pun keluar dari


kamar Queen dan tak lama kemudian ia kembali dengan buku tabungan berwarna biru


di tangannya dan memberikannya kepada Queen.


Queen hanya beberapa jam saja di kantor kurang lebih hanya


dua jam. Sebenarnya dia cukup merasa nyaman di sini. Sebagian besar karyawanya


adalah laki-laki. Jadi, tak begitu banyak gossip yang beredar. Terlebih Al di


sini juga jarang, dan sebagian besar dari mereka tentu saja tidak tahu siapa


istri Al. Karena Nayla tidak pernah datang ke sini.


Tak lama kemudian Queen kembali ke kantor. Tanpa mengetuk


pintu, Wanita itu kembali dan menujukan pada Al hasil prin buku tabungannya.


“Al, imi apa-apaan? Digunakan utu kapa Nayla uang sebanyak


ini? Cuma dalam waktu dua bulan dia sudah menhabiskan uang sebanyak tujuh ratus


juta,” ucap Queen dengan marah.


Al masih berusaha tenang, memancing rasa cemburu dan


kebenciannya terhadap dirinya, juga Nayla. Ia yakin, dengan begitu, wanita itu


akan melakukan penyelidikan, untuk apa uang itu sebanranya. Dan Al cukup diam


saja melihat, seberapa besar usahanya untuk menyingkirkan Nayla.


“Mana aku tahu, Sayang. Kan tadi pagi sudah kujawab, aku


tidak tahu karena Nayla tidak pernah bilang.”


“Kenapa tidak kamu tabnyakan itu uang buat apa? Uang segitu


tidak sedikit, Al.”


“Jika kau mau, kau juga boleh ambil uangku segitu, atau


lebih juga gak masalah. Kalian berdua adalah istriku. Jadi, aku harus adil,


dong,” jawab Al sambil menggoda Queen mencubit dagunya. “lagi pula, dia kan


punya anak. Siapa tahu untuk kebutuhan Bilqis, kan?” imbuh Al.


“Bilqis itu masih TK. Tidak mungkin menghsbiskan uang sampai


ratusan juta!”


“Bagaimana kau tahu, kau saja tidak punya anak. Makanya,


kamu cepatah hamil agar kau tahu, ya?” ucap Al sambil merayu Queen, memepetkan


tubuhnya di pojokan dinding dan mendekatkan wajahnya.


‘’Baik, karena kau tidak mau kasih tahu, aku akan cari tahu


sendiri.” Queen mendorong tubuh suaminyam dan pergi meninggalkan tempat itu.


Al terkekeh seorang diri, setelah yakin istri mudanya


benar-benar pergi, ia mengambil gawainya dan menelfon seseorang.


“Halo, Vic. Permainan akan segera dimulai. Apakah kau masih


di luar negeri?”


“Ya, aku baru akan melamar Shinta nanti siang,” sahut suara


pria itu.


“Baik, kalau begitu, atur anak buahmu untuk mempermudah


Queen melakukan penyelidikan. Taruh sesuatu pada minuman mereka saat bertemu


dan buat Queen menangkap basah keduanya.”


“Oke beres. Hehehe, jadi ini ya Al alasanmu kenapa tidak


dari dulu saja menceraikan Nayla?” tanya Vico sambil cengiran dari seberang


sana.


“Hah, tidak hanya pria, wanita juga harus berjuang.”


“Dasar, kau memang benar-benar ********, Al. Bisanya kau


memanfaatkan Nayla,” cetus Vico.


“Ini tidak seberapa dibandingkan dengan dia berselingkuh dan


menguras uangku untuk diberikan ******* pria itu. Lagipula, jika aku tidak


memanfaatkan Nayla, apa kau pikir akan sadar dengan perasaannya? Akan dia bisa


merasa cemburu dan tersaingi?”


“Ok, good Bro! Kau mau secepatnya adengan sedikit usaha,


atau biar semestinya saja, agar istri mudamu berjuang sedikit keras?” tanya


Vico sebelum mengakhiri panggilannya.


“Bukankah semakin usaha seseorang untuk mendapatkan sesuatu


akan semakin ia menjaganya seoanjang hidupnya?”


