
Sejak sore tadi sampai pukul 22.00.WIB Clara masih daja belum sadarkan diri.
Di tepi ranjang Vano duduk terus menemani tanpa melepas genggaman tangannya dan sesekali diciuminya tangan Clara.
"Cepet sadar, Ra. Jangan bikin aku dan yang lain khawatir," gumam Vano seorang diri.
Tiba-tiba terdengar suara pintu di buka, masuk seorang wanita dan pria paruh baya dengan pakaian formal bersama dokter Lusi. Mereka berjalan setengah terkesa dengan raut wajah penuh kekhawatiran.
"Bagaimana keadaan Clara, Van?" ucap wanita itu lalu mendekat dan mengusap lembut kening Clara.
"Dia mungkin masih shock, Ma. Belum sadarkan diri."
Vano tetap tertunduk tanpa ekspresi. Sememtara ketiga sahabat Clara sudah 30 menit yang lalu pulang.
"Van, lebih baik kamu makan dulu, kan uda ada papa dan mama kalian yang jagain Clara," ucap Lusi tiba-tiba yang sedari tadi terus memperhatikan Vano.
"Aku akan makan setelah istriku sadar, Lus."
"Kata dokter Lusi itu benar, Van. Kalau kamu juga sakit apa Clara tidak sedih saat sadar nanti?" ucap Andrean sambil menepuk pundak putranya.
"Iya, Van. Biar papa dan mama yang jaga dia dulu," tambah Vivian.
Vano tidak mau berdebat dengan mereka, tanpa sepatah kata ia meninggalkan kamar Clara.
Di tepi jalan raya depan rumah sakit Clara di rawat dia bersandar di bawah pohon. Mengambil sebatang rokok dan menyalakannya.
Dihisapnya asap rokok dalam-dalam, belum habis separuh ia melemparnya dan menyalakan lagi rokok yang baru.
Hal itu terulang hingga 3x dan ia memutuskan kembali ke kamar Clara.
"Pa, Ma. Kalian pulang saja istirahat, besok kesini lagi, biar Vano yang di sini nemanin Clara," ucap pria itu saat muncul di depan pintu.
Andrean dan Vivian pun akhirnya pulang. Kini tinggal Vano seorang diri yang menemani Clara.
Entah sudah brapa lama, iapun juga tertidur dengan kepala dijatuhkan pada ranjang Clara tanpa melepas genggaman tangannya.
"Van!"
Vano terperanjat kaget mendengar Clara memanggilnya, "Kamu uda sadar, sayang?"
Clara mengangguk pelan, namun tatapannya kosong, dia matanya mulai berkaca-kaca. Dengan suara lirih dia berkata kepada Vano, "Maafkan aku, maafkan aku, Van."
"Maaf untuk apa, sayang? Kamu tidak salah, Reza sudah menceritakan semuanya padaku," ucap Vano sambil memeluk Clara.
Hati Clara semakin teriris, dia merasa hina di depan suaminya manakala mengingat Farel memeluknya di hadapan semua orang termasuk juga Vano.
"Aku merasa ga layak, Van atas apa yang terjadi. Dan aku membiarkan diriku di sentuh orang." Clara mulai terisak dalam pelukan Vano.
"Aku akan selamanya sayang sama kamu, Ra. Dengan melesetnya peluru itu saja aku sudah sangat bersyukurz andai pluru itu benar-benar mengenai dirimu... Entah apa yang akan terjadi padaku," ucap Vano sambil memeluk Clara.
Clara melepaskan pelukannya dan menatap dalam pada Vano.
"Peluru itu tidak meleset, Van."
"Jadi, dia itu sengaja?"
"Memang awalnya dia ingin membunuhmu, tapi diurungkannya karena dengan begitu tidak akan membuatku kembali padanya, lalu dia berfikir jika aku mati, itu akan adil baginya. Karena aku tidak akan dimiliki pria mana pun."
"Dan dia akhirnya memilih pilihan ketiga bunuh diri di depanmu?"
"Iya, Van," ucap Clara, kembali matanya berlinang.
Bagaimanapun, Farel adalah bagian di masa lalunya. Memang dia pernah membenci. Tapi melihat apa yang dilakukannya kemarin sama kata terakhir yang ia dengar membuat hati Clara juga sakit.
"Percayalah aku selamanya akan mencintaimu, dengan begini aku pastikan kaulah wanita terakhir yang kulihat dan yang ada di hatiku, Ra."
Ucapan itu terus terngiang bersamaan robohnya Farel di hadapannya kemarin.
Sejak kejadian itu Clara masih banyak diam dan murung, meski kedua sahabatnya bahkan Erwin pun yang datang, tetap tidak merubah keadaan.
"Kalian sabar saja dulu, terutama kamu, Van. Clara itu masih shock dengan apa yang dilihatnya kemarin. Tapi, melihat dirinya yang begitu dia termasuk kuat, tidak jarang yang depresi setelahnya melihat hal sengeri itu," ucap Lusi menjelaskan kepada Vano dan 4 temannya.
