
Semua mata menatap aneh pada Quen yang berjalan melewati banyak para staf yang lalu lalang. Memang ini jam makan siang. Yang semula ada di dalam ruang kasrja masing-masing semua keluar untuk makan siang. Entah dari bekal yang sengaja di bawa, ke kantin bahkan ada yang keluar area kantor.
Queen berusaha cuek meski mendengar banyak hal buruk dari mereka. Ia sengaja tidak menggandeng Al agar mereka bisa puas memaki dan mengatai dirinya.
"Lihat, mentang-mentang punya wajah cantik aja seenaknya dia ya. Padahal ya gak cantik-cantik amat. Udah bagus suaminya ganteng dan sayang malah ngotot minta cerai," ucap salah satu staf saat melihat Quen yang baru saja lewat di depannya.
"Mungkin suaminya tak setajir pak Al kali... Biar jadi simpenan kan gak masalah sukur-sukur kalau dinikahi sah, menang banyak tuh pelakor."
Tanpa mereka sadar jauh di belakang Queen an berjalan mengikutinya. Jadi, apa yang baru saja mereka ucapkan, Al dapat mendengarnya dengan sangat jelas.
"Iren, Rosi, kalian ke HRD sekarang ambil gaji kalian dan pergi dari sin!" ucap Al datar dan tegas.
Kedua wanita itu terbelalak kaget. Bagaimana mungkin pak Al ada di sini? ,
"Pak Al... Maafkan kami, kami tidak melakukan kesalahan kenapa harus di pecat?"
Al tidak menjawab, ia merogoh ponselnya menelfon pihak HRD untuk memberi gaji kedua wanita itu. Jika mereka menolak, jadikan saja cleaning servis. Tanpa basa-basi Al pun pergi menyusul Quen.
Al banyak mendengar kabar buruk dari Queen. Bahkan tatapan semua staf nya juga menunjukan kebencian yang teramat pada wanita yang tengah memaksa makan meski nampak tak berselera itu.
Baru kali ini Al teringat sesuatu. Kenapa Nayla tidak pernah lagi datang membawakan makan siang? Biasanya menelfon apa yang ingin dia dan Quen makan. Tapi, sudah beberapa hari ini tak lagi pernah.
Al berfikir sejenak, ia tahu satu-satunya orang yang bisa meringankan bebannya saat ini selain dia adalah Diaz. Tapi, ia tidak mungkin kan meminta pria itu untuk datang ke kantor menjemput Quen?
Meminta bantuan pada Hanifah juga tak mungkin. Wanita itu ngambeg pada Diaz karna apa dia juga kurang paham. Al mengetahui dari kakeknya.
"Kamu pulang aja ya biar dijemput kak Nayla?"
"Ini belum waktunya pulang kerja kak. Aku cuma belajar konsisten saja."
"Memang kamu bisa kerja dalam kondisi seperti ini? Hati tertekan otak banyak pikiran gitu," ujar Al sambil menyalakan gadgetnya.
"Halo Nay, kamu ada di mana?"
"...."
"Sama Bilqis juga?"
"Lalu sama siapa dia di rumah? Kakek itu tidak seperti dulu tak bisa seenaknya kau titipi anak. Dan bibi juga kerjaan dia di rumah bukan untuk baby sister."
Al pun menutup panggilannya. Queen yang awalnya pusing dengan masalahnya sendiri seolah teralihkan dengan emosi Al yang mendadak meluap.
Bukan mendadak, sudah dari tadi. Hanya saja di depanya aja berlagak baik-baik saja.
Quen memegang punggung tangan Al. "Jangan suka marah-marah sama kak Nayla. Memang apa salahnya jika menitipkan Bilqis pada bibi sebentar saja?"
"Ini sudah berapa kali aku diam saja? Kalau dibiarkan juga akan terus-terusan begini dan jadi kebiasaan."
Queen benggong melihat Al yang sangat emosi, lalu ia tertawa. "Lihat, kau bahkan tidak lebih muda dari papa, hahaha."
Spontan Al mengambil ponselnya menyalakan kamera depan untuk berkaca ia melihat sisi kiri kanan wajahnya sedekali mendongak melihat jakunnya yang mulai tumbuh tipis belum dipotong.
"Kalau kakak brewok kayaknya makin ganteng dan macho, ya?" ucap Al sambil mengelus pipi dan dagunya.
"Dasar narsis!" Seru Queen sambil melempar kertas daftar menu ke wajah Al lalu beranjak bergi dan berkata lagi, "kamu yang bayar!"
Al meletakan uang di atas meja yang ia ganjang dengan gelas bekas minumnya lalu mengejar Quen yang akan menuju ke ruangan mereka.
