
Sampai seketika di saat udah mulai tenang Alex dengan perlahan membuka mulutnya menggerakan bibirnya dengan sedikit gemetar, lalu Alex menjawab semua kesalah pahaman ini.
"Ya-ya.. a-aku memang mengatakannya seperti itu, tetapi bukan berarti aku ingin melakukan kejahatan. Aku berkata seperti itu karena aku mau Pinjai mencarikanku orang pintar agar aku bisa memperdalam ilmu dengan mempelajari agamamu"
"Dan aku juga mau mencari orang yang bisa membimbingku untuk bisa menolongku agar bisa masuk ke dalam agamamu. Bukan orang pintar yang model cenayang begitu!"
Alex menjelaskan dengan nada sedikit tersendat lantaran ia baru saja selesai menangis, tetapi apa yang di ucapkan oleh Alex masih bisa terdengar sangat jelas di telinga Sasya dan juga Pinjai.
"Ma-maafkan saya Tuan, sa-saya kira orang pintar yang Tuan masuk semacam cenayang. Tapi, jika orang pintar yang Tuan maksud seperti itu saya kurang mengerti Tuan. Cuman yang saya tahu jika Tuan mau berpindah agama Tuan harus belajar dari salah satu Ustadz yang benar-benar berpegang teguh pada agama" Ucap Pinjai dengan penuh keseriusan.
"Ustadz? Siapa itu? Dia orang biasa, orang pintar atau semacam cenayang?" Tanya Alex yang kini membuat mereka saling menatap satu sama lain dengan tatapan bingung dan aneh.
"Saya kurang tahu Tuan, saya hanya pernah dengar atau lihat sekilas saja. Tetapi bagaimananya saya kurang paham juga" Jawab Pinjai yang membuat Sasya tersenyum.
"Boleh aku yang memperjelas pertanyaanmu, siapa Ustadz dan bagaimana cara kamu agar bisa memasuki agamaku?" Tutur Sasya dengan lembut. Lalu Alex serta Pinjai saling menganggukkan kepala dengan perlahan.
"Jadi begini, apa yang di katakan Tuan Pinjai memang benar jika Tuan Alex ingin berpindah agama Tuan bisa menemui salah satu Ustadz atau Kyai yang memang benar-benar faseh dalam mengusai agama Islam. Karena banyak sebagian yang hanya mengakui gelarnya saja tetapi kelakuan tidak mencerminkan layaknya seorang guru"
"Kalau memang Tuan benar-benar sudah bertekat untuk menguasai agama Islam, lebih baik Tuan Alex pergilah ke sebuah pesantren terkenal di Indonesia. Lalu Tuan coba berinteraksi dengan Kyai yang ada di sana. Sehingga Tuan bisa memulai semuanya dari nol dengan bantuan Kyai tersebut"
"Apa lagi Tuan Alex bisa belajar di pesantren itu maka niscaya Tuan akan bisa secepatnya menguasai agama yang baru Tuan anut. Tapi, ingat. Yang namanya belajar itu tidak ada yang mudah semudah saat Tuan membalikan telapak tangan"
__ADS_1
"Bahkan berpindah agama tidak seinstan yang Tuan ucapkan karena akan ada beberapa tahap atau proses, begitu juga ketika Tuan sudah menganut agama tersebut Tuan juga harus menguasainya dengan sangat baik. Perlahan demi perlahan Tuan harus bisa melewati ujian yang ada, sampai dimana Tuan akan mengerti bahwa menikmati proses dari nol itu jauh lebih indah"
"Bahkan sampai detik ini pun aku masih harus belajar bagaimana aku bisa menguasai agamaku sendiri, ya walaupun aku juga masih banyak kekurangan tetapi aku percaya kalau tidak ada manusia yang sempurna. Karena kesempurnaan hanya pemilik Alam semesta dan seisinya. Jadi sampai sini apakah Tuan sudah Paham?"
Sasya menjelaskan panjang kali lebar dengan perlahan agar membuat Alex bisa memahami semua dan tidak salah memilih seseorang untuk di jadikan guru.
"Baiklah terima kasih atas informasinya, doakan aku semoga aku bisa melewati semuanya dengan baik. Dan ketika aku sudah menjadi orang yang baik, apakah kamu akan membuka hati untukku?" Tanya Alex dengan sorotan mata yang mendalam.
"Eeee... a-anu.. eee.. i-itu, aduhhh.. a-apa ya.." Sahut Sasya dengan semua kegrogiannya dan juga kesalah tingkahannya yang mana malah membuat wajahnya merah merona.
"Sudahlah lupakan saya, aku cuman bercanda kok. Lagian aku memang ingin berubah lebih baik dari hatiku, jika aku bisa mendapatkanmu maka itu adalah bonus dari usaha kerja kerasku. Tetapi jika tidak, mungkin Alam semesta belum mendukung kita" Ucap Alex sambil tersenyum.
