
Usai pertemuan antara keluarganya dan keluarga besar mendiang abahnya, Diaz pulang bersama umi dan adiknya. Tiba di rumah, ia segera masuk kamar dan mencoba melihat lipatan kertas yang dia dapat dari Fatimah dulu.
dengan rasa ingin tahu dan penasaran yang tinggi ia segera membuka dan membaca isi tulisannya.
Dear mas Diaz.
Aku tahu tidak seharusnya perjodohan ini ada dan berlanjut. ini hanyalah keisengan mendiang Abah Mas dan keluargaku yang seharusnya tak berlanjut setelah beliau pergi. Tapi, entah kenapa rasa kagum yang teramat dariku untukmu melupakan semuanya. kau dari awal memang tidak pernah menerimaku dan memperlakukan aku sama seperti kau memperlakukan Fatinsh, adikmu. harusnya aku sadar akan hal itu.
Aku sudah lihat bagaimana calonmu dia sangat cantik dan lembut. wajar saja jika kau menyukai dan sangat saya g padanya.dia juga memiliki pendidikan yang setara denganmu, dia juga sama\-sama dokter. selamat mas, semoga bahagia dan langgeng sampaipelaminan.
Nurma :\)
___________________________________
Diaz menghela napas dalam dan juga lega, ditaruhnya kembali kertas itu di atas meja lalu ia bergegas mengambil wudhu dan menunaikan ibadah salat Isya.
Ada perasaan lega setelah mengetahui tentang pembatalan perjodohan itu namun hatinya juga merasa was-was ketika mengingat tentang hubungan dia dengan Queen yang sepertinya tak akan bisa berlanjut.
"Diaz, apakah kau tidak suka dengan kabar ini?" ucap Umi dari belakang Diaz.
Diaz tersenyum dan mencium berulangkali punggung tangan uminya, dan tidur dalam pangkuannya.
Umi tersenyum sambil mengelus rambut putranya yang tidur di pangkuannya itu. memang putranya kini sudah beranjak dewasa dan menjadi seorang dokter muda yang tampan dan gagah, tapi sifat manjanya masih saja belum berubah banyak.
"Ada apa kok pasang wajah galau begitu? ada masalah?"
"Tidak apa-apa, Umi. Diaz kangen sama Umi, pengen dimanja-manja sama umi, terlebih sebentar lagi Diaz juga akan balik ke Jakarta," jawab Diaz. tidak mau berterus terang.
umi hanya tersenyum mendengar jawaban dari putranya. Sekalipun Diaz tidak bercerita apapun, sebagai seorang ibu, dia mengerti apa yang anaknya rasakan kini.
"Diaz, kita ini hanyalah manusia, sekuat apapun kita berencana, ketentuannya hanya Allah yang tahu. dan Allah akan memberikan apa yang kita butuhkan, bukan yang kita suka. Dan apa yang menurut kita baik, belum tentu bagi Allah baik. tapi, jika baik Allah, maka baik pula bagi kita, Allah maha tahu, sementara kita tidak."
Diaz yang sedari tadi diam pandangannya lurus ke depan, kini ia mendongak ke atas memandang wajah umiknya. memang wanita ini sangatlah luar biasa, benar-benar tahu dan mengerti tanpa dia harus bercerita dan menjelaskan panjang lebar. benar jika pepatah mengatakan cinta pertama seorang putra adalah ibunya, dan ibu adalah malaikat yang diutus Allah untuk menjaga dan melindungi anak-anaknya selama di dunia.
"Umi tahu segalanya, ya?" ucap Diaz sambil melingkarkan kedua lengannya di pinggang uminya.
"Tahu, apa, Le? bagaimana umi bisa tahu jika kamu tidak ngomong? kamu ada masalah dengan Quen?"
"Masalahnya tentang dia, Umi. tapi, kami sedang dalam baik-baik saja. Umi tahukan dia itu seorang janda, Mantang suaminya kini mengejarnya kembali dan memintanya untuk rujuk."
Diaz pun duduk di sebelah uminya, dan bersiap mendengarkan nasehat dari baliau.
"Lalu apa masalahnya denganmu? Selama Quen tidak bersedia rujuk dan lebih memilihmu?"
"Diaz pasrah saja Umi. tidak mau terlalu berharap Quenlah jodohku, biar semua mengalir saja seperti air. kalau jodoh tak akan kemana, kan Umi?"
