
Hana bisa melihat betapa sayangnya Qisya terhadap Baby twins, hanya saja ia masih memiliki rasa cemburu kepada Baby twins karena ia takut kalau Hana dan Brian tidak akan sayang lagi kepadanya. Dan yang ada di pikiran Qisya saat ini Hana dan Brian hanya akan lebih sayang kepada anak kandung mereka sendiri.
Di saat Hana dan Qisya sedang berpelukan, tiba-tiba saja Brian masuk ke dalam kamar Qisya yang langsung membuat Ibu dan anak itu terkejut.
“A-ayah...” ucap Qisya sambil menatap Brian yang sedang berjalan mendekati Qisya.
Brian pun langsung berjongkok di hadapan Qisya yang sedang duduk di pinggir kasur, kemudian Brian memegang kedua tangan Qisya dengan lembut. Dan perlahan mata mereka saling menatap satu sama lain.
“Kakak Qisya, Ayah minta maaf ya tadi sudah berkata kasar sama Kakak. Ayah sebenarnya tidak bermaksud untuk membentak Kakak tadi, cuma karena Ayah banyak masalah jadi emosi Ayah naik. Sekali lagi maafin Ayah ya, Ayah tahu Ayah salah. Tapi sebenarnya maksud Ayah baik, supaya Kakak bersih-bersih dulu terus ganti baju baru kita main sama Baby twins. Lagi pula tadi kan Baby twins lagi tidur jadi bagaimana kita mau mainnya hem...” ucap Brian dengan sangat lembut.
Hana hanya bisa tersenyum sambil mengelus punggung Qisya. Qisya yang mendengar ucapan sang Ayah pun langsung menengok menatap Hana seolah-olah untuk meminta jawaban.
Hana langsung menganggukkan kepalanya sambil mengedipkan matanya dengan perlahan dan tersenyum. Qisya pun kembali menatap wajah Brian sambil berkata “Apa Ayah sudah tidak sayang lagi sama Kakak?”
“Kok Kakak ngomongnya begitu, Ayah ini sayang banget sama Kakak jauh sebelum adanya Bunda dan Baby twins loh. Apa lagi Ayah bekerja keras untuk membuat Kakak bahagia kan, sampai-sampai Kakak tidak pernah mengeluh untuk di belikan mainan ataupun baju baru. Jadi apa itu tandanya Ayah enggak sayang sama Kakak?” tanya Brian dengan nada yang sangat lembut.
Qisya pun terdiam seribu bahasa, karena menurut Qisya apa pun yang di katakan oleh Brian itu adalah kebenaran.
“Kakak tahu tidak, kalau Ayah ini benar-benar sangat sayang sama Kakak. Ayah dan Bunda tidak akan membeda-bedakan Kakak dengan Baby twins. Karena kalian semua adalah anak kandung kami yang harus kami jaga dan sayangi setiap saat. Kakak tidak boleh punya pikiran seperti ini lagi ya, pokonya yang jelas saat ini Kakak itu seperti seorang peri kecil yang cantik untuk Ayah sama Bunda. Dan lagi Kakak itu adalah sosok Kakak yang sangat baik untuk Baby twins. Jika kalian sudah tumbuh besar, Ayah hanya pesan kepada Kakak jangan sampai membanding-bandingkan diri Kakak sama Baby twins karena kalian semua sama. Paham kan sayang?” ucap Brian sambil tersenyum menatap wajah Qisya.
Qisya yang mendengarkan semua perasaan Brian pun langsung memeluk Brian serta menumpahkan air matanya di dalam pelukan hangat seorang Ayah.
“Hiks... Kakak sayang banget sama Ayah, Bunda dan Baby twins. Maafin Kakak ya Ayah, Kakak salah sudah tidak mendengalkan Ayah. Kakak cuman cembulu kalena Ayah tadi membentak Kakak dan tidak membolehkan Kakak untuk mencium Baby twins” jawab Qisya di sela-sela isak tangisnya.
“Tidak apa-apa sayang, Ayah juga minta maaf ya sudah membuat Kakak menangis seperti ini. Ayah juga salah telah membentak peri kecil Ayah yang cantik ini. Jadi kita baikkan kan” ucap Brian sambil menghapus air mata Qisya dan menunjukkan jari kelingkingnya.
Qisya hanya bisa menganggukkan kepalanya sambil tersenyum dan langsung menautkan jari kelingkingnya.
“Alhamdulillah, akhirnya Ayah dan Kakak sudah baikan. Bunda senang melihatnya, jangan pernah ada kesalah pahaman lagi ya... Bunda sedih loh dengarnya. Dan Ayah juga harus bisa mengontrol emosinya jangan sampai masalah lain di campur adukkan ke dalam keluarga” ucap Hana.
“Ya Bunda, Ayah minta maaf ya sudah membuat Bunda sedih seperti ini. Ayah janji akan berubah jauh lebih baik lagi” ucap Brian sambil menggenggam tangan Hana sambil posisi yang masih berjongkok.
__ADS_1
“Ciee... ciee... sekalang manggilnya Ayah Bunda nih, biasanya Mas Blian” goda Qisya sambil menatap adegan uwu di depannya.
