Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION 2 PART 156


__ADS_3

"Halo, Diaz... Halo?" Quen melihat ke arah ponselnya, panggilan sudah tidak lagi terhubung. Sedangkan dia sangat penasaran pa yang ingin dikatakan sama Diaz.


Melihat keadaan masih sepi, Queen mencoba menghubungi balik nomor Diaz. Tapi, tidak bisa. Akhirnya ia pun memasukan benda pipih itu ke dalam tasnya dan kembali fokus bekerja saat seorang perawat meletakan kertas daftar antrian di atas mejanya.


Sedangkan Diaz, mengecas ponselnya, sesaat, lalu pergi untuk menunaikan sholat Dzuhur dan kembali setelahnya untuk mengaktifkan kembali ponselnya dan menuliskan pesan pada Queen.


"Maa, tadi batreinya lowbat. Ini aku baru saja sempat ngecas. Aku mau bilang sama kamu kalau dua Minggu lagi, aku akan pindah ke Jakarta, meskipun di bukan rumah sakit besar seperti Bhayangkara. Tapi, setidaknya aku bisa dengan mudah jaga kamu."


Diaz meletakan kepalanya pada sandaran kursi yang diduduki nya. Ia merasa lelah akibat aktifitas seharian.


Belum lagi di tambah dengan Alex, yang ingin mengajak Quen kembali, bahkan terang-terangan mengajaknya bersaing. Di tambah pula dengan dr.Aditya. ia merasa kalau saingannya benar-benar berat, sama-sama orang berada yang pernah ada dalam kehidupan Quen dulu.


"Mas, lagi galau, ya? Keliatannya pening banget," sapa Fatimah. Adik satu-satunya Diaz.


Diaz mengangkat kepalanya dari sandarang kursi, menoleh ke arah Fatimah dari depan yang memeluk beberapa kitab.


"Sudah pulang, kamu Mah?" Pria itu mengulurkan tangannya untuk dicium adiknya.


Setelah salim pada sang kakak, Fatimah duduk di sebelahnya. Menemani sang kakak ngobrol sebentar.


"Umi di mana kok rumah sepi?"


"Kan ini hari Kamis, Mas. Umi ada perkumpulan," jawab Fatimah.


"Astagfirullah.... Hari Kamis ini, ya? keluh Diaz panjang sambil mengusap wajahnya sendiri berulang kali.


"Mas kenapa? Ada masalah?"


"Tidak apa-apa. Cuma urusan pekerjaan aja sedikit ada kendala, habis ashar nanti ikut mas ke makam abah, tidak kamu?"


"Iya, Mas. Fatimah ikut."


Adzan ashar pun berkumandang, dengan segera, Diaz dan adiknya mengambil wudhu keduanya sholat berjamaah bersama, dan setelahnya pergi ke makam abahnya.


Umi mereka tidak ikut, sebeb baru akan pulang nanti sekitar setengah lima.letak makan yang agak jauh dan sulit dijangkau, akan cukup memakan waktu jadi, daripada kemalaman, mereka memutuskan hanya berangkat berdua saja.


🍁🍁🍁


Nayla tersenyum dan berlari kecil ke arah pria yang duduk membelakanginya. Setelah jarak sekitar sepuluh meter dari pria itu, Nayla berjalan pelan dan sedikit berjinjit lalu menutup kedua mata laki-laki itu dari belakang.


Kevin tersenyum sambil tangannya meraba punggung tangan Nayla yang berada di kedua matanya.


"Nay, apakah ini kamu?" tanya pria itu, seraya terus meraba hingga kedua lengan wanita di yang ada belakangnya.


Dengan pontan Nayla membuka tangannya mengarahkan wajahnya dari belakang ke depan wajah Jevin.


Bersamaan dengan itu, JevinΒ  juga menoleh ke belakang, sontak keduanya tampak sengaja berciuman.


"Maaf ya, sudah membuatmu lama menunggu," ucap Nayla.


"Nggak apa-apa. Bagaimana keadaanmu dan juga bilqis? sehat?" tanya Jevin setelah wanita itu duduk di sampingnya.


