Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
Episode 242


__ADS_3

Queen berjalan sambil memikirkan tentang Jevin. Kalau tidak


salah ingat, dia adalah salah satu staf yang bekerja di perusahaan milik


kakeknya, yang sekarang dipegang kembali oleh papanya. Lalu, kenapa Nayla


mengirimkan banyak uang ke dia? Jika pun itu uang gaji, Bukankah perusahaan


punya akun bank sendiri, untuk mentrasfer gaji para karyawan? Aku harus ke


perusahaannya papa. Pikir Queen.


Tiba di jalan raya, Queen menunggu taxi online yang baru di


pesannya beberapa menit yang lalu. Tak lama kemudian, sebuah mobil brio warna


merah pun berhenti tepat di depannya. Wanita itu pun masuk. Baru saja ia duduk


dan mobil juga melaju sekitar lima puluh meteran, ponsel dari dalam tasnya


berdering.


“Halo, Al. Apakah ada masalah?” tanya Queen dengan lembut,


seolah wanita itu sudah siap membantu jika suaminya tengah dalam situasi sulit


di perusahaannya.


“Tidak. Aku cuma mengkhawatirkan mu saja. Kamu ada di mana?”


“Aku menuju kantor papa sebentar.”


“Ngapain, Sayang?”


“Gak apa-apa. Kangen papa saja,” jawab wanita itu sambil


tertawa.


“Ya sudah, hati-hati.” Al pun mematikan poselnya, ia


tersenyum seorang diri. Ia yakin, setelah dari bank, istrinya pasti akan


melihat gerak-gerak Jevin. Kemana pun perginya wanita itu, ia juga akan tahu,


karena diam-diam ia memasang gps di dompetnya.


Tiba di kantor, Qieen tidak menemui papanya. Melainkan, ia


langsung menemui Juna yang kebetulan memang dia memiliki bagian yang sama


dengan Jevin. Bahkan mereka juga berada dalam satu ruangan.


Tapi, ia tidak langsung masuk ke dalam ruangannya. Melainkan


menunggu di luar kantor. Sebab, dia dikenal sebagai asisten pribadinya Al.


Bukan anak CEO, ataupun cucu ownwer perusahaan, dan juga adiknya Al.


Kurang lebih sepuluh menitan. Seorang pria berpakaian rapih


mengenakan kemeja berwarna hitam polos lengan Panjang dan mengenakan tanda pengenal sebagai karyawan di lehernya, keluar dari pagar


perusahaan dan datang menghampirinya.


Queen yang duduk langsung berdiri dan beranjak


menghampirinya.


“Ada perlu apa, Queen? Kenapa kamu tidak langsung masuk saja?


Kan ada papamu juga di sana?”


“Tidak ada apa-apa kak. Aku perlu bantuanmu,” jawab wanita


itu, penuh harap.


 “Bantuan apa? Jika


aku bisa, pasti aku bantu.”


“Aku perlu kaka bantu aku awasin Jevin. Aku curiga dia ada


hubungan dengan Nayla.”


“Hah? Mana mungkin berani dia? Dan Nayla, masa uda punya


suami bos, royal dan cakep masih mau sama berondong? Gaji Jevin itu, standart


loh. Kalau dibandingkan oleh Al, ya gak ada apa-apanya.”


Menanggapi pernyataan dari Queen Juna hanya pura-pura


terkejut dan sedikit memberi pembelaan pada Nayla, agar, apa yang direncanakan


Al bisa berjalan dengan lancer.


“Iya, aku tahu. Tapi, dia secara batin tidak mendapatkan


kebahagian dari suaminya. Siapa tahu ada main belakang secara diam-diam.”


“Tunggu! Bagaimana bisa kau menuduh Jevin yang jadi


selingkuhannya Nayla? Kenapa gak orang lain gitu?” tanya Juna, masih sok gak


percaya dengan apa yang baru saja diucapkan wanita yang ada di depannya itu.


‘’Masalahnya semalam aku lihat sms dari bank di hp suamiku,


ada laporan transfer ke sebuah rekening dengan nominal yang banyak. Setelah aku


selidiki dan aku print di buku tabungannya, itu nmor rekening milik Jevin. Dan


Nayla mengambil total uang dari sana sebesar tujuhratus juta.”