Umi hanya tersenyum dan mengelus kepala putranya itu dengan kasih sayang. memang ini kali pertama putranya menyatakan kalau dia benar-benar telah jatuh cinta. tapi, dia masih bisa berfikir normal dan tidak begitu memaksakan kehendak takdir.
🍁🍁🍁🍁🍁
Sejak tadi siang, Al hanya marah-marah saja pada stafnya. ada saja kesalahan yang ia temukan untuk dijadikan luapan emosinya.
__ADS_1
"Iren, kesini kamu! Coba lihat ini! Bagaimana kaku mengerjakan bisa salah semua, dan setelah ku koreksi dengan laporan yang ada di emailku tidak sama. perbaiki lagi, kuberi waktu tiga jam, jika tidak beres, kemasi barangmu dan cari pekerjaan baru!" seru Al seraya melempar map berisi hasil pembukuan bulan kemarin pada seorang wanita yang selalu tampil sexy dan memikat para kau hawa, kecuali dia.
"Iy... iya. baik, Pak tiga jam saya akan selesaikan," ucap wanita itu lalu bergegas mengambil map yang Al lempar di atas mejanya lalu bergegas pergi meninggalkan ruangan pribadinya.
Setelah itu, Al diam membuka komputernya dan mengamati hasil laporan yang sudah masuk.
tidak ada masalah. artinya dia bisa meninggalkan kantor. tapi, mau ke mana dia? ke tempat Vico? barusaja dia sudah membuatnya habis-habisan. jika kembali pun juga akan begitu seterusnya.
"Sikat saja, Al, biar juga adek halal itu dinikahi, sebelum di embat dokter Diaz."
lagi-lagi kalimat itu yang selalu terngiang di telinga Al.
dia memang sudah tidak lagi mencintai Nayla, dia merasa jijik semenjak melihat kejadian itu, tapi untuk menceraikannya, dia masih belum minat, selagi a apa yang dia inginkan belum didapatkan nya.
Ia pun membuka album foto-foto Quen dan dirinya di masa lampau. Al tersenyum seorang diri, sampai seseorang tiba-tiba saja masuk ke dalam ruangannya dan ikut tertawa, lalu pergi keluar sebelum Al menyadarinya dan marah-marah. sebab, saat ini dia ada dalam suasana hati yang tidak baik.
setelah menetralisir tawanya, ia kembali ke ruangan Al dan berpura-pura mengetuk pintu.
"Masuk!" ucap Al, dengan suara dingin. begitu tahu Juna yang datang, dia malah kelabakan sendiri dan salah tingkah bingung menyembunyikan foto dirinya saat mencium pipi Queen di kolam renang.
"Ada apa, Jun?"
"Oh, bos kasmaran, ya? Eh, maaf, salah. ini aku mau kasih lihat kalau ada tawaranan kerja sama dengan PT. xxx lihat saja, mungkin kau tertarik, sudah dipelajari, keuntungan yang akan di hasilkan nanti juga lumayan untuk perusahaan kita," ucap Juna lalu segera pergi sambil tertawa tertahan.
Al meraih lembaran-lembarsn proposal itu dan menelitinya. tapi, rupanya percuma. dia sedang tidak bisa fokus. sepertinya dia benar-benar butuh break dari pekerjaannya dan pergi ke tempat Martin.
Saat Al pergi meninggalkan kantor ada sedikit perasaan lega bagi para stafnya. termasuk Iren. yang diberi tugas memperbaiki pembukuan selama tiga jam. Waktu segitu memanglah tidak singkat. harusnya dia bisa lebih cepat mengerjakan nya. tapi, jika teringat ekspresi Al yang benar-benar marah seperti itu, hanya akan membuat grogi gak fokus dan tak bisa bekerja dengan baik.
"Pak, Al kenapa ya datang-datang kok marah-marah, gitu? apakah ada masalah?" ucap salah satu staf pada staf lainnya.
"Iren aja juga ke a semprot tadi, gak tahu kenapa. biasanya dia staf terbaik dalam mengerjakan tugas. Tapi kenapa kok tiba-tiba di saat yang salah dia malah... hahaha."
"Apaan ngomongin aku? Aku sengaja salahin biar dia nasehatin aku dengan gaya marah seperti biasanya, eh. gak taunya, serem banget pak Al yang barusan. semoga aja gak balik dan besok bertemu lagi di kantor dalam mood yang baik," sahut Iren yang sudah menyelesaikan perbaikan tugas.