*********
Tiga hari Clara dirawat di rumah sakit, Clara sudah di izinkan pulang.
Ia berharap mulai sekarang dan kedepannya ia busa tenang tanpa didatangi polisi dan juga wartawan mengenai kasus Farel.
Ia sudah mengklarifikasi kalau Farel sengaja bunuh diri bukan salah sasaran. Karena dari awal memang tidak ada maksut untuk mencelakainya.
"Clara! Ayo makan dulu, Mama suapin, ya," kAta Vivian sambil membawa nampan ke kamar Clara.
"Mama, kenapa harus repot-repot bawa kesini? Clara, kan bisa turun," Ucap Clara sembari tersenyum.
"Kamu cepat sembuh, ya, jangan sakit terus," ucap Vivian mulai menyuapi putrinya.
"Jangan terlalu kawatir gitu deh, Ma. Clara gak papa, kok."
"Vin, kamu siap-siap kita malam ini ke Bandung," kata Andrean tiba-tiba muncul bersama dengan Vano.
"Ada apa, Mas?" tanya Vivian heran.
"Itu, Keponakan Bi Narti nikahan, kita antar dia pulang."
Vivian mengangguk paham, dia segera bergegas dengan membawa piring bekas Clara makan.
__ADS_1
"Nikahan keponakannya Bi Narti, Ya?"
Tanya Clara.
"Iya, Clara kan masih belum sehat, jadi di rumah saja, biar Papa sama Mama saja yang pergi, besok sore juga dah balik. Van kamu temani Isteri kamu, Ya," ucap Andrean.
"Iya, Pah, tenang saja." Dengan nada meyakinkan, Vano pun melangkah mendekati Clara.
Semua pergi termasuk sopir pribadi mereka, hanya ada Vano dan Clara saja di rumah.
"Padahal aku uda ga sakit, tapi masih aja ga bole ikut." kesal Clara.
"Kamu gak mau di rumah cuma sama aku, ya?"
"Ya bukan gitu, Van.... "
"Lalu, apa?" Vano makin mendekatkan tubuhnya pada Clara.
"Van.... " Clara setengah terkejut dengan apa yang dilakukan Vano terhadapnya.
"Dirumah tidak ada, Orang, sayang." Vano tersenyum menggoda pada Clara.
Clara terdiam dak tersipu malu dengan apa yang diperbuat pria di bawahnya.
"Sayang, rupanya kau lupa kalau aku ini suamimu, ya?" ucap Vano tersenyum nakal lalu membalikan tubuh istrinya hingga ada di bawahnya.
"Kamu mau apa?"
"Masa kamu tidak tahu aku mau apa istriku?"
*********
"Uda gak perlu bawa banyak-banyak baju."
"Sampai berapa hari sih, Mas?"
"Kita cuma mau ajak bi Narti jalan-jalan saja, Vin. Biar anak-anak berbulan madu di rumah saja."
"Jadi ini cuma rencana kamu, Mas?" ucap Vivian sambil menatap Andrean dengan tatapan penuh selidik.
"Ya berdua sama Vano, lah."
Vivian menahan tawanya sambil menutup mulutnya.
"Yasudah ayo buruan."
"Iya, kalau kita di rumah, kawatir ga mulai-mulai, terus kapan kita mau dapat cucu kalau begitu?"
"Mereka nikah kan, udah 1 bulan mas,"
"Apa?" ucap Vivian, melotot tak percaya.
"Sudahlah, ayo buruan kita pergi!"
"Loh, ini kita mau kemana tuan?" tanya Bi Narti bingung.
"Kita jalan-jalan saja, Bibi mau kemana?"
"Kemana saja deh saya ngilut tuan saja."
***********
Pagi itu Clara terbangun satu jam lebih lambat, ia merasa seluruh badannya terasa sakit dan pegal.
Ia coba bergeser terasa ada yang perih di bagian tubuh bawahnya.
Dan lagi ia juga melihat bercak merah di kain spreinya yang kebetulan bewarna putih. Ia berusaha menutupinya sebelum Vano melihat.
"Kenapa harus ditutupi? Aku sudah tahu, kok," ucap Vano yang tiba-tiba saja muncul dari balik pintu.
Clara tidak menjawab wajahnya bersemu merah, ia tersipu malu memalingkan wajahnya.
"sarapam dulu, aku buatin kamu sup cream, nih. Enak lo, ayo aku suapain." Sambil membawa nampan berisi semangkuk sup cream dan segelas besar susu hangat Vano dudul di tepi ranjang.
"Kok kamu yang bangun lebih awal dan nyiapin sarapan, sih?"
"Tidak apa-apa, sepertinya istriku agak gak enak badan," goda Vano sambil menyuapi Clara.
"Aku udah kenyang, Van."
