
Dua orang itu menoleh saat mendengar ada sesesorang bertepuk tangan di belakang mereka.
”Hahahaha, bagus, bagus sekali. Kakak ipar, kau ini sudah bersuamikan kak Al yang memiliki segalanya. Tapi, kenapa malah memilih yang seperti ini? Hahaha.”
Tiba-tiba saja nyali Nayla menciut, sedangkan Jevin hanya mengusap wajahnya saja beberapa kali. Sebab, sebelumnya ia sudah mengingatkan Nayla agar segera pergi. Tapi, rupanya wanita itu sangatlah keras kepala. Jika Aditya mengetahui ini, ini tidaklah baik, dan kerja sama yang sebelumnya menjanjikan keuntungan besar bagi mereka, ini justru, malah menjadi ancaman besar untuk mereka jika sampai menyinggung Aditya.
‘’Tuan, kau bisa melihatnya, sekarang. Dia ada di sana,” ucap Jevin berusaha mengalihkan topik pembicaraan Adit.
Pria itu menoleh kea rah Jevin dengan muka datar, lalu kembali menyeringai saat menatap kea rah Nayla dan memberi peringatan pada wanita itu, “Kau jangan berani-beraninya menyentuh dia, Apa kau pikir jika Al tahu itu akan baik-baik saja denganmu? Sekalipun kau istrinya, jika kau menyakiti Queen ku. Kau bisa-bisa diarak telanjang dengan kekasih gelapmu ini. Coba pikirkan saja jika itu sampai terjadi, apakah mental Bilqis tidak terganggu?”
Nayla Nampak bergetar dengan apa yang baru saja Aditya katakana, ya mental wanita itu begitu ciut. Beberapa langkah ia mundur dan memalingkan wajahnya dari Aditya.
“Jadi kebencianmu pada wanitaku karena dia? Rela menculiknya dan bolos kerja demi dia? Pikirkan saja sekali lagi untukmu, Kakak ipar, kau bertahun-tahun menikah dengan Al tapi tidak memiliki keturunan dengan dia, setelah kalian bercerai, ya sudah kau akan kembali seperti dulu. Ok baiklah, aku terlalu banyak bicara, aku akan ke kampus dulu, Jev. Jangan lupa, aku hanya empat puluh menit meninggalkan tempat ini, segera lakukan rencananya sambil menunggu aku kembali.”
Jevin dan Nayla pun diam hanya menatap kepergian pria itu. Nayla baru sadar kalua hidupnya kini akan sangat terancam, ia memandang Jevin tanpa mengatakan sepatah katapun, ia terlalu gengsi untuk meminta maaf, apalgi jika harus mengakui kesalahannya.
“Nay, sebaiknya kau segeralah kembali, kurasa dengan menghilangnya Queen, pak Al tidak akan ke kantor hari ini.”
Kali ini Nayla hanya menuruti perintah Jevin saja, sebenarnya ia masih ingin berlama-lama dengan pria itu. Tapi, tidak ada pilihan lain selain pulang.
Perlahan Nayla membuka pintu rumah berharap Al pergi bekerja atau mencari Queen, tapi harapannya tinggalah harapan, tidak hanya Al saja, bahkan kakek mertuanya juga duduk di sana Bersama suaminya di ruang tamu.
“Mas, Al. Kau ridak ke kantor hari ini?” tanya Nayla dengan tubuh bergetar.
Al menatap Nayla dengan tatapan penuh emosi dan bertanya dengan kencang, “Dari mana saja kau?”
“Aku dari mengantarkan Bilqis, Mas.”
“Jangan kau pikir aku tidak tahu. Dia harus tiba setengah tujuh di sekolahan sedangkan ini sudah pukul sepul, waktu tiga jam setengah kau ke mana saja?” bentak Al kian murka.
Nayla tidak menjawab pertanyaan Al, jika saja ia mengatkan alasan lain, ia pasti ingin pergi ke sana untuk memastikan.
“Mas, maafkan aku, aku tahu aku salah, lain kali akau akan segera kembali setelah mengantarkan Bilqis pergi ke sekolahan.”
Al diam, ia tidak membahas hal ini, ia sudah bisa menebak ke mana perginya wanita itu.
“Aku mau tanya sama kamu, kenapa kau berani-beraaninya ikut campur dalam urusanku? Kau hanya menikah denganku, apa yang kumiliki dan yang sudah jadi bidangku, kau tidak tahu apa-apa jangan pernah ikut campur.”
