Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
EXTRA PART


__ADS_3

🍁🍁🍁🍁


“Kau selalu sibuk akhir-akhir ini. Bahkan kau hampir tak


punya waktu meski hanya mengirim pesan untukku.”


Gadis itu bersandar pada kursi yang didudukinya. Sementara


lelaki itu masih berbicara di balik telefon genggam.


“Maaf, bukannya aku berniat untuk mengabaikanmu. Aku


mempersiapkan soal untukl ujian siswa siswiku di kampus, dan mengurus gym


sendirian. Tapi, aku janji setelah soal-soal ujian sudah aku persiapkan, aku akan sempatkan waktu untk bertemu denganmu.”


Segelas susu kalsium untuk membentuk tubuhnya pun sudah


tersaji dan selesai digaduk. Sambil mendengarkan gadis yang di telfonnya


berbicara, pria itu langsung meminumnya sampai habis.


“Bisakah akhir pekan nanti kita bertemu? Setelah itu aku


ada kegiatan mengisi acara seminar di Garut soalnya. Itu akan menyulitkan kitanbertemu.”


“Akan aku usahan.” Lalu, bunyi telfon dimatikan. Pria itu


mengusaap bibir atasnya yang basah oleh susu yang baru diminumnya. Kemudian


meletakkan gelas dan berjalan menuju single sofa yang berada di ruang tv lalu menyandarkan tubuhnya di sana. Diliriknya foto lama di mana ia menjadi pasangan pengantin


bersama cinta pertama semasa SMA-nya dulu.


“Aku terlalu banyak menyakitimu. Kuharap, kau bisa


benar-benar bahagia dengan pernikahanmu bersama Al. Aku sedikitpun tidak pernah


mengira kalau dia akan jatuh cinta padamu, apalagi mengira dia hanya kakak


angkat yang diadopsi kedua orang tuamu,” gumamnya seorang diri pada foto  wanita yang diambil dari samping. Yang


berparas cantik dengan mengenakan baju kebayaputih dan tersenyum manja menatapnya.


“Tin.. Tong..!”Pria itu segera meletakkan foto tersebut begitu mendengar


bel rumahnya berbunyi. Dengan segera ia berjalan menuju pintu dan membukanya.


Di sana berdiri seorang wanita dengan membawa box makanan.


Mungkin untuk makan siangnya, atau sekedar makanan ringan saja.


“Kakak! Dengan siapa kau kemari, naik apa?” tanya Alex


saat melihat Novita datang.


Wanita itu hanya tersenyum sambil sesekali memegangi


perutnya yang kian membesar saja.


“Masuklah, Kak!” Lelaki itu menggeser tubuhnya untuk


memberi akses jalan untuk wanita itu masuk ke dalam rumah.


“Kakak kemari sendirian. Kurasa kau belum makan, ini


makanlah. Kakak membuatkannya untukmu.” Wanita itu memberikan box berwara biru


muda yang dibawanya kepada Alex.


“Terimakasih, Kak. Kau pasti lelah, tiduran saja di sini,”


ucap pria itu sambil menunjuk ke single sofa di depan tv.


Novita hanya tersenyum lembut dan berjalan ke sana.


Sementara Alex, ia pergi ke dapur untuk mengambil sendok dan air putih.


Wanita itu bernait menemani adiknya makan sambil menonton


tv. Tapi, ketika ia hendak mengambnil remot, pandangannya teralih pada sebuah


foto berbingkai emas. Foto pernikahan adiknya bersama Queen.


Tak lama kemudian Alex kembali dengan box yang sama dan


segelas air putih di tangannya. Pria itu duduk lesehan pada meja di dekat sofa


kakanya duduk, sambil menikmati nasi hangat iga bakar dan sambal kecap buatan kakaknya.


“Kamu belum bisa move on dari cinta pertamamu, ya?”Seketika Alex langsung terbatuk-batuk karena tersedak.


Dengan buru-buru pria itu meraih gelas berisi air putih di sampingnya dan meminumnya dengan cepat sampai batuknya mereda.


“Tentu saja aku sekarang mencintai Zahara. Wanita yang dua


tahun lebih tua, dia akan sangat dewasa walau masih prawan,” jawab Alex. Tanpa


memadang ke arah saudari perempuannya.


“Bohong!"


"Kenapa kau tidak percaya, kak?” bantah Alex.


“Bagaimana kakak bisa percaya sedangkan foto ini masih kau


letakkan di sini untuk kau pandangi sebelum kau tidur, kan?” Novita menatap


tajam ke arah Alex. “kakak tahu, kau jarang tidur di dalam kamarmu sekarang,” imbuhnya lagi.


