
Queen terus bekerja dengan computer di depannya. Setelah jam
Sembilan, ia menyimpan file hasil pekerjaannya kemudian meraih stetoskop di
atas meja dan mengalungkannya pada leher, kemudian beranjak dari tempat dia duduk lalu, keluar ruangan.
Ya, kali ini ia mendapatkan tugas untuk mengecek semua
pasien rawat inap, memberi laporan perkembangan para pasien dan menilai sudah bisa pulang atau belum. Ia berjalan dengan langkah yang tegap, walau sebenarnya dirinya merasa tidak nyaman dan mual saja bawaannya. Mungkin si bayi lagi pengen mamanya santai dan mengelus-elus dirinya sambil mendengarkan musik klasik dan mengobrol. Tapi, mengingat ibunya orang sibuk, ada pun waktu juga tak akan banyak.
“Sus, sepertinya kita hari ini cuma ngecek pasian habis
melahirkan saja, deh,” ucap Queen saat berjalan menyusuri koridor yang lumanyan Panjang.
“Iya, Dok. Tapi, tadi ada satu anak yang terserang demam
berdarah,” sahut suster yang berseragam serba putih di belakang Queen.
“Oh, iya. Aku bahkan sampai melupakan itu.”
Queen membuka
pintu kamar kelas dua, di mana di dalamnya hanya ada dua sampai tiga pasien saja.
Apakah nanti di dalam sini juga wanita yang habis melahirkan
juga? Entahlah.
“Selamat pagi,” sapa Queen pada penghuni dalam ruangan
tersebut. Begitu ia masuk, matanya langsung tertuju pada seorang pria yang
berdiri di dekat pasien berjajar dengan gadis berhijab.
“Itu dokternya sudah sampai, semoga kaka bisa langsung
pulang hari ini sama si dedek juga, ya?” ucap gadis yang menegenakan hijab berwarna coklat susu.
Seketika semua menoleh dan melempar senyum, walau pada
akhirnya senyuman si dokter cantik itu mengambang ketika pandangan matanya
saling bertemeu dengan seorang pria bertubuh tinggi dan besar itu.
“Alex,” lirihnya. Kemudian ia memaksakan diri untuk tetap
tersenyum, sekalipun ia merasa ada sesuatu yang tak nyaman di hatinya karena
tanpa sengaja ketemu mantan suami. Tetap saja, harus professional saat bekerja.
Dengan tetap menunjukan sikap seolah keduanya tidak terjadi apa-apa.
“Queen! Kau bertugas di sini?” ucap Novita yang masih dalam
posisinya, bersandar di hospitalbad sambil memberi asi bayi kecilnya.
“Iya, sejak awal ditugaskan memang sudah di sini. Ketepatan
sekali. Kapan kakak melahirkan?” tanya Queen sambil mulai memeriksa novita.
Bahkan ia juga sempat melihat bayi yang baru lahir itu dalam dekapannya.
“Aku juga tidak tahu kalau Alex membawaku di rumah sakit
tempat kamu bertugas.”
“Hahaha, iya begitu lah. Kondisi bayi dan ibu sehat,
kemungkinan setelah ini sudah langsung boleh pulang.”
Sengaja Queen tidak berlama-lama di dalam ruangan itu.
Setelah memeriksa Novita, ia dan perawat yang bersamanya langsung pergi meninggalkan ruangan tersebut. Bukan karena canggung dengan Alex. tapi, dia
menjaga perasaan gadis berhijab coklat muda yang tengah bersamanya.
Zahara yang semula rilex, setelah Queen masuk ke dalam
ruangan itu juga jadi sedikit diam. Sekecil apapun, namanya wanita, pasti akan
memiliki rasa cemburu pada mantan istri pasangannya. Walaupun, keduanya tidak ngapa-ngapain.
Alex yang juga merasakan perubahan Zahara, untuk merayu pun
juga tidak mungkin, karena di dalam ruangan tersebut juga ada Novita. akhirnya. ia pun memilih keluar dengan alasan membayar biaya administrasi agar bisa segera pulang ke rumah.
“Zahara, kamu temani kak Novi dulu, ya? Aku bayar
administrasi dulu,” ucapnya kemudian memandang ke arah sang kakak dengan
tatapan penuh arti.
“Iya,” singkat gadis itu dan mengangguk pelan.
