
Lukas yang tidak mau kehilangan kesempatan, segera mengangkatnya ponselnya secara cepat. Wajahnya mulai memerah dan menjawab telpon Key, dengan suara sedikit terbata-bata.
...*...
...*...
Di dalam kamar Syasya dan Alex
Entah kenapa rasanya hari ini Sasya kesal sekali, ketika melihat Lily bercanda berlebihan seperti itu.
Bagi semuanya itu bukan suatu candaan seperti biasa. Melainkan pertanyaan yang identik dengan keseriusan.
Ya, walaupun terkesan meledek Lukas. Tetapi tetap saja, jika tujuan Lily berbicara seperti itu malah membuat Ayah Brian serta Lukas sedikit celaka.
Sasya yang sudah sangat kesal, langsung duduk di tepi kasur dalam keadaan wajah cemberut.
Tak lama pintu kamar mereka sedikit terbuka, bersamaan masuknya Alex sambil mengukirkan senyuman.
Alex tahu, saat ini pasti mood Sasya masih tidak bagus. Jadi sebisa mungkin Alex harus kembali membuatnya tersenyum, bagaimana pun caranya.
"Assalammualaikum, istriku yang cantik. Ada apa ini? Aduh, aduh, aduh ... Kok wajahnya cemberut begitu. Kenapa, Sayang?"
Alex berjalan, kemudian duduk di sebelah istrinya sambil merayunya. Hanya saja Sasya malah bergeser dan sedikit membelakanginya.
"Jangan dekat-dekat! Aku lagi kesal!" sahut Sasya, sewot.
"Oh, ternyata istriku lagi kesal. Padahal tadinya aku mau mengajakmu kesuatu tempat yang sangat cantik, tapi pas tahu kamu begini. Aku jadi tidak jadi, mungkin besok aku cancel aja deh."
Alex berpura-pura cemberut, nada suaranya pun dibuat sesedih mungkin. Sampai akhirnya Sasya langsung menatap suaminya dan memeluknya, hingga merengek bagaikan anak bayi.
"Huaaa.. E-enggak, a-aku enggak kesal kok, Mas. Janji! Tapi jangan dicancel dong, masa mau ajak jalan-jalan istrinya setengah-setengah sih. Entar anak kita setengah mau?"
Ucapan Sasya mampu membuat Alex sedikit kesal dan langsung melepas pelukan istrinya, lalu menyatukan bibirnya untuk beberapa detik lamanya.
Setelah selesai Alex melepaskan bibirnya sambil berkata. "Itu hukuman untukmu karena kamu sudah berbicara sembarangan, ingat! Aku enggak suka kamu berbicara seperti ini lagi."
"Ma-maaf, Mas. Ta-tapi enak hehe ... Mau lagi boleh?" Sasya cengengesan, memonyongkan bibirnya bagaikan seekor Soang.
Alex hanya bisa menggelengkan kepalanya, saat melihat tingkah istrinya yang selalu terlihat menggemaskan.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama, Alex menyatukan bibirnya kembali dengan istrinya meskipun hanya beberapa menit saja.
Kemudian Sasya memeluk Alex begitu erat sambil mengucapkan. "Terima kasih, Mas. Sudah mau jadi suami yang terbaik buat aku. Terima kasih juga Mas sudah mau sabar menghadapi sifat manjaku ini."
"Aku akan selalu berusaha menjadi yang terbaik untuk keluargaku dan juga menjadi seorang suami yang akan selalu membuat istrinya bahagia." ucap Alex memeluk Sasya dan mencium pucuk kepalanya.
"Sayang Mas Alex banyak-banyak, muach ...." Sasya mencium bibir Alex sekilas, ketika wajah suaminya sedikit menunduk menatapnya.
"Hihi, kamu kenapa Sayang? Kok hari ini sifatnya aneh, hem?" tanya Alex, lembut.
Sasya melepas pelukannya terus menatap Alex dan menggelengkan kepalanya. "Aku juga enggak tahu, Mas. Tadi ketika melihat tingkah Lily, rasanya aku sangat kesal. Cuman sekarang sudah tidak lagi, hehe ...."
"Hem, dasar. Ya sudah bagaimana jika kita ke kamar Lily, kamu harus minta maaf sama dia. Kasihan Lily, tadi yang aku lihat dia sangat sedih saat kamu membentaknya. Bagimana, mau kan?" ucap Alex.
"Mau, Mas. Ayo kita kesana. Tapi, aku ambil cake dulu di dapur ya buat dia. Pasti dia akan luluh, tahu sendiri Lily itu hampir sama denganku kalau sudah mengambek hehe ...." sahut Sasya.
"Baiklah, ayo aku temenin." ucap Ale berdiri dihadapan istrinya, lalu mengurkan tangannya dan segera dibalas oleh Sasya sambil tersenyum.
Mereka pun keluar kamar sedikit senyuman, kemudian berjalan kearah dapur. Ayah Brian yang melihat tingkah mereka malah dibuat sangat bingung.
"Perasaan tadi anak itu marah-marah kek singa kelaparan, sekarang malah mesra-mesraan sama suaminya? Benar-benar aneh ...." gumam Ayah Brian, kembali menonton film.
