
“Ya benar, Om. Arya juga sudah memastikan semuanya, tapi yang Arya bingungkan kenapa orang itu bisa masuk? Lalu, ia dapat surat undangan dari siapa? Dan yang lebih anehnya lagi kenapa dia bisa memakai masker sedangkan yang lain tidak ada yang menggunakannya” saut Arya dengan wajah penuh kecurigaan.
“Sepertinya semua sudah di rencanakan dengan matang. Dan kemungkinan ada orang terdekat kita yang tidak menyukai Hana putriku” ucap Abah dengan sangat tegas.
“Lalu, bagaimana ini Pah? Kenapa mereka mengincar Hana? Padahal Hana tidak pernah punya musuh” ucap Nyonya Syifa dengan menggebu-gebu.
“Astaghfirullah, Hana putriku kenapa masih ada orang yang tidak suka kepadamu, Nak. Padahal kamu selalu baik ke semua orang. Apa yang sebenarnya mereka inginkan dari putriku hiks...” Umi menangis dengan hati yang sangat tersayat.
“Tenang, Mi. Putri kita orang baik, pasti Allah akan selalu menjaga dia serta bayinya. Ingat kekuasaan Allah jauh di atas segalanya. Jadi kita serahkan semua kepada Allah” ucap Abah.
“Apa selama ini kamu punya musuh di dalam bisnis yang besar?” tanya Tuan Ferry sambil menatap Brian.
Brian yang benar-benar sangat kacau dari tadi hanya bisa menunduk sambil menjambak rambutnya dengan frustrasi.
“Tidak, Pah. Musuh Brian hanya sekedar bisnis tidak sampai melibatkan keluarga seperti ini. Makanya, Brian bingung sekarang. Siapa dalang dari semua ini!” saut Brian.
“Maaf semua, Arya memotong pembicaraan kalian. Bukannya Arya sok tahu, tapi ini kemungkinan bisa jadi orang yang sangat dekat dengan Mas Brian dan sudah mengenal Mbak Hana juga” ucap Arya sambil menatap semuanya.
“Apa saat ada acara penting kamu membawa Hana, Nak Brian?” tanya Abah.
“Tidak pernah, Bah. Selama Brian menikah dengan Hana, Brian belum ada acara penting yang mengharuskan membawa Hana” ucap Brian sambil menatap Abah.
Namun, di saat mereka sedang serius mengobrol. Tiba-tiba saja Hana turun dari tanggan dengan wajah yang sangat cemas.
“Mas Bria..., Mamah, Papah, Abah, Umi, Arya...” Hana berteriak sambil memanggil semuanya.
“Ya ampun, Hana hati-hati kamu sedang hamil nanti kamu bisa terpeleset” ucap Nyonya Syifa sambil berdiri.
“Hiks... Mas Brian, Qisya Mas Qisya...” Hana langsung memeluk Brian sambil menangis. Sedangkan yang lain hanya bisa melihat Hana dengan wajah bingungnya.
__ADS_1
“Stt... Ada apa dengan Qisya? Dia kenapa? Coba jelaskan pelan-pelan” ucap Brian sambil meraup wajah Hana sambil tersenyum mencoba untuk tetap tenang agar Hana tidak semakin panik.
“Hikss... badan Qisya panas banget, Mas. Qisya juga terus saja mengigau saat tidur sampai-sampai ia menangis. Hana takut Mas” ucap Hana dengan wajah yang sangat cemas.
Brian yang mendengar itu pun langsung secepat kilat menaiki tangga kemudian membuka pintu kamar mereka dengan sangat keras. Lalu, ia menggendong Qisya untuk membawanya ke dokter.
Hana yang sangat khawatir langsung ditenangin oleh Umi dan Nyonya Syifa. Sampai akhirnya mereka semua pergi ke rumah sakit untuk membawa Qisya supaya secepatnya bisa di tangani.
Hampir 30 menit mereka melakukan perjalanan, dan kemudian sampailah di rumah sakit terbesar yang memang rumah sakit itu milik keluarga Brian.
Dengan langkah cepat Brian menggendong Qisya dan berlari menuju dokter spesialis anak.
“Dok, tolong anak saya. Badannya panas sekali bahkan dia sampai terus-terusan menangis dan mengigau seperti ini” ucap Brian dengan wajah penuh kekhawatiran.