Nayla hanya tertunduk, ia merasa takut sekaligus malu. Suaminya memarahi dirinya di depan kakek Andrean. Sedangkan, si kakek, sama sekali tidak memberi pembelaan sedikitpun, atau setidaknya mencoba meredam emosi cucunya juga tidak. Pria tua itu malah diam, duduk tenang dengan koran yang ada di tangannya.
“Ikut campur apa, Mas?”
“Kau tidak perlu pura-pura bodoh begitu, kenapa kau diam-diam memerintah orang-orangku untuk berhenti mengawasi Queen tanpa pengetahuanku? Sekarang dia menghhilang dan tak ada yang tahu di mana dia.”
Nayla menunduk menyembunykan air matanya, entah kenapa ia menangsi, malu, tersinggung, atau sakit melihat suaminya jauh lebih mengkhawatirkan adiknya ketimbang dia yang adalah isrtinya.
“Al, tidak ada gunanya marah-marah, lakukan saja saran kakek yang tadi, bagaimana?”
Al diam, ia memandang ke arah kakeknya lalu mengangguk dan hendak pergi keluar.
“Tidak bisakah kau tetap diam di rumah? Jika kau mau pergi jangan pernah ke tempat Martin.”
Al menghentikan langkahnya di depan pintu. Lalu kembali, seolah sang kakek bisa mengerti apa yang ia pikirkan. Kali ini ia masuk ke dalam kamar tamu untuk memejamkan mata sekejap saja sambil menunggu kabar dari salah satu anak buahnya yang ia sebar untuk mencari Queen.
###123
Sudah berapa orang saja yang Diaz tanyai untuk mencari Queen dan menanyakan dia pada teman-teman SMA-nya. Sampai pada akhirnya ia pun menyerah, orang terakhir yang ia hubungi kali ini adalah Alex. Ia tidak peduli dengan tantangan pria itu, ia sadar kalua apa yang di katakana oleh pria bule itu benar, dia tidak layak untuk Queen, ia tidak bisa menjaganhya dengan baik.
“Ada apa Diaz kau menemuiku?” tanya Alex yang merasa sedikit aneh.
“Aku ingin tahu di mana saja biasan Queen pergi jika ia merasa sedih, dan siapa saja teman baiknya di masa SMA selain Sinta?’’
Alex mengerutkan keningnya dan menatap penuh selidik ke arah Diaz yang Nampak kusut dan panik itu.
“Kalian ada masalah?’’
Tidak ada jawaban dari bibir Diaz, ia terlalu beku untuk menjawab pertanyaan Alex.
__ADS_1
“Maafkan aku, bukannya aku bermaksut ikut campur. Yang dekat dengannya dulu selain Sinta adalah Bela. Tapi gadis itu jarang ada di rumah, dia sekarang adalah pramugari tingkat internasional. Kurasa tidak mungkin kalua Queen ada bersamanya. Ada apa sebenarya?”
“Sejak kemarin malam Queen hilang, Lex. Benar apa yang kau katakana padaku dulu jika aku ini payah dan tidak bisa menjaga Queen. Ini kan yang kau cemaskan?”
Alex terperanjat saat mendengar kalua Queen hilang, pikirannya langsung tertuju pada mantan ipar psychopath itu.Tapi percumah, ia tidak dapat melakukan apapun, sebab Al sudah memintanyan agar ia tidak masuk lagi dalam kehidupan adiknya. Tidak ad acara lain selain memberi petunjuk pada Diaz dan merelakan pria itu menjadi pahlawan dan penyelamat wanita yang masih ia cintai itu, sekalipun resikonya makin mudah bagi wanita itu melupakan dia karena merasa terkesan kekasihnya yang sekarang jauh lebih bisa menjaga dan melindunginya.
“Aku rasa dia diculik, Diaz.”
“Siapa yang menculiknya, Lex? Apakah Queen punya musuh?”
“Tidak, tapi jika seorang yang begitu teropsesi dan sangat menginginkannya ada satu orang. Coba kau tebak!”
Pikiran Diaz langsung tertuju pada dr.Aditya, ia teringat dengan masa-masa saat mereka masih menjadi koas. Pria itu pernah hampir melecehkan Queen, dan Gea juga bilang, kalau dulu mereka pacarana dan hampir menikah, hanya saja gagal karena mantan istrinya minta rujuk dan Queen menikah dengan Alex. “apakah dr.Aditya?”
“Kurasa begitu, siapa lagi? Ini kesempatanmu untuk menyelamatkan dia, buat dia dan kakaknya terkesan padamu. Supaya kak Al yakin kalua kau pantas untuk adiknya, aku tidak akan ikut campur,” ucap Alex lalu pergi meninggalkan pria itu.