"Ya, kami semua sehat-sehat saja kok." Nayla menatap wajah Jevin dengan bibir tersenyum dan mata yang nampak berbinar.


"Pulang jam berapa dia dari sekolahnya nanti?" Jevin meletakan lengannya di atas bahu Nayla.


"Ya, seperti biasa jam 11.00 dia sudah pulang sekolah, kenapa nanya-nanya?" ucap Nayla sambil tertawa menggoda pria di sebelahnya.


"Tidak. Aku ingin ikut jemput dia, nanti," jawab Jevin.


Dengan gelagapan Nayla berkata, "Tidak usah, Jev. jangan, biar aku saja yang jemput. Apa kamu tidak bekerja hari ini?


"Aku ambil cuti hari ini. Dan ingin menghabiskan sehari ini bersama kalian di Dufan, gimana?" tawar Kevin pada Nayla.


Wanita itu pun nampak kebingungan dan serba salah. Ia tak ingin mengecewakan Jevin. Tapi, di sisi lain, ia juga tak bisa lagi mengajak Bilqis bertemu dengan Jevin. Karena Bilqis bukanlah anak kecil lagi. Ia bisa bertanya jika ada hal yang menurutnya ganjil.


Nayla menggigit kuku jarinya sambil berfikir keras. sebenarnya ia ingin sedikit lebih lama dengan Jevin jika pun tak dapat mengabulkan keinginannya ke Dufan bersama dengan Bilqis. Tapi, siapa yang akan menjemput putrinya nanti? Tidak ada yang bisa dimintai tolong. Kakek, tidak mungkin, bibi jauh lebih tidak mungkin lagi. Sementara Quen, jelas ia bekerja entah sampai kapan. Yang jelas saat ia berangkat mengantarkan Bilqis ke sekolah gadis itu masih tidur pulas di kamarnya.


"Maafkan aku, Jev. Mas Al tidak ada di rumah. Tidak ada yang kupasrahkan menjemput Bilqis, Quen juga bekerja, dan sopir, kau tahu, kan kalau keluarga kami tidak punya sopir sekarang?"


"Memang kenapa? Bagus, kan suamimu tidak ada di rumah? Kita bertiga bisa jalan-jalan bersama," ucap Jevin dengan mata berbinar penuh harap.


"Tidak bisa, Jev. Aku tidak bisa begitu. Bilqis gak anak kecil lagi sekarang dia bisa bertanya kalau ada sesuatu yang sekiranya ganjil dan tidak pas untuk dipandang. Kau tahu saat kami berlibur ke villa? anak itu dengan polos nya bertanya kenapa mama lebih suka bercanda sama om Jevin daripada papa? Om Juna saja bercandanya sama Tante Gea. Terus aku harus jawab apa?


"Kamu kan bisa naik jawab ke dia kalau kau dengan Al sudah tidak ada lagi kecocokan. Kalian akan segera berpisah dan hidup bersama denganku," jawab Jevin dengan nada penuh penekanan.


"Tidak bisa, Jev. Bilqis menganggap aku sudah menghianati papanya, aku takut kelak dia akan benci aku."


"Apa? Papanya? Dia papa tirinya, Nay. Kau harus sadar itu. Oh, kau sengaja diam agar bisa jadi alasan untuk kau tidak meninggalkan Al karena Bilqis sudah anggap dia papa kandungnya? Pandai kau, Nay.Β  Kau hanya memanfaatkan perhatianku saja. Sementara Al. Memang harusnya aku sadar diri aku kalah dibandingkan dengannya. Walau dia lebih muda dariku tapi dia putra satu-satunya pak Vano, pemilik perusahaan di mana aku bekerja."


Pria itu pun berdiri dari tempat duduknya, ia hendak pergi meninggalkan Nayla yang masih dalam dilema.


"Tidak Jev. Kau tidak tahu apa-apa. Kau salah. Penilaianmu terhadapku itu tidak benar," ucap Nayla sambil memegangi tangan Jevin.


Jevin pun berhenti dan membakikan badannya ke arah Nayla, "lalu apa? Buktinya kau mendoktrin anakku sebagai anak kandung Al, kan?"


