Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
Will Die 19


__ADS_3

Usai makan siang dan membereskan sisa-sisa makanan, ketiga anak itu habiskan waktu ngobrol dan bercengkerama di ruang tamu. Ada saja yang mereka bahas, tentang pekerjaan, kampus, teman bos dan apapun yang ringan-ringan saja.


Sedangkan Berlyn, ia hanya menjadi bagian pe nyimak saja. Memandang wajah Axel, jika pria itu yang bercerita. Kemudian memandang Berlyn jika ia yang bercerita. Begitulah seterusnya.


Sampai pada suatu sore, ketika Axel merasa kalau Berlyn memang tidak ada kegiatan dan akan menemani Berlyn, akhirnya pria itu pun berpamitan. Kau ke mana nanti, urusan belakangan. Yang penting sekarang menghindari Bilqis dulu, agar ia terlepas dari suasana canggung dan serba tak nyaman.


"Berlyn, ya sudah kalau gitu kak Axel mau pamit dulu, ya? Kak Axel ada kegiatan di GYM," ucap pria itu sambil menatap kedua bola mata gadis yang lebih pendek darinya. Sambil kedua tangannya memegang dua sisi bahunya.


'lihat saja, mereka bahkan tidak peduli denganku. Dianggap apa aku ini? Obat nyamuk kah?' umpat Bilqis dalam hati sambil memalingkan wajah. Pura-pura tidak melihat adalah pilihan tepat. Walaupun mereka tidak mesra, tetap saja ia tidak nyaman. Kecuali, jika memang dari awal dia memang tidak ada rasa pada pria itu.


Berlyn hanya mengangguk lembut sambil tersenyum. Lalu, berpesan dalam bahasa isyarat mengatakan kepada Axel agar dia hati-hati di jalan.


Menanggapi perhatian dari sosok yang diam-diam ia cintai itu Axel hanya tersenyuum. Lalu tertawa dan berkata, "Iya, Berlyn, Sayang. Kak Axel akan berhati-hati. kau jaga diri baik-baik ya?"


"Ya," jawab Berlin sambil mengangguk menunjukkan keceriaan wajahnya.


Mungkin ia membatin kalau lebih baik Axel pergi saja. Semenjak ia dewasa, ia jadi merasa sedikit aneh jika bersama hanya dengan Axel saja. Entah perasaan apa yang dia rasakan. Seringkali ia merasa canggung dan malu-malu ketika Axel melakukan sesuatu untuknya, dan sebagai imbalannya pria itu minta dicium. Berlyn juga melakukannya dengan sangat terpaksa. Karena dia tidak mau berhutang budi, dan demi sesuatu yang ia dapatkan misalnya. Seperti beberapa hari yang lalu. Ketika dia dan Axel berkunjung me perpustakaan kota. Berlyn ingin ambil buku yang berada di rak tertinggi. Sedangkan dia sudah berusaha keras sampai melompat-lompat juga tidak bisa mendapatkannya. Jadi, Axel mau mengambilkannya dengan satu sarat.  Berlyn harus mau mencium kedua pipinya. Selama tempatnya sepi, dan tidak ada siapapun di sana, Berlyn mau melakukannya. Walau dengan sebal. Daripada tidak diambilkan buku yang ia mau. Toh selama ini Axel juga tidak pernah sekalipun berbuat kurang ajar padanya. Setelah mendapaykan apa yang dimau, pria itu pasti akan tertawa terbahak setelahnya.


Usia Berlyn sudah dewasa. Tujuh belas tahun. Wajar jika dia sudah memiliki rasa malu jika mencium pipi pria dewasa selain papanya di depan umum. Tidak seperti dulu saat ia masih anak-anak dan berusia sepuluh tahun. Meskipun prilaku Axel tidak ada yang berubah. Tetap saja.


"Bilqis! Apakah kau tidak ada acara sore, ini?" tanya Axel tiba-tiba. Bahkan Gadis itu nggak tahu kapan pria itu berjalan. Tahu-tahu sudah ada di dekatnya saja.


