
“Dasi... di mana dasi kesayanganku?” ucap Brian dengan wajah cemasnya.
“Coba Hana carikan siapa tahu menyelip. Sudah Mas ganti baju saja dulu” saut Hana sambil mencoba mencarikan dasi kesayangan Brian dengan sangat teliti.
Brian yang begitu panik langsung lari ke arah kamar mandi dan mengganti pakaiannya. Kini Brian hanya membutuhkan waktu 2 menit saja untuk mengganti pakaian, bahkan keadaannya pun sangat berantakan.
“Ya ampun Mas, itu bajumu masih berantakan loh. Sini Hana benarkan biar terlihat rapi, dan sekalian Hana pakaikan dasinya. Jika Mas terlihat terburu-buru seperti ini malah membuat Mas semakin berantakan”
Hana mendekati Brian sambil membenarkan baju belakang Brian kemudian memakaikan dasinya dengan sangat lembut. Brian yang begitu terpesona dengan sikap Hana, membuat ia seketika tersenyum sambil menatap Hana yang fokus memakaikan dasi.
“Jangan senyum-senyum, nanti ke sambet loh” ucap Hana tanpa menatap Brian.
“Dish.., Geer banget kamu. Siap juga yang senyum-senyum. Sudah ayo buruan aku hampir terlambat ini” ucap Brian seakan-akan mengalihkan rasa malunya.
Hana yang tahu jika Brian sedang gengsi membuat ia hanya bisa menggelengkan kepalanya. Di saat Hana sudah selesai merapikan semua pakaian Brian dan memasangkan dasi dengan sangat cepat, kini Hana berpamitan kepada Brian.
“Hati-hati di jalan, Mas. Ingat jangan ngebut-ngebut bahaya” ucap Hana mencoba menasihati Brian.
“Hum..” jawab Brian sambil mengambil tasnya.
Namun, saat Brian sudah membalikkan badannya dan ingin keluar dari kamar tiba-tiba saja Hana memanggil Brian.
“Mas, tunggu dulu” Hana berjalan mendekati Brian.
Brian yang sontak terkejut langsung membalikkan badannya sambil berkata “Apa lagi sih? Memangnya kamu tidak lihat apa, kalau aku sedang terburu-buru seperti ini”
Brian yang mulai emosi seketika tanpa di sadari mengeluarkan nada yang begitu tinggi.
“Maaf, Mas. Hana cuman ingin menyampaikan jangan lupa untuk makan siang dan jangan cape-cape kerjanya ya, Mas. Jaga kesehatan jangan sampai Mas sakit” ucap Hana dengan sangat lembut sambil tersenyum.
“Sudah itu saja? Jika aku lapar juga, aku akan makan dengan sendirinya tanpa harus diingatkan seperti anak kecil, paham kamu!” jawab Brian dengan nada dinginnya.
Brian kembali membalikkan badannya lalu melangkahkan kakinya, tetapi saat ingin memegang gagang pintu. Hana kembali memanggil Brian.
“Mas, tunggu” ucap Hana.
Brian yang sudah mulai jengkel, langsung membalikkan badannya dan menatap Hana dengan sangat tajam.
“Apa lagi Hana!!” geram Brian dengan wajah sangarnya.
Hana yang sedikit ketakutan membuat ia menundukkan kepalanya sambil berkata “Maaf jika Hana selalu mencegah Mas Brian untung berangkat. Tapi Hana mau ingatkan bahwa celana Mas Brian belum di sereting”
__ADS_1
Brian yang mendengar ucapan Hana membuat dirinya tersontak kaget, dan langsung membalikkan tubuhnya lalu menarik reseleting ke atas.
“Makasih” ucap Brian yang langsung keluar kamar dengan rasa malunya.
Hana yang sudah mengetahui bahwa Brian sudah keluar dari kamar, seketika membuat Hana kembali mengangkat kepalanya.
“Saking terburu-burunya sampai kamu melupakan kecupan kening untukku, Mas. Padahal setiap kamu ingin bekerja terkadang kamu malah meminta aku untuk mencium pipimu. Tapi sekarang? Ya sudahlah, mungkin dia memang benar-benar lupa. Apa lagi kan kerjaan Mas Brian sangat penting. Jadi aku harus lebih bersabar lagi untuk mengerti tentang Mas Brian” gumam Hana.
Di kantor Brian
Brian keluar dari mobil mewahnya dengan sambutan beberapa security sambil membukakan pintu mobilnya. Brian keluar dengan sangat gagah. Kini wajah datar serta dinginnya seketika keluar begitu saja.
Bahkan tidak ada yang berani menatap wajah Brian yang menurut para karyawan sangat menyeramkan. Dengan penampilan yang sangat tampan, gagah serta berwibawa membuat Brian sangat di takuti oleh semua karyawan.
Bahkan ada beberapa karyawati yang selalu mengagumkan sosok Brian dari belakang tanpa berani mengucapkannya di depan Brian.
Langkah demi langkah Brian berjalan menuju lift khusus untuk dirinya, kemudian selang beberapa menit Brian telah sampai di lantai paling atas khusus lantai CEO. Brian berjalan menuju ruangannya dan langsung di sambut oleh sekretarisnya.
“Selamat pagi, Pak” ucap sekretaris Brian sambil membungkukkan badannya.
