Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
part 38


__ADS_3

Vano mengelus belakang kepala Clara penuh kasih sayang.



"Kamu kemana saja selama ini? Aku hampir gila merindukanmu."



"Aku ada di rumah Lusi, dan seminggu yang lalu papa menjemputku, diajak kemari."



"Kenapa kamu tidak menghubungiku?"



"Sama kak Hans tidak boleh, sebab itu akan menghambat penyelidikan kita tentang Raisha."



"Aku kangen sama kamu, memang benar kamar ini ada CCTV nya?"



"Tidak tahu, bukannya kau lebih mengenal baik sepupuku yang satu itu?"



Aku tidak peduli biar ada CCTV di sini, kamu kan istri aku.



Ucap Vano sambil menggendong Clara kembali.



**************



"Clara, Vano. Ini rumah buat kalian, terserah kalaian mau tinggal di sini atau bersama kami di rumah yang lama, ini sengaja papa beli untuk calon cucu pertama papa," ucap Andream saat acara makan malam.berlangsung.



"Vano terserah Clara pa, mau di mana. Tapi di sini juga bagus, jauh dari keramaian dan udaranya masih segar, iya kan sayang?" ucap Vano melempar pembicaraan kepada Clara.



"Pa gak perlu berlebihan, kita bisa tinggal di apartemen kok. Iya kan, Sayang?" jawab Clara.



"Apartemen tidak ada halamannya, apa cucuku hanya akan melihat kota tanpa hijaunya alam?" Protes Andrean.



"Baiklah, mulai sekarang aku dan Clara akan menempati rumah ini." potong Vano.



*********


Di sebuah trotoar depan pusat perbelanjaan. Terlihat seorang pria dewasa berusia sekitar 50 tahunan berjalan dengan dengan elegan bersama dua orang body guard di belakangnya.



Dari arah berlawanam seorang wanita muda yang tengah hamil berlari tanpa melihat kondisi sekitarnya, tanpa sengaja menabrak pria itu.



"Maaf, Pak, maaf saya tidak sengaja," ucap gadis itu sambil menghentikan langkahnya.



Pria itu mengamati wanita di hadapannya beberapa detik lalu berkata, "Lama tidak menginjakan kaki di negara sendiri sudah dipertemukan saja dengan wanita sopan sepertimu. Baiklah tidak apa-apa, lain kali hati-hati jaga kandunganmu." Pria itu pun melangkah meninggalkan Clara.



Cukup lama Clara mengamati orang yang ditabraknya, wajahnya familiar mengingatkan dia pada seseorang yang sangat dekat dengannya, tapi siapa?



Clara memutarkan badannya kembali berjalan menuju caffe Reza, karena teman-temannya pasti sudah lama menunggu.



********



"Amanda, aku pulang. Apakah kau

__ADS_1


Masih mengingatku?"



Tiga orang pria muncul di hadapan Amanda, seorang di antaranya adalah sosok yang mungkin sangat Amanda rindukan dulu, tapi dulu sekitar 23 tahun silam.



Amanda langsung bangkit dari duduknya, tercengan hampur tidak percaya dengan pandanganny sendiri.



"Sayang, dia siapa?" tanya Wisnu suami Amanda, bingung.



"Mas Andreas, bagaimana mungkin? Kemana saja kamu selama 23 tahun ini, Mas?" Amanda masih tidak percaya ia menitikan Air matanya, kakinya terasa lemas dan ia pun roboh.



Pria yang disebut Andreas oleh Amanda tadi melangkah mendekati wanita di depannya.



"Dia suamimu? Aku tidak akan marah, memang aku juga salah selama ini menghilang tanpa kabar. Tapi selama itu aku berjuang keras untuk bisa pulih dan kembali, ke mana Vano?" ucap lelaki itu tenang dan penuh wibawa.



"Vano, dia sudah lama tidak ikut denganku, dia pun juga sudah menikah." Amanda masih tertunduk tidak berani menatap pria di hadapannya.



"Lalu dengan siapa dia tinggal sebelumnya?"



"Dengan Andrean."



"Dia lebih memilih tinggal bersama omnya dari pada mamanya,kenapa?"



***********



Sementara sang adik mengelola perusahaan keluarga.



Di usia 22 tahun Andreas menikahi kekasihnya Amanda, keduanya bahagia sampai pada akhirnya mereka dikaruniai seorang putra yang tampan, yaitu Vano.



Tapi kejadian naas menimpa Andreas, pesawat yang ia pegang mengalami kecelakaan di Jepang. Banyak korban jiwa hanya 1 orang yang selamat dalam inseden itu. Sementara jasad Andreas tidak di temukan.



