Gairah Duda Perjaka

Gairah Duda Perjaka
Qisya Berada Ditempat Terindah


__ADS_3

Di saat Brian dan Hana menangisi kepergian Qisya, kini Qisya malah enak-enakan berada di tempat yang paling indah.


"Wah... anyak cekali anaman ini" Qisya yang melihat berbagai macam tanaman kita membuat dirinya sangat bahagia.


Qisya berjalan dengan langkah senang sesekali melompat-lompat dengan sangat bahagia.


Qisya melihat berbagai macam hewan, tumbuhan bahkan terdapat ayunan di bawah pohon yang sangt besar.


Qisya mendekati ayunan tersebut dan menaikinya hingga mengayunkan badannya ke dapan serta ke belakang secara bergantian yang membuat ayunan semakin lama semakin bergerak kencang.


"Haha.. yey Isa cenang deh ada di cini, mekipun ndak ada bunda cama ayah. Api Isa bahagia. Meleka cemua ndak cayang cama Isa. Meleka anya cayang diri meleka cendili, cama cepelti apa ya waktu ntuh Oma pelnah bilang namana apa cih"


Qisya mengayunkan ayunannya sambil berusaha memikirkan sesuatu dan sedetik kemudian Qisya berhasil mengingat perkataan Omanya.


"Aha.. namana egois, belalti bunda cama ayah egois dong. Ndak mau alah ama Isa yang acih kecil, tan kata Oma kita halus ngalah cama yang lebih kecil dan ndak boleh egois, teyus uga ndak boyeh mentingin dili cendili"


Qisya terus saja mengoceh sambil mengingat perkataan-perkataan Omanya yang selalu menasehati Qisya supaya tidak menjadi anak yang egois.


"Ah.. Isa ndak mau ingatΒ² bunda cama ayah agi. Isa kecewa cama meleka cemua. Meleka egois ndak mau mikilin Isa, Isa mau bebas aja haha.."


Qisya bersenang-senang sambil tertawa mengayunkan ayunannya namun mata Qisya terhenti saat melihat seorang wanita yang lagi duduk di pinggir kolam.


Qisya menyudahkan ayunanya kemudian turun dan berjalan mendekati wanita tersebut yang lagi asyik bermain dengan air terjun yang berwarna putih seperti susu.


"Wah.. ada kolam cucu di cini, huaa.. Isa makin betah deh di cini enak adem ndak panas, teyus ada anyak cucu uga cama anyak pohon ndak kaya di Jakalta"


Qisya mendekati kolam susu dan duduk di pinggir kolam sambil memainkan airnya.


Namun, mata Qisya menatap wanita tersebut dengan perasaan aneh.


"Hai.. sayang" seorang wanita itu melambaikan tangannya dengan menatap Qisya sambil tersenyum lebar.


"Ciapa ya? Emangna kita pelna etemu?" tanya Qisya dengan wajah bingungnya.


"Qisya sayang kenapa bisa ada di sini, hem.." seorang wanita mendekati Qisya dan duduk di samping Qisya sambil tangannya mengusap kepala Qisya dengan sangat lembut.


"Isa ndak tahu, pokona Isa ndak mau ke Jakalta agih. Bunda cama ayah egois ndak mikilin Isa, meleka ceneng Isa ada di cini jadi meleka tidak akan menikah"

__ADS_1


Qisya mengoceh meluapkan rasa kecewanya dengan bermain air susu di kolam yang sangat megah dan indah.


"Qisya pernah ketemu dengan ibu kandung Qisya belum?" tanya seseorang sambil tersenyum.


"Beyum, Isa mau dong ketemu cama ibu Isa. Isa ndak mau cama ayah agi, Isa benci cama ayah hiks.."


Qisya mulai menangis di pelukan wanita tersebut, sesekali wanita itu mencium pucuk kepala Qisya dengan penuh kasih sayang.


Kemudian wanita tersebut melepaskan pelukan Qisya dan menaup wajah mungil Qisya untuk menatap matanya.


"Qisya sayang, wanita di depanmu ini adalah ibu kandungmu. Bagaimana seneng kan bisa ketemu dengan ibu di sini?" tanya wanita tersebut dengan senyuman yang sangat mengembang.


"Benelan ini ibu Isa? Wah.. antik banget, a.. sayang ibu" Qisya berteriak dan kembali memeluk wanita tersebut dengan sangat erat.


"Nah,.. sekarang kan Qisya sudah bisa bertemu dengan ibu, tapi Qisya harus kembali dengan ayah Qisya. Kasihan loh, ayah dan bunda Qisya di sana menangis melihat Qisya pergi dari mereka"


Wanita tersebut mencoba untuk menasehati Qisya untuk membuat Qisya mengerti.


