
Kemudian mereka berdua pun pergi keluar penginapan. Bisma yang berjalan sambil memasukkan tangannya ke dalam kedua saku celana pendeknya, sedangkan Qisya berjalan sambil selalu tersenyum serta mengayunkan tangannya. Banyak pasang mata yang menatap Bisma dan Qisya dengan pandangan berbeda-beda.
Ada yang melihat mereka bagaikan Om dan keponakan, ada juga yang melihat mereka bagaikan Ayah dan anak. Serta ada pula yang menganggap mereka sepasang kekasih dengan usia yang jauh berbeda. Apa lagi, banyak sekali pasangan-pasangan yang menjalin hubungan dengan perbedaan usia sangat jauh.
Namun, di sini mereka berjalan dengan sendiri-sendiri hanya saja saling berdampingan. Qisya masih enggan untuk di sentuh karena ia masih sangat menjaga dirinya, cuman ia tidak lagi berpenampilan seperti Qisya yang dulu dimana dia sangat tertutup.
“Om lihat deh, di sana banyak sekali orang yang berpacaran. Tapi, kalau di agama Qisya eh maksudnya Rose itu kalau berpacaran itu di haramkan. Bolehnya berta’aruf atau tunangan dan menikah deh. Terus kenapa Om tidak punya pacar seperti mereka?” tanya Qisya sambil berjalan yang membuat Bisma terhenti.
“Loh, kok berhenti Om. Apa Om cape? Makanya tadi pakai mobil saja biar cepat sampainya. Lagian kalau Qisya cape ada Om yang gendong, tapi kalau Om yang cape Qisya enggak kuat gendong Om yang tubuhnya sangat berat” celetuk Qisya yang membuat Bisma melongo.
“Apa kamu bilang? Kalau kamu cape aku harus gendong kamu? Memangnya kamu siapa saya? Pacar bukan, adik bukan, anak bukan dan istri pun bukan. Lalu, kenapa aku harus menggendongmu? Memangnya kamu tidak memiliki kaki? Dan kalau cape bisa kan beristirahat duduk baru jalan lagi, kenapa harus di gendong” saut Bisma dengan sangat jutek.
“Ya sudah kalau begitu anggap saja Qisya ini adalah anak Om, eh maksudnya Rose. Jadi, Rose panggil Om Bisma dengan sebutan Daddy, bagaimana? Persis kan kaya anak dan bapak hehe...” ucap Qisya dengan kepolosannya yang membuat Bisma menelan ludahnya dengan sangat kasar.
“Astaga, anak ini beneran polos atau memang tidak tahu sih. Aku ini kan masih muda, mana mungkin punya anak yang sudah sebesar ini. Kalau begini caranya bukan seperti seorang Ayah dan anak, tapi bagaikan Sugar Daddy dan Sugar Baby. Ck! Qisya... Qisya. Kamu ini benar-benar membuatku pusing ” ucap Bisma di dalam hatinya.
“Daddy, kenapa diam?” tanya Qisya dengan polosnya yang langsung membuat Bisma melototkan matanya.
“A-apa kamu bilang tadi? Co-coba ulangi lagi, kamu panggil aku barusan apa? Siapa tahu tadi aku salah dengar” ucap Bisma dengan perasaan yang tidak bisa di jelaskan.
“Daddy Bisma” jawab Qisya sambil tersenyum.
Degh !...
Degh !...
Degh !...
Suara detak jantung Bisma yang bekerja dengan sangat cepat, bahkan sampai ia tidak bisa berpikir apa-apa lagi. Serta mulutnya seakan-akan terkunci dengan sangat rapat dan tidak bisa mengatakan apa pun.
__ADS_1
“Da-daddy?” gumam Bisma yang tidak percaya dengan semua ini.
“Ya, sekarang Rose panggil Om jadi Daddy biar enggak kelihatan kaya orang asing dan juga semua orang tidak mencurigai kita. Jadi aku akan panggil Om dengan sebutan Daddy, dan Om panggil Qisya dengan sebutan Baby. Sama kaya yang ada di film Korea itu loh, Om. Apa ya namanya, hem... ahaa... Sugar Daddy with Sugar Baby nah, baguskan kan. Biar kita terlihat seperti anak dan Ayah” celoteh Qisya kini benar-benar membuat Bisma terkejut.
Bisma tahu apa yang di maksud dengan panggilan itu semua, tapi sayangnya Qisya belum paham benar dengan arti dari sebutan itu. Qisya mengira bahwa Sugar Daddy dan Sugar Baby itu adalah sebutan untuk sepasang Ayah dan anak.
