Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION 2 PART 158


__ADS_3

Hari ini Al tidak ikut sarapan bersama. Hanya Nayla dan Bilqis Saja.


Bahkan kakek pun sepertinya juga tidak tahu kalau cucunya sudah kembali semalam. Artinya, tidak ada yang tahu kalau mereka tengah bertengakar.


"Kakek, hari ini di rumah saja, ya? Nanti sekitar jam sepuluh Diaz akan kemari, dan dalam waktu dua Minggu ini dia akan pindah tugas di Jakarta pula," ucap Quen sambil mengambilkan sarapan kakeknya.


"Oh, ya? Ini aneh sekali, bukannya dia sangat ingin mengapdi di kampung halaman atau, luar daerah di tempat-tempat terpencil? Kamu tidak tanya kenapa Quen?"


"Tidak kek, dia di sini bagus dong, ada yang nemanin kakek," jawab Quen sambil tertawa.


"Ya kamu harusnya tanya, lah kenpa? Atau jangan-jangan dia sambil sekolah spesialis?"


Queen diam sesaat nampak berfikir. Itu bisa aja terjadi sih. Tapi, selama dia dekat dengan Diaz, dia tidak tahu betul pria itu ingin jadi dokter spesialis apa? Yang dia tahu hanyalah dia tak pernah menyangka kalau impiannya menjadi dokter dapat terwujud melalui hapalan Al-Qur'an nya.


Atau, mungkin saja dengan sebagaian gaji yang ia dapatkan ini bisa lah untuk biaya pendidikan mengambil spesialis, siapa yang tahu juga, kan?


"Besok aku akan ngobrol sama dia dan tanya langsung saja, kek," ucap Quen.


"Ya, ajak juga dia kemari, kakek kangen sama dia."


"Baik, Kek. Pasti Quen ajak dia ke mari," jawab Quen dengan lembut dan sabar.


Seketika itu, Quen menatap ke arah Nayla yang sedari tadi diam saja. Begitupun Bilqis. Bocah itu biasanya ada saja yang diobrolkan. Tapi, aneh kenapa hari ini juga banyak diam?


"Kak, aku habis ini ada acara sama Gea dirumahnya. Sekalian bareng aku aja, ya?" tawar Quen, seolah tadi pagi tidak ada apa-apa.


Nayla tidak langsung menjawab. Ia melihat ke arah kakek mertuanya. Sebenarnya wanita itu ingin menolak ajakan Quen. Tapi, ia merasa sungkan dan tak enak hati dengan kakek mertuanya. Dengan nada berat dan terpaksa, Nayla pun menjawab, "Baiklah. Apa tidak mengulur waktumu?"


"Tidak, kita satu arah kok, Kak. Jadi tidak masalah."


🍁🍁🍁


Alex mengamati cuaca dari balik jendela,ia merasa kalau hari ini cukup cerah. Mungkin hujan tidak akan turun, kalau pun turun hujan pasti juga malam.


Ia teringat dengan alhli psykologi yang pernah ia temui beberapa hari lalu. Jadi, karena hari ini dia tidak ada acara, ia memanfaatkan waktunya untuk mengawasi gerak-gerik Aditya. Meskipun dia mengawatirkan Quen, tapi pusat masalah wanita itu ada pada pria psikopath itu. Jika ia mengetahui semua rencananya lebih awal dan mampu mencegahnya, maka Queen juga aman-aman saja.


Alex berjalan menuju ke arah nakas di ambilnya smartphone berwarna birunya itu lalu menelfon salah satu nomor yang ada dalam daftar kontraknya.


"Halo, Lex. Ada apa?" Jawab Suara itu dengan pelan, bahkan nyaris seperti orang berbisik.


"Kakak, masih ada di sana? Tunggu saja dulu sampai semua siap. Paspor kakak sudah ada di tanganku, dan pasport Axel, mungkin tiga hari lagi sudah dapat di ambil bersamaan dengan surat pindah dari sekolahnya."


"Benarkah, Lex? Ya ampuuun... Lex..makasih banget, ya? Kakak bersukur banget punya adik sepertimu," jawab Novita terharu bahkan sampai menitikan air mata.


"Ok. Itu tidak penting. Hanya sekedar informasi saja. Apakah Aditya masih di rumah?" tanya Alex, memastikan meskipun ia harusnya sudah tahu kalau pria itu masih ada di rumah dari cara kakaknya berbicara.


"Iya, Lex. Dia masih sarapan sama Axel. Setelah ini dia akan pergi ke kampus dan aku bersama mertuaku yang akan mengantarkan Axel.


"Ok, ya sudah, Kak. Aku kawatir dia merencanakan sesuatu dengan orang yang tak terduga untuk mencelakai Quen m hari ini aku sebenarnya free tapi, lebih baik aku awasi saja dia."

__ADS_1


"Iya, hati-hati, ya. Kejarlah cintamu lagi. Semoga kalian masih berjodoh dan dapat bersama lagi," jawab Novita.