Meskipun banyak hal yang ia pikirkan melihat adiknya sudah bisa tertawa saja seolah ia sudah lepas dari beberapa ton beban yang dipikulnya.
ππππ
Tiba di rumah Alex lebih banyak mendiamkan Helena. Bahkan untuk melihat saja enggan.
Ia mengunci diri di kamar tamu yang hampir tiga bulan terakhir digunakan Quen. Berkali-kali Helena mengetuk pintu ia tak menghiraukan.
Alex menatap pantulan dirinya pada cermin bersar di hadapannya. Ia muak dan emosi melihat dirinya sendiri. Bayangan wajah Quen saat diam-diam menangis, tersenyum saat terisak dan sedih di kalah ia bermesraan dengan Helena kian membayangi dirinya.
"Aaarrrkkkk!"
Bersamaan dengan suara erangan Alex terdengar suara benda pecah.
Alex merasa down, ia bahkan membenci dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia menyesal tas semua ini dan bagaimana mungkin ia baru menyadari kalau Queen benar-benar tulus dan terbaik yang ia miliki. Kemanapun dia selalu pamit dan dengan siapa ia pergi juga jelas.
__ADS_1
Dengan emosi yang belum stabil serta darah yang bercucuran dari tangan kanannya Alex bermaksud mendatangi orangtuanya.
Begitu ia membuka pintu Helena yang sedari tadi meneriaki namanya.
Wanita itu terkejut mendapati kondisi Alex,Β meski pun ia juga mendengar suara pecahan kaca. Tapi, ia tidak menyangka kalau suaminya menggunakan tangannya untuk memecahkan kaca itu.
"Alex, ya Allah tangan kamu bagaama bisa kaya gini? Tunggu aku ambilkan kami kotak obat," ucap Helena panik dan bingung bercampur menjadi satu.
"Jangan sibukan dirimu, Helena." Hanya itu yang Alex ucapkan. Selebihnya ia tak peduli lagi dengan wanita itu. Ia menuju garasi, mengemudikan mobilnya dalam keadaan tangan terluka parah.
Helena hanya menangis meratapi hari ini yang sedikit pun terlintas dalam benaknya. Sementara si bibi hanya diam meninggalkan tempat setelah Alex pergi. Ia pergi ke dapur dan pura-pura sibuk.
Ia hanya membatin, wanita yang hidupnya hanya mementingkan diri sendiri tanpa peduli dengan hati wanita lain, kelak juga akan merasakan hal yang serupa. Jika saja ia sadar, sakit yang dirasakannya sekarang tak akan sesakit yang nen Queen rasakan dulu. Kau tak akan bahagia. Batin si bibi yang juga ikut gemas dengan sifat Helena.
Tiba di rumah orangtuanya, mereka dikejutkan dengan kondisi Alex yang seperti itu. Alex tidak sempat mengatakan apapun. Entak stres atau apa, begitu papanya membuka pintu untuknya, tiba-tiba saja ia roboh dan tak sadarkan diri.
Mama Rita yang panik tidak begitu tanggap segera mengambil P3K. Melainkan ia mencari smartphone nya.
Dengan buru-buru ia segera menelfon Helena dan menanyakan apa yang baru saja terjadi, bagaimana mungkin putranya datang kerumah dalam keadaan terluka sementara istri ada di rumah. Helena nampak kuwalahan saat mertuanya terus-menerus mencecar ia dengan berbagai pertanyaan.
Merasa tak mendapat jawaban apapun, mama Rita akhirnya mematikan panggilannya
Sebenarnya ia bukan tidak mendapatkan jawaban. Tapi, ia memang tidak memberi kesempatan untuk Helena berbicara walau hanya sepatah.
Kembali wanita paruh baya itu datang ke tempat di mana Alex dibaringkan. Suaminya nampak sibuk melilih kain kasa di tangan Alex.
"Bagaimana keadaan dia, Pa? tanya mama Rita pada suaminya.
"Melihat dari lukanya sepertinya dia sengaja menyayat telapak tangannya, Ma."
"Sebenarnya apa yang baru saja terjadi, kenapa dia bisa sampai seperti ini?" Mama Rita pun nampak sedih dan menitikan air mata.
Ia tak ingin Helena datang ke mari. Jadi, satu-satunya cara agar mendapat jawaban ya menunggu Alex sadar.
Saat Alex sadar, ia langsung teringat akan masalahnya. Ia mengeluh dan mengatakan semua pada orangtuanya tanpa ditanya.
"Alex, kini kau sudah sadar setelah orang baik itu hilang dari dalam kehidupan mu. Kau tidak bisa memaksanya untuk kembali, satu-satunya jalan ikhlaskan. Mungkin kau gak pantas mendapatkan dia, dia terlalu baik. Atas perlakuanku padanya dulu, sudah bagus dia mampu bertahan selama itu. Kau bisa datang menyusulnya baik-baik. Mulai hubungan dari awal sebagai saudara saja, jangan anggap dia mantan," tukas papa Nicolas panjang lebar.