“Apa semua berkas sudah siap? Dan bagaimana dengan mereka semua, apa sudah datang?” tanya Brian dengan nada dinginnya.
Brian langsung berjalan lebih dulu menuju ruang rapat tanpa basa-basi dan meninggalkan sang sekretaris.
“Untung saja dia tampan dan kaya, coba kalau tidak. Sudah gua setrika wajahnya biar tidak lecek kek baju baru kering ” pikir sang sekretaris didalam hatinya sambil berjalan mengikuti Brian di belakangnya.
“Coba saja Pak Brian masih duda, gua kan jadi bisa deketin dia lagi ” ucap sang sekretaris di dalam hatinya.
Sang sekretaris berjalan lebih cepat dari Brian untuk segera membukakan pintu ruang rapat.
“Silakan, Pak” ucap sang sekretaris dengan senyuman manis.
Kemudian Brian masuk ke dalam ruangan tanpa memperdulikan sang sekretaris. Brian berjalan dengan sangat berwibawa dengan menonjolkan wajah dingin serta datarnya kepada semua orang.
Sang sekretaris memundurkan kursi kebesaran Brian sambil menaruh berkas di atas meja. Kini saatnya Brian memulai rapat pentingnya dengan sangat fokus.
Semua yang ada di sana hanya fokus kepada pembahasan yang sedang Brian jelaskan. Tetapi tidak dengan sang sekretaris Brian yang berdiri di samping Brian sambil fokus menatap Brian dengan rasa kagumnya.
“Astaga... Pak Brian semakin hari semakin tampan. Coba saja jika aku yang ada di posisi istrinya, mungkin aku akan sangat bahagia sudah mendapatkan pria tampan seperti Pak Brian, bahkan ia sangat kaya pula. Eh tunggu deh, ta-tapi sepertinya istri Pak Brian berasal dari kampung. Apa jangan-jangan Pak Brian di jodohkan oleh orang tuanya?” ucap sang sekretaris di dalam hatinya.
Sampai seketika Brian beberapa kali memanggil sang sekretaris membuat ia tersadar dari lamunannya.
__ADS_1
“Cika!!” panggil Brian dengan suara baritonnya.
“Eh, i-iya Pak Brian. Ada apa?” tanya Cika dengan wajah ketakutan.
“Jika kamu sudah bosan bekerja denganku, silakan keluar dari kantor ini. Dan aku harus secepatnya mencari penggantimu” saut Brian dengan tatapan tajamnya yang membuat semua orang di dalam ruangan merinding ketakutan.
Ya, mereka semua sudah tahu bahkan sikap dingin Brian terkenal dimana-mana. Cika yang merasakan ketakutan hanya bisa menundukkan kepalanya sambil beberapa kali meminta maaf kepada Brian dan semua orang yang ada di ruang rapat.
Sampai akhirnya Brian menyuruh Cika untuk menjelaskan detail tentang kinerja yang akan mereka sepakati bersama. Panjang kali lebar Cika berusaha menjelaskan kepada mereka semua, dan hanya di tanggapi dengan anggukan kepala.
Sehingga rapat telah selesai di laksanakan, kini Brian berdiri sambil bersalaman dengan para pembisnis lainnya serta memberi selamat karena mereka telah resmi bekerja sama.
Kemudian, semuanya berpamitan dan meninggalkan ruang rapat yang di ikuti oleh Brian. Brian berjalan menuju ruang kerjanya sambil mengerjakan pekerjaan yang sudah menumpuk.
Tetapi, pikiran Brian saat ini hanya bisa fokus kepada Hana yang berada di rumah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tok... tok... tok... Permisi... 🚪😗😗
Author mau mampir sebentar nehh sebelum lanjut ke bab selanjutnya... 😁😁😁
Mampir untuk memberikan rekomendasi novel baru untuk hari ini... 😆🥳🥳
Silahkan baca dan tinggalkan jejak kebahagiaan kalian disana yaaa... 🤗🤗🤗
Terima kasih dan sampai jumpa lagi di bab selanjuynya semuanya... 👋👋👋
BLURB :
Ningtiyas Paramitha adalah gadis 18 tahun baru lulus SMK jurusan tata busana. Dia harus menerima takdir dinikahkan siri dengan paksa oleh ayahnya dengan lelaki dewasa berumur 30 tahun dan telah memiliki istri bernama Alfarizi Zulkarnain.
Kontrak nikah selama lima bulan, tetapi Neng selalu mengalami kekerasan baik lahir maupun batin. Perlakuan suami sirinya selalu melampiaskan kekesalannya akibat kesalahan istri sahnya.
Setelah empat bulan berlalu Al meninggalkan Neng begitu saja, tanpa disadari Al meninggalakan benih janin di kandungan Neng. Akhirnya Neng meninggalkan desanya yang selama ini menjadi kebanggaannya, pergi ke Jakarta untuk merubah nasib dan menyongsong masa depan yang lebih baik bersama janin yang dalam kandungan.
Sayangnya takdir mempertemukan mereka kembali setelah delapan tahun berlalu. Dengan situasi yang berbeda, apakah mereka akan bersatu kembali setelah Al mengetahui memiliki keturunan.
Apakah Neng menerima cinta Al?
__ADS_1