
Ketika tersadar, Lyli merasa badannya cukup pegal dan kepalanya pusing. Tapi, di hatinya seperti lepas sebuah beban yang berat. Tapi, apa? Samar-samar dia mengingat. Ia seperti tengah berccinta dengan Al. hanya saja wajah pria itu
berubah-ubah. Semakin lama semakin jelas yang bercinta dengannya bukanlah Al.
tapi, pria yang dikirim oleh sugar dadynya sebagai bodyguardnya.
Tak yakin dengan ingatannya sendiri, wanita itu segera bergegas mengambil pakaian yang
benar lalu buru-buru keluar kamarnya untuk melihat Bondan di dalam kamarnya. Ketika ia melihat ke dalam kamar pria itu, ia mendapati kalau Bondan tengah tertidur lelah. terlihat jelas dari tarikan napasnya yang teratur. Keringat membasahi kening dan pelipisnya. Wajahnya terlihat kalau dia sangat lelah. tapi, juga merasa puas.
‘Astaga, apakah benar tadi yang meniduriku adalah dia? Kalau si tua itu tidak mungkin juga, kan?’ batin Lyli sambil menggigit jarinya sendiri.
Ia mau menampik ingatannya dan menganggap itu hanya mimpi ia juga tak bisa. Karena di
dalam kewanitaanya juga terdapat banyak cairan lelaki. Belum lagi yang
membercak di atas badcovernya.
“Aku akan menanyakannya langsung padanya nanti kalau dia sudah terbangun,” gumam Lyli
seorang diri. karena waktu sudah sore, ia pun segera mandi dan membersihkan badan. Kemudian, ia beranjak ke meja makan untuk makan malam. Baru saja ia duduk di kursinya. Ia mendengar suara deru mobil dari luar dan meclaksonnya berulang-ulang.
“Apakah si tua itu yang datang?” batinnya. Kemudian ia segera beranjak keluar untuk membukakan gerbang. Karena Bondan masih belum bangun. Dari pada dia marah.
“Ke mana Bondan? Kenapa kamu yang membukakan pintunya?” tanya pria tua itu dari balik jendela mobil.
“Aku tidak tahu, Sayang. Sudahlah. Siapapun yang membukakan gerbang untukmu itu tidak penting. Yang terpenting sekarang yang kau cari juga adalah aku, bukan?” ucap
Lyli dengan manja. Karena dia sendiri takut, kalau scandalnya dengan Bondan sampai ketahuan. Padahal, ia melakukan juga karena tidak sengaja. Ia terlalu mabuk, dan terangsang berat sampai kepalanya berasa mau pecah saja.
“Hahaha, kau benar, Sayang. Kamu kangen sama aku, ya sampai tadi maksa suruh aku pulang,
hemh?” tanya pria tua itu sambil merangkul tubuh Lyli setelah turun dari mobil.
Lyli hanya tersipu malu. Tapi, dalam hati ia merasa kesal. ‘Aku pengennya kau tuntaskan napsuku. Setelah aku mendapatkan pelampiasan yang lain, kenapa kau baru datang?
Dasar lemot,’ umpat Lyli dalam hati.
Saat ia dan pak Darto memasukki ruang tamu, Lyli mendapati Bondan yang baru keluar dari kamarnya. Sepertinya ia juga baru saja selesai mandi.
Pria dengan tubuh tegap dan tinggi 172 itu menunduk membeli hormat pada bossnya. Kemudian,
ia berlalu tanpa melemparkan pandangannya pada Lyli. Tak ingin kebejatannya
tercium oleh si tua itu, Lyli mengajak pak Darto menuju meja makan.
Seperti biasa, Lyli selau melayani si tua itu Ketika makan dengan baik. Ia berusaha keras agar dirinya tidak terlihat kosong atau tengah berfikir sampi bengong. Jadi, sebisa mungkin, Ia harus pandai-pandai menutupi kalau sebenarnya ia
tengah memikirkan sesuatu.
Usai makan malam, pria tua itu berjalan ke dapur membuka kulkas diamatinya isi kulkas itu. ternyata, mirasnya sudah
berkurang dua botol. Kemudian pria itu tersenyum miring sambil melirik ke arah Lyli. Ia urung mengambil wine. Ditutupnya lemari es dan berbalik arah lalu memeluk Lyli yang masih duduk di meja makan.
“Oh, aku tahu, kenapa kau menelfon ku tadi, dan memaksaku agar segera kembali ke sini.
Padahal, baru kemarin, loh aku pergi dari sini. Kamu pasti pengen, ya? kamu kangen, ya? kok kamu jadi hyper begitu, sih Sayang?” goda pak Darto pada Lyli.