"Duh!" ucap Bilqis sambil mengelus dadanya beberapa kali sepertinya ia benar-benar kaget. "aku tidak ada acara," jawabnya kemudian. Mungkin dengan begitu bisa membuat Axel tidak akan kembali lagi nanti.


Axel tersenyum tipis kemudian berkata, "Ya sudah syukurlah kalau kamu tidak ada acara. kak Axel titip Berlyn, ya? Kakak harus segera ke GYM," ucapnya kemudian sambil menepuk bahu kanan Bilqis beberapa kali kemudian pria itu pergi meninggalkan tempat tersebut.


Bilqis hanya memandang pria itu dari belakang. Sampai punggungnya lenyap hilang di balik pintu ruang tamu, barulah ia berjalan mendekat ke arah Berlyn dan bertanya pada gadis yang ia anggap adiknya sendiri.


"Berlyn Apakah kak Axel sudah lama di sini?" tanya nya.


Gadis itu menggeleng beberapa kali kemudian menjawab dengan bahasa isyarat kalau Axel yang menjemputnya dari sekolahan. Sebelumnya ia menawari untuk makan siang dan makan di mana terserah dia. Jadi, sebagai ucapan rasa terima kasihnya ia memaksakan sesuatu untuk makan siang dan tidak lama kemudian dirinya pun datang lalu makan bertiga.


Bilqs hanya mengangguk-angguk tanda iya paham. Gadis itu selalu percaya dengan Berlyn yang masih polos di usianya yang sudah menginjak remaja ini. Lagi pula, sejauh ini gadis yang ada di depannya tidak pernah terlihat menunjukkan respon kalau ia menyukai Axel. Entahlah, mungkin dia belum memiliki cinta pertamanya. pikir Bilqis


"Emang tadi sebelumnya kalian tidak ada acara gitu mau main ke mana, kek? Kan nanti malam minggu," tanya Bilqis lagi. Padahal gadis itu juga tahu, jika saja jawabannya iya, dan ada. Ia merasa sakit. Tapi, tetap saja tanya. Tapi, apa yang bisa ia lakukan selain move on dan melupakan segalanya dengan ikhlas. Karena, untuk membenci atau iri pada Berlyn ia juga tidak bisa.


Berlin hanya mengangkat kedua tangan dan bahunya tanda ia tidak tahu karena saat di jalan Axel juga tidak mengatakan apapun.


"Oh, baiklah! Kalau gitu emang nanti kamu ada acara tidak? tanya Bilqis. Jika memang adiknya tidak ada acara, ia ingin mengajaknya keluar dan jalan-jalan.


'Aku kurang tahu. Soalnya tadi kak Adriel ingin mengisi malam minggu di sini. Kita akan bakar-bakar di halaman belakang,' jawab gadis itu denhan bahasa isyarat.


"Oh, ya sudah. Kalau nanti dia tidak jadi datang, bagaimana kalau jalan sama kak Bilqis saja?" tawar hadis itu. Ia kangen dengan main bersama di time zone seperti dulu. Ia merasa kalau dulu, dirinya terlalu menyia-nyiakan masa mudanya. Masa muda yang harusnya dilewati dengan bahagia, ia malah sibuk ngebucin dan akhirnya menderita.


Berlyn mengangguk tanda ia setuju.


"Tapi, Ber, misal nanti Adriel benar jadi, boleh kan kak Bilqis ikut bersama kalian?" ucapnya sambil tertawa tertahan. Gadis itu memang tidak pernah risih bergaul bersama Adriel dan Bilqis yang usianya jauh di bawahnya. Mungkin saja, dia juga tidak sadar kalau usianya sudah bukan lagi anak belasan tahun. Dia bukan lagi anak SMA. Tapi, seorang wanita karir dewasa yang seharusnya sudah berkeluarga dan memiliki anak. Namun, entahlah. untuk menika Bilqis masih belum kepikiran.

__ADS_1


Mungkin karena sering bergaul dengan anak yang jauh usianya di bawahnya jadi pola pikirnya pun juga seperti mereka. Dari segi wajah dia juga tergolong imut siapa pun tidak akan menyangka kalau iya itu sudah berusia dua puluh lima tahun lebih. Tak jarang pula, di tempat ia bekerja ia sering dikira ia masih kuliah atau baru lulus oleh karyawan baru, atau tamu dari luar yang datang untuk menawarkan kerja sama, atau pihak dari pusat yang melakukan kunjungan.