Setelah Alex keluar, Novita mulai mengajak bicara Zahara dan
menceritakan bagaimana kepribadian adik semata wayangnya itu.
“Oh, iya. Kudengar Alex semalam melamarmu, benar?”
“Iya, Kak. Apakah dia juga bercerita pada kakak?”
“Tentu saja. Hal sekecil apapun dia banyak bercerita padaku.
Mungkin karena saudara yang ia miliki cuma aku, dan lagi sejak kecil juga kita
hidup hanya berdua saja tanpa orang tua.”
Zahara hanya diam. Mengenai orang tua Alex dan kakanya ia
sudah tahu kalau mereka berada di luar negeri. Sedangkan dia dan kakaknya tetap
tinggal di Indonesia. Entah mengapa, ribuan orang bermimpi untuk bisa tinggal di luar negeri, ini malah dua orang menolak demi kecintaannya pada Indonesia.
“Dia itu pria yang kalau suka ya suka, dan langsung
ngajakkin serius. Tapi, jika tidak suka ya sudah, jangankan dekat-dekat.
Memandangnya saja tidak mau.”
“Pernikahannya dengan WQueen dulu, bukankah mereka bahagia,
kak?”
“Tapi, nyatanya mereka juga bukan jodoh, kan? Keduanya juga
terpisah. Sebelumnya juga Queen sempat hamil, malah keguguran. Sudahlah, kau
tak perlu memikirkan hal yang tidak penting. Sekarang Queen sudah menikah dan
bahagia dengan pernikahannya sendiri. Apakah kau tahu, kalau dia menikah dengan Al?”
“Iya, kak. Dari kecil kak Al juga nampak sayang dengan adik
angkatnya.”
Zahara diam sejenak. Dalam lamunannya ia berfikir, enak
sekali jadi Queen. Di manapun, dan siapapun menyukainya. Bahkan di mata Alex
sekalipun, ia masih terlihat special.
Saat jam istirahat, seperti biasa, Gea selalu duduk di ketak
Queen sambil bercerita bagaimana hari ini ia melewati waktunya dalam bekerja.
“Queen. Tadi aku berpapasan sama Alex di depan tempat
administrasi,” ucap Gea begitu duduk.
“ya, dia menemani kakanya yang semalam baru saja lahiran.”
“Kamu sudah tahu?”
“Ya, tadi saat aku melakukan pemerikasaan pada pasien rawat,
ternyata sebagian besar adalah ibu nifas, dan salah satunya ya itu, kakanya
dia,” jawab Queen. Sambil meraih secarik kertas untuk mengipas wajah dan lehernya yang berkeringat.t
“Ketemu sama Alex?”
__ADS_1
“Ketemu, dia ada di dalam ruangan ada Zahara juga kok.”
“Yah, telat kasih
info. Queen, pulang kerja kau ada acara tidak?” tanya Gea.
“Tidak tahu. Kenapa? Mau mentraktirku?”
“Jalan-jalan, yuk!”
“Lihat gimana nanti saja, dulu, ya?”
“Oke. Memang kamu mau ada acara sama suami kamu?”
“Ya tidak sih. Cuma gak enak aja kalau keluar sendiri.
Bagaimana pun kan status juga bukan gadis lagi aku tuh,” kawab Queen sambil
tertawa.
Usai makan siang, Gea menerima telfon dari Juna. Ternyata
pacarnya mengajaknya jalan. Jadi, dengan begitu, ia tidak jadi jalan-jalan
dengan Queen.
Ya sudahlah. Tidak masalah. Aku bisa datang ke kantornya
nanti memberinya kejutan dan kita pulang bareng. Mumpung malem minggu. Pikir Queen.
Ternyata benar. Gea telah dijemput Juna, entah ada acara apa
dia kok bisa pulang lebih awal. Bukannya jam pulang di kantor itu jam empat lewat tigapuluh menit? Sementara ini juga baru pukul tiga sore.
Semenjak menikah, ini adalah kali pertama Queen datang ke
perusahaan ini. Dia sengaja tidak mengabari Al lebih dulu, ia akan membuat
kejutan pada suaminya.
