Gairah Duda Perjaka

Gairah Duda Perjaka
Bu Guru Cantik


__ADS_3

“Ya Allah... Arya semalam mimpi apa ya, bisa bertemu dengan bidadari di sini? Kalau begini caranya Arya ingin kembali jadi anak kecil supaya bisa jadi murid guru bidadari itu ” ucap Arya di dalam hatinya sambil menatap Bu Guru Cantik tersebut dengan tatapan penuh cinta.


Namun, saat Bu guru ingin berbalik badan tiba-tiba saja Qisya keluar dari pagar sekolah.


“Bu Cantik, kok lama banget sih nanya sama Pak satpamnya. Kan Qisya sendilian di dalem. Takut tahu...” ucap Qisya sambil memasang muka cemberut.


“Aduhh... murid Ibu yang manis ini kenapa cemberut heum... kan Ibu hanya sebentar dan ini ingin kembali menemani Qisya di dalam. Kalau kita bermain di taman dulu sambil nunggu yang jemput Qisya gimana? Mau...?” tanya Bu guru sambil sedikit membungkukkan badannya dan tersenyum.


“Ma...” ucapan Qisya terpotong saat ia mendengar suara tidak asing di telinganya yang memanggil namanya.


“Qisya...” Arya sedikit menambahkan volumenya untuk memanggil Qisya sambil tersenyum dan tidak lupa ia melambai-lambaikan tangannya.


Qisya yang merasa terpanggil pun menengok ke arah tersebut. “Om Alya, wah... Om yang jemput Qisya? Yeyey... asyik...” saut Qisya sambil bersorak senang melihat kedatangan Arya.


Ya, memang saat ini hubungan Qisya sama Arya mulai berdamai dan berteman sangat baik. Tetapi, tetap saja mereka masih suka bertengkar karena Arya selalu mengganggu Qisya.


Begitulah Arya, dia memang sangat senang menjahili siapa pun. Apa lagi Qisya, tipikal anak yang sangat asyik jika dia isengkan atau pun diledeki. Karena mimik wajah Qisya ketika marah itu benar-benar menggemaskan serta terlihat sangat lucu. Itulah yang membuat Arya selalu menggoda Qisya.


Qisya berlari kecil sambil memeluk kaki Arya dan tidak lupa Arya mengusap kepala Qisya dengan sangat lembut sambil berkata “Kirain Qisya tidak senang kalau Om Arya yang jemput. Tapi maaf ya Om telat hehe... habisnya tadi Om main dulu di taman jadi lupa deh jemput Qisya”


“Ish... ish... ish... tak patut. Om Alya gimana sih, Qisya nungguin tahu. Teyus Om kenapa bisa tahu sekolah Qisya, apa jangan-jangan Om ngikutin Qisya sekolah ya?” tanya Qisya sambil mendongak menatap Arya dengan mata menyipit seperti detektif yang sedang mengintai musuhnya.


“Adeh... ini bocah satu sudah kaya detektif saja. Om tahu sekolah Qisya karena Oma Qisya minta tolong untuk jemput Qisya di sini. Mereka semua kan sedang sibuk untuk mengurus acara adik kembar Qisya. Terus kalau Ayah kan baru saja jemput Bunda pulang jadi Om yang jemput deh. Gimana Qisya senang tidak di jemput sama Om tampan seperti ini? Heum...” tanya Arya dengan nada sombongnya sambil memainkan alisnya.


Bu guru dan kedua satpam hanya bisa terdiam menatap obrolan mereka yang begitu asyik.


“Ya senang sih, tapi Qisya gak mau banyak-banyak senangnya takut nanti Om Alya besal kepala. Teyus sombong deh kaya sekalang ini” jawab Qisya dengan membolakan matanya dengan malas.


“Haha... dasar cerewet” ucap Arya tertawa sambil mencubit kedua pipi Qisya dengan gemas.


“Ouch... sakit tahu Om Alya. Nanti pipi Qisya bisa copot tahu” saut Qisya dengan kesal sambil mengusap kedua pipinya yang sedikit terasa sakit.


“Kalau copot, di lem pakai lem power blue biar nempel lagi haha...” Arya tertawa dengan puas saat melihat wajah Qisya yang begitu lucu. Bahkan tawa Arya menular pada Bu guru Cantik serta kedua satpam yang sedang melihat aksi mereka.


“Qisya sayang, apa benar ini adalah Paman atau Om Qisya heum...?” tanya Bu guru sambil tersenyum menatap Qisya sesekali melirik Arya.

__ADS_1


“Iya Bu Cantik, kenalin ini Om Qisya yang sangat lese. Namanya Om Alya” jawab Qisya sambil melirik sinis Arya.


“Arya woi, bukan Alya. Memangnya aku wanita apa” saut Arya sambil menatap sinis Qisya.


“Ck! Namanya juga Qisya belum bisa bilang L ya sudah sih nulut aja napa” jawab Qisya dengan kembali menatap sinis Arya.


“R bukan L, makannya kalau sekolah itu belajar ngomong R jangan bisanya cuman makan mulu. Jadi lidahnya ke gigit kan jadi pendek haha...” ucap Arya sambil tertawa meledek Qisya.


