Gairah Duda Perjaka

Gairah Duda Perjaka
Menolong Sang Ibu Yang Melahirkan


__ADS_3

Di saat perjalanan pulang, Brian melihat seorang ibu-ibu berdiri di pinggir jalan dengan keadaan hamil besar.


Awalnya Brian ingin melewatinya, tetapi Brian melihat seperti ada yang aneh dengan keadaan ibu-ibu itu lalu memberhentikan mobilnya.


“Ada apa dengan ibu itu? Kenapa seperti orang yang sedang kesakitan” tanya Brian di dalam mobilnya.


“Bahkan dari tadi dia selalu memegang perutnya yang besar itu? Apa dia kebanyakan banyak jadi perutnya buncit seperti itu? Atau dia mengalami sakit parah sampai perutnya bisa sebesar itu” sambung Brian dengan wajah bingungnya.


Entah kenapa hanya ada itu yang ada di dalam pikiran Brian saat ini, padahal jelas-jelas itu sedang hamil besar bisa-bisanya Brian berpikir seperti itu ya.


Sampai akhirnya Brian mencoba untuk turun dari mobilnya dan mendekati sang ibu hamil.


“Aaaa.. pe-perutku sakit” teriak sang ibu dengan berduduk di rerumputan sambil memegang perutnya.


“Ada apa, Bu? Apa ada yang bisa saya bantu?” tanya Brian saat melihat sang ibu seperti meringis kesakitan.


“Tu-tuan bantu saya, perut saya sakit banget aghh..” ucap sang ibu sambil memegangi perutnya.


“Makannya Bu, kalo makan ingat orang jangan semuanya dihabiskan sendiri. Jadi sakitkan perutnya” celetuk Brian malah membuat sang ibu terkejut.


“Siapa yang kebanyakan makan sih, justru saya kekurangan makan Tuan” ucap sang ibu dengan nada kesal dan mencoba menahan rasa sakitnya.


“Lah terus itu kenapa perutnya besar begitu? Atau jangan-jangan ibu punya penyakit dalam ya?” saut Brian dengan muka bingungnya.


“Aghh.. i-ini itu hamil bodoh, apa Tuan tidak bisa membedakan antara kekenyangan, penyakit dalam dan hamil hah” teriak sang ibu dengan sangat kesal.


“Oh hamil” ucap Brian dengan muka datar.


Sang ibu terus saja meringis kesakitan ditambah lagi melihat Brian yang seperti orang bodoh malah membuat dirinya emosi.


Brian masih berdiam diri melihat sang ibu meringis kesakitan dengan tampang polosnya yang benar-benar malah membuat sang ibu semakin geram.


Bagaimana tidak emosi, orang Brian berdiam diri dengan wajah tanpa dosa sedangkan sang ibu meringis merasakan kesakitan.


“Aghh.. wahai anak muda tolonglah cepat, aku sudah tidak kuat lagi ini” ucap sang ibu dengan darah dan air ketuban yang sudah pecah.


“Lah malah diam lagi, astaga.. cepatlah anakku akan segera lahir ini, dasar pria bodoh!! Kenapa malah diam saja sih” sambung sang ibu dengan nada kesal.


“Ya.. kenapa tidak bilang dari tadi sih Bu, jika ingin melahirkan” teriak Brian dengan nada cemas dan langsung menggendong sang ibu dan membawanya ke dalam mobil.


“Huh.., huh... aghh..” teriakan sang ibu yang mulai mengejan di dalam mobil sambil memegang pundak Brian.


“Ouch.. sakit woi, dikata pundak saya ini spons apa main remes saja” ucap Brian sambil menahan rasa sakit dan fokus mengemudikan laju mobilnya.


“Huh, huh.. arghh..” sang ibu kembali berteriak dengan meremas paha atas Brian.

__ADS_1


“Aaa.. Bu, jangan diremas dong nanti adik saya kena bagaimana? Menang banyak dong” ucap Brian dengan nada kesal.


“Jangan berisik saya sudah tidak kuat lagi cepat.. aghh..” jawab sang ibu dengan meremas tangan Brian.


“Sabar Brian sabar, ini ibu-ibu sedang butuh pertolongan jadi harus mengalah demi anaknya yang sudah ingin melihat dunia” celutuk Brian di dalam hati.


*


*


*


*


Di rumah sakit terdekat


Brian sedang menunggu sang ibu di depan ruangan operasi dengan perasaan yang sangat cemas.