"Siapa yang kau doakan berjodoh itu, Sayang?" ucap Aditya tiba-tiba sambil memeluk istrinya dari belakang.


Hal itu sebenarnya cukup membuat Novita terkejut. Tapi, ia berusaha untuk tenang. Agar pria itu tidak lagi curiga.


"Alex, Dit. Dia merasa kehilangan sejak Quen menceraikannya. Jadi, dia berusaha untuk kembali bersama lagi."


"Apakah Queen sama Diaz selama ini tidak serius?"


"Aku tidak tahu. Selama lebih dari enam bulan dia yang menemani Queen dalam suka duka, hingga saat Queen merasa lelah dan ingin bercerai, dia mendukung dan bersedia menjadi pengganti Alex."


"Ok, ya sudah, aku ke kampus dulu sayang jaga diri baik-baik." Aditya memeluk Novita dan memberinya sebuah kecupan di kening lalu ia pun pergi.


Setelah punggung suaminya tak lagi nampak dari pandangannya, Novita mengusap kening bekas kecupan Adit. Ia merasa kian jijik dengan pria itu setelah mengamati bagaimana kesehariannya di rumah jika tak ada seorangpun. Dia benar-benar gila dan begitu teropsesi dengan Quen.


***


Pernah suatu malam Novita terjaga dari tidurnya, namun, dia tidak mendapati Aditya di sampingnya. Awalnya dia mengira kalau Aditya mengerjakan pekerjaan di ruang kerjanya tapi, tidak ada, ia berusaha mencari ke dapur dan kamar mandi, hasilnya nihil.


Beberapa saat kemudian instingnya mengarah ke sebuah kamar kosong yang ada di rumah mereka yang biasa digunakan untuk menyimpan barang dan dokumen penting.


Baru beberapa meter dari pintu kamar tersebut, kira-kira dua meteran, indramya menangkap suara aneh dari dalam kamar karena penasaran, Novita berusaha menempelkan telinganya pada pintu.


Dari dalam ia mendengar suara suaminya mengerang, entah, erangan apa itu, semacam erangan orang sakit dan juga kenikmatan.


"Adit? Apa yang dia lakukan di dalam sana?" gumam Novita seorang diri. Belum juga ia melihat untuk memastikan apa yang terjadi di dalam, jantungnya sudah berdegup kencang. Badannya terasa lemas seolah tulang-tulangnya telah diloloskan dari dalam tubuhnya.


Novita tak dapat berkata apa-apa, ia menutup mulutnya dengan kedua tangan dan mata yang terbelalak melihat pemandangan di dalam kamar itu.


Aditya bermain dengan boneka sex dengan wajah seperti Queen, sambil mencekek leher boneka itu, tidak hanya itu, dia berbicara meracau seolah-olah yang dibawahnya itu adalah Quen yang asli.


"Kau lihat, betapa hebatnya aku, Quen? Lihat dirimu, bahkan kau tak bisa apa-apa. Kau sedikitpun tidak bisa melawanku. Akulah yang paling hebat, hahahaha."


Pria itu tertawa dengan puas, sambil melukai dirinya, menyayat lengan si boneka dan lengannya sendiri dan menyebarkan darah dari lengannya ke wajah, lengan perut dan paha boneka. Setelah puas dari permainannya, Aditya pun menyudahi seraya berkata, "heh, ini masih boneka, kelak suatu saat dirimu yang asli juga akan mendapat perlakuan seperti itu. Tak peduli kau jelek atau cacat, asal itu kamu, sekalipun sudah berbentuk mayat aku akan tetap mencintaimu. Jika aku tidak bisa memiliki dirimu, maka tidak ada seorangpun yang dapat memiliki mu, Quen."


Novita berjalan mundur perlahan dan kembali ke kamarnya, dengan tubuh bergetar dan mengginggil saking shock nya.


Ia sadar mengapa nalurinya tiba-tiba saja ingin pulang bersama Aditya, ternyata Tuhan sudah berencana menunjukan diri asli Aditya. Sejak saat itu, Novita menjadi jijik dengan suaminya sendiri sendiri. Keinginannya untuk bercerai dan pergi juga sudah bulat. Ia juga menceritakan pada Alex dan kedua orangtuanya agar membantu mengurus paspor dan kepindahan Axel secara diam-diam.


****


"Kau sudah siap, Nov? Nov? Novita!" seru Livia beberapa kali.


Tapi, menantunya masih juga tidak menyahut, masih terus melamun.


Karena Novita masih bergeming di tempatnya, Livia pun melangkah lebih dekat dan menyentuh pundaknya. "Nov," sapanya.


"Eh, iya Ma. Ada apa?" ucapnya setengah terkejut.

__ADS_1


"Kau kenapa melamun?" Livia menatap lembut ke arah menantunya.


"Maafin Novi, Ma. Kita antar Axel sekarang?" tanyanya berusaha kembali ke alam sadarnya.