Jujur, kali ini Juna terkejutnya serius dan tidak


dibuat-buat. Uang sebanyak itu, dan Al hanya diam saja? Belum lagi Jevin pernah


melakukan penggelapan uang perusahaan untuk keperluan pribadinya, dulu, sudah berapa juta


saja?


“Kamu serius, Queen?”


Wanita itu mengeluarkan buku tabungan berwarna biru dari


dalam tasnya dan memberikannya kepada Juna untk dicek sendiri, jika memang ia


tidak yakin dengan apa yang dikatakan oleh Queen. Bahkan tentang data nomor


rekening tersebut, juga sudah sangat Jelas, dia adalah Jevin teman sekantornya.


Queen memperhatikan mimik serius Juna yang tengah mengamati


lembaran demi lembaran dalam buku kecil itu. Pengeluaran secara drastis juga


masih belum lama ini, sekitar dua bulanan terakhir. Juna jadi berfikir, kalau


dia sering menelfon wanita dengan panggilan yang itu apa sengaja merayu Nayla,


agar memberikan apapun yang bisa wanita itu berikan padanya sebagai simpanan?


“sudah belum lihatnya?” Queen mengulurkan tangannya di depan


Juna.


“Eh, iya, udah ini!” pria itu pun memberikan kembali buku


tabungan atas nama M. Al Fatih tersebut kepada wanita yang tadi membawanya.


“Ya sudah kak, Queen kembali dulu, ya? Beneran, aku minta


tolong banget sama kamu,’' ucap Wanita itu sebelum akhirnya pergi setelah


menyampaikan apa yang ingin dia katakana tadi.


 Juna kembali masuk ke


dalam kantor dan tak habis pikir dengan apa yang baru saja ia lihat. Seperti


kebiasaannya, begitu ia berada di dalam area kantor, ia mencari tempat yang


sepi dan langsung menelfon Al.


Al yang kebetulan tidak begitu sibuk, tersenyum miring


begitu mendapati panggilan seluler dari Juna.


“Halo, Jun? apakah istri mudaku baru saja menemuimu dan


meminta bantuan padamu?”


“Ah, kau ini dukun apa peramal sih, Al? Bagaimana kau bisa


menebak dengan tepat pa yang baru saja terjadi?” jawab Juna, dengan nada


kesal.


“Biar kutebak, kau akan mengatakan kalau Nayla sudah


menghabiskan banyak uang untuk diberikan kepada Jevin, kan?”


“Hahaha. Baiklah, dan sekarang kau sudah tahu semua itu


masih diam saja?”


“Aku belum memiliki peran. Biar sepenuhnya saja dilakukan


oleh Queen. Kau bantu dia, tapi jangan biarkan dia terlalu mudah mendapatkan


apa yang ia inginkan!”


“Siap, boss.”


Juna hanya mengelengkan kepala saja, dan membatin, ‘Sebentar


lagi, akan tamat riwayat mereka berdua.'


Sedangksn Queen yang kebetulan jadwal praktiknya sore, ia


kembali pulang ke rumah dan makan siang di sana.


Sesampainya di rumah, Ia mendengar suara wanita tengah


berbicara lewat telfon.


“Baik, akan aku usahakan nanti. Tapi, kamu jangan bohongi


aku, ya?”


Hanya itu kalimat yang berhasil Queen tangkap sebelum


akhirnya wanta itu mematikan panggilannya, dan berbalik. Tahu-tahu Queen sudah


berdiri di belakangnya.


‘Mati, aku. Sejak kapan Queen ada di sini? Dan sebanyak apa


dia mendengarkan percakapanku tadi?’ batin Nayla.


“Queen, sejak kapan kau di sini?” tanya Nayla dengan wajah


panik.


“Kenapa? Takut aku tahu kebusukanmu? Masih ingat, kan kalau


sekarang kita tengah bersaing untuk jadi istri satu-satunya yang dimiliki mas


Al?”


Dalam hati Queen tertawa sendiri, kenapa dia malah

__ADS_1


ikut-ikutan memanggil Namanya dengan sebuatan mas? Sederhana tapi, terdengar


mesra. Walau itu dalam Bahasa jawa artinya adalah kakak laki-laki. Tapi, tetap


saja, Queen belum terbiasa dan merasa geli saja.