"Tidak. Kami kenal Al saat Bilqis berusia satu tahunan, jelas dia tidak ingat apapun. Yang ia tahu, kami tinggal di Jepang sebagai suami istri atau papa mamanya. Jika aku mengatakan tiba-tiba tanpa waktu yang tepat apakah itu baik untuk psikologi nya?"


Jevin pun diam sesaat. Ia duduk di kursinya kembali. Tangannya merambat menggenggam jemari Nayla.


"Kau sayang gak sih sama aku?"


"Jika tidak, kau pikir kenapa aku mau menemuimu di sini?"


"Buktikan kalau memang kau cinta aku, ayo kita cari hotel," tantang Jevin.


Nayla nampak bimbang dan ragu, dia takut ini akan jadi masalah baru, tapi jika tidka dituruti, jelas Jevin akan meninggalkan dia, dia tidak mau itu terjadi, ia tidak siap dan tidaka kan pernah siap kehilahan pria di sampingnya ini.


"Benar, kan kataku? Kau bahkan masih menjaga setiamu pada Al si konglomerat itu."


Nayla masih membeku di tempatnya, t

__ADS_1


Hatinya benar-benar dalam kebimbangan yang luar biasa. Ia melihat ini baru pukul sembilan, sedangkan Bilqis akan pulang baru jam sebelas nanti. Masih ada dua jam lagi, pikirannya.


"Baiklah, ayo jika kau ragu padaku, agar kau yakin dan tidak meninggalkanku," ucap Nayla sambil meremas ujung bajunya.


🍁🍁🍁🍁


Queen mengikat rambutnya asal, memeriksa ponselnya sebelum ia meninggalkan ruangan itu. Ia tersenyum saat melihat ponselnya.


Sepertinya ada seseorang yang mengirimkan pesan dan itu berhasil menjadi mood boosternya.


"Telfon nanti saja, deh. Sekarang ke ICU dulu nemuin kakek," gumamnya seorang diri.


Quen pun pergi ke ICU sambil melempar senyum pada rekan sesama dokter maupun para suster dan perawat magang yang kebetulan berpapasan dengannya di koridor rumah sakit.


Tiba di ruang tunggu Queen tidak mendapati sang kakek, selain keluarga orang lain dan dua orang suruhan kakakanya.


"Di mana kakekku?" tanya Quen.


"Dari tadi dokter belum mengizinkan tuan besar masuk ke ruangan tuan dan nyonya, Nona. Jadi, beliau baru masuk sekitar sepuluh menit yang lalu," jawab salah satu dari mereka.


"Ok baiklah."


****


Di dalam Andrean tidak hentinya menangis mengusapi kening kedua anak-anaknya itu. Dia menceritakan apapun yang baru-baru ini terjadi. Tentang Quen yang sudah Tak lagi dengan Alex. Soal Al yang lebih gila dalam pekerjaan melebihi dirinya.


"Kalian kapan akan bangun dari tidur panjang ini, Van, Clara? Tidakkah kalian berdua bosan dan tidakkah kalian ingin melihat dunia kembali?Β  Sudah terlalu lama kalian begini. Tapi, jika kau tidak bosan, papa bosan pura-pura lumpuh sepanjang waktu dan tetap duduk di kursi roda begini. Papa akan menunjukan pada dua cucu papa kalau kaki ini sudah normal jika kalian sadar nanti.


Dan kamu Vano, tidakkah kau kasihan melihat Al keteteran mengurus tiga perusahaan sekaligus? Terlebih satu di antaranya ada di Jepang. Dan sudah hampir seminggu ini dia ada di sana. meskipun Queen juga membantu. Tapi, dia seorang dokter saat ini. Tenaganya banyak dibutuhkan di mana-mana cepatlah sadar bantu dia. Agar dia ada waktu untuk keluarganya."


Andrean berhenti bicara saat mendengar suara pintu ruangan terbuka. Seorang wanita dengan pakaian dokter masuk ke dalam menghampirinya dengan di dampingi dua orang suster magang.


"Queen, apakah kau sudah selesai, Nak?"


"Sudah, Kek. Tapi, aku ingin di sini dulu sebentar, apakah tidak apa-apa?"


Andrea hanya mengangguk pelan dan tersenyum lembut pada cucunya.