“Tapi, apakah kau tidak sadar kalau kedatanganmu telat? Aku harus mencari kepuasan sendiri di
kamar mandi tadi,” jawab Lyli berlagak merajuk. Ia sengaja demikian agar pria
yang menjadikan dirinya sebagai simpanan itu tidak curiga. Supaya berfikir, kalau dirinya bermastrubasi saja.
“Ya sudah, karena tadi kamu main sendiri, jadi ayo main sama aku, akan aku puasin kau malam ini,” ucap pria itu sambil menggendong tubuh ramping Lyli menuju kamarnya.
Beruntung,
pembantu yang Bondan carikan sangat cepat dan cekatan kerjanya. Hanya dalam
sekejab saja, sprei, bad cover sarung bantal guling dan selimut Lyli juga sudah
diganti semua dengan yang baru. Jadi, ia tidak perlu panik apalagi was-was
takut kalau kekhilafannya dengan Bondan tadi siang sampai ketahuan.
Satu demi
satu pria tua itu menanggalkan pakaian Lyli dan dia pun juga sudah melepaskan
kemejanya. Hanya mengenakan celana panjangnya saja. Lyli tersenyum sambil
megamati dengan seksama tubuh pria yang usianya bahkan sudah seusia dengan bapaknya. Ya, kurang lebih enam puluh tahunan itu. tapi, sebagai pria yang sudah berumur, Ia termauk meilkki stamina yang cukup oke. Buktinya, ia bisa membuatnya sampai mencapai puncak berkali-kali. Walaupun, tak sehebat Bondan. Itu wajar saja. Bondan sendiri juga
masih muda. Usianya sekitar tiga puluh tahunan. Jadi, bisa dua atau bahkan lima kali lipat jika di bandingkan dengan pria tua yang kini berada di atas tubuh telanjang Lyli.
Dasar Lyli yang memang isi kepalanya di penuhi oleh Al saja. Dalam keadaan begini pun, ia juga masih teringat pri itu. dan rahasianya bisa menjadi sangat liar dalam
meberi pelayanan pada pak Darto hingga pria lansia itu puas juga karena ia membayangkan
pria yang bergumul dengannya itu adalah Al. jadi, setiap gerakan atau apapun yang ia lakukan juga sebenarnya untuk membuat Al merasa suka dan senang saja.
Usai melakukan apa yang menjadi tugas utama Lyli, keduanhya sempat mengobrol. Tapi,
baru saja Lyli akan mengatakan inti dari pembicaraannya, telefon milik pria tua itu malah berdering. Dengan cepat pria itu meraih ponselnya. Memang tidak lama ia mengangangkat panggilan itu. tapi, setelah panggilan di matikan, Lyli bisa
menebak lalau itu adalah sebuah panggilan darurat yang mengharuskan sugar dadynya harus pergi saat itu juga.
“Sayang, kamu tadi mau bicara apa? Mungkin lain kali saja, ya? ini ada pasien yang darurat butuh penagananku secara kusus,” ucap Pria itu sambil mengecup kening Lyli yang
masih bersandar di tepi ranjang berukuran king size tersebut.
Lyli hanya mengangguk dan tersenyum. Namun
senyuman itu berubah sinis tatkala si tua itu berlalu meninggalkan kamar.
Begitu terdengar suara deru mobil meninggalkan halaman rumahnya. Wanita itu segera beranjak membersihkan diri dan
memakai pakaian yang pantas. Ia masih kepikiran tentang Bondan saja. Ia ingin bertanya langsung, apakah tadi itu benar-benar dia atau bukan?
Lyli membawa
__ADS_1
satu mug kopi keluar. Dilihatnya Bondan yang tengah asik bermain gadget di depan
halaman rumahnya. Kemudian dia meletakkan mug tersebut di meja dekat pria itu, lalu
duduk di sebelah meja tersebut.
“Bondan, aku mau ngomong sama kamu. Tapi, aku mau kamu jawab jujur.”
Lyli memperhatikan pria itu dengan seksama. Dilihatnya Bondan yang masih tetap tenang memainkan benda pipih yang ada pada genggamannya. Karena tak ada jawaban maupun respon darinya, ia pun kembali
menerusukan kata-katanya.
“Apakah tadi siang yang melakukan itu dengan ku adalah kamu? Kamu tenang saja. Biarkan ini
menjadi rahasia kita berdua. Aku tidak akan membiarkan pak Darto tahu ini.
Mungkin ini juga sebuah ketidak sengajaan, bukan?” ucap Lyli panjang lebar.
“Ya, aku melihatmu sudah tidak keruan dan setengah telanjang di ruang tengah. Kau
benar-benar mabuk dan memaksaku untuk melakukan itu. aku sebenarnya tahu diri, dan sangat mengerti akan posisiku. Siapa aku, sungguh tidak pantas melakuklan itu. tapi, aku ini adalah pria normal yang lemah iman. Tak akan sanggup menahan godaan, dan kau terus saja begitu.”