“Hehm… Terserah. Kamu merasa gak sih kalau jadi wanita


kedua? Wanita kedua itu tidak jauh beda dengan pelakor. Tahu, gak?”


“Nay, apakah kau ini sangat bodoh? Kau pikir Al itu apa?


Boneka yang tak bernyawa, atau manusia boneka yang tak punya otak? Sehingga


bisa dibuat rebutan oleh siapapun? Dia punya akal dan pikiran dan bisa


menentukan pilihan untuk dirinya sendiri mana yang terbaik. Jika dia tidak


menyukaiku, mana mungkin dia mau denganku? Dan masalah ini juga kurasa kau


tahu dan gak buta, kan? Suamimu sendiri yang menginginkanku. Dia rela


menggadaikan rasa malunya dengan keadaan dekil dan berantakan menarikku dan


membawa pergi secara paksa di hari pertunanganku sendiri. Karena apa? Karena


dia cemburu dan gak bisa lihat aku dengan yang lain. Terus, di mana aku merebut


suamimu? Apa karena sekarang aku sekarang ingin menyingkirkanmu? Itu aku


lakukan karena aku sebentar lagi akan memiliki anak darinya. Aku tidak mau kalau


sampai anak kami nanti lahir, papanya punya dua istri.”


Puas mengatakan semua itu, Queen pun pergi ke atas menuju


kamarnya.


Sedangkan Nayla, ia hanya membeku terlalu syock dengan apa


yang baru dikatakan oleh Queen. Ia tak menyangka kalau mantan ipar yang kini


telah jadi madunya bisa berkata sepedas itu. Kata-katanya sungguh seperti


camabuk yang menghantam mukanya beberapa kali saja.


***


Bi Yul mengamati Andrean yang tengah bersantai memainkan


papan catur seorang diri dan ditemani secangkir teh melati dan sepiring bicuit


di halaman belakang. Wanita paruh baya itu hanya mengelengkan kepala merasa


sedih dan hatinya teriris melihat tuannya seperti itu.


“Permisi, Tuan. Untuk makan malam nanti mau dimasakin apa?”


tanya wanita paruh baya itu sambil sedikit membungkukkan badanya ke depan.


“Apa ya bi enaknya?” ucap pria itu, malah balik bertanya.


“Tuan maunya apa? Saya sih siap masakin apa saja.”


“Itu saja, masakkan saya iga bakar dan sop kentang.


Motongnya yang gede-gede ya, Bi. Itu dulu adalah kesukaan mendiang kakak. Dulu


kami setiap sore, untuk mengisi waktu luang selalu main catur bersama.”


Bik Yul hatinya terasa terenyuh mendengar kalimat tersebut.


Terlebih, bibir itu menunjukkan senyuman sementara matanya berkata lain.


“Yang sabar, ya Tuan? Kita doakan saja, beliau. Agar tenang


di alam sana.”  Hanya itu yang keluar


dari mulutnya.


“Hehehe. Tidak apa-apa, Bik. Ini sudah takdir, akupun sudah


ikhlas melihat Vano putraku sudah sadar. Dan Queen juga sudah menerima Al


sebagai suaminya.”


“Oh, Iya Tuan.  Beberapa


waktu lalu, sebelum saya tahu kalau mereka sudah menikah sering memergoki


keduanya bermesraan. Tapi, maaf. Bukankah hubungan sedarah itu dilarang, ya?”


Andrean terkekeh mendengar pertanyaan tersebut. Pria tua itu


memaklumi, memang bibi belum mengetahui apapun tentang mereka berdua.


Anderan tersenyum lebar, dan meminta bibi untuk duduk di


kursi seberang meja. Sepertinya ia ingin menceritakan suatu kisah.


“Begini saja, Tuan. Tidak apa-apa,” jawab wanita itu. Lalu,


Andrean pun mulai mengatakan semuanya dengan singkat, namun jelas.


“Begini, Bi. Al dan Queen itu sebnarnya bukanlah saudara


kandung. Hanya saja hampir semua orang tidak menyangka itu. Karena Al sangat


mirip dengan Vano, hehe.”


“Hah, yang benar, Tuan?” Bik yul pun juga nampak terkejut


dan nyaris tak mempercayai itu.


“Ya, tentu saja. Bagaimana mungkin mereka bisa menkah tanpa


data diri lengkap? Kan di KK lama, mereka satu KK, dan sebagai saudara.