"Aku mau, mamaku dipakaikan masker setiap tiga hari sekali, dan itu... " Quen menoleh ke arah Vano yang sudah berewok. Ia berjalan perlahan. Dan berfikir sejenak.


'Ah, mamaku tipe orang yang cemburuan, dia tidak akan rela kalau ada yang menyentuhnya apalagi wajah papa.' lalu ia menoleh ke arah Clara yang terpejam dengan kulit wajah pucat. 'Di mana letak kebaktian ku sebagai anak kalau apa-apa aku suruh orang?' batinnya.


"Ok, kalian cukup bantu aku saja, biar aku yang lakukan sendiri," ucap Quen setelahnya.


Pertama ia membersihkan wajah mamanya dengan sangat perlahan dan hati-hati sekali. Lalu memasangkan masker wajah terbaik dari klinik kecantikan Tante Eren melalui Hanifah beberapa pekan lalu. Setelah masker terpasang sempurna, sambil menunggu kering, Quen memotong kumis dan janggut papanya perlahan. Sambil merapikan rambutnya juga.


Dari kejauhan Andrean mengamati cucunya sambil tersenyum penuh kebanggaan.


"Papa sudah ganteng sekarang. Lebih ganteng dari kak Al yang baru sepekan di Jepang sudah menua," ucap Queen sambil terkikik.


Sementara dua suster magang itu melihat kagum pada pasien yang mungkin sering ia tangani tapi, tak ia perhatikan seperti apa wajahnya, ia sangat ganteng sekali ternyata.


"Papa dan mamanya dokter Quen masih sangat muda, ya? Ganteng dan cantik sekali, pantas saja dokter Quen juga cantik, persis mamanya," puji salah satu dari mereka.


Dengan sangat telaten lembut dan perlahan Quen membersihkan masker di wajah Clara setelah semuanya selesai dan beras, Queen berpamitan dan mencium kedua pipi mereka lalu mengajak kakeknya untuk kembali.


Tiba di rumah, mereka mendapati rumah itu sangat sepi. Hanya ada Bilqis yang bermain tab di sofa ruang tamu menyambut kedatangan mereka.


"Kakak, Tante!" serunya sambil berhambur memeluk Andrean.


"Kamu main sendiri, sayang?Β  Di mana mama kamu?" tanya Andrean sambil mengusap rambut bocah itu.


"Mama ada di kamar, tidur katanya gak enak badan, kek."


"Jadi kamu main sendiri saja sejak tadi?"


Bocah itu hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Anak pinter," puji kakek Andrean.


Queen mendorong kursi roda kakeknya menuju ke dalam kamar.


"Kakek mau apa? Mandi, diambilkan sesuatu untuk di makan atau, apa?" tanya Quen penuh perhatian.


"Kakek rebahan saja, nanti bisa lah ma di sendiri, kamu istirahat sana, dulu, ajak Bilqis ke kamarmu, kalau kamu dah ga capek, coba lihat Nayla, apa mungkin dia kecapekan," ucap kakek Andrean dengan lembut pada cucunya.


"Baik, kek. Ya sudah Quen keluar dulu, ya?"


Wanita itu pun memasangkan selimut Andrean dan pergi keluar menghamprii Bilqis yang masih duduk di sofa ruang tamu.


"Liatin apa sih, seru banget?" sapa Queen sambil duduk di sebelah bocah itu.


"Liat film Barbie, Te. Lihat. Cantik ya? Yang ini persis Tante Queen," ucap Bilqis sambil tertawa memamerkan deretan giginya yang kecil-kecil dan rapi.


"Waaah, masa sih Tante kaya Barbie? Cantik banget dong ya?" ucap Quen sambil tertawa.


"ikut Tante ke kamar, yuk. Tante mau mandi, habis ini kita main bersama, gimana?" imbuh Quen lagi.


"Ok, aku mau main dokter-dokteran, karena Tante Ida jadi dokter beneran, di sini Tante jadi pasiennya," teriak bocah itu dengan girang.


"Ya sudah, ayo ikut Tante ke atas sekarang," ajak Queen lalu berjalan menuju tangga.