"Bialin aja, meleka ndak cayang Isa ibu. Meleka beldua egois. Maca Isa mau unya kelualga yang utuh meleka malah-malah cih. Kan Isa uga mau melacakan bahagia kaya anak kecil lainnya"


"Qisya sayang dengerin ibu ya, Qisya kan anak baik jadi tidak boleh punya dendam seperti itu. Ayah Qisya sangat sayang loh sama Qisya, bahkan ibu menitipkan Qisya kepada ayah meski pun ibu belum pernah mengenal ayah Qisya, tapi ibu percaya ayah Qisya adalah orang yang baik" ucap wanita tersebut.


"Alo ayah baik, enapa ayah ndak mau nikahi bunda Ana yang uga baik. Tan meleka cama-cama baik, Api enapa meleka ndak mau?" tanya Qisya dengan meminta jawaban dari wanita tersebut.


"Mereka hanya terbawa keegoisan yang sebenarnya mereka sudah mempunyai rasa satu sama lain, tetapi karena ayahmu masih fokus dengan masa lalunya. Lalu, sedangkan bundamu belum mau menikah diusianya itu membuat mereka menolak perjodohan kedua orang tuanya"


"Tapi asal Qisya tahu saja, mereka sudah berhasil menurunkan keegoisannya demi Qisya loh. Bahkan mereka sebentar lagi mau menikah supaya Qisya bisa memiliki keluarga yang utuh, eh Qisya malah pergi ninggalin mereka. Jadinya mereka sedih deh"


Wanita tersebut mencoba menjelaskan semuanya kepada Qisya supaya ia tidak membenci keluarga barunya itu.


"Ibu benelan tan, ndak boongin Isa? Bunda cama ayah benelan mau nikah, bu?" tanya Qisya dengan wajah bingun campur penasaran yang malah membuat wanita tersebut tertawa kecil sambil mencubit pipi Qisya yang gembul.


"Ouch.. atit tahu, ibu. Isa kan anya, enapa ndak di jawab cih" Qisya mengusap pipinya dengan wajah yang dibuat marah namun malah terlihat sangat menggemaskan di mata wanita tersebut.


"Ibu enggak mungkin berbohong sayang, kan ibu selalu melihat Qisya dari sini. Makannya ibu bisa tahu jika Qisya adalah anak baik, jadi tidak boleh menyimpan dendam untuk ayah dan bunda. Harusnya Qisya membuat mereka bersatu, bukannya Qisya malah pergi meninggalkan mereka dengan kesedihan seperti itu. Lihatlah ke sana betapa hancurnya mereka saat mengetahui Qisya sudah tidak ada"


Wanita tersebut menunjuk ke arah atas langit yang memperlihatkan adegan Brian dan Hana yang sedang menangis memeluk serta menciumi Qisya.

__ADS_1


Qisya yang melihat itu pun ikut menangis meskipun ia belum tahu kenapa dia bisa ada 2 seperti itu. Padahal Qisya tidak memiliki sodara kembar, lalu kenapa tubuhnya bisa menjadi dua?.


"Huaa.. hiks.. bunda, ayah Isa kangen hiks.." ucap Qisya sambil menangi kejar melihat Brian dan Hana dari atas langit.


"Jika Qisya mau memaafkan mereka, ibu bisa mengantarkan Qisya pulang ke sana. Tapi Qisya harus janji sama ibu untuk membantu mereka supaya bisa terus bersatu, gimana?" tanya wanita tersebut sambil menatap Qisya.


Qisya hanya berdiam diri sambil terus menatap ke arah langit. Qisya benar-benar kangen dengan Brian sama Hana, namun Qisya juga masih kecewa dengan sikap mereka yang egois.


Apakah Qisya akan kembali kepada Brian dan Hana? Ataukah Qisya harus bersama ibunya untuk selamanya?


Nahloh.. bimbang kan πŸ˜‚πŸ˜œ


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hai para leaders πŸ€—


Perkenalkan ini adalah karya novel ke-2 aku loh 🀩


Semoga kalian menyukainya ya 🀝


Dukung othor terus dengan cara berikut :


Like πŸ‘


Komen πŸ“¨


Favorite ❀️


Rate 🌟


Dan tidak lupa selipkan hadiahnya ya πŸ˜πŸ™


Bunga, kopi atau sebagainya pun tak apa kok, malah lebih bagus lagi pundi-pundi receh yang berterbangan di karyaku ini hihi πŸ˜†πŸ˜œ


Terimakasih πŸ™πŸ™


Papay πŸ€—πŸ€—

__ADS_1


__ADS_2