Jangan (Salahkan) Cinta

Jangan (Salahkan) Cinta
SESION 2 PART 129


__ADS_3

Fix terkejut mendengar perkataan Queen yang tak pernah ia duka sebelumnya. Dengan cepat pria itu menoleh dan memandang serius ke arah wajah gadis di sebelahnya itu.


"Queen. Jangan mudah mengatakan kata cerai, meskipun kali wanita, jangan, ya. Kamu pikir dulu semuanya ambil keputusan dalam kondisi hati dan kepala dingin agar tidak membawamu dalam penyesalan."


"Tapi aku Uda gak anggup, Diaz. Aku gak bisa begini terus. Aku tidak diharapkan lagi sama Alex," ucap Queen.


"Bukankah itu karena dia memang belum sadar? Jika saja dia sadar akan hal itu, tidak hanya kau yang menyesal, dia juga pasti tidak akan ada habisnya menyalahkan dirinya sendiri. Kau harus ingat apapun yang Alex lakukan bukan atas kesadarannya, Queen. Dia pria yang setia. Jika dia hanya ingat Helena, wajar dia berprilaku demikian, Queen. Allah memang tidak mengharamkan perceraian, tapi, Allah sangat membencinya."


Queen mendesah kesal lalu menyeruput jus buahnya sebelum memulai berbicara lagi.


"Diaz, kemarin sebenarnya aku ambil cuti tiga hari. Dan bahkan aku juga sudah urus izin tidak mengikuti praktek untuk dua hari sampai Alex bebar-benar pulih. Tapi, kau tahu apa yang Alex lakukan?" ucap Queen mulai kesal.


Pria berkulit kuning itu pun hanya memandang iba pada Queen, seolah ikut merasakan sakit batin yang diderita gadis itu. Bahkan mendapatkan pertanyaan dari Quen barusan, Diaz hanya menggelengkan kepalanya saja.


Setelah pulang dari rumah sakit aku masih sempat menyuapinya dan memberinya obat. Kurasa dia tidur aku pun turun ke bawah makan siang sambil mengerjakan tugas. Tidak merasakan nikmat yang penting perut terisi. Tugas yang harusnya kukerjakan selama dua hari di kantor aku kebut cuma dalam waktu dua setengah jam. Saat aku lelah dan ingin beristirahat di samping Alex Helen datang atas undangan pria itu. Dan selanjutnya apa yang terjadi kau tahu? Aku tak lagi di anggap, Lex. Terang-terangan mereka bercumbu di depanku bahkan penting di dapur. Ya, memang sebelumnya Alex bilang ingin segera menikahi Helena. Ya, walau dari awal ia sadar juga udah bilang gitu. Dan Helena secara pribadi juga meminta agar aku menerima menjadi maduku. Aku gak sanggup kalau harus begini Diaz, dari pada dimadu aku lebih baik cerai saja," ucap Queen sambil menangis terisak.


Diaz tahu betul bagaimana perasaan Queen. Bahkan pria itu juga sangat menyukai gadis itu.dalam kondisi hati hancur dan tak stabil, dia bisa saja dengan mudah membuat Queen menjadi janda dengan dalih tak ingin melihatnya ia sakit lagi dan ingin membahagiakan. Tapi, bukankah sahabat yang baik adalah dia yang tidak mengambil keuntungan untuk dirinya sendiri dalam sebuah situasi, kan?


Diaz menghela napas dalam-dalam. Lalu, memberanikan diri untuk menepuk pundak Queen dengan harapan semoga Queen tidak memeluknya lagi seperti yang sudah-sudah. Dia takut imannya yabg tipis malah kian terkikis.


"Maafkan aku, bukannya aku tidak mau mengerti dirimu. Justru aku sangat ngerti dan paham. Tiada satupun wanita yang mau diduakan aaplagi di madu. Tapi, kau tahu tidak dalam setiap masalah Allah akan menaikan derajat hanmbanya yang mampu bersabar melewati itu?"


Queen mengusap air matanya dengan kedua tangan. Lalu mendongak memperhatikan Diaz.


"Kau tahu kisah Siti Aisyah putri kesayangan rosul? Dia juga di madu oleh saidina Ali. Padahal Ali bukanlah orang kaya. Tapi, dengan ikhlas dan hati sabar dia rela di madu demi ketaatannya pada Allah. Karena Allah berjanji bagi istri yang rela dan ikhlas dipoligami akan dihadiahi syurga kelak. Ujian dan masalah dari Allah pun juga bisa saja sebagai penggugur dosa kita di masa lalu."