"Tiiin.... Tiiiin!


Terdengar bunyi klakson di luar pagar rumah. Dua gadis itu saling berpandangan, lalu keduanya berlari melihat Siapa yang datang dengan tebakan masing-masing di dalam benak mereka.


Setelah mengintip dari lubang yang memang disediakan di pagar itu, keduanya tertawa karena tebakan mereka tepat. Yang datang ternyata papa mama dan juga om Dedi.


"Mama sudah pulang?" sapa Bilqis.


"Iya, dong. Kalian makan apa tadi untuk makan siang?" tanya Queen.


"Berlyn tadi masak untuk kami, Ma."


"Berlyn, bagaimana kau pulang sekolah tadi?" tanya Al.


Lalu, gadis itu memberi isyarat kalau kak Axel yang menjemputnya. Lalu mengantarkan pulang. Dia pergi setelah makan siang.


"Ya sudah. Bagaimana kalau nanti kita nonton bareng?" usul Queen sambil mengeluarkan enam lembar tiket dari dalam tasnya ketika mereka sudah berada di dalam rumah.


Berlyn hanya tersenyum biasa. Kemudian ia beranjak ke dapur. Ia tidak menghitung jumlah tiket yang dibawa mamanya. Ia hanya bingung. Khawatir kalau nanti tiba-tiba Adriel jadi datang kemari. Kasian juga kan kalau ditinggal. Tapi, ia juga tidak enak jika harus menolak orangtua sendiri.


Lain halnya dengan Bilqis yang jomblowati. Dia sangat antusias. Terlebih itu film terbaru yang sepertinya sangat seru ketika ia melihat beberapa waktu trailer nya di internet.


"Pink!"


Gadis itu melirik ke dalam layar sentuhnya. Ia tidak tahu, siapa yang mengiriminya pesan. Karena, motivasi disembunyikan. Untuk membuka pesannya saja juga perlu sidik jarinya. Karena, ia khawatir jika yang mengirim pesan itu adalah kembarannya.


Berlyn tersenyum tipis kala melihat kalau yang mengirimkan pesan adalah Adriel.


"Hy. Aku sudah selesai les. Kamu lagi apa?" tulis pria itu pada pesan wa nya.


Berlyn tersenyum sampai barisan giginya yang rapi terlihat membuat dirinya terlihat kian cantik saja.


"Papa dan mamaku sudah kembali. Kau jadi apa tidak ke sini? Dia membawa tiket bioskop untuk film terbaru, loh!" balas Berlyn.


"Emb... Lalu, gimana dong? Jadi, tidak? Aku lagi di perjalanan menuju rumah kamu nih,"


"Tidak masalah. Kemarilah."


Setelah menulis jawaban untuk Adriel, Berlyn meningkatkan ponselnya di dapur dan membawa minuman yang baru saja ia buat ke ruang tamu.


"Kamu baik sekali, Sayang?" ucap Al saat melihat putrinya kembali dari dapur dan membawakan dia dan istrinya minuman.


Berlyn hanya tersenyum saat papanya merangkulnya dari samping dan mencium ujung kepalanya.


"Dreet... Dreeet..."

__ADS_1


"Mama telfon, aku angkat dulu," ucap Bilqis setelah melihat ke dalam layar sentuhnya.


Gadis itu mencari tempat yang sepi. Ia berdiri di dekat ruang tengah yang menghubungkan antara ruang tamu dan dapur. Kemudian mengangkat panggilan dari mamanya.


"Halo! Ada apa, Ma,?" jawab gadis itu. Kemudian mencari tempat untuk duduk.


"Halo, Bilqis! Kau ada di, mana? c


Cepatlah pulang. Mama ada kepentingan sama kamu," jawab Nayla. Tegas tanpa basa-basi.