Alex hanya memegangi kepalanya. Ia merenungi setiap apa yang dinasehatkan papa dan mamanya.
"Apa suratnya ada di kamu?"
"Iya Ma. Ada di dalam mobil."
***
Setelah beberapa hari menenangkan hati dan pikirannya, Alex berani menghubungi Queen. Beruntung wanita itu masih mau menerima panggilannya. Jadi, masalah akan lebih cepat terselesaikan.
"Halo, ada apa Lex?"
Alex terdiam sesaat. Jantungnya serasa berdetak lebih kencang saat mendengar suara Queen.
"Lex halo..." ucap Queen lagi, karena tidak mendapatkan sahutan.
"Eh, maaf Queen. Kamu bisa datang ke rumah orangtuaku? Aku akan memberikan surat perjanjian cerai kita. Dan ada yang mau aku bicarakan. Kamu ke sini ya?" ucap Alex berusaha tenang meski di dalam dadanya terasa kian bergemuruh.
Setengah jam kemudian terdengar suara bell berbunyi. Dengan antusias Alex segera membuka pintu. Orang yang sedari ditunggunya benar-benar datang.
Hebatnya wanita ini. Setelah apa yang aku lakukan dia masih bisa datang dengan tenang dan memberiku senyuman. Batin Alex.
Alex membuka map ya g pernah Queen berikan bebrapa pekan lalu, ia menunjukan kembali di mana ia harus bertatangan. Tapi, ia tidak buru-buru menandatangani. Ia meletakan kembali map dan bilpopin
yang dipegangnya.
"Queen maafkan aku jika kau menyakitimu. Aku memang belum ingat bagaimana kita menjalani hidup kita sebelumnya. Tapi, sepertinya aku memang mulai jatuh cinta sama kamu. Hanya saja itu terlambat."
Quen hanya diam. Bahkan pria ini tidak malu-malu mengatakan penyesalannya.
Satu langkah Alex maju ke depan, semakin menipiskan jarak antara dia bediri dan Queen yang tengah duduk di sofa.
Alex berjongkok tepat di depan wanita itu. Dan berkata, "Sebelum semua benar-benar berakhir, boleh aku memelukmu untuk yang terakhir kalinya?" bisik Alex terdengar sangat seksi di telinga Quen.
Hati dan logika Queen berkata jangan, ia menggelengkan kepalnya dan berkata tidak. Tapi, Alex tidak mau tau, dengan suara pelan, dan lembut ia meringkuh memeluk tubuh di depannya sambil berkata, "hanya sebentar saja."
__ADS_1
Meskipun Queen berkata sudah tapi sedikitpun tubuhnya tidak memberi penolakan, berusaha mendorongnya saja tidak. Diam-diam ia bahkan menikmati pelukan dan napas Alex yang berhembus mengenai leher dan telinganya.
"Queen, janji sama aku kita tetap berhubungan baik sebagai sahabat atau saudara, ya? Kamu jangan benci aku," ucap Alex sambil menatap dalam mata Queen.
"Iya... Aku janji sama kamu."
Alex kembali mendekatkan wajahnya pada wajah Quen. Pria itu sedikit mendorong tubuh wanita di depannya sedikit bersandar di sofa, jarak keduanya sangat dekat hingga mereka dapat saling bertukar napas.
"Lex, di mana papa dan mama?" tanya QueenΒ mengalihkan pembicaraan.
"Mereka pergi menjemput Axel."
Celaka! Kenapa aku tidak bisa menolak perlakuan Alex? Ini gak boleh dibiarkan, kenapa aku jadi terkesan gampangan gini? Batin Quen mngeluh.
Bahkan saat tubuh kekar itu menindih tubuhnya dan melumbat bibirnya Queen masih saja diam. Tak mampu menolak.
Ah, mungkin aku benar-benar merindukan dia. Aku menceraikan dia bukan karena benci, juga kan? Tapi, ini sudah keputusan yang ku ambil. Gak boleh aku tarik lagi.
Aku harus bisa mendorong tubuh ini gak boleh terlena, haru bisa...
"Alex, sudah ini tidak pantas kita lakukan, kamu tandatangan saja. Aku buru-buru banget soalnya," ucap Quen sambil mendorong pelan tubuh Alex yang ada di atasnya. Ia kembali duduk dan merapihkan bajunya. Tapi, ia sangat malu pada dirinya sendiri. Dan mungkin setelah ini ia tidak berani bertemu dengan Alex. Bukan takut CLBK, tapi, malu dengan pantang barusan mereka lakukan.