“Mari... Silahkan masuk Tuan Brian. Tolong letakkan Nona Qisya di tempat tidur. Saya akan memeriksanya” saut sang dokter dengan wajah yang berusaha untuk tenang.
Kemudian Brian menunggu di depan ruangan karena perintah sang dokter agar mereka bisa lebih fokus untuk memeriksa Qisya. Dan tak lama yang lain pun datang dengan tergesa-gesa sambil menyeimbangi jalannya Hana.
“Stt .. tenang oke, Qisya anak yang kuat kok dia pasti dia tidak akan kenapa-kenapa. Aku yakin itu. Jadi kamu tenang ya, kasihan mereka kalau Bundanya panik nanti mereka juga akan panik di dalam sana” ucap Brian sambil mencium kening dan mengelus perut Hana.
Mereka pun akhirnya duduk sambil menenangkan rasa kekhawatirannya yang ada di dalam benak mereka semua. Sampai seketika waktu sudah berjalan 10 menit dan sang dokter pun keluar dari dalam ruangan.
Brian yang sangat cemas serta Hana pun langsung berdiri untuk mendekati sang dokter.
“Bagaimana keadaan anak kami, Dok?” tanya Brian sambil merangkul Hana.
“Alhamdulillah, Nona Qisya baik-baik saja Tuan. Panasnya pun sudah berkurang, hanya saja sepertinya ia memiliki trauma yang tidak bisa ia hilangkan saat ini. Tetapi, tenang saja jika memang Nona punya trauma maka kalian bisa memberitahunya secara perlahan. Saya yakin Nona bisa melawan trauma itu, apa lagi ia masih kecil pasti akan mudah untuk melupakannya. Jadi kalian semua harus pelan-pelan untuk berinteraksi dengan Nona agar bisa membantunya untuk menghilangkan trauma tersebut” ucap sang dokter dengan tersenyum.
“Apakah trauma yang Qisya alami saat ini adalah trauma yang cukup serius, Dok?” tanya Tuan Ferry.
__ADS_1
“Tidak, Tuan. Ini kemungkinan hanya trauma kecil, jadi lebih baik kalian sedikit demi sedikit membantunya untuk melupakannya. Jika tidak maka trauma ini akan menjadi bayang-bayangnya setiap saat” jawab sang dokter.
“Apa anak saya boleh pulang sekarang, Dok?” tanya Hana.
“Sepertinya Nona harus di rawat dulu di sini sampai benar-benar pulih Nyonya. Hal ini karena jika di bawa pulang kita tidak tahu apa panasnya akan stabil atau makin menambah tinggi. Jadi untuk mewanti-wanti kejadian berbahaya tersebut kita harus merawatnya dengan baik dan tidak lupa untuk selalu mengecek kondisi Nona” jawab sang dokter.
“Baik, Dok. Tolong pindahkan anak saya di kamar yang khusus” ucap Brian.
“Baik, Tuan. Ya sudah saya permisi dulu karena masih ada pasien yang harus saya tangani” ucap sang dokter dengan tersenyum.
Semuanya pun menganggukkan kepalanya, dan sang dokter pun pergi meninggalkan ruangan. Selang 1 jam, kini Qisya sudah dipindahkan di ruangan khusus untuk keluarga Brian.
Lalu kedua orang tua Hana serta Brian pun sudah mulai tenang saat melihat Qisya yang sedang tertidur pulas dan mereka meninggalkan Qisya, Hana dan Brian kembali ke rumah untuk membereskan semuanya termasuk Arya.
Arya di beri kepercayaan yang lebih oleh Brian agar dia bisa membantunya untuk menemukan si pelaku. Kini, hanya tinggal Hana dan Brian yang berada di dalam ruangan untuk menemani Qisya.
Hana yang sedikit merasakan keram di perutnya pun ia segera beristirahat lalu merebahkan tubuhnya di sofa empuk. Sehingga, Brian yang harus menjaga Qisya. Namun, tak selang beberapa menit saat Hana tertidur Qisya pun membuka kedua matanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sampai disini dulu cerita untuk bab ini ya semuanya... 😁😁😁
Author akan update 1 bab lagi jadi silahkan nantikan 😉😉😉
Ohh... Dan terima kasih kepada semuanya disini 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Terima kasih atas dukungan dan semangat dari kalian 🥰🥰🥰
Jaga diri kalian dan sampai bertemu lagi di bab selanjutnya 🤗🤗🤗
__ADS_1
Papaaayyy ~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