Pinjai hanya bisa melirik Alex dan Sasya secara bergantian, hingga Pinjai merasaan bagaimana perasaan Alex saat ini. Mungkin memang dia terlihat seperti orang yang sudah pasrah akan hubungannya, tetapi di dalam hatinya Pinjai sangat tahu jika Alex benar-benar berharap agar Sasya bisa jatuh ke dalam pelukannya.
"Ada apa? Kenapa wajahmu gelisah seperti itu? Sudah aku katakan bukan, jangan dipikirkan perkataanku tadi aku cuman bercanda" Ujar Alex dengan rasa bersalah karena sudah membuat Sasya menjadi tidak tenang.
"Akhh.. ti-tidak kok, aku hanya sedang memikirkan bagaimana caranya aku meminta izin padamu. Ya, itu meminta izin. Dari tadi aku kepikiran soal itu, jadi maaf ya jika aku terlihat gelisah heheh.." Jawab Sasya.
Alex yang melihat itu pun langsung menunjukkan wajah bingung dan juga penasarannya dengan mengerutkan dahinya saat menatal Sasya.
"Meminta izin? Izin apa? Jangan bilang kalau kau ingin menikah dengan pria lain? Huaaa.. e-enggak beres. Pokonya enggak bisa di biarin ini mah harus di cacah dulu biar tahu rasa tuh orang. Berani-beraninya mengambil apa yang sudah menjadi milikku" Celetuk Alex tanpa di sengaja.
__ADS_1
Pinjai yang mendengar ucapan Alex langsung menahan tawanya ketika melihat wajah Alex begitu lucu, bagaikan seekor udang rebus.
Namun Sasya malah memukul keningnya lantaran Alex bisa mempunyai pikiran sejauh itu. Padahal jika boleh berharap sih, Sasya maunya menikah dengan Alex. Tapi jika tidak ya sudah, mungkin memang takdir tak merestuinya.
"Astaga, Tuan Alex ngomong apaan sih. Aku masih muda dan juga gelarku saja belum resmi menjadi dokter bagaimana aku akan menikah jika semua cita-citaku belum tercapai? Ckkk.. menyebalkan!"
"Lagian juga jika aku mau menikah itu izinnya sama Ayah dan Bunda bukan Tuan Alex. Paham!! Di sini aku meminta izin karena besok pagi aku akan kembali ke rumah untuk menemui semua keluargaku, karena memang itu tujuanku datang ke sini. Tapi, tenang saja jam 7 malam aku sudah kembali untuk menemanimu di sini" Jelas Sasya.
Alex terdiam sejenak mendengar ucapan Sasya yang mana membuat hatinya sedikit sakit, tetapi apa boleh buat memang itu tujuan Sasya pulang. Jadi, Alex tidak boleh egois sehingga Sasya tidak akan berpaling darinya.
"Baiklah terserah kamu saja, jika tidak kembali ke sini juga tidak apa-apa kok. Aku masih ada Pinjai yang akan menjagaku, kemungkinan setelah sembuh aku akan segera pergi ke Indonesia untuk mencari Kyai itu supaya bisa membantuku untuk memperbaiki diri jauh lebih baik" Ucap Alex dengan tersenyum kecut.
"Oh jadi kau sudah tidak membutuhkan aku lagi? Baiklah, jika begitu aku tidak akan kembali ke sini. Jadi, biar Tuan Pinjai saja yang menjagamu hingga menyuapinimu sampai makanan habis tidak tersisa. Terima kasih atas pengertiannya!"
Sasya berbicara dengan nada penuh penekanan di setiap kalimatnya, sampai Alex yang mendengarnya tersenyum lebar hingga terkekeh bersamaan dengan Pinjai.
Wajah Sasya yang sedang mengambek memang terlihat begitu lucu hingga rasanya Alex ingin kebali mencium bibir yang dahulu pernah membuatnya kecanduan. Jika saja agama mereka sama mungkin Alex langsung menarik Sasya dan menciumnya dengan ganas.
Cuman sayangnya agama Alex jauh lebih bebas dari agama yang Sasya anut, jadi Alex selalu menjaga jarak walaupun ingin sekali langsung menerkam gadis kecil yang kini sedang memanyunkan bibirnya dan melipat kedua tangannya di depan dada.
Hingga akhirnya Alex berusaha merayu Sasya yang mana Sasya pun kembali tersenyum dan tertawa kecil saat melihat Alex terus menggodanya dengan lelucun yang banyol. Di luar dugaan Pinjai, Tuan Alex yang di kenal tidak pernah ngebanyol kini benar-benar berbeda.
__ADS_1
Ternyata memang benar yang di katakan pepatah, jika cinta bisa merubah segalanya. Dari yang tidak mungkin menjadi mungkin, dan dari yang tidak bisa menjadi bisa.