
“Loh, Ayah ikutan juga Bunda? Kan Ayah laki-laki, masa ia pakai hijab juga kaya kita?” tanya Qisya dengan wajah bingungnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Hehe... Bunda juga tidak tahu sayang, semua ini kemauan dedek kembarmu bukan Bunda” ucap Hana sambil tersenyum menatap perut buncitnya yang semakin membesar sambil mengelusnya.
“Oh gitu ya Bunda, apa ya namanya? Waktu itu Oma pernah bilang heum...” ucap Qisya sambil berpikir dan mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di dagu.
“Ahaaaa... namanya ngidam. Benar kan Bunda?” tanya Qisya saat sudah menemukan kata-kata yang tadinya ia lupa.
“Hehe... Iya sayang, makanya Bunda pengen banget kalau Ayah jadi model bareng Qisya” jawab Hana sambil menyengir kuda.
Qisya yang tidak percaya kemudian menengok ke arah Brian yang sedang menatap ponselnya.
“Hihi... kasihan ayah ” ucap Qisya di dalam hati.
“Ya sudah, Qisya ganti baju gih... habis itu makan baru deh kita mulai permainannya” ucap Hana sambil tersenyum.
“Oke... Bunda, Qisya ganti baju dulu ya” saut Qisya sambil mencium pipi Hana kemudian sedikit berlari menaiki tangga menuju kamarnya.
“Hati-hati sayang, mau Bunda bantu enggak?” teriak Hana.
“Boleh Bunda, ayoo...” ucap Qisya sambil mengajak Hana.
Hana kemudian bangun dari duduknya, dan mengikuti Qisya menuju kamarnya untuk mengganti pakaian Qisya serta menyiapkan makanan untuk Qisya.
Arya yang sejak tadi hanya menguping pembicaraan Hana dan Qisya, tiba-tiba dia merasa sangat penasaran akan sesuatu.
“Mas, stt... Mas... Mas Brian” ucap Arya sambil mendekati Brian yang sedang fokus dengan telepon genggamnya.
“Heum...” saut Brian dengan deheman sambil menatap teleponnya.
“Mas Brian benaran mau jadi modelnya Mbak Hana?” tanya Arya sambil menatap wajah Brian dengan sangat serius.
__ADS_1
“Ya mau bagaimana lagi coba, kalau aku menolaknya pasti dia akan kembali marah. Kamu enggak tahu sih, tadi saat di jalan Hana kepingin seblak tapi aku enggak bolehin karena tempatnya tidak higienis eh dia langsung ngambek” jawab Brian dengan wajah sedikit kesal.
“Aduh... aneh-aneh saja ya ngidamnya Mbak Hana, semoga saja nanti Bu guru tidak ngidam yang seperti itu” jawab Arya tanpa sadar dan membayangkan Bu guru sudah resmi menjadi istri Arya.
“Bu guru? Bu guru siapa maksud kamu, Arya?” tanya Brian dengan wajah bingungnya.
Arya yang langsung sadar pun langsung cengengesan menatap Brian sambil menggaruk tengkuluknya yang tidak gatal.
“Hehe... ti-tidak Mas, bukan apa-apa. Sudah lupakan saja, tadi Arya habis ketemu sama guru Qisya jadi ke bawa-bawa deh...”
“Heum... begitu, ya sudah. Hoya... bagaimana kabar pabrik di sana? Apa semuanya berjalan dengan lancar atau ada kendala dalam produksinya? Kalau ada apa-apa langsung kabari aku ya, jangan di atasi sendiri karena kasihan kamu baru mulai menjalankan bisnis takutnya nanti jadi stres terus gila. Bisa-bisa aku yang diamuk Mbakmu” tanya Brian.
“Hehe... tenang Mas, kalem. Semuanya aman terkendali kok, bahkan pabrik Mas ada sedikit kemajuan. Karena sekarang banyak petani atau peternak dari desa lain yang ikut bergabung untuk menjual hasil mereka ke kita” jawab Arya sambil tersenyum.
“Wah... bagus itu, ternyata kamu kecil-kecil cabe rawit ya. Baru pertama kali menjalankan bisnis dengan jabatan tinggi malah membuat kamu semakin semangat berjuang. Aku kira, kamu akan malas-malasan dan menyuruh-nyuruh saja kerjanya” saut Brian.
“Enak saja Mas Brian kalau ngomong, Arya tidak begitulah Mas. Malahan Arya di tuntut untuk lebih keras lagi bekerja agar bisa membawa usaha Mas lebih maju lagi. Dan Arya bisa menjadi pria pembisnis seperti Mas Brian agar nanti Arya bisa membahagiakan keluarga kecil Arya sendiri serta membahagiakan Abah dan Umi” jawab Arya dengan percaya diri.