Mereka mengetuk pintu kamar Lily perlahan, tak lama Bunda Hana membukakan pintu tersebut. Bersamaan dengan itu, Lily menoleh kearah sang Kakak yang kini berjalan kearahnya penuh senyuman.
"Assalammualaikum, adikku yang cantik. Ini Kakak bawakan cake, manis loh. Mau?" Sasya duduk di sebelah Lily sambil memberikan piring tersebut kepadanya.
"Terima kasih, Kak." jawab Lily sedikit senyum, lalu menaruh piring itu keatas meja kecil yang ada disampingnya.
"Dek, kamu masih marah sama Kakak?" ucap Sasya menggenggam tangan Lily.
"Enggak kok, Kak. Lily cuman sedikit kesel aja, karena niat Lily awalnya mau bercanda ngeledekin Bang Lukas. Terus Kakak malah marahin Lily sampai segitunya." ucap Lily sedih, sedikit menunduk.
"Maafin Kakak ya, Dek. Kakak tahu Kakak berlebihan, Kakak juga enggak tahu kenapa, setiap ngeliat kejadian tadi itu seperti Kakak kaya enggak suka aja keluarga Kakak sampai kenapa-kenapa gitu."
Sasya mencoba menjelaskan kepada Lily secara perlahan, sedangkan Bunda Hana sama Alex saling menatap satu sama lain.
Mereka tersenyum melihat mereka sudah berbaikan. Dimana Sasya bersama Lily saling berpelukan satu sama lain.
Lily dan Sasya sesekali terkekeh kecil saat sang Kakak menyuapini adiknya, dengan semua kejahilannya. Begitu juga Lily yang kejahilannya sama persis sama Saysa.
__ADS_1
Setelah dirasa suasana mulai kembali hangat, Bunda Hana segera berpamitan untuk menemani suaminya yang sedang sendirian.
Setelah selesai bercanda gurai, Sasya dan Alex kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Tidak lupa Lily berterima kasih kepada mereka berdua karena sudah mengembalikan moodnya.
...*...
...*...
Di dalam kamar, Sasya bergegas duduk diatas ranjang sambil memainkan ponselnya. Sedangkan Alex pergi ke kamar mandi sebentar.
Setelah selesai, kemudian Alex kembali menaiki ranjangnya dan merebahkan kepalanya diatas paha istrinya.
"Ada apa, Mas?" tanya Sasya ketika melihat Alex mengelus perutnya.
"Hehe, enggak ada apa-apa Sayang. Aku cuman pengen mengelusnya aja, boleh kan?" ucap Alex. Sasya hanya mengangguknya kepalanya dan kembali menatap ponselnya.
"Kamu lagi ngapain, Sayang?" imbuh Alex yang terus mengelus perut Sasya dari luar.
"Ini loh, Mas. Aku lagi lihat jadwal pekerjaan, sepertinya untuk beberapa hari kedepan jadwalku mulai berkurang, Mas." ucap Sasya sedikit sedih.
"Kok bisa? Memangnya ada masalah apa dirumah sakit?" tanya Alex, kembali. Tangannya sudah mulai masuk piyama istrinya untuk leluasa mengelus perutnya.
"Aku kurang paham, Mas. Tapi aku dapat informasi, sepertinya rumah sakit ini, lagi ada masalah. Cepat atau lambat mungkin akan ditutup." ucap Sasya, berhasil membuat tangan Alex yang mengelus perut Sasya langsung terhenti.
Alex terkejut dengan ucapan Sasya, dia tidak menyangka bahwa istrinya harus kehilangan pekerjaan hanya karena suatu keadaan.
"Ka-kamu se-serius, Sayang?" ucap Alex, masih dalam keadaan syok.
"Ya begitu, Mas. Cuman gapapa, dengan begini kan aku bisa ikut sama kamu tinggal di Indonesia bersama yang lain juga. Apa lagi aku sudah lama banget tidak bertemu mereka semua." ucap Sasya tersenyum menatap Alex sambil mengelus kepalanya.
"Apa kamu tidak sedih jika harus menganggur di Indonesia?" ujar Alex, merasa tidak tega melihat istrinya yang terlihat seperti baik-baik saja.
"Jika memang sudah rezeki pasti aku bisa bekerja lagi, Mas. Apa lagi kita punya Kak Pinjai dan Kak Joko, pasti mereka bisa mencarikan bekerjaan untukku sebagai dokter,"
"Cuman masalahnya, apa kamu siap jika memiliki istri yang harus mengabdi pada pekerjaannya dan menolong semua orang yang sangat membutuhkan jasanya."
Sasya tersenyum terus melontarkan pertanyaan, yang mampu membuat Alex sedikit terdiam. Tak lama dari itu, Alex pun menjawab bahwa dia tidak ada masalah sama semuanya.
Bagi Alex kebahagiaan istrinya adalah hal yang paling utama untuknya. Yang terpenting Sasya bisa membagi waktunya antara pekerjaan dan juga keluarga.
__ADS_1
Mereka berdua benar-benar merasa beruntung, karena bisa dipertemukan dan dijodohkan oleh pasangan yang saling mengerti satu sama lain. Meskipun terkadang masih suka ada cekcok, tetapi tidak membuat cinta mereka memudar.