Quen diam sejenak, merenungi semua yang pernah ia lalui. Teringat semua bayangan-bayangan masa lalunya. Sekalipun dia tidak melakukan hal-hal menyimpang sampai mabuk, dan sebagianya. Tapi, setelah dia mengenal Diaz betapa buruknya diam bahkan memberika keperawanannya pada pria lain selain suaminya dan di luar nikah. Kembali Queen menangis terisak.


"Aku tahu kau ini kuat. Aku percaya kau bisa melalui semua ini. Kau harus tabah dan kuat, Ya. Lalu bagaimana keputusan mu tentang pernikahan Alex dan Helen?"


" Kemarin aku sudah memberinya izin. Tapi, aku tidak berkata minta cerai. Itu cuma pikiranku sendiri yang baru kau dan kakakku yang tahu."


"Apakah kak Al mendukung keputusan mu untuk bercerai?"


Queen mengeluhkan kepalanya dengan lemah, "Sama sepertimu. Dia meminta ku untuk berfikir dalam keadaan tenang."


"Ya sudah, ini hampir larut. Kau pulang, ya? Gimana mau aku antar atau.... "


"Aku pesan taxi online saja," potong Queen. Ia tahu apa yang ada di benak Diaz. Jika ia pulang di antar oleh Diaz, Alex dan Helena malah akan menjadikan itu alasan untuk mencari kesalahan Queen.

__ADS_1


"Ya sudah, aku temani sampai tadinya tiba, ya?" tawar Diaz.


"Tidak usah, jangan sampai kau telat sholat. Ini sudah mendekati magrib. Setelah itu kau akan ke cafe, kan?" ucap Queen sambil tersenyum.


Dengan rasa tak tega Diaz pun akhirnya meninggalkan Queen seorang diri di taman.


Quen memperhatikan Diaz lalu, ia mulai melangkahkan kaki tanpa memesan taxi online dengan tujuan hendak pergi ke masjid terdekat area situ untuk mencoba menenangkan diri seperti yang Diaz katakan. Memang saat ia melakukan sujud panjang ada ketengan di dalam lubuk hatinya.


"Queen, tunggu!"


Suara seorang pria memanggilnya membuat ia pun menoleh dan menghentikan langkahnya.


"Kak, Al? Kenapa ada di sini?" tanya Quen heran. Sebab, jarang bagi pria itu ada waktu untuk bisa pergi ke tempat seperti ini terlebih setelah semua perusahaan dia yang handle sendirian.


Tanpa menjawab sepatah kata pun Al langsung memeluk gadis itu dengan erat sambil berbisik di telinganya, "kau kenapa kemarin tidak menceritakan alasanmu untuk bercerai kepada kakak? Dan sekarang kau malah menceritakan nya pada Diaz dan menangis di hadapan pria dingin itu. Yang hanya diam tak memberikan bahunya untukmu bersandar?"


Queen terkejut mendengar ucapan sang kakak, bagaimna bisa dia tahu? Pikirnya.


"Sejak kapan kakak ada di sini?"


"Sejak kau datang. Tadi kakak berniat menjemputmu mengantarkanmu pulang sekaligus melihat langsung kondisi Alex. Tapi, kau malah dengan Diaz kemari. Maaf jika tidak sopan menguping pembicaraan kalian."


"Sudah, jangan nangis. Kakak akan turuti apapun yang kamu mau, kakak tidak akan ikut campur dan asal bertindak sebelum menerima persetujuanmu, ok." Al memandang kekat ke arah mata Queen dan menghapus air mata Queen denga. Kedua ujung ibu jarinya dan memeluknya lagi.


🍁🍁🍁


Tiba di rumah Alex. Entah kebetulan atau memang sengaja Alex siapkan untuk menyambut Queen. Keduanya tengah asik berduaan di teras belakang. Sepertinya habis senam bersama. Terlihat dari pakaian senam Helena yang basah oleh keringat.


"Queen, kau sudah pulang?" Sapa Helen dengan ramah bahkan raut wajahnya pun juga tanpa salah.


