
Setelah berbicara dengan Tuan Ferry kemudian Hana kembali memasuki kamarnya dan mendengar suara isak tangis Brian di dalam tidurnya.
“Hiks.. Hana, jangan tinggali aku” Brian berbicara seperti orang yang sedang mengigau.
Hana yang melihatnya merasa kasihan, bahkan kini Hana sudah berhasil berbaring di samping Brian sambil mengusap wajahnya Brian dengan sangat lembut.
Namun, di saat isak tangis Brian kini mulutnya seperti sedang mencari sesuatu. Hana yang sudah mulai paham kembali membuka 3 kancing baju atasnya dan langsung mengarahkan dotnya ke pada mulut Brian.
Brian langsung melahapnya dengan sangat kuat, bahkan isak tangisnya kini sudah tidak lagi terdengar. Sampai ketika Hana merasakan begitu mengantuk, matanya mulai perlahan menutup dan tertidur menyusul Brian dengan keadaan Brian yang masih menyusu.
Sore hari
Qisya yang sudah bangun dari tidur siangnya, membuat ia merindukan sang Bunda. Sampai ketika Qisya keluar dari kamarnya lalu berjalan menuju kamar Brian dan Hana.
Qisya sedikit berjinjit untuk mencapai gagang pintu lalu membukanya dengan perlahan. Qisya masuk ke dalam kamar dan tidak lupa menutup kembali pintunya.
“Ayah agi apa itu?” tanya Qisya sambil berjalan mendekati kasur.
Kemudian Qisya naik ke atas kasur dengan merangkak dan duduk sambil melihat Brian yang masih setia menyusu di dot kesukaannya.
“Ishh.., ishh., ishh.., Ayah cepelti dedek bayi saja menyucu cama Bunda” Qisya menggelengkan kepalanya menatap aneh sang Ayah.
Sampai seketika Hana mulai terbangun, lalu di saat ia sedang membuka matanya tiba-tiba saja Qisya sedikit berteriak sambil tersenyum sangat lebar.
“Bunda, Isa angen hehe..” Qisya langsung merangkak dan naik ke atas Hana sambil memeluk perut Hana.
“Sa-sayang kamu di-di sini sejak kapan?” tanya Hana dengan rasa gugupnya sambil melepaskan sesuatu yang menempel di mulut Brian.
Entah ada lem apa di dalam mulut Brian kini membuat Hana kesusahan untuk melepaskannya, bahkan semakin Hana coba untuk lepaskan Brian semakin kuat menghisap atau pun sesekali menyedotnya.
Qisya yang sedang asyik memeluk perut Hana kini menengok ke arah Brian yang lagi menyusu sambil mengerakkan bibirnya.
“Bunda, iyat Ayah deh.. hihi lucu ya, ceperti dedek bayi yang nyucu cama ibunya” Qisya tertawa.
“Astagfirullah Hana, kamu sudah membuat mata suci Qisya ternodai oleh tingkah suamimu ini” ucap Hana di dalam hati kecilnya.
“Bunda..” Qisya menatap mata Hana dengan sangat dalam.
“Ada apa sayang, hum” tanya Hana dengan sangat lembut sambil tersenyum dan mengusap pipi Qisya.
__ADS_1
“Isa ndak pelnah ceperti Ayah yang aya dedek bayi menyucu cama Bunda, emangna Bunda ada cucunya?” tanya Qisya dengan wajah polosnya.
“Eh, e-enggak ada sayang. Kan bunda belum punya anak, jadi belum ada air susunya” jawab Hana dengan nada gugupnya.
“Teyus alo ndak ada ail cucuna, napa Ayah nyucu aya gitu?” ucap Qisya dengan wajah herannya.
“Kata siapa, orang ini ada air susunya kok” saut Brian yang kembali menyusu.
“Ya ampun Mas Brian, malu itu ada Qisya loh. Eh, tunggu-tunggu. Ta-tadi Mas bilang apa? Ada air susunya? Kok bisa? Kan Hana belum punya anak Mas. Jangan mengada-ngada deh, Hana jadi bingung” ucap Hana.
“Ya sudah kalau tidak percaya, makannya aku suka habisnya enak kok” Brian berbicara sambil melanjutkan kembali menyusunya.
Hana yang kini masih bingung dengan pertanyaan-pertanyaan dalam dirinya membuat ia sedikit melamun. Qisya yang dari tadi terdiam menyaksikan Brian yang sedang menyusu membuat ia juga ingin merasakannya.
“Bunda, Isa boyeh ndak nyucu aya Ayah gitu. Alo ndak boyeh apapa kok” Qisya berbicara dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Entah kenapa Qisya benar-benar ingin sekali merasakan bagaimana rasanya menyusu yang langsung berasal dari sumbernya. Karena saat kecil Qisya hanya di beri susu asi dari wanita yang sudah dibayar dengan menggunakan botol dot bahkan terkadang digantikan oleh susu formula.
Hana yang mendengar celoteh Qisya membuat dirinya sedikit terkejut, tetapi di saat Hana melihat bola mata Qisya yang menggambarkan betapa sedihnya ia tidak bisa merasakan asi langsung dari sumbernya membuat Hana merasakan sangat kasihan.