"Emangnya ada apa sih, Ma?" tanya Bilqis. Gadis itu merasa heran. Karena tidak biasanya mamanya seperti itu. Padahal, Nayla sendiri juga tahu kalau ia sekarang berada di rumah Mama Queen menemani Berlin yang ditinggal oleh kedua orang tuanya mengantarkan ke kampung halaman bik Yul. Sebab sebelumnya ia sudah izin tadi melalui pesan chat. Jika belum di buka juga tidak mungkin. Karena sang mama sudah membalas pesannya.


"Sudah malam bilang pulang, ya pulang! Mama ada keperluan sama kamu, dan ini penting banget. cepetan," jawab Nayla lagi.


Bilqis pun akhirnya mematikan panggilan dan berpamitan pada pa pa Al, mama Queen dan juga Berlin. Ia mengatakan yang sejujurnya. Tidak tahu apa alasan mamanya menyuruhnya pulang cepat. Namun, ia merasa ada yang tidak beres saja pada diri mamanya. Tak biasanya juga bersikap seperti itu. Apa alasannya? Apakah tanpa sengaja aku bikin salah? Pikirnya.


"Kenapa buru-buru? Kita jadi nonton apa tidak, nanti?" tanya Al pada anak tirinya itu yang kini sudah menjadi wanita dewasa, walau tingkahnya terkadang masih seperti anak-anak. Mungkin efek pergaulan.


"Tidak tahu, Pa. Aku berharap masih bisa nonton bareng kalian. Kapan lagi coba ada kesempatan kek gini? Kan, jarang-jarang banget. Tapi, enggak tahu lagi, nih. Mama tiba-tiba nelpon dan maksa banget aku suruh cepat pulang," jawabnya dengan sedikit keberatan.


"Ya sudah. Turuti saja dulu mama kamu siapa tahu, bener-bener penting, kan?" ucap Queen. Kemudian Bilqis pun beranjak pulang meninggalkan rumah itu.


Sesampainya di rumah ia merasa tidak ada yang aneh dengan keadaan rumahnya. Tetap sepi. Juga ia dapati mamanya duduk di ruang tamu terlihat sekali kalau ia sedang menunggunya.


Tapi, entah kenapa. Hatinya tiba-tiba saja berdebar-debar. Jantungnya juga berdetak kencang. Rasa was-was dan takut mendadak menjalar ke dalam diri dan merasuk dalam pikirannya. Terlebih, mamanya memasang muka datar seperti itu. Walaupun ia tahu, selama tidak membuat kesalahan harus tetap tenang. Tapi, dia malah kian takut saja.


"Selamat sore, Mama," sapa Bilqis dengan kaku. Mencoba mencairkan suasana, agar tidak beku dan tegang.


"Sudah pulang kamu, Bilqis? Duduk!" serunya tegas dengan raut wajah yang serius sambil menunjuk pada kursi tepat di depannya. Sebelumnya, tidak pernah Nayla memasang ekspresi seperti ini sebelumnya. Hal itulah yang membuat Bilqis jadi sedikit merasa takut dan was-was aja dan berfikir keras.


Tanpa menjawab, gadis itu pun duduk di depan mamanya. Ia diam menunduk kedua tangannya diletakkan di antara pahanya dan siap mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh mamanya. Sambil berharap, semoga tidak ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.


"Kamu tahu, kenapa mama memintamu segera kembali?" tanya Nayla memulai pembicaraan.


"Tidak tahu. Ada apa, Ma?"


"Mama sudah banyak dengar laporan dari beberapa orang yang tidak sengaja melihatmu pergi dengan Tiara. Akhir-akhir ini kau sering masuk ke club malam, kan?"


"Deg!"


Bilqis meremas rok yang ia kenakan untuk menetralisir rasa takutnya. Agar sedikit bisa tenang dan rilex.


"Kamu jawab! Jangan hanya diam. Bukankah sudah sejak lama sekali kak Axel sudah memperingati mu agar jaga jarak dengan Tiara?"


"Maaf, Ma. Bilqis cuma cari hiburan saja kok, Ma."


"Hiburan? Harus masuk ke sana?" tanya Nayla dengan nada meninggi. Membuat Bilqis menjadi gemetar dan kian takut saja. Sebab, sebelumnya mamanya tidak pernah terlihat semarah ini.

__ADS_1


__ADS_2