“Ok. Aku mengerti. Kau tinggal tunggu beres saja kalau


begitu.”


Al pun tertawa puas dengan apa yang ia dapakan hari ini.


Untuk merayakan ini, Al menggratiskan makan siang di kantin perusahaan untuk


makan siang hari ini. Anggap saja, ia tengah mentraktir karena moodnya tengah


baik.


***123


“Jev, aku suntuk banget nih hari ini. Bisa ketemu, gak?” Wanita


itu menggapit ponselnya diantara leher dengan bahunya. Sementara kedua


tangannya tengah sibuk memotong sayur dan ikan untuk menu makan siang putrinya


yang baru saja pulang dari sekolah.


“Maafin aku, Nay. Hari ini kayaknya gak bisa. Kerjaan di


kantor banyak banget. Apalagi sekarang papa mertua kamu yang menjabat jadi CEO.


Dia lebih ketat dan tegas pada staf jika ada kesalahan. Lain halnya dengan


suamimu.”


“Yach… Terus kapan dong kamu bisa ajak aku ketemu?” jawab


Nayla, kecewa.


“Gimana, dong? Bagaimana kalau malam? Tapi, apakah kamu


bisa?”


“Mungkin bisa. Lihat situasi dulu, ya? Kayaknya Mas Al


sekarang juga akan lebih peduli dengan istri barunya ketimbang aku.”


“Apa kamu merasa kelak suamimu akan menceraikanmu, Nay?”


“Mungkin tidak. Tapi, Queen tidak akan membiarkan mas Al


tetap bersamaku, dia bilang ingin jadi istri satu-satunya yang dimiliki mas Al.


Wanita itu sangat licik, Jev.”


“Terus kira-kira, kamuy akin tidak, bisa tetap


mempertahankan posisimu?”


“Aku tidak yakin. Karena aku tidak memiliki anak darinya.


Salahku yang diam-diam tengah melakukan steril.”


“Hah, la kenapa? Bukannya kamu anak Cuma satu Bilqis saja?”


tanya Jevin tak kalah kaget.


“Aku pikir, dengan tidak memiliki anak lagi dengan mas Al


dia akan tetap sayang sama Bilqis dan anggap dia sebagai putrinya. Aku takut,


jika kelak kami memiliki anak lagi, Bilqis akan tersisih, Jev. Ternyata itu


semua salah.”


Jevin diam sesaat. Sebenarnya ia tak peduli itu. Tapi, jika


sesuatu masih bisa di manfaatkan, kenapa harus disia-siakan?


“Nay. Jika memang kau yakin  Al suatu saat akan meningglakanmu. Kenapa kau tidak mepertgunakan


uangnya saja untuk membeli rumah. Jadi, saat kau keluar dari sana nanti, kau


tidak bingung harus bagaimana? Biar tidak mencolok. Kamu gunakan saja, nama


surat pada sertifikat atas namaku agar tidak curiga.”


“Itu gampang Jev. Tapi, aku sudah menghabiskan banyak uang


selama dua bulan ini, sekitar tujuhratus jutaan. Aku taku ,as Al akan curiga


dan bertanya padaku, nanti.”


“aku Cuma kasih kamu saran. Tapi, jika meman kamu menolak


gakapa-apa, jika kau mau jadi gembel lagi kaya dulu,” cetus Jevin.


“Jev, kamu kok jadi gitu, sih? Katanya kamu mau nikahin aku


jika mas Al benar-benar menceraikan aku. Apakah kamu bohong?” tanya Nayla,


sambil meletakkan pisau dan sayur dari tangannya. Ia fokus memegang ponsel dan mencoba memahami apa yang baru saja Jevin katakan.


"Mana mungkin aku bohong, Nay. Tentu saja tidak. maksutku itu... "


"Apa? kau tidak akan menikahi ku jika aku tidak punya apa-apa? aku ga nyangka kau bakal kaya gitu, Jev. tega kamu."


"Nay, dengerin aku dulu, Nay. Maksut aku ga gitu..."

__ADS_1


Karena jengkel Nayla pun mematikan panggilannya. dan meneruskan memasak, karena pasti Bilqis putrinya sudah menunggunya sejak tadi.


__ADS_2