“Bagus, aku suka semangatmu. Aku percayakan usaha itu padamu, bikin Abah dan Umi serta Mbakmu bangga kepadamu. Karena anak tengil dan jahil sepertimu yang terlihat selengean bisa menjadi orang yang lebih sukses dariku di kemudian hari” ucap Brian sambil menepuk pelan bahu Arya dan tersenyum.
“Amiin...” jawab Brian.
Hana dan Qisya yang sudah selesai menggantikan baju Qisya kemudian ia langsung menuju meja makan untuk menyiapkan makan siang untuk Qisya.
Sedangkan para orang tua sedang sibuk mengurusi semuanya di ruangan belakang khusus untuk menyambut acara tujuh bulanan Hana.
Saat semuanya sudah selesai dengan kesibukannya masing-masing mereka pun segera berkumpul di ruang keluarga untuk menyaksikan model-model Hana yang akan segera ia tampilkan.
Bahkan, saat ini model hijab Hana menjadi 3 orang yaitu Qisya sebagai model busana anak-anak, Brian sebagai model busana para istri dan Arya sebagai model busana anak remaja.
Nah loh, kenapa bisa Arya menjadi model ya? Nah, jadi Brian merayu Hana untuk menjadikan Arya sebagai modelnya agar permainan semakin seru. Hana setuju-setuju saja dengan usul dari Brian.
__ADS_1
Namun, di dalam hati Brian ia hanya ingin mencari teman berbagi nasib agar ia tidak merasakan malu sendirian. Lalu, Arya yang begitu terkejut pun hanya bisa menatap kesal kepada Brian. Sedangkan Brian hanya bisa tersenyum penuh arti kepada Arya.
Nyonya Syifa dan Umi pun membantu Hana untuk memake-up Brian dan Arya. Sedangkan Hana memake-up Qisya agar terlihat seperti Miss kecil yang sangat cantik.
Hana tidak berani untuk mendadani Qisya dengan berbagai macam make up. Ia hanya mempoles wajah Qisya dengan bedak baby yang biasa Qisya pakai dengan polesan alis yang sangat tipis kemudian sedikit ditambah dengan lips glose yang menambah kesan kecantikan Qisya yang begitu natural.
Lalu, Nyonya Syifa mendadani Brian dengan berbagai macam make up bahkan sampai membuat wajah Brian terlihat berbeda. Bahkan, sampai membuat yang lainnya pangling dengan wajah Brian yang sangat terlihat seperti wanita sungguhan.
Sedangkan Umi mencoba untuk sedikit memoles wajah Arya dengan susah payah karena Arya selalu saja memberontak untuk tidak dibuat seperti badut oleh Uminya yang tidak begitu pandai berdandan. Tetapi hasilnya masih terlihat sangat menyatu dengan wajah Arya yang masih seperti anak kecil.
Tuan Ferry dan Abah hanya bisa melihat sambil sesekali menahan tawanya saat melihat Brian dan Arya yang selalu saja memberontak saat kembali di pakaikan hijab. Bahkan sampai membuat Nyonya Syifa dan Umi bermain kejar-kejaran untuk menangkap Brian dan Arya.
Tapi, apa boleh buat. Jika Hana sudah mengeluarkan suaranya maka mereka seperti tersedot magnet yang langsung tunduk dan dengan terpaksa menuruti perintah sang bumil yang sangat aneh.
Mereka harap ini adalah ngidam yang pertama dan terakhir untuk Hana. Hampir 1 jam lebih mereka bertiga yang sebagai model pun telah siap.
“Akhirnya selesai juga, wah... Mas Brian terlihat sangat cantik. Bahkan mengalahkan ibu-ibu pejabat haha... sedangkan Arya terlihat seperti cabe-cabean yang bonceng 3 haha... nah ini dia model yang paling cantik dan imut yaitu My Princess” ucap Hana sambil menatap ketiga modelnya yang sedang berjejer sambil berdiri.
“Kalau bukan karena kalian di perut Bunda, Ayah ogah kaya gini. Baby twins, kalian cepat keluar ya, jangan iseng-iseng di perut Bunda. Dan semoga ini yang terakhir ya, Baby twins ” ucap Brian di dalam hatinya.
“Kalau bukan Mbak'ku sendiri yang minta untuk keponakanku, aku sih malas banget. Bagaimana kalau Bu guru lihat ini? Aduh... malu banget deh pastinya. Bahkan bu guru bisa-bisa enggak mau dekat sama aku lagi ” ucap Arya di dalam hati kecilnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hello semua pembaca setia kesayanganku... 😊😊😊
Semoga kalian sehat selalu dan terus bahagia semua... 😇😇😇
Terima kasih atas semua dukungan kalian selama ini... 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Mohon terus dukung Author yang masih banyak kekurangan ini 🥺🥺🥺
__ADS_1
Jaga diri kalian dan sampai jumpa lagi semuanya... 🤗🤗🤗
Papaaayyy~~~ 👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻👋🏻