
Dimana Alex telah menjadi seorang CEO diperusahannya, Joko sebagai pengelola keuangan perusahaan dan Pinjai sebagai asisten pribadi Alex yang akan selalu menemani kemana pun dia pergi.
...*...
...*...
Keesokan harinya, Alex beserta Pinjai dan juga Joko sedang melakukan meeting besar bersama CEO dari perusahaan A.
Beberapa presentasi Alex jelaskan sendiri kepada CEO perusahaan A, dibantu oleh Pinjai. Sedangkan Joko, dia hanya menyimaknya saja sesekali tersenyum kecil ketika melihat usaha Alex yang benar-benar berusaha untuk mewujudkan impiannya.
CEO perusahaan A pun tersenyum, dia melihat adanya tekat besar yang saat ini menggebrak diri Alex agar dia bisa melakukan semuanya sedemikian rupa supaya memuaskan para kliennya.
Hampir 2 jam lebih lamanya, akhirnya meeting pun selesai. Alex tidak menyangka bahwa CEO perusahaan A langsung menyetujui kontraknya dan mereka memberikan kontrak dalam jangka waktu panjang.
Bahkan yang buat Alex terharu adalah CEO perusahaan A detik itu juga segera menandatangani semuanya tanpa membaca persyaratan kontrak secara detail.
CEO perusahaan A sangat percaya kalau kinerja mereka ataupun skill yang mereka miliki itu melebihi dari perusahaan yang ada diatasnya.
Hanya saja, mungkin mereka harus menyusunnya sebaik mungkin agar perusahaan bisa terus melonjak naik setiap bulannya.
CEO perusahaan A segera bangkit dari kursinya berpamitan pada mereka bertiga sambil berjabat tangan serta memeluk Alex ala laki-laki.
Mereka bertiga tiada hentinya untuk terus mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya, Alex tidak tahu lagi mau berkata apa yang jelas dia begitu bersyukur atas kabar yang bahagia ini.
Setelah kepergiaan CEO perusahaan A beserta rekannya, Alex menatap Joko yang masih berdiri. Tanpa basa-basi Alex memeluk Joko begitu erat, air matanya pun runtuh begitu saja.
"Hiks ... Kak, terima kasih. Terima kasih karena Kakak sudah membuka jalan untukku menjemput cinta yang selama ini sedang aku perjuangkan,"
"Aku tidak tahu harus berkata apa lagi kepada kalian, aku cuman bisa bilang terima kasih, terima kasih dan terima kasih,"
"Aku benar-benar bahagia banget, akhirnya sudah tidak akan ada lagi penghalang untukku segera memiliki Sasya."
Alex memeluk Joko lalu, bergantian memeluk Pinjai. Mereka berdua terharu ketika adik kecilnya yang selama ini terlihat tegar dan kuat berhasil meneteskan air matanya karena impiannya akan segera tiba.
Dimana Alex sangat memimpikan memiliki keluarga yang harmonis, jauh dari masa lalunya yang dahulu berhasil membuatnya terjebak diantara dilema dan juga dendam.
Alex melepaskan pelukannya dan berdiri di depan mereka berdua, tangan Joko terarah untuk menepuk-nepuk kecil pipi Alex.
"Aku bangga sama kamu, Dek. Perjuanganmu selama ini tidak mudah. Jikalau pun, seandainya aku atau Pinjai yang ada diposisimu mungkin kami sudah menyerah dan memilih mencari yang lain,"
"Tidak sepertimu, yang bertahan memperjuangkan cintamu pada Sasya meski banyak waktu yang telah terbuang. Demi tekatmu yang kuat, kamu telah berhasil menjadi Alex yang baru, selamat ...."
__ADS_1
"Jika kamu berterima kasih padaku untuk ini, maka aku juga berterima kasih karena dirimu sudah merestui hubunganku dengan Chika, orang yang menjadi dalang dibalik kisah kalian."
Joko tersenyum menatap Alex, dia hanya bisa mengangguk kecil sambil tersenyum. Begitu juga dengan Pinjai, dia tidak bisa berkata lagi lantaran Joko sudah mewakilkan dirinya.
Bagi mereka berdua, untuk menjadi seorang Alex yang saat ini tidaklah mudah. Sehingga mereka benar-benar salut terhadap tekat dan juga niat yang besar untuk memperjuangkan cinta pertamanya.
Mereka berdua berharap semoga ketika Alex telah menikah nanti, tidak akan ada masalah yang kembali menguji cintanya.
Setelah selesai mengungkapkan perasaannya, mereka langsung menghapus air matanya yang sedikit mengganggunya.
Bagimana bisa mengganggu, bukannya itu adalah air mata kebahagiaan? Ya, memang itu adalah air mata kebahagiaan bagi mereka semua.
Hanya saja mereka merupakan ketiga pria yang sangat menanamkan jiwa kewibawaan, jadi apa pun yang terjadi mereka berusaha mungkin agar tidak terlihat lemah didepan siapa pun.
Setelah selesai, mereka kembali keruangannya untuk mengerjaikan pekerjaan yang sedikit tertunda dan juga mereka harus mempersiapkan melakukan satu projek besar bersama perusahaan A.