Terlebih selisih usia mereka enam tahunan. Jadi, saat membuat permohonan


“Eh, iya juga ya Tuan. Hehehe, jadi gak enak sendiri.


Soalnya tadi saya sempat ilfeel, Tuan,” jawab wanita itu sambil menggaruk


lehernya yang tidak gatal.


“Iya, tidak apa-apa. Kami memang menyem bunyikan dari publik


sebelumnya. Wajar saja kalau bibi tidak tahu. Mungkin setelah ini kebanyak dari


orang perusahaan mengira Queen lah menantu Vano dan Clara. Sebab, selama di


kantor Queen tidak mengakui identitasnya sebagai adiknya Al. Tapi, itu sih


bagus sebenarnya.”


“Loh, kok bisa, Tuan?”


“Ya, Kan baik. Jika lawan tahunya cucu kandungku adalah Al.


Mereka akan segan untuk membuat masalah.”


Bi yul pun hanya mengangguk. Dia tidak mau tahu banyak


tentang apapun. Dia tidak peduli, selama itu baik dan mengerti kalau mereka gak


ada hubungan darah juga tidak masalah. Mengenai kalau Al adalah anak angkat,


Bik Yul akan menjaga rahasia ini, demia kebaikan keluarga ini pula.


***


Queen menuruni tangga dengan sedikit terburu-buru. Dia


ketiduran siang tadi sampai lupa tidak makan siang. Bahkan, sepertinya ia nanti


juga akan telat jika tidak ngebut dan hanya mengandalkan kecepatan taxi atau


ojek online saja. Tak mau ribet dan ingin pulangnya dijemput oleh Al untuk


memancing Nayla, Queen pun meminta Dedi yang kebetulan berada di halaman depan.


“Bang Dedi, tolong ante raku ke rumah sakit dong! Agak


cepetan ya? Soalnya aku telat ini,” ucap Queen buru. Membuat pria yang seumuran


dengannya itu jadi tergopoh-gopoh dibuatnya. Pria itu baru beberapa bulan


berada di sini. Tapi, sudah hafal betul bagaimana sikap wanita yang tengah


meminta tolong untuk menjadi supirnya tiba-tiba ini.


“Bang! Bisa cepetan dikit, gak? Aku hampir telat, nih!” seru


Queen lagi setelah melihat jam tangannya.


“Baik, Mbak Queen. Sabar dikit, ya?” pria itu pun membuka


pintu garasi. Tidak mengeluarkan mobil melainkan malah bawa motor ninja merah


empat tag milik suaminya.


Queen terkejut sampai bengong dibuatnya.


“Loh, bawa motor, ya?” tanyanya, hampir tidak mempercayai


penglihatannya sendiri.


“Lah, iya. Katanya buru-buru. Masak mau naik odong-odong,


mbak?”


“Ya sudah, ayo! Kamu mahir bawa motor, kan?”


“Mantan anak jalanan ini, Aku mbak. Sekelasnya Mondi. Boy


aja mati kecelakaan tuh pas mau tamat,” ujar Dedi membuat Queen tertawa dan


melupakan rasa khawatirnya.


“Awas jika sampai aku lecet nanti. Kamu harus tanggung


jawab!” ujar Queen dengan nada marah. Tapi, aslinya bercanda.


Benar saja di jalan Dedi benar-benar ngebut, bahkan


sampai-sampai Queen mual setiba di rumah sakit. Mungkin karena masuk angin dan


tadi juga lupa tidak makan siang.


Queen menutupi mulutnya dan berlari hendak menuju ke toilet.


Tapi, Sampai di tengah perjalanan ia menabrak seseorang. Untung tidak sampai


jatuh dan mmeberantakan bawaan orang yang ditabraknya seperti axdegan sinetron


yang acap kali tayang dari berbagai episode dan berbagai judul di beberapa


chanel televisi. Padahal, tabrakannya juga tidak parah.


“Aduh, Maaf. Pak. Saya tidak sengaja. Saya buru-buru,” ucap


Queen. Seenaknya saja memanggil pak tanpa melihat rupa. Karena, dokter prianya


kebanyak yang di sini juga sudah pada tua-tua.


“Apa, pak?” tanya pria itu, sambil tertawa lirih.