“Aku masih makan. Jangan kau ajak bicara, yang ada aku


malah tersedak lagi. Apakah kaka tidak lihat di berita ada yang mati karena


tersedak?” Tanpa rasa bersalah pria itu meneruskan makan siangnya dengan sangat


lahap.


Novita hanya menghela napas Panjang dan merebahkan badannya.


Karena ia merasa kalau pinggangnya terasa pegal.


Setelah Alex selesai makan, Kembali Novita mempertanyakan


pertanyaan yang sama. Sampai-sampai Alex kesal.


“Kakak sudah pernah peringatkan sama kamu lo ya, dulu.


Jangan gunakan orang lain untuk melupakan orang lain apalagi pelampiasan.”


Alex menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan


menghempaskan tubuhnya dengan kasar di sebelah kakanya.


“Memang benar, ya kalau wanita itu ahli sejarang dan


memorinya lebih banyak. Mungkin juga lebih dari 64GB.”


“Kenapa?” tanya Novita sewot.


“Kukira setelah aku selesai makan kakak akan lupa dengan


apa yang kita bahas tadi. Ternyata aku salah.”


“Sejauh apa hubunganmu dengan Zahara?”


“Sejauh mata memandang, kak, hehe. Ya aku serius,’’ jawab


pria itu sambil terkekeh menggoda kakaknya.


“Jika memang kamu serius, kenapa masih menyimpan foto-foto


Queen?”


“Biar tahu, kalau aku duda. Uda pernah nikah walau gagal.


Hehehe.”


“Pernikahannya gagal, bukannya malu malah bangga.”


“Ya, setidaknya itu bukti kalau aku pria normal, Kak.


Pernah menikah gagal karena kebodohanku sendiri. Karena, pria tampan dan berbadan bagus sepertiku, identik dengan cowok gay.”


Novita yang semula kesal dengan adiknya kini malah tertawa

__ADS_1


terbahak saat mendengar jawaban itu.


“Ya sudah. Kalau bisa, jangan biarkan Zahara melihat ini.


Walaupun dia sudah menerima masa lalumu. Namanya hati wanita, pasti akan tetap


sakit dan cemburu apabila mendapati prianya menyimpan foto atau barang dari


wanita di masa lalunya.”


“Kak, akhir pekan nanti aku berniat akan melamar Zahara. Gimana?”


“Kamu serius?"


“Tentu saja. Aku akan menikahinya dan mencintainya dengan


sepenuh hatiku. Aku tak akan pernah menggap dia Queen. Karena, mereka dalah dua


wanita yang berbeda,” jawab Alex dengan mantap.


Novita mengangguk, arti dia menyetujui maksut dan keinginan


adik semata wayangnya. “Kakak akan selalu mendukungmu. Apa kau mau kakak


mengabari papa dan mama agar mereka kembali ke Indonesia?”


“Tidak. Jangan dulu!” seru Alex, buru-buru.


“Kenapa? Apa kau akan memberi kejutan seperti yang kau lakukan dulu?”


“Tidak. Biar kalau kami sudah akan menikah saja, aku akaan


mengabarinya sendiri. Jika mereka tidak bisa pulanag. Kami akan melangsungkan


pesta di sana bersama mertuaku.”


“Baiklah. Semoga semua berjalan lancar, ya?’’ Semuanya pun terdim. Hanya suara dari televisi saja yang


terdengar memecah keheningan.


“Kakak kesini tanpa membawa Axel. Apa ada yanbg mau kaka


bicarakan padaku?” tanya Alex. Mencairkan suasana.


Novita masih diam. Ia ragu-ragu untuk bercerita. Tapi,


jika dia pendam sendiri… Rasanya pun juga tidak akan mampu.


“Ada apa, Kak? Kamu kalau mau cerita, cerita saja. Aku


masih akan jadi Alex adikmu seperti dulu. Tidak ada yang berubah selain waktu dan kehidupan pribadi masing-masing,” desak Alex.


“Kemarin saat kakak pulang dari berbelanja, kakak bertemu


orang yang wajahnya mirip sekali dengan Adit, Lex.”


“Hah? Mungkin kakak kangen dia jadi pandangannya kabur,”


timpal Alex. Menganggap enteng itu.


“Tidak, Lex. Kakak sudah dua kali bertemu dengannya dan


yang terakhir malah sangat jelas sekali. Dia benar-benar mirip dengan mendiang papanya Axel.”


Alex menatap kakaknya, ia meperhatikan raut wajah wanita


itu yang memang benar-benar serius. Takbada kebohongan sedikitpun di wajahnya.


“Kakak bilang pertemuan yang kedua sangat jelas. Kok bisa?”


“Dia menggantikan Apelku yang dirusak, mengajak aku


berbelanja dan membayar semua tagihannya.”


“Kalian sudah kenalan? Dia siapa namanya, dan tinggal di


mana?”