πππ
Al merenung di dalam ruang pribadi ia masih tidak bisa berhenti berfikir tentang apa yang baru saja terjadi kemarin. Bagaimana mungkin Alex bisa tahu di mana ruangan Quen m dan atas dasar apandia bisa naik ke lantai atas?
Tanpa ragu-ragu ia mengajak Juna mengecek langsung cctv. Ia berusaha mendapatkan jawaban.
Al dan Juna menatap layar cctv dengan sangat seksama. Ia mendapati kejanggalan di sana.
Dan keduanya saling pandang. Tanpa Al berkata pun Juna tahu apa yang harus dia lakukan.
"Aku akan mengawasinya sendiri, Kak. Agar semua pasti dan jelas. Untuk bukti Akurat tinggu semingguan saja," ucap Juna.
"Ya, ok aku percayakan saja ini padamu. Sekarang keluarlah!" ucap Al kembali memandang ke arah monitor.
Al tersenyum seorang diri begitu Juna meninggalkan tempat itu. Ia tak habis pikir dikhianati oleh orang kepercayaannya sendiri.
"Kalau mameng manginginkan sesuatu dariku, kenapa harus mengusik adikku?" gumam Al seorang diri.
Untuk melepaskan stres Al pun pergi meninggalkan kantor, kebetulan saat ini Quen bada di klinik dekat dengan apartemen orang tua mereka, jadi, tidak jauh dari kantor.
Pucuk dicinta ulam pun tiba, itulah pribahasa yang cocok untuk Al saat ini. Baru saja melihat cctv dan menyuruh Juna untuk mengawasi Jevin, kini ia melihat dengan mata kepalanya sendiri turun dari mobil bergandengan tangan dengan Nayla. Keduanya sangat mesra seperti pasangan pengantin baru saja. Tapi, Al tidak mau menegur keduanya. Membiarkan saja dan tetap berpura-pura tidak tahu.
Ia menyeringai, dan kembali fokus menuju klinik untuk mengajak adiknya makan siang.
Tiba di sana, ia melihat adiknya yang tengah bertugas. Rupanya Queen sedang memeriksa seorang balita yang tengah sakit. Al memperhatikan wanita itu yang nampak anggun dan lembut dalam setiap melakukan apapun. Termasuk menenangkan balita itu menangis saat hendak dibaringkan untuk diperiksa.
Saat ini kebetulan ada pemeriksaan masal di sini. Dan Queen salah satu dokter yang diberi tanggung jawab memeriksa para pasien yang kebanyakan dari kalangan lansia itu. Namun, juga ada satu dua anak-dan balita. Termasuk yang Queen tangani saat ini.
"Loh, kok nangis, gak boleh nangis, cuma diperiksa saja sayang, tidak sakit, kok. Bu dokter tidak akan menyuntikmu," ucap Queen dengan lembut seraya mengarahkan stetoskop ke arah dada, dan perut balita sekitar usia dua tahun itu.
Kini wanita berjas putih ala dokter itu pun mengambil senter dan meminta balita itu untuk membuka mulutnya. Al diam-diam tersenyum seorang diri melihat Quen yang tengah bekerja. Dan membatin, "tidak saat menjadi wanita karir di kantor ataupun menjelma sebagai dokter, ia sangat anggun dan cantik."
"Ikut periksa dan pengobatan gratis juga, Nak?" Sapa seorang ibu-ibu yang duduk di sebelah Al. Usianya kira-kira sekitar lima puluh lima tahunan.
Al menoleh mendapati pandangan aneh dari ibu-ibu itu. Jika pun ia berkata iya juga akan di cap aneh dan pelit. Dia masih berpakaian kantor pula.
"Saya menunggu adik saja, ibu, sakit apa?" jawab Al dengan ramah.
"Oh, belum tahu, saya sakit apa, Nak. Tapi, sebulan yang lalu kata dokter kolesterol."
"Semoga lekas sembuh ya, Bu," jawab Al.
Tak terasa mengobrol terus dengan ibu-ibu yang tengah menunggu kokor antraria, tau-tau Queen sudah berdiri di dekat mereka. Tidak untuk Al. Tapi, untuk membantu ibu-ibu itu bediri dan berjalan ke tempat pemeriksaan yang akan dilakukan oleh dokter senior.
"Kakak kok di sini?" ucap Quen dengan lirih.
"Mau ngajak kamu makan, Sayang."
"Oh, kalian sepasang keksasih, ya?" ucap ibu-ibu itu sambil tersenyum.
Al tertawa puas, meski tidak bersuara. Tapi, Queen nampak malu sampai wajahnya bersemu merah.
__ADS_1
wanita itu tidak mempedulikan Al dan terus menuntun ibu-ibu itu dengan perlahan.