Queen tidak ada waktu lagi untuk Queen melihat wajah pria


itu yang kedengarannya juga masih sangat muda,dan familiar. Ia langsung begitu saja berlari

__ADS_1


dan mengeluarkan apapun isi dalam pertu ya. Padahal tidak ada apa-apa, ia hanya


masuk angin dan mungkin juga maag nya kambuh karena telat makan.


Setelahnya ia meminum obat maag yang memang selalu ia


siapkan di dalam tasnya. Queen bisa kembali bekerja normal. Tapi, karena jadwal


pemeriksaan yang padat, ia jadi lupa, kalau setengah jam setelah mengonsumsi


obat maag harus makan sesuatu. Ia melupakan hal itu sampai kondisi badannya


jadi rada ngedrop. Sampai-sampai badannya terasa limbung. Beruntung dia tidak


sampai jatuh pingsan.


“Queen, kamu sakit? Kok pucet banget?”


Queen memegangi kepalanya yang mulai terasa pusing. Dalam


hati ia mengutuk dirinya sendiri, bagaimana bisa, seharian pertunya hanya


terisi sepotong roti saja.


Pria itu pun memegangi tubuh Queen yang mulai limbung, dan menawarkan


diri untuk mengantarnya pulang.


“Kamu sedang tidak sehat, apa perlu aku mengantarmu pulang?”


tanyanya. Khawatir.


“Tidak usah, suamiku sudah menjemputku,” jawab Queen, bahkan


ia hampir saja ambruk.


Al yang mendapat pesan dari Queen minta dijemput cepat


karena lagi tidak enak badan pun langsung meluncur dengan kecepatan tinggi. Padahal dia


sendang ada di tempat kontruksi, mengadakan briving secara langsung dengan para


pekerja lapangan.


Tapi, begitu tiba di koridor rumah sakit, ia sangat emosi saat melihat


istrinya berada dekat dengan laki-laki lain. Al merasa kalau pria itu tengah


memanfaatkan kondisi istrinya yang sedang tidak vit dan nampak hampir pingsan.


“Lepaskah dia!’’ ucap Al dengan nada pwnuh penekanan.


“Dia hampir saja pingsan,” jawab pria itu, menjelaskan yang


sebenarnya terjadi.


“Apakah kau hanya satu-satunya manusia di sini?” Al menatap


tajam pria itu dan meraih tubuh Queen dalam pelukannya.


“Kau harusnya sebagai suami yang baik jangan sampai istrimu


kenapa-napa. Aku yakin, dia asam lambungnya tinggi. Pasti telat makan.”


“Kau jangan sok tahu, aku mengerti bagaimana pola hidup


istriku.”


“Ya, dia memang istrimu. Tapi, aku lebih jauh mengenalnya


dari pada kamu. Pernikahanmu juga tak dilandasi oleh cinta, kan?”


“Diaz! Kau jangan lancang!” bentak Al emosi.


Sedangkan Diaz hanya memajang ekspresi wajah tak peduli.


Tanpa menunggu apapun, Al langsung mengangkat Queen dan membawanya ke ruang


priksa. Tak peduli bagaimana nanti jika Queen marah. Karena biasanya ia akan


marah jika harus ddiperiksa olej dokter. Padahal ia sendiri juga dokter. Bisa


sampai sakit apalagi gegara makan telat, yang ada malah dibuli nanti.


Queen sempat tak sadarkan diri. Begitu ia sadar, ia sudah


berada di dalam kamarnya, sedangkan Al dan papanya berada di tepi Rajang


menamninya.


“Queen. Akhirnya kau sadar juga. Benar kamu telat makan?” tanya Al, penuh perhatian.


Queen tidak langsung menjawab. Mmemang dia lupa tidak makan


siang. Tapi, itu tidak apa-apa, biasanya juga begitu. Yang membuat keadaanya


menjadi buruk itu tadi pas naik motor kencang ia tidak mengenakan jaket. Tapi,


ia sadar, dia tidak bisa mengatakan itu pada mereka. Karena yang ada nanti Dedi


malah dimarahin sama Al.


“Al, Pa? Kenapa kalian berkumpul di sini? Di mana kakek kok


tidak sekalian bersama kalian? Aku ini tidak kenapa-napa.”