Untuk masuk ke dalam perusaan ini, Queen tidak mengalami
kesulitan. Karena dia mengatakan kalau ia adalah istrinya Al. Tapi, seperti itu
pun juga masih ada saja stafnya Al yang julid dan mengatakan Queen sangat halu, dan cuma mengada-ada saja dengan mengaku kalau dirinya istri dari CEO di perusahaan ini.
“Mbak, aku ini istrinya Al. Kenapa mempersulit aku sih?
Sesibuk apa dia sampai harus tak bisa meluangkan waktu untukku?” protes Queen. Pada wanita bertubuh sedikit berisi dan mengenakan pakaian semacam kurang bahan.
“Ini waktu kerja. Jangan bikin Al tidak bisa fokus. Siapapun
yang akan meneuminya juga melalui saya dulu. Termasuk ibunya.”
Queen tertawa kecut. “Apa? Ibunya? Pernah kesini gitu?
Dengan siapa?” Queen yakin kalau wanita yang mengaku sebagai sekertaris
suaminya itu hanya ngarang. Bukankah ibunya Al juga ibu dia? Dia masih sangat
lemah dan tidak mungkin datang kemari. Jika pun ia bisa pergi, pasti ke kantor papanya, lah. Walau usaia tak lagi muda, mereka berdua romantisnya tak kalah dengan ABG 19 tahunan.
“Tentu saja sendiri. Kalau memang Al sudah menikah, di mana
buktinya? Dia tidak pernah dekat dengan wanita mana pun.”
Queen tertawa kian kencang saja, dan membatin, ‘Beraninya
dia memanggil bosnya denga sebutan nama saja tanpa embel-embel pak? mana mesra lagi. Apa
tujuannya agar aku berfikir ada hubungan istimewa antara dia dan suamiku?’’
“Ya, Al memang tak pernah dekat dengan wanita mana pun,
karena dia menjaga hati dan kesetiannya hanya untukktu.” Setelah mengatakan itu, Queen
merasa jadi ikutan gila saja meladeni wanita tak penting seprti ini. Mungkin
juga dia sudah lama menaruh hati pada suaminya. Tapi, tak mendapatkan respon. Akhirnya, ia pun menemulan ide.
“Awas, ada kecoa masuk ke dalam rokmu!” seru Queen dengan
sedikit lantang. Seolah-olah ia benar-benar terkejut saja.
rok sepannya yang sangat minim, setengah pahanya saja bahkan sampai terekspos. Queen yakin, jika wanita itu berjongkok mengambil
bendnya yang jatuh pasti sudah terlihat saja tuh celana dalamnya.
Soelah tak menyia-nyiakan kesempatan. Queen langsung berlari
menuju ruangan suaminya.
Sesampainya di sana, Queen langsung saja mebuka pintu
ruangan tersebut tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
Rupanya Al benar-benar sibuk dan tengah fokus pada apa yang
dia kerjakan. Sampa-sampai ia tak menyadari kedatangannya.
“Ehem… Anda sibuk sekali, Pak?” ucap Queen, lupa menutup pintunya.
Sedangkan di luar, Reyna sekertaris Al sadar kalau tidak ada
serangga satupun. Lagipula di tempat sebersih ini, bagaimana mungkin ada kecoa yang berani hidup berkeliaran. Sadar kalau dibohongi Queen, ia segera berlari
ke ruangan bosnya. Mencegah jika belum masuk, dan jika sudah terlanjur, ia
ingin pastikan, benar dia istrinya Al atau hanya wanita halu yang datang
mengaku-ngaku saja.
Al menoleh ke arah pintu saat merasa kenal dengan pemilik
suara. “Sayang? Kau ke sini sendirian? Kenapa tidak mengabariku?” sambut Al.
seketka ia meletakkan semua bebannya dan perhatiannya teralih pada Queen.
“Kan surprise,” jawab wanita itu, tersenyum manja dan
berjalan menghampiri Al.
“Oh, ya? Aku terkejut sekali.” Al langsung meraih pinggang
istrinya dan langsung memeluk dan beberapa kali mencium perut Queen.
“Bahkan kau langsung mencium calon anakmu, bukan aku dulu,”
protres Queen sambil cemberut pada Al.
“Hahaha, apakah kau cemburu, Sayang? Kemarilah duduk di
pangkuanku!” seru Al.
“Gak mau.” Jawab Queen manja.