"Apa lagi yang kau pikirkan? Maafkan mama ya, Nov. Mama mungkin terlalu memanjakan Aditya selama ini... "


"Ma, sudah. Ini bukan salah Mama. Dan bukan sepenuhnya salah Aditya, tapi aku penyebab utamanya. Andai saja dulu aku tidak pergi meninggalkan d ia dan Axel, pasti hal ini tidak akan terjadi."


"Biar yang lalu berlalu, semua orang pernah berbuat salah. Apakah sudah ada kabar dari adikmu, Nov?"


"Katanya semua akan beres selama tiga hari lagi, Mama jaga diri baik-baik, ya?" ucap Novita sambil menangi dan memeluk mertuanya yang mulai menyayangi menantunya itu.


"Sudah jangan nangis lagi, Axel juga sudah bisa menerima ini. kau baik-baik di sana, ya? setelah ini mama dan papa akan tinggal di Bandung saja agar kita lebih leluasa berkomunikasi, meskipun hanya lewat telfon saja, semangat ya sayang," ucap Livia sambil membalas pelukan Novita dan berusaha menenangkannya.


"Iya, Mah. terimakasih. mari, Ma kita antar Axel bersama!" ajak Novita pada mama mertuanya.


🍁🍁🍁🍁


Aditya membelokan mobilnya begitu melihat keberadaan Quen sudah ada di luar rumah. sepertinya ia tengah menuju ke sebuah cafe tempat ia biasa nongkrong dulu.


Dengan rasa penuh tak sabar, Aditya pun memajukan kendaraanya. dan benar saja, ia melihat sebuah mobil brio merah milik wanita itu. ia yakin karena hafal dengan nopolnya.


begitu ia mulai memasuki cafe, diedarkannya seluruh pandangan ke segala sudut ruang. tidak jauh dari tempatnya ia melihat seorang wanita mengenakan kaus putih dan switer rajut merah tengah duduk sambil menelfon sesorang.


Melihat dari ekspresi bicaranya, sepertinya ia tengah menunggu seseorang. tanpa ragu-ragu, Aditya pun menghampiri sambil menyapanya.


"Hay, sepertinya tengah menunggu seseorang? Boleh aku duduk di sini dulu?" tanyanya. bahkan tanpa ragu-ragu pria itu duduk di depan Quen sebelum dia mengiyakannya.


"Sepagi ini kau sudah ada di sini saja, Pak?" ucap Quen dengan senyum yang dipaksakan.


"Ya, tiba-tiba pengen ngopi dan cari suasana yang beda, eh, taunya kau ada di sini," jawab laki-laki itu, terlihat Bey natural seolah-olah ia benar-benar memang tidak sengaja bertemu dengan wanita itu. jadi, Quen tidak dapat membedakan dia benar atau hanya menutupi kebohongnnaya saja.


sedangkan Alex yang ada di luar, cafe segera mengecek ke dalam, dengan harapan ia menemukan sesuatu yang memuaskan. tapi, siapa sangka kalau di dalam ia bahkan melihat Aditya dan Quen tengah mengobrol bersama.


Alex mengepalkan tangannya dengan perasaan yang tak keruan. ia pun tanpa ragu turut menghampiri mereka berdua dan tanpa basa-basi duduk tepat di sebelah Quen. bahkan memperlakukan wanit itu seolah masih pasangannya.


"Hay tuan Putri, sudah lama di sini? oh, kopi susu di pagi hari, menyenangkan sekali," ucap Alex sambil menyeruput secangkir kopi bekas Quen barusan.


Quen terlalu terkejut dengan apa yang terjadi. memang ada apa, sih ini? kenapa mereka tiba-tiba ada di cafe ini dan sama-sama duduk dalam satu meja bersmaku? gumam Quen dalam hati.


belum sempat ia menanyai dua pria di depan dan sampingnya itu, seorang wanita memanggil namanya. "Queen!"


Mulanya Quen senang sebab, ia hafal itu suara teriakan Gea. tapi, siapa sangka bahwa gadis itu seolah juga memberinya kejutan yang membuat ia malah kian entah apa. Queen menepuk jidatnya sendiri, bagaimana bisa sekebutulan ini?


"kenapa dia laki-laki itu bisa bersama Quen?" tanya Diaz pada Gea dengan emosi tertahan.


"Mana kutahu, Diaz. harinya Quen itu kesini sendirian. terus kalau ada mereka, ya gak tahu. anggap aja kau dapat ujian dadakan dari Tuhan. cepat hampiri dia dan rujukan kegentle anmu!" seru Gea lirih tapi penuh dorongan.


Diaz pun berjalan di ke arah meja Quen dan duduk di sebelah Quen, lebih tepatnya berhadapan dengan Alex.

__ADS_1


"Maaf sayang sudah membuatmy menunggu lama, bagaimana mereka bisa ada di sini?" tanya Diaz dengan lagak sok tenang meskipun sebenarnya hatinya terasa panas karena api cemburu.


__ADS_2