Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
Episode 53


__ADS_3

Ketika tersadar, Lyli merasa badannya cukup pegal dan kepalanya pusing. Tapi, di hatinya seperti lepas sebuah beban yang berat. Tapi, apa? Samar-samar dia mengingat. Ia seperti tengah berccinta dengan Al. hanya saja wajah pria itu


berubah-ubah. Semakin lama semakin jelas yang bercinta dengannya bukanlah Al.


tapi, pria yang dikirim oleh sugar dadynya sebagai bodyguardnya.


Tak yakin dengan ingatannya sendiri, wanita itu segera bergegas mengambil pakaian yang


benar lalu buru-buru keluar kamarnya untuk melihat Bondan di dalam kamarnya. Ketika ia melihat ke dalam kamar pria itu, ia mendapati kalau Bondan tengah tertidur lelah. terlihat jelas dari tarikan napasnya yang teratur. Keringat membasahi kening dan pelipisnya. Wajahnya terlihat kalau dia sangat lelah. tapi, juga merasa puas.


‘Astaga, apakah benar tadi yang meniduriku adalah dia? Kalau si tua itu tidak mungkin juga, kan?’ batin Lyli sambil menggigit jarinya sendiri.


Ia mau menampik ingatannya dan menganggap itu hanya mimpi ia juga tak bisa. Karena di


dalam kewanitaanya juga terdapat banyak cairan lelaki. Belum lagi yang


membercak di atas badcovernya.


“Aku akan menanyakannya langsung padanya nanti kalau dia sudah terbangun,” gumam Lyli


seorang diri. karena waktu sudah sore, ia pun segera mandi dan membersihkan badan. Kemudian, ia beranjak ke meja makan untuk makan malam. Baru saja ia duduk di kursinya. Ia mendengar suara deru mobil dari luar dan meclaksonnya berulang-ulang.


“Apakah si tua itu yang datang?” batinnya. Kemudian ia segera beranjak keluar untuk membukakan gerbang. Karena Bondan masih belum bangun. Dari pada dia marah.


“Ke mana Bondan? Kenapa kamu yang membukakan pintunya?” tanya pria tua itu dari balik jendela mobil.


“Aku tidak tahu, Sayang. Sudahlah. Siapapun yang membukakan gerbang untukmu itu tidak penting. Yang terpenting sekarang yang kau cari juga adalah aku, bukan?” ucap


Lyli dengan manja. Karena dia sendiri takut, kalau scandalnya dengan Bondan sampai ketahuan. Padahal, ia melakukan juga karena tidak sengaja. Ia terlalu mabuk, dan terangsang berat sampai kepalanya berasa mau pecah saja.


“Hahaha, kau benar, Sayang. Kamu kangen sama aku, ya sampai tadi maksa suruh aku pulang,


hemh?” tanya pria tua itu sambil merangkul tubuh Lyli setelah turun dari mobil.


Lyli hanya tersipu malu. Tapi, dalam hati ia merasa kesal. ‘Aku pengennya kau tuntaskan napsuku. Setelah aku mendapatkan pelampiasan yang lain, kenapa kau baru datang?


Dasar lemot,’ umpat Lyli dalam hati.


Saat ia dan pak Darto memasukki ruang tamu, Lyli mendapati Bondan yang baru keluar dari kamarnya. Sepertinya ia juga baru saja selesai mandi.


Pria dengan tubuh tegap dan tinggi 172 itu menunduk membeli hormat pada bossnya. Kemudian,


ia berlalu tanpa melemparkan pandangannya pada Lyli. Tak ingin kebejatannya


tercium oleh si tua itu, Lyli mengajak pak Darto menuju meja makan.


Seperti biasa, Lyli selau melayani si tua itu Ketika makan dengan baik. Ia berusaha keras agar dirinya tidak terlihat kosong atau tengah berfikir sampi bengong. Jadi, sebisa mungkin, Ia harus pandai-pandai menutupi kalau sebenarnya ia


tengah memikirkan sesuatu.


Usai makan malam, pria tua itu berjalan ke dapur membuka kulkas diamatinya isi kulkas itu. ternyata, mirasnya sudah


berkurang dua botol. Kemudian pria itu tersenyum miring sambil melirik ke arah Lyli. Ia urung mengambil wine. Ditutupnya lemari es dan berbalik arah lalu memeluk Lyli yang masih duduk di meja makan.


“Oh, aku tahu, kenapa kau menelfon ku tadi, dan memaksaku agar segera kembali ke sini.


Padahal, baru kemarin, loh aku pergi dari sini. Kamu pasti pengen, ya? kamu kangen, ya? kok kamu jadi hyper begitu, sih Sayang?” goda pak Darto pada Lyli.