Diaz tidak dapat berkata apa-apa selain terpaku melihat kepergian Alex yang sungguh di luar dugaannya. Ia sebelumnya sudah mengira kalua Alex akan marah-marah dan mengatai ia benar-benar tidak layak untuk Queen karena menjaganya saja sudah tidak pecus. Tapi, dugaannya malah terbalik.
Kenapa dengan pria itu? Ia seolah-olah menunjukkan ketidak peduliannya terhadap Queen. Namun cintanya masih jelas terlihat dari matanya. Lalu kenapa ia lakukan ini? Bukankh dulu pria itu mengajaknya bersaing? Apa yang membuatnya menyerah dan membiarkanku berjuang sendiri?
Diaz pun segera ke kampus untuk bersiap menunggu Aditya mantan dosennya itu keluar dan menguntitnya setelah menerima informasi dari Gea kalua dia tidak ada di rumah sakit.
###121
Sudah lama Quen tersadar, ia mengamati tempat ini dan memikirkan cara untuk kabur, tidak ada siapapun yang ia lihat. Lalu, siapa yang meculiknya? Dan apa tujuan orang itu? Sementara selama ini ia tidak merasa memiliki musuh satupun.
Berkali-kali ia menggerakan tangan dan kakinya yang terikat agar terbuka. Tapi, sia-sia, ingin berteriak memanggil siapaun. Tapi juga tidak akan menghasilkan apa-apa selain mereka akan mencelakai dirinya lebih cepat. Barulah di saat dalam keadaan seperti ini Queen baru teringat kakaknya dan emanggil-manngil Namanya dalam hati.
‘Kak Al, datanglah kemari, tolong selamatkan aku.’
Tak lama kemudian muncul tiga morang pria mengenakan masker yang hanya memperlihatkan sedikit matanya saja dari dua lubang. Sehingga Queen akan kesusahan untuk mengenali siapa tiga orang itu.
“Hahaha, dia sudah sadar rupanya, apakah sekarang saja, kita memulainya?’’ ucap salah satu dari mereka pada dua orang temannya.
“Siapa kalian? Dan kenapa kalian menyekapku di sini? Apakah kita punya masalah sebelumnya?”
“Kau tidak ada urusan dengan kami, tapi kami dibayar agar berurusan denganmu. Lalu kau pikir apa? Hah?”
“Siapa yang menyuruhmu? Suruh dia kemari!” bentak Queen dengan berani.
“Tidak perlu tahu, dia juga ingin kami segera mengakhiri hidupmu karena muak melihatmu. Tapi, terlalu sayang jika cewek bening seperti kamu langsung dibunuh begitu saja tanpa diajak main-main lebih dulu, kan?”
Tiga pria itu melangkah bersamaan mendekati Queen yang masih terikat.
Sementara Queen hanya bisa berontak dan tak lebih dari itu, karena dua tangan dan kakinya sama-sama terikat pada kursi yang ia duduki itu. Ia hanya bisa berteriak karena jijik saat mereka menngerayangi lengan pundak juga pipnya. “Jika kalian mau bunuh aku, bunuh saja sekarang cepat! Jangan lakukan apapun!” bentak Queen sambil menangis.
Tiga orang itu sedikitpun tidak menggubris, mereka hanya tertawa terbahak. Tidak lama kemudian pintu terbuka lebar di dobrak oleh seorang pria.
“Jauhkan tangan kotormu darinya!” teriak pria itu sambil memukuli mereka dari belakang.
Queen teecengan melihat siapa yang menolongnya, sungguh di luar dugaan, ia berharap yang datang adalah Diaz atau kakaknya, tapi kenapa justru malah Aditya? Orang yang sangat dia benci. Di mana mereka berdua? Sudahkah tidak peduli denganku? Pikir Queen.
“Sudah, hentikan… jangan sampai kau mebunuh seseorang, mereka sudah tidak berdaya, Adit!” teriak Queen saat melihat Aditya hendak memukul kepala salah satu dari mereka yang sudah tak berdaya dari vas keramik berukuran cukup besar.
“Aku benci mereke, apa yang sudah mereka lakukan padamu?”
“Ti.. Tidak, mereka tidak melakukan apapun.”
Dengan cepat Aditya melpaskan ikatan di tangan dan kaki Queen lalu buru-buru mengajak Queen pergi dari tempat itu.
