
Suasa yang awalnya menegang sekarang sudah mulai membaik. Mereka bercanda, tertawa dan juga pergi ke kantin bersama untuk melanjutkan makan siangnya sebelum kembali melakukan tugasnya.
...*...
...*...
Malam hari di jalan yang sangat sepi, seorang gadis kecil bernama Key sedang berjalan sambil menggendong tasnya. Dimana tas itu hanya berisikan beberapa pakaian ganti serta uang tabungan dan juga uang hasil jual ponsel untuk berjaga-jaga selama ia belum memiliki pekerjaan.
"Sepertinya aku sudah berjalan sangat jauh dari rumah, tapi malam ini aku harus berteduh dimana? Aku tidak ada uang banyak buat menyewa rumah, bahkan kalau aku mau menyewa pun aku harus memiliki pekerjaan. Lagian itu juga pasti urusannya akan panjang, bisa-bisa nanti aku di kata anak ilang sehingga mereka akan bisa kembali menemuiku"
"Huhhh.. aku tidak mau sampai kembali ke rumah itu, aku juga tidak mau merusak kebahagiaan mereka. Kasihan Mommy Nisha, pasti hatinya sangat sakit ketika Daddy mengatakan bahwa ia akan meninggalkan Mommy jika sampai Mommy selalu membelaku. Dan Jay? Jay akan susah menuntut ilmu yang lebih baik dariku"
"Lebih baik mereka sakit karena kehilanganku dari pada rumah tangga mereka hancur, bisa-bisa Jay akan menjadi anak yang broken home. Aku tidak mau sampai Jay bersikap seperti anak-anak yang lainnya ketika kedua orang tuanya berpisah, karena jika mereka sampai berpisah anaklaj yang akan jadi korban utama"
"Jadi aku harus kemana malam ini? Bahkan cuaca akhir-akhir ini sangat dingin, jika aku tidur di jalanan pasti besok aku bisa langsung sakit. Terus aku harus bagaimana?"
Key berjalan lurus sambil melihat ke kanan dan ke kiri, sampai seketika matanya terhenti melihat seorang nenek-nenek sedang memunguti barang-barangnya yang berserakan di jalan.
"Astaga, kenapa tasnya bisa sobek sih! Aduh.. bagaimana ini, mana aku pergi tanpa sopir lagi. Huhh.. tau begini mah tadi aku gak usah sok-sok'an pergi sendiri, merepotkan saja!" Ucap seorang nenek sambil berjongkok memunguti belanjaannya.
Key yang tidak tega langsung berlari menyebrang jalan serta membantu nenek tersebut dengan wajah sedikit tersenyum sambil berkata, "Mari Nek, saya bantuin. Apa Nenek ada tas lagi?"
Nenek langsung menoleh sambil menatap Key yang sedang berusaha memunguti satu persatu barang belanjaannya.
"Kau siapa? Berani sekali menyentuh barangku tanpa seizinku!" Tanya Nenek tersebut dengan tatapan aneh.
"Maaf Nek. Saya Key, boleh saya membantu Nenek?" Ucap Key.
"Kenapa sikap anak ini benar-benar sama persis seperti Lukas yang dingin, tapi memiliki hati yang baik" Gumam Nenek yang mana itu adalah Nenek Mona.
"Ahyaa.. silakan. Tapi maaf Nenek sudah tidak ada tas lagi" Ucap Nenek Mona.
"Tunggu sebentar Nek, sepertinya saya punya tas belanjaan. Bentar saya cari dulu" Ucap Key sambil memeriksa tasnya dan benar saja ia langsung menemukan tas belanjaan yang waktu itu sempat mau berbelanja namun tidak jadi. Akhirnya Key menyimpennya di saku tas sekolahnya.
Satu persatu barang Nenek Mona sudah berada di tas belanja milik Key, lalu Key segera memberikannya kepada Nenek Mona dengan wajah datar.
__ADS_1
"Terima kasih Key, kamu sudah mau membantu Nenek. Ohya.. di sana ada toko kita makan dulu yuk perut Nenek laper, anggap saja ini ucapan terima kasih dari Nenek buat kamu hehe.." Sahut Nenek Mona sambil terkekeh.
"Tidak perlu, Nenek makan saja sendiri. Aku harus pergi dulu, permisi!" Key langsung berbalik dan berjalan perlahan meninggalkan Nenek Mona, tapi bukan Nenek Mona namanya kalau dia tidak bisa membuat seseorang mengikuti kemauannya.