Tiba di kamar, Queen ingat pesan kakeknya untuk memeriksa iparnya. Jadi, ia urungkan dulu untuk mandi dan beristirahat. Dia mengambil tamp dan stetoskop serta alat mengukur tensi menuju menuju kamar Nayla.


"Bilqis, kamu di sini aja dulu sebentar, ya? Tante liat mama dulu."


"Mau mriksa mama? Ikut dong, Tante," rengek Bilqis.


Queen pun hanya tersenyum dan mengangguk, "Ya sudah, ayo!"


Dengan semangat gadis kecil itu pun melompat dari tempat tidur Queen dan berjalan di belakang tantenya.

__ADS_1


Perlahan Quen mengetuk pintu kamar, benar saja, Nayla nampak bersandar wajahnya terlihat pucat.


"Eh, kamu Quen? Sini masuk!"


"Kata Bilqis kak Nay gak enak badan? Coba aku periksa," ucap Quen menawarkan diri.


"Gak papa, gak usah repot-repot. Kaku ada Paracetamol tidak? Kakak minta itu saja?"


"Oh, ada, kak Nay kayaknya lagi banyak pikiran," ucap Quen sambil membuka kotak obat.


"Meriang aja kayaknya, Queen," jawab Nayla sambil sembunyi di balik selimut.


"Merindukan kasih sayang? Ok habis ini aku akan telfon kak Al," ucap Quen sambil tertawa dan memberikan satu lembar Paracetamol tablet pada Nayla.


"Eh, apaan sih. Jangan. Biarkan dia fokus Ama bisnisnya dulu. Kasian dia, nanti jadi kepikiran," jawab Nayla dengan panik. Ya sudah, kakak istii saja duku. Sudah makan belum tadi?".


"Udah, kok."


Queen pun keluar kamar Nayla sambil mengajak Bilqis. Ia pun mandi sebentar lalu bermain dengan Bilqis, memperkenalkan alat-alat dokter yang ia miliki di rumah dan cara penggunaannya. Bilqis begitu serius mendengarkan dan bahkan bocah itu tidak sungkan-sungkan bertanya tentang apa dan bagaimana, sepertinya dia juga sangat ingin menjadi dokter.


🍁🍁🍁


"Apa? Mereka bahkan sampai chek in ke hotel?" ucap Al dengan nada datar tapi penuh akan luapan emosi di dalamnya.


Al mengeratkan giginya sambil tangannya mengepal keras.


"Ya sudah, aku akan atur jadwal segera untuk kembali ke Indonesia," ucap Al lalu meletakan ponselnya.


Tak lama kemudian, ponselnya kembali berdering. Ia melihat gambar Quen yang muncul di layar, dengan antusias ia mengangkat panggilan suara itu.


"Halo, Sayang. Tumben menelfon kakak dulu, apakah kau kangen, hah?" Goda Al sambil tersenyum.


"Kau mau pulang kapan, Tuan? Tidak rindu kah kau dengan istrimu? Dia sakit tuh, meriang... Merindukan kasih sayang, hahaha." Terdengar Quen tertawa renyah dari balik telfon itu.


Al menyeringai, dan mengumpat dapak hati, "oh, kepikiran, ya? Masih ada rasa bersalah kah setelah menghianatiku? Ok. Ada baiknya juga langsung pulang dengan alasan Quen yang memintanya untuk dia, kan kulihat seperti apa reaksinya.'


"Memang sakit apa dia, sayang?" tanya Al dengan santai.


"Katanya sih cuma sedikit demam dan gak enak badan, hanya saja lihat raut wajahnya seperti banyak yang ia pikirkan dan sedikit tertekan. Kangen kakak kali, sejak saat itu kakak banyakan bekerja dari pada waktu dengan keluarga."


"Ya sudah, kakak akan atur mengatur penerbangan ke Indonesia saat ini juga. Kamu siap-siap nanti malam jemput kakak di bandara, ya?" ucap Al meyakinkan.


"Eh, beneran ya? Ok jam berapa biar aku sendiri yang menjemput emang nanti jam berapa kak, ini sudah jam tiga sore?" jawab Queen.


"Kira-kira jam duabelas nanti, gimana?"