Al mengemudikan kendaraannya dengan sangat cepat. jarak yang ha tuanya di tempuh selama empat puluh menit dari kantornya ke bar milik Martin,hanya dia tempuh selama lima belas menit saja.
tiba di sana Martin tidak ada, tapi dia tidak butu Martin, hanya minumannya saja. sengaja memilih tempat ini karena nyaman, dan cafe ini pun juga senyediakan sisha, sangat langka memang ada sisha dan bir. baginya menenangkan.
Al bahkan langsung memesan lima botol sekaligus miras merk terrkenal buatan Indonesia. dia tidak peduli apapun.tidak akan ada yang memarahi dirinya, selain mama Clara.
"Maafin aku, ya Ma. jangan marah, jangan hukum Al kalau Al nanti sampai mabuk, gak diminum habis sayang, pesan dikit, mumpung ada promo, Ma," gumam Al seorang diri, lalu langsung membuka salah satu tutup botol miras itu dan meminumnya langsung.
entah sudah berapa lama Al berada di situ, menikmati minuman seorang diri tanpa teman, biasanya ya Martin yang menemaninya, tapi, sepertinya dia hari ini tidak ada di tempat. dan Al juga enggan menghubunginya, jadi sendiri saja.
Tanpa sadar ada beberapa pasang mata wanita yang memperhatikan dirinya. mungkin dia pun tahu, tapi, tak peduli dan tak mau tahu. memang begitu sifat Al. tidak pernah bisa bermain-main dengan wanita jika menang tidak ada perasaan, itulah yang membuatnya berbeda dengan konglomerat muda yang lainnya. dia dapat lah dikatakan idaman, tapi, tidak sedikit pula yang menganggap dirinya itu adalah gay.
salah satunya adalah Queen sendiri, saat dia masih duduk di bangku SMA. suka jail dan mancing-mancing sang kakak demi mengetahui identitas sexual sang kakak. barulah dia berhenti saat sang kakak sudah menikah, sekalipun tidak memiliki anak dari pernikahannya.
Seorang wanita berpakaian sexy dan mencolok dengan polesan mekap tebal menghampirinya dan duduk di sebelahnya sambil menyapa, "Hay, ganteng. sendirian saja?"
Al hanya menoleh sekilas, tanpa ekspresi dan.lemnali meminum minumannya.
"Jago minum, ya? udah habis tiga botol masih terlihat baik-baik saja," ucapnya dengan nada sensual dan di desah-desahkan.
__ADS_1
Lagi-lagi Al cuma diam, melirik sebentar lalu menyeringai dan menyedot sisha di depannya dan mengepulkan asap di udara.
"Oh, kenalkan, namaku Amel. kamu siapa?" Wanita itu menyodorkan tangannya, sambil menggerak-gerakan pinggul dan memamerkan belahan dadanya yang sengaja mengenakan pakaian kemben melorot.
tanpa banyak bicara, Al mengeluarkan dompetnya dan mengambil dua lembar uang seratus ribuan meletakan di depan Amel, dia memang sudah mulai mabuk, jadi, membiarkan satu botol minumannya tetap utuh di sana dan pergi.
"Kalau hanya untuk pengamen saja, duit segini harusnya cukup, kan? dan itu ada satu botol ambil saja, istriku sudah menungguku untuk makan malam di rumah," ucap Al dengan nada ketus dan dingin.
Ia pun akhirnya pergi meninggalkan tempat itu dengan berjalan sempoyongan menuju tempat parkir.
Sementara wanita yang memperkenalkan nama ya sebagai Amel tadi, merasa marah dan jengkel. dia tidak pernah mendapatkan sekalipun penolakan. tapi, kali ini benar-benar ada pria yang menolaknya terang-terangan. memberikan uang dua ratus ribu dan sisa miras ya satu botol utuh tapi menyebut dirinya adalah pengamen.
"Huh, sial. siapa sih dia sebenarnya? sayang banget kalau lepas. ganteng sih. jadi pembantu rumah tangga nya aja aku mau kalau majikannya kek gitu," ucap Amel seorang diri.
tidak ada rasa jengkel di hatinya sekalipun Al sudah sangat merendahkan dirinya. sebab ia sadar pekerjaannya pun juga rendahan. dia menjadi psk dan wanita panggilan tingkat kakap. dan juga jadi simpanan para om-om.
pukul 18.30 Al tiba di rumah. dengan kondisi yang sama seperti dia meninggalkan cafe, ia masuk. dan melihat Quen di ruang tamu. buru-buru wanita itu berjalan cepat menghampiri sang kakak.