...*...
...*...
Dirumah sakit besar yang ada di New York.
Sasya merasa sangat bangga kepada dirinya sendiri, sejauh ini dia telah berhasil menjadi seorang dokter yang hebat.
Terlepas dari itu, Sasya juga sangat bangga karena dia telah melewati semua proses pahit sehingga kebahagiaannya sebentar lagi akan menjemputnya.
Sasya perlahan berjalan menuju taman rumah sakit seperti biasanya, cuman tanpa disengaja Sasya melihat Ash duduk menyendiri dalam keadaan melamun.
Kemudian, Sasya melangkahkan kakinya mendekati Ash. Lalu dia duduk di samping Ash, tanpa mengalihkan pandangan Ash yang masih lurus kedepan.
Sasya menatap kearah layar ponsel Ash yang masih menyala. Dimana Sasya melihat foto Anna dan Ash terpampang jelas disana dalam keadaan tersenyum.
Dari sini Sasya bisa menyimpulkan kalau Ash sebenarnya sudah memiliki perasaan pada Anna, mungkin menurut Sasya adanya jarak yang telah menjadi penghalang bagi mereka.
"Apa kau sangat mencintai, Anna?" tanya Sasya.
"Ya, aku memang mencintainya. Ke ... Sa-sasya?" Ash terkejut begitu menoleh kearah sampingnya, wajah Sasya tersenyum menggodanya.
"Oh ... jadi, sahabatku ini sedang merindukan pujaan hatinya? Baiklah ... Bagaimana jika kita menghubungi dia, sekarang?" goda Sasya sambil menaik-naikkan alisnya.
"E-enggak! A-aku ti-tidak mau! La-lagian juga, paling dia sudah tertidur." sahut Ash yang terlihat begitu gugup.
__ADS_1
"Ya biarkan saja, jikalau pun memang dia benar-benar sedang tertidur. Tetapi dia tetap mengangkat ponselnya dengan notif namamu itu artinya kamu memang penting baginya, cuman jika tidak, artinya kamu tidak penting lagi." jawab Sasya, spontan.
"Bagaimana jika dia tidak mengangkatnya karena sedang tertidur pulas, lalu ponselnya disilent?" tanya Ash.
"Hem ... Kita coba saja dulu, kita lihat bagaimana reaksi dia ketika kamu menghubunginya. Lagian aku tahu kok, semenjak kita kembali pasti kalian jarang komunikasi, kan?" ujar Sasya.
"Ka-kamu ta-tahu dari si-siapa?" sahut Ash, sedikit terkejut.
"Tahu dari Anna, dia cerita sedikit tentangmu. Jadi aku yakin, jika ku menghubunginya pasti dia akan langsung menjawabnya." jawab Sasya penuh percaya diri sambil terus tersenyum.
"A-apa A-anna mengatakan bahwa, di-dia juga memiliki pe-perasaan yang sama padaku?" tanya Ash, kembali.
"Maybe ...."
"Udahlah, jangan banyak bertanya. Cepat hubungi dia, ayolah Ash ... Kau harus berjuang demi cintamu padanya, masa hanya karena jarak kalian menyerah sih ...."
"Lihatlah aku dan Alex, dia rela berkorban beberapa tahun lamanya menjauh dariku demi memperjuangkan cinta kita. Ditambah dia selalu berusaha mengejarku meskipun jarak kami sangatlah jauh. Jadi tunggu apa lagi, hem?"
Sasya terus berusaha memberikan saran pada Ash, bahwa dia harus lebih berjuang dengan cintanya. Apa lagi mereka terlihat sangat cocok, mungkin memang jarak yang menjadi penghalang.
Namun, selagi Ash niat untuk memperjuangkan cintanya maka semua itu tidak akan menjadi masalah bagi mereka.
Ash menatap Sasya sekilas, kembali menatap ponselnya mencari nomor Anna. Lalu dia mencoba menghubungi Anna menggunakan panggilan telepon biasa.
"Astaga, Ash!" geram Sasya sedikit kesal.
Ash segera mematikan sambungan ponselnya yang belum berdering, lalu Ash menatap Sasya begitu bingung.
"Ke-kenapa? A-ada yang salah?" ucap Ash, terkejut.
"Ada! Seharusnya kamu itu gunakan panggilan video, bukan panggilan biasa. Paham!" sahut Sasya.
"Tap--"
Belum juga Ash menyelesaikan ucapannya, Sasya segera memencet tombol video call.
Tak lama terlihat notif tulisan berdering, yang artinya sambung telepon sudah menyambung. Mereka hanya perlu menunggu beberapa menit, apakah Anna akan menjawabnya atau tidak.
Ash terlihat begitu gugup, gelisah dan juga detak jantungnya memompa cukup cepat. Baru kali ini Ash merasakan jatuh cinta setelah dia berusaha keras menghilangkan perasaan itu dari Sasya.
Namun, kali ini berbeda. Ash merasa jika dia benar-benar telah jatuh cinta sepenuhnya kepada Anna, berbeda ketika dia mencintai Sasya yang masih memikirkan antara persahabatan atau cintanya.
__ADS_1