
Alex hanya menatap Pinjai dengan tatapan yang sangat malas, lantaran Alex sangat tahu jika Pinjai seperti sedang mengumpeti kebohongannya sendiri karena ia takut jika Alex memarahinya yang mana dia sudah trauma akibat kejadiaan waktu itu saat Alex menghukumnya di kandang hewan kesayangannya.
Ash yang sudah menghabiskan air minum tersebut kini mulai membuat nafasnya sedikit stabil, dan Ash pun menatap Sasya dengan wajah sedihnya.
"A-ada apa, Ash? Kenapa wajahmu terlihat sedih seperti itu?" tanya Sasya dengan wajah bingungnya.
"Kiss.." ucap Ash yang tidak tahu harus mengatakan apa lagi pada Sasya, lantaran ia mendapat notif pesan yang mana membuat Ash harus menyampaikan berita tersebut.
Ya, Ash tahu berita ini mungkin akan membuat Sasya sedih dan juga panik. Tapi, mau bagaimana lagi. Karena hanya Ash yang bisa di hubungi.
Apa lagi Sasya kan tidak memiliki ponsel yang mana ponselnya telah rusak serta ponsel barunya lupa tidak ia bawa yang malah ia tinggal di rumah.
"Katakan Ash, ada apa? Jangan buat aku panik kaya gini loh, apa kamu ada masalah dengan teman kerjamu?" tanya Sasha dengan cemas yang mendapat gelengan kepala dari Ash.
"Lalu, apa jangan-jangan kamu lagi ada masalah dengan pasienmu itu?" tanya Sasya lagi yang tetap mendapat gelengan kepala dari Ash.
"Atau keluargamu ada yang sakit?" ucap Sasya kembali yang membuat Ash tidak tahu harus menjawab apa.
Di satu sisi tebakan Sasya hampir benar, tapi di sisi lainnya Ash juga takut jika Sasya mengetahui ini semua pasti Sasya akan langsung khawatir sehingga membuat pekerjaannya terbengkalai.
Sasya yang melihat Ash tidak menunjukkan reaksi apa -apa membuatnya semakin menjadi penasaran, hingga hatinya berdetak tidak karuan.
"Jika memang ada keluargamu yang sedang sakit, maka kamu bisa langsung meminta izin ke kepala dokter agar segera di acc dan kamu bisa pulang ke rumah tanpa memikirkan tugasmu yang ada di sini" ucap Sasya yang mana membuat Ash masih terdiam.
Sehingga Sasya yang melihat itu semakin geram dan juga gemas lantaran Ash tidak menjawabnya sama sekali.
"Astaga Ash!!! Kamu ini kenapa sih diam saja, dari tadi aku tanyain kamu hanya menggelengkan kepala. Lalu, bagian aku menanyakan tentang keluargamu kamu malah diam seperti ini, jika keluargamu memang sangat membutuhkanmu lebih baik kamu segera pergi ke kepala dokter bukan terdiam diri seperti ini!!"
Sasya berdiri sambil membentak Ash dengan penuh emosi, sampai membuat Alex dan juga Pinjai yang sedang mengawasi mereka sedikit terkejut saat melihat Sasya benar-benar seperti singa betina yang baru saja bangun tidur.
__ADS_1
Sedangkan Ash dia hanya terdiam sambil mendongak menatap Sasya dengan wajah yang sudah tidak bisa di jelaskan lagi.
"Ba-bagaimana ji-jika yang sedang sa-sakit adalah ke-keluargamu?" ucap Ash dengan terbata-bata penuh kegugupan.
Sasya yang mendengar ucapan Ash, seketika membuat detak jantungnya semakin berpacu dengan cepat.
"Ma-ma-maksud ka-kamu a-apa Ash?" tanya Sasya dengan menatap Ash sambil kembali duduk dengan perlahan.
Alex yang tidak terlalu mendengar ucapan Ash, lalu dengan perlahan ia berjalan mendekati mereka serta mengumpet di balik pepohonan bersama Pinjai yang selalu setia menemaninya.
Ash mengeluarkan ponselnya dari saku celananya, lalu memberikannya kepada Sasya yang semakin membuat Sasya bingung.
"A-apa ma-maksudnya ini Ash? Kenapa kamu memberikan ponselmu padaku?" tanya Sasya kembali.
"Kamu buka saja, di sana ada chat dari Bunda. Kamu bisa membacanya secara langsung, karena aku tidak tahu harus mengatakannya dari mana. Aku takut jika kamu sampai syok dan pekerjaanmu akan terbengkalai hingga membuat fokusmu menjadi terbagi" ucap Ash yang membuat Sasya langsung menatap ponselnya.
Sasya menoleh menatap Ash yang hanya menganggukan kepalanya dengan perlahan sambil sedikit mengkhawatirkan keadaan Sasya nantinya.