"Satu sendok lagi." Bujuk Vano sambil menyodorkan sesendok bubur di mulut Clara.
"Perutku rasanya uda gak kuat lagi, nih. Aku mau mandi dulu, deh."
"Perlu dianter atau dimandiin, mungkin?"
"Ah, tidak aku bisa sendiri," ucap Clara lalu cepat-cepat beranjak pergi.
Tapi baru saja ia melangkah langsung terhenti.
"Aduh!" ucapnya sambil meringis menahan sakit di area intimnya.
Vano menggelengkan kepalanya, bangkit lalu menggendong Clara menuju kamar mandi.
"Van, turunkan aku!"
__ADS_1
"Aku tau, kamu sakit, maaf ya, gara-gara aku semalam." Vano terus menggendong Clara dan mendudukan istrinya di atas westafel kamar mandi.
"Kenapa harus meminta maaf? Ini sudah kewajibanku sebagai istri."
Vano mencium ujung bibir Clara setelah mendudukannya di atas westasfel kamar mandi.
Kedu tangan Clara masih melilit di leher Vano, dia engan melepaskannya.
"Kamu mau mandi?"
"Iya."
"Mau dimandiin atau mandi sendiri?"
Clara tidak menjawab malah tersenyum genit yang membuat Vano menjadi gemas dan menerkamnya. Bahkan ia lupa kalau istrinya masih kesakitan sampai tak bisa berjalan.
---
"Kamu uda siap, sayang?" teriak Vano dari bawah.
"Iya, sebentar, ini ambil tas aja kok," ucap Clara lalu bergegas turun.
"kita berangkat sekarang?"
"Ayo!" jawab Vano sambil mengulurkan tangan menggandeng Clara.
Tiba di sebuah Danau Vano menghentikan Mobilnya, "Ayo, turun!"
"Waaah! Ini indah banget, Van," Kagum Clara.
Vano mengambil salah 1 bunga berwarna putih dari sekian banyak bunga lalu menyelipkan di telinga Clara,"Lihat, bunga ini serasi banget sama kamu."
Clara tersenyum tipis, menyandarkan kepalanya pada dada bidang Vano, disambut rangkulan hangat sang suami dan diciumnya ujung kepalanya.
Hari ini Clara merasa sangat bahagia dan istimewa.
"Kamu lihat sepasang angsa itu!" ucap Vano menunjuk ke arah danau.
"Bagus, ya. Van itu ada perahu, coba naik yuk!"
"Kamu ga takut tenggelam?"
"Kan, ada kamu!"
"Aku ga bisa Renang kalau di danau."
Clara mendengus kesal bibirnya manyun, mencubit kecil perut Vano.
"Aduuhhh! Kok dicubit sih? Awas ada buaya loh, kamu ga takut?" goda Vano lagi.
"Kenapa harus takut? Kan kamu buayanya," Clara langsung pergi berlari mendekati perahu yang ada di tepi danau.
Vano pun tak hanya diam, dia mengejar istrinya, dia raih pinggang Clara dari blakang, mereka sama-sama terjatuh di atas rerumputan yang hijau, di antara bunga-bunga penuh warna dengan posisi menindih Clara.
Kedua mata mereka saling bertemu, menatap jauh kedalam bola matanya.
Clara memejamkan matanya ketika Vano mendekatkan wajahnya lalu mencium lembut bibir Clara.
"Tidak jauh dari sini ada sebuah Vila, kita akan bermalam di sana," ucap Vano.
"Malam ini saja?"
"Tidak,"
"Lalu?"
"Terserah kamu, kamu mau berapa hari."
Dengan sigap Vano bangkit dan mengangkat tubuh Clara membawanya ke dalam mobil lalu meninggalkan danau.
"Ini adalah Vila tunggal yang ada di area ini, dan ini adalah milik kita, Sayang," ucap Vano di depan Vila kaca yang sangat megah dan mewah.
"Hah! Kamu membelinya?"
"Tidak, ini hadiah pernikahan kita dari Papa."
"Iya, kah? Kok aku tidak tahu?"
"Memberikannya sudah lama, sebelum Papa menikah dengan Mama, Papa bilang ini untukku dan istriku kelak."
Clara diam sesaat, dia perfikir kalau ini mungkin untuk Vano dan Dela, karena pada waktu itu Vano jelas masih berpacaran dengan Dela.
"Clara!"
"Iya," ucap Clara, tersadar dari lamunannya.
"Kamu tidak suka, ya?"
"Aku suka banget, kok, sayang," ucapnya sedikit canggung.
"Habis, kamu bengong saja,"
"Maaf,"
"Ayo kita masuk! Di ujung sana ada rumah kecil tempat penjaga kebun dan sekalian mereka selalu membersihan Vila ini dua hari sekali,"
__ADS_1
"Kamu pasti lelah, ayo istirahat!" ucap Vano sambil nengangkat tubuh ramping Clara. Yang membuat Clara menjerit karena kaget.