Padahal sangat jelas julukan itu sering di pakai oleh pria yang memiliki umur lebih jauh dari pasangan wanitanya. Namun, di sini Qisya salah mengartikan sebuah panggilan itu.
“Daddy diam mulu kek patung Pancoran, dahlah Rose mau ke sana duluan. Bye...” saut Qisya yang sudah kesal dengan sikap Bisma yang dari tadi hanya bisa terdiam tanpa sebab yang jelas.
“Yakk... Baby, tunggu...” teriak Bisma tanpa sadar yang membuat Qisya berjalan dengan senyum-senyum sendiri mendengar ucapan dari mulut Bisma yang terdengar sangat menyejukkan.
Kemudian mereka berdua melanjutkan perjalannya menuju tempat wisata. Sesampainya di sana, mereka langsung memasuki tempat tersebut dengan wajah Qisya terlihat sangat happy.
Bahkan Bisma juga bisa merasakan apa yang Qisya rasakan saat ini. Tanpa Qisya sadari, Bisma sedikit mengukir senyuman saat melihat tingkah lucu Qisya.
“Wah... Ini mah bukannya tempat wisata, Daddy. Tapi ini bagaikan surganya makanan, banyak sekali jenis makanan di sini dan kelihatannya enak-enak semua. Apa Rose boleh membeli semuanya?” tanya Qisya sambil menatap Bisma.
“Daddy bisa tidak kali ini saja jangan bersikap dingin, datar, dan cuek. Kali ini saja Rose mohon, coba untuk lebih ramah lagi dan senyum gitu cuma buat malam ini doang kok. Janji enggak akan minta untuk Daddy senyum lagi nanti deh...” ucap Qisya sambil menatap Bisma dengan nada memohon.
Bisma terdiam sejenak memikirkan apa yang harus ia ambil. Apakah ia harus menuruti kemauan Qisya, atau ia harus tetap pada pendiriannya yang terkenal sangat dingin.
“Ya sudah kalau, Om Bisma tidak mau. Rose enggak mau memaksakan kehendak, lagian juga kita kan orang asing. Jadi ya memang seharusnya seperti ini” ucap Qisya dengan tersenyum yang di paksakan.
Kemudian Qisya kembali menatap tempat tersebut sambil mencari sesuatu yang akan menarik perhatiannya.
“Baiklah, Baby. Daddy akan menuruti permintaanmu hari ini, tapi hanya hari ini saja oke...” ucap Bisma dengan sangat lembut penuh dengan senyuman.
Qisya yang mendengar suara Bisma sangat berbeda membuat ia langsung berbalik menghadap Bisma sambil menunjukkan wajah bahagianya.
__ADS_1
“Waw... Ini benarkan Daddy Bisma yang Rose kenal? Ya, ampun tampan sekali jika seperti ini. Daddy tahu tidak, kalau wajah Daddy itu terlihat lebih bersinar dari biasanya loh. Bagaimana kalau kita abadikan momen langka ini, Daddy?” tanya Qisya dengan antusias.
“Apa pun demi membuat Rose tersenyum, Daddy akan lakukan. Tapi hanya untuk hari ini, karena berpura-pura seperti ini tidaklah mudah untukku. Paham kan, sampai di sini?” tanya balik Bisma.
“Wokeh, Dad. Terima kasih sudah mau meneruti permintaan Rose yang aneh ini hehe... Ya sudah ayo Daddy kita foto di sana, pemandangannya lebih bagus” ajak Qisya sambil menggenggam tangan Bisma dengan sedikit menariknya.
Bisma hanya bisa mengikuti apa pun yang Qisya lakukan, selagi itu bisa membuat Qisya melupakan masalah keluarganya.
Cekrek !...
Cekrek !...
Cekrek !...
Terdengar suara kamera dengan berbagai pose mereka lakukan. Awalnya Bisma tidak mau, tapi bukan Qisya namanya jika ia tidak pandai merayu supaya Bisma mau menurutinya.
Apa lagi, ini kejadian yang sangat langka. Kapan lagi Qisya bisa melihat dan mengabadikan senyum Bisma ini. Karena kemungkinan saja saat ia sampai di penginapan nanti atau pun besok paginya, sifat Bisma kembali seperti semula.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sampai sini dulu bab untuk hari ini ya semuanya... 🤗🤗🤗
Mohon terus dukung Author yang masih banyak kekurangan ini 🥺🥺🙏🏻
Dan teruslah beri masukan dan ide-ide brilian kalian yaaa... 😁😁😁
Author juga ingin memberikan kalian rekomendasi novel lagi neh... 🤭🤭🤭
Silahkan dijelajah dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian 😆😆😆
__ADS_1
...*...