Lyli menoleh ke samping membelakangi Bondan sambil tertawa tertahan. Ia membayangkan
bagaimana Bondan kala itu pasti sangat lucu sekali. Tapi, sayang. Karena mabuk dan terkena rangsangan berat ia tidak mampu mengingat dengan jelas bagaimana
ekspresi Bondan kala itu.
“Siapa Al itu? cinta lama yang tak berhasil kau lupakan?” tanya Bondan yang kedengarannya
malah seperti sebuah ledekan.
“Entah. Akunsendiri juga tidak tahu. Dia mungkin cinta pertamaku. Tapi, dia justru sudah menikah dengan wanita yang kini jadi musuhku,” jawab Lyli. Masih sedikit
ngelantur karena efek wine yang diminumnya tadi siang cukup banyak.
Bondan tersenyum miring sambil melirik gadis di sampingnya. Ia tahu, kalau wanita itu masih mabuk. Biasanya, seseorang yang tengah mabuk itu justru malah jujur dengan
perasaannya.
“Oh, ya? kedengarannya menarik sekali. Kenal di mana kau? Dan bagaimana bisa kalian
putus dan ia malah menikah dengan wanita itu?”
“Kau mau
tahu, ya? dia adalah anak dari mantan majikanku. Kukira anak kandungnya, karena
wajah dia mirip dengan bapaknya. Ternyata Cuma anak pungut saja. Hembh,” jawab
Lyli sambil tersenyum sinis.
“Kamu yang
ninggalin dia dan sekarang kau menyesal?” tanya Bondan. Dia sama sekali tidak
tahu dari mana Lyli berasal dan di mana bossnya bisa bertemu dengan wanita itu.
simpanan lainnya. Mau setia asal prianya bisa menuruti semua yang
diinginkannya.
“Salah. Ini gara-gara ibuku. Ya, ibuku salah sangka. Dia pernah membuang anak pertanya di sebuah tempat. Kebetulan anak pertamanya adalah laki-laki. Begitu aku membawa
Al pulang, dia melihat tanda lahir di leher kanannya. Dia menduga Al adalah anak yang ia buang. Ternyata bukan. Karena hal itu, hubungan kami kandas.”
“Kok bisa?”
“Karena dia hanya nurut dengan anak tunggal dari keluarga itu. dia permainkan aku. Dan
sekarang malah menikah dengan wanita ****** itu. apakah menurutmu itu adil? Aku datang ke sini untuk balas dendam. Aku suka kamu saat menggauliku. Kau memiliki
tubuh yang hampir mirip dengan Al,” jawab Lyli sambil memandang Bondan dengan tatapan sayu.
Bondan tersenyum tipis. Banyak hal yang ingin dia katakana. Tapi, ia malas. Melihat pakaian Lyli dengan belahan dada rendah hanya membuat adik kecilnya berontak
ingin mengulangi permainan tadi siang dengan wanita di depannya. Wanita yang
sudah sejak awal ia kagumi, ia sukai, dan ia bayangkan bisa bercinta dengannya.
Tak di sangka, kejadian tadi siang yang berawal dengan niat agar tidak
terpancing oleh Lyli justru malah membuat mimpinya menjadi nyata.
“Bondan. Kau punya pacar tidak?” tanya Lyli. Ia sungguh tidak menyangka kalau wanita itu
akan menanyakan hal seperti itu.
“Aku, ya? mana sempat aku pacaran kalau pun aku memilikinya?” jawab Bondan sambil tertawa.
“Kalau jadi
pacarku bagaimana? Apakah kau, mau?”
“Jangan
aneh-aneh, Nyonya. Aku tidak berani melawan Boss. Kau ini kesayangan boss,”
jawab Bondan sambil beranjak hendak meninggalkan Lyli di halaman rumah itu.
“Jika di
antara kita hanya diam, apakah dia akan tahu? Kita sembunyikan juga dari dua wanita yang bekerja di sini. Jika perlu kita bungkam saja mulut mereka dengan uang. Tidak masalah, bukan, kau jadi pacarku, menikmati diriku dengan gratis. Kau tidak perlu membeli ******* murahan di gang jalan dan
membayangkannya sebagai aku.”
Lyli memainkan lidah dan juga jari telunjuknya yang ia letakkan ke dalam mulutnya sendiri dengan Gerakan serta pandangan mata yang sensual. Membuat pria normal mana pun tidaklah tahan.
Bondan
sedikit terkejut saja dengan apa yang Lyli katakana barusan. Bagaimana mungkin
__ADS_1
dia bisa mengerti apa yang ada di dalam hatinya? Memang, selama ini dia
benar-benar mengagumi Lyli. Setiap kali dia datang ke club malam dan mencari cinta satu malam juga selalu mebayangkan wanita itu adalah Lyli. Jadi, apakah yang ia lakukan kemarin itu adalah sengaja memancingnya?