“Tapi, apakah kau tidak sadar kalau kedatanganmu telat? Aku harus mencari kepuasan sendiri di


kamar mandi tadi,” jawab Lyli berlagak merajuk. Ia sengaja demikian agar pria


yang menjadikan dirinya sebagai simpanan itu tidak curiga. Supaya berfikir, kalau dirinya bermastrubasi saja.


“Ya sudah, karena tadi kamu main sendiri, jadi ayo main sama aku, akan aku puasin kau malam ini,” ucap pria itu sambil menggendong tubuh ramping Lyli menuju kamarnya.


Beruntung,


pembantu yang Bondan carikan sangat cepat dan cekatan kerjanya. Hanya dalam


sekejab saja, sprei, bad cover sarung bantal guling dan selimut Lyli juga sudah


diganti semua dengan yang baru. Jadi, ia tidak perlu panik apalagi was-was


takut kalau kekhilafannya dengan Bondan tadi siang  sampai ketahuan.


Satu demi


satu pria tua itu menanggalkan pakaian Lyli dan dia pun juga sudah melepaskan


kemejanya. Hanya mengenakan celana panjangnya saja. Lyli tersenyum sambil


megamati dengan seksama tubuh pria yang usianya bahkan sudah  seusia dengan bapaknya. Ya, kurang lebih enam puluh tahunan itu. tapi, sebagai pria yang sudah berumur, Ia termauk meilkki stamina yang cukup oke. Buktinya, ia bisa membuatnya sampai mencapai puncak berkali-kali. Walaupun, tak sehebat Bondan. Itu wajar saja. Bondan sendiri juga


masih muda. Usianya sekitar tiga puluh tahunan. Jadi, bisa dua atau bahkan lima kali lipat jika di bandingkan dengan pria tua yang kini berada di atas tubuh telanjang Lyli.


Dasar Lyli yang memang isi kepalanya di penuhi oleh Al saja. Dalam keadaan begini pun, ia juga masih teringat pri itu. dan rahasianya bisa menjadi sangat liar dalam


meberi pelayanan pada pak Darto hingga pria lansia itu puas juga karena ia membayangkan


pria yang bergumul dengannya itu adalah Al. jadi, setiap gerakan atau apapun yang ia lakukan juga sebenarnya untuk membuat Al merasa suka dan senang saja.


Usai melakukan apa yang menjadi tugas utama Lyli, keduanhya sempat mengobrol. Tapi,


baru saja Lyli akan mengatakan inti dari pembicaraannya, telefon milik pria tua itu malah berdering. Dengan cepat pria itu meraih ponselnya. Memang tidak lama ia mengangangkat panggilan itu. tapi, setelah panggilan di matikan, Lyli bisa


menebak lalau itu adalah sebuah panggilan darurat yang mengharuskan sugar dadynya harus pergi saat itu juga.


“Sayang, kamu tadi mau bicara apa? Mungkin lain kali saja, ya? ini ada pasien yang darurat butuh penagananku secara kusus,” ucap Pria itu sambil mengecup kening Lyli yang


masih bersandar di tepi ranjang berukuran king size tersebut.


Lyli hanya mengangguk dan tersenyum. Namun


senyuman itu berubah sinis tatkala si tua itu berlalu meninggalkan kamar.


Begitu terdengar suara deru mobil meninggalkan  halaman rumahnya. Wanita itu segera beranjak membersihkan diri dan


memakai pakaian yang pantas. Ia masih kepikiran tentang Bondan saja. Ia ingin bertanya langsung, apakah tadi itu benar-benar dia atau bukan?


Lyli membawa

__ADS_1


satu mug kopi keluar. Dilihatnya Bondan yang tengah asik bermain gadget di depan


halaman rumahnya. Kemudian dia meletakkan mug tersebut di meja dekat pria itu, lalu


duduk di sebelah meja tersebut.


“Bondan, aku mau ngomong sama kamu. Tapi, aku mau kamu jawab jujur.”


 Lyli memperhatikan pria itu dengan seksama. Dilihatnya Bondan yang masih tetap tenang memainkan benda pipih yang ada pada genggamannya. Karena tak ada jawaban maupun respon darinya, ia pun kembali


menerusukan kata-katanya.


“Apakah tadi siang yang melakukan itu dengan ku adalah kamu? Kamu tenang saja. Biarkan ini


menjadi rahasia kita berdua. Aku tidak akan membiarkan pak Darto tahu ini.


Mungkin ini juga sebuah ketidak sengajaan, bukan?” ucap Lyli panjang lebar.


“Ya, aku melihatmu sudah tidak keruan dan setengah telanjang di ruang tengah. Kau


benar-benar mabuk dan memaksaku untuk melakukan itu. aku sebenarnya tahu diri, dan sangat mengerti akan posisiku. Siapa aku, sungguh tidak pantas melakuklan itu. tapi, aku ini adalah pria normal yang lemah iman. Tak akan sanggup menahan godaan, dan kau terus saja begitu.”