Kemudian Hana menganggukkan kepalanya sambil berkata “Boleh kok sayang"
“Yak.. enggak!! Enggak boleh, ini cucu Ayah. Qisya kalau mau nyusu minta bikinin Oma saja sana” ucap Brian dengan nada kesalnya sambil kembali menyusu dan tangan satunya memegang dot lainnya sambil menutupinya.
Hana yang bukan ibu kandungnya bisa merasakan betapa sakitnya bahkan perihnya perasaan Qisya saat ini.
“Qisya mau nyusu kaya Ayah kan?” tanya Hana dengan sangat lembut yang hanya diangguki oleh Qisya.
“Ya sudah, sini Qisya tiduran di atas Bunda” Hana mencoba menyingkirkan tangan Brian yang berusaha menutupi dot lainnya.
“Sayangggg.., ini kan punya aku semua ishh” saut Brian dengan nada rengekkan.
“Mas tidak kasihan dengan Qisya, lihat dia. Dia sangat ingin merasakan ASI seorang ibu yang langsung dari sumbernya. Bahkan Mas Brian bilang sendiri kalau Hana sudah keluar air ASI nya kan, jadi izinkan Qisya ikut merasakannya kasihan dia”
Hana mencoba untuk membuat Brian mengerti dengan kondisi Qisya saat ini yang benar-benar ingin merasakan rasanya ASI.
“Ndak apa-apa Bunda, Isa anti minta cama Oma saja bikinin cucu hehe..” Qisya tertawa dengan menutupi kesedihannya yang membuat hati Hana semakin hancur.
Brian yang sudah sadar bahkan melihat Qisya yang wajahnya meneteskan air mata, membuat ia merasa sangat bersalah.
__ADS_1
“Qisya maafin Ayah ya, kalau Qisya mau nyusu sama Bunda. Sini bareng-bareng sama Ayah” ucap Brian sambil tersenyum.
Qisya yang mendengar izin dari sang Ayah membuat mukanya langsung berseri bahagia.
“Benelan Ayah, Isa boyeh nyucu aya Ayah?” tanya Qisya.
“Tapi enggak boleh di gigit ya, kasihan nanti Bundanya kesakitan loh. Kan Qisya sudah punya gigi” jawab Brian.
“Oteh ciap Ayah, makacih Ayah Bunda. Isa cayang kalian banyak-banyak” Qisya langsung mencium pipi Brian dan Hana secara bergantian.
Sampai akhirnya Hana membuka semua kancing bajunya dan terbukanya semua dot-dot yang begitu kenyal bahkan dengan pucuk yang sedikit ke merah mudaan. Qisya langsung menyusu di sebelah kanan sambil memegang pipi Hana sambil mengusapnya.
Saat Brian ingin kembali menyusu, Hana mencegahnya.
“Mas sudah cukup, dari tadi menyusu mulu memangnya tidak bosan apa?” tanya Hana sambil menutupi dot Brian.
“Aaaaa... sayanggg, mau cucu” rengek Brian dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Hana yang melihat Brian sepertinya akan menangis kembali kini membuat dirinya pasrah. Brian langsung tersenyum dengan memamerkan sederetan giginya yang putih, lalu kembali menyusu sambil mengusap pipi Qisya.
“Hana benar-benar bisa menjadi sosok Bunda yang sangat baik untuk Qisya, bahkan hari ini Qisya bisa merasakan apa itu ASI, dan bagaimana rasanya langsung dari Hana. Sehat-sehat sayangnya Ayah, semoga kalian berdua tidak akan pernah meninggalkan Ayah ya” ucap Brian di dalam hati kecilnya sambil menatap Qisya yang begitu menikmati ASI.
Hana yang menatap keduanya dengan sedikit menunduk membuat Hana sangat senang bahkan tersenyum.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai... Hai... Hai... 🤗🤗🤗
Apa kabar para pembaca setiaku? Aku harap kalian sehat selalu ☺️😊😇
Aku ingin kembali memberikan rekomendasi Novel nehh 🤭🤭🤭
Silahkan di jelajahi dan jangan lupa tinggalkan jejak yaa... 😁😆😆
BLURB :
Aisyah, seorang istri yang di jadikan pembantu di rumah suaminya sendiri. Bahkan dirinya harus menerima pernikahan suaminya dengan kekasihnya. Penghinaan kerap dia rasakan dari suami, ibu mertuanya, dan juga istri kedua suaminya. Aisyah hanya di jadikan istri yang tak di hargai oleh suaminya yang bernama Kenzi.
Namun pertemuannya dengan sang dewa penolong merubah takdirnya. Aisyah yang memiliki kulit tak terawat ( jelek ) dan penampilan kampungan berubah menjadi sosok wanita cantik dan memukau. Di tambah pertemuannya dengan orang masa lalunya yang membantu dirinya mewujudkan balas dendamnya.
__ADS_1
Yuk ikuti kisah Aisyah dalam merubah takdirnya dan membalaskan dendamnya atas perbuatan mantan suami, mantan madunya, dan keluarga mantan suaminya