“Jawab dulu pertanyaanku, benar kamu telat makan?”


“Maaf. Tadi pulang dari kantor aku capek langsung ketiduran


dan bangunya juga gak sempat makan kerena rada telat.”


“Ya sudah, kamu istirahat gih. Al, kamu temani Queen. Biar


papa minta bibi mengantarkan buburnya Queen,” ucap Vano lalu pergi meninggalkan


kamar Queen.


Al hanya menjawab dengan sebuah anggukan saja. Begitu papa


mereka sudah benar-benar keluar kamar, dengan wajah cemburunya Al menanyakan


prihal Diaz yang tiba-tiba saja berada di sana.


“Sudah lama ya Diaz tugas di sana?” tanya Al.


Queen sendiri bingung. Bagaiamana tadi Diaz bisa di sana, dan


sejak kapan, ia juga benar-benar tidak tahu.


“Aku gak tahu. Tiba-tiba saja tadi dia menangkapku saat


badanku terasa mulai limbung,” jawab Queen sambil berusaha duduk dan bersandar.


“Jadi, ini hari pertama dia berada di sana?”


“Ya harusnya begitu. Eh, tunggu. Kemari nada temanku yang


bilang aka nada dokter muda baru yang praktik di san, sekaligus mengambil Pendidikan


spesialis.”


Al hanya mengangguk. Mungkin ia bisa menanyakan hal itu


kepada Hanifah.


“Ya sudah, kamu jaga diri baik-baik. Ingat untuk menjaga


jarak dengannya,” jawab Al dengan muka sewot.


Queen hanya tersenyum mendapati suaminya yang menunjukkan kecemburuannya


dengan cara seperti itu. Tidak marah-marah tak jelas seperti yang biasa dilakukannya.


“Iya. Aku masih ingat kok siapa suamiku. Aku sayang sama


kamu, by the way, makasih, ya?” Queen merahir leher Al. Mememluknya dan mencium


pipinya.


“Jangan terlalu capek. Beristirahatlah yang cukup setelah


makan.”


“Kamu temani aku tidur di sini?”


“Dengan senang hati.”


“Tootk took took!”


“Tuan Al, saya membawakan bubur buat non Queen.”


Al pun beranjak membukakan pintu kamar. Bi Yul pun langsung


masuk ke dalam, melatakkan bubur di atas nakas sekaligus ingin tahu bagaimana


kondisi Queen.


Setelah wanita oaruh baya itu keluar dari kamar, Al pun


mulai menyuapi istrinya dengan penuh kasih sayang. Queen sebenarnya lemas


karena kurang makan. Setelah menghabiskan satu mangkuk bubur, wanita itu pun


jadi lebih bertenaga.


Queen menoleh melihat ken nakas, di sana tersedia segelas


susu dan air putih hangat.


Queen meraih hendak susu tersebut. Namun, dengan sigap Al


membantu mengambilkannya.


Queen menatap Al dan tersenyum. Walau tanpa mengatakan


sepatah katapun, ia tahu. Wanita di depannya mengatakan ucapan terimakasih yang


sangat tulus.


“Kamu minum perlahan, selagi masih hangat!” seru Al, sambil


membalas senyuman istrinya.


Baru beberapa tegus Queen menyeruput segelas susu di


tangannya, ia menghentikannya dan melihat pada gelas tersebut.


“Kenapa, Sayang? Apakah tidak enak?”


“Rasanya kok aneh? Susu apa ini?” Queen tampak mengerutkan


keningnya.


Karena penasaran, Al pun meraih gelas dari tangan istrinya,


dan mencoba mencicipinya. Bagi Al tidak ada yang aneh, karena dia biasa minum El-men


mungkin, jadi rasanya mirip-mirip susu bubuk lainnya. Ia hanya bisa membedakan


susu formula bayi saja yang rasanya berbeda.


“Enak, kok.”


“Bia raku tanyakan, bibi membuatkan aku susu apa ini.


Rasanya beda banget,” ucap Queen tidak terima san terys beranjak keluar


meninggalkan kamar.


Baru saja Queen turun dari tangga. Ia melihat pintu ruang

__ADS_1


tamu terbuka dari luar. Karena penasaran, ia melihat siapa yang datang. Padahal ini juga


sudah jam setengah sepuluh malam.


__ADS_2