Lyli menoleh ke samping membelakangi Bondan sambil tertawa tertahan. Ia membayangkan


bagaimana Bondan kala itu pasti sangat lucu sekali. Tapi, sayang. Karena mabuk dan terkena rangsangan berat ia tidak mampu mengingat dengan jelas bagaimana


ekspresi Bondan kala itu.


“Siapa Al itu? cinta lama yang tak berhasil kau lupakan?” tanya Bondan yang kedengarannya


malah seperti sebuah ledekan.


“Entah. Akunsendiri juga tidak tahu. Dia mungkin cinta pertamaku. Tapi, dia justru sudah menikah dengan wanita yang kini jadi musuhku,” jawab Lyli. Masih sedikit


ngelantur karena efek wine yang diminumnya tadi siang cukup banyak.


Bondan tersenyum miring sambil melirik gadis di sampingnya. Ia tahu, kalau wanita itu masih mabuk. Biasanya, seseorang yang tengah mabuk itu justru malah jujur dengan


perasaannya.


“Oh, ya? kedengarannya menarik sekali. Kenal di mana kau? Dan bagaimana bisa kalian


putus dan ia malah menikah dengan wanita itu?”


“Kau mau


tahu, ya? dia adalah anak dari mantan majikanku. Kukira anak kandungnya, karena


wajah dia mirip dengan bapaknya. Ternyata Cuma anak pungut saja. Hembh,” jawab


Lyli sambil tersenyum sinis.


“Kamu yang


ninggalin dia dan sekarang kau menyesal?” tanya Bondan. Dia sama sekali tidak


tahu dari mana Lyli berasal dan di mana bossnya bisa bertemu dengan wanita itu.


simpanan lainnya. Mau setia asal prianya bisa menuruti semua yang


diinginkannya.


“Salah. Ini gara-gara ibuku. Ya, ibuku salah sangka. Dia pernah membuang anak pertanya di sebuah tempat. Kebetulan anak pertamanya adalah laki-laki. Begitu aku membawa


Al pulang, dia melihat tanda lahir di leher kanannya. Dia menduga Al adalah anak yang ia buang. Ternyata bukan. Karena hal itu, hubungan kami kandas.”


“Kok bisa?”


“Karena dia hanya nurut dengan anak tunggal dari keluarga itu. dia permainkan aku. Dan


sekarang malah menikah dengan wanita ****** itu. apakah menurutmu itu adil? Aku datang ke sini untuk balas dendam. Aku suka kamu saat menggauliku. Kau memiliki


tubuh yang hampir mirip dengan Al,” jawab Lyli sambil memandang Bondan dengan tatapan sayu.


Bondan tersenyum tipis. Banyak hal yang ingin dia katakana. Tapi, ia malas. Melihat pakaian Lyli dengan belahan dada rendah hanya membuat adik kecilnya berontak


ingin mengulangi permainan tadi siang dengan wanita di depannya. Wanita yang


sudah sejak awal ia kagumi, ia sukai, dan ia bayangkan bisa bercinta dengannya.


Tak di sangka, kejadian tadi siang yang berawal dengan niat agar tidak


terpancing oleh Lyli justru malah membuat mimpinya menjadi nyata.


“Bondan. Kau punya pacar tidak?” tanya Lyli. Ia sungguh tidak menyangka kalau wanita itu


akan menanyakan hal seperti itu.


“Aku, ya? mana sempat aku pacaran kalau pun aku memilikinya?” jawab Bondan sambil tertawa.


“Kalau jadi


pacarku bagaimana? Apakah kau, mau?”


“Jangan


aneh-aneh, Nyonya. Aku tidak berani melawan Boss. Kau ini kesayangan boss,”


jawab Bondan sambil beranjak hendak meninggalkan Lyli di halaman rumah itu.


“Jika di


antara kita hanya diam, apakah dia akan tahu? Kita sembunyikan juga dari dua wanita yang bekerja di sini. Jika perlu kita bungkam saja mulut mereka dengan uang. Tidak masalah, bukan, kau jadi pacarku, menikmati diriku dengan gratis. Kau tidak perlu membeli ******* murahan di gang jalan dan


membayangkannya sebagai aku.”


Lyli memainkan lidah dan juga jari telunjuknya yang ia letakkan ke dalam mulutnya sendiri dengan Gerakan serta pandangan mata yang sensual. Membuat pria normal mana pun tidaklah tahan.


Bondan


sedikit terkejut saja dengan apa yang Lyli katakana barusan. Bagaimana mungkin

__ADS_1


dia bisa mengerti apa yang ada di dalam hatinya? Memang, selama ini dia


benar-benar mengagumi Lyli. Setiap kali dia datang ke club malam dan mencari cinta satu malam juga selalu mebayangkan wanita itu adalah Lyli. Jadi, apakah yang ia lakukan kemarin itu adalah sengaja memancingnya?