"Iya," jawab Quen singkat lalu beranjak kembali ke ruang tamu menemui kakaknya yang ada di sana.


Rupanya mereka berdua tidak sadar kalau Al berada di rumah ini. Mereka masuk ke rumah hendak ke kamar sambil bergandengan. Jelas saja hal itu dapat Al saksikan.


Al sengaja diam tidak mau menegur salah satu dari mereka. Meskipun dia bisa dengan mudah menghina Helena. Semua ia lakukan demi Queen.


Tapi, Al memang bukan tipe orang yang sabar. Melihat kelakuan mereka kian menjadi saat adiknya kembali dari dapur ia pun tidak tahan juga.


"Helena, apakah kau ini tidak laku sampai-sampai memanfaatkan kondisi suami orang untuk dijadikan pelampiasan napsu kamu?"

__ADS_1


Mendengar hal itu Helena langsung bergeser dari posisinya.


Meski pun hatinya gentar, ia memberanikan diri menyapa Al.


"Kak Al, tumben kemari,"


Al menyeringai dan memandang gadis itu dengan tatapan menghina.


"Lihat dirimu, betapa menyedihkan. Kau di sini bukannya dibayar untuk merawat Alex, ya? Tapi sikapmu seolah seperti nyonya rumah ini."


"Kak, Al. Adikmu sendiri yang sudah meminta kami untuk menikah, jadi, kamu gak bisa terus-terusan memojokan Helen begitu, donk," bela Alex.


"Ya, aku tahu soal itu. Tapi, Alex. Sebelum dia belum remsi menjadi istrimu tolong hargai dan hormati adikku atau kau akan menyesal seumur hidupmu." Al menatap Alex dan Helena denga tatapan tajam namun dingin. Bahkan nadanya saja lebih terkesan mengancam.


Alex dan Helena hanya bugnkan. Justru malah Queen yang berusaha mengalihkan pembicaraan membahas mengenai hasil keputusan rapat di Bandung kemarin.


Sampai pada akhirnya Al pun pulang. Sementara Queen malas menyapa mereka berdua. Ia pergi ke dalam kamarnya untuk bebersih dan bersiap untuk makan malam.


Usai makan malam Queen langsung masuk ke dalam kamar menyalakan laptopnya. Ia memang tidak sedang mengerjakan apapun. tapi, sengaja ia mencari kesibukan untuk menfhiny dua orang itu.


Tepat pukul setengah sepuluh matanya mulai terasa ngantuk ia pun mulai mematikan laptop nya dan hendak bersiap untuk tidur. Tiba-tiba ketika ia hendak mengganti pakaiannya, pintu kamar terbuka. Rupanya Alex.


Queen pun meraih baby doll nya dan masuk ke dalam toilet untuk berganti pakaian.


Mulanya ia berfikir bahwa suaminya hanya mengambil sesuatu di kamarnya dan aka kembali keluar, ternyata tidak. Alex nampak duduk di tepi ranjang.


"Ada apa? Aku sudah sangat ngantuk banget, ini," ucap Quen tidak berbohong.


"Tidurlah! Helena juga sudah tidur. Malam ini aku ingin bersamamu."


Jujur saja, hati Queen sebenarnya sangat senang mendengar ucapan Alex barusan. Tapi, ia harus nampak tenang. Feeling-nya mengatkan kalau ini akan ada maksut tertentu.


"Silahkan saja. Aku tidur dulu, selamat malam," ucap Queen sambil tersenyum dan mulai merebahkan tubuhnya miring membelakangi Alex.


"Alex, tidakkah kau rindu sama aku? Ayo, peluklah aku dari belakang dan ucapkan kata maaf telah menyakiti ku," ucap Queen dalam hati.


Sementra Alex terus menganati Quen yang nampak gelisah. Meskipun gadis itu hanya diam tidak banyak bergey tapi pria itu tahu kalau Queen masih belum tidur. Hal itu dapat ia bedakan dari cara gerakan punggung gadis itu yang bergerak naik turun seiring hembusan napasnya.


"Aku tahu kalau kau belum tidur. Ada yang ingin aku bicarakan padamu sekarang, bisa?" ucap Alex.

__ADS_1


Queen hanya diam tidak mau membalas ucapan Alex ia terus memejamkan matanya berharap bisa saat itu juga dia dapat tertidur.


__ADS_2