Saay itu Vano berusia dua tahun. Cukup lama Amanda menunggu kabar tentang suaminya sampai bertahun-tahun tidak ditemukan, maka Andreas dinyatakan hilang dan di anggap mati oleh istrindan seluruh kerabatnya.



Empat tahun kemudian saat Vano duduk di bangku TK besar ia terus menanyakn ayahnya kepada Amanda. Ia merasa sedih saat diejek tidak memiliki ayah.



Melihat hal itu Andrean, adik Andreas merasa iba kepada keponakan semata wayangnya. Lalu ia melamar amanda dengan tujuan menjadi ayah pengganti bagi Vano.



Maka yang Vano tahu Andrean lah papanya. Saampai di usianya yang ke 21 tahun ia memergoki Amanda sekingkuh dengan Wisnu dan melaporkan kepada sang ayah.



Sejak itu jarak Amanda dan Vano sangat jauh. Namun tidak di sangak setelah Vano sudah dewasa dan hampir memiliki anak Andreas kembali mucul membawa kejutan besar bagi Andrean dan jug Amanda.



"Jadi Vano itu sebenarnya keponakan kamu, Mas?" tanya Vivian meyakinkan, ia juga syock dengan apa yang baru saja ia ketahui.



Selama bertahun-tahun Andrean tidak pernah mengungkab tentang kebenaran Vano. Dia dengan bangga mengatakan kalau Vano adalah putranya.



Dengan sengaja pula ia tidak ingin memiliki anak, karena takut kasih sayangnya berkurang terhadap Vano.


__ADS_1


Dan kembalinya sang kakak, telah membawa keharuan juga luka mendalam bagi Andrean, ia takut Vano membencinya karena telah menyembunyikan rahasia sebesar ini.



Cukup lama mereka berlima terdiam dalam dilema.



Tiba-tiba saja pintu ruang tamu terbuka lebar seorang wanita muda berdiri di ambang pintu mengenakan dress putih dan tas kecil di pundak kanannya.



"Maaf tidak ucapin salam, Clara tidak tahu kalau ada tamu."



Semua mata kini tertuju pada Clara namun semuanya masih bungkam. Hanya Vivian dan Amanda yang mampu berucap meski hanya mempersilahkan Clara masuk.



Clara terdiam sesaat mengingt kembali wajah Andreas, dia barunsadar kalau dia pria yang ditabraknya tadi sore di jalan. Lalu, kenapa malam ini dia ada di sini?



'Orang ini siapa, ya? Kenpa bisa ada di sini? Kalau di lihat-lihat wajahnya sangat mirip dengan Vano. Tapi siapa? Selama ini papa tidak pernah cerita kalau dia punya kakak ataupun sepupu laki-laki,' batin Clara.



"Dia menantumu, Mas," ucap Amanda, lirih hampir tidak bisa di dengar oleh Clara.



"Nona muda, apakah kau masih mengingatku?" sapa Andreas ramah kepada Clara.



Clara berjalan perlahan lalu tersenyum kepada Andreas.



"Anda, tadi yang tidak sengaja ketemh di depan pusat perbelanjaan itu, ya? Bagaimana Om bisa kemari?"



"Tentu saja, aku ini kakak kandung papa kamu."



"Oh, iyakah?" Mata Clara nampak berbinar, dipandanginya Andreas dan Andrean bergantian. "papa kok gak pernah cerita?" ucapnya lagi.



"Iya, ceritanya panjang sayang. Nanti papa akan cerita sama kamu," jawab Andrean.



"Clara, selama Vano di bandung, kamu di sini saja, ya? Dan sekarang kamu istirahat saja dulu," potong Vivian. Dan memeberi isyarat mata agar putrinya naik ke lantai atas.



"Om, Mama, pa Clara ke kamar dulu, ya," ucap Clara kepada semua yang ada di bawah.



"Cantik ya menantuku, dan Vano pasti tampan dan gagah," ucap Andreas sambil mengelus-elus dagunya.



"Clara itu anak dari Vivian, Kak. Dua tahun an setelah kami menikah mereka pacaran dan minta dinikahin," jawab Andrean menjelaskan.



"Ya, dan cepat atau lambat, Vano harus tahu kebenaran ini, kan Mas?" ucap Vivian.



Di balas anggukan oleh Andrean.



Clara berdiam diri sesaat di dalam kamarnya. Ia berfikir keras tentang Andreas.



'Kalau dilihat-lihat Vano dominan mirip omnya dari pada papanya. Tapi kenapa papa gak pernah cerita, ya? Vano juga selama ini tidak pernah membahasnya kalau dia punya Om.'



Cukup lama Clara memikirkan hal itu, sampai pada akhirnya diawrasa bosan berada di dalam kamar dan berniat untuk mengambil sesuatu yang bisa di makan untuk menghilangkan borringnya.


__ADS_1



__ADS_2