Queen menatap Aditya yang tengah fokus mengemudi. Wanita itu terus diam tapi pikirannya kemana-mana. “Dit, terimakasih, ya sudah nyelamatin aku. Kau tahu dari mana kalua aku ada di situ?”
“Aku dengar informasi kalua kau katanya dari semalam tidak ditemukan dari Gea. Makanya aku terus menelusuri dan memeriksa setiap cctv yang ada di setiap lampu merah yang kiranya dilewati saat akan ke rumah sakit tempat kau bekerja.” Jawab Aditya berbohong.
“Dit, antarkan aku pulang, pasti kakak dan kakekku tengah mencemaskanku, dan Diaz juga pasti sangat memikirkanku saat ini.”
Aditya menyeringai tanpa menoleh, lalu berkata, “Apa? Diaz peduli? Kurasa kau belum tahu kalua kau itu hanyalah alasan, coba kau lihat ini!” Sementara tangan Aditya yang sebelah kiri sibuk menscrol layar ponselnya dan menunjukan sebuah foto pada Queen di mana foto itu menunjukan suasana kantin yang cukup ramai. Tapi, ada satu bangku yang ditempati dua pengunjung yang terlihat jelas dan familiar gestur tubuhnya.
__ADS_1
Queen meraih ponsel itu dan mengamati dengan jelas dua orang itu. Salah satunya dalah seorang pria dengan jas dokter duduk berhadapan dengan wanita berambut hitam lurus dengan kaus putih dan setelan celana jeans Panjang model sobek, keduanya terlihat jelas dan sangat dekat.
Pengambilan gambar dari sudut yang tepat dan pose yang menunjukan seolah keduanya adalah pasangan kekasih, rupanya sukses membuat pikiran Queen teracuni. Ingatannya kembali pada suatu malam di mana saat ia meningglkan Hanifah dan Diaz di halaman belakang untuk membuat salad buah karena kalah dalam permainan tahu-tahu Hanifah sudah pergi pulang dengan menangis, lalu di susul Diaz dengan raut wajah merasa bersalah, dilanjut dengan nomornya sama sekali tidak aktif. Apa-apaan ini maksutnya? Batin wanita itu. Berfikir kalua kekasihnya sudah ganti haluan.
Queen memberikan kembali ponsel Aditya kepadanya, ia masih memikirkan foto itu, bahkan ia juga tidak mood untuk berbicara apapun kepadanya.
Aditya tertawa puas saat melihat Queen putus asa dan melempar pandangannya ke luar jendela. Tidak membuang waktu, dengan cepat ia melajukan mobilnya kea rah rumahnya.
“Kau tenangkan saja pikiranmu di sini dulu, setelah kau siap menghadapi kenyataan, barulah aku akan mengantarmu pulang, Kaka dan juga kakekmu tidak sadar kalua kau diculik. Mereka berfikir kau sedang butuh waktu sendiri untuk menenangkan pikiran dari masalahmu dengan Diaz.”
“Bagaimana kau bisa tahu?” tanya Queen sedikit ragu.
“Kau pikir apa alasa pria itu bisa tahan tidak menyalakan ponselnya selama itu? Tidakkah kau berfikir untuk membeli sebuah ponsel baru beserta nomornya itu sangatlah mudah? Buktinya di tempat kerja dia bisa Bersama Hanifah. Mana mungkin gadis itu tahu keberadaan Diaz tanpa komunikasi?” Lagi-lagi Aditya terus meprovokatori Queen.
Queen menangis sejadi-jadinya, ia tidak bisa menyembunyikan kekecewaan dan air matanya lagi. Wanita itu pun menutup wajahnya dengan kedua tangan kedua pundaknya terguncang karena tangisnya yang kian hebat.
Aditya mendekat dan menepuk bahunya, menarik wanita itu perlahan dalam pelukannya sambil berkata lirih, “Tinggalah di sini untuk sementara, kakakmu Bersama keluarga kecilnya tengah merayakan aniversari mereka yang ke7. Kau tidak mau merusak suasana bahagia mereka, kan? Apa perlu kutunjukan fotonya?”
“Tidak, tidak usah. Bagus kalua dia sudah akur dan tidak marahan lagi dengan istrinya,” jawab Queen, sambil menguap air mata di kedua pipinya. Perlahan ia menjauh dari pelukan Aditya, meski bagaimana pun, ia sebenarnya masih merasa risi dengan pria itu.
“Dit, antarkan aku ke apartemen saja!” pinta Queen, sekali lagi.