“Aku tidak sempat menanyakan nama dan tempat dia tinggal.


Karena, begitu ia membayar semuanya. Ia mendapatkan telfon dan buru-buru pergi.”


“Hm… Sayang sekali,” lirih Alex.


“Aku penasaran.”


“Oh…. “ hanya itu yang keluar dari bibir Novita. Kemudian,


Novita bermaksut pulang, dan Alex mengantarkannya kembali sekalian ia mau ke


gym. Ya, walaupun tidak satu arah. Anggap saja pemanasana karena sudah dua hari


ini dia hanya berada di dalam rumah saja.


****


Nayla mencatat jumblah pesanan tart untuk acara ulang


tahun, yang diambil tanggal berapa, tema dan jenis kue. Setelahnya, ia


memberikan pada bagian yang membuat di belakang.


Ia melihat, ini sudah jam setengah lima. Hari ini toko


tempat ia bekerja sangat ramai. Sampai-sampai, ia rasanya tidak sempat untuk


bernapas. “Hm…. Sungguh, hari ini sangat melelahkan,” gumamnya, lirih. Sambil


memijati tengkuknya sendiri.


“Hey, Kak Nay. Kamu tinggal di mana?” tanya salah satu


teman Nayla.


“Aku? Aku tinggal di perumahan permai. Apakah kau mau


bermain ke sana?” tawar wanita itu dengan ramah.


“Oh, bolehkah?” jawab wanita bernama Linsi itu dengan raut


wajah ceria.


Dari enam karyawan lama, hanya gadis itulah, satu-satunya


teman Nayla yang baik dengannya. Ia masih merasa beruntung dan tertolong karena


ada Linsi di sini, jika saja tidak… Ah, entahlah. Apakah ia masih sanggup


bertahan bekerja di sini? Kalau bertahan, mungkin juga karena tak ada tempat


lain yang bia menerimanya bekerja. Sementara kebutuhannya, terus berjalan.


“Tentu saja boleh. Kenapa tidak? Di rumah ada putriku yang


baru berusia enam tahun.”


“Hah, dengan siapa dia? Apakah dengan papanya?”Nayla menggelengkan kepalanya. Dia tinggal sendiri di


rumah. Aku menitipkan dia pada salah satu tetangga terdekat.”


“Lalu, suamimu di mana?”


“Kami sudah bercerai, sebelum aku bekerja di sini,” jawab


Nayla lirih dengan kepala terteunduk.


“Maafkan aku kak Nay.” Gadis berusia duapuluh satu tahun


itu pun tertunduk dan merasa bersalah.


Nayla tersenyum, dan menepuk pundak gadis di depannya


seraya berkata, “Tidak apa-apa. Tidak perlu meminta maaf begitu. Ya sudah, ayo


kita pergi, katanya mau mampir ke rumahku!” ajak Nayla.


Mereka berdua pun berjalan bersama. Jarak toko roti tempat


mereka bekerja dan kediaman Nayla tidaklah jauh. Mungkin sekitar serarus


limapuluh meteran saja.


Hanya butuh waktu beberapa menit saja, mereka telah tiba di


kediaman Bilqis. Sebelum Nayl pulang, wanita itu pergi ke rumah tetangga tepat

__ADS_1


di sebelahnya. Di sana ia menitipkan putrinya. Karena di rumah sendiri, dan


sudah dua minggu Bilqis selalu di sana saat ia bekerja.


Setelahnya, barulah Nayla ke rumahnya. Rumah minimalis yang


difasilitasi oleh mantan suaminya.


“Sudah lama tinggal di sini, Kak?” tanya Linsi begitu


melihat tatanan rumah yang sangat simple, namun berkelas itu.


“Baru tiga mingguan. Sebelum kami resmi bercerai secara


hukum, aku langsung tinggal di sini,” jawab Nayla sambil berjalan ke dapur yang


hanya berjarak beberapa meter saja dari ruang tamu dan di beri pembatas lemari


hias yang berisi bingai-bingkai foto dirinya, Bilqis dan juga Al.


Linzi memandangi foto-foto tersebut. Ia begitu tertarik


melihat sebuah foto pria mengenakan kacamata hitam dan mengenakan kaus hitam


presbodi di padu dengan jakek jeans dan celana jean berwae]rna biru terang,


berdiri dengan gagahnya  sambil membawa


kaleng bir di tangan kanannya.


“Kamu minum dulu ini, Lin. Kamu mandi dulu apa gimana dan


makan malam bareng kami,” tawar Nayla sambil meletakkan segelas jus buah jambu


di atas meja ruang makan.


“Eh, maaf kak kalau aku lancang. Pria pada foto itu siapa?


Papanya Bilqis?” tanya Linsi sedikit canggung.


“Dia mantan suamiku yang baru saja bercerai denganku, Lin.