"Kau sudah pulang, Kak? baru saja aku mau menelfonku, menanyakan kau akan makan di mana."
"Brug!"
Tubuh Quen mulai limbung dan hampir jatuh saat dengan tiba-tiba Al menabrak dirinya.
"Kak, kau mabuk?" tanya Queen sambil mempertahankan dirinya agar tidak jatuh.
tidak ada jawaban dari Al, selain dia meracau dengan bahasa dewa yang Quen sendiri tidak tahu, kakaknya bicara apa.
'Serumit apa, sih masalah kak Al dan kak Nayla sampai dia mabuk begini? dan bahkan kak Nay juga enggan menyapaku,' Batin Quen sambil berjalan perlahan menuju kamar tamu yang dibuat tidur kakaknya semalam.
Queen sedikit terburu-buru, karena takut nanti kakek melihatnya. dan jelas akan marah, kakek Andrean beda dengan mendiang kakaknya yang suka minum kakek Andrean anti dengan yang namanya miras.
Tiba di kamar, buru-buru Quen masuk dan menutup pintunya. lalu, berjalan ke arah ranjang, dengan niat membaringkan kakaknya di sana, sementara dia akan memesan kelapa muda utuh, untuk diambil airnya agar kakaknya tidak mabuk lagi, tapi, badannya yang kecil justru ikut terjatuh bersama Al di atas ranjang dengan posisi dia di bawah kakaknya.
"Uh, Kak... kamu berat banget, sih?" ucap Quen sambil berusaha mendorong tubuh kakaknya.
Setelah berhasil lolos, Al malah menarik lagi lengan Quen dan mendekapnya dalam pelukannya.
"Kau mau kemana, Sayang? di sinilah, aku kangen sama kamu, selama di Jepang, kita gak ketemu, Kan? ucap Al sambil menciumi pipi Quen. dan menggrak-gerakan wajahnya di sana, seolah ia sengaja menggesekkan kumis tipisnya di pipi itu.
"Hay, coba sadar dan buka mataamu! Lihat! Aku ini siapa?" ucap Quen. dia mengira kakaknya tidak sadar dan menganggap dirinya adalah Nayla.
Queen berusaha melepaskan diri dari pelukan kakaknya, tapi, semakin kuat Quen memberontak, semakin erat pula, Al mendekap.
."Diam lah, sebentar. aku cuma mau menciumu saja," bisiknya.
Queen meras merinding. ada sensasi aneh yang menjalar pada tubuhnya. setelah sekian lama tidak bersentuhan dengan laki-laki dan kini, malah seperti ini dengan kakak sendiri. di tampaj gesekan kumis tipis Al yang di pipinya, membuat ia merasa geli, tapi, menyukai.
"Tidak, aku tidak boleh begini. ini harus akunsidahi sebelum semuanya jadi fatal," ucap Quen dalam hati.
jujur, tubuhnya sangat merespon dan menginginkan. tapi, ia masih sadar dan bisa melawan nafsunya sendiri. digigitnya dengan keras dada kakaknya, sehingga pria itu kesakitan dan melepaskan dirinya dari pelukannya. pada saat itu, Quen gunakan kesempatan untuk kabur.
melihat keadaan ruang tamu sepi, dengan segera Quen menaiki tangga dan masuk ke dalam kamarnya. tubuhnya bergetar hebat. hampir saja dia kebablasan.
__ADS_1
"Ya Allah, maafkan aku. aku hanyalah manusia biasa, tempat salah dan lupa. aku hampir saja .... Diaz, maafkan aku," ucap Quen seorang diri lalu dia pun mandi lagi, menghilangkan aroma miras yang menempel di tubuhnya setelah berdekatan dengan Al.
Usai mandi, Quen mengambil ponselnya. memesan kelapa hijau asli dari sebuah aplikasi online tidak menunggu lama, pesannya pun tiba. dengan bantuan Bibi, Quen berhasil mengambil air kelapa muda itu dan meletakkan nya dalam gelas lalu, membawanya untuk Al.