Hana dan Brian pun hanya bisa tersenyum malu saat Qisya menggodanya.
“Ciee... ciee... Mukanya Ayah sama Bunda melah-melah kaya tomat busuk haha...” ucap Qisya yang terus meledek Brian dan Hana.
“Oh sekarang sudah bisa meledek kami gitu, hem... Baiklah terimalah ini hukuman untukmu bocah nakal” saut Brian yang langsung menerkam Qisya dan menggelitikinya.
“Huaa... hahaha... geli ayah geli, haha... Bunda tolongin Kakak, Ayah culang haha...” ucap Qisya sambil meliuk-liukkan badannya.
“Aduh... Ayah sudah dong, kasihan Kakak loh. Sudah ya ayo bersih-bersih dulu terus kita makan ya baru nanti main sama Baby Lily dan Baby Lukas” ucap Hana yang langsung berdiri.
Brian pun menyudahi aksinya dan membangunkan Qisya yang sudah lemas di kasur.
“Sudah sayang, biar aku saja yang mengambil Kakak baju ganti. Kamu duduk aja kasihan masih sakit kan enggak boleh banyak gerak dulu kata dokter takut jahitannya nanti terasa sakit” ucap Brian yang kembali menuntun Hana untuk duduk di kasur.
“Kakak bisa sendili kok, Ayah. Sudah Bunda sama Ayah duduk di sini. Tungguin bental ya” ucap Qisya yang langsung lari untuk mengganti pakaian di ruang ganti.
“Mas lihatlah Qisya, dia sudah semakin besar ya. Nanti dia akan sekolah SMP, SMK, kuliah, kerja, punya jodoh terus nikah. Apa aku masih bisa menemani Qisya nanti saat di pelaminan ya Mas” ucap Hana sambil memandang lurus ke arah pintu ruang ganti Qisya.
“Astaghfirullah, maaf ya Mas. Hana cuma tidak menyangka saja Qisya sekarang sudah besar dan pemikirannya sangat dewasa. Tidak seperti anak kecil pada umurnya. Hoya... Di mana Baby twins Mas?” tanya Hana dengan wajah bingungnya.
“Dia ada di kamar sayang lagi anteng tidur di box mereka, tenang saja jika mereka menangis pun akan kedengaran kok. Kan kamarnya tidak aku pakaikan kedap suara. Dan nanti aku akan membelikan alat semacam CCTV gitu agar kamu bisa tahu Baby twins lagi ngapain saja saat kamu nanti sibuk di luar kamar” jawab Brian.
“Terima kasih ya Mas. Kamu baik banget sama aku, tambah sayang deh” ucap Hana sambil memegang rahang Brian.
Brian yang merasa geli pun seketika membuat gairahnya naik. Sehingga saat Brian ingin menyosor kemudian mereka di kagetkan oleh kedatangan Qisya.
“Ayah, Bunda...” ucap Qisya sambil menatap keduanya.
“Kalian kenapa itu kok mukanya dekat banget?” tanya Qisya.
__ADS_1
Brian dan Hana pun langsung menjauhkan diri masing-masing mencoba menetralkan rasa tegangnya.
“E-enggak gapapa kok, tadi di kerudung Bunda ada binatang jadi Ayah usir deh... ya kan, Bun” ucap Brian sambil memberi kode kepada Hana.
“Ya-ya sayang benar, sudah ayo kita ke bawah buat makan kasihan pasti Kakak lapar kan” ucap Hana sambil berusaha berdiri yang langsung dibantu oleh Brian.
“Ya Bunda, Kakak lapal banget nih pelutnya juga sudah demo teliak-teliak katanya gini klukk... klukk...klukk...” jawab Qisya sambil menirukan suara perut yang sedang lapar.
“Ya ampun anak ini benar-benar pintar ya sekarang hem...” saut Brian yang langsung menggendong Qisya.
“Haha... ya dong, kan Kakak sudah besal jadi harus pintal bial nanti bisa ngajalin Baby twins” ucap Qisya di dalam gendongan Brian.
“Tapi harus yang baik-baik ya ngajarin Baby twins nya, tidak boleh ngajarin yang buruk. Oke...” ucap Hana.
“Oke... Bunbun Yayah hehe...” ucap Qisya sambil cengengesan.
Hana dan Brian pun hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Qisya yang ada-ada saja tingkahnya.
Dan pada akhirnya mereka pun berjalan keluar dari kamar Qisya menuju ruang makan. Hana berjalan dengan perlahan sambil di tuntun oleh Brian yang masih menggendong Qisya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sampai sini dulu ya ceritanya semuanya... 😁😁😁
Mohon dukung Author yang masih banyak kekurangan ini 😗😗😗
Jangan lupa jaga diri kalian dan sampai jumpa lagi... 🤗🤗🤗
Terima kasih juga untuk yang sudah mendukung Author 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Dukungan kalian sangat berarti besar untuk Author selama ini 🥰🥰🥰
__ADS_1
Sayang kalian semuanya... ❤️❤️❤️
Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