"Baiklah."


Al pun mematikan panggilannya lalu, ia segera meminta Nouky mengurusi semua berkas-berkas perusahaan dan mengirimkan padanya melalui email. Harusnya tanpa dia kemari pun bisa. Tapi, karena kemarin banyak clien, terpaksa pula terbang.


Sekitar pukul empat, privat jetnya sudah siap. Karena tidak ada acara yang bersangkutan dengan bisnis, Al pun pergi hanya dengan mengenakan kaus hitam polos.


🍁🍁🍁🍁


Waktu sudah menunjuka pul duabelasΒ  lewat lima belas menit. Tapi, Al belum juga menghubungi. Chat pun juga centak satu.


Sudah setengah jam dia menunggu tapi dan harinya Al jam duabelas tepat sudah menelfonnya. Bagaimana tidak? Wanita itu mulai panik, takut hal buruk terjadi pada kakak semata wayangnya.


Ia berjalan mondar-mandit untuk menghilangkan kepanikannya tapi, beberapa saat kemudian ia melihat sosok pria berjakan mendekatinya.


Ia pun tersenyum dan berlari menghampiri pria itu.


"Kau kenapa tidak menghubungiku?" ucap Queen saat sudah ada di dekat kakaknya.


Al hanya tersenyum memandangi Queen dengan wajah lelahnya.


"Kakak telat limabelas menit, maaf ya," ucapnya sambil meraih pinggang adiknya dan mengecup pipinya.


"Ih, geli... Ngapain sih, pake manjangin kumis gitu?" Protes Queen sambil menggosok pipinya.


"Memang kenapa? Biar sama kaya papa, lah," jawab Al sambil terkekeh sambil keduanya berjalan menuju ke parkiran.


"Apa? Papa? Justru papa terlihat lebi muda dari kakak."


"Bagaimana bisa?"


"Aku yang memotongnya tadi sore," jawab Quen sambil membuka pintu mobil.


"Kamu yang nyetir?"


"Iya, kakak kan capek istirahat saja yang baik. Kak Nayla menunggumu di rumah," ucap Quen sambil tertawa kecil.


Tiba di rumah Quen segera masuk kamar dan menguncinya dari dalam, ia memberi kesempatan agar bisa sedikit lebih lama dengan Nayla. Sebab, jam berapapun besok, kakaknya pasti akan tetap pergi ke kantor. Dia paling hafal dengan sifat dan kepribadian kakaknya. Gila dalam bekerja.


Dengan ekspresi lelah dan wajah yang sangat malas Al terpaksa masuk ke dalam kamarnya, karena ia melihat Quen juga sepertinya kecapean dan butuh istirahat.


Di dalam kamar ia melihat Nayla tidur sendiri dengan. Al meletakan ranselnya dan menyeringai, dilihat dari pakaiannya, sepertinya ia tidak tahu kalau Al akan datang. Sebab jika tahu, ia akan memakai pakaian yang tertutup agar bekas cupangan di dada dan lehernya tidak terlihat.


Al merasa sudah muak dan bosan. Tapi, masih ingin bermain-main dengan Nayla. Ia pun menyalakan lampu kamar sehingga Nayla terbangun karena silau.


"Mas, Al?" Wanita itu terkejut, dengan cepat ia menarik selimut hingga menutupi lehernya.


Dengan santai Al duduk di tepi tempat tidur sambil matanya menatap ke wajah Nayla dan keseluruh tubuh yang terbungkus selimut.


"Iya, aku khawatir sama kamu, Quen tadi menelfonku bilang kalau kamu sakit. Jadi, aku tinggalkan urusanku di Jepang dan segera kemari," ucap Al dengan pelan dan lembut.


Mendengar jawaban itu, Nayla makin gelagapan. Menyesal, merasa bersalah dan takut ketahuan berkecamuk jadi satu.


Al tersenyum, lebih ke menyeringai yang terbungkus ketulusan palsu. Saat melihat ekspresi Nayla seperti itu.


" Ya sudah, aku mandi dulu, ya? Setelah itu kita istirahat, aku juga capek."

__ADS_1


Al pun pergi meninggalkan Nayla ke toilet.


__ADS_2