Tepatnya papa tiri Bilqis,” jawab Nayla, lirih.” Dia bertemu denganku saat aku


dianiaya oleh mantan suami, papanya Bilqis. Dia melindungiku dan akhirnya menikahiku.


Tapi, nyatanya rumah tangga yang hampir tujuh tahun kami bina kandas juga,”


imbuhnya sambil menyeka air matanya yang mengalir.


“Maafkan aku, kak kalau aku lancang bertanya dan hanya


membuatmu sedih saja. Sepertinya dia sangat mencintaimu. Tapi, kenapa bisa


seperti ini? Apakah ada pihak ketiga?”


Nayla diam. Ia tak akan lagi berani berulah untuk


menjelekkan Queen. Akhirnya ia berkata jujur, walau tak sepenuhnya. Setidaknya,


ia tidak memojokkan Queen.


“Aku yang bersalah, sebagai istri aku terlalu posesif dan


mengekangnya. Lagipula, siapa yang tak cemburu dan was-was memiliki suami


setampan dia, kan?”


“Memang, Kak. Kau tidak salah. Tpai, di sisi lain, lelaki


juga merasa risih jika terlalu di kekang. Sabar, muimgkin jodoh kakak dengan


nya sampai di sini.”


Nayla hanya tersenyum ia melirik foto dirinya dan Al yang


tengah berpose di sebuah tempat yang tinggi dan di sekilingngnya penuh dengan


pemandangan hijau bukit-bukit. Hatinya terasa kian teriris dan perih saja.


“Ya sudah kau mandi saja dulu, dan bersantailah dengan


Bilqis!’’ seru Nayla.


Baru tiga mingguan Nayla kenal dengan gadis muda bernama


Linsi itu, mereka sudah menjadi akrab saja bak saudara. Linsi adalah anak


pertama dari tiga bersaudara, ia tidak memiliki orang tua dan hidup bersama


tantenya. Karena dia saudara paling tua, ia harus bekerja keras membanting


tulang untuk membantu biaya sekolah adik-adiknya. Ia masih termasuk beruntung.


Karena tante dan omnya selama pernikahannya tidak dikaruniai seorang anakpun.


Jadi, mereka tidak keberatan saat harus mengasuh dia dan kedua adiknya ketika


kedua orang tua mereka dalam kecelakaan.


****


Karena bekerja di toko, Nayla terus bekerja tanpa mengenal


hari, dan tanggal merah. Sekalipun hari minggu, toko itu tetap buka, dan jika buka, jelas


membutuhkan karyawati untuk berjaga melayani pembeli. Para karyawatinya di kasih


jatah libur dua minggu sekali, dan untuk yang baru, baru mendapat izin libur


setelah bekerja selama satu bulan.


Tanpa terasa, satu bulan sudah Nayla bekerja di sana, hari


ini ia mengambil libur dan berniat mengajak jalan-jalan putrinya. Ketika ia


tengah menyiapkan perlengkapan renangnya dan Bilqis ponselnya yang terletak


tidak jauh darinya berdering.


Setelah ia lihat, sebuah panggilan dari nomor yang tidak


di kenal. Dengan ragu-ragu wanita itu mengangkat panggilan tersebut.


“Halo.”


“Halo. Nay, kamu apa kabar?”


“Jevin? Ini kamu, ya? Ada apa kau menelfonku?” jawab Nayla


dengan jutek.


“Kamu kok gitu, sih jawabnya, Nay? Kamu marah karena


selama ini aku tidak pernah ada waktu sama kamu? Aku lagi ada urusan. Sejak


kita ketahuan, posisiku ini terancam.”


“Terancan dalam hal apa? Istrimu marah?” tanya Nayla, datar.


“Apa? Istri? Hahahaha. Kenapa kau berfikir aku memiliki


istri, Nay?”


“Bukan kah wanita pada Video yang kudapatkan itu adalah istrimu?”


“Kau kira siapa? Dia itu Luna sepupuku, Nay. Kamu gak usah


mikir yang berlebihan. Aku kembali mencarimu karena urusanku sudah beres.


Setelah bercerai dengan Al. Aku yakin, kau mengalami banyak kesulitan sekarang.


Boleh, aku datang mengunjungimu?”


Nayla terdiam. Mendengar kalimat terakhir yang Jevin katakan,


hatinya mulai luluh, dan mulai kembali percaya. Bahkan di hatinya ia mengutuk


Queen karena telah membual.


“Baik. Kau kemarilah saat sore hari. Karena aku sekarang


bekerja,” jawab Nayla.


###sesuai permintaan di grup chat kemarin. ttp lanjut di sini ya? karena jika mau membuat novel baru, proses review nya lama semingguan lebih.

__ADS_1


__ADS_2