“Baik, tapi aku mau kau makan dulu di sini, ya? Beristirahatlah dulu, aku akan memasakkan sesuatu untuk makan siang kita.”
**12
Dengan hati-hati, Diaz mengikuti mobil Aditya yang baru saja keluar dari sebuah rumah kosong Bersama Queen. Dalam hati, pria itu tidak ada habisnya mengumpat, pasti Queen sudah anggap dia pahlawan, padahal semua ini adalah rencananya.
Diaz tidak berfikir kalua Aditya bisa memilih tempat seperti ini untuk dijadikan tempat tinggalnya, enak sih, jarak rumah antara penduduk tidak sepadat komplek perumahan, di sini suasananya juga masih cukup asri. Karena masih ada perkebunan yang cukup luas.
Ketika Diaz menerobos ke dalam rumah itu, ia mendengar suara yang tidak beres.
“Dit, kamu mau apa? Hentikan! Aku tidak mau, cepat antarkan aku ke apartmenku.” Jelas sekali, suara wanita itu adalah Queen.
Diaz langsung menyusuri sumber suara itu dan mencarinya, beruntung rumah ini tidak begitu besar. Jadi, dengan mudah pria itu menemukan keberadaan mereka berdua.
Diaz melihat dengan mata kepanya sendiri di sebuah meja makan Aditya berusaha merayu Queen. Sedankan wanita itu hanya mendorongnya pelan menujukan penolakan halus agar pria itu tidak tersinggung. Mungkin karena merasa berhutang budi, karena telah diselamatkan dari para penculik itu.
”Cukup sandiwaramu, dokter Aditya. Lepaskan dia!” Seru Diaz.
“Diaz,” ucap Queen lirih, hampir talk terdengar.
“Oh, ada pahlawan kesiangan, kau mengetahui rencanaku, ya?” jawab Aditya dengan tenang.
Sementara Queen masih bingun apa yang dimaksut dua pria itu. Ia melihat kea rah Diaz dan Adit secara bergantian. Lalu bertanya kepada Diaz, “Rencana apa yang kau maksut, Diaz?”
“Kau ditipu oleh pria itu, Queen. Sebenarnya dia adalah dalang dibalik penculikanmu, ia terus menguntitmu. Dan muncul seolah-olah dialah yang menyelamatkanmu. Itu sudah dia rencankan.”
“Hahaha, kau cukup cerdikjuga, juniorku.” Dengan sigap Aditya memegangi Queen agar tidak kabur dan melempari apapun yang bisa dijangkau oleh Aditya untuk menyerang Diaz.
“Diaz, awas!” teriak Queen ketika, Aditya melemparinya sebuah mangkuk sayur dari baha kaca. Diaz yang baru saja menghindar dari lemparan gelas dan piring, kali ini ia benar-benar tak mampu menghindari serangan Adit. Kepalanya pun berdarah.
“Argh…” Diaz tampak mengerang kesakitan, badannya roboh, tapi ia berusaha mengejar Aditya yang membawa lari Queen.
“Diaz! Cepat sadar, tolong aku, Diaz,” teriak Quen sambil menangis, ia tidak tega dengan keadaan Diaz yang sepertinya terluka parah, karena selain mangkuk itu ukurannya lumayan besar, barangnya juga tebal, mengenai kepala Diaz sampai pecah, jika saja itu sesama kaca pun keduanya akan pecah. Apalagi kepala manusia?
“Adit, lepaskan aku, dasar brengsek, kau bastart!’’ umpat
Queen. Sambil terus memberontak. Tapi sayang, selain dia masih dalam pengaruh obat bius, Aditya juga terlalu kuat untuknya, bagaimana pun tenaga seorang wanita tidak akan ada apa-apanya jika dibandingkan dengan tenaga pria.
Adtiya tertawa puas dan terus menggiring Queen masuk ke dalam mobilnya.
Sedangkan Diaz yang terluka parah berusaha keras mengejar Adit yang membawa pergi Queen tanpa memperdulikan keadaan dirinya sendiri.
Dengan kepala yang masih mengalir darah, Diaz mengemudikan mobilnya mengejar mobil Aditya yang pergi kea rah perkebunan yang jauh dari keramaian.
“Sial, kemana larinya pria itu? Ke mana dia membawa lari Queen?’’ umpat Diaz ketika ia mendapati jalan buntu. Padahal sebelumnya ia benar-benar yakin kalua mobil pria itu berlari kea rah ini. Beberapa kali Diaz menggebrak setir mobilnya sendiri sebagai luapan emosinya.
__ADS_1