"Apa kau tau Pinjai, apa isi dari pesan Bundanya itu? Karena aku lihat dari wajah Ash dia terlihat sangat mengkhawatirkan Sasya" ucap pelan Alex sambil terus menatap ke arah Sasya dan Ash.
"Aku tidak tahu, Tuan. Karena aku bukan cenayang yang tahu semua tentang mereka. Lagian aku bukan detektif yang bisa melacak ponsel anak kemarin sore itu, jadi kita tunggu saja reaksi Nona Sasya saat melihat isi pesan dari Bundanya" jawab Pinjai dengan nada sedikit kesal. Bahkan tangannya saja hampir ingin memberikan bogeman cantik di kepala Alex.
Sasya membaca isi pesan tersebut yang membuat jantungnya berdetak semakin kuat, hingga matanya kini sudah meneteskan air mata yang cukup deras.
...*_Bunda Hana_*...
...Assalammuaikum, Ash. Ini Bunda, akhir-akhir ini Bunda tidak bisa menghubungi ponsel Sasya. Apakah Sasya baik-baik saja di sana? Lalu, bagaimana kabar kalian di sana? Kapan kalian akan pulang? Bunda cuman bisa berdoa semoga kalian di sana baik-baik saja ya.....
...Ohya.. jika Ash bertemu dengan Sasya tolong sampaikan padanya jika Ayah Brian saat ini sedang di rawat di rumah sakit, lantaran Ayah Brian sempat jatuh sakit beberapa hari kemarin akibat kecapean saat melakukan pekerjaannya....
__ADS_1
...Sehingga Ayah Brian sekarang di rawat di rumah sakit untuk beberapa hari kedepan, yang mana Ayah Brian terkena penyakit tipes....
...Tapi, tolong bilangin Sasya jika dia tidak perlu khawatir karena kondisi Ayah Brian sekarang sudah mulai stabil. Hanya saja Ayah Brian harus bed rest total di rumah sakit sampai benar-benar pulih dan sembuh....
...Namun, setelah Ayah Brian sudah di bolehkan pulang nanti. Ayah Brian juga harus beristirahat dan akan bekerja di rumah dalam waktu yang di tentukan oleh dokter....
...Jadi, tolong sampaikan pesan Bunda pada Sasya ya Ash. Terima kasih.....
...Peluk hangat dari Bunda.....
...Assalammuaikum.....
"Ja-jadi A-ayah sedang sakit?" gumam Sasya yang membuat air matanya seketika runtuh begitu deras sambil mentap Ash yang kini menatapnya penuh kecemasan.
"Jika kau tidak percaya, dan merasa sangat cemas. Langsung saja telepon Bunda, tanyakan padanya bagaimana kabar Ayah Brian saat ini. Kalau perlu lakukan panggilan video saja biar kamu bisa melihatnya secara langsung kondisi Ayah" ucap Ash yang berhasil membuat Sasya langsung mengotak atik ponsel Ash dan melakukan panggilan video ke Bunda Hana.
"Ternyata Ayahnya Nona Sasya yang sakit, Tuan. Pantas saja Nona Sasya terlihat begitu cemas dari tadi, mungkin ikatan batin antara anak dan Ayah sangatlah kuat" ucap Pinjai dengan suara kecilnya tepat di samping kuping kanan Alex.
"Kau kira aku ini budeg apa!! Aku juga dengar saat Sasya bilang jika Ayahnya sedang sakit. Tapi, yang aku bingungkan Ayahnya sakit apa? Karena wajah Sasya terlihat begitu panik, apakah Ayahnya sakit keras?"
Alex berbicra dengan nada dinginnya namun terlihat sangatlah gelisah lantaran melihat kedaan Sasya yang kini sedang mondar-mandir ke sana ke sini sambil beberapa kali melakukan panggilan yang mana tidak diangkat oleh Bunda Hana.
"Bunda.. hiks.. ayolah angkat telepon Sasya, jangan bikin Sasya semakin cemas Bunda. Please Bunda angkat, angkat hiks.." ucap Sasya sambil menggigit jarinya dalam keadaan menangis.
"Sabar Kiss, sabar.. Mungkin saat ini Bunda sedang sibuk mengurus Ayah, nanti saja kamu telepon Bunda lagi. Jadi, Sekarang kamu lebih baik duduk dulu sini, tenangkan dirimu"
"Karena sebentar lagi jam istirahat kita akan berakhir dan aku tidak mau kamu sampai tidak fokus dalam mengurus semua pasienmu nanti. Yang mana kamu akan mendapat teguran dari kepala dokter, dan bisa-bisa nilaimu akan jelek"
Ash berbicara dengan nada yang bermaksud untuk mencoba untuk menenangkan Sasya, namun Sasya tetap tidak menggubrisnya.
__ADS_1