Bondan berbalik badan, kemudian melangkah perlahan menghampiri Lyli dan menatap belahan dadanya
yang terlihat sangat jelas menonjol serta menantang.
“Apa maumu?”
Lyli berdiri dan mengalungkan kedua lenghannya pada leher bondan dan mendongkak ke atas
menatap wajah pria itu.
“Bagaimana?” bahkan dengan berani ia menggesek tubuhnya mengenai ************ Bondan yang
mungkin juga sudah konak.
Bondan diam sesaat, kemudian tanpa pikir panjang langsung mengangkat tubuh wanita di hadapannya. Ia pikir juga sudah terlanjur kepalang basah. Mau apa lagi?
“Apa maksutmu? Apakah kau memancingku lagi?”
“Ya, benar. Aku ternyata lebih suka melakukan denganmu daripada dengan si tua itu,” jawab
Lyli dengan manja.
Mata Lyli terus menatap setiap inci tubuh Bondan. Sudah lama juga dia curi pandang dengan body ini. Tapi, itu hanya ada dalam hati saja. Tapi, setelah kejadian tadi siang, dan merasakan sendiri betapa liatnya tubuh pria itu, ia jadi kian tergila-gila dan ketagihan.
Tanpa pikir panjang lagi Bondan langsung membawanya ke dalam kamarya dan langsung melakukan
hal yang tadi siang ia lakukan. Dalam hati ia merasa heran saja pada Lyli.
Bagaimana bisa, sudah berapa ronde saja seharin ini dia? Dengannya saja sudah dihajar sampai satu setengah jam, dan dengan si boss yadi? Dan ini masih minta lagi?
“Bodo amat.
Rejeki mana boleh di tolak. Jadi kualat nanti,” gumam Bondan seorang diri.
***
“Semua persyaratan sudah saya lampirkan di dalam map ini, Pak. Saya tunggu kabar baiknya,” ucap seorang wanita mengenakan kemeja warna abu-abu berbahan satin dipadukan
dengan rok span warna hitan selutut. Serta spatu pantofel hitam hak tinggi
mengkilat membut penampilannya kian menonjol saja.
“Berkas saya terima, ya Bu. Akan segera saya cek, jika kelengkapan sudah komplit, dalam waktu
dekat tim kami akan mengadakan penyuluhan ke lokasi,” jawab pria itu sambil menjabat tangan wanita di depannya.
Setelah cukup, wanita itu segera keluar meninggalkan ruangan tersebut. Di loby, seorang
lelaki berkulit putih rambut hitam, megenakan kemeja warna merah maroon, dengan pawakan ideal kira-kira tingginya sekitar 182cm bersiap menjambutnya.
“Bagaimana,
Sayang?”
“Di cek dulu,
setelah itu akan diadakan survey tempat. Semoga semua berjalan lancar dan mulus, ya Sayang?” ucap wanita itu sambil bergelandut manja pada lengan pria tersebut.
“Aku selalu
mendoakan yang terbaik untukmu, Sayang. Bagaimana? Apakah kau lapar?” pria itu
menoleh ke samping sedikit menunduk untuk melihat wajah wanita di sampingnya
dengan lebih jelas.
“Lumayan. Apakah kau akan mentraktirku?”
“Tentu saja. Nanti, kalau klinikmu sudah beres semua, kau yang giliran mentraktirku, setuju?”
“Oke aku setuju.”
“Kamu Cuma praktik selama tiga jam saja, hari ini?” tanya Al. Ketika keduanya sudah berada di dalam mobil.
“Iya, aku
sudah izin kok. Nanti, kalau klinik sudah beroprasi, aku juga bakal isin
resign dari rumah sakit itu, kan Al.”
Al tersenyum
dan mengelus belakang kepala Queen. “Kamu mau makan apa, Sayang? Jalan ke Mall,
yuk!” ajak pria itu.
“Sebenarya
aku bosen kalau harus ke mall terus. Tapi, oke tidak masalah. Temani aku
belanja, ya?” ucap Queen sambil memandang ke arah suaminya yang tengah menyetir.
“Baiklah, Tuan Putri. Kau mau apa memangnya?”
“Aku tidak
tahu. Yang jelas, ada sesuatu yang aku incar di sana.” Queen mengambil potongan
kuku dari dalam tasnya dan memotong kuku-kuku yang mulai memanjang tersebut.
Wanita itu memang terbiasa rapih dan tidak menyukai kuku panjang. Apalagi,
mengecat. Meskipun musimnya nile art dengan berbagai bentuk desain yang unik,
sedikitpun Queen tidak memiliki ketertarikan sama sekali. Apa karena dia
seorang doktter? Entahlah.
__ADS_1