Al menjadi gemas saja, lalu ia berdiri dan memeluk wanita di
depannya itu sambil berbisik di dekat telinganya, “Lalu, apa maumu?”
Pada saat itu juga Reyna sudah berada di depan pintu yang
sedikit terbuka, jadi, mau tidak mau wanita itu melihat apa yang Al lakukan
pada Queen. Reyna tertegun tak mempercayai pandangan matanya sendiri. Bagaimana
bisa sosok pak Al bisa berbuat seperti itu? Batinnya. Seketika, diam-diam ia
merasa sakit hati sendiri dengan apa yang dilihatnya.
“Al… Aku geli, kau tidak bisa begitu, donk!” Queen tertawa
sambil mendorong wajah Al menjauh dari dirinya.
“Lalu bagaimana, agar kau merasa tidak geli? Apakah begini?”
ucap Al sambil menenggelamkan wajahnya pada belahan dada Queen.
“Sudah, jangan gitu. Kau bekerja saja dulu, aku akan
beristirahat sambil menunggumu!” seru Queen sambil memandang sofa yang ada di dalam ruangan tersebut.
__ADS_1
“Tidak! Percuma juga aku bekerja, aku tidak akan bisa
kosentrasi, kau yang membangunkan harimau tidur, jadi kau harus bertanggung jawab!” seru Al sambil menyeringai, mata
tajamnya menatap Queen dengan lekat.
“kau yang tanggung, dan aku yang akan menjawabnya, bagaimana?” sambil mencium pipi Al singkat.
Sejurus kemudian, Al memandang ke arah pintu. Jadi, ia
menagkap basah wanita yang berdiri di baliknya tengah menyaksikan dirinya.
Entah sejak kapan dia berdiri di situ dan melihat adegan pribadi ini?
Beruntung Al tidak berbuat yang lebih intim lagi dengan Queen.
“Kau! Kenapa berdiri di situ? Apakah kau dibayar untuk
menguping dan mengintip?” bentak Al pada sekertarisnya.
Seketika Queen menoleh dengan gerakan lembut serta anggun,
dan terawa lirih pada gadis itu tanpa menurunkan kedua tangannya yang telah
melingkar pada leher Al.
“Maaf. Maafkan saya, Pak.” Dan bodohnya, Reyna tidak segera
berlalu. Entah saking shocknya atau gimana. Lalu, hal itu malah dijadikan
kesempatan untuk Queen menyerang balik.
“Dia siapamu, Sayang? Apa jabatannya? Setahuku kau adalah yang tertinggi.”
“Dia sekretaris ku, sudah tidak penting. Jangan pedulikan
dia.”
“Apakah kau memberi harapan padanya? Kudengar tadi diluar dia
hanya menyebutmu dengan nama saja, tanpa panggilan Pak. Bahkan, saat menyebut pun kedengarannya juga sangat mesra.”
“Reyna! Kemari! Apa benar yang istriku katakana tadi? Apa
yang kau lakukan padanya?”
Wanita itu langsung kelabakan saat mendengar Al mengatakan
kalau wanita yang tengah bersamanya itu adalah istrinya.
“Maaf, Pak. Saya benar-benar tidak tahu, saya kira dia Cuma
ngarang saja. Saya menahannya karena saya tahu anda sedang sibuk,” jawab
wanita itu dengan tubuh bergetar.
Queen menurunkan tangannya dan memandang ke wajah suaminya.
Al terlihat sangat marah. Dia yakin kalau Al akan memecat wanita itu sebagai
balasan karena mempersulit dirinya.
“Kau tahu, aku tidak suka dan paling benci ada staf yang
nglunjak dan tak tahu sopan santun seperti itu. Jadi, aku minta sekarang juga, kemasi barang-barangmu dan pergilah, cari tempat kerja lain.
“Maaf, Pak. Maafkan saya, saya janji tidak akan
mengulanginya lagi. Saya mohon jangan pecat saya.” Wanita itu langsung duduk
bersimpuh dan menundukkan kepalanya di hadapan Al dan terus memohon.
“Rey, sudah berapa tahun kau bekerja di sini?” tanya Queen.
“Sudah hampir empat tahun, Bu,” jawabnya dengan suara
bergetar.
“Suamiku itu orangnya tegas. Kurasa kau juga tahu, itu.
Apakah setiap ada tamu wanita yang akan menemui suamiku kau juga mempersulit dan berkata demikian?”