Nenek Mona kembali membuang belanjaannya dan membuat Key berbalik setelah mendengarkan suara yang tidak asing di telinganya. Betapa terkejutnya Key ketika melihat perlakuan Nenek Mona.
Key berjalan mendekati Nenek Mona sambil memasang wajah kesalnya, sedangkan Nenek Mona malah tersenyum miring menatap Key.
"Apa-apaan sih Nek! Kenapa barang-barang Nenek di brantakin lagi, apa Nenek tidak bisa menghargai perasaan seseorang. Aku tadi sudah berniat baik untuk menolong Nenek, tapi apa yang Nenek lakukan sekarang!"
Key berbicara dengan penuh penegasan menatap wajah Nenek Mona yang masih tersenyum ke arahnya, Nenek Mona tersenyum bukan berarti dia senang mengerjai Key. Melainkan dia seperti melihat sosok Lukas di dalam diri Key, sehingga membuat Nenek berpikir bahwa suatu saat nanti mereka akan berjodoh pasti akan seperti manusia kutub yang sangat sunyi dan dingin.
"Sekarang malah diem, senyum-senyum sendiri. Mau Nenek itu apa sih! Dahlah.. kalau Nenek enggak mau di tolong bilang, jadi aku enggak usah repot-repot menolong Nenek yang akhirnya Nenek malah membuang makanan!" Ucap Key.
"Kamu bilang apa tadi? Aku tidak bisa menghargai pertolonganmu. Lantas bagaimana denganmu, apa kamu bisa menghargai tanda terima kasih dari saya yang ingin mengajakmu makan?"
"Jika kamu tidak mau menerima kata terima kasih dari saya ya sudah tak apa, saya bisa memberantakin belanjaan saya dan kembali memungutinya sendiri. Jadi saya tidak akan merasa hutang budi padamu, nih saya kembalikan tasnya. Saya tidak butuh!"
Nenek Mona memberikan kembali tas tersebut kepada Key, Key hanya bisa menerima tas itu dengan keadaan wajah bingung. Cuman setelah Key melihat Nenek Mona kesusahan membawa belanjaan yang cukup banyak, Key langsung mengambil alih semuanya serta menaruhnya di dalam tas belanjaa.
Setelah semua belanjaan sudah masuk ke dalam tas, Key memberikannya pada Nenek Mona. Mereka pun berjalan dengan perlahan menuju Cafe, lalu masuk dan segera mencari tempat duduk di sisi pojokan.
Nenek Mona memesan minuman dingin yang sangat segar, steak daging dan juga stik kentang, sedangkan Key dia minta disamakan saja dengan menu yang telah Nenek Mona pesan.
Di sini Nenek Mona hanya mengobrol sekilas saja sambil terus memperhatikan gerak-gerik dari Key, Nenek Mona bisa melihat bahwa Key bukan seperti anak jalanan yang Key ceritakan. Bahkan setelah makanan datang pun Nenek Mona beserta Key lngsung memakannya.
Dimana Nenek Mona menatap cara makan Key yang sangat lahap, belum lagi cara memegang garpu serta pisau kecil Key tidak kelihatan kebingungan. Dia malah santai dan biasa saja seperti sudah ahli, belum lgi cara memoting steak pun sangat rapi.
Hingga membuat Nenek Mona semakin curiga, Key tidak menyadari bahwa Nenek Mona selalu memperhatikannya. Sampai 20 menit berlalu mereka sudah selesai makan, lalu Nenek Mona menatap lekat Key.
"Ada apa? Kenapa Nenek menatapku seperti itu?" Tanya Key yang sangat bingung.
"Katakan padaku, siapa kau sebenarnya!" Balas Nenek Mona dengan tatapan mengintimidasi. Key sedikit terkejut mendengar kenuturan kata Nenek Mona yang seakan-akan dia mengetahui siapa Key sebenarnya.
"A-aku Key, siapa lagi. Lagian aku ini anak jalanan Nek, jadi tidak usah bertanya seperti itu seolah-olah aku ini anak orang kaya saja!" Ucap Key menutupi rasa gugupnya dengan kebohongan.
__ADS_1
"Aku bukan wanita bod*doh wahai anak kecil! Aku ini tahu bagaimana kehidupan anak jalanan dan anak sepertimu. Sekarang jelaskan padaku kenapa kamu bisa sampai ada di jalanan? Kamu bilang kau anak jalanan, tetapi saat aku melihat gerak-gerikmu membuatku percaya bahwa sebenarnya kau itu anak orang berada kan?"
"Apa jangan-jangan kamu di usir dari rumah karena kamu tidak pernah di anggap oleh kedua orang tuamu? Atau kamu di culik?"