Bondan berbalik badan, kemudian melangkah perlahan menghampiri Lyli dan menatap belahan dadanya


yang terlihat sangat jelas menonjol serta menantang.


“Apa maumu?”


Lyli berdiri dan mengalungkan kedua lenghannya pada leher bondan dan mendongkak ke atas


menatap wajah pria itu.


“Bagaimana?” bahkan dengan berani ia menggesek tubuhnya mengenai ************ Bondan yang


mungkin juga sudah konak.


Bondan diam sesaat, kemudian tanpa pikir panjang langsung mengangkat tubuh wanita di hadapannya. Ia pikir juga sudah terlanjur kepalang basah. Mau apa lagi?


“Apa maksutmu? Apakah kau memancingku lagi?”


“Ya, benar. Aku ternyata lebih suka melakukan denganmu daripada dengan si tua itu,” jawab


Lyli dengan manja.


Mata Lyli terus menatap setiap inci tubuh Bondan. Sudah lama juga dia curi pandang dengan body ini. Tapi, itu hanya ada dalam hati saja. Tapi, setelah kejadian tadi siang, dan merasakan sendiri betapa liatnya tubuh pria itu, ia jadi kian tergila-gila dan ketagihan.


Tanpa pikir panjang lagi Bondan langsung membawanya ke dalam kamarya dan langsung melakukan


hal yang tadi siang ia lakukan. Dalam hati ia merasa heran saja pada Lyli.


Bagaimana bisa, sudah berapa ronde saja seharin ini dia? Dengannya saja sudah dihajar sampai satu setengah jam, dan dengan si boss yadi? Dan ini masih minta lagi?


“Bodo amat.


Rejeki mana boleh di tolak. Jadi kualat nanti,” gumam Bondan seorang diri.


***


“Semua persyaratan sudah saya lampirkan di dalam map ini, Pak. Saya tunggu kabar baiknya,” ucap seorang wanita mengenakan kemeja warna abu-abu berbahan satin dipadukan


dengan rok span warna hitan selutut. Serta spatu pantofel hitam hak tinggi


mengkilat membut penampilannya kian menonjol saja.


“Berkas saya terima, ya Bu. Akan segera saya cek, jika kelengkapan sudah komplit, dalam waktu


dekat tim kami akan mengadakan penyuluhan ke lokasi,” jawab pria itu sambil menjabat tangan wanita di depannya.


Setelah cukup, wanita itu segera keluar meninggalkan ruangan tersebut. Di loby, seorang


lelaki berkulit putih rambut hitam, megenakan kemeja warna merah maroon, dengan pawakan ideal kira-kira tingginya sekitar 182cm bersiap menjambutnya.


“Bagaimana,


Sayang?”


“Di cek dulu,


setelah itu akan diadakan survey tempat. Semoga semua berjalan lancar dan mulus, ya Sayang?” ucap wanita itu sambil bergelandut manja pada lengan pria tersebut.


“Aku selalu


mendoakan yang terbaik untukmu, Sayang. Bagaimana? Apakah kau lapar?” pria itu


menoleh ke samping sedikit menunduk untuk melihat wajah wanita di sampingnya


dengan lebih jelas.


“Lumayan. Apakah kau akan mentraktirku?”


“Tentu saja. Nanti, kalau klinikmu sudah beres semua, kau yang giliran mentraktirku, setuju?”


“Oke aku setuju.”


“Kamu Cuma praktik selama tiga jam saja, hari ini?” tanya Al. Ketika keduanya sudah berada di dalam mobil.


“Iya, aku


sudah izin kok. Nanti, kalau klinik sudah beroprasi, aku juga bakal isin


resign dari rumah sakit itu, kan Al.”


Al tersenyum


dan mengelus belakang kepala Queen. “Kamu mau makan apa, Sayang? Jalan ke Mall,


yuk!” ajak pria itu.


“Sebenarya


aku bosen kalau harus ke mall terus. Tapi, oke tidak masalah. Temani aku


belanja, ya?” ucap Queen sambil memandang ke arah suaminya yang tengah menyetir.


“Baiklah, Tuan Putri. Kau mau apa memangnya?”


“Aku tidak


tahu. Yang jelas, ada sesuatu yang aku incar di sana.” Queen mengambil potongan


kuku dari dalam tasnya dan memotong kuku-kuku yang mulai memanjang tersebut.


Wanita itu memang terbiasa rapih dan tidak menyukai kuku panjang. Apalagi,


mengecat. Meskipun musimnya nile art dengan berbagai bentuk desain yang unik,


sedikitpun Queen tidak memiliki ketertarikan sama sekali. Apa karena dia


seorang doktter? Entahlah.

__ADS_1


__ADS_2