“Tidak pernah, baru kali ini.”
“Al, bagaimana kinerja dia selama empat tahunan ini?” tanya Queen.
“Lumayan, cukup baik juga.”
“Jangan pecaat dia, ubah saja posisinya. Cari orang yang
lebih tahu sopan santun dan tatakrama untuk jadi sekertarismu. Kenapa kau tidak mencari yang cowok saja seperti dulu saat kau masih belum di sini? Kurasa itu akan lebih baik.”
Al hanya menggangguk sambil menyentuh pundak Queen lalu
melihat ke arah Reyna. Dengan ekspresi wajah berat, pria yang tak pernah
menarik kalimat yang sudah dikatakannya pun akhirnya menarik juga kata-kata itu.
“Baik, Rey, aku menarik kata-kataku. Aku lakukan ini demi
permintaan istriku. Sekarang kau pergilah! Aku tidak akan memecatmu, asal tidak kau ulangi lagi kesalahan yang sama.
Seketika Queen melihat perubahan mood pada suainya. Ia
nampak enggan dan malas melakukan papun. Queen berjalan ke sofa dan duduk dengan baik
di sana, lalu saat Al memandangnya, Queen menepuk pahanya. Memberi isyarat agar suaminya datang padanya.
Al berjalan perlahan dan langsung saja duduk kemudian
berbaring di pangkuan Queen.
“Kau pasti lelah. Pusing, tidak?” tanya Queen dengan lembut.
“Lumayan. Kepala rada pening juga ini.” Sambil memejamkan
matanya, al memijat lembut dahi dan pelipisnya.
“Biar aku yang memijatimu,” ucap Queen, kemudian memijat
lembut kening dan pelipis suaminya secara perlahan. Sambil dia bercerita kalau saat ia bekerja tadi, tanpa sengaja dia bertemu dengan Novita. Dia sudah
melahirkan putranya. Laki-laki lagi dan sangat mirip dengan mendiang Aditya.
Berkata soal Aditya, Al jadi teringat candra. Ia langsung
lompat dan duduk di seblah Queen.
“Kau ingat kalau ada orang baru yang mirip dengannya?”
“Siapa?”
“Kau belum kenal. Tapi, aku bisa pastikan, jika kau melihatnya,
kau juga pasti akan berpendapat demikian. Ayo ikut denganku.” Dengan semangat
Al menggandeng tangan Queen. Membawanya keluar dengan alasan mengenalkan dia
sebagai istrinya agar tidak terulang lagi kejadian barusan karena staf yang tidak tahu.
Walau itu sebenarnya hanya alasana, tapi, itu cukup masuk akal untuk membuat Queen bisa melihat candra. Tanpa membuat orang lain curiga.
Setelahnya, Queen juga berpendapat demikian. Keduanya sangat
mirip Namun, kelihatannya Candra lebih muda beberapa tahun dari mendiang
Aditya.
***
Di sebuah jalan yang sepi, di antara bangunan apartemen yang menjulang tinggi hingga mencapai lima puluh lantai. seorang wanita berpawakan sedang, tidak kurus dan tidak gemuk dengan tinggi badan sekitar 165cm berjalan.
Tatapan matanya kosong. sepertinya wanita paruh baya itu sedang ada banyak hal yang dia pikirkan. Ya, memang sangat banyak. salah satunya adalah ucapan peramal cina yang ia temui di temple tadi.
"Apa, ya maksutnya orang itu?" gumamnya seorang diri.
"Dua keturunan barumu yang tersayang namun kau lupakan, kelak semua akan celaka. bawa salah satunya denganmu agar aman. Agar tidak habis."
Bahkan kata-katanya itu masih terus terngiang dalam ingatannya.
Tak mau ambil pusing, wanita paruh baya itu mempercepat langkahnya dan menuju lip yang akan membawanya ke apartemennya di lantai dua belas.
__ADS_1
Setibanya, ia meletakkan barang belanjaannya di meja dapur, dan membuka jendelanya lebar-lebar. angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya. ia hirup udara dalam-dalam. Ia sangat menyukai tempat barunya ini.
"Segar sekali suasana di Pasirys. kuharap dengan suasana baru, kenangan buruk saat di Jurong musnah bersama masa." gumamnya seorang diri.