Nenek Mona mencecar Key dengan semua pertanyaan, membuat Key semakin gelisah. Tatapan Nenek Mona menyorot tajam ke arah Key, hingga pada akhirnya Key menyerah. Dia tidak bisa meneruskan keberbohongannya, lalu ia menceritakan sedikit kisahnya.
Nenek Mona terdiam ketika mendengar kisah pilu tentang Key membuat Nenek Mona meneteskan air matanya. Tanpa di duga Nenek Mona menggenggam tangan Key perlahan, Nenek Mona bisa melihat meskipun Key menceritakan semua itu dengan senyuman. Namun dari sorotan mata Key terlihat jelas kalau dia sedang menahan rasa sakit di dalam hatinya agar air matanya tidak menetes.
Setelah selesai bercerita Key kembali menatap Nenek Mona sambil mengelap air mata Nenek Mona dan berkata, "Tidak perlu menangisi nasibku, Nek. Anggap saja jika ini semua sudah garisan tangan Tuhan agar aku bisa hidup mandiri dan membebani siapa pun!"
"Ya sudah Nenek pulang, ini sudah larut malam. Enggak baik juga di jam segini Nenek ke luar rumah sendirian, kasihan pasti Kakek sudah mengkhawatirkan Nenek. Lihat saja dari tadi ponsel Nenek selalu berdering"
Key menatap ke arah ponsel Nenek Mona yang berada di atas meja dengan notif (Aki-Aki Menyebalkan!) bahkan setelah beberapa kali membaca notif itu Key hanya bisa tersenyum, biasanya suami-istri akan memberikan nama yang mesra untuk pasangannya. Tapi berbeda dengan Nenek Mona yang seolah-olah suaminya terkesan orang yang paling menyebalkan yang dia kenal.
Nenek Mona mengangkat ponselnya terlebih dahulu dengan sedikit mengoceh, lalu ia kembali mematikan ponselnya.
"Kamu ikut Nenek pulang ke rumah ya, ingat tidak ada penolakan! Bentar lagi sopir akan menjemput ke sini, jadi kita tunggu sampai dia datang" Tegas Nenek Mona yang berhasil membuat Key membolakan matanya.
"Tap-..."
"Aku tidak suka di bantah, jika aku bilang ikut ya kau harus ikut. Tempatku sangat luas jadi kamu bisa membantuku untuk menjaga rumah serta membereskan rumah. Umurku sudah semakin tua jadi aku perlu teman agar bisa mengurus rumah dengan baik" Celetuk Nenek Mona yang mampu kembali membuat Key kesal.
"Yaaaakj.. jadi kau ini membawaku di rumah hanya untuk dijadikan seorang pembantu begitu?" Tegas Key.
"Tentu, di jaman sekarang tidak ada yang gratis Tuan Putri!" Sindir Nenek Mona.
"Ckkk.. menyebalkan! Baiklah aku akan tinggal di rumahmu, setalah aku berhasil mengambil semua hartamu maka aku akan langsung kabur dan membuatmu jatuh miskin!" Sindir Key.
"Hahaha.. silakan kau ambil saja hartaku sebanyak-banyaknya. Bahkan yang ada kau sendiri yang cape karena hartaku itu tidak akan habis 7 turunan wleee.." Ledek Nenek Mona.
"Cihhh.. dasar Ninik-Ninik sombong! Jatuh miskin baru tahu rasa!" Jawab Key dengan sewot dan kembali meminum minumannya.
Nenek Mona terkekeh ketika melihat Key benar-benar seperti copy.an Lukas, bagaimana jika Lukas dan Key bertemu pasti akan tambah seru. Begitulah pikiran Nenek Mona saat ini. Padahal tanpa sepengetahuannya Key dan Lukas adalah teman yang sangat dekat.
Mungkin suatu saat nanti jika Lukas bertemu dengan Key pasti dia akan memaksa membawa Key pulang. Justru di situlah masalah buat Key, karena dia dengan sengaja pergi dari rumah buat menghindari keluarganya. Tapi jika dia kembali di pertemukan dengan Lukas pasti rencananya yang akan membuat keluarganya bahagia akan hancur.
__ADS_1
Beberap menit berlalu sopir Nenek Mona datang sambil membungkuk serta membawa tas belanjaan Nenek Mona. Kemudian Nenek Mona berjalan berdampingan dengan Key yang hanya bisa bersikap datar. Setelah masuk mobil, sopir segera menjalankan mobilnya menuju rumah yang sangat mewah.