“Aduh.. ini kenapa sih kok aku jadi cemas begini ya, padahal suami bukan anak bukan bahkan saudara juga bukan” celoteh Brian di dalam hati sambil mondar-mandir di depan ruangan.


“Kenapa lama sekali sih, bagaimana nasib ibu dan anaknya itu ya? Semoga saja keduanya bisa selamat dan sehat, amin..” ucap Brian di dalam hati.


“Ya ampun, kenapa aku berasa seperti suaminya yang sedang menunggu kelahiran sang anak begini ya. Apa ini yang di rasakan setiap suami saat menunggu sang istri melahirkan?” tanya Brian di dalam hati.


Tak lama pintu ruang operasi pun terbuka, dan Brian langsung berlari mendekati sang dokter.


“Sabar Tuan, lebih baik Tuan tarik nafas dulu buat menetralkan rasa khawatir berlebihan seperti ini” jawab sang dokter sambil menasihati Brian.


Brian langsung mengambil nafas secara perlahan agar menetralkan rasa cemasnya itu, layaknya seorang suami yang sedang menunggu sang istri.


“Bagaimana Tuan, apa sudah lebih baik?” tanya sang dokter dan diangguki oleh Brian.


“Sudah dok, lalu bagaimana keadaan mereka di dalam?” tanya Brian dengan muka penasaran.


“Alhamdulillah Tuan, bayinya berhasil kita selamatkan dan berjenis kelamin perempuan bahkan terlihat sangat cantik tanpa kekurangan satu apa pun. Tetapi sang ibu masih dalam kondisi kritis” ucap sang dokter.


“Alhamdulillah, Apa ibunya akan baik-baik saja dok?” saut Brian.


“Insyaallah Tuan, kita berdoa saja untuk sang ibu agar bisa bertahan demi sang anak” jawab sang dokter dengan senyum mengembang.


Tiba-tiba saja sang suster keluar dengan sangat terburu-buru.


“Dok, dok keadaan pasien semakin kritis. Bagaimana ini dok?” ucap sang suster dengan nada paniknya.


“Tenang dulu sus” jawab sang dokter.

__ADS_1


“Tuan maaf, saya harus segera melihat kondisi pasien lebih dulu. Permisi..” pamit sang dokter yang kembali masuk ke dalam.


Brian yang mendengar dan melihat sang suster sangat panik seperti itu malah membuat dirinya merasakan rasa bersalah.


“Aghh.. kenapa aku bodoh sekali sih” gerutu Brian sambil menjambak rambutnya.


“Bagaimana bisa aku tidak tahu jika ibu itu ingin melahirkan, coba saja aku membawanya tepat waktu mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini” celetuk Brian yang terus menerus menyalahkan dirinya.


Sang dokter dan suster di dalam sedang berjuang untuk menyelamatkan nyawa sang ibu dengan segala upaya.


Brian yang benar-benar dilanda kepanikan ini membuat dirinya tidak bisa duduk dengan tenang, bahkan ini sudah yang ke berapa kalinya dia berjalan bolak-balik sampai membuat orang yang melewatinya merasakan kasihan.


Karena mereka berpikir bahwa Brian lagi menunggu sang istri yang sedang berjuang demi melahirkan anaknya.


Sampai akhirnya sang dokter kembali keluar dari ruang operasi.


“Maaf Tuan, pasien ingin bertemu dengan anda” ucap sang dokter sambil menatap Brian yang berjalan mondar-mandir.


Brian yang mendengar suara sang dokter memanggil kini langsung masuk ke ruangan bersama sang dokter di belakangnya.


Brian perlahan mendekati sang ibu yang terbaring lemas di bangkar penuh dengan alat-alat yang terpasang.


“Bu, maaf Brian terlambat membawa ibu kesini hiks..” Brian menatap sang ibu dengan air mata yang menetes.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hai para leaders 🤗


Perkenalkan ini adalah karya novel ke-2 aku loh 🤩


Semoga kalian menyukainya ya 🤝


Dukung othor terus dengan cara berikut :


Like 👍


Komen 📨


Favorite ❤️


Rate 🌟


Dan tidak lupa selipkan hadiahnya ya 😍🙏


Bunga, kopi atau sebagainya pun tak apa kok, malah lebih bagus lagi pundi-pundi receh yang berterbangan di karyaku ini hihi 😆😜

__ADS_1


Terimakasih 🙏🙏


Papay 🤗🤗


__ADS_2