“Yakk... dasal Om lese” saut Qisya sambil mau memukul Arya, namun dengan sigap Arya langsung berlari.


Qisya yang tidak mau kalah pun ikut berlari mengejar Arya dengan sedikit kesusahan menggunakan rok panjang serta tas yang sedikit kebesaran membuat Qisya lambat untuk mengejar Arya.


“Ya ampun, kalian berdua ini sudah seperti tikus dan kucing saja. Sudah Qisya jangan lari-lari nanti kamu jatuh loh” ucap Bu guru dengan wajah khawatirnya saat melihat Qisya yang sedikit kesulitan berlari.


Namun, tiba-tiba saja...


Bruuuk ! ...


Tanpa tidak di sengaja Bu guru menangkap Arya yang hampir saja terjatuh akibat tersandung batu, membuat tubuh Arya sedikit oleng.


“Tidak apa-apa Mas, saya yang harusnya minta maaf karena tidak sengaja menyentuh laki-laki yang bukan muhrim saya” ucap Bu guru dengan senyuman.


“Cantik” gumam Arya sambil menatap mata indah Bu guru.


“Maksudnya, Mas?” tanya Bu guru dengan wajah bingungnya.


“Eh... hehe... bukan apa-apa Bu guru” ucap Arya sambil tertawa malu serta menggaruk tengkuluknya yang tidak gatal.


“Cie... cie... Om Alya malu sama Bu Cantik” ledek Qisya sambil melihat Arya yang mulai salah tingkah.


“Permisi, Mas. Sebelumnya saya ingin minta maaf karena telah meragukan Masnya kalau Mas adalah Paman atau Om dari Nona Qisya. Karena saya di sini hanya menjalankan tugas saya agar menjaga anak-anak di sini supaya tidak sampai ada kejadian yang tidak diinginkan” ucap satpam sambil menatap Arya.


“Ahya... tidak apa-apa, Pak. Namanya tugas harus dijalankan dengan baik. Malah saya sangat bersyukur jika sekolah ini benar-benar sangat ketat untuk menjaga murid di sini. Jadi saya dan keluarga akan aman jika harus meninggalkan Qisya di sekolah tanpa ditunggui” saut Arya sambil tersenyum.


“Baiklah, Mas. Jika Mas ingin membawa Qisya pulang silakan. Karena tadi saya sudah menghubungi pihak keluarga untuk memastikan semuanya” ucap satpam lainnya.

__ADS_1


“Maaf semuanya saya permisi lebih dulu ya, karena masih ada urusan lain. Permisi semua... dadah Qisya sayang. Hati-hati ya pulangnya” ucap Bu guru Cantik sambil melambaikan tangan kemudian berjalan pergi meninggalkan sekolah.


“Dadah Bu Cantik, hati-hati yaa...” saut Qisya sambil melambaikan tangan kembali.


“Om ayo pulang, Qisya sudah tidak sabal ketemu Bunda” ucap Qisya sambil mendongak menatap Arya.


Namun mata Arya yang masih fokus memperhatikan Bu guru Cantik pun di buat tidak berkedip.


“Ya ampun Bu guru cantik banget, semoga saja kita berjodoh. Dan jika nanti aku bisa bertemu lagi denganmu berarti tandanya Allah memang menakdirkan kita bersama Bu. Jadi tunggu jodohmu ini sukses dulu ya Bu guru ” ucap Arya di dalam hati kecilnya sambil tersenyum menatap ke arah Bu guru yang semakin tidak terlihat.


Qisya yang sudah sangat kesal di buatnya karena beberapa kali ia memanggil Arya namun tidak ada sautan atau pun jawaban dari Arya.


“Om Alyaa...” terisk Qisya sambil menarik baju Arya yang sedikit membuat ia tercekik.


“Uhuk... uhuk...” Arya terbatuk saat kerah bajunya sedikit menekan lehernya.


“Sukulin, lagian sih bengong aja. Ayo pulang Om, Qisya sudah kangen sama Bunda” ucap Qisya dengan wajah kesalnya.


“Uhuk... kamu ini apa-apaan sih Qisya, nanti kalau Om mati bagaimana? Nanti enggak ada lagi Om Qisya yang gantengnya enggak ke tulungan kaya Om Arya ini” saut Arya dengan sedikit kesal


“Ya kalau Om mati, tinggal kubul saja di tanah. Masa iya mau di buang di laut. Bisa-bisa jadi makanan hiu dong haha...” jawab Qisya sambil tertawa.


“Yakkk... dasar anak rese” saut Arya dengan nada marah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sampai sini dulu ya cerita untuk hari ini semuanya... 😁😁😁


Jaga diri kalian dan tetap semangat untuk kalian semua... 💪🏻💪🏻💪🏻


Tersenyumlah karena senyum adalah ibadah hehehe... 😊😊😊


Sampai jumpa lagi dan jangan lupa kangenin Author yaa... 😆😆😆


